Our Tomorrow
Main Cast : Oh Sehun Dan Xi Luhan and others
Genre : Romance, Family, Hurt
Rate : T-M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s). M-preg.
HUNHAN STORY!
Kau menawarkan padaku "apapun dan berapapun". Bolehkah aku menolaknya dan meminta hatimu sebagai gantinya
-Luhan
Aku seperti bukan diriku jika berada disampingmu. Aku merasa jika tidak ada kau disekitarku aku akan secara otomatis mencarimu. Apakah aku benar telah jatuh hati padamu?
-Sehun
Sudah seminggu sejak hari dimana Luhan melakukan operasi, namun Luhan belum sadarkan diri. Sehun sendiri menolak untuk melihat anaknya, walaupun Kai bilang anaknya sangat tampan dan lucu. Ia tidak mau melihat anaknya sekarang, ia ingin melihat anaknya nanti setelah Luhan sadar.
"Luhannie kapan kau bangun? Ayolah jangan seperti ini cepat bangun, Kyungie rindu" rengek Kyungsoo yang sedang menggenggam tangan Luhan disamping ranjang tempat tidurnya.
"Lihat Sehunniemu sudah sangat jelek" kata Kyungsoo menyindir Sehun yang berada didepannya
Sehun membalas ejekan Kyungsoo "Kyungiemu itu juga sangat jelek baby" kata Sehun tidak mau kalah menggenggam tangan Luhan yang satu.
"Kyung, bagaimana jika dia sadar? Apa aku harus pergi? Dia begini karenaku" tanya Sehun pada Kyungsoo
"Kau orang pertama yang ingin dilihatnya Sehunna, percayalah, untuk perkataanku kemarin, aku minta maaf" kata Kyungsoo sungguh-sungguh
"Jangan minta maaf dan jangan terlalu baik padaku sampai aku bisa membahagiakan Luhan" lirih Sehun
"Kau akan membahagiakannya, aku percaya padamu" kata Kyungsoo meyakinkan
"Aku akan melihat anak kalian. Kau yakin tidak ingin melihatnya?" Tanya Kyungsoo
"Nanti setelah Luhan bangun, kami akan melihat putra kami bersama-sama" jawab Sehun tersenyum memandangi Luhan yang masih tertidur.
"Baiklah, aku pergi dulu" kata Kyungsoo meninggalkan ruangan Luhan
Sepeninggal Kyungsoo, Sehun memperhatikan wajah Luhan yang begitu cantik dan sangat damai, ia mengusap surai Luhan membelai wajahnya sayang
"Aku masih tidak percaya kau pria, kau sangat cantik bahkan melebihi kecantikan seorang wanita" kata Sehun tersenyum
"Lu, aku merindukanmu, bangunlah" ucap Sehun menahan tangisnya
"Tidak apa sayang, tidak apa jika kau tidak ingin berjuang denganku, aku sendiri yang akan memperjuangkanmu, kau boleh istirahat karena semua ini terlalu menyakitkan, tapi aku mohon sadarlah" kata Sehun menangis memeluk Luhan.
"Eungh" Sehun merasakan pergerakan di tangan Luhan
Luhan perlahan membuka matanya mendapati Sehun sedang menangis
Ia ingin sekali memeluk pria yang sedang memeluknya ini, namun ia tidak bisa, harapannya bersama Sehun benar-benar sudah tidak ada dan ia lelah memperjuangkan semuanya.
Semua kejadian sebelumnya berputar di benak Luhan, bagaimana Sehun mengatakan ingin menikahinya, bagaimana bahagianya ia mendengarnya, namun semuanya begitu salah disaat bersamaan
"Akhhh" Luhan melenguh kesakitan karena terlalu banyak yang ia pikirkan setelah sadar
Sehun dengan cepat melepaskan pelukannya dan melihat Luhan
"Luhan? Luhan Ya Tuhan terimakasih" ucap Sehun begitu bersyukur melihat Luhan sudah sadarkan diri
"Kau merasakan apa? Apakah sakit? Mana yang sakit? Aku akan memanggil dokter dulu" tanya Sehun begitu khawatir dan keluar untuk memanggil dokter.
Semuanya kini sedang berada diluar ruangan Luhan, Luhan sedang diperiksa untuk memastikan bagaimana kondisinya, setelah menunggu beberapa lama akhirnya dokter yang memeriksa Luhan keluar.
"Bagaimana dok?" Tanya Sehun yang didampingi Kyungsoo dan Kai disampingnya
"Keadaan tuan Xi sudah stabil, ia hanya perlu beristirahat yang cukup untuk memulihkan kondisinya, dan jangan buat tuan Xi terlalu banyak pikiran dan tertekan, itu akan mempengaruhi kondisinya" ucap sang dokter
"Baik dokter, terimakasih, kami masuk dulu" kata Sehun mengucapkan terimakasih lalu membiarkan Kai dan Kyungsoo masuk terlebih dulu.
..
..
..
"Lu babyku, terimakasih sudah bangun" kata Kyungsoo menangis memeluk Luhan
"Kau tidak boleh seperti ini, kau menakutiku" isak Kyungsoo
"Kyungie, jangan menangis kau sangat jelek" balas Luhan menggoda
"Kau ini rusa kecil, kenapa begitu menyebalkan" kesal Kyungsoo menciumi pipi Luhan.
"Baby, jangan seperti itu Luhan baru sadarkan diri" kata Kai disamping Kyungsoo dan tersenyum pada Luhan
"Hey Lu, selamat datang kembali dari tidur panjangmu" kata Kai memeluk Luhan sekilas
"Terimakasih Kai" jawab Luhan
"Kyung apakah be-nar aku telah melahirkan?" Tanya Luhan berkaca-kaca
"Hmm benar sayang, kau telah melahirkan anak kita" kini Sehun yang berbicara
"Kenapa kau disini?" Desis Luhan begitu dingin
Sehun terpaku mendengar penuturan Luhan yang terdengar begitu membencinya
"Pergi!" Teriak Luhan memeluk Kyungsoo yang ada disampingnya.
"Luhan, kenapa kau berbicara seperti itu padanya" Kyungsoo menegur Luhan dan menatap iba pada Sehun
"Kyung suruh dia pergi aku mohon, aku tidak mau melihatnya, kepalaku sakit" Luhan meronta di pelukan Kyungsoo, seperti mengibaratkan jika dia tidak pergi aku yang pergi.
"Sayang, aku mohon maafkan aku, jangan seperti ini, aku ingin bersamamu" kata Sehun frustasi
Luhan menutup kupingnya rapat-rapat tidak mau mendengarkan apapun.
"Sehun, kita keluar sebentar, biarkan Luhan istirahat" kata Kai menghampiri Sehun dan memaksanya untuk keluar
"Sehun, aku akan menenangkannya aku janji" kata Kyungsoo tersenyum
Sehun akhirnya mengikuti saran Kai dan Kyungsoo untuk keluar sebentar membiarkan Luhan tenang dan beristirahat.
..
..
..
"Lu, kenapa kau berbicara seperti itu pada Sehun? Dia sangat mengkhwatirkanmu, dia bahkan tidak makan dan tidur dengan baik karena menjagamu" kata Kyungsoo membelai pipi Luhan dan bicara padanya
"Aku lelah Kyung, aku ingin kembali ke hidupku yang dulu, yang hanya memikirkanmu dan bersamamu, lagipula anaknya sudah lahir, bukankan berarti aku harus meninggalkan mereka?" Luhan menangis membayangkan akan berpisah dengan Sehun dan bayinya.
"Sssttt, baby Lu jangan menangis seperti ini ya aku mohon. Sehun sama sekali tidak membicarakan apapun mengenai dirimu dan bayimu, dia bahkan menolak melihat anak kalian sebelum kau sadar, ia ingin melihat bayinya bersamamu" kata Kyungsoo menenangkan Luhan
"Aku ingin bersama mereka Kyung. Apa tidak boleh?" Tanya Luhan yang tambah terisak di pelukan Kyungsoo
Tidak ada yang berbicara lagi, Kyungsoo tidak mau Luhan terlalu banyak berfikir, ia memutuskan untuk diam dan menenangkan Luhannya yang menangis dipelukannya sekarang.
..
..
..
"Aku sedang menerima hukumanku Kai" kata Sehun di sebuah kafe dekat rumah sakit. Kai membawa Sehun kesana untuk menenangkan pikiran sejenak.
"Apa maksudmu?" Tanya Kai bingung
"Aku mencintai keduanya, aku menyakiti keduanya dan sekarang aku kehilangan keduanya dan jangan lupakan Luhan yang membenciku saat ini" lirih Sehun
"Kau jangan bicara seperti itu, Luhan baru sadar, dia masih shock dengan semuanya. Beri dia waktu dan semuanya akan baik-baik saja" kata Kai menasehati
"Entahlah Kai, aku rasa kali ini Luhan benar-benar akan pergi dariku, aku mulai mengenalnya sekarang" kata Sehun yang menyembunyikan wajahnya dimeja hatinya sakit membayangkan kemungkinan Luhan akan pergi dari hidupnya
Kai hanya terdiam melihat sahabatnya. Ia membiarkan Sehun mengeluarkan semua yang ia rasakan, mereka berdua sudah sangat menderita menahn perasaan masing-masing. Namun saat akan memperjuangkannya semua terlihat begitu salah.
..
..
..
Ini memasuki hari ketiga Luhan sadarkan diri, keadaannya sudah semakin stabil dan baik. Namun ia tetap bersikap dingin pada Sehun, ia tidak ingin melihat apalagi berbicara dengan Sehun.
Meskipun begitu Sehun tetap setia menunggu Luhan walaupun hanya bisa menemaninya di luar ruangan. Seperti kemarin Luhan benar-benar menolak berada dalam satu ruangan dengan Sehun. Mau tak mau Sehun harus menunggu dan tidur diluar, beruntung ada Kai yang menemaninya menunggu diluar dan tidur di mobil mereka, membuat keduanya merasakan sakit di punggung mereka paginya.
Keesokan paginya, Sehun dan Kai masuk keruangan Luhan lagi, Kai beranalisa hari ini adalah hari keberuntungan Sehun, jadi mereka harus segera kekamar Luhan. Sehun hanya terkekeh mendengar penuturan sahabatnya itu.
Setelah sampai dikamar Luhan, mereka mendapati Luhan yang sedang merengek dan Kyungsoo yang kerepotan menghadapi Luhan
"Baby, Luhan kenapa?" Tanya Kai memeluk Kyungsoo dari belakang
"Oh syukurlah kalian datang, aku sudah sangat kewalahan menghadapi bayi besar ini" sindir Kyungsoo membuat Luhan cemberut
"Kai antarkan aku melihat bayiku, aku mohon" pinta Luhan mencari mangsa baru
Sehun terdiam dibelakang Kai, bahkan dia sendiri belum melihat anaknya, ia berencana melihatnya bersama Luhan, tapi sepertinya Luhan lebih memilih melihat bersama Kai dan Kyungsoo.
Kyungsoo mendengus kesal "aku kan sudah bilang lihatlah dengan Sehun kalian berdua belum melihat anak kalian, jangan sampai anak kalian mengira aku dan Kai orang tua kandungnya" kata Kyungsoo tak sabaran agar Luhan mengerti
"Lu, ayo jenguk anak kita" Sehun memberanikan bicara mengajak Luhan melihat anak mereka
Luhan hanya diam dia terlihat ragu, tapi ia ingin sekali melihat putranya
"Lu, pergilah dengan Sehun" Kyungsoo meyakinkan Luhan
"Baiklah, ayo kita pergi" jawab Luhan lemah
Sehun tersenyum dan segera mengambil kursi roda Luhan, kemudian ia menghampiri Luhan dan menggendongnya kekursi roda.
"Kami melihat anak kami dulu" pamit Sehun, Kai dan Kyungsoo memberi tatapan semoga berhasil pada Sehun,
Sehun kemudian mendorong kursi roda Luhan dan meninggalkan Kai dan Kyungsoo disana
"Baby, apa mereka akan berbahagia?" Tanya Kyungsoo yang kini memeluk Kai, ia tidak tega melihat keduanya menolak perasaan mereka masing-masing
"Mereka akan berbahagia sayang" jawab Kai meyakinkan Kyungsoo dan memeluknya erat.
..
..
..
Sehun dan Luhan berada di koridor khusus bayi sekarang, mereka tidak diperbolehkan masuk karena ruangan itu harus steril. Sehun dan Luhan hanya bisa melihat putra mereka dari kaca inkubasi
Luhan bangun dari kursi rodanya dengan Sehun yang menjaganya di belakang, memeluknya
"Dia mirip denganmu" kata Sehun berbisik di telinga Luhan menahan harunya karena sangat bahagia,
Luhan membuat gerakan seperti membelai bayinya dari luar kaca.
"Tumbuhlah dengan baik nak, eomma menyayangimu" lirih Luhan
"Kau harus sehat" kata Luhan lagi kali ini bergetar membayangkan ia akan berpisah dengan anaknya
Ia membalikkan badan dan memeluk Sehun erat
"Kenapa dia begitu kecil dan terlihat kedinginan Sehunna, apa kita tidak bisa membuatnya hangat?" Isak Luhan yang benar-benar tidak tega melihat keadaan anaknya
"Dia prematur Lu, eomma bilang anak kita akan baik-baik saja dia hangat dan terjaga didalam sana dan dia kuat sepertimu" kata Sehun menenangkan Luhan
Sehun dan Luhan berpelukan erat didepan kaca inkubasi putra mereka. Perasaan mereka sangat kacau dan tidak menentu. Mereka hanya bisa menjalani hidup dan takdir mereka sekarang, menyingkirkan rasa sakit yang sudah menggerogoti mereka dari awal.
"Kita kembali ya? Kau harus istirahat" bujuk Sehun
"Hmm, aku lelah" ucap Luhan mengangguk setuju
Sehun membantu Luhan kembali ke kursi roda dan mendorongnya menuju kamar untuk beirstirahat. Tidak ada yang berbicara dari keduanya, mereka hanya diam menikmati keheningan yang menyelimuti.
Dan ini merupakan pertama kalinya Luhan tidak menolak keberadaan Sehun setelah sadar dari masa kritisnya, membuat Sehun sangat lega, mungkin benar kata Kai kalau hari ini adalah hari keberuntungannya.
..
..
..
Sehun dan Luhan sudah kembali lagi kekamar Luhan. Didalam ruangan terlihat Kyungsoo yang tertidur di pelukan Kai
"Kalian sudah kembali?" Sapa Kai, membangun Kyungsoo terbangun
"Aku membangunkanmu ya baby?" Tanya Kai mengecup Kyungsoo
"Tidak baby, aku mendengar pintu terbuka" jawab Kyungsoo mengecup Kai dan langsung menghampiri Luhan yang sedang digendong Sehun ke ranjangnya.
"Jadi bagaimana? Anak kalian sangat lucu kan?" Tanya Kyungsoo bersemangat
Sehun melihat Kyungsoo dan tersenyum karena memang anaknya sangat lucu walaupun tubuhnya sangat kecil
"Tanyakan pada Sehun bagaimana anaknya jangan padaku, dia bukan anakku" kata Luhan membuat ketiga orang lainnya yang berada dalam ruangan itu tercengang dengan perkatannya
Sehun tidak lagi tersenyum, ia nampak menahan amarahnya sekarang, ini pertama kalinya ia sangat kecewa pada Luhan
"L-Lu kenapa kau berbicara seperti itu?" Ucap Kyungsoo yang juga terlihat kecewa
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" Tantang Luhan
"Aku benar kan? Pada akhirnya aku tidak akan bisa bersama dengan anak itu, aku tidak mau..."
"CUKUP!" Teriak Sehun memotong kalimat yang selanjutnya akan keluar dari mulut Luhan
"Kau boleh tidak menganggapku dan membenciku, tapi jangan pernah melampiaskannya pada anak kita. Demi Tuhan Lu, dia anakmu dan aku sudah tidak punya keinginan untuk membawanya pergi darimu" lirih Sehun yang sudah melunak namun nampak masih tegang
"Kalian berdua harus bicara" kata Kyungsoo membawa Kai keluar meninggalkan Sehun dan Luhan didalam
Sehun dan Luhan hanya terdiam ketika Kai dan Kyungsoo meninggalkan mereka, ini pertama kalinya setelah 3 hari mereka hanya berdua dalam suatu ruangan.
"Lu kenapa kau seperti ini? Apa kau sudah tidak ingin bersamaku lagi?" Tanya Sehun menggenggam tangan Luhan
Luhan hanya diam tidak menjawab
"Aku mohon jawab aku, kenapa kita seperti ini?" Lirih Sehun
"Pergilah" ucap Luhan menatap Sehun
"Lu" Lirih Sehun
"Aku mohon pergilah, kita sudah selesai Sehunnie, tidak akan ada yang membuat kita menderita lagi, kau mendapatkan bayimu, aku akan mendapatkan kehidupanku lagi" lirih Luhan
"Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi?" Tanya Sehun
"Ini pertanyaan terakhir aku janji" kata Sehun menambahkan melihat Luhan tidak ingin menjawab
"Tidak, aku sudah muak dengan keegoisanmu, akan lebih baik untuk kita jika kita berpisah dan tidak bertemu lagi, selamanya" kata Luhan menjawab dengan sangat dingin dan perkataannya sekali lagi membuat hati Sehun remuk redam.
"Baiklah" kata Sehun menghapus air matanya
"Ini akan lebih meyakiti dirimu jika aku memaksa" ucap Sehun
"Aku pergi Lu. Dan mungkin ini terakhir kali kita bertemu" kata Sehun berusaha tersenyum dan meninggalkan Luhan
..
..
..
"Bagaimana?" Tanya Kyungsoo ketika melihat Sehun keluar dari ruangan Luhan
Sehun hanya tersenyum lirih penuh kepedihan
"Aku sudah tidak ada harapan" katanya pada Kyungsoo
"Apa maksudmu?" Tanya Kyungsoo khawatir
"Kai jagalah Luhan dan bayi kami seperti kau menjaga Kyungsoo, aku tidak bisa bersamanya lagi" lirih Sehun meninggalkan Kai dan Kyungsoo yang terpana sedih melihat betapa hancurnya kedua sahabat mereka
..
..
..
"Arggghhhhhhhhh" teriak Luhan dari kamar membuat Kai dan Kyungsoo bergegas masuk
"Luhan..Luhannie ya tuhan kau kenapa?" Tanya Kyungsoo yang melihat kondisi Luhan sangat menyedihkan. Luhan jatuh dari ranjang tempat tidurnya dan membuang semua yang ada di sekitarnya
"Aku kehilangannya Kyung, aku mengatakan aku tidak mencintainya, Aku kehilangan Sehunku" teriak Luhan begitu memilukan
"Sehun..Sehunnnn.. " teriak Luhan histeris memukuli dadanya yang begitu sakit
Kyungsoo sudah menangis sekarang, ia tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya bisa memeluk Luhan agar berhenti menyakiti dirinya sendiri. Ia ingin Luhan tenang sekarang
"Dia p-pergi Kyungie, Sehunku dia pergi" isak Luhan memilukan
"Dia akan kembali Lu, sssttt, tenanglah kau harus tenang" kata Kyungsoo menangis memeluk Luhan erat
Kai hanya terpaku melihat kekasihnya dan kekasih sahabatnya seperti ini, dia sendiri sedang memikirkan Sehun yang entah akan pergi kemana. Ia merasa sangat bersalah pada Sehun, Luhan dan Kyungsoo karena idenyalah yang membuat penderitaann sangat besar untuk mereka.
"Maaf, maafkan aku Sehun, Luhan" lirih Kai yang masih berdiri memandangi Luhan yang menangis tersedu di pelukan Kyungsoo
..
..
..
Sehun sampai dirumahnya dengan keadaan yang kacau, ia harus memepersiapkan segala sesuatunya sekarang. Ketika masuk kedalam kamarnya ia mendapati Minji yang sama kacaunya dengan dirinya.
Sehun merasa sangatt jahat sekarang, ia bahkan belum menemui Minji lagi untuk minta maaf. Sejak kejadian saat itu Minji menghilang tanpa kabar, Sehun berfikir ia pergi kerumah orangtuanya. Namun yang dilihatnya sekarang adalah Minji yang sama kacaunya saat pertama kali mereka memutuskan untuk mencari seorang pria yang akanmelahirkan anak mereka.
"Minji" lirih Sehun
Minji menoleh kearah Sehun dan menghambur memeluk Sehun
"Sehun" isak Minji dalam pelukan Sehun
"Sehun bisakah kita pergi? aku sudah mencoba merelakanmu, tapi aku tidak bisa Sehunna, aku benar-benar tidak bisa" isak Minji memilukan
"Kita tidak perlu membawa anaknya, biarkan dia bersama anaknya, aku tidak bisa kehilangan segalanya, aku tidak bisa kehilanganmu aku bisa gila" kata Minji lagi
"Sehun, aku mohon" pinta Minji terisak dalam pelukan Sehun
"Kita akan pergi Minji, kita akan pergi" kata Sehun yang akhirnya menyerah dengan keadaan awalnya ia ingin pergi sendiri, namun sepertinya ia juga tidak bisa lebih jahat lagi pada Minji dengan meninggalkannya.
"B-benarkah?" tanya Minji menatap Sehun
"iya benar" jawab Sehun tersenyum
"Pergi benar-benar pergi?" kata Minji meyakinkan
"Iya kita akan menetap di Jepang untuk beberapa waktu, aku ada proyek disana. Lagipula kita sudah tidak boleh menyakiti orang lain lagi dengan keberadaan kita" lirih Sehun
"Sehunna, terimakasih aku mencintaimu" kata Minji memeluk Sehun
"Kau bersiaplah besok pagi kita berangkat" ucap Sehun
"Kenapa sangat terburu-buru?" tanya Minji
"Akan lebih baik untuk kita semua" kata Sehun meninggalkan Minji dan juga bersiap siap.
"Terimakasih Sehun, maafkan aku tidak memberikan kebahagiaan padamu" lirih Minji menatap punggung Sehun yang semakin jauh
..
..
..
Sehun kembali lagi kerumah sakit pada tengah malam, ia tidak mau membuat masalah jika kembali pada saat Luhan dan yang lainnya masih terbangun. Ia perlahan memasuki kamar Luhan dan mendapati Kai sedang memeluk Kyungsoo yang nampak kelelahan di sofa, ia tersenyum sangat berterimakasih kepada sahabatnya yang terus menjaga dan menemani Luhan.
Sehun sudah duduk disamping ranjang Luhan mengamati Luhan yang sedang tertidur selama beberapa saat kemudian ia memberanikan diri menyentuh pipi Luhan
"Aku merindukanmu Lu" lirih Sehun
"Kau begitu tenang di tidurmu" katanya masih mengamati Luhan
"Tenang saja, setelah hari ini hanya akan ada kebahagiaan di hidupmu Lu" ucap Sehun bergetar
"Kau harus hidup dengan baik dan selalu bahagia dengan anak kita" kata Sehun dengan suara yang semakin serak dan terus membelai pipi Luhan dengan pelan
"Aku pergi Lu" kalimat yang sangat memberatkan itu akhirnya keluar dari mulut Sehun.
"Aku mencintaimu. Selamat tinggal" kata Sehun mengecup kening Luhan dan beranjak pergi dari ruangan Luhan. Ia tidak ingin Luhan terbangun karenanya.
Suara pintu tertutup
Luhan membuka matanya dan memegang keningnya yang baru saja dikecup oleh Sehun, ia mendengar semuanya, semua yang Sehun katakan. Ia ingin sekali berlari mengejar Sehun memintanya jangan pergi, namun ia tidak bisa melakukan itu.
Luhan menangis dalam diam membalikkan badannya dan memejamkan matanya, membayangkan kenangan indahnya bersama Sehun yang begitu singkat, Luhan terisak membekap mulutnya agar tak bersuara dan memukul dadanya agar berhenti mengeluarkan rasa sakit. Ia sudah kehilangan Sehun, Sehunnya, dan ia tidak tahu apakah dia bisa menjalani hidupnya seperti dulu saat ia belum bertemu dengan Sehun.
"Aku juga mencintaimu Sehunna" ucap Luhan menangis dalam tidurnya.
..
..
..
Sehun tidak langsung pergi meninggalkan rumah sakit, ia sedang menuju ke ruang inkubasi tempat anaknya dirawat, Sehun ingin melihat anaknya mungkin untuk yang terakhir kali dan berpamitan padanya.
"Hey jagoan appa, berjanjilah kau akan tumbuh dengan sehat selama appa tida ada. Jagalah eommamu karena appa hanya bisa menyakitinya selama ini" kata Sehun membuat gerakan di kaca dan mengagumi betapa kuatnya anaknya didalam sana, anaknya terlihat begitu tenang dan damai.
"Appa ingin melihatmu tumbuh nak, inggin mendengarmu memanggil appa padaku, aku ingin melakukan banyak hal denganmu,tapi jika appa bersikeras bersamamu, eomma mu yang akan pergi, appa tidak bisa lebih jahat lagi dari ini pada kalian" kata Sehun bergetar
"Jaga eomma mu untuk appa nak, jangan biarkan dia menangis lagi, tumbuhlah dengan baik dan kalian berdua harus bahagia" ucap Sehun yang akhirnya terduduk dilantai, ia tidak kuat lagi membayangkan perpisahannya dengan Luhan dan anaknya. Badannya terasa lemas dan seluruh tubuhnya tidak mau digerakkan.
"Appa pergi nak, Appa menyayangimu:" lirih Sehun meninggalkan anaknya tanpa melihatnya lagi, jika ia terus melihat anaknya itu hanya akan terasa sulit untuk mengucapkan selamat tinggal.
Sehun sekarang berada di mobilnya, ia masih belum beranjak pergi untuk menenangkan pikiranyya ada satu hal lagi yang harus ia lakukan, ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang
"eomma, ini aku" ucap Sehun
"Aku baik-baik saja" katanya lagi
"eomma boleh aku minta sesuatu?" tanya Sehun suaranya mulai bergetar
"Biarkan Luhan dan anakku tinggal dirumah besama eomma dan appa, jangan biarkan dia terlalu jauh dari kalian" kata Sehun lagi
"Tidak apa eomma, aku hanya ada urusan sebentar. Berjanjilah padaku eomma" pinta Sehun
"Terimakasih eomma, aku tutup telponnya" kata Sehun namun sebelum menutup telponnya Sehun menambahkan kalimat untuk eommanya
"Eomma, aku mencintaimu dan aku tidak pernah marah padamu, aku hanya kecewa dan mungkin itu yang akan anakku rasakan padaku kelak, aku minta maaf padamu eomma, aku akan merindukanmu" ucap Sehun dengan cepat dan menutup telponnya.
Sehun tersenyum lega sekarang, walau hatinya masih berkecamuk paling tidak ia sudah memastikan bahwa Luhan dan anaknya akan bahagia dan dikelilongi orang-orang yang menyayangi mereka.
Ia menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan semuanya dengan hati yang begitu hancur.
..
..
..
Dua Tahun Kemudian...
..
..
..
Sehun sampai dia Incheon airport, ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kakinya di Seoul lagi setelah memutuskan membiarkan Luhan hidup berbahagia bersama anaknya dan kedua orangtuanya.
Ia telah bercerai dengan Minji tepat satu bulan setelah kepindahan mereka ke Jepang. Minji tidak tahan dengan Sehun yang seperti mayat hidup. Dia berbicara, makan dan tertawa seperlunya, ditambah setiap malam ia selalu menyebutkan nama Luhan dengan begitu memilukan.
Minji memutuskan untuk meninggalkan Sehun dan membiarkan Sehun menjalani hidupnya sendiri. Minji juga sudah memulai kehidupan barunya dengan seorang pengusaha di Jepang. Ia menikahi pria tersebut tepat setahun yang lalu dan dihadiri oleh Sehun yang ikut berbahagia dengan kebahagiaan baru Minji.
Sehun sendiri pulang ke Korea tanpa ada yang mengetahui, ia hanya ingin menyelesaikan beberapa urusannya di Korea dan berniat kembali tanpa menemui keluarganya, Kai bahkan Luhan sendiri, ia tidak berani membayangkan wajah Luhan seperti apa, apa dia sehat, apa dia bahagia atu mungkin Luhan sudah menikah dan memberi ayah baru untuk anak mereka.
Sehun tersenyum pahit membayangkan Luhan dirangkul dan memiliki orang lain. Ia masih begitu mencintai Luhan dan tidak membiarkan seorang pun memasuki hatinya. Bukan karena ia tidak mau tapi ia tidak bisa dan menurutnya tidak ada yang akan bisa mencintainya setulus yang Luhan lakukan untuk mencintainya.
Sehun sedang melamun sampai ada anak kecil yang menabraknya karena berlari, anak kecil itu menangis sangat keras membuat orang-orang disekitar melihat Sehun dengan tidak suka. Sehun terkekeh dan menggendong anak kecil itu
"Hey, adik kecil sakit ya?" Tanya Sehun menimang nimang anak tersebut untuk menenangkannya karena terus menangis
"Eomma...eomma..h-hikssss" teriak anak itu tersedu
"Eh? Kau kehilangan eommamu?" Tanya Sehun
Anak itu terus menangis tidak mau berhenti, Sehun sendiri bingung bagaimana mendiamkannya, sampai dilihatnya ada toko ice cream di bandara. Sehun mengajak anak kecil itu kesana berharap ia berhenti menangis
"Telimaksi ahjussi" kata anak itu yang belepotan dengan ice cream
"Aigoo, lucu sekali dirimu, jadi kenapa kau menangis?" Tanya Sehun
"Eomma, eomma" kata anak itu sambil memakan eskrimnya
"Baiklah, setelah ini kita cari eommamu ya, dia pasti mencarimu" kata Sehun mengacak rambut anak kecil tersebut
"Kau mirip sekali seseorang nak, matamu sangat mirip dengannya" gumam Sehun tersenyum dan merasa dirinya akan menjadi gila karena terus membayangkan Luhan dimanapun
"Eomma Eomma!" Kata anak itu lagi, kali ini menunjuk ke sosok seseorang, Sehun mengikuti arah anak itu menunjuk, namun yang ia lihat seorang wanita yang sedang menelpon, dia pikir itu adalah eomma anak kecil itu.
"Itu eommamu?" Tanya Sehun
"Eomma Eomma" kali ini anak kecil itu berlari ke eommanya,
Sehun tidak menoleh ke belakang lagi, ia tersenyum lega paling tidak anak kecil itu tidak jadi tersesat, Sehun memutuskan untuk beranjak pergi dari kursinya.
Namun langkahnya terhenti karena ia berpapasan dengan Kai dan Kyungsoo yang juga terdiam karena melihatnya
Kyungsoo sudah berkaca kaca melihat Sehun, Sehun hanya tersenyum lemah kepadanya.
"Kai, Kyungie, ayo kita pulang, aku sudah menemukan pangeran kecilku, dia bilang dia ditraktir ice cream oleh seorang ahjussi" kata seseorang di belakang Sehun.
Sehun terdiam, ia sangat gugup sekarang
Suara ini lirih Sehun
Suara yang sangat ia rindukan selama 2 tahun ini, suara yang selalu menghantuinya didalam mimpi, suara yang ingin ia dengar sepanjang hidupnya.
"Lu, Sehun" kata Kyungsoo lemah
"Kau bicara apa Kyung?" Tanya Luhan
"Eomma, itu ahjussi ice cream" kata anak yang ada di gendongan Luhan
"Ah benarkah?" Tanya Luhan pada anaknya
Sehun mendengarnya, anak ini adalah anak yang baru beberapa menit yang lalu bersamanya
Apakah dia anakku? Tanya Sehun dalam hati
Dengan ragu Sehun membalikkan badannya dan menghadap ke arah Luhan
Sehun memperhatikan Luhan dan anak yang ada dalam gendongan Luhan, ia tidak gila karena berfikir anak kecil ini mirip Luhan, karena memang dia anak Luhan, anaknya.
Luhan terdiam mendapati Sehun didepannya. Gendongannya pada anaknya melemas dan ia membiarkan anaknya berlari ke arah Sehun, ayahnya.
"Ahjussi, eommaaa" kata anak kecil itu merengek minta digendong Sehun, Sehun ingin sekali menggendongnya, jika ia tahu anak ini adalah anaknya beberapa menit yang lalu, dia tidak akan melepaskan anak ini dalam pelukannya. Ia takut Luhan marah jika ia menggendong anaknya. Sehun hanya bisa terdiam dan menatap Luhan yang juga tidak berkata apa-apa.
"Sehannie, eomma dan ahjussi ingin mengobrol sebentar, Sehan dengan Kai appa ya, kita beli banyak permen" kata Kai menghampiri anak Sehun dan Luhan, Sehan dan membujuknya untuk membiarkan keduaorangtuanya bicara.
"Ayoo" seru Sehan bersemangat
Sehan? Batin Sehun tersenyum mengetahui nama anaknya
Kai dan Kyungsoo melewati Sehun dan Luhan mengajak Sehan pergi.
"Bicara padanya" kata Kyungsoo pada Luhan, Luhan tersenyum
"Kau berantakan sekali man" sindir Kai melihat Sehun yang tampak tidak terurus dan meninggalkannya dengan menggendong Sehan
..
..
..
"Jadi bagaimana kabarmu?" Tanya Luhan membuka percakapan
Mereka sekarang berada di kafe dekat bandara, dan sudah saling terdiam dan menatap selama kurang lebih 30 menit.
"Begitulah" jawab Sehun seadanya
Luhan mengernyit "apa kau hidup dengan baik? Aku dengar dari Kai proyekmu di Jepang sangat sukses" tanya Luhan
"Aku bingung bagaimana menjawabnya, proyekku memang sepenuhnya sukses karena memang diriku sepenuhnya hancur" lirih Sehun
"A-ada apa denganmu? Kau baik-baik saja kan?" Tanya Luhan yang mulai ada nada khawatir didalamnya
"Tidak, aku tidak apa-apa" jawab Sehun tersenyum
"Aku senang melihat kalian hidup dengan baik, dan namanya adalah Sehan?" Tanya Sehun menyembunyikan rasa bahagianya karena sudah melihat anaknya dan mengetahui nama anaknya.
"Hmm namanya Sehan, eomma yang memberikannya" kata Luhan berbohong
Sehun tampak senyum dengan senyum bodoh karena mengira Luhanlah yang memberi anak mereka nama.
"Dia sangat mirip denganmu" kata Sehun
"Matanya" tambah Sehun dengan cepat
"Tidak, kau salah, dia sepenuhnya dirimu, bentuk wajahnya, caranya tersenyum dan menatap, bahkan belakangan sifatnya sudah menyamai ayahnya" kekeh Luhan
"Aku melewatkan banyak hal sepertinya" kata Sehun sedih
Luhan tidak menjawab lagi, ia tidak mau membuat Sehun semakin merasa bersalah, melihat kondisinya. Sehun sepertinya sedang merasakan sakit dan tidak membiarkan siapapun mengetahuinya.
"Oia Mana Minji?" Tanya Luhan merubah topik
Sehun menatap Luhan seperti sedang mencari jawaban.
"Mungkin dia sedang toilet" kata Sehun berbohong
"Oh, kalau begitu lebih baik aku pergi, aku tidak ingin dia gusar melihatku" kata Luhan menutupi nada suaranya yang bergetar
"Kalian sedang apa di bandara? Apa kalian akan pergi?" Tanya Sehun yang baru mengingat keberadaan mereka semua di bandara.
"Tidak, kami tidak pergi, kami mengantar Kris disini, dia pulang ke China untuk satu bulan" kata Luhan menjelaskan
"Oh begitu" kata Sehun mengerti
"Baiklah, aku pergi dulu Sehun, berkunjunglah jika kau mau, Sehan sudah mulai mencari ayahnya yang ada di foto. Dia sangat cerdas bahkan ketika Kai dan Kris mengakui mereka adalah appanya, Sehan langsung menangis menjerit karena tahu dibohongi" kekeh Luhan mengingat tingkah anaknya.
"Dia memanggil Kris dengan sebutan appa?" Tanya Sehun nampak tak suka
"Iya, kenapa? Bukankah bagus jika banyak yang menyayanginya" ucap Luhan tersenyum
"Dan bicara tentang Kris" kata Luhan menggantung
"Sepertinya kami akan segera menikah" Luhan mengakhiri kalimatnya kemudian berpamitan pada Sehun dan meninggalkan Sehun disana.
Sehun tersenyum sangat memilukan mendengar perkataan Luhan. Ia memegangi dadanya memastikan dia masih bernafas sekarang. Dia tersenyum mengingat ia merasakan semua yang Luhan rasakan sekarang.
Sehun bahkan belum sempat bermain lebih lama dengan putranya. Tapi sebentar lagi putranya akan menjadi milik orang lain juga, semua impiannya hancur sejak dua tahun yang lalu, dan hari ini ia menyadari satu hal kalau dirinya benar-benar sudah tidak ada harapan sedikitpun.
tobecontinued...
Ternyata belum bisa di end. :DD
Karena banyak yang bilang Luhan yang menderita terus, kita bikin Sehun ngerasain juga ya tapi ga lama ya.. Kasian kalo kelamaan nanti ga bahagia-bahagia merekanya.
Next chap dibuat Hunhan sama Sehan... tunggu yyyaaa
Read n Reviewnya yang bikin semangat silakan biar fast update lagi terimakasih :)
