Flavored of Love—

(Sekuel of Two Faced Lovers)

Author: Rin

Chapter: 3/?

Disclaimer: All casts is belong to theirselves.

Rated: T

Pair: YeRy (Yesung x Henry) – KiHyun (Kibum x Kyuhyun), slight ZhouWook, HanChul, KangTeuk, KyuMin, WonMin, dll.

Genre: Romance – Friendship – Hurt/Comfort

.

Inspired by Utada Hikaru – Falvored of Love

.

Warning: AU, Shonen-ai, crack pair, OOC, misstypo(s), dll.

.

.

Kibum mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang berada di ruang tengah. Ia serius dengan ucapannya pada Yesung tadi kalau ia akan pulang ke asrama sekarang juga. Yah, tadinya ia ingin pergi ke taman yang biasa ia kunjungi kalau ingin tenang melakukan hobinya membaca buku. Namun kakinya malah membawanya ke asrama ini.

Diletakkannya tas yang sedari tadi ia pegang dengan tangan kanannya di atas meja. Diperhatikannya sekeliling tempat ini. Sepi, hal yang wajar mengingat hampir seluruh penghuni asrama ini masih berada di sekolah. Mendengus perlahan, ia jadi ingin menertawakan dirinya sendiri saat ini. Ayolah, seorang Kim Kibum yang notabenenya adalah murid paling pendiam dan paling rajin di SM High School kini malah membolos untuk semua mata pelajaran yang dijadwalkan setelah istirahat siang berakhir. Benar-benar seperti bukan dirinya saja.

Namun, terus berada di sekolah juga bukan pilihan yang baik baginya, sekaligus juga percuma, mengingat pikirannya mungkin tidak akan bisa fokus walau ia sudah berhadapan dengan subjek yang dicintainya sekalipun. Yah, salahkan kejadian di kelas ketiga hyungnya itu yang membuat moodnya saat ini benar-benar berada di titik terendah, membuatnya bisa saja melakukan hal yang baginya akan terlihat sangat OOC.

Benar, salahkan kenapa saat itu ia berada di tempat dan situasi yang salah. Kalau saja ia tidak mendatangi kelas Heechul, Hankyung, dan Yesung, mungkin ia tidak harus melihat namjachingunya sendiri dipeluk oleh orang lain.

Cemburu, jelas saja. Memangnya siapa yang tidak akan cemburu kalau melihat namjachingunya sendiri dipeluk oleh orang lain—dan parahnya, Kyuhyun sendiri kelihatannya tidak keberatan dengan hal itu.

"Hhh..."

Kibum menyandarkan kepalanya ke punggung kursi. Dilepasnya kacamata yang senantiasa membingkai iris obsidiannya yang terlihat indah, dan diletakkannya dengan asal di atas meja, tidak mempedulikan kalau hal itu bisa saja membuat benda dengan bingkai persegi itu jatuh ke lantai dan pecah. Toh ia masih bisa membelinya lagi, walau sebenarnya ia tidak begitu membutuhkannya.

Rasa kesal masih memenuhi pikirannya. Beruntung ia punya bakat acting yang lumayan hebat hingga ia bisa menyembunyikan perasaannya ini di balik topeng wajah datarnya—walau sebenarnya tidak berpengaruh sama sekali di hadapan Yesung yang kelihatannya tahu apa yang sedang dipikirkannya.

Kibum masih tenggelam dalam pikirannya mengenai kejadian tadi. Jadi seperti ini yang dirasakan Kyuhyun dulu waktu ia dipeluk oleh Choi Siwon di perpustakaan? Aigo, rasanya ini jadi seperti sebuah karma saja untuknya.

Cklek.

"Mwo? Kibum-ah? Kau sudah pulang?"

Sebuah suara mengembalikan seorang Kim Kibum yang tadinya ingin tenggelam dalam pikirannya ke kesadarannya. Ah, benar juga, ia melupakan keberadaan seorang Park Jungsoo yang selalu berada di asrama ini. Pantas saja pintu depan asrama ini tidak dikunci. Tch, kalau begini apa alasan yang harus dikeluarkannya kalau hyung yang paling tua di asrama ini menanyakan kenapa ia sudah berada di asrama sementara jam sekolah sama sekali jauh dari kata selesai? Tidak mungkin kan kalau ia bilang pada orang ini kalau ia sedang mengalami sebuah sindrom bernama kesal, cemburu dan sebagainya? Yang benar saja...

"Kibum-ah? Gwaenchana? Kau terlihat agak kacau hari ini, apa terjadi sesuatu?"

Kibum baru menyadari kalau hyung tertuanya itu kini sudah duduk di hadapannya. Sejak kapan? Ia bahkan tidak tahu—atau mungkin tidak ingin mengetahuinya. Baiklah, ia benci mengatakan hal ini, tapi apa ini cuma perasaannya saja atau memang di sekelilingnya saat ini banyak orang yang bisa membaca perasaan seseorang hanya dengan melihat wajahnya? Tadi seorang Kim Jongwoon dan kini seorang Park Jungsoo, apa berikutnya pun seorang Kim Heechul juga akan bisa menyadari keadaannya saat ini?

"Nde, hyung. Gwaenchana..." jawab Kibum, ragu. Pasalnya ia memang tidak sedang baik-baik saja kan saat ini?

Leeteuk mengerutkan alisnya mendengar jawaban itu. Meragukan, sekaligus juga mencurigakan. Baru kali ini ia melihat seorang Kim Kibum terlihat seperti orang galau begini, karena biasanya namja berjuluk Snow White ini lebih sering menyembunyikan moodnya di balik wajah datarnya. Apa jangan-jangan terjadi sesuatu di sekolah yang membuatnya begini? Lagipula ini juga belum waktunya para siswa pulang ke asrama, mengingat waktu masih menunjukkan pukul setengah satu siang. Ditambah lagi seorang Kim Kibum dengan presentasi ketidakhadiran yang mendeketi nol persen itu kini malah berada di asrama, tidak sulit mengasumsikan kalau namja yang lebih muda darinya ini memang sedang ada masalah.

Kibum menelan ludahnya. Ekspresi Leeteuk saat ini menunjukkan kalau hyungnya itu meragukan apa yang baru saja diucapkannya. Tch, kalau begini sih mau ia bohong atau jujur juga, tidak akan ada bedanya. Insting seorang hyung yang baik dan pengertian memang dimiliki oleh hyungnya itu.

Leeteuk menghela nafasnya—pelan. Diusapnya kepala Kibum dengan lembut, membuat si pemilik kepala hanya bisa menatap Leeteuk dengan tatapan bingung. "H-hyung...?"

"Kalau kau tidak mau cerita juga tidak masalah, aku tidak akan memaksamu. Tapi sebisa mungkin jangan simpan masalahmu sendiri, ne?"

Dan berikutnya Leeteuk pun beranjak dari tempatnya duduk, meninggalkan Kibum yang masih termangu di tempatnya.

"Aish, apa Leeteuk-hyung dan Yesung-hyung itu punya indera keenam ya, sampai bisa menebak apa yang sedang kurasakan sekarang?"

-0-

Kyuhyun melangkahkan kakinya menuju wilayah kelas dua—dan berusaha sebisa mungkin untuk menghindari wilayah kelas tiga. Ayolah, kejadian tadi siang membuatnya kini berusaha untuk menghindari lantai tiga. Memangnya siapa yang tidak akan shock kalau mendapati mantan namjachingunya ternyata kini berada di sekolah yang sama dengannya?

Ia memang tidak memungkiri kalau ia masih memiliki perasaan cinta pada seorang Lee Sungmin, namun sudah jelas kini ia lebih mencintai hyungnya yang sedingin es itu.

Kyuhyun menghentikan langkahnya. Tersentak akan pemikirannya sendiri. Apa benar kalau cintanya pada seorang Kim Kibum memang lebih besar daripada cintanya pada Sungmin? Atau malah sama saja?

"Tch..."

Kyuhyun mengacak rambutnya kasar. Gara-gara hal itu, ia jadi melupakan tujuannya ke kelas tiga hyungnya itu. Padahal kan ia sampai membuang tenaga dan waktunya karena mengkhawatirkan Mochi China yang bertingkah aneh sejak tadi pagi—walau ia sendiri juga sama anehnya tadi pagi sih.

Tanpa disadarinya Kyuhyun sudah berada di depan kelas namjachingunya. Diliriknya jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya. Pukul tiga lewat lima belas menit, yang artinya sudah lima belas menit berlalu sejak bel pulang berbunyi. Ia melongokkan kepalanya ke dalam kelas, yang pintunya memang sudah terbuka sejak tadi.

Di salah satu bangku di sudut seorang namja dengan warna rambut merah menyala masih diam di bangkunya bersama dengan seorang namja manis yang bertubuh lebih kecil darinya. Zhoumi dan Ryeowook. Di bagian lainnya, terdapat tiga orang namja yang kelihatannya sedang tenggelam dalam obrolan mereka hingga tidak menyadari kalau kelas hampir sepenuhnya kosong.

Kedua alis matanya bertautan. Tidak ada, orang itu tidak ada. Apa ia sudah pulang duluan? Kalau iya, kenapa Kibum tidak memberitahunya sama sekali? Ah, lagipula kalau diingat lagi, seharian ini juga mereka tidak bertemu di lingkungan sekolah.

Memutuskan kalau diam di depan kelas orang lain begini tidak ada gunanya, Kyuhyun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas. Terlihat tidak sopan memang, tapi ini kan sudah waktunya pulang jadi tidak masalah. Ia melangkahkan kakinya mendekati tiga orang namja yang sangat ia kenal baik. Donghae dan Eunhyuk, serta seorang namjayang bertubuh sedikit lebih besar, Shindong. Dan kalau melihat mereka bertiga ini, ia sudah bisa menebak apa yang tengah dibicarakan oleh ketiga hyungnya ini. Apalagi kalau bukan soal dance.

"Hyungdeul…" panggilnya, pelan.

Tak ada tanggapan dari ketiganya. Salahkan suaranya yang terlalu kecil, ditambah dengan suara ketiganya yang terlalau besar.

"Hyungdeul!" Kyuhyun menaikkan suaranya satu oktaf lebih tinggi.

Ketiganya menoleh dengan tatapan bingung. Sambil mengerjapkan kedua matanya, Eunhyuk berkata, "Kyu, ngapain kau di sini?"

"Kibum-hyung… di mana?" tanya Kyuhyun, tanpa berniat untuk sekedar menyapa ketiga hyungnya itu. Lagipula ia lebih penasaran kemana sebenarnya namjachingunya itu pergi. Kenapa orang itu meninggalkannya?

Ketiganya menatap Kyuhyun dengan tatapan bingung, lalu saling berpandangan, membuat Kyuhyun mengerutkan alisnya. "Ya! Hyungdeul, jawab pertanyaanku. Jangan malah saling telepati seperti itu. Kalian pikir aku bisa membaca pikiran kalian, eoh?"

Eunhyuk menatap namjachingunya, namun malah dibalas dengan tatapan 'kau-yang-jelaskan-saja-padanya-sana-aku-malas' dari seorang Lee Donghae. Namja manis itu hanya mempoutkan bibirnya sambil memberikan deathglare terbaik yang bisa ia keluarkan pada namjachingunya itu, seperti itu akan berpengaruh saja. Karena bagi Donghae, namjachingunya itu malah terlihat puluhan kali lebih manis dari biasanya.

"Hyung… tinggal kalian katakan saja kan kemana Kibum-hyung pergi. Kalau tidak, aku akan beritahu Teukie-hyung kalau kalian menyimpan banyak rekaman Teukie-hyung dan Kangin-hyung sedang melakukan 'this and that' di laptop kalian." Gertak Kyuhyun. Lembut, namun sebenarnya berakibat fatal bagi HaeHyuk couple—kalau Kyuhyun benar-benar melakukannya.

"Ya, dasar setan cilik! Kau ini tidak sabaran sekali ya. Kibum-ah sudah pulang sejak istirahat siang tadi, memangnya kau tidak tahu ya?" Ucap Eunhyuk, langsung. Masalahnya kalau sang evil maknae ini serius dengan ucapannya, bukan tidak mungkin kalau hyung tertuanya itu akan menggeledah isi laptopnya dan malah menemukan hal lain yang sama membahayakannya dengan rekaman itu.

"Mwo? Sejak tadi siang? Kenapa dia tidak bilang padaku?"

"Mana kutahu…" balas Eunhyuk.

Kyuhyun mengacak rambutnya—lagi. Kenapa orang itu tidak menghubunginya kalau ia memang pulang lebih dulu? Sebenarnya kenapa dengan hyungnya itu?

"Ah, satu lagi…" kali ini Donghae yang mengeluarkan suaranya. "Dia langsung pulang tadi setelah dia kembali dari kelas... Yesung-hyung."

Kyuhyun membulatkan matanya mendengar itu. Istirahat tadi siang? Kelas Yesung? Masa sih? Jangan-jangan hyungnya itu melihat kejadian tadi?

Tanpa berpikir panjang lagi—dan menghiraukan ketiga hyungnya yang berada di kelas itu, Kyuhyun langsung berlari keluar kelas lalu menuruni tangga yang berada di dekat kelas namjachingunya itu. Kalau benar hyungnya itu melihat kejadian tadi, itu sama saja dengan hal yang sangat berbahaya, mengingat hyungnya itu menakutkan kalau sudah cemburu.

Tujuannya kali ini hanya satu. Gedung asrama nomor dua.

Donghae, Eunhyuk dan Shindong yang melihat Kyuhyun berlari seperti orang kesetanan itu hanya saling berpandangan sebelum kemudian kembali melanjutkan obrolan mereka yang tertunda gara-gara kehadiran Kyuhyun. Memilih untuk tidak mencampuri apa yang sebenarnya terjadi di antara keduanya walau sebenarnya penasaran dengan hal itu.

Aigo, rasanya penghuni gedung asrama nomor dua itu hobi terlibat dengan masalah ya? Batin Donghae.

-0-

Lee Sungmin berjalan menyusuri koridor lantai tiga. Sekolah sudah hampir sepenuhnya sepi, hanya ada beberapa siswa yang masih berkeliaran, itu pun ia yakin kalau mereka pasti akan pulang beberapa saat lagi. Ia menuruni tangga menuju lantai dua tanpa memperhatikan langkahnya. Pikirannya terlalu dipenuhi dan disibukkan oleh bayangan akan seseorang.

Cho Kyuhyun.

Benar, pikirannya kini dipenuhi oleh sosok namja berambut coklat itu. Namja yang merupakan mantan namjachingunya dulu, yang berpisah dengannya hanya karena ia yang memutuskan untuk sekolah di luar negeri selama satu tahun.

Bohong kalau ia mengatakan sudah tidak mencintai namja yang lebih muda dua tahun darinya itu, karena sebenarnya rasa cinta itu masih tetap ada—semakin besar malah. Namun ia tahu kalau saat ini mereka sudah bukan siapa-siapa lagi—ditambah ia pun tahu kalau Kyuhyun sudah memiliki seorang namjachingu lagi.

Jangan tanya darimana ia tahu karena tidak ada seorang pun yang memberitahunya. Ia tahu dengan sendirinya. Jangan berpikir kalau ia tidak menyadari kehadiran seorang namja di luar kelasnya tadi ketika ia memeluk Kyuhyun, karena sebenarnya ia sudah menyadarinya sejak awal. Dan bisa ia rasakan kalau namja itu tengah menatapnya dengan tatapan marah, kesal dan cemburu tepat ketika ia memeluk Kyuhyun—walau terhalang oleh pintu yang setengah tertutup.

Dan dari itu saja ia sudah bisa menebak hubungan apa yang sedang terjalin di antara keduanya—terutama ketika didapatinya Kyuhyun bukannya membalas pelukannya tapi malah diam karena kaget. Artinya… sebenarnya ia sudah tidak punya harapan lagi, lantas untuk apa ia masih memilih sekolah di tempat yang sama dengannya kalau ia hanya akan merasa sakit seperti ini?

BRUUUKKKK!

"Huwaa…"

Sungmin terjerembab ke lantai koridor gara-gara ia ditabrak oleh seseorang—atau mungkin ia yang menabrak karena ia yang tidak memperhatikan langkahnya? Entahlah. Salahnya juga sih yang malah melamun sambil berjalan seperti ini.

"Eh? Ah, gwaenchana?"

Suara seseorang menginterupsinya yang sedang menikmati sakitnya terbentur lantai koridor yang dingin. Ia mendongakkan kepalanya dan melihat seorang namja jangkung kini tengah menatapnya dengan tatapan khawatir. Namja itu mengulurkan tangannya bermaksud membantu namja bergigi seperti kelinci itu untuk berdiri. Entah karena ia memang membutuhkan bantuan, atau malah terpesona dengan kharisma yang terpancar dari namja tersebut, Sungmin menerima uluran tangan itu tanpa sadar dan berdiri.

"Aa… sunbae, gwaenchana?"

Suara itu kembali menyadarkan Sungmin yang malah mengamati wajah sang namja jangkung itu, membuatnya tersentak.

"A-ah, nde. Gwaenchana…"

"Ah, baguslah. Mianhae, aku tidak memperhatikan jalanku tadi, jadi tanpa sadar aku malah menabrakmu…"

"Aa… itu… sudahlah, lagipula ini juga salahku yang tidak memperhatikan langkahku…" jawab Sungmin, ketika dilihatnya hoobaenya—mungkin—itu meminta maaf untuk sesuatu yang entah siapa yang bersalah. Diamatinya wajah namja itu yang menurutnya benar-benar terlihat tampan—dan sempurna.

Sungmin melotot menyadari pikirannya itu. Tampan? Sempurna? Apa yang sebenarnya sedang ada dalam pikirannya ini sebenarnya?

"Sunbae, kau yakin tidak apa-apa? Wajahmu memerah…" ucap namja itu, yang langsung membawa Sungmin kembali ke alam sadarnya. Memerah katanya? Yang benar saja.

"A-ani, aku tidak apa-apa."

"Ah, baguslah. Kalau begitu aku pergi dulu…" Namja itu memutuskan untuk melangkah pergi dari tempat itu, namun baru beberapa langkah ia berjalan, langkahnya terhenti oleh suara Sungmin yang memanggilnya.

"Aa... namamu?"

Ia tersenyum dengan lembut sebelum kemudian menjawab pertanyaan itu. "Choi Siwon, aku siswa kelas dua dan penghuni kamar 29B asrama dua…"

Berikutnya namja bernama Siwon itu pergi meninggalkan Sungmin yang malah melotot mendengar ucapannya. Dilihatnya kembali secarik kertas yang didapatnya tadi pagi ketika ia baru masuk sekolah ini. Secarik kertas yang menunjukkan letak kamarnya di asrama nanti.

Gedung asrama nomor dua. Kamar 29B.

Mwo? Jadi dia yang akan jadi teman sekamarku? Batin Sungmin, tidak percaya.

-0-

Henry dan Yesung berjalan berdampingan menuju asrama tempat mereka tinggal. Tak ada satupun di antara keduanya yang berniat untuk mengeluarkan suara, dan tak ada di antara dua namja yang berstatus sebagai sepasang kekasih ini yang berniat untuk setidaknya memulai sebuah percakapan. Keduanya tengah tenggelam dalam pikiran masing-masing—yang jelas saja berbeda.

Yesung menyapu pandangannya ke sekitarnya. Walau terlihat memperhatikan sekelilingnya, namun pikirannya kini terfokus pada kejadian di kelasnya tadi. Entah cuma perasaannya saja atau memang penghuni asrama nomor dua itu selalu terlibat dengan masalah yang—entah disadari oleh yang lainnya atau tidak—selalu berhubungan dengan masalah cinta, termasuk dirinya juga. Padahal sudah bagus kalau sepupunya itu bisa jatuh cinta pada orang lain setelah ditinggal pergi oleh Sungmin dan namja yang dicintainya itu juga membalas cintanya walau sebelumnya ia sudah menyukai orang lain. Namun, sekarang ex-nya itu malah kembali dan bersekolah di tempat yang sama dengannya pula. Entahlah, walau ia tidak begitu mengenal kepribadian seorang Kim Kibum—karena pada dasarnya namja berkacamata itu memang pendiam—ia bisa merasakan sedikit firasat buruk mengenai keadaan sepupunya nanti. Yah, semoga saja tidak terjadi apa-apa nantinya…

Lain Yesung maka lain pula dengan Henry. Namja berwajah oriental ini tenggelam dengan hal yang membuatnya galau sejak kemarin malam—yang menyebabkannya menghindari Yesung tadi pagi. Dan alasan yang membuatnya kali ini tidak bisa menghindari namja yang kini dicintainya itu saat ini adalah sebuah kebetulan. Salahkan dirinya yang berada di saat dan situasi yang salah dimana ia malah berpapasan dengannya ketika akan turun tangga, jadilah ia tidak bisa menghindari namja ini.

Ayolah, mana bisa sih menghindar sementara orang ini malah mengajaknya untuk pulang bersama—walau berujung dengan dirinya yang agak diabaikan karena namjachingunya itu kelihatannya lebih memilih untuk tenggelam dalam pemikirannya sendiri.

Henry menggigit bibir bawahnya, frustasi sejujurnya. Di satu sisi ia ingin mengatakan gegenya itu mengenai keputusan sepihak dimana ia harus pulang ke Kanada akhir semester nanti dengan ia yang tidak diberi kesempatan untuk setidaknya mengutarakan keberatannya mengenai hal itu.

Dan lebih tidak habis pikir lagi, kenapa Hankyung juga mengetahui masalah ini—bahkan sebelum dirinya sendiri tahu? Ditambah lagi orang yang ia anggap gege kandungnya itu malah membujuknya untuk menyetujui hal ini tadi. Apa tidak ada orang yang benar-benar mengerti perasaannya yang tidak ingin secepat itu berpisah dengan namjachingunya sendiri?

Di sisi lain, ia juga merasa berat menceritakan hal ini padanya. Ayolah, kalau ia sendiri masih merasa keberatan dengan hal ini, menceritakannya pada orang lain—terutama orang yang paling penting baginya—bukan suatu hal yang mudah dilakukan semudah membalikkan telapak tangan. Bahkan ia masih berharap kalau ini tidak nyata atau ini hanyalah kerjaan iseng dari ayahnya—yang seenaknya membuat keputusan ini. Dan alasannya… untuk dijodohkan? Mwo? Yang benar saja.

"Henry-ah?"

Henry masih terdiam karena pemikirannya, mengabaikan panggilan Yesung yang kelihatannya mulai menyadari sikap diam dari seorang Henry Lau.

"Henry-ah? Hei…" Yesung masih berusaha untuk memanggil namjachingunya itu, walau masih ditanggapi dengan sikap diamnya.

Menyadari kalau hanya dipanggil saja sang mochi China ini tidak akan menanggapinya, Yesung mendekatkan wajahnya hingga dahi keduanya bersentuhan. "Henry chagiya~"

Henry yang akhirnya menyadari perbuatan gegenya ini, sontak terbelalak kaget—tak lupa rona merah yang mulai merambat wajah putihnya. "G-gege?"

"Gwaenchana?" tanya Yesung.

"Eh?" Henry mengerjapkan kedua matanya, terlihat masih mencerna kalimat yang barusan diucapkan oleh Yesung.

"Wajahmu terlihat kusut, yakin kau tidak apa-apa?" tanya Yesung lagi.

Henry membuka kedua mulutnya, hendak mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya. Namun, melihat sorot khawatir yang terlihat di manik gelap namjachingunya itu, membuatnya mengurungkan niatnya dan malah kebohongan yang keluar dari mulutnya."Nde, aku tidak apa-apa. Hanya... sedikit kelelahan... mungkin..."

Jelas bohong. Apanya yang tidak apa-apa kalau ia sendiri sedang dibingungkan seperti ini. Dan mungkin hanya orang bodoh saja yang tidak akan menyadari keadaannya saat ini kalau melihat wajahnya.

Yesung terdiam mendengar jawaban itu. Ditatapnya lekat wajah sang namjachingu seolah sedang menyelidiki apakah yang dikatakannya itu benar atau hanya dusta belaka. Namun, beberapa detik kemudian ia mengeluarkan senyumnya dan menjauhkan wajahnya dari Henry. Diusapnya kepala Henry perlahan. "Baguslah… Jangan sampai kau sakit seperti waktu itu lagi, ne? Yah, kecuali kau mau membuatku mati karena panik sih tidak masalah…"

Henry menyentuh dahinya yang baru saja bersentuhan dengan dahi namjachingunya, namun seketika kedua alisnya berkerut ketika menyadari kalimat terakhir yang diucapkan oleh Yesung.

"Ya! Gege, kau pikir aku mau kena flu lagi seperti waktu itu ya!"

Mendengar itu, Yesung hanya tertawa sambil berjalan mendahului Henry. Yah, baguslah, setidaknya namja China yang ia cintai itu sedikit melupakan masalahnya—walau ia tidak tahu apa. Ayolah, ia bukan orang bodoh yang tidak akan menyadari sesuatu tengah memenuhi pikiran namjachingunya itu—dan itu bukan sesuatu yang baik. Namun, ia lebih memilih untuk diam, setidaknya sampai Henry sendiri yang memang berniat untuk menceritakan masalahnya itu padanya. Karena walaupun ia kekasihnya, ia tidak punya hak untuk ikut campur dalam kehidupan pribadinya.

Henry menatap punggung namja yang ia cintai itu dengan miris. Bagaimana ia bisa mengatakan kabar tidak bagus itu sementara Yesung sendiri malah memberikannya perhatian yang membuatnya malah tidak rela untuk pergi dari sisinya?

Aigo, apa yang harus kulakukan? Batin Henry.

.

To Be Continued—

.

a/n: Adakah yang masih inget dan menanti fic ini? XD Kalau nggak, yah sudahlah… =,= *pundung di pojokan sambil nanem jamur(?) bareng Tamaki(?)*

Oke, ini update terakhir saya sebelum hiatus sampai tanggal 9 Juni. :'D Wae? Karena saya mesti fokus sama ujian yang dimulai kemarin sampai dua minggu ke depan. =_=" Mana udah ditarget sama sang ummi tercinta buat dapet IP sempurna aka 4,00. Ya Allah… =_="

Baiklah, mari masuk review corner~

Choi Donghyun: kan Cuma slight doang. =.= pasti happy ending sih. XD

Seo Shin Young: Yey, liat endingnya aja nanti. XD #kapanwoi

AngeLEviL: gak akan kok. =.= aku kan juga Snower, gak mungkin nyiksa Kibum-oppa banyak-banyak. xD

Kanna Ayasaki: Itu sama aja happy ending. =.=a Okeh, buat sekarang liat aja dulu Henry sama Kyuhyun-oppa menggalau ria. xD #duagh

EviLisa2101: HaeHyuknya baru muncul segitu. XDa Dipertimbangin deh buat muncul lebih banyak lagi. :Da Han-gege… entahlah… .a #plak

ame chocho Shawol: Bukan dijodohin sama Koala merah kok. Entah sama siapa… =.=a #eh Minnie-nya sama Siwon aja, nde? XDa LAh itu mah tetep aja jadinya happy ending. =.= Gak bias update kayak shinkansen, bisanya kayak ddangkoma aja. =.=a

KyuKi Yanagishita: Dua-duanya aja biar seru. XD Gimana nanti aja deh. 8D *evilsmirks* #dibekep. Tunggu aja apa yang bakal terjadi sama Kyuhyun. #duagh

fujo-tan: Yasud, KiHyun dulu aja. XDa #plak Aku nonton SS4INA 28 sama 29nya. :D Ya ampun, jangan ingetin saya sama Kibum. *_* lagi melting nih… #eh

Cloud'yeppa: Iya kok ini pastinya jadi happy end, Cuma gak tau kapan. :D

Kim Ayuni Lee: Iya, saking banyaknya saya gak yakin bakal gak bingung ngeberesinnya. *.* Yosh, udah dipastiin bakal happy end kok, Cuma… gak tau kapan. XD

OKE, sekian dari saya, berhubung bentar lagi saya mau masuk kelas buat ujian, see you two weeks later. XD

.

Sign

Rin—

.