Flavored of Love—

(Sekuel of Two Faced Lovers)

Author: Rin

Chapter: 2/?

Disclaimer: All casts is belong to theirselves.

Rated: T

Pair: YeRy (Yesung x Henry) – KiHyun (Kibum x Kyuhyun), slight ZhouWook, KangTeuk, HanChul, HaeHyuk, KyuMin.

Genre: Romance, Hurt/Comfort, Friendship

.

Inspired by Utada Hikaru – Flavored of Love

.

Warning: AU, Shonen-ai, crack pair, OOC untuk keperluan cerita, Fluff ancur, misstypo(s), dll.

.

.

Pagi kembali menjelang. Jam di ruang tengah masih menunjukkan pukul setengah enam pagi, waktu dimana seluruh penghuni asrama belum ada satu pun yang terbangun. Namun, di ruang tengah—tempat dimana seluruh penghuni biasa berkumpul—duduk seorang namja berambut coklat. Iris obsidian miliknya menatap layar ponselnya yang ia letakkan di atas meja dengan datar.

Ini bukan waktu dimana ia biasa bangun. Namun, mengingat ia terbangun sejak dua jam yang lalu gara-gara sebuah pesan yang terkirim ke ponselnya, mau tidak mau ia yang merasa terganggu pun akhirnya bangun. Dan isi pesan yang ia terima membuatnya benar-benar tidak bisa tidur lagi—padahal ia berencana untuk tidur sampai jam delapan pagi.

Tubuhnya kini ia sandarkan pada punggung kursi. Tangan kanannya mengambil ponsel yang sejak tadi menganggur di atas meja dengan sebuah pesan yang masih terbuka. Diangkatnya benda berbentuk kotak itu hingga kedua iris matanya yang menghadap ke atas kembali melihat isi pesan tersebut.

"Aigo, sebenarnya apa tujuanmu mengatakan padaku kau akan kembali ke Korea… Sungmin-hyung?"

.

.

[[From: Sungmin-hyung. Kyunnie, aku akan kembali ke Korea minggu depan. Apa kau rindu padaku? Walau kita sudah tidak ada hubungan lagi, tapi aku tetap mencintaimu. Jeongmal saranghaeyo… ^^]]

.

.

Henry duduk di bangkunya dengan lesu. Pandangan matanya terlihat tidak fokus, hingga ia terlihat seperti seorang mayat hidup. Jam masih menunjukkan pukul setengah sembilan pagi, namun ia sudah berada di dalam kelasnya. Jujur saja, surat yang diterimanya kemarin benar-benar membuatnya tidak bisa tidur sama sekali.

Dan berkat itu pula ia jadi tidak berani menatap Yesung. Ia bahkan pergi lebih dulu ke sekolah meninggalkan Yesung—yah, sebenarnya ia sudah memberikan alasan untuk namjachingunya itu kenapa ia pergi lebih dulu sih.

Ia menenggelamkan kepalanya di antara kedua lengannya di atas meja. Frustasi, jelas saja. Ayolah, ia baru saja mendapati Yesung sebagai namjachingu yang benar-benar mencintainya, tapi dalam waktu satu bulan lagi ia harus meninggalkannya dan entah kapan akan kembali ke tempat ini lagi. Bukan tidak mungkin dalam jangka waktu yang tidak diketahui itu, perasaan Yesung padanya bisa saja berubah. Ia tidak meragukan perasaan Yesung padanya, hanya saja hubungan jarak jauh bukan sesuatu yang tepat baginya.

Henry semakin menenggelamkan dirinya dalam pikirannya yang semakin terasa rumit. Beruntung saat ini kelas masih agak sepi dan siswa lain yang melihat keadaannya saat ini mungkin mengiranya sedang tidur atau apalah, ia tidak peduli. Lebih beruntung lagi Kyuhyun belum datang, sehingga namja itu tidak menanyai tingkahnya yang ini. Yah, biarpun sebenarnya ia agak heran juga melihat Kyuhyun yang tadi pagi duduk di ruang tengah dengan seragam lengkap namun tidak segera pergi sekolah itu.

"Henry-ah?"

Henry tersentak. Ia pun segera mendongakkan kepalanya dan dilihatnya Hankyung berdiri di samping mejanya.

"Gege?"

"Boleh kita bicara sebentar?"

Henry terdiam sejenak—heran dengan gegenya ini. Sebenarnya ada apa tiba-tiba Hankyung ingin bicara dengannya? Kenapa tidak tadi saja ketika mereka masih ada di asrama? Apa yang akan dibicarakannya itu sesuatu yang penting?

"Henry-ah?"

Henry kembali tersentak. Ia kembali menatap gegenya itu dengan tatapan bingung. Sambil menggaruk kepalanya yang dipastikan tidak gatal, namja berpipi chubby itu hanya menganggukkan kepalanya–ragu.

Berikutnya, keduanya pun segera meninggalkan kelas Henry dan berjalan menuju taman belakang sekolah mereka.

-0-

Yesung tiba di sekolah tepat lima belas menit sebelum bel masuk berbunyi. Tadinya ia ingin menemui Henry di kelasnya, namun melihat namjachingunya itu pergi bersama Hankyung, ia tidak jadi melaksanakan niatnya itu. Cemburu? Jelas tidak. Ia sudah tahu bagaimana hubungan Henry dan Hankyung, jadi tidak ada masalah baginya ketika namjachingunya itu pergi berdua dengan teman sekelasnya itu. Lagipula... ia tidak yakin Hankyung akan berani selingkuh dengan Henry, mengingat kepribadian namjachingu pemuda China itu yang... yah, begitulah...

Tak ada kerjaan, dan daripada ia melamun hal-hal tidak jelas, ia memutuskan untuk membaca buku. Yah, ia bukan orang yang bisa berteman baik dengan buku seperti seorang siswa dari kelas dua bernama Kim Kibum—atau namjachingu sepupunya itu, tapi mengingat ia benar-benar merasa bosan karena tidak ada kerjaan ditambah hari ini ia sedang malas ke ruang musik, jadilah ia setidaknya harus bisa berbaikan dengan buku sampai sekolah berakhir.

Namun baru satu baris ia membaca kalimat yang tertera di halaman buku yang ia baca, telinganya menangkap sebuah pembicaraan yang dilakukan oleh beberapa orang di kelasnya.

"Mwo? Kau bilang ada murid baru di kelas kita? Bukannya ini tanggung ya?"

"Mana kutahu, tadi aku lewat di depan ruang kepala sekolah dan kulihat ada seorang namja yang ada di sana, dan kudengar akan masuk ke kelas kita..."

"Eh? Namja ya?"

"Pabbo, sudah jelas namja. Memangnya kau pikir ada yeoja yang masuk sekolah khusus namja ini?"

Dan percakapan itu kini diabaikan oleh Yesung, karena berikutnya ia lebih memilih untuk memikirkan kalimat yang baru saja diucapkan oleh salah seorang teman sekelasnya itu.

Murid pindahan di penghujung semester? Bukannya terlalu tanggung kalau mau masuk sekolah? Kenapa tidak menunggu sampai semester dua saja?

KRIIINNNGGG!

Bel masuk berbunyi, membuat Yesung yang tadinya hanyut dalam pikirannya tersentak. Ia pun menutup kembali buku yang sebenarnya tidak sempat ia baca. Diliriknya bangku di sebelahnya yang masih kosong—tempat Hankyung. Seketika kedua alis matanya berkerut. Sebenarnya apa yang sedang dilakukan oleh namja China itu dengan Henry tadi?

Yesung mengalihkan pandangannya pada Heechul yang duduk di depannya. Heran sebenarnya. Kenapa hyungnya yang memiliki wajah yang cantik itu bisa setenang ini mendapati namjachingunya tidak ada di tempatnya? Apa ada sesuatu yang mereka sembunyikan?

Dan pertanyaan-pertanyaan yang berputar di kepala Yesung itu pun akhirnya tertelan ketika didengarnya suara pintu kelasnya yang dibuka, membuatnya dengan segera mengalihkan pandangannya ke arah gurunya yang kini sedang memasuki kelasnya—bersama dengan seseorang.

Yesung membulatkan kedua matanya melihat siapa namja yang baru saja memasuki kelasnya. Tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Diliriknya Heechul yang juga mengeluarkan ekspresi yang tidak jauh berbeda dengannya. Dan detik berikutnya, Heechul menoleh ke belakang—tepatnya ke arah Yesung.

Keduanya sama-sama tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka lihat. Mereka bahkan mengira ini hanya sebuah ilusi saja. Namun, ketika namja tersebut memperkenalkan dirinya, barulah mereka sadar kalau ini adalah nyata—

"Annyeong, Lee Sungmin imnida…"

—bahwa mantan namjachingu seorang Cho Kyuhyun kini sudah kembali. Dan yang lebih parahnya, berada di sekolah yang sama dengannya.

Yesung menahan nafasnya. Entahlah, ia tidak pernah akrab dengan seorang Lee Sungmin, jadinya ia tidak tahu bagaimana sifatnya. Namun, mengingat sekarang Kyuhyun sudah memiliki namjachingu, apa yang akan terjadi kalau ketiganya bertemu? Dimana-mana juga yang namanya mantan, pasti setidaknya masih memiliki perasaan pada mantan pasangannya kan? Sama seperti dirinya yang sebenarnya masih memiliki sedikit perasaan pada Kim Ryeowook—walau kadarnya kini tidak sebesar rasa cintanya pada namjachingunya yang sekarang, Henry Lau.

Aigo, Kyu. Apa masalah ini yang tadi pagi membuatmu jadi agak aneh?

-0-

Bel istirahat sudah berbunyi sejak sepuluh menit yang lalu. Namun, baik Kyuhyun maupun Henry masih duduk di bangku masing-masing, tanpa ada niat sedikit pun untuk beranjak dan berlalu ke kantin seperti kebiasaan yang selalu mereka lakukan. Keduanya hanya duduk diam sambil matanya menatap kosong ke arah meja mereka sendiri. Tenggelam dalam pemikiran masing-masing yang tak diketahui oleh keduanya.

Henry menghela nafasnya—pelan, hingga mungkin hanya dirinya sendiri saja yang mendengarnya. Yah, walau pun keras sekalipun, belum tentu Kyuhyun yang masih dalam mode melamunnya akan mendengarkan helaan nafas itu. Ia hendak berdiri ketika dirasanya percuma saja memikirkan masalah surat itu—dan juga omongan Hankyung padanya tadi pagi—sekarang ini, namun seketika ia tertegun ketika dilihatnya Kyuhyun yang masih diam di bangkunya sendiri. Dikiranya hanya ia sendiri saja yang masih diam di kelas—ah, maksudnya yang masih sadar di kelas, karena ia baru sadar kalau namja bertubuh tinggi yang duduk di deretan bangku paling depan—atau sebut saja seorang Shim Changmin—sedang tidur di bangkunya.

"Kui Xian…"

Henry mencoba untuk memanggil namja yang kelihatannya masih tenggelam dalam pikirannya sendiri. Heran sebenarnya, sejak kapan seorang gamer sejati seperti seorang Cho Kyuhyun mau menghabiskan waktu luangnya seperti ini hanya dengan melamun dan melupakan kencannya dengan PSP hitam tercinta miliknya?

Tak mendapat respon yang diinginkan—mengingat sebenarnya Kyuhyun memang tidak memberikan respon apapun terhadap panggilannya, ia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju bangku namja jenius tapi menyebalkan itu.

"Kui Xian."

Sedikit tekanan, berharap kalau itu akan berpengaruh terhadap indera pendengaran Kyuhyun yang tumben sekali kali ini agak sedikit berkurang kemampuannya, ia kembali memanggil teman sekelasnya itu. Namun, seperti yang sebelumnya, kali ini pun ia tidak mendapat respon darinya.

Kesal sejujurnya, karena itu artinya sama saja ia membuang waktu dan tenaganya hanya untuk memanggil namja berambut coklat itu yang membutuhkan waktu sekitar empat atau lima menit. Ayolah, jangan katakan ia terlalu bagaimana soal waktu, masalahnya dalam waktu seperduabelas jam itu, ia bisa setidaknya berjalan menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sebenarnya sudah meronta minta diisi sejak beberapa menit lalu.

Sadar kalau hanya dengan memanggil saja, selama apapun ia melakukannya, Kyuhyun tidak akan menyahuti panggilannya, Henry mengguncangkan tubuh Kyuhyun—dengan tenaga ekstra tentunya. Ia tidak mau melakukan pekerjaan sia-sia yang tidak memberikan efek apa-apa—dalam kasus ini, ia tidak mau menyadarkan Kyuhyun dari jadwal melamunnya itu dengan pelan karena ia tahu kalau itu percuma saja.

"Kui Xian!" Kali ini dengan seruan di nada suaranya ditambah dengan mengguncang-guncangkan tubuh namja yang jauh lebih tinggi darinya itu.

"Kui Xian!"

"Huwaa…!"

Berhasil.

Kyuhyun terlonjak kaget—dan hampir terjatuh dari kursinya—ketika dirasakannya seseorang mengguncangkan tubuhnya dengan tidak berperikemanusiaan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah samping kirinya dan didapatinya Henry yang tengah menatap ke arahnya sambil mengerutkan kedua alisnya.

"Ya! Apa yang kau lakukan, Mochi China? Jangan membuatku kaget begitu, kau mau kalau aku kena serangan jantung mendadak?"

Henry mengangkat alis kanannya, heran dengan perkataan Kyuhyun. Adanya juga ia yang harus marah karena diabaikan oleh Kyuhyun padahal ia sudah memanggilnya tiga kali. Yah, kalau seperti ini ia malah jadi berharap kalau Kyuhyun itu memang setan sungguhan, bukan jelmaan setan yang hobi menganggu orang, yang akan muncul kalau namanya dipanggil tiga kali.

"Kui Xian, harusnya juga aku yang marah kali. Kau sudah kupanggil berkali-kali sejak tadi tapi kau malah tenggelam dalam pikiranmu sampai kelihatannya kau tidak akan sadar kalau tsunami akan melanda sekolah ini. Kau ini kenapa sih?"

Kyuhyun diam beberapa saat, ia tidak mungkin mengatakan apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Selain karena Henry mungkin tidak akan mengerti apa permasalahannya, ia juga tidak mau membuat namja yang menurut hyungnya itu sangat manis jadi mengkhawatirkannya. Sudah cukup waktu ia pertama kali datang ke sekolah ini dan langsung dihadapkan pada masalah yang membingungkannya, dan ia tidak mau membebaninya setelah itu. Yah, walau hal itu sebenarnya berakhir baik bagi Henry maupun sepupunya, tapi... siapa yang akan tahu soal ke depannya kan?

"Ani, itu bukan urusanmu. Lagipula... kau juga sama saja seperti aku kan barusan? Kau juga sama-sama melamun. Yah, walau kau sadar lebih dulu..." Kyuhyun menopang dagunya dengan sebelah tangannya dan menatap Henry yang kini malah memalingkan wajahnya.

Ada apa lagi sih? Yesung-hyung tidak selingkuh seperti yang pernah dilakukan koala merah kelebihan tinggi badan itu dan membuatnya jadi aneh begini kan? Batin Kyuhyun, heran sekaligus khawatir.

"Mochi China, gwaenchana?"

Henry tersentak mendengar suara Kyuhyun dan sontak menolehkan kembali kepalanya, menatap kembali iris gelap milik Kyuhyun yang kali ini tengah menatapnya dengan agak tajam, seolah tengah membaca pikirannya. Dan berikutnya, Henry hanya menggelengkan kepalanya.

"Nde, gwaenchana. Aku mau ke lapangan dulu…"

Henry langsung melesat dari hadapan Kyuhyun sebelum namja itu malah menanyakan hal lain yang malah akan membuatnya menceritakan kegalauannya saat ini. Bukannya ia tidak mau menceritakannya pada orang lain, namun untuk saat ini... ia benar-benar tidak ingin membahas masalah itu. Setidaknya... masih ada satu bulan sampai waktu yang diputuskan oleh ayahnya itu. Dan selama itu, mungkin ia bisa memantapkan hatinya untuk setidaknya memberitahu Yesung terlebih dulu.

Kyuhyun menatap kepergian Henry dengan kedua alis mata yang saling bertaut. Heran sekaligus bingung. Sebenarnya ada apa dengan namja China itu? Padahal kemarin ia baik-baik saja. Yah, setidaknya sejak makan malam selesai dan…

Kyuhyun tersentak. Kedua matanya melebar ketika otaknya—atau lebih tepatnya ingatannya—mengingat sesuatu. Jangan-jangan… masalah yang dihadapi oleh Mochi China itu ada hubungannya dengan benda itu.

Dan detik berikutnya, ia pun langsung beranjak dari bangkunya dan berlari menuju lantai tiga. Hankyung-hyung pasti tahu sesuatu soal ini…

-0-

Changmin terbangun dari tidurnya ketika didengarnya derap langkah yang terdengar cepat sekaligus juga terburu-buru. Ia menatap sekelilingnya dan didapatinya ruangan kelas yang sudah sepi. Ia menghela nafasnya perlahan. Dengan mata yang hampir tertutup kembali, ia memegangi perutnya.

"Aigo~ Aku lapar tapi aku malas kalau harus pergi ke kantin sekarang. Padahal tadi pagi aku hanya makan tujuh potong roti saja..." ujarnya lirih. Tak ditujukan pada siapapun, hanya pada dirinya sendiri mengingat yang masih tertinggal di kelas ini hanya dia seorang.

Ia meregangkan tubunya yang masih ia tumpukan pada mejanya. Yah, tidur dalam posisi duduk memang tidak pernah berakibat baik bagi tubuh manusia karena tubuhnya akan cepat merasa lelah. Iris gelapnya tiba-tiba tertumpu pada sesuatu yang tergeletak di dekat pintu kelasnya.

Sebuah amplop.

Penasaran, ia beranjak dari tempatnya duduk dan berjalan ke arah pintu. Diambilnya benda persegi berwarna putih itu dan dilihatnya bagian depan amplop tersebut. Ia mengerutkan alisnya ketika matanya menangkap sederet kalimat yang dikenalnya.

"Henry Lau? Dia murid baru yang waktu itu kan? Tapi... Canada? Apa hubungan negara ini dengannya?"

Memutuskan kalau memikirkan selama apapun tidak akan menangkap jawabannya, ia memasukkan amplop putih tersebut ke dalam saku blazernya dan berjalan menuju tempat favoritnya di SM High School. Kantin.

-0-

Kyuhyun masih berlari menuju lantai tiga. Tak dipedulikannya beberapa siswa yang ia tabrak—dengan tidak sengaja tentunya. Ia juga tidak mempedulikan teriakan atau umpatan kemarahan yang tidak terlalu keras meluncur dari mulut para namja yang ditabraknya sejak tadi. Ayolah, ia punya urusan lebih penting daripada harus minta maaf pada orang-orang yang ditabraknya itu.

Ia menaiki dua anak tangga sekaligus dengan satu langkah. Beruntunglah ia memiliki kaki yang agak panjang sehingga ia tidak harus bersusah payah melakukannya. Yah, walau ia sendiri jarang menggunakannya untuk berolahraga. Baginya soal matematika jauh lebih menarik dan menantang daripada harus menghabiskan waktu di luar dan mengharuskannya untuk berkeringat dan kelelahan.

Kyuhyun kembali berlari ketika ia sudah menginjak lantai tiga. Yah, kenapa ia ke ruang kelas tiga, padahal bisa saja ketiga hyungnya itu bisa saja saat ini sedang berada di kantin? Mudah saja. Karena siswa kelas tiga saat ini sedang disibukkan dengan ujian yang sebenarnya baru diadakan setelan liburan musim dingin nanti—yah, walau pihak sekolah kelihatannya menginginkan persiapan yang jauh lebih awal agar nantinya di saat ujian tiba, mereka lebih siap. Yah, itulah sebabnya dalam satu minggu selalu ada minimal tiga hari para siswa kelas tiga memiliki jadwal lebih pagi daripada siswa kelas satu atau kelas dua dan pulang lebih telat dari para hoobaenya itu.

Ia menghentikan langkahnya di depan ruangan dengan papan nama "Kelas 3-A" menggantung di atasnya. Agak jauh dari tangga, hingga membuatnya harus menarik nafas terlebih dulu sebelum membuka pintu di depannya. Aish, beginilah jadinya kalau ia malas berolahraga dan lebih memilih untuk berkencan dengan buku-buku matematika—yang sebenarnya baru akan dipelajarinya di kelas tiga nanti dan tingkat universitas—dan PSPnya. Yah, walau sebenarnya namjachingunya jauh lebih parah darinya, terutama dalam hal berkencan dengan buku, karena Kibum tidak hanya berkencan dengan buku matematika melainkan hampir semua buku antah-berantah yang tidak akan mau ia pahami, terutama kalau buku-buku itu menggunakan bahasa Inggris. Bahkan dalam bahasa Korea sekalipun, ia masih memikirkannya berkali-kali kalau ia memiliki niat untuk membacanya.

Kyuhyun menggeser pintu dorong di hadapannya—yang sebenarnya terbuka sedikit. Ia langsung mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang sedang dibutuhkannya saat ini.

"Ah, Hankyung-hyu—"

Ucapannya terhenti ketika matanya menangkap sesosok orang yang duduk di bangku yang tidak begitu jauh dengan bangku milik hyungdeulnya itu. Sosok seseorang yang kini telah berhasil membuatnya membelalakkan matanya—kaget.

"Minnie...hyung...?"

-0-

Kibum berjalan menyusuri koridor lantai dua tanpa melepaskan pandangannya dari buku yang sejak tadi terus ia genggam di tangan kanannya sementara tangannya yang satu lagi ia masukkan ke dalam saku celananya. Tak dihiraukannya kenyataan kalau bisa saja ia menabrak seseorang di hadapannya. Setidaknya ia masih bisa membagi konsentrasinya antara buku di tangannya dan jalan yang ada di depannya. Pun tak dihiraukannya pandangan para namja di koridor tersebut yang kini tengah memandanginya.

Memang tak dapat dipungkiri kalau dirinya itu sebenarnya memiliki daya tarik yang sebenarnya bisa membuat para namja yang berstatus seme ataupun uke bisa tertarik padanya. Dengan kulitnya yang putih dan terlihat halus itu ditambah dengan bibirnya yang merah dan raut wajah dingin yang senantiasa selalu ia pasang, membuatnya benar-benar terlihat mempesona. Namun, ia bukan orang yang terlalu mempedulikan hal itu. Ayolah, kalau ia sendiri sudah memiliki kekasih, untuk apa ia memikirkan orang lain yang tertarik padanya?

Setidaknya sampai saat ini. Hei, ia kan juga manusia biasa yang punya kadar kesabarannya bisa habis kapan saja. Seperti kasus dimana Kyuhyun yang berniat selingkuh darinya hingga ia malah terpaksa mengeluarkan sisi lain dari dirinya saat itu. Dan kali ini, yang membuat urat kesabarannya hampir putus itu adalah… tatapan mereka yang terlihat seperti ingin menelanjanginya saat itu juga.

Ditutupnya buku di tangannya hingga menimbulkan bunyi 'bukk' yang tidak terlalu keras. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik. Ditatapnya tajam setiap orang yang memperhatikannya—

"Apa yang kalian lihat? Urusi urusan kalian sendiri sana!"

—dan dengan aura hitam yang menguar dari tubuhnya, dibuatnya setiap orang yang ada di sana membatu, sebelum kemudian memutuskan untuk kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.

Kibum menghela nafasnya—lega. Yah, sekali-sekali memang harus seperti ini. Ia mungkin saja orang yang cuek, namun seperti yang sudah disebutkan tadi kalau ia hanya manusia biasa yang urat kesabarannya bisa putus kapan saja gara-gara itu. Ia bukan Kyuhyun yang bisa fokus dengan hal lain tanpa menghiraukan keadaan sekelilingnya, atau Siwon yang tidak terlalu mempermasalahkan kepopulerannya dan bisa bersikap biasa saja, atau… Henry yang sebenarnya kini agak terkenal berkat ia yang kini berstatus sebagai namjachingu dari orang yang bersuara paling indah di sekolah ini—dimana orangnya sendiri kelihatannya malah tidak menyadari kepopulerannya itu.

Dan, hei, berkat Henry pula, kadar kepopuleran Zhoumi langsung menurun dengan drastis.

Kibum melanjutkan kembali langkahnya yang sempat terhenti barusan. Kini ia memasuki kawasan kelas satu dan tujuannya hanya satu. Kelas 1-E, kelas namjachingunya. Khawatir sebenarnya, karena sejak tadi pagi ia melihat tingkah Kyuhyun yang agak aneh ditambah dengan tadi tak dilihatnya namja tinggi itu tidak makan siang. Dan terkutuklah siapapun yang sudah mendesain sekolah ini, hingga membuat kawasan kelas satu dan dua—walau berada di lantai yang sama—jaraknya sangat berjauhan. Kelas satu berada di ujung barat dan kelas dua berada di ujung timur. Dan waktu yang dibutuhkan untuk melewatinya adalah sekitar lima belas menit. Artinya, ia akan membuang waktu dengan sia-sia hanya untuk mendatangi kelas namjachingunya.

Dibukanya pintu kelas berlabel "Kelas 1-E" yang tergantung di atas pintunya. Alisnya berkerut ketika dilihatnya tak ada siapapun di sana. Bahkan Changmin yang hobi tidur setelah istirahat makan siang pun tak ia lihat.

Kibum diam di tempatnya selama beberapa saat. Memutuskan kalau tidak ada gunanya ia diam di sini hingga Kyuhyun kembali ke kelasnya—yang entah kapan itu, ia pun berjalan menuju tangga yang paling dekat dengannya dan menuju kelas hyungnya. Yah, mungkin Heechul-hyung tahu dimana anak itu?

-0-

Yesung mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Ia yang pertama kali sadar dengan kehadiran Kyuhyun di kelasnya di saat dirinya sedang berbicara dengan Heechul dan Hankyung. Menyadari arah tatapan Yesung, seketika Heechul dan Hankyung pun melihat ke arah yang sama. "Kyu..."

Kyuhyun masih memilih untuk berdiri diam di tempatnya—atau lebih tepatnya di muka pintu kelas hyungdeulnya itu. Tak dipedulikannya tatapan orang-orang di kelas itu yang semuanya kini mengarah padanya, karena ia sendiri masih tenggelam dalam pikirannya—tidak, lebih tepatnya masih tenggelam dalam rasa kagetnya melihat orang itu ada di sana. Orang yang dulu pernah singgah di hatinya dan menjadi bagian dari hidupnya, sampai takdir Tuhan memisahkan mereka dengan sebuah jarak yang terbentang jauh—secara denotasi.

Seseorang yang sebenarnya masih ia harapkan kehadirannya saat ini—walau hanya sedikit.

Kyuhyun belum berniat sedikitpun untuk beranjak dari tempatnya berdiri, sementara Yesung yang melihatnya kini mengalihkan pandangannya ke arah pintu kelasnya yang masih terbuka lebar. Merasakan kehadiran seseorang di baliknya, walau ia sendiri tidak tahu siapa—ah, tidak, ia sudah bisa menebak siapa yang ada di sana walau sebenarnya tidak yakin. Hhh... perang dunia ketiga sebentar lagi pasti dimulai...

"Kyunnie~~"

Lee Sungmin—namja berwajah aegyo itu menyadari keberadaan Kyuhyun yang masih tetap setia dengan posisinya. Sorot matanya antara kaget dan senang. Kelihatannya pencariannya akan namja bersuara indah itu hingga ke SM High School ini tidak sia-sia. Yah, katakanlah mereka sudah tidak lagi memiliki hubungan apapun kini, namun bukan berarti rasa cinta itu sudah menguap entah kemana—karena seperti yang sering dikatakan oleh banyak orang, love at the first sight akan sangat sulit untuk dilupakan.

Dan berikutnya, Sungmin beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun mengerjapkan matanya. Mencoba untuk mengembalikan kesadarannya yang sempat hilang beberapa saat lalu. Namun ia memilih untuk tetap diam di tempatnya. Bukan karena kakinya sulit digerakkan, namun lebih karena hatinya sendiri memilih untuk tetap diam di tempat ini. Jujur saja, ia sebenarnya sangat merindukan hyungnya ini—terlepas dari kenyataan mereka sudah bukan lagi sepasang kekasih seperti dulu.

Dan tindakan berikutnya yang dilakukan oleh seorang Lee Sungmin sukses membuat tidak hanya Kyuhyun yang kaget, namun semua orang yang ada di kelas itu pun ikut kaget.

"H-hyung...?" Kyuhyun yang kaget karena tiba-tiba dipeluk oleh mantan namjachingunya itu kini malah sulit mengeluarkan kata-katanya. Bukannya ia ingin menolak, karena jujur saja ia sebenarnya sangat merindukan pelukan yang terasa sangat hangat ini.

Kyuhyun masih diam ketika Sungmin masih memeluknya dengan erat. Ia bahkan terlihat melupakan tujuan utamanya mendatangi kelas ini.

Yesung yang melihat pemandangan ini segera bangkit dari bangkunya dan pergi keluar kelas, meninggalkan Hankyung dan Heechul yang masih memandangi KyuMin couple—yang masih berpelukan—dengan tatapan kaget. Langkahnya terhenti ketika kakinya mencapai koridor lantai tiga. Ditatapnya seorang namja berkacamata yang tengah bersandar pada pintu kelasnya. Kedua mata namja itu menatap ke arah jendela yang ada di depannya. Entah apa yang dilihatnya, karena sebenarnya Yesung tahu kalau namja itu tidak sedang melihat apapun. Terbukti dari tatapan matanya yang kosong.

Sudah ia duga kalau orang inilah yang tadi dirasakannya ada di depan ruang kelasnya—walau sebenarnya ia tidak yakin seratus persen. Ia juga menduga kalau namja ini sebenarnya sudah ada di depan ruang kelasnya sejak beberapa menit setelah Kyuhyun masuk ke kelasnya—yang artinya, sebenarnya sejak awal ia sudah melihat adegan sepupunya yang berpelukan dengan mantan namjachingunya itu.

"Kibum-ah? Untuk apa kau diam di situ?"

Pertanyaan bodoh sebenarnya yang barusan diucapkan oleh Yesung, karena walau orang lain sering mengatakan kalau ia babo, ia tidak sebodoh itu untuk tidak mengetahui jawaban apa yang akan diterimanya dari namja yang memiliki julukan Snow White itu. Sudah jelas namja itu tidak masuk ke kelasnya karena masalah Kyuhyun dan Sungmin—

"Kurasa tanpa aku menjawabnya, kau sudah tahu jawaban apa yang akan kuberikan padamu, hyung..."

—benar kan?

Entah beruntung atau tidak, karena tidak ada seorang pun yang mendengar pembicaraan ini. Suara di dalam kelas Yesung lebih keras terdengar, hingga suara mereka yang memang sengaja dibuat kecil seolah tenggelam oleh suara mayoritas itu. Yah, mereka tidak mempermasalahkannya, toh tidak ada untungnya pembicaraan mereka yang sebenarnya tidak jelas ini didengar oleh orang lain. Lagipula mereka juga sengaja membuat suara mereka kecil, hingga tak akan ada seorang pun yang mendengar suara mereka.

Merasa kalau sebenarnya keberadaannya di depan kelas sunbaenya itu tak ada gunanya, Kibum beranjak dari tempatnya berdiri. Ia berjalan pergi meninggalkan Yesung, membuat namja berjuluk art of voice itu mengerutkan alisnya.

"Bukannya kau kemari mencari sepupuku?"

Kibum berhenti sejenak tanpa menolehkan kepalanya kea rah Yesung. Tidak sopan memang, namun Yesung sudah terbiasa dengan hal ini mengingat mereka sudah satu asrama sejak sekitar satu tahun yang lalu. "Tadinya sih, hyung. Tapi kelihatannya tidak usah—"

Cemburu, eoh? Batin Yesung.

"—Ah, dan satu lagi, tolong katakan pada Kyu, tidak usah menungguku untuk pulang hari ini, karena aku akan pulang sekarang juga…"

Yesung membelalakkan matanya. Ia tidak salah dengar kan? Apa tadi ia baru saja mendengar siswa yang presentasi kehadirannya itu seratus persen sejak pertama kali ia sekolah ini akan membolos? Mwo? Aish, masalah cinta memang benar-benar membingungkan, bisa membuat kebiasaan seseorang berubah drastis. Hebat juga dirinya yang masih bisa bertahan untuk tidak gila ketika diputuskan oleh Ryeowook.

Yesung memilih untuk tidak berkomentar apapun ketika dilihatnya Kibum sudah berbelok menuruni tangga. Yah, ia mungkin orang yang perhatian pada semua dongsaengnya. Bahkan pada si kembar Youngmin dan Kwangmin yang tidak tinggal satu asrama dengannya—yang sebenarnya ia sendiri juga tidak dekat dengan mereka. Namun bukan berarti ia bisa masuk ke dalam kehidupan mereka. Jadilah ia hanya bisa berharap semoga sepupunya dan namjachingunya itu baik-baik saja.

"Nah, sekarang aku kemana ya?"

Beberapa detik kemudian, Yesung melangkahkan kakinya ke arah yang sama dengan Kibum walau tujuannya sebenarnya berbeda. Yah, sudah jelas ia kini sedang melangkah menuju kelas namjachingunya itu, sementara Kibum... hanya dirinya sendiri dan Tuhan saja yang tahu.

.

To Be Continued—

.

a/n: Oke, berhubung dari tanggal 29 April sampai 2 Mei kemarin saya sibuk nontonin konser, mulai dari SS4INA hari kedua sama ketiga, dilanjut nonton Laruku, maka dengan berat hati(?) saya cuma bisa update satu ff aja. =.=a Serius deh, pulang dari Senayan ke Bandung itu jam 4 subuh, paginya saya langsung melesat ke kampus dan berhadapan dengan kuis mata kuliah Pancasila. =_="a

Yang menanti "Memories" *emang ada?*, saya update minggu depan aja, pas saya beres praktikum di lab ya. ~.~

Oke, saya berpindah ke review corner sekarang~

Leenahanwoo: Nde, gomawo, chingu. :D

Rizuka jung: Nde, gomawo. Mian, kalo updatenya kelamaan. m(_ _)m

Fujo-tan: untung bukan mochi yang digigit. =.= *sembunyiin Henry* #digeplak. Iya, sesuatu banget, saya aja malah jadi bingung ngebagi porsi buat YeRy sama KiHyun. :Da #duagh

Kanna Ayasaki: Bakar aja, saya ikhlas kok. =.=d #woi. Henry-nya mau dijodohin sama saya tuh. *ngarep* *dibakar Strings* Udah update nih, gomawo udah review and mian kelamaan, ne? m(_ _)m

Ame chocho Shawol: kalo gak menderita, nanti saya bikin konfliknya gimana coba? ~.~a #diinjek Nde, gomawo, chingu. w Diusahain deh, berhubung sekarang saya lagi ngefans sama Henry *Yeppa mau dikemanain, woi?*

Blackyuline: udah dipublish dari minggu kemarin tuh. =.=

Seo Shin Young: Sekarang udah keluar KiHyun-nya biarpun belum ada interaksi dari mereka lagi. :D YeRy-nya… gimana nanti deh. ~.~ #plak

ZeeHyuk: hajar Zhoumi bareng-bareng yuk. :D Entah kenapa jadi pengen ngegaplok kepalanya. #woi. Iya, konflik udah dimulai buat YeRy sejak chapter awal. :D ZhouWook baru setengah jadi, berhubung saya lagi rada ngestuck di satu bagian, jadinya saya berhentiin dulu. ~.~

Ika . zordick: Udah update~ :D Mian kelamaan… m(_ _)m

Chokyulatesomnia: Gomawo udah review, chingu. XD Mian baru diupdate sekarang. m(_ _)m

KyuKi Yanagishita: Mochi mau dijodohin sama aku. =,= #dibakarStrings. Yang sms Han-gege bukan Zhoumi dan yang pasti bukan penghuni sekolah gaje itu. :D #eh Mian, kelamaan update nih... m(_ _)m

EviLisa2101: Mochi mah bukan polos, tapi sok polos. =,= #digeplak. Kapan lagi kan bisa liat Cinderella sangar blushing-blushing gaje. XDa #digaplokCangkangDdangkoma. Eh, kayaknya saya ada rencana lagi bikin KiHyun NC-an. O.o #yadongkumat. HaeHyuk... liat nanti aja deh, semoga mereka gak cuma numpang lewat kayak di Two Faced Lovers. :Da #digeplak

Kim Ayuni Lee: Yang pasti ada sesuatu. -.-a #eh Karena saya pengen nambahin konflik buat mereka, biar awesome. ~.~d #hah

Oke, berhubung saya punya dua alternatif ending buat ff ini (yang entah di chapter ke berapa bakal ending), mending berakhir dengan happy apa sad aja nih? O.o

Oke, see you on the next chapter and other story. XD