Disclaimer: Ryohgo Narita (the writer of original story) and studio Shuka

This story's plot is originally mine, but all characters are not.

Warning : Sho-ai/Yaoi, OOC, typo (dan tata bahasa?)

Happy reading everyone...


CHAPTER 3

"Oh, aku lupa. Namaku Shizuo, salam kenal." Ucapnya sambil tersenyum senang sambil tetap berjalan memegang tangan Izaya. Laki-laki bermata merah itu tampak risih dengan hal tersebut terutama tangan si pemuda rambut coklat yang menggamit tangannya itu sehingga mengundang perhatian dari orang yang melalui mereka.

"Maaf, tapi saya ingin anda…melepaskan tangan saya." Izaya berusaha menarik tangannya perlahan. Shizuo melihat ke arah tangannya yang terhubung dengan tangan pemuda di sebelahnya. Dia langsung sadar dan segera melepaskan genggamannya. "Ah, sumanai."

Sementara Izaya langsung mengepalkan tangan di dadanya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Entah kenapa perasaannya sedikit tidak tenang. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya.

Tak lama setelah itu, mereka berdua akhirnya sampai di sebuah taman dekat pinggiran laut yang kebetulan tak jauh dari kota tersebut. Shizuo berjalan sambil mencari tempat istirahat yang teduh dan Izaya mengikutinya dari belakang dengan mata berbinar. Laki-laki itu terpana melihat pemandangan tersebut setelah beberapa lamanya tidak menghirup udara luar.

Shizuo melihat wajah bahagia Izaya. Hal itu membuatnya juga ikut senang dan tiba-tiba muncul desakan kuat untuk membelai pipi laki-laki di sampingnya itu. Tapi sebelum ia sempat menyentuh rambut hitam tersebut Izaya berbicara kepadanya.

"Ano—arigatou, Shizuo-san." ucapnya sambil melihat sekelompok camar putih terbang melintas di hadapan mereka.

Tangan Shizuo yang menggantung di belakang kepala Izaya turun perlahan dan ia pun tersenyum, "Hm? Kenapa?" tanya Shizuo dengan senyum di wajahnya.

"Terima kasih sudah membawaku kemari. Saya sudah lama tidak berjalan-jalan keluar begini." Jawab Izaya. Seulas senyum kecil hadir di wajahnya saat ia memandang ke arah Shizuo.

Aa, kare wa hontōni utsukushī egao o motte iru...batin Shizuo terpana.

"Kau tidak pernah keluar dari tempat itu? Apa Shiki-san melarang para pekerjanya?"

"Nn..." Izaya menggelengkan kepalanya perlahan, "Saya hanya tidak bisa meninggalkan Shōfu sendirian."

"Sōdesu ka? Jaa, bagaimana kalau minggu ini kita pergi berjalan-jalan lagi?" tanya Shizuo dengan semangat.

"Eh?" Izaya terkejut dengan tawaran Shizuo tersebut. Ia hanya tidak menyangka kalau laki-laki yang ada di hadapannya ini akan mengajaknya lagi.

"Jadi?" tanya Shizuo lagi.

"Kalau...Shiki-san mengizinkan..." jawab Izaya pelan.

"Yatta!" seru Shizuo kegirangan dan dengan spontan ia memeluk Izaya. Sementara Izaya yang terkejut dengan hal itu hanya bisa membeku dan perlahan warna merah muncul di wajahnya.

"A—ano...Shi...zu..o...san."

Shizuo menyadari tindakannya "Ah, umm, gomen," ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku akan meminta izin pada Shiki-san."

Izaya hanya menganggukkan kepala dan berusaha untuk tidak melihat ke arah Shizuo. Ia bisa mendengar jantungnya yang berdebar keras. Dirinya berusaha menghilangkan suara debar jantungnya itu dengan mendekap kedua tangan di atas dadanya supaya Shizuo tidak dapat mendengarnya. Ia mencoba melirik laki-laki yang ada di hadapannya dan ia mendapatinya sedang tersenyum lebar ke arah dirinya.

Kare wa akarui egao o motte i... ucap Izaya lirih.


"He~ ada apa dengan wajahmu, Izaya?" tanya Namie yang sedang beristirahat. Shift kerjanya akan dimulai lagi selepas matahari terbenam nanti.

"Ah, nn...tidak ada apa-apa, kok." Sergah Izaya yang menyadari dirinya diawasi oleh Namie.

"Tidak biasanya kau senyum-senyum begini. Ada sesuatu?" tanya Namie lagi.

Izaya hanya menggeleng pelan dan berusaha menutupi kedua pipinya yang mungkin memerah karena mengingat kembali kejadian pagi ini.

"Aa, aku tahu! Pasti ada hubungannya dengan pelanggan yang mengajakmu ke luar hari ini. Kenapa, ada hal menarik 'kan?! Ayo, beritahu aku." Desak Namie yang antusias dengan tingkah Izaya yang terlihat malu-malu. Dirinya belum pernah melihat Izaya seperti itu sejak anak laki-laki bermata merah tersebut datang ke tempat Shiki 2 tahun yang lalu.

Izaya berusaha untuk tidak mengatakan hal yang memalukan di depan Namie bahwa Shizuo memeluknya hari ini. Sebenarnya mungkin hal itu wajar kalau dilihat dari sudut pandang orang lain. Tapi baginya...

Izaya hanya memberitahu Namie soal Shizuo yang akan mengajaknya jalan-jalan lagi di hari minggu dan itu membuatnya senang.

"Benar juga, kau tidak pernah melihat-lihat kota ini sebelumnya." Komentar Namie setelah mendengar cerita Izaya. "Tapi, kau beruntung Izaya, bisa dekat dengan Heiwajima Shizuo."

"Nande?"

"Kau tahu, keluarga Heiwajima itu terpandang di Ikebukuro ini. Keluarga mereka dari dulu menjadi salah satu pemimpin kota ini. Ditambah lagi, Shizuo-sama itu benar-benar tampan sehingga salah satu incaran gadis-gadis di kota ini." Jelas Namie sambil mengkhayal.

Izaya hanya diam mendengarkan penjelasan Namie. Ia baru menyadari kalau Shizuo adalah orang penting di kota ini. Walaupun sebelumnya ia beranggapan kalau Shizuo adalah tuan muda dari keluarga kaya ketika ia melihat Shizuo selalu dijemput oleh seseorang yang memanggilnya waka.

Kemudian dirinya teringat oleh sesuatu dan segera ia langsung berdiri membereskan beberapa kain yang ia lipat dari tadi.

"Mau kemana?" tanya Namie.

"Menemui Shiki-san." jawab Izaya yang sedikit pucat. Ia benar-benar tidak suka "pemeriksaan" ini.


Shizuo baru saja tiba di rumahnya petang hari. Saat menginjakkan kaki ke dalam rumahnya, selalu saja perasaannya berubah menjadi kesal dan muak. Dirinya segera menuju ke ruang dapur untuk mengambil beberapa makanan dan minuman.

Begitu memasuki dapur, ia hanya melihat seorang tukang masak disana yang sedang sibuk dengan penggorengannya. Langsung saja ia mengisi teko kecil dengan air dan mengambil beberapa onigiri dan manju yang ada di atas meja dan meletakkannya di atas wadah.

Ketika pemuda itu hendak kembali ke kamarnya, sang tukang masak, Hanae melihatnya.

"Ah—okaeri, wakadan'na." Ucap Hanae yang baru menyadari kehadiran Shizuo.

Shizuo langsung berhenti dan menyengir ke arah perempuan paruh baya tersebut. "Tadaima."

"Sebentar lagi makan malam, sebaiknya anda tidak terlalu banyak memakan makanan itu." Jelas Hanae sambil mengelap tangannya yang terkena saus masakan tadi.

"Aku lapar, daritadi siang belum makan. Aku ambil ini ya, Hanae-san." Pinta Shizuo dengan mengeluarkan nada manja.

Hanae hanya bisa tersenyum melihat tingkah tuan mudanya itu. Walaupun sudah memasuki usia yang bisa dibilang dewasa, tapi tetap saja sifat kekanakan Shizuo masih melekat pada dirinya. Setidaknya, sifatnya ini hanya bisa dilihat oleh beberapa orang tertentu saja di rumah tersebut.

"Baiklah, tapi anda nanti harus makan malam di ruang keluarga." Ujar Hanae.

"Disana?" Shizuo cemberut mendengar harus makan bersama lagi di ruang tersebut.

"Kalau tidak, saya akan sita cemilannya." Jawab Hanae yang bersiap mengulurkan tangan mengambil makanan yang dibawa Shizuo.

"Waa—Hanae-san! Baiklah, baiklah, aku akan makan malam!"

Kemudian Shizuo langsung menuju ke kamarnya. Hanae yang melihatnya cuma bisa tersenyum maklum dengan ketidaksukaan Shizuo dengan keluarganya. Sedapat mungkin pemuda itu selalu menghindari bertemu dengan ayahnya.

_To be Continued_


Author's note

Konnichiwa minna!

This is really a fast update, right? I'm trying to compensate all 4 months of waiting and patience...

And, for the reviewers, thank you for your lovely feed back...

It's true that i make Izaya calmer and more obedient than the original one, and i'm trying in picturing him like Sakuraya, one of Izaya's alter ego. But still, he will have negative side in character.

So, any comment?

As usual, review please...:)