Our Tomorrow
Main Cast : Oh Sehun Dan Xi Luhan and others
Genre : Romance, Family, Hurt
Rate : T-M
Length : Chapter
YAOI. Typo (s). M-preg.
HUNHAN STORY!
Kau menawarkan padaku "apapun dan berapapun". Bolehkah aku menolaknya dan meminta hatimu sebagai gantinya
-Luhan
Aku seperti bukan diriku jika berada disampingmu. Aku merasa jika tidak ada kau disekitarku aku akan secara otomatis mencarimu. Apakah aku benar telah jatuh hati padamu?
-Sehun
"Ini menyebalkan dia bisa saja menghindari Luhan, tapi dia tidak bisa menghindariku begitu saja" kesal Kai karena Sehun belum juga menghubunginya
"Aku ingin sekali memukul wajahnya, dia bahkan sudah melihat anaknya. Harusnya di sedikit peduli" gumam Kai lagi
Sehun memang tidak terlihat lagi sejak hari itu, dia seperti menghilang dari kehidupannya dan mencoba membangun temboknya sendiri. Jangankan mengabari Luhan dan Kai, ia juga tidak mengabari kedua orangtuanya jika ia sedang ada di Korea saat ini.
"Baby sudahlah, Sehun mungkin sedang sibuk" kata Kyungso yang sama kecewanya dengan Kai, ia mengira hari itu semuanya akan berbaikan. Hubungan Sehun dan Luhan akan semakin baik, tapi jika mendengar apa yang diceritakan Luhan. Semuanya jauh dari kata baik.
"Hay maaf aku telat" kata Luhan yang baru tiba dari rumah orang tua Sehun, menggendong Sehan
"Lu, kau pucat apa kau sakit?" tanya Kyungsoo
"Sepertinya begitu, akhir-akhir ini aku banyak pikiran dan kau tahu kafe tidak pernah sepi, membuatku semakin sibuk saja" Kata Luhan
"Nanti kau pulang atau menginap di apartemen?" tanya Kai
"Aku di apartemen saja, lagipula sudah lama tidak dibersihkan" kata Luhan menyerahkan Sehan pada Kai
"Halo jagoan" Kai menciumi pipi Sehan gemas
"Halo Kkamjongie appa" ucap Sehan lucu
"Sudah berani menggodaku ya?" ucap Kai membawa Sehan kedalam kamar dan menggelitikinya habis-habisan.
"Apa dia sudah menghubungimu?" tanya Kyungsoo yang sedang memeriksa dahi Luhan
"Belum" Luhan tersenyum pahit
"Mungkin dia sibuk Lu" kata Kyungsoo mencoba menenangkan
"Entahlah atau mungkin dia tidak mau menemui anaknya" lirih Luhan
"Ini salahku Kyung, aku terlalu keras padanya. Aku bahkan menghancurkan hatinya berkali-kali" kata Luhan mengingat semua apa yang telah ia katakan dan lakukan pada Sehun
"Lagipula dia sepertinya sudah semakin baik dengan Minji, aku tidak mau mengganggu lagi" kata Luhan melanjutkan dan menyender ke bahu Kyungsoo
"Sudah ya Luhannieku tidak perlu khawatir. Semua akan baik pada waktunya, lebih baik hari ini kau tidak usah ke kafe biar aku saja yang mengurus semua hari ini" kata Kyungsoo membiarkan Luhan bersandar dibahunya.
"Tidak, aku mau ke kafe saja" kata Luhan dan bersiap pergi
"Baiklah, aku mengawasimu Lu" kata Kyungsoo yang juga bersiap pergi
"Baby, kami berangkat dulu, jangan lupa bawa Sehan ke kafe pada jam makan siang" teriak Kyungsoo
"Araseeo baby" balas Kai dari dalam kamar, masih terdengar suara Sehan yang tertawa sangat geli karena dikerjai oleh Kai
"Ayo kita pergi" Kyungsoo menggandeng tangan Luhan dan pergi dari apartemen nya.
Luhan kini mempunyai kafe bubble tea sendiri bekas tempat kedai bubble tea yang dulu sewaktu ia mengandung Sehan. Pemiliknya ingin pindah tempat dan menutup kedainya, Luhan yang saat itu kebetulan lewat sangat menyayangkan jika Kedai itu ditutup. Karena itu ia meminta bantuan pada Kai untuk meminjamkannya uang agar dapat membeli Kedai tersebut. Tentu saja Kai dengan senang hati membelikan kedai itu untuk Luhan dan Kyungsoo.
Luhan dan Kyungsoo menyulap kafe itu menjadi kafe yang ramai akan pengunjung. Mereka merubah suasana kafe menjadi vintage room dengan benda-benda unik yang menghiasi seluruh dekoran Kafe. Pegawainya pun adalah teman-teman mereka sewaktu di Klub, menambah keunikan sendiri di kafe itu. Karena diisi dengan orang-orang yang unik.
"Hay Lay" sapa Luhan dan Kyungsoo ketika melihat Lay yang sedang merayu para gadis
"Hay Lu, hay Kyung" jawab Lay mengerling keduanya dan melanjutkan gombalannya pada sekumpulan gadis remaja itu
"Lu, hari ini aku rindu sekali pada Junmyeon aku rasa aku mau menghubunginya" kata Kyungsoo berteriak membuat Lay mendelik padanya dan Luhan tertawa karenanya.
"Aku kedalam dulu Kyung" kata Luhan meninggalkan Kyungsoo yang masih sibuk menggoda Lay
"Hay Lu" sapa Xiumin yang sedang membuat kopi andalannya
"Hay Minnie, kau sedang sibuk ya?" tanya Luhan yang sedang memeriksa penjualan kafenya
"Tidak terlalu, ini untuk Jongdae, dia ada dibangku tamu menungguku" kata Xiumin tersipu
"Whoaa kau beruntung sekali" kata Luhan tersenyum pahit ia mengingat Sehun juga pernah menunggunya bekerja ketika ia masih bekerja di kafe milik Jaejoong.
"Aku kedepan dulu ya, bye Luhan" kata Xiumin dan meninggalkan Luhan di meja kasir
"Hmm, bersenang-senanglah" kata Luhan tersenyum.
..
..
..
"Ini sudah jam makan siang kenapa Kai dan Sehan belum datang" kesal Kyungsoo menunggu Kai yang selalu lupa waktu jika bermain dengan Sehan
"Mereka sedang dalam perjalanan kesini mungkin Kyung" kata Luhan membela Kai
"Apa kau tidak marah anakmu dibelikan es krim terus?" protes Kyungsoo
"Selama dia senang dan membuatnya tidak menangis aku tidak masalah" ucap Luhan tertawa
"Sudahlah aku menunggu mereka didepan saja, kau tunggu disini" kata Kyungsoo meninggalkan Luhan di meja kasir
"Hmm, aku juga masih ada beberap pesanan, kau pergilah tunggu mereka, dan jangan marahai Kai didepan anakku, aku tidak mau dia berfikir kalian bertengkar karenanya" pesan Luhan sebelum Kyungsoo pergi.
"Arasseo Luhannie" ucap Kyungsoo mencium pipi Luhan dan pergi keluar kafe menunggu Kai dan Sehan
Mereka memang selalu menyempatkan untuk makan siang bersama. Selain karena Kai dan Kyungsoo yang mengeluh rindu jika tidak bertemu sehari dengan Sehan. Luhan juga tidak ingin anaknya meras kesepian karena mereka hidup hanya berdua. Paling tidak Sehan kecil mempunyai keluarga lengkap jika dengan Kai dan Kyungsoo.
Luhan sedang sibuk menyiapkan beberapa pesanan sebelum pergi istirahat untuk makan siang. Tidak memperhatikan siapa yang datang untuk mengantri pesanan selanjutnya.
"Apa kau menyangka kita akan bertemu lagi?" tanya seorang wanita yang suaranya sangat familiar di telinga Luhan
Luhan menoleh dan cukup terkejut mendapati Minji disana
"Minji. Sudah lama sekali tidak bertemu" sapa Luhan
"Hay Lu, kau masih baik saja" ucap Minji entah menyindir entah terdengar tulus
"Apa maksudmu?" tanya Luhan tersenyum
"Lupakan, apa ini kafemu?" tanya Minji melihat dekorasi yang menarik dari kafe ini
"Tidak, ini punya Kai dan Kyungsoo aku hanya bekerja disini" jawab Luhan
Selagi Minji memperhatikan dekorasinya, Luhan sesekali melirik mencari sosok yang belum lama ia temui di bandara, mencari sosok yang sangat dirindukannya. Namun Luhan tidak menemukan tanda-tanda Sehun ada disini
"Ini sangat bagus" kata Minji terpesona
"eh?" tanya Luhan nampak kecewa karena tidak mendapati Sehun disana
"Oh,Terimakasih Minji, oia kau mau pesan apa? Karena kau tamu spesial aku akan memberikan gratis untukmu" kata Luhan siap menyiapkan pesanan Minji
"Aku mau pesan minuman yang menjadi favorit disini" kata Minji tersenyum
"Baiklah, pesananmu akan segera datang" kata Luhan
"Bolehkah aku minta dua?" tanya Minji
"Dua?" kata Luhan mengulangi
"Hmmm, untuk suamiku" ucap Minji santai
"Suamimu? Tapi aku tidak melihat ada Sehun disini" kata Luhan menyembunyikan nada suaranya yang sudah bergetar
"Sehun?" tanya Minji
Luhan mengernyit bingung mendengar pertanyaan Minji.
"Memang suamimu siapa lagi?" tanya Luhan yang mulai jengah dengan percakapannya dengan Minji
Minji tertawa membuat Luhan semakin mengernyit bingung.
"Oh ayolah Luhan, apa kau tidak tahu?" tanya Minji lagi
"tahu apa?" Luhan bertanya balik pada Minji
Siapkan minumanku lalu kita berbicara. Aku menunggumu disana" ucap Minji menunjuk bangku kosong dipojokan dekat jendela
"Baiklah, tunggu aku" kata Luhan yang merasa sangat penasaran dengan yang ingin Minji katakan
..
..
..
"Ini minumanmu" kata Luhan memberikan minumannya pada Minji dan duduk didepan Minji
"whoaa ini benar-benar enak kau tahu" puji Minji yang sangat menyukai rasa Bubble tea yang diberikan Luhan padanya
"Terimakasih Minji" ucap Luhan tersenyum
"Jadi apakah kau bisa mulai cerita sekarang?" tanya Luhan
"Oh, kau sudah tidak sabar ya?" kata Minji tertawa dan menaruh bubblenya siap untuk berbicara
"Kapan kau terakhir bertemu dengan Sehun?" tanya Minji
"Dua hari yang lalu di bandara, dia mengatakan bersamamu" jawab Luhan
"Dia berbohong, aku baru sampai pagi ini di Korea, aku sedang dalam perjalanan menuju hotel dan mampir ke kafe ini karena dekorasinya yang unik, aku tidak menyangka kau yang bekerja disini" ucap Minji jujur
"A-apa maksudmu?" tanya Luhan tak percaya
"Kami sudah bercerai" ucap Minji tersenyum, matanya menyiratkan kesedihan
Luhan terdiam ia tidak harus bicara pa. jelas-jelas ia baru bertemu Sehun dua hari yang lalu dan Sehun mengatakan kalau Minji bersamanya.
"K-kau berbohong kan?" tanya Luhan memastikan setelah ini Minji akan tertawa dan membodohinya
"Sayangnya tidak, aku bahkan sudah menikah lagi dan dia menghadiri pesta pernikahanku, itu suamiku" tunjuk Minji pada seorang pria yang sepertinya keturunan Jepang yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Minji sebenarnya ada apa dengan kalian?" tuntut Luhan, matanya sudah berkaca-kaca mengingat semua yang ia katakan pada Sehun terlalu kejam dan menyakiti hati Sehun
"Aku yang harusnya bertanya pada kalian, apa yang terjadi pada kalian? Aku pikir kalian sudah bersama bahkan sudah menikah" kata Minji tak menyangka kalau Sehun dan Luhan belum bersama.
"Dan kau bilang dia baru pulang dua hari yang lalu? Kau bertemu dengannya di bandara?" tanya Minji dan Luhan mengangguk
"Itu artinya dia juga membohongiku" lirih Minji
"Membohongimu bagaimana?" tanya Luhan
"Kami bercerai setahun yang lalu, aku sudah merelakan kalian untuk bersama. Aku bertemu pria yang menjadi suamiku sekarang, dia sering membuatku tertwa dan aku menyukainya, dan aku memutuskan bersedia menceraikan Sehun dengan perjanjian diantara kami" kata Minji bercerita
"Perjanjian apa?" tanya Luhan lagi
"Setelah dia menghadiri pernikahanku, dia harus pulang ke Korea dan hidup bahagia bersamamu dan anak kalian" jawab Minji
"Tetapi sepertinya dia tidak melakukan hal itu. Dia membuat dirinya mati secara perlahan disana. Kau tahu hidupnya sangat buruk di Jepang. Dia jarang makan dan akan sibuk bekerja seharian. Pagi bertemu pagi, begitulah ia menjalani hidupnya" lirih Minji
Luhan tertohok mendengarnya, perkataan Sehun terputar dengan jelas di benaknya.
"Aku bingung bagaimana menjawabnya, proyekku memang sepenuhnya sukses karena memang diriku sepenuhnya hancur" l
Luhan mengepalkan tangannya tidak tahan mendengar betapa menderita Sehunnya. Betapa hancur pria yang sudah ia sakiti. Luhan benar-benar kesulitan bernafas sekarang.
"Dan jika kalian bertemu di bandara itu artinya sebuah ketidak sengajaan kan? Menurutku dia memang tidak berniat untuk berada lama di Korea, mungkin dia akan segera pergi lagi" ucap Minji,
"Apa kau tahu dia dimana sekarang?" tanya Luhan dengan suaranya yang serak menahan tangis
"Maafkan aku Luhan, tapi aku tidak tahu" ucap Minji menyesal
"Rumah kalian? Apa mungkin dia disana" tanya Luhan lagi mengingat Sehun tidak mungkin ke apartemen mereka dan kerumah orangtuanya
"Kami sudah menjual rumah kami, dan hasil dari rumah kami ,Sehun sumbangkan ke panti asuhan tempat dimana kau dibesarkan" kata Minji tersenyum
Luhan merasa seperti ditampar tepat diwajahnya. Kenyataan bahwa Sehun sangat peduli padanya membuat ia merasa sangat jahat. Luhan ingin sekali bertemu dengan Sehun dan mengatakan padanya kalau semua sudah baik-baik saja.
"Aku harus mencarinya kemana?" tanya Luhan yang kini sudah menangis karena bingung harus dimana mencari Sehun
Minji memegang tangan Luhan dan menguatkannya
"Aku yakin kalian akan bertemu, kau harus mencarinya Lu dan hentikan semua kesalahpahaman ini" ucap Minji merasa iba dengan keadaan Sehun dan Luhan yang hampir sangat sulit untuk berbahagia.
"Eommaa Sehannie datang" teriak Sehan menghampiri Luhan dan Minji
Luhan menghapus air matanya dan memeluk anaknya
"Sehannie baru datang darimana eoh?" tanya Luhan menciumi pipi Sehun
"J-jadi ini anakmu? Dia sudah sangat besar, dan dia sangat mirip dengan kalian berdua" kata Minji terharu melihat Sehan yang berada di pelukan Luhan
"Sehannie, panggil nyonya ini eomma, dia juga yang membesarkan Sehan waktu kecil" kata Luhan berbisik pada Sehan
"Eomma anyyeong" sapa Sehan membuat Minji sangat terharu
"Lu, bolehkan aku memeluknya?" tanya Minji
"Tentu, Sehan peluk eomma Minji" kata Luhan menurunkan Sehan dari pangkuannya. Sehan berlari menuju ke Minji yang sudah merentangkan tangannya
"Kau tampan sekali nak, seperti ayahmu dan kau terlihat cerdas seperti eomma mu" ucap Minji menangis mendekap erat Sehan
"Tumbuhlah dengan baik, eomma mendoakanmu" kata Minji melepaskan pelukannya pada Sehan dan menciumi pipinya
"Eomma, jangan menangis" ucap Sehan menghapus air mata Minji, membuat Minji tersenyum sangat bahagia
"Ini pertama kalinya aku dipanggil eomma, kau harus terus memanggil ku seperti itu ya?" tanya Minji
Sehan yang tidak mengerti apa-apa hanya menjawab iya dengan riang.
"Lu sepertinya suamiku udah menunggu aku pamit dulu" ucap Minji menyeka airmata nya
Luhan berdiri dan menjabat tangan Minji
"Terimakasih Minji" ucap Luhan tulus
"Temukan dia dan berbicaralah padanya. Anak kalian harus tumbuh dengan kedua orang tuanya disamping nya" kata Minji yang juga menjabat tangan Luhan dan memeluknya sekilas
"Semoga kalian berbahagia Luhan" bisik Minji
"Terimakasih" balas Luhan
"Sehan, eomma pulang dulu lain kali kita bermain bersama ya" kata Minji berpamitan pada Sehan dan mengacak rambutnya sekilas
"N-neee" jawab Sehan yang kembali ke pelukan Luhan
..
..
..
"Lu bukankah itu Minji?" tanya Kyungsoo yang baru masuk diikuti Kai yang nampaknya habis dimarahi oleh Kyungsoo
"Iya itu dia" jawab Luhan sedih
"Kau kenapa? Dia mengatakan apa padamu?" tanya Kyungsoo tak sabaran membawa Sehan ke pelukannya
"Sehun dan Minji mereka sudah bercerai, yang bersama Minji tadi adalah suaminya yang baru" Suara Luhan sudah benar-benar bergetar sekarang.
"Aku harus mencarinya dan meminta maaf padanya, tapi aku tidak tahu dimana dia" kata Luhan yang terduduk lemas
"Lu jangan seperti ini Sehan bisa menangis melihatmu menangis" kata Kyungsoo yang menyerahkan Sehan pada Kai
"Sehun, maaf, aku minta maaf padamu" lirih Luhan menyembunyikan kepalanya diatas meja
"Sehun appa" kata Sehan dengan riang
"Eh?" baik Luhan maupun Kyungsoo mengernyit mendengar Sehan menyebutkan nama ayahnya
"Sehun appa" kata Sehan berjingkat riang dipelukan Kai
"Ka-Kai kenapa Sehan memanggil Sehun?" tanya Luhan bingung
Kai tersenyum dan menciumi pipi Sehan
"Anak nakal, appamu bilang jangan beritahu eomma" gumam Kai tersenyum menggoda kedua orang didepannya.
"Kai/Baby" Teriak Luhan dan Kyungsoo bersamaan
Kai tersenyum dan menatap Luhan dan Kyungsoo
"Kami bertemu dengannya tadi. Sehan yang menemukan ayahnya" kata Kai tersenyum
Flashback
"Anak appa apakah mau beli eskrim?" tanya Kai keluar dari apartemennya dan sedang mengunci pintu
"neee" teriak Sehan gembira
"Baiklah, kajja" kata Kai membawa Sehan kedalam gendongannya dan bersiap didepan lift
Ketika pintu lift terbuka ada seorang pria yang terburu-buru keluar karena berpapasan dengan Kai dan Sehan. Pria itu menabrak bahu Kai dan sedikit membuat Kai berguncang karena sedang kerepotan membawa Sehan
"Yak! Kalau keluar hati-hati aku membawa anak kecil" teriak Kai pada pria tersebut yang berjalan terburu-buru seperti menghindari sesuatu.
"ahjussi esklim" kata Sehan menunjuk pria tersebut
"eh?" tanya Kai bingung
Sehan meronta dalam pelukannya dan minta turun dari gendongan Kai, Kai yang kewalahan menurunkan Sehan dan membiarkannya berlari
"Ahjussi esklim" kata Sehan berteriak, jalannya masih gontai dan kadang terjatuh dia kesulitan memanggil pria yang ingin dikejarnya
Kai kehilangan sosok Sehan yang berlari sangat cepat, ia mulai cemas sekarang takut kalau Sehan terjatuh
"Sehannie tunggu appa" teriak Kai
Sehan masih sibuk mengejar sosok "ahjussi esklim" nya yang ternyata Sehun. Sehun sendiri berusaha untuk mengabaikan panggilan anaknya alaupun rasanya ia ingin berbalik dan memeluk anaknya.
"ahjussi esklim" teriak Sehan sekali lagi
Bugh!
Sehan terjatuh dan menangis sangat keras
"ahjussi esklim" katanya terisak
Sehun berhenti dari langkahnya, ia tidak tahan lagi ia membalikkan badannya dan berlari menuju kearah Sehan memeluknya
"Anakku maafkan appa nak, maafkan appa" kata Sehun sangat menyesal membiarkan anaknya terjatuh
"Sehannie" teriak Kai yang terengah dan terkejut mendapati siapa yang sedang menggendong Sehan
"Sehun" kata Kai tak percaya
"Ayah macam apa kau?" teriak Kai mengambil Sehan dalam pelukan Sehun
"Dia memanggilmu sampai dia terjatuh dan menangis kau masih mendiamkannya. DAN KEMANA SAJA KAU? KENAPA BARU MUNCUL" teriak Kai yang sudah habis kesabarannya.
BUGH!
Kai memukul wajah Sehun dan membuat Sehan menjerit ketakutan.
"Kai kau boleh menghabisiku nanti, anakku, dia ketakutan" kata Sehun terengah melirik ke arah anak nya yang tampak ketakutan karena baru saja melihat Kai memukulnya
"Sehan, maafkan appa, aku tidak bermaksud menakutimu, hanya saja selamat nak, kau baru saja menemukan appamu yang sangat kejam dan pengecut" kata Kai menghampiri Sehan dan memeluknya
Sehan yang tampaknya khawatir pada Sehun berlari menghampiri Sehun dan membelai pipi Sehun yang merah karena pukulan Kai
Sehun memejamkan matanya menikmati sentuhan anaknya yang luar biasa menenangkan dirinya
"Cih, bahkan dia sudah mengenalimu dengan sangat baik" kata Kai yang kesal dan bahagia disaat bersamaan.
"Dimana kau tinggal?" tanya Kai yang kini membiarkan sehun menggendong anaknya
"Disini" jawab Sehun
Kai mengernyit bingung "Di apartemenmu?" tanya Kai
"Tidak, tentu saja tidak" jawab Sehun
"Aku tinggal disini dilantai yang sama dengan Luhan tetapi berbeda ruangan. Aku sengaja memilih tinggal disini berharap bisa bertemu dengan Luhan dan anakku. Tapi aku sudah cukup berhati-hati dua hari ini. Namun hari ini sepertinya bukan hari keberuntunganku, malaikat ku menemukan aku" kata Sehun mencium pipi Sehan
"Ayo ketempat mu, aku ingin memastikan kau tidak membohongi ku" tuntut Kai
"ayolah Kai, percaya padaku" pinta Sehun
"Sekarang atau anakmu aku bawa pergi" ancam Kai yang mengetahui Sehun masih ingin berlama lama dengan putranya"
"Baiklah, aku kalah, ikut aku" kata Sehun menuju ke ruang apartemen dimana ia tinggal.
"Kau benar-benar tinggal di sebelah apartemenmu yang sekarang Luhan tempati?" Tanya Kai tak percaya saat memasuk apartemen Sehun.
Sehun mengangguk dan mengajak mereka masuk
"Aku hanya menyewanya, tidak membelinya" ucap Sehun masih menciumi Sehan
"Kenapa?" Tanya Kai
"Kau tahu kan? Aku harus segera pergi" lirih Sehun
"Sehun-Kau!" Geram Kai
"Habisi aku nanti Kai, aku tidak mau anakku ketakutan" ucap Sehun
Sehan masih sangat betah dipelukan ayahnya dia terus memeluk Sehun enggan untuk melepaskannya.
"Kau mau ice cream nak?" Tanya Sehun
"Esklimm" teriak Sehan sebagai respon
"Baiklah, Kai dia bolehkan makan ice cream?" Tanya Sehun yang tidak mengetahui apa-apa tentang anaknya
"Hmm tidak masalah, berikan dia satu cup saja, Luhan tidak pernah melarangku memberikan ice cream pada Sehan."Kata Kai memberitahu
"Taraaaa, ini dia ayo kita makan ice cream" teriak Sehun memangku Sehan dan menyuapinya ice cream
"Sehun biarkan dia makan sendiri, aku ingin menanyakan banyak hal padamu" protes Kai
Sehun mendelik pada Kai yang begitu cerewet, seakan Sehun adalah tawanan yang bisa melarikan diri kapan saja.
Sehun mendudukan Sehan disamping mereka, dan membiarkan Sehan menghabiskan ice creamnya.
"Jadi, kenapa kau tidak menghubungiku sejak kita bertemu di bandara?" Tuntut Kai
"Aku ingin, tapi aku tidak bisa Kai" jawab Sehun masih memperhatikan Sehan
"Kenapa?" Tanya Kai tak sabaran
"Berhubungan dengan kalian akan membuat diriku semakin sulit saja" kata Sehun
"Apa maksudmu?" Tanya Kai lagi
"Kau kenapa begitu cerewet" sindir Sehun
"Sudah jawab saja" kesal Kai
"Aku ingin sekali bersamanya, bersama Luhan dan Sehan. Tapi aku sadar sudah begitu banyak kesalahan yang aku lakukan pada mereka, aku tidak mau membuat kebahagiaan mereka hilang karena kedatanganku" cerita Sehun
"Jadi itu sebabnya kau melarikan diri di lift tadi?" Sindir Kai
"Aku terkejut bertemu kalian berdua, saat pintu lift belum sepenuhnya terbuka, aku dan Sehan kami bertatapan, aku bahkan mengingat wajahnya dengan baik, jantungku terasa mau copot aku pikir Luhan yang membawanya, aku bersyukur lega karena Sehan bersamamu" kata Sehun tersenyum mengusap rambut Sehan
"Dia juga mengenalimu dengan baik" jawab Kai tersenyum memperhatikan Sehan
"Dimana Minji?" Tanya Kai
Sehun hanya menatapnya sekilas lalu sibuk memperhatikan anaknya lagi.
"Sehun" panggil Kai
"Baiklah Kai, baru kau yang mengetahui ini, aku mohon jangan beritahu siapapun dulu terutama Kyungsoo dan Luhan. Berjanjilah padaku" kata Sehun
"Hey ada apa? Kenapa terdengar rumit sekali" tuntut Kai
"Berjanjilah" pinta Sehun
"Aku berjanji" jawab Kai
"Aku dan Minji kami sudah bercerai setahun yang lalu, Minji juga sudah menikah lagi" ucapan Sehun membuat Kai menatapnya iba
"Maaf Sehun, aku tidak tahu" kata Kai menyesal
"Tidak ada yang tahu, aku sudah bilang padamu, aku tidak apa-apa. Aku berbahagia karena Minji sudah tidak menderita lagi" Sehun tersenyum tulus
"Kalau begitu kenapa kau tidak mencoba dengan Luhan? Sehun jangan pikirkan bagaimana reaksi Luhan, pikirkan tentang Sehan" kata Kai yang melihat keraguan di mata Sehun
"Entahlah, aku rasa aku sudah tidak punya harapan" lirih Sehun
"Apa maksudmu?" Tanya Kai lagi
"Waktu di bandara kemarin, Luhan mengatakan kalau sepertinya ia akan menikah dengan Kris" ucap Sehun menerawang dan matanya mulai berkaca-kaca
"Shit, ternyata benar" umpat Kai
"A-apa yang benar?" Tanya Sehun
"Kau tahu? Kris mulai mendekati Luhan setahun yang lalu, tapi Luhan masih bersikeras tidak bisa menerima siapapun. Luhan mengatakan ayah Sehan hanya dirimu, dia tidak bisa membuat Sehan menganggap ayah kandungnya adalah orang lain." Kata Kai bercerita
"Tapi ada yang aneh 3 bulan terakhir ini, Luhan selalu ditemani Kris kemanapun termasuk ke kafe, kau tahu aku hampir bertengkar dengannya karena kami berebut Sehan. Sehan ingin bersamaku tetapi dengan segala cara Kris mencegahnya, aku yang kesal akhirnya merebut Sehan dari pelukannya dan membawanya bersamaku, membuatku tidak bisa bertemu Sehan selama 3 hari karena Luhan kesal denganku" lanjut Kai
"Puncaknya adalah kemarin saat kita di bandara, aku sangat terkejut mendengar Sehan memanggilnya appa. Aku dan Luhan bertengkar karena hal itu, aku bersikeras mengatakan kalau ayah Sehan hanya kau dan aku tentu saja, tapi Luhan mengatakan kalau mungkin sebentar lagi Kris benar akan menjadi ayahnya. Aku belum sempat bertanya karena Sehan sepertinya takut melihat aku dan Luhan bertengkar, ia pergi berlari dan saat itulah kau bertemu dengannya" kata Kai tersenyum
"Aku juga tidak tahu apakah Luhan serius dengan ucapannya. Mencobalah Sehun, demi anakmu" pinta Kai
"Entahlah Kai" ucap Sehun memijit pelipis nya yang pening mendengar semua cerita Kai
"Appa" panggil Sehan
"Kenapa nak?" Tanya Kai. Tapi Kai terperangah karena Sehan bukan memanggilnya, ia memanggil Sehun dan menghampiri Sehun yang belum sadar Sehan memanggilnya
"Appa!" Teriak Sehan membuyarkan lamunan Sehun dan langsung memeluk Sehun
Sehun terkejut dan sama terperangahnya dengan Kai
"S-sehun, anakmu benar-benar mengenalimu" kata Kai terharu
"Appa disini nak, appa disini, terimakasih sayang terimakasih" kata Sehun sangat bahagia karena untuk pertama kalinya ia dipanggil appa. Sehun menangis bahagia dipelukan Sehan
Drrrtt
Drrtt
Drrtt
"Yeboseyo" ucap Kai
"YA! KAMJONGIE. Kenapa kau belum datang juga?" Teriak Kyungsoo disebrang telpon
"a-aku sedang dalam perjalanan baby" kilah Kai ketakutan
"Cepat kesini" Kyungsoo sepertinya benar-benar kesal
"A-araseo baby, ne, aku tutup telponnya" balas Kai menutup telponnya
"Sehun aku rasa kami harus pergi, Kyungsoo dan Luhan sudah menunggu" ucap Kai yang sebenarnya tidak tega memisahkan moment ayah dan anak ini
"Hmm aku mengerti Kai" jawab Sehun menghapus air matanya
"Sehan ayo dengan Kai appa" bujuk Kai
Sehan menggeleng dan malah menguatkan pelukannya pada Sehun
"Jagoan appa, eomma sudah menunggu, cepat pergi dengan Kai appa ya nak" kata Sehun memberi pengertian
Sehun menyerahkan Sehan kepelukan Kai, Sehan tidak menolaknya
"Kami pergi dulu" pamit Kai
"Jangan beritahu Luhan kalau kalian bertemu denganku" pesan Sehun karena takut Luhan akan marah
"Baiklah" jawab Kai
"Hati-hati jagoan, jangan katakan pada eomma mu kita bertemu dia bisa memarahi appa habis-habisan" kekeh Sehun mencium putranya.
"Appa! Sehun appa" ucap Sehan dipelukan Kai
"Kau bahkan tahu namaku nak, appa poppoo" pinta Sehun dan Sehan langsung menciumnya di bibir
"Aigooo, kau benar-benar pintar nak" ucap Sehun bangga menciumi Sehan yang sangat nyaman dengan Sehun
"Anak ini selalu menangis dengan orang asing bahkan denganku, tetapi darah tidak bisa dibohongi, dia bahkan mengenalimu dan mengingatmu dengan sangat baik, kau beruntung Sehunna, jika aku adalah kau aku akan mempertahankan anakku" pesan Kai memeluk Sehun sekilas
Sehun terdiam dengan ucapan Kai, kepalanya terlalu sakit memikirkan banyak hal.
"Kami pergi" kata Kai membuka pintu
"Kai, bisakah kau membawanya kesini lagi tanpa sepengetahuan Luhan?" Tanya Sehun
"Kita bisa bertemu kapanpun" ucap Kai mengernyit
"Aku hanya menyewa apartemen ini untuk 5 hari, aku tidak punya banyak waktu Kai" lirih Sehun
"Kita bicara nanti" emosi Kai sepertinya kembali memuncak mendengar Sehun akan pergi
"Kami pergi" Kai menutup pintu dan meninggalkan apartemen Sehun
End of Flashback
"Di-dia tinggal disamping apartemen kami?" Tanya Luhan tak percaya. Sehun begitu dekat dengannya namun karena keegoisannya ia merasa menjauhkan Sehun dengan putra mereka.
"Iya, anak kalian menemukan ayahnya, bahkan jagoan kecil ini memanggil Sehun appa tanpa kami minta" kata Kai bangga dan mengecup pipi Sehan yang terus memanggil Sehun appa di pelukannya.
"Dia sudah merindukannya" ucap Kai menatap Luhan
"Lu ada yang belum aku ceritakan" kata Kai terputus
..
..
..
Luhan sedang berlari menuju apartemen mereka sekarang, perkataan Kai terus terngiang dibenaknya
Dia tidak lama disini, dia hanya menyewa apartemen itu selama 5 hari ucap Kai
Luhan terus berlari, ia ingin segera sampai disana dan meminta maaf pada Sehun secepatnya
Dia terlihat putus asa mendengar kau akan menikah dengan Kris. Itu tidak benar kan Lu?
Pertanyaan Kai terus menyeruak dipikiran Luhan. Ia menyesal terlalu emosi saat itu sehingga mengatakannya pada Sehun
Keadaanya kacau dia bahkan mengeluh merasakan sakit kepala terus menerus
"Sehun" lirih Luhan terus berlari
Temui dia Lu, sudah cukup kau menghukumnya. Sehun sahabatku dari kecil, aku belum pernah melihat dia menderita karena mencintai seseorang
Luhan berlari menghapus air matanya, hatinya sakit karena telah menyakiti Sehun terlalu dalam
Lagipula Sehan sangat nyaman dipelukan ayahnya. Ia terus memeluk Sehun dan menolak pergi denganku. Apa kau tega memisahkan mereka lagi? Apa kau ingin anakmu membenci ayahnya?
"Tidak, itu tidak akan terjadi" gumam Luhan masih terus berlari.
Ia sampai di apartemen mereka, ia sedang berada dalam lift sekarang masih dalam keadaan terengah.
Ting!
Pintu lift terbuka di lantai 40, Luhan langsung berlari menuju apartemen Sehun. Jika mengingat petunjuk Kai apartemen Sehun berada disebelah apartemen yang ia tempati sekarang
Ia mendapati seorang petugas sedang mengetuk apartemen Sehun, Luhan langsung menghampirinya dan bertanya
"Hey bolehkah aku bertanya?" Kata Luhan menghampiri petugas apartemen
"Iya silakan tuan" jawab petugas itu ramah
"Apakah ini apartemen Sehun, Oh Sehun?" Tanya Luhan
"Benar Tuan, ini apartemen tuan Oh" jawab petugas itu
Syukurlah gumam Luhan
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Luhan
"Ah, saya ingin mengantar obat pesanan tuan Oh, tadi ia menelpon bagian management kami memesan untuk dibelikan obat karena ia tidak enak badan, tapi sepertinya tuan Oh sedang tidur saya mengetuk pintu daritadi tapi tidak ada jawaban" kata petugas tersebut
"Sehun s-sakit?" Tanya Luhan
"Tuan Oh mengatakan badannya panas, ia minta tolong dibelikan obat dan diantarkan kekamarnya" jawab petugas itu tersenyum
Luhan disergap rasa bersalah yang teramat, matanya sudah berkaca-kaca. Bahkan Sehun meminta tolong kepada seorang petugas untuk membelikannya obat. Hati Luhan berdenyut nyeri sekarang memikirkan Sehun yang sendiri dan kesepian
"Serahkan obat itu padaku, aku yang akan memberikan padanya" kata Luhan tersenyum menahan tangisnya
"Kalau boleh tahu anda siapanya tuan Oh?" Tanya petugas itu sopan
"Aku istrinya" jawab Luhan tanpa ragu
"Ah baiklah kalau begitu, cepat sembuh untuk tuan Oh" kata pelayan tersebut menyerahkan obatnya dan meninggalkan Luhan disana.
Luhan sekarang hanya tinggal mengetuk pintu apartemen Sehun, namun ia nampak ragu, ia takut Sehun akan menolak kedatangannya, namun ia tidak bisa membiarkan Sehun sendirian didalam. Ia sudah mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu. Namun sebelum sempat mengetuk pintu telah terbuka.
Cklek!
"Maaf menunggu lama aku kesulitan bangun tadi" kata Sehun yang terlihat sangat pucat dan dalam posisi menunduk karena memegangi kompresan yang ada di dahinya.
Karena tidak ada jawaban Sehun menoleh untuk melihat petugas yang mengantarkannya obat dan terdiam karena yang dihadapannya adalah orang yang sangat ia rindukan
"Luhan?" Lirih Sehun
"Pasti aku sudah gila" gumam Sehun memegang dahinya dan mengira dirinya sedang berkhayal
"Dasar bodoh menyebalkan kau begitu sakit kenapa tidak kerumah sakit" teriak Luhan menghambur memeluk Sehun
Sehun yang memang kondisinya sedang lemas tidak bisa menahan berat Luhan dan membuat mereka terjatuh duduk di depan pintu apartemen
"Bodoh, Sehun bodoh, kau bodoh, Sehunnieku bodoh" isak Luhan dipelukan Sehun
"L-Lu i-ini kau?" Tanya Sehun tak percaya
"Iya ini aku Sehunnie, aku minta maaf sayang, aku minta maaf padamu" tangisan Luhan semakin pecah ia seperti anaknya yang tidak dibelikan ice cream jika seperti ini
"Biar aku melihatmu" kata Sehun membawa Luhan ke pangkuannya.
Mereka saling menatap penuh rasa rindu dan haru
Sehun membelai wajah Luhan, matanya, turun ke hidungnya dan sekarang ia mengelus bibir Luhan yang sangat ia rindukan ini
"Kau benar-benar Luhanku? Aku tidak sedang bermimpi kan? Atau mungkin aku sudah gila?" Tanya Sehun pada Luhan
Luhan menggeleng, dan membawa tangan Sehun untuk membelai wajahnya lagi
"Ini aku sehun, i-ini aku" isak Luhan tersenyum
"Syukurlah ini benar-benar kau, aku rasa aku bisa gila jika hanya terus memimpikanmu " kata Sehun membawa Luhan kedalam pelukannya sangat erat
"Lu maafkan aku, jangan membenciku lagi" isak Sehun memilukan
"Aku janji tidak akan membuatmu sedih lagi" katanya memeluk Luhan semakin erat
"Sayang, hey Sehunku, semua sudah baik-baik saja sekarang, aku disini dan aku tidak membencimu" ucap Luhan menenangkan prianya yang terlihat begitu hancur
Sehun tidak menjawab apa-apa ia terus memeluk Luhan dan tidak melepaskannya. Ia takut jika melepaskannya Luhan akan pergi lagi. Luhan pun tidak keberatan dengan Sehun memeluknya yang sudah hampir 30 menit ini, ia ingin menenangkan Sehunnya, Sehun yang tampak berantakan dan menyedihkan.
..
..
..
..
Luhan sedang memasak bubur untuk Sehun. Ia benar-benar miris melihat Sehun dan apartemennya, hanya ada soda dan banyak sekali ice cream di lemari es, dan tidak ada satupun bahan makanan, membuat Luhan harus berbelanja sebentar ke supermarket. Beruntung ketika pulang Sehun masih tidur jadi ia tidak perlu menenangkan bayi besarnya yang pasti merengek melihatnya tak ada.
Luhan sedang membayangkan Sehun yang manja seperti dulu sampai ada kedua tangan yang memeluknya dari belakang
"Kau sudah bangun?" Tanya Luhan masih sibuk dengan bubur buatannya
"Hmm, aku melihatmu tidak ada dikamar dan langsung mencarimu" kata Sehun yang mengeratkan pelukannya dan bersender di leher Luhan
"Lu" rengek Sehun
"Ada apa Sehunnie" jawab Luhan sesekali melirik kearah Sehun
"Aku sakit" kata Sehun manja
Luhan membalikan badannya dan
Chu~
Sehun mencuri ciuman dari bibir Luhan dan menyengir polos
Sehun yang melihat Luhan diam saja, langsung panik
"Lu maaf jika kau tidak suka, aku tidak akan mengulanginya lagi" kata Sehun buru-buru
Luhan menatapnya tajam tanda ia tak suka, lalu mendekati Sehun dan mengalungkan kedua tangannya di leher Sehun kemudian ia mencium bibir Sehun dalam.
Sehun awalnya terkejut kemudian ia tersenyum dalam ciuman Luhan yang sedang sibuk menyesapi bibirnya, tidak mau kalah Sehun memegang tengkuk Luhan dan memperdalam ciumannya
"Arhhh" desah Luhan yang mabuk karena ciuman Sehun begitu menggodanya.
Sehun memperdalam ciumannya,ia melumat bibir Luhan dengan lembut merasakan betapa manisnya bibir Luhan yang sangat ia rindukan selama dua tahun ini, ia tidak memberikan kesempatan Luhan untuk bernafas karena ia belum berniat melepas pagutan bibirnya dari bibir Luhan. Lalu semakin lama Luhan membalas ciuman Sehun dengan lembut, mereka larut dengan rasa manis dan rasa rindu teramat yang mereka rasakan di dalam hati mereka.
"hmmmpp-hhmp" desah Luhan yang membuat Sehun semakin memperdalam ciumannya
Sehun memegang tengkuk Luhan, memperdalam ciumannya.
Luhan tidak mau kalah ia melingkarkan tangan kanannya ke leher Sehun dan ikut membalas lumatan-lumatan bibir Sehun.
Mereka berciuman cukup lama,sampai Luhan memaksakan berhenti dari kegiatan mereka.
Keduanya terengah, khusus untuk Sehun dia tampak kecewa. Luhan tersenyum dan membelainya
"Kita punya banyak waktu sekarang, kau masih sakit dan harus istirahat, jangan memaksakan diri sayang" kata Luhan mengecup bibir Sehun sekilas dan menyiapkan bubur yang ia buat untuk Sehun.
Sehun tersenyum dan menuruti perkataan Luhan, ia sudah sangat lega bahwa sekarang Luhan tidak menolaknya lagi.
"Sehun ini buburmu, makan dulu kau harus minum obat" kata Luhan setengah berteriak karena Sehun hanya diam di ruang tv
Luhan yang tidak mendapat jawaban akhirnya menghampiri Sehun yang entah mengapa menurut Luhan ia sedang dalam mode cemberut
"Sayang kau kenapa?" Tanya Luhan
"Ayo makan dulu" kata Luhan menaruh buburnya didepan Sehun
"Lu" panggil Sehun
"Ada apa?" Jawab Luhan merapikan rambut Sehun yang berantakan
"Suapi aku, disini" kata Sehun menunjuk pahanya dan bermaksud meminta Luhan menyuapinya di pangkuannya.
"Dasar bayi besar" sindir Luhan namun menuruti permintaan Sehun
"Aaaaa" kata Sehun bersemangat
Sehun menghabiskan makanannya dengan cepat dan tidak mengeluh karena itu buatan Luhan dan Luhan sendiri yang menyuapinya
"Anak pintar" kata Luhan mencium bibir Sehun dan hendak beranjak dari pangkuan Sehun, tapi Sehun menahannya
"Kenapa?" Tanya Luhan
Sehun hanya menatapnya
"Kau harus minum obat dulu, nanti aku akan duduk disini lagi" kata Luhan menunjuk paha Sehun
"Kris" gumam Sehun
"Eh?" Tanya Luhan
"Kris, ap-apa benar kau akan menikah dengannya?" Tanya Sehun menundukkan kepalanya, ia tidak berani menatap Luhan
Luhan tersenyum pahit mendengar pernyataan Sehun, ia baru menyadari sedari tadi inilah yang mengganggu pikiran Sehun
"Hey sayangku" kata Luhan mendongakan wajah Sehun agar menatapnya
Sehun menatapnya sendu
"Dia memang melamarku sehari sebelum ia ke China, ia bilang akan terus melamarku sampai aku mengatakan iya, aku selalu menolaknya sebelumnya. Tapi entah mengapa hari itu aku tidak langsung menolaknya, dia seperti memaksaku saat itu, akhirnya aku mengatakan padanya akan memberikan jawaban setelah ia pulang dari China. Aku minta maaf sudah mengatakan hal itu padamu di bandara" kata Luhan menyesal
"Lalu apa kau akan menerimanya?" Tanya Sehun lemah
"Tergantung" jawab Luhan
"Tergantung bagaimana?" Tanya Sehun
"Tergantung padamu, jika kau masih mau menerimaku dan anak kita, aku akan bicara dengan Kris, jika kau tidak mau.."
"Aku mau" jawab Sehun cepat memotong perkataan Luhan
"Hell, tentu saja aku mau, aku rela menukarkan segala yang aku miliki untuk bersamamu dan Sehan dan lagipula aku takkan membiarkanmu dan Sehan bersama naga itu, aku tidak rela, tidak akan pernah rela". Ucap Sehun memeluk Luhan erat
Luhan tertawa dalam pelukan Sehun
"Aku juga tidak bisa menerimanya, aku hanya akan menyakitinya" kata Luhan memeluk Sehun
"Tapi kenapa waktu itu kau mengucapkannya seolah kau akan menerimanya?" Tanya Sehun tak suka
"Itu karena kedatanganmu, aku pikir kau masih bersama Minji, akan lebih baik jika aku menerima Kris bukan, tapi tadi siang aku bertemu Minji dan dia menceritakan semuanya. Kenapa Sehun? Kenapa kau tak kembali secepatnya?" Tanya Luhan bergetar
"Minji menceritakan semuanya?" Tanya Sehun tersenyum dan mendapat anggukan dari Luhan
"Aku ingin sayang, aku ingin segera pulang tapi aku takut kau menolak keberadaanku" lirih Sehun
"Bodoh, Sehunnie bodoh" ucap Luhan memukuli Sehun
"Maaf, maafkan aku" kata Sehun mencoba menenangkan Luhan
"Berjanjilah kita akan selalu bersama setelah ini" kata Luhan yang memeluk Sehun lagi
"Aku berjanji sangat berjanji, kita akan selalu bersama-sama sekarang, kau aku dan Sehan" ucap Sehun tersenyum
"Tapi kau harus berjanji juga akan bicara dengan Kris" kata Sehun menatap Luhan tajam
"Hummm bagaimana ya" kata Luhan menggoda
"Lu, aku serius" kesal Sehun
"A-arasseo babyku, aku akan bicara dengan Kris saat dia pulang nanti" kata Luhan menciumi bibir Sehun.
Malam itu dilalui keduanya bersama. Luhan menginap di apartemen Sehun dan menitipkan Sehan pada Kai dan Kyungsoo. Kai dan Kyungsoo awalnya ingin membawa Sehan kesana namun Luhan melarangnya karena bisa menebak Sehun tidak akan istirahat dan malah bermain dengan Sehan
Selain itu Luhan juga takut kalau Sehan tertular ayahnya. Memikirkannya saja sudah membuatnya bergedik ngeri. Mengurus satu bayi sudah sangat memusingkan untuknya bagaimana jika harus mengurus dua bayi. Oleh karena itu Luhan meminta Kyungsoo untuk langsung membawa Sehan istirahat dan tentu saja Kyungsoo dengan senang hati melakukan yang Luhan minta.
"Kyungie eomma, eommaku dimana?" Tanya Sehan tengah malam dan beringsut naik ke ranjang Kai dan Kyungsoo
"Eommamu sedang mengurus appamu nak?" Jawab Kyungsoo
"Appa?" Tanya Sehan
"Umm, appa, Sehun appa" Kai yang menjawab dan membawa Sehan ke pelukannya
"Sehun appa" teriak Sehan senang mendengar nama Sehun
"Betul jagoan appa, kau mau lihat Sehun appa?" Tanya Kai mencium pipi Sehan
"Sehun appa" hanya itu yang keluar dari mulut Sehan
Kyungsoo dan Kai sudah tahu jawabannya, untuk seorang anak 2 tahun Sehan termasuk cerdas dan cepat menanggapi perkataan orang dewasa. Walaupun terkadang ia sulit merespon tetapi oarangtuanya tahu kalau Sehan sedang gembira atau sedih.
"Kalau begitu Sehannie harus tidur" kata Kyungsoo mengambil Sehan dari pelukan Kai dan menaruhnya ditengah-tengah mereka.
Sehan tersenyum senang memandangi Kai dan Kyungsoo
"Neee" jawab Sehan tersenyum dan mencium pipi Kai dan Kyungsoo bergantian.
Kai dan Kyungsoo tersenyum melihat malaikat kecil mereka yang tertidur pulas
"Baby" panggil Kai berbisik
"Ya baby" jawab Kyungsoo memandang kekasihnya
"Aku rasa aku akan meminta anak darimu, aku akan segera kehilangan Sehannie karena Sehun sudah ada disini" kata Kai berpura-pura sedih
"Kau ini" kata Kyungsoo mencubit pipi Kai perlahan takut membangunkan Sehan
"Aku serius baby" rajuk Kai
"Kita bicarakan nanti, aku lelah" kata Kyungsoo menyembunyikan wajahnya memeluk Sehan
Kai terkekeh, ia pun mengecup kening Kyungsoo perlahan dan pipi Sehan, Kai memeluk Kyungsoo dan Sehan, ikut tidur bersama mereka.
tbc dulu :D
Selamat menikmati chapter-chapter menjelang end ini ya :D
terimakasih banyak buat para readers yang udah review dan kasih semangat
Review kalian ini yang bikin aku pribadi semangat nulis dan update fast...
kalian kerennn mmuaahh read n review lagi ya semua terimakasih \/
