Flavored of Love—

(Sekuel of Two Faced Lovers)

Author: Rin

Chapter: 4/?

Disclaimer: All casts is belong to theirselves.

Rated: T

Pair: YeRy (Yesung x Henry) – KiHyun (Kibum x Kyuhyun), slight ZhouRy, ZhouWook, HanChul, KangTeuk, KyuMin, WonMin, dll.

Genre: Romance – Friendship – Hurt/Comfort

.

Inspired by Utada Hikaru – Flavored of Love

.

Warning: AU, Shonen-ai, crack pair, OOC, misstypo(s), dll.

.

.

Henry menggigit bibirnya—frustasi. Sesekali jari-jarinya mengetuk meja beberapa kali, membuat beberapa orang yang duduk di dekatnya mengernyit—merasa terganggu. Hankyung yang kebetulannya duduk tepat di hadapan namja China itu mengerutkan alisnya. Terganggu sejujurnya, namun ia sudah tahu apa yang sebenarnya membuat namja mochi ini bertingkah layaknya orang galau seperti ini.

Hankyung memperhatikan sekelilingnya. Hanya ada beberapa orang yang berada di ruang tengah asrama. Henry, Kyuhyun, Siwon, Jaejoong dan dirinya sendiri. Sementara para penghuni lainnya lebih memilih untuk diam di kamarnya masing-masing sambil menanti waktunya makan malam.

Mengernyit heran, ia pun memilih untuk mendekati Kyuhyun, membiarkan Henry seorang diri tenggelam dalam pikirannya. Yah, ia tak terlalu bodoh untuk menyadari kalau namja yang sama-sama berasal dari China seperti dirinya itu butuh waktu untuk setidaknya memikirkan keadaannya saat ini, terutama sekali segala sesuatu yang berhubungan dengan kepergiannya ke Canada nanti dan juga masalah… Yesung.

Hankyung duduk di hadapan Kyuhyun. Namja yang lebih muda dua tahun darinya itu terlihat tenggelam dalam PSP hitam miliknya, walau ia tahu kalau sebenarnya Kyuhyun sedang tidak fokus dengan apa yang tengah dilakukannya itu. Tangannya mungkin bergerak lincah mengikuti alur permainan, namun tatapan matanya justru terlihat tidak menikmatinya. Matanya sesekali bergerak ke kanan dan ke kiri dengan gelisah sambil terkadang menggigit bibirnya. Rasanya deja vu. Bukankah reaksi seperti ini sama seperti yang ditunjukkan oleh Henry barusan? Masalahnya... apa yang membuat sang evil terlihat kacau seperti ini?

"Kyuhyun-ah?"

Kyuhyun mendongakkan kepalanya dengan cepat. Namun sedetik kemudian ia pun kembali melemaskan tubuhnya ketika dilihatnya yang memanggilnya ternyata hanya salah satu hyung yang paling tua di tempat ini—bukan orang yang diharapkannya.

"Waeyo?"

Kyuhyun mengedikkan bahunya perlahan, pertanda ia frustasi dan bingung. Memang benar kan?

Hankyung mengangkat satu alisnya. "Gwaenchanayo?"

Kyuhyun menghela nafasnya. "Kibum-hyung tidak mengizinkanku masuk kamar…"

"Mwo?"

Heran, jelas saja. Ia tahu kalau Kibum memang agak anti-sosial, namun ia tahu kalau anak itu bukan orang yang akan mengabaikan orang terdekatnya—terutama kekasihnya sendiri—seperti ini. Tidak mengizinkannya masuk ke kamar? Apa sesuatu terjadi di antara mereka? Namun, melihat bagaimana sikap Kyuhyun saat ini—yang frustasi sekaligus bingung—ia tahu kalau masalah yang ada di antara mereka mungkin saja hanya kesalahpahaman belaka.

"Sudah kau hubungi ponselnya?"

"Hyung, kau pikir aku ini bodoh apa, sampai tidak ingat untuk melakukan itu? Aku sudah menghubunginya bahkan mengirim email padanya hingga berpuluh-puluh kali, dan dari sekian banyaknya email yang kukirim, Kibum-hyung hanya menjawab kalau ia ingin sendiri," Kyuhyun menghela nafasnya sebentar, "ia bahkan tidak membiarkanku masuk dan malah mengunci pintu kamar dari dalam tanpa melepas kuncinya dari lubang kunci. Kalau seperti ini bagaimana aku bisa masuk?"

Hankyung terdiam. Jujur saja, walau ia dikatakan sebagai salah satu dari sekian banyak orang di sekolah ini yang bisa dekat dengan namja es itu, ia bahkan masih tidak bisa mengerti jalan pikirannya. Dan untuk masalah seperti ini, ia memang tidak bisa berbuat apa-apa.

"Yah, kurasa kau harus bersabar, Kyuhyun-ah. Setidaknya sampai waktu makan malam..."

.

.

Henry mendongakkan kepalanya dan menatap jam yang menggantung di sebelah selatan asrama itu. Masih jam empat sore. Belum terlalu gelap untuknya berkeliaran di luar asrama.

Ia berdiri, tak menghiraukan Hankyung dan Kyuhyun yang masih terlibat dalam pembicaraan mereka. Toh ia memang tidak ingin ada orang lain yang mengetahui kepergiannya karena saat ini ia sedang ingin benar-benar sendiri.

Henry melangkahkan kakinya perlahan menuju pintu depan asrama. Kedua kaki mungilnya melangkah, menapaki jalanan kering yang mulai agak sepi. Hari sudah mulai gelap, dan ia tahu, sewajarnya para siswa mungkin akan lebih memilih untuk diam di dalam asrama sambil menunggu makan malam, alih-alih berjalan seperti ini.

Tak ada tujuan sebenarnya, karena ia sendiri bingung sebenarnya apa tujuannya berjalan-jalan di luar seperti ini. Namun tak disadarinya, justru kakinya melangkah ke tempat yang amat sangat ingin dihindarinya kini.

Taman dekat asramanya.

Tempat yang membuatnya agak sedikit trauma. Berlebihan memang, karena nyatanya satu-satunya kejadian buruk yang pernah menimpanya di tempat ini hanyalah ketika ia memutuskan hubungan dengan kekasihnya sebelumnya. Selebihnya, mungkin malah beberapa kejadian yang sebenarnya masuk dalam kategori yang... cukup menyenangkan. Salah satunya, kencan pertamanya dengan Yesung.

Blush.

Henry berusaha menutupi wajahnya yang bisa dipastikannya tengah berubah warna menjadi merah. Aigoo, padahal hanya mengingat hal-hal yang sebenarnya terbilang bodoh, mengingat sifat asli namjachingunya itu yang jauh dari kesan dingin—seperti yang selalu ditunjukkannya pada orang lain, tapi ia sudah merona dengan hebat seperti ini, bagaimana kalau mereka melakukan hal lain yang jauh lebih intim lagi? Bisa dipastikan ia pasti akan pingsan di tempat dengan wajah yang merona hebat.

Henry menggelengkan kepalanya, berusaha menghalau pikiran-pikiran ngaco yang mulai menghantui benaknya. Ia melangkahkan kakinya menelusuri lokasi taman tersebut, mencari tempat yang sekiranya bisa digunakannya untuk duduk—dan menenangkan pikirannya.

Lima menit masih melakukan hal yang sama, ia mendesah pelan—kecewa. Hampir semua bangku yang ada di taman ini sudah ditempati. Hal yang wajar mengingat sore ini cuaca cukup cerah, sehingga mungkin banyak orang yang ingin menghabiskan waktunya di tempat ini.

Tak mendapat tempat, ia pun memutuskan untuk duduk di pinggiran air mancur. Setidaknya, tempat itu masih terbilang cukup lumayan untuk dirinya.

Iris gelapnya berkelana ke sekelilingnya, mengamati keadaan di sekitarnya. Dan menyadari satu hal, pipinya sedikit merona merah. Aigoo, bagaimana mungkin ia baru sadar kalau kebanyakan orang yang berada di tempat ini hampir seluruhnya berupa pasangan?

"Henli-ya?"

Henry mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha untuk menajamkan pendengarannya. Bukannya ia curiga kalau-kalau ada orang yang ingin mengganggunya—biarpun ia tidak yakin ada yang mengenalnya di tempat ini—namun yang jadi masalahnya adalah satu-satunya orang yang ia kenal di Korea Selatan yang selalu memanggilnya dengan nama itu—selain panggilan Mochi—hanya orang itu…

"Henli-ya…"

Henry mendongakkan kepalanya, hanya untuk mendapati seorang namja dengan panjang kaki yang membuatnya iri sekaligus juga kagum, sebenarnya. Helaian merahnya tertiup ke belakang akibat hembusan angin yang bertiup perlahan. Kembali, ia mengerjapkan matanya—berharap kalau yang ada di hadapannya itu hanya ilusi belaka. Masalahnya adalah, ia benar-benar ingin sendiri saat ini—dan namja di hadapannya ini adalah salah satu orang yang sangat ia hindari saat ini, selain Yesung tentunya.

"Henli-ya, gwaenchana? Kau mendengarku?"

Henry tersentak. Gugup—dan kaku—ia menganggukkan kepalanya. "A-ah, ndegwaenchana…"

Zhoumi—namja itu—mengerutkan alisnya. Heran, sekaligus penasaran dengan jawaban yang diberikan oleh mantan kekasihnya—yang sejujurnya mulai ia cintai—ini. Terdengar ragu, apa terjadi sesuatu padanya, atau bagaimana? Atau namja mochi ini sedang bertengkar dengan… namjachingunya? Ia sih berharap yang terakhir, walau sebenarnya mustahil karena ia tidak melihat tanda-tanda kalau mereka bertengkar atau apalah itu tadi.

Namja jangkung itu semakin mengerutkan alisnya ketika dilihatnya Henry kembali melamun, mengabaikan keberadaannya yang jelas-jelas berdiri di dekatnya. Memutuskan kalau berdiri diam pun ia tidak akan mendapat informasi apapun—itu juga kalau namja imut ini ingin mengatakan sesuatu, Zhoumi pun mendudukkan dirinya tepat di sebelah Henry. Kantung belanja yang sedari tadi ia bawa, ia letakkan di sebelah kakinya.

"Masih tidak mau bicara denganku, eoh?"

Zhoumi membuka pembicaraan, dan Henry hanya bisa diam. Tidak ingin menyangkal atau mengiyakan, karena tanpa jawaban apapun darinya, ia sudah menduga kalau Zhoumi pun sudah mengetahui jawabannya.

Bukannya ia tidak mau bicara lagi dengannya, hanya saja beberapa insiden yang terjadi di antara mereka beberapa waktu yang lalu itu rasanya membuat suasana menjadi agak canggung. Ia sudah memaafkan orang ini, sejak Yesung menasihatinya ketika ia masih dalam keadaan sakit—walau ia sendiri malah mengatakan kalau ia tidak akan mendengarkan sedikitpun ucapan namjachingunya itu.

Dan masalahnya, berhubung ia tidak bilang pada siapapun termasuk pada orang yang bersangkutan kalau ia sudah melupakan kejadian itu—biarpun sebenarnya sulit untuk dilupakan—jelas saja kalau orang ini masih menganggap kalau dirinya masih belum memaafkannya.

Henry menghela nafasnya perlahan. Rasanya kalau tidak mengatakan sesuatu saat ini, entah kenapa ia malah jadi terlihat seperti orang yang jahat. Yah, mungkin tidak ada salahnya kalau aku kembali bicara dengannya—walau mungkin tidak akan terasa seperti dulu lagi…

"Gege…"

Zhoumi menoleh ke samping. Dilihatnya Henry yang masih bergelut dengan keraguannya. Sebenarnya ada apa?

"Waeyo?"

"Kalau… gege dihadapkan dengan pilihan antara keluarga atau kekasih… apa… yang akan… gege lakukan?"

Zhoumi mengerutkan alisnya, murni bingung dengan apa tujuan dari ucapan Henry. Bisa berarti banyak hal, namun ia tidak berani untuk berspekulasi mengenai penyebabnya. Setidaknya, ia ingin mendengar langsung ceritanya dari orang yang bersangkutan.

"Maksudmu?"

Henry menggaruk pipi kanannya dengan agak ragu. Iris gelapnya bergerak ke kanan dan kiri, pertanda kalau ia sedang bingung—antara ingin bercerita atau tidak.

"Jadi… kemarin... aku dapat surat…"

Henry menggantungkan kalimatnya. Jujur saja ia sebenarnya ragu untuk mengatakan ini—entah pada siapapun. Namun, kelihatannya kalau ia tidak mengatakannya pada seseorang mungkin ia akan benar-benar merasa frustasi nantinya.

Zhoumi masih menunggu hingga sang namja mochi ini melanjutkan ucapannya. Tak ingin memaksanya, karena ia tahu kalau orang ini dipaksa, ia tidak akan mau menceritakan apa-apa.

"Aku… disuruh pulang ke Kanada…"

"M-mwo—"

Zhoumi hampir berteriak kala itu, namun telapak tangan Henry telah lebih dulu menutup mulutnya sebelum namja kelebihan tinggi badan di hadapannya ini malah membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang di sekelilingnya. Dengan suara tinggi namja ini, sudah jelas mereka akan dengan mudah jadi pusat perhatian—dan itu risih baginya.

"Yaa! Gege, bisakah kau lebih pelan? Kau ini tidak sadar ya kalau suaramu itu bisa jadi sangat keras kalau teriak?" Henry mengerutkan alisnya—sambil tanpa sadar mempoutkan bibirnya. Zhoumi yang melihat hal itu hanya bisa menganggukkan kepalanya perlahan sambil menelan salivanya. Kalau saja namja di hadapannya ini masih berstatus sebagai kekasihnya, ia pasti sudah akan berusaha untuk 'menyerangnya'—atau setidaknya menggodanya. Namun mengingat ia sudah bukan siapa-siapanya lagi, ia hanya bisa diam sambil menahan dirinya.

Henry menarik tangannya yang masih menutup mulut Zhoumi. Kini ia kembali ke posisi semula—pose orang yang ragu, bingung, sekaligus galau.

"Kau... sudah bilang ini pada... Yesung-sunbae?"

Henry menggelengkan kepalanya, membuat Zhoumi sedikit bersorak dalam hatinya. Bukankah ini pertanda bagus? Kalau ia diberitahu lebih dulu daripada namjachingunya sendiri, artinya ia lebih dipercaya oleh Henry kan?

"Bagaimana aku bisa bilang ini pada Yi Sheng-gege kalau itu hanya akan membuatnya sedih. Dia sudah terlalu baik padaku, tidak mungkin kan kalau aku harus membuatnya terluka dengan kabar kepergianku..."

Dan kalimat berikutnya yang diucapkan Henry sukses membuat Zhoumi seperti terjatuh dari ketinggian rasanya. Apa memang sebenarnya sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya—setidaknya untuk menyusup ke dalam hatinya sekali lagi? Apa sebenarnya sejak ia mempertemukan Henry dengan salah satu sunbaenya, itu adalah pertanda kalau perasaan Henry sebenarnya mulai teralih? Kalau begini siapa yang bodoh? Bukankah dirinya? Benar juga, kalau pada akhirnya malah jadi begini, ia jadi menyesal sudah memulai permainan itu. Karena sebenarnya ketika ia memulai, ia sendirilah yang sebenarnya akan kalah—bukan di akhir permainan, tapi sejak permainan itu justru baru dimulai.

Zhoumi mendengus perlahan. Rasanya ia ingin menertawakan dirinya sendiri. Sudah jelas ia yang kalah. Kalau seperti ini, sebenarnya sudah tidak ada kesempatan baginya untuk merebut Henry kembali. Tidak, tidak, bahkan kalaupun ia benar-benar melakukannya, justru akan menciptakan permainan lain yang jauh lebih berbahaya—lebih menyakitkan. Pada dirinya, Henry, Yesung termasuk juga Ryeowook. Ah, atau mungkin lebih banyak lagi orang yang akan terlibat nantinya.

"Gege, kau dengar ceritaku atau tidak?"

Zhoumi mendongakkan kepalanya. Henry tengah menatapnya dengan tatapan khawatir. Rasanya seperti deja vu. Dulu ia selalu melihat sorot mata khawatir seperti ini, dan dulu iris obsidian ini masih menyiratkan rasa cinta untuknya. Kini… mungkin hanya sorot khawatir yang biasa saja.

See? Bukankah sebenarnya ia sudah kalah bahkan sebelum ia sempat melakukan apa-apa?

"Aku dengar. Saranku… sebaiknya kau menceritakan hal ini secepatnya pada Yesung-sunbae. Semakin lama kau menundanya itu justru akan semakin menyakitinya. Arra?"

Henry diam sejenak. Dalam hati membenarkan ucapan Zhoumi. Namun masih ada setitik keraguan dalam hatinya. Masalahnya adalah… apa ia berani melakukannya?

"GeMwo?"

Henry tak jadi melanjutkan kalimatnya, karena Zhoumi telah lebih dulu memeluknya. Tak ada maksud apa-apa sebenarnya karena ia hanya berusaha untuk menyalurkan—dan melepaskan—perasaan cintanya saat ini. Setidaknya walau ia memang sudah tidak memiliki kesempatan untuk merebut mochinya ini, ia ingin benar-benar melepas perasaannya ini hingga tak ada lagi cinta untuknya—hanya ada rasa sayang antar hyung dan dongsaeng saja.

"Gege? Kau… baik-baik saja…?"

"Mungkin. Hanya saja... biarkan seperti ini dulu saja, ne?"

Dan Henry hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa tahu harus berbuat atau berkata apa-apa.

.

.

Yesung berdiri diam di tempatnya. Ia hanya menatap datar kedua namja yang berada belasan meter di hadapannya. Tak ada niat baginya untuk mengeluarkan reaksi apapun. Karena baginya ekspresinya kini sudah menunjukkan betapa ia merasa... cemburu.

Hei, ayolah. Di dunia ini, tidak ada seorang kekasih pun yang tidak akan merasa cemburu kalau melihat kekasihnya dipeluk orang lain dan kekasihnya itu malah tidak menunjukkan keberatan atau penolakan sekalipun. Bukankah ini menyakitkan? Rasanya seperti dikhianati—walau mungkin terlalu cepat baginya untuk mengambil kesimpulan. Karena siapa tahu kalau dugaannya ini hanya berupa kesalahpahaman belaka kan?

Namun tetap saja, kejadian beberapa waktu lalu cukup membuatnya—mungkin—agak trauma dengan segala hal yang sejenis dengan ini. Benar-benar menyebalkan.

"Hhhh…"

Yesung menghela nafasnya perlahan. Tak ada gunanya ia berdiri di sini. Tadinya ia ingin menyusul Henry karena Hankyung mengatakan kalau namjachingunya itu sedang dalam keadaan yang agak kusut. Dan sebagai kekasihnya, tentu wajar saja kalau ia mengkhawatirkannya kan? Namun melihat situasi barusan, jelas sekali kalau keberadaannya tidak dibutuhkan.

Yesung membalikkan badannnya. Daripada ia harus merasa kesal dan malah melampiaskannya pada apapun yang ada di dekatnya ini, mungkin ada baiknya kalau ia segera pergi dari tempat ini.

.

.

"Annyeong, Sungmin-ah. Kau datang lebih cepat dari yang aku duga…"

Leeteuk menyambut kedatangan seorang namja yang akan menjadi penghuni baru asrama yang ia awasi ini dengan senyum terulas di bibirnya.

Lee Sungmin—sang penghuni baru—hanya bisa tersenyum kaku. Bingung harus mengeluarkan ekspresi seperti apa. "Nde, kamsahamnida... ng..."

"Park Jungsoo, tapi kau bisa memanggilku Leeteuk."

"Ah, ng... kamsahamnida... Leeteuk-ssi..."

Leeteuk terkekeh pelan. "Tidak usah seformal itu padaku, lagipula beda usia kita hanya satu tahun—"

ditambah lagi tidak ada satu pun penghuni asrama ini yang berbicara formal padaku. Menyedihkan sekali…

Sungmin hanya menganggukkan kepalanya. Namja aegyo itu masih merasa agak canggung dengan suasana baru seperti ini. Entahlah, rasanya mengetahui seorang Cho Kyuhyun sudah memiliki orang lain di hatinya, membuatnya yang biasanya mudah beradaptasi dengan lingkungan baru jadi secanggung ini. Padahal orang di hadapannya ini juga bukan orang yang menakutkan—terlalu ramah malah.

Sungmin menghela nafasnya, berusaha menghalau pikiran seperti itu. Baiklah, fokusnya saat ini hanya akademik. Lupakan masalah Kyuhyun, karena itu sudah tidak ada gunanya lagi sekarang.

"Ng… boleh kupanggil… hyung?"

Leeteuk tertegun, sebelum kemudian mengeluarkan senyuman malaikatnya. "Tentu… semua orang di sini juga memanggilku begitu…"

"Kalau begitu… Leeteuk-hyung… ng… mau mengantarku ke kamar sekarang?"

"Haha... arraseo... ikut aku."

Leeteuk berjalan ke dalam ruang tengah asrama diikuti oleh Sungmin yang menyeret kopernya. Hanya ada beberapa orang di tempat ini, walau formasinya sudah berubah dengan yang tadi. Kyuhyun sudah hijrah ke kamar Hankyung dan Heechul mengganggu pasangan itu dengan kegalauannya—masih belum diberi izin masuk ke kamarnya sendiri. Dan di ruang tengah hanya ada Jaejoong dan Junsu saja—yang malah tidur di atas meja. Membuat Leeteuk mengerutkan alisnya. Sejak kapan kedua orang ini hobi tidur di sembarang tempat? Apa mereka terusir dari kamar masing-masing?

Leeteuk menggelengkan kepalanya. Memilih untuk mengabaikan kedua orang itu dan melanjutkan perjalanannya ke arah tangga. "Sungmin-ah…"

Sungmin mendongakkan kepalanya. "Nde?"

"Kuharap kau bisa berteman baik dengan teman sekamarmu, ne? Kasihan juga kalau melihatnya harus selalu kesepian seperti itu."

"Kesepian? Karena hanya sendiri?" Sungmin mengerutkan alisnya, heran.

"Ya dan tidak. Itu salah satu alasannya sih... tapi ada alasan lainnya juga sih—"

"Eh?"

karena Choi Siwon masih belum bisa melupakan Kim Kibum.

.

To Be Continued—

.

a/n saya kembali. xD. Ada yang kangen dengan ff ini? #plak. Mian kalau pendek ya, kena WB gara-gara galau selama dua minggu lebih tiga hari. Gila aja, H-4 sebelum lebaran masih aja kuliah—ujian pula, kapan diriku mudik kalau kayak gini? Y.Y

Hal yang paling bikin saya bahagia kalau ngetik ff itu adalah ngetik TBC. xD #plak #dihajarReaders. Yah, saya cut dulu aja ya, konflik aslinya bakal muncul di chapter depan yang bakal diupdate sekitaran… abis lebaran. xD #diinjek. Oke, oke, becanda. Insya Allah update sebisanya deh. u.u

Yosh mari memasuki review corner~

Ika . zordick — gak akan pisahin KiHyun kok. u.u paling buat mereka makin galau aja kok. #eh

ame chocho Shawol — yang ini updatenya bahkan lebih lambat dari ddangkoma. xD. Di sini YeRy masih dikit juga, fokus ke pair lain dulu aja ya. xD #plak. Tadinya mau upadate ini buru-buru kok, tapi malah jadi ngaret satu setengah bulan lebih, mian. u.u

Fujo-tan males log in — updatenya lebih ngaret dari waktu yang saya janjikan, haha. =.=a #ketawamiris.

Kyuki Yanagihita — Kasian kan yang ditinggal sama yang dicintai biar satu kamar aja. -.-d #eh. Eh? Aku juga gak tau. xD #plak. Kibum-oppa kalau ngamuk bayangin aja, kalau dibikin partnya di sini, ntar malah pindah rate ini fic jadi lebih naik. -.-

Riana dewi — halo juga, chingu. Gomawo udah sempetin baca. :) Lagi pengen ganti suasana dengan bikin YeRy, walau ZhouRy agak nyempil di sini. Masih ngegalau kok. Couplenya bakal terus ini kok. :)

Kira itu Jung Dabin Naepoppo — KiHyun udah pasti gak akan putus kok. xD #malahngasihspoiler. Entahlah, saya juga gak tau mochi mau dijodohin sama siapa. :Da #plak. Buat nasib Sungmin dan Siwon, liat beberapa chapter lagi aja. :D

Seo Shin Young — Hiatusnya gak lama sih, cuma update ff ini yang lama, mian. Gomawo buat doanya, chingu. :D

Estty — udah dilanjut, mian kelamaan. m(_ _)m

Andikadwiprasetyo8 — udah diupdate, chingu~

.

.

Oke, sekian dari saya. Saya bakal update semua fic saya yang in-progress setelah beres ujian. :D. Ini update saya yang terakhir di tengah ujian. Jadi, chingu, tunggu saya dua minggu lagi. xD #siapalo.

Dan setelah update itu, saya akan hiatus sampai ulang tahun Yesung-oppa. Dan akan comeback dengan update-an dan beberapa fic baru. xD. Atau dengan kata lain, sampai saya beres mudik aja, ne? =..=d Saya pengen lepas dari laptop dulu masalahnya. #plak.

See you two weeks later~ Pai pai~ :D

.

~Praise Youth and It will Prosper~

.

Sign

Rin—

.