Flavored of Love

(Sekuel of Two Faced Lovers)

Author: Rin

Chapter: 5/8

Disclaimer: All casts is belong to theirselves.

Rated: T

Pair: YeRy (Yesung x Henry) – KiHyun (Kibum x Kyuhyun), slight ZhouRy, ZhouWook, HanChul, KangTeuk, KyuMin, WonMin, dll.

Genre: Romance – Friendship – Hurt/Comfort

.

Inspired by Utada Hikaru – Flavored of Love

.

Warning: AU, Shonen-ai, crack pair, OOC, misstypo(s), dll.

.

.

Leeteuk mengetuk pintu di hadapannya. Pintu berwarna putih, sama seperti pintu-pintu lain di asrama ini dengan nomor 29B tergantung di depannya. Satu-satunya kamar di lantai dua ini yang hanya dihuni oleh satu orang setelah kamar milik Yesung kini memiliki tambahan penghuni baru. Namja berwajah lembut itu mengerutkan alisnya ketika lama ia mengetuk namun tak kunjung mendapat jawaban. Minimal kalau tidak dibukakan, ada teriakan atau apalah yang mengindikasikan kalau kamar ini masih memiliki penghuni—kecuali kalau sang penghuni sedang tidur maka ia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Siwon-ah? Kau di dalam?"

Leeteuk semakin mengerutkan kedua alisnya. Tak ada jawaban. Lagipula pintunya terkunci. Apa anak itu sedang pergi? Atau malah tertidur dengan earphone terpasang di telinganya? Namja tertua itu hanya menggelengkan kepalanya. Opsi kedua itu mustahil. Siwon itu bukan Yesung atau Kyuhyun yang punya hobi tidur sambil memasang earphone.

Namja itu membalikkan badannya, menatap Sungmin yang menatap pintu di hadapannya dengan pandangan tidak percaya. Masa sih?

Heran—dan penasaran. Leeteuk mengangkat sebelah alisnya. Ada apa lagi ini? Apa cuma perasaannya saja atau memang rata-rata penghuni baru asrama nomor dua ini selalu terasa aneh. Terasa, bukan terlihat. Kalau yang terlihat sih semua penghuni asrama ini memang aneh tanpa kecuali—dan kadangkala malah membuatnya kadang harus mengelus dadanya kalau-kalau anak-anak asuhannya itu membuat masalah.

"Sungmin-ah, gwaenchana?"

Sungmin tersentak. Namja manis itu langsung menoleh ke arah Leeteuk yang kini menatapnya khawatir. Apa anak ini mengalami sesuatu yang buruk di hari pertama sekolahnya di tempat ini, mengingat para siswa di sekolah ini masuk kategori agak tidak normal—dan hobi mengganggu, terutama pada murid baru...

"A... n-nde... gwaenchana... kurasa..."

Jawaban yang aneh. Namun Leeteuk tidak punya hak sedikit pun untuk memaksanya memberitahunya. Tidak, kecuali yang bersangkutan memang memilih untuk menceritakan masalahnya pada dirinya. Itu tidak masalah, ia justru senang. Setidaknya keberadaannya lebih terasa berguna, daripada hanya sekedar berstatus sebagai penjaga asrama saja.

Sementara Sungmin…

Namja itu menatap tidak percaya pada pintu di depannya. 29B. Lalu terlebih lagi… Siwon? Bukannya ini terlalu pas untuk disebut kebetulan? Ia baru bertemu dengan orang yang dimaksud sekali—itu juga bukan pertemuan dengan kesan yang baik... atau setidaknya itu yang dipikirkannya. Dan kini... mereka dipertemukan kembali. Bahkan yang lebih terasa tidak mungkinnya, mereka satu kamar.

"Mianhae... kurasa Siwon-ah sedang keluar. Dan kurasa tidak sopan kalau kita masuk kamar ini—walau ini juga sebenarnya sudah menjadi kamarmu juga—kalau orang itu tidak ada. Jadi... mau menunggunya? Kurasa ia tidak akan terlalu lama..." Leeteuk menatap Sungmin. Rasanya agak familiar. Ia memang tidak pernah bertemu denngannya, berani sumpah bahkan kalau pun Lee Hyukjae tiba-tiba menjadi seme Lee Donghae. Hanya saja… rasanya ia pernah melihat wajah ini…

Sungmin tersenyum tipis. "Ne, gwaenchana… hyung... kurasa tidak masalah kalau hanya menunggunya…"

"Arraseo... kita ke bawah, ne? Kurasa itu jauh lebih baik daripada diam di tempat ini..."

.

.

Kyuhyun masih mempoutkan bibirnya. Kali ini sumber kekesalannya bertambah. Selain karena Kibum yang masih belum memberinya izin untuk masuk kamar, kini ia malah terjebak di kamar pasangan paling aneh di asrama ini tapi herannya sangat cocok. Yang satu lembut—contoh seorang hyung yang baik bagi semua dongsaeng di asrama ini selain Leeteuk mengingat ia salah satu yang paling tua di gedung ini. Yang satunya lagi sangar—tipe yang akan sangat ia hindari dan sebisa mungkin jangan mencari masalah dengannya. Wajah boleh cantik bak seorang yeoja tapi dalamnya siapa yang tahu.

Dan yang menjadi masalah bagi Kyuhyun saat ini adalah…

Mereka terlalu mesra. Kalau begini mungkin akan lebih baik kalau ia mengungsi ke kamar Changmin atau Henry saja sekalian, kalau hanya dihadapkan pada pemandangan yang membuatnya mual dan iri di saat yang bersamaan…

Ng… tunggu… Henry? Ah, benar juga… bukannya tadi ia ke kelas Hankyung untuk menanyakan hal ini? Gara-gara insiden pelukan itu ia malah jadi melupakan tujuan awalnya itu.

Kyuhyun mendongakkan kepalanya. "Hankyung-hyung…"

Hankyung mendongakkan kepalanya. "Ne, waeyo?"

"Ng…" Kyuhyun terlihat ragu. Ini bukan masalahnya dan kalau ia menanyakannya itu sama saja kalau ia sedang ikut campur urusan orang lain dan itu… sangat tidak sopan… walau ia bukan termasuk orang yang sopan sebenarnya…

Heechul yang melihat itu segera berdiri, merasa kalau ini bukan urusannya. "Aku keluar dulu ne…"

Detik berikutnya Heechul segera keluar kamar. Apapun yang akan dibicarakan kekasihnya dan Kyuhyun bukan urusannya. Lagipula ada hal lain yang harus dilakukannya, terutama pada penghuni kamar di sebelah yang sudah membuatnya kehilangan waktu berduaan dengan sang kekasih karena kehadiran Kyuhyun di kamarnya.

Hankyung mengalihkan perhatiannya pada Kyuhyun. "Jadi?"

"Soal Henry… apa gege tahu sesuatu? Hari ini rasanya ada yang aneh dengannya… kurasa ia jadi agak pendiam…"

Namja China itu terdiam, tidak menyangka kalau Kyuhyun akan menanyakan hal itu. Di luar dugaannya. Ia tidak pernah berpikir kalau Kyuhyun akan memperhatikan hal itu—dimana ia ragu kalau Yesung juga akan menyadarinya. Hankyung menggelengkan kepalanya. Kyuhyun berteman baik dengan Henry—walau mungkin mereka belum terlalu lama bersama. Dan berhubung Kyuhyun sulit untuk dekat dengan seseorang kecuali dengan Changmin, lalu kini dengan Henry, hal yang wajar kalau anak ini mengkhawatirkannya—walau ia yakin, Kyuhyun tidak akan menunjukkan sisinya yang satu ini di hadapan yang bersangkutan.

Hankyung menghela nafasnya. Haruskah ia mengatakannya? Henry sudah memintanya untuk tidak menceritakannya pada siapapun, sampai ia sendiri siap untuk mengatakannya terutama pada Yesung. Masalahnya, sampai kapan?

"Apa ini ada hubungannya dengan surat yang diterima Mochi China kemarin?"

"Mwo?"

Kyuhyun mendesah pelan. "Aku benar kan, hyung?"

Hankyung mengalihkan pandangannya. Kalau begini, bukannya sudah tidak ada gunannya lagi tetap diam. Toh Kyuhyun sudah mengetahuinya walau bukan secara detail.

"Kurasa sudah tidak ada gunanya aku tetap diam. Tapi satu hal… berjanjilah untuk diam sampai Henly sendiri yang memang berniat untuk menceritakannya…"

"Mwo?"

.

.

Changmin memasuki gedung asrama nomor dua sambil meregangkan kedua tangannya. Tertidur di perpustakaan dengan posisi duduk bukan hal yang baik untuk pinggangnya. Dan tiga jam tertidur adalah yang sangat buruk. Bisa-bisa pinggangnya benar-benar tidak bisa diluruskan kalau seperti itu.

Namja bertubuh layaknya tiang listrik itu menghentikan langkahnya di ruang tengah. Memandangi satu persatu manusia-manusia yang masih hidup di sana. Ada seseorang yang tidak dikenalnya, duduk agak dekat dengan Leeteuk. Yah, ia tidak begitu peduli, toh mungkin ia hanya murid baru yang sejak tadi dibicarakan oleh sebagian besar siswa di sini. Apa anehnya? Bukannya sudah biasa kalau ada murid baru—walau anehnya datang tepat di penghujung semester…

"Ah…"

Changmin melangkahkan kakinya menuju salah satu sunbaenya. Bukan orang yang begitu dicarinya saat ini, tapi setidaknya orang ini ada hubungannya dengan orang yang benar-benar dicarinya.

"Yesung-hyung…" Changmin memegang bahu Yesung sambil mengguncangnya pelan. Sunbaenya ini tertidur, ia tahu itu. Ditambah dengan earphone yang menempel di telinganya, jelas kalau hanya memanggilnya saja itu adalah hal paling sia-sia yang bisa dilakukannya. Membuang tenaga tidak perlu, sementara sang objek belum tentu mendengarnya.

"Hyung…"

Changmin agak mengeraskan volume suaranya, ketika dilihatnya tidak ada respon yang berarti dari sunbaenya itu. Sedikit menyebalkan rasanya, kenapa juga orang-orang yang menyukai musik itu rata-rata senang tidur sambil mendengarkan musik? Merepotkan ketika akan ada seseorang yang ingin membangunkannya. Ia saja tidak sampai seperti itu—walau mungkin juga agak sulit untuk dibangunkan. Tapi setidaknya Taemin tidak pernah mengalami kesulitan membangunkannya selama mereka sekamar satu semester ini.

Yesung menggerakkan tubuhnya pelan, sedikit terganggu dengan sentuhan di bahunya itu. Perlahan ia membuka kedua matanya, mengerjap pelan, menyesuaikan retina matanya dengan cahaya yang langsung menyergap. Yesung menoleh ke sampingnya, dilihatnya Changmin masih berdiri di tempatnya, tetap setia menanti Yesung untuk bangun—walau sebenarnya hal tersebut bukanlah sesuatu yang mesti dilakukannya. Hanya saja… kalau saja saat ini ia tidak sedang memegang benda yang bukan miliknya, ia tidak akan mau repot-repot menunggu Yesung untuk bangun.

"Wae?" tanya Yesung—sebenarnya masih berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya. Ia melepas earphone yang menempel di telinganya perlahan.

"Hyung satu kamar dengan namja China manis itu kan?"

Yesung mengerutkan alisnya. Bukannya ia tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Changmin, yang jelas-jelas adalah kekasihnya saat ini. Ayolah, memangnya siapa lagi namja China—berwajah manis sebagai tambahannya—yang saat ini sekamar dengannya? Lagipula jumlah siswa asal China di asrama ini tidak begitu banyak, tiga orang lebih tepatnya.

Tapi...

Manis?

Baiklah, ia sadar akan hal itu, bahkan jauh sebelum mereka menjadi sepasang kekasih dan saling kenal dengan baik. Bahkan mungkin ia sudah menyadari hal itu di pertemuan pertama mereka dulu. Hanya saja… menyebutnya manis di hadapan kekasihnya itu bukannya… agak frontal? Walau mungkin Changmin mengatakannya tanpa sengaja…

"Nde, lalu?" Tapi saat ini ia sedang tidak ingin berbasa-basi, jadi langsung saja…

Changmin merogoh saku blazernya, mengeluarkan secarik amplop yang tadi ia temukan lalu menyerahkannya pada Yesung.

Yesung menerima benda itu sambil menatap Changmin dengan tatapan tidak mengerti, bingung. "Ini...?"

"Di situ ada nama kekasihmu, hyung. Jadi kupikir itu miliknya. Sudah ya, hyung, aku ke kamarku dulu…"

Changmin bergegas pergi dari tempat itu, ingin segera menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk di kamarnya sambil menanti waktunya makan malam. Setidaknya ia sudah melakukan apa yang harus ia lakukan.

Yesung memandangi amplop putih di tangannya dengan tatapan bingung. Baru kali ini ia melihat benda ini. Penasaran, namun ia masih berusaha untuk menahan dirinya agar tidak membuka benda itu dan melihat isinya. Tidak sopan, lagipula itu mengganggu privasi orang lain.

Namja bermata sipit itu membalikkan posisi amplop itu hingga alamat pengirimnya terlihat dengan jelas. Dan kedua matanya seketika membulat tatkala membaca rangkaian kalimat yang tertera di sana…

"Mwo? Canada?"

.

.

Heechul mengetuk pintu kamar yang terletak di sebelah kamar miliknya dan Hankyung dengan sabar—atau setidaknya berusaha untuk sabar. Ia bukan penyabar, lebih ke arah bertemperamen, buktinya ia pernah memukul jatuh Zhou Mi ketika ia benar-benar merasa kesal pada namja bertubuh tinggi itu.

Ia bukan Leeteuk, bukan pula Yesung yang setidaknya masih bisa menahan emosinya ketika benar-benar merasa kesal. Hanya saja untuk kali ini ia harus menahan dirinya untuk tidak menggedor pintu di hadapannya dan memanggil sang penghuni untuk segera membukakan pintu untuknya, atau ia akan ketahuan oleh dua orang di kamarnya kalau ia sedang berusaha melakukan sesuatu…

Ia tahu apa yang tengah terjadi di antara pasangan yang hanya terpaut satu tahun itu. Lebih tepatnya menebak, namun tidak terlalu sulit untuk ditebak sebenarnya. Kesalahpahaman. Jelas itu yang terjadi. Dan penyebabnya… apalagi kalau bukan masalah Kyuhyun yang dipeluk oleh Lee Sungmin, mantan kekasihnya.

Dan berhubung Kyuhyun tidak akan diberi kesempatan oleh namja es itu untuk menjelaskannya, Heechul memutuskan akan lebih baik kalau ada orang lain yang membantu mereka dan ia bisa kembali mendapatkan privasinya dengan sang kekasih…

"Kibummie, buka pintunya. Ada yang ingin hyung bicarakan denganmu…"

.

.

Yesung memasukkan kembali selembar kertas—surat yang ditujukan untuk Henry—dengan pikiran kalut. Rasa penasaran membuatnya benar-benar tidak bisa menahan diri untuk tidak membuka amplop itu—yang kebetulan baiknya adalah sudah dalam keadaan terbuka jadi ia tidak perlu merobeknya—dan membaca isinya.

Ia meletakkan amplop tersebut di atas meja. Tak ada niat baginya untuk melakukan sesuatu atau sekedar beranjak dari tempat itu dan menuju kamarnya.

Apa yang tertulis di sana sudah cukup untuk membuat moodnya yang tadinya down, menjadi lebih down lagi.

Canada? Akhir semester ini? Bukannya itu bahkan hanya tinggal satu bulan lebih sedikit? Itu… terlalu cepat kan? Terlalu cepat untuk hubungan mereka yang bahkan hanya baru berjalan beberapa minggu…

Ah, tapi yang jadi masalahnya adalah…

Kenapa Henry tidak mengatakan apapun padanya?

Yesung tersentak. Bukannya tadi pagi ia melihat Hankyung pergi bersama anak itu—dan kelihatannya akan membicarakan sesuatu?

Benar juga, kalau mau bertanya—itupun jika ia belum berani menanyakan langsung pada yang bersangkutan—harusnya ia pergi ke tempat Hankyung.

Namja bersuara emas itu segera beranjak, meninggalkan ruang tengah yang hanya berisikan beberapa orang itu dan bergegas menuju lantai tiga. Harusnya namja itu sedang berada di kamarnya… semoga saja…

.

.

Kibum memandangi Heechul yang duduk di hadapannya. Setelah perjuangan selama kurang lebih setengah jam—berdiri di depan pintu kamar salah satu dongsaeng kesayangannya di sekolah ini dan mengetuk pintu dengan pelan—akhirnya pintu tersebut dibukakan. Dongsaengnya itu memang keras kepala, ia tahu itu. Hanya saja tidak menyangka kalau ia akan sangat keras kepala seperti itu.

"Jadi?"

Heechul mendesah pelan, adakalanya ia merutuki kebiasaan Kibum yang sangat irit bicara seperti ini, membuatnya tidak bisa berbasa-basi. Bukannya ia orang yang hobi berbasa-basi, hanya saja menjelaskan hal ini jelas membutuhkan persiapan—terutama kalau yang diajak bicara adalah seorang Kim Kibum.

"Baiklah, pertama, bisa tolong jelaskan alasanmu tidak mengizinkan Kyuhyun masuk kamar—" Dan malah membuatnya jadi nyasar di kamarku dan Hannie

Kibum diam, entah memikirkan bagaimana menjawabnya, atau ada hal yang lain… yah siapa yang tahu…

"Bukan urusanmu, hyung…"

Dan sebaris kalimat—hanya tiga kata sebenarnya—cukup membuat Kim Heechul langsung merasa kesal. Sabar, Kim Heechul

"Apa gara-gara kejadian tadi siang di kelasku?" Lebih baik langsung pada intinya daripada berbasa-basi tapi harus dibuat kesal...

Kibum kembali diam, kali ini lebih lama dari yang tadi. Dan Heechul hanya bisa menanti jawaban apa yang akan dikeluarkan oleh dongsaengnya itu—walau mengingat bagaimana sifat Kibum yang biasanya ia sudah bisa menebak apa jawaban yang akan diberikan olehnya—

"Bukan urusanmu, hyung…"

—sudah ia duga.

"Mwo? Y-yaa, Kim Kibum—"

"Kalau hyung sudah selesai di sini, hyung bisa keluar kan?"

"Tapi..."

"Aku hanya butuh waktu sendiri—setidaknya sampai aku benar-benar tenang. Kalau aku menemui Kyunnie sekarang, aku khawatir kalau aku justru malah akan menyakitinya..."

Heechul hanya bisa diam. Jadi bukan karena marah, tapi lebih kepada untuk mengontrol dirinya sendiri...

"Hyungjebal…"

"Arraseo…"

Namja berwajah cantik itu hanya menghela nafasnya, sebelum kemudian ia beranjak pergi, keluar dari kamar itu tanpa mengucapkan sepatah kalimat pun. Yah, itu lebih baik karena ia sendiri justru bingung mau mengatakan apa...

.

.

Kyuhyun menghela nafasnya. Ia memandangi langit yang telah berubah warna menjadi jingga dengan gradasi keunguan—menandakan senja sebentar lagi berakhir dan malam pun akan tiba. Yah, saat ini ia sedang berada di atap, tempat yang biasanya menjadi tempat favorit hyungnya.

Sesekali kedua iris gelapnya beralih pada ponselnya, berharap ada yang menghubunginya, entah itu Kibum, Henry atau bahkan Yesung sekalipun—walau ia lebih berharap justru Kibum lah yang menghubunginya. Ponsel namjachingunya itu mati, dan ia tidak mendengarkannya ketika ia mengetuk pintu kamar mereka.

Kyuhyun hanya bisa mendesah pelan. Ia tak menyangka kalau Kibum bisa semarah ini, bahkan mendiamkannya dan tidak mau bertemu dengannya. Padahal dulu, walau semarah apapun Kibum pada dirinya, kekasihnya itu tidak akan sampai mendiamkannya seperti ini.

"Aish… kalau Kibum-hyung jadi membenciku, lalu aku bagaimana…?"

Kyuhyun memeluk kedua lututnya, menenggelamkan wajahnya. Tanpa disadarinya—dan tak sempat ia cegah—air mata mengaliri kedua pipi semi-pucatnya.

"Kibum-hyung…"

Tanpa disadari oleh Kyuhyun, Heechul mengintipnya di balik pintu. Ia hanya bisa menghela nafasnya, tanpa tahu harus berbuat apa. Namja berwajah cantik itu segera beranjak dari tempat itu, sebelum Kyuhyun menyadari kehadirannya.

"Aigoo, sebelum ini Henry, sekarang malah Kyuhyun… Kalau Jongwoon sampai tahu bisa bahaya…"

.

.

Henry memasuki asrama nomor dua perlahan dengan langkah lesu—seorang diri. Zhou Mi—setelah pertemuan mereka di taman tadi—malah pergi entah kemana. Yah, bagus sih, kalau sampai Yesung melihatnya berdua dengan Zhou Mi, entah apa yang akan dilakukan olehnya.

Ia mengedarkan pandangannya ketika memasuki ruang tengah. Agak tersentak ketika dilihatnya satu orang yang tidak dikenalnya. Murid baru, eoh?

Henry langsung mendekati salah satu meja di pojok—tempat dimana Yesung tadi tertidur dan masih berada di sana. Ada sesuatu yang harus dikatakannya—kalau tidak secepatnya, ia khawatir kalau ia justru semakin tidak punya keberanian untuk mengatakannya…

"Gege…"

Yesung mendongakkan kepalanya. Kedua matanya agak membulat ketika dilihatnya siapa yang memanggilnya, namun sedetik kemudian ia mengubah kembali raut wajahnya—menatap tajam ke arah Henry.

Henry yang menyadari itu hanya bisa mengerutkan alisnya. Wae?

Yesung menyodorkan amplop yang sedari tadi ia pegang—dan satu-satunya benda yang mengganggu pikirannya sejak tadi. "Ini milikmu kan?"

Namja China berpipi chubby itu membulatkan kedua matanya menyadari apa yang tengah disodorkan namjachingunya itu padanya. Jelas lah, ia tidak mungkin tidak mengenali benda itu—benda yang sangat mengganggu pikirannya sejak ia menerimanya. Masalahnya adalah… kenapa bisa ada di tangan Yesung?

"Ada yang ingin kubicarakan. Ikut denganku."

.

To Be Continued—

.

a/n kapan ya terakhir kali saya update ff ini? :'D *kabur* mianhae, mood saya mendadak ilang buat ff ini dan baru dapet lagi sekarang. Itu juga karena baca berulang kali review dari para reader. :') Ada yang masih inget ff ini? :)

Oke, mari ke review:

Prass97 – mianhae, baru bisa diupdate sekarang. m(_ _)m

KyuKi Yanagishita – chap ini makin pendek lho. u.u *plak Heechul udah muncul kok di sini. ;)

Ika. Zordick – iya nih, di sini malah sampai Kyu nangis. ;)

Someone – gak tega kalau sampai kayak gitu, tapi dipertimbangin deh. ._.

EviLisa2101– KiHyun chap depan ya. Di sini Kyu masih menggalau dulu. xD *plak

idez l'v hallyugak akan kok, ini bakalan happy end buat semua couple yang emang dari awal udah pada jadian cuma prosesnya aja yang dibikin lama. ;)

Raihan – KiHyun gak bakalan pisah kok. Yah, tergantung moodnya Kibum kayak gimana dulu. *eh Nasib mochi…? Chap depan deh…

Han Yi-Xia – ne, gwaenchana. :) dan makasih karena udah baca ff ini. Ini udah dilanjutkan kok, semoga puas. ^^

Park Hyora – hehe gapapa. ^^ MinKyu? O.o Moga dapet idenya deh. ._.

Guest – KiHyun gak bakalan putus kok. ;)

.

Oke, makasih buat yang udah review. Syukur-syukur ada yang masih inget. -.-v See you later~ Setelah ini saya fokus dulu ke "Mine and Yours" chapter 6. Karena jujur, bikin NC itu susah. -.- Tapi diusahain ini juga cepet update… ._.

So, see you next time~ ;)

.

BEST REGARDS

RIN—

.