Disclaimer : The novelist -Ryohgo Narita- and Studio Shuka

The story is mine but the characters are belong to Narita-sensei.

WARNING : This is only fiction and the purpose is solely to entertain tho who read this story, Sho-ai/Yaoi, OOC, typos (and strange indonesian grammar)

Have a good time!


CHAPTER 4

Beberapa hari setelah acara pewarisan keluarga Heiwajima, rumah kediaman keluarga yang menjadi salah satu petinggi di kota Ikebukuro masih belum sepi dari pengunjung. Kishitani Shingen yang merupakan dokter keluarga Heiwajima kembali mendatangi rumah tersebut bersama putranya, Shinra.

Dokter tersebut memakai setelan jas putih panjang, beserta kemeja, waistcoat, dan celana abu-abu. Pakaian ala masyarakat barat menjadi tren pada saat itu ketika mulai banyak pendatang asing yang tiba di Jepang. Sementara Shinra, hanya memekai kemeja polos putih dan celana hitam, berjalan di belakang ayahnya sambil melihat ke kiri dan ke kanan.

"Aku mau melihat-lihat dulu, yah." Kata Shinra menghentikan jalannya. Shingen melihat ke belakang dan menaikkan sebelah alisnya.

"Sebentar saja..." jawab Shinra dan langsung pergi. Shingen menghela napas pelan, kemudian melanjutkan memasuki rumah keluarga Heiwajima tersebut.


"Yo, Shizuo!" sapa Shinra yang baru saja melewati pagar tanaman inutsuge yang membatasi halaman kecil di depan kamar milik Shizuo.

Shizuo yang sedang tidur-tiduran di roka depan kamarnya, menggerutu pelan karena tidur siangnya diganggu.

"Hahaha, kau seperti kucing saja." Celetuk Shinra yang langsung duduk di samping Shizuo dengan santainya setelah membersih dedaunan yang menempel di pakaiannnya.

"Suatu saat kau bisa dituntut karena memasuki pekarangan seseorang tanpa izin." Balas Shizuo yang duduk dengan malas. Kemudian ia menguap sambil meregangkan persendian tangan dan bahunya. Shinra hanya tersenyum sambil mendengar dan melihat temannya itu.

Semilir angin di musim panas berhembus pelan dan menggerakkan fūrin yang terpasang di bagian luar kamar tuan muda Heiwajima tersebut sehingga mengeluarkan bunyi dentingan halus. Shizuo mengeluarkan cerutunya dan membakar ujungnya untuk menyalakan pipa tersebut.

"Ah, sudah berapa kali kukatakan, merokok itu tidak baik buat pernapasanmu, Shizuo." Ucap Shinra sebal sambil memerhatikan temannya itu menghisap pipa asap itu.

"Fuuh—kalau kau datang kesini cuma untuk menceramahi, lebih baik balik saja ke ayahmu sana." Shizuo menghembuskan kepulan asap cerutu yang dihirupnya tanpa memperdulikan omongan Shinra.

"Jahatnya...aku 'kan hanya peduli dengan kesehatanmu." Balas Shinra.

"Jadi mau apa kemari?" Potong Shizuo yang akhirnya penasaran dengan kedatangan anak dari dokter keluarga Heiwajima yang sudah lama bekerja dengan keluarganya tersebut.

"Aku ingin memberi selamat kepadamu sebagai penerus keluarga Heiwajima di dewan kota." Jawab Shinra sambil membetulkan letak kacamatanya.

"Kau kira aku senang dengan hal itu dan menerima dengan lapang hati semua tugas menyebalkan itu?! Tidak, terima kasih!" ucap Shizuo dengan emosi karena kembali mengingat hari saat upacara tersebut berlangsung. Ditambah ia harus mengingat wajah ayahnya dengan senyum puas kala itu yang membuatnya jengkel setengah mati.

"Terus kau mau apa? Kabur dari rumah? Pergi meninggalkan kota?" tanya Shinra.

"Aah, entahlah." Jawab Shizuo sambil menghela napas. Di pikirannya sekarang, pergi meninggalkan kota tidak lagi menjadi opsi utama. Sosok dengan kulit putih dan mata merah, seperti batu ruby yang berada di antara tumpukan salju entah kenapa memberinya alasan untuk bertahan lebih lama lagi.

Lagipula minggu ini aku akan bertemu dengannya pikir Shizuo. Tanpa sadar dirinya tersenyum dan hal itu menarik perhatian Shinra.

"Kenapa kau menyengir seperti orang bodoh begitu?" Tanya Shinra penasaran.

Shizuo mendelik ke arah Shinra. Tangan sebelahnya yang tidak memegang pipa cerutu perlahan menutupi bagian mulutnya. "Siapa yang kau katai bodoh?!" Ucap Shizuo sambil mengalihkan pandangan ke arah sebaliknya.

Hm~ mencurigakan batin Shinra.

"Yaa—kalau kau tidak mau memberitahu, tidak apa-apa, sih." Kata Shinra sambil menggerakkan kedua tangannya. Tapi akan aku cari tahu sendiri...

"Ngomong-ngomong, aku dengar dari ayahku, minggu depan akan ada pertemuan lima dewan kota." Sambung Shinra.

"Memang apa hubungannya denganku." Timpal Shizuo yang tidak tertarik.

"Tidak ada hubungannya secara langsung sih." Balas Shinra, "Tapi dalam pertemuan itu, mereka akan membahas tentang nama-nama calon dewan muda kota, juga kasus penjualan budak ilegal yang terjadi akhir-akhir ini."

Mendengar hal yang disebutkan sahabatnya itu, Shizuo masih saja tidak bergeming tanpa tanggapan sekali pun. Sementara Shinra yang berada di samping pemuda berambut coklat sedikit kekuningan tersebut menghela napas melihatnya.

"Hei, aku dengar, kemarin kau mengajak seseorang dari shōfu milik Shiki-san pergi denganmu ya?"

Shizuo terkejut mendengarnya, "Kenapa kau—?! Kau melihatnya?!"

Shinra menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis. "Aku mendengarnya dari orang-orang." Jawabnya. "Kau itu terkenal Shizuo! Apalagi di kalangan para gadis-gadis di Ikebukuro. Begitu mereka melihat pria idaman mereka berjalan sambil bergandengan tangan dengan seseorang yang cantik di kota, tentunya, mereka akan heboh membicarakan sang tuan muda Heiwajima yang tidak pernah terlihat berduaan dengan wanita, kini telah memiliki teman kencan yang—aww! Itai!"

Shizuo mencubit salah satu pipi Shinra dan menariknya lumayan kuat sampai menimbulkan bekas kemerahan pada wajah temannya yang berkaca mata tersebut. Shinra meringis kesakitan sambil menggosok bagian pipinya yang dicubit.

"Jadi, apa hubungannya?" Tanya Shizuo yang menjadi serius kali ini.

Sambil memegangi wajahnya, Shinra memprotes perlakuan Shizuo terhadap dirinya. "Kore wa itai yo!" keluhnya.

"Saa, oshiete!" desak Shizuo.

"Kasus penjualan budak ilegal yang kubilang tadi berkaitan dengan para pekerja shōfu yang ada di Ikebukuro. Rata-rata budak yang diselundupkan berasal dari luar kota dan beberapa dari mereka membawa opium untuk dijual di kota ini." Jelas Shinra.

Shizuo hanya ternganga mendengar berita tersebut. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa para petinggi dan petugas keamanan kota membiarkan hal ini terjadi. Dan yang ia tahu, masalah opium di kota ini sudah tuntas dua tahun yang lalu.

"Apa yang mereka lakukan?! Masalah ini, kenapa bisa muncul lagi."

"Bukan itu saja Shizuo, mereka menggunakan para pekerja yang ada di tempat-tempat itu untuk menjerat para pelanggan yang sebelumnya bukan pemakai untuk menggunakan opium tersebut."

Shizuo tampak berpikir sambil mendengar keterangan dari temannya tersebut.

"Dan aku juga mendengar hal yang menarik Shizuo. Tentang penjualan budak ilegal itu, aku mendengar tentang ma-sei." Sambung Shinra.

"Ma-sei?"

"Ya. Jenis manusia yang paling langka di dunia ini." kata Shinra dengan senyum tipis dan kilatan antusias di matanya.

_To be Continued_


Author's note

Ohayou minna (hahaha)

This pretty fast update is really shocking my self (i never have urge to update quickly, and i'm breaking my own record)

Well, since my dear reader requested to translate some of foreign words or speeches in this story, i'll do it now. (Hope you don't mind me using english in A/n section)

roka (part of japanese traditional house which located outside a chamber/the house, similar to halls)

fūrin (wind bell)

Kore wa itai yo (It Hurts!)

Saa, oshiete (Now, tell me!)

I think, that's all. Thank you for reading!

Now, it's time to review, please tell your opinion dear readers!