Flavored of Love

(Sequel of Two Faced Lovers)

Author: Rin

Chapter: 6/8

Disclaimer: All casts is belong to themselves.

Rated: T

Pair: YeRy (Yesung x Henry) – KiHyun (Kibum x Kyuhyun), slight ZhouRy, ZhouWook, HanChul, KangTeuk, KyuMin, WonMin, dll.

Genre: Romance – Friendship – Hurt/Comfort

.

Inspired by Utada Hikaru – Flavored of Love

.

Warning: AU, Shonen-ai, crack pair, OOC, misstypo(s), dll.

.

.

Kyuhyun menahan nafasnya, tanpa disadari malah menggigit bibirnya. Iris gelapnya menatap galak sekaligus ragu pintu yang berdiri tegak tepat di depannya. Ia mengangkat tangan kanannya, mengepalkannya kuat-kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Nafasnya ia hembuskan perlahan, terlihat sekali kalau ia sedang menguatkan hatinya untuk melakukan sesuatu.

Setelah beberapa menit menggalau ria di atap—sampai menangis pula, akhirnya ia putuskan kalau ia akan mengambil satu tindakan. Menunggu Kibum melakukan sesuatu hanya akan menambah galau saja dan bisa-bisa ia malah merajuk ke semua couple yang ada di asrama ini.

"Huft… hana… dul… set…" Kyuhyun menghitung dengan suara yang hampir tidak terdengar sama sekali—lebih terdengar seperti gumaman tidak jelas, lalu…

"KIBUMMIE-HYUUUUUNNNNGG~! BUKA PINTUNYAAA~!"

Dia berteriak.

Ah, tambahannya lagi, ia juga sekalian menggedornya keras-keras. Sepertinya itu pelampiasan kekesalannya seharian ini… -_-

BRAKK!

"Yakk! Apa yang kau lakukan, eoh? Mau menghancurkan satu asrama ini heh?"

Yang terbuka malah pintu di sebelahnya. Kamar Heechul dan Hankyung. Ah, dan satu lagi kamar milik teman satu tingkatnya, Lee Hongki, juga ikut terbuka. Apa teriakannya memang sekeras itu sampai penghuni satu lantai ini yang sedang diam di kamar langsung memberikan reaksi serempak seperti itu?

Masalahnya kenapa si pemilik kamar tempat ia menggedor pintu ini malah tidak menunjukkan reaksi apapun? Kalau yang lain saja bisa sampai mendengar, harusnya orang ini juga lebih bisa lagi. Sudah tuli kah ia? Atau pura-pura menulikan diri?

Kyuhyun mengabaikan Heechul yang barusan membentaknya, juga tatapan bingung dari beberapa orang lainnya. Itu semua tidak penting kalau dibandingkan dengan apa yang tengah ia usahakan ini…

Ia masih setia menggedor pintu, membuat Heechul mengerutkan alisnya dan balik menatap Hankyung yang berdiri di belakangnya.

"Hyung~! Kalau hyung tidak mau membukanya, aku akan minta kunci cadangan ke Teukie-hyung! Atau sekalian saja aku minta Kangin-hyung atau Hankyung-hyung untuk mendobrak pintu ini!"

Hankyung—yang namanya baru saja disebut—hanya bisa mengerjapkan kedua matanya. Kenapa namanya malah dibawa-bawa juga?

Tidak ada tanggapan apa-apa. Bahkan suara pun tidak terdengar sama sekali dari dalam. Gedoran di pintu perlahan melemah—yang ada hanya suara ketukan yang lemah dan hampir tidak terdengar.

"Jebal, hyung…"

Bahkan suaranya pun melemah, hingga yang terdengar hanyalah bisikan lirih.

Kyuhyun masih berdiri di depan pintu yang masih tertutup itu. Kepalanya ia tumpukan pada pintu kayu itu. Nafasnya terengah—efek lelah karena terus berteriak sejak tadi. Ini memang sia-sia. Sejak awal ia tahu itu. Kibum orang yang keras kepala sama seperti dirinya.

Heechul menatap miris namja yang lebih muda darinya itu. Walau sering mengatainya dan juga membentaknya, tapi ia tidak bisa menyangkal kalau sebenarnya ia menyayangi anak ini—sama seperti ia menyayangi Kibum ataupun Hongki. "Kyu—"

Cklek.

Ajaib, pintu terbuka. Tapi apa yang berada di baliknya bukan sesuatu yang ia harapkan. Kyuhyun sedikit tertegun, mendapati Kibum yang menatapnya datar. Tapi untuk mundur lagi jelas tidak mungkin dan terlalu tanggung. Sudah sampai sini kalau mundur jelas akan menjatuhkan harga dirinya.

Kibum tidak mengatakan apa-apa, hanya membukakan pintu lalu kembali melangkahkan kakinya ke arah tempat tidurnya. Meninggalkan Kyuhyun yang masih mematung di depan pintu kamar. Kyuhyun menoleh ke arah Heechul dan Hankyung yang masih menatapnya—sama bingungnya dengan dirinya.

Kyuhyun mengangkat tangannya, mengarahkan telunjuknya ke balik pintu kamarnya dan Kibum. Seolah bertanya apakah ia harus masuk ke dalam atau kembali hijrah ke kamar lain—kamar Changmin kelihatannya opsi yang sangat bagus kalau ia benar-benar melakukannya.

"Masuk sana, kan dari tadi kau yang ngotot ingin masuk…" Heechul mendelik kesal. Sejak tadi Kyuhyun kan ngotot ingin masuk sampai harus mengganggu waktu mereka, tapi kini ketika pintu kamarnya sudah dibukakan, anak ini malah ragu sampai harus minta pendapat mereka.

"Tapi…"

"Kau mau pintunya ditutup lagi, dan parahnya kalau dia sampai minta pindah kamar—" yah, itu sebenarnya mustahil sih

"Ng… ya sudahlah…"

Kyuhyun melangkahkan kakinya masuk ke dalam perlahan. Berharap saja kalau tidak akan terjadi apa-apa setelah ini.

.

.

.

Yesung tidak tahu. Apa yang membuatnya bisa seperti ini. Membawa namjachingunya ke atap asrama, lalu diam sambil menatapnya seolah namja China ini adalah seorang penjahat yang sedang diinterogasi. Ia tidak tahu apa yang membuatnya bersikap seperti ini. Kalau dipikir secara logika—dan dengan kepala yang dingin—harusnya ia bertanya baik-baik pada kekasihnya ini. Terlepas dari apa alasan anak ini tidak mengatakan mengenai masalah itu padanya atau karena Henry lebih dulu menceritakan hal ini pada orang lain.

Tapi justru itu alasannya.

Ia kekasihnya. Namjachingunya.

Lalu kenapa masalah sepenting itu tidak juga diceritakan padanya?

Ini tahun terakhirnya di sekolah ini. Tadinya ia berpikir kalau hubungan mereka tidak akan bermasalah, walau ia telah lulus dari sini—setidaknya ia masih bisa menemui Henry di asrama ini. Tapi… Canada?

"Jadi?"

Yesung merutuki nada suaranya yang terdengar datar dan dingin. Tapi ia tidak bisa mencegahnya, semua itu terjadi begitu saja—itu kebiasaannya di saat ia sedang merasa benar-benar kesal, dan tak disangka kalau ia akan melakukannya juga terhadap anak ini.

Henry hanya bisa menggigit bibirnya. Sejak awal ia ditarik ke tempat ini oleh Yesung, ia bahkan tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun. Pikirannya dipenuhi oleh banyak spekulasi-spekulasi tidak jelas. Ia juga tidak menyadari kalau kulitnya memucat. Henry hanya bisa menundukkan kepalanya, tidak berani mengangkat wajahnya sedikit pun dan menatap ke arah Yesung. Tinggi mereka yang tidak berbeda jauh membuatnya kesulitan untuk menghindari kontak langsung dengan iris tajam namjachingunya itu.

Ia tidak menyangka kalau ini akan berujung dengan kejadian seperti ini. Tadinya ia berniat untuk mengatakan masalah kepulangannya ke Canada hari ini pada Yesung. Tapi gara-gara kecerobohannya surat itu sepertinya terjatuh, dan entah bagaimana caranya sampai di tangan Yesung.

Henry sudah menduga kalau Yesung akan marah kepadanya. Tapi… keadaan seperti ini jelas tidak memungkinkannya untuk mengatakan apapun. Ia terlalu takut, kalau boleh jujur. Aura yang dikeluarkan Yesung membuatnya hanya bisa menunduk. Lidahnya terlalu kaku untuk bisa mengeluarkan satu kata sekali pun.

"Itu…"

"Apa hal itu benar-benar tidak sepenting itu untuk dikatakan padaku?"

Yesung telah lebih dulu memotongnya, bahkan sebelum ia sempat mengeluarkan satu kata pun. Ini buruk. Ia tidak tahu bagaimana ini akan berakhir, tapi Yesung yang marah jelas membuat segalanya bisa berakhir ke arah yang jauh lebih buruk. Apapun bisa terjadi, tergantung bagaimana ia punya keberanian yang cukup untuk menatap ke arahnya dan menceritakannya, atau hanya diam saja seperti sekarang dan semuanya pun berakhir dengan kesalahpahaman tetap seperti itu. Apapun itu sama menakutkannya…

Beberapa menit telah berlalu dalam kondisi yang statis. Henry hanya diam, sesekali tatapannya berlarian entah kemana, menghindari kontak mata langsung dengan namja di depannya, dan Yesung masih menunggu, bersandar pada pagar pembatas tanpa sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari namja China itu.

Ia menarik nafasnya kasar. Kalau seperti ini, tidak akan menyelesaikan apapun. Apa ia tidak cukup penting untuk mengetahui hal itu walau statusnya adalah kekasih anak ini? Lalu ia menganggapnya apa?

"Terserahlah. Kalau memang tidak mau menceritakan apapun padaku, berarti aku memang tidak berarti apa-apa untukmu kan? Kalau seperti itu lebih baik kita putus saja…"

Deg.

Henry mematung, tapi Yesung telah lebih dulu melangkahkan kedua kakinya, menjauhinya. Lidahnya kelu, tapi ia hanya bisa terpaku di tempatnya. Putus? Ia bahkan tidak pernah terpikirkan kata itu akan keluar begitu saja dari mulutnya.

Brak.

Pintu tertutup dan Henry tidak bisa lagi menahan tubuhnya. Ia jatuh terduduk. Tidak mempedulikan apapun, tapi kalimat yang barusan diucapkan oleh Yesung masih berputar-putar dalam bisakah dia mengerti kalau ia tidak menceritakan apapun bukan berarti ia tidak menganggapnya penting? Justru karena itu. Karena Yesung adalah orang yang sangat dicintainya, maka ia tidak tahu bagaimana harus menceritakannya.

Lalu kenapa harus berakhir seperti ini?

Kedua matanya berkaca-kaca, dan tanpa bisa dicegah air mata mengalir turun dari sudut matanya.

"Gege… apa yang harus aku lakukan?"

.

.

.

Heechul melangkahkan kedua kakinya, berbalik dan berbalik berulang kali, yang tak ayal membuat beberapa namja di sekelilingnya mengerjap bingung, sekaligus juga pusing. Menegurnya bukan opsi yang sangat tepat, salah-salah malah kena semprot dan ujung-ujungnya terlempar ke kamar masing-masing. Ini masih sore, dan diam di kamar jelas bukan hal yang menyenangkan.

Jaejoong memilih untuk membaringkan kembali kepalanya di atas meja, dan Junsu pun melakukan hal yang sama. Ini lebih baik daripada harus melihat seorang Kim Heechul dengan kebiasaan tidak jelasnya ini. Kalau saja ada yang berani menegurnya, ingin rasanya mereka meminta namja tertua di sini itu untuk pindah ke kamarnya kalau memang ia sedang galau dengan apapun masalahnya. Setidaknya ia bisa bebas melakukan itu tanpa mengganggu pandangan mata siapapun—paling hanya Hankyung saja yang jadi korban.

Lagipula… apa pula yang menjadi masalahnya sampai ia harus mondar-mandir tidak jelas di ruang tengah asrama?

Jaejoong mengangkat kepalanya, ditatapnya sang hyung sebelum kemudian ia membuka mulutnya. "Hyung, aku sebenarnya tidak peduli kau mau mondar-mandir seperti itu sampai kapan, tapi bisakah kau diam, duduk, lalau menceritakan apa yang sebenarnya jadi masalahmu sampai kau seperti setrikaan berwujud manusia seperti ini?"

Pemilihan kata yang digunakan Jaejoong sebenarnya tidak tepat, karena secara langsung itu sama saja dengan mengejek namja cantik itu sebagai setrikaan, tapi… kelihatannya masalah yang dimilikinya jauh lebih mengganggu daripada ucapannya itu.

Heechul berhenti, lalu ia duduk tepat di depan Jaejoong—otomatis Junsu langsung pindah dan dengan senang hati segera pergi ke dapur. Ia butuh sesuatu untuk setidaknya membuat kepalanya tidak lagi pening akibat melihat tingkah Heechul selama hampir tiga puluh menit itu tadi.

"Bukan aku…"

Jaejoong mengerutkan alisnya. "Lalu?"

"Kyuhyun…"

"Hah? Ada masalah dengan anak itu?"

Heechul memutar kedua matanya. "Anak itu tadi berteriak hingga aku yakin suaranya pasti sampai ke bawah dan kau tidak menyadarinya? Apa kau sedang pingsan saat itu?"

Jaejoong meringis pelan. Ia hanya bisa nyengir tapi tidak mengatakan apa-apa. Penghuni kamar bawah dan orang-orang yang tadi sempat berlalu lalang di sini pasti bisa menjawab pertanyaan Heechul tadi—ia dan Junsu tidur, dan mereka bangun bertepatan dengan Heechul yang sedang bertingkah aneh tadi.

"Dia kan bukan anak-anak lagi, kenapa hyung tidak membiarkannya saja? Toh baik aku, hyung atau penghuni asrama lainnya juga tahu kalau anak itu dan Kibummie tidak akan sampai putus hanya karena masalah kecil…"

Heechul mengerutkan alisnya. "Memangnya kau tahu apa masalah mereka? Lagipula dari mana kau tahu kalau ini ada hubungannya dengan Kibum?"

Kali ini Jaejoong yang memutar kedua matanya, bosan sambil mendengus kesal. "Satu-satunya hal di dunia ini yang bisa membuat anak itu kacau hanya permasalahan yang ada hubungannya dengan kekasihnya itu, dan sejauh yang kuperhatikan hingga kini, masalah seberat apapun ujung-ujungnya pasti berakhir begitu saja..."

"Kalau misalnya begini, ketika Kyuhyun dan Kibum sudah nyaman dengan status mereka sekarang, lalu tiba-tiba ada seseorang dari masa lalu salah satu di antara keduanya—dan ternyata masih ada sedikit rasa di antara mereka, kira-kira apa yang akan terjadi?"

"Bukan Choi Siwon kan?" Karena seingatnya yang pernah disukai Kibum itu ya namja tinggi itu.

"Kalau dia yang jadi penyebabnya, Kyuhyun pasti sudah galau sejak beberapa bulan yang lalu…"

"Jadi… yang lain?"

Sungguh, Heechul benar-benar ingin membenturkan kepalanya ke atas meja sekarang. Kenapa ia malah jadi bermain tebak-tebakkan seperti ini, bahkan jadi ngaco. Ayolah, dipikir logika pun pasti sudah gampang ditebak apa pangkal permasalahannya.

"Murid baru itu?"

"Kim Jaejoong, apa otakmu masih tertidur hingga hal semudah itu pun kau harus menebaknya dengan susah payah?"

.

.

.

"Kau menyadari tidak, rasanya suasana asrama ini sedikit membuat bulu kuduk meremang ya…" Donghae menopang dagunya dengan tangan sebelah kananya, ia melihat suasana ruang tengah asrama yang—apa ya sebutan yang enak… sepi? Tidak juga, beberapa orang bahkan berada di ruangan ini dan itu sebenarnya adalah jumlah terbanyak jika dibandingkan waktu lain selain waktu makan untuk penghuni di sini diam di ruang tengah.

"Hmm…" Eunhyuk duduk di sampingnya, kedua tangannya menopang dagunya. Posisi yang sekilas sama, dan itu cukup untuk membuat Yunho yang baru saja pulang ke asrama sedikit mengernyitkan dahinya—sebelum kemudian berlalu sambil menggelengkan kepala dan mengendikkan bahunya. Tidak peduli.

"Apa terjadi sesuatu ya?" Donghae masih melanjutkan kalimatnya, dan hanya dibalas kembali gumaman tidak jelas dari namja di sampingnya.

Leeteuk sedang tidak ada di sini, pergi keluar bersama Ryeowook. Kelihatannya belanja bahan makanan dan sejenisnya. Jadi yang tertua di sini hanya ada Heechul, Yesung dan Kangin saja—

—Ah!

Donghae tersentak. Ia mengangkat kepalanya. Matanya kini menyapu sekelilingnya, dari tiga orang yang baru saja ia sebutkan dalam benaknya itu, hanya ada satu orang yang tidak ada padahal seingatnya orang itu tidak keluar dari asrama sama sekali.

"Hyukkie… kau tahu dimana Yesung-hyung?"

"Hah?" Eunhyuk ikut mendongakkan kepalanya.

"Namjachingunya ada di sini, bukannya itu hal yang aneh kalau melihatnya sendiri, padahal tadi seingatku mereka pergi ke atas bersama…"

Dan satu-satunya hal yang sedikit mengganggu Donghae sebenarnya bukan hanya itu saja, ada hal lain, tapi ia sendiri bingung apa itu. Hanya saja dari kesan yang diberikan, sudah jelas kalau ada sesuatu yang aneh yang sudah terjadi. Sebenarnya ada apa?

"Satu-satunya hal yang aneh di sini dan harus segera dihentikan adalah… keingintahuanmu akan sesuatu yang sedang menimpa orang lain, Hae… bisakah kau berhenti mengamati sekelilingmu untuk sekarang ini dan jangan mengatakan apapun, kau tahu aku sedang mengerjakan tugasku jadi diamlah…"

Itu kalimat terpanjang yang diucapkan oleh Eunhyuk, sekaligus mungkin berisi protesan. Beberapa buku memang tersebar di sekelilingnya, tapi ia kebanyakan diam dan menopang dagu. Biasanya ada Kyuhyun atau Kibum yang mau membantunya—walau Kyuhyun siswa kelas 1 tapi otak anak itu bahkan jauh lebih bisa digunakan untuk mengerjakan soal fisika untuk kelas 2. Tapi berhubung kelihatannya dua namja itu sedang tidak bisa diganggu jadi ia memutuskan untuk mengerjakannya sendiri—sambil berharap ada malaikat penolong dalam bentuk apapun untuk membantunya kali ini.

"Ah, Heechul-hyung… kau lihat dimana Yesung-hyung?" Donghae sedikit berteriak ketika dilihatnya namja tertua kedua di asrama ini akan segera beranjak, meninggalkan Jaejoong yang kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja.

Namja berwajah cantik itu menghentikan langkahnya. Ia mengerutkan alisnya. "Hah?"

"Aku tidak melihatnya sejak tadi, padahal biasanya dia ada di sini kan?"

Eunhyuk memutar kedua bola matanya. Alasan yang dibuat-buat, jelas saja. Padahal tadi ia bilang bukan seperti itu.

"Kenapa tanya padaku, aku tidak bertemu dengannya ketika aku turun ke sini, harusnya kalian yang melihatnya, toh kalian di sini terus sejak pulang sekolah tadi kan…" Heechul mengurungkan niatnya untuk kembali ke kamarnya—sekalian mengecek juga bagaimana nasib Kyuhyun di atas, ia melangkahkan kakinya mendekati kedua orang aneh tapi sangat cocok ini. "Henry-ah, kau tahu dimana dia?"

Heechul mengalihkan tatapannya ke arah namja berpipi chubby yang duduk di pojok ruangan. Dan ia hanya bisa mengerutkan alisnya, curiga, ketika didapatinya reaksi yang tidak ia harapkan sama sekali.

"Ah? Hah?"

"Di mana Jongwoon?" Heechul hanya menggunakan nama asli namja itu hanya ketika ia sedang ingin serius—sekaligus untuk menguji juga sih.

Henry menundukkan kepalanya sedikit, iris gelapnya berusaha untuk tidak bertemu pandang dengan iris tajam milik Kim Heechul. Rasanya seperti terintimidasi, bahkan hanya dengan merasakan kalau ia sedang ditatap dengan intens.

"Aku… tidak tahu… gege…"

Faktanya ia memang tidak tahu sama sekali. Apakah setelah dari atap Yesung masuk ke kamarnya atau malah pergi keluar asrama. Ia tidak kembali ke kamarnya, terlalu takut bahkan hanya dengan mendekati pintu kamarnya saja. Ini sudah bukan masalah apa ia harus mengatakan sesuatu mengenai surat itu atau tidak, ini… jauh lebih rumit sekarang.

Dan Heechul terlalu pintar untuk dibodohi hanya dengan jawaban lemah seperti itu. Untuk di saat-saat seperti ini, ada gunanya juga instingnya bekerja dengan sangat baik. Ia tahu ada sesuatu, tapi bertanya pada anak ini mungkin tidak akan mendapatkan jawaban apapun. Satu-satunya cara, dan mungkin yang tersulit… adalah bicara pada Yesung—yang pasti sekarang sedang berada di kamarnya.

Ia melangkahkan kakinya mendekati tangga, sedikit tidak mempedulikan apakah Henry melihatnya atau masih lebih menganggap permukaan meja yang datar jauh lebih menarik dari dirinya. Yesung memang bukan orang yang akan bicara kalaupun ia memaksa—dalam hal ini dia tidak berbeda jauh dengan Kibum, dan mungkin itu akan menjadikannya hal yang sangat sulit, bahkan hanya untuk membuatnya mengeluarkan satu kalimat sederhana sekalipun.

Satu hal yang sangat ingin membuatnya membenturkan kepalanya sekarang adalah… ia siswa tertua di asrama yang ini, yang artinya secara tidak resmi ia sedikit bertanggung jawab akan apa yang terjadi pada seluruh dongsaengnya di sini, dan sayangnya, kelihatannya beberapa dongsaengnya benar-benar ingin meninggalkan kesan yang sangat dalam sebelum ia lulus dari sekolah ini.

"Dasar merepotkan… semenyebalkan apapun, aku juga tidak bisa begitu saja membiarkan mereka dengan masalah-masalah yang jadinya malah terlihat seperti tidak berujung…"

.

.

.

Lee Sungmin menatap sekelilingnya. Ia sedang tidak ada minat untuk berbaur dengan berbagai jenis kerumunan di ruang tengah asrama yang akan ia tempati selama beberapa bulan ke depan, walau beberapa orang di antaranya ada yang ia kenal. Ia hanya ingin mengamati, semuanya tampak menarik walau sedikit membingungkan.

Asrama khusus namja sebenarnya adalah salah satu hal yang sangat ingin ia hindari. Itu hanya membuatnya mungkin akan kembali mengalami hal yang buruk lagi.

Mencintai namja, dan itu adalah hal yang sangat ingin ia hapuskan dari daftar riwayat hidupnya. Tapi ternyata memang sangat sulit, dan sekarang ia malah masuk ke tempat dimana hal yang ingin ia hapuskan itu semakin sulit untuk dihilangkan.

—yang ada malah semakin rawan.

"Ah, hyung?"

Ia mendongakkan kepalanya, dan sesosok namja bertubuh tinggi langsung menghalangi pandangannya. Ia sedikit tersenyum ketika namja berdimple itu tersenyum ke arahnya. "A-annyeong…"

"Jadi… hyung malah masuk asrama yang ini ya…"

Choi Siwon duduk tepat di depannya. Ia hanya pergi sebentar tadi, sebelum Sungmin datang. Jadinya mungkin ia sedikit tertegun juga mendapati namja berwajah cute ini sudah ada di ruang tengah asramanya.

Sungmin mengerutkan alisnya. "Hee? Memangnya kenapa?"

"Haha, tidak apa-apa sih…"

Sungmin mempoutkan bibirnya, padahal ia berharap akan mendapat jawaban yang menarik, ternyata itu hanya pertanyaan basa-basi saja.

Namja berwajah aegyo itu menatap wajah Siwon cukup lama, ketika dia menolehkan kepala saat ada seseorang yang memanggilnya. Cukup menarik sebenarnya, ditambah namja ini juga sepertinya sangat baik.

Mungkin tidak apa-apa sih… berada di tempat seperti ini mungkin bisa jadi akan menjadi hal yang sangat disyukurinya. Tinggal bagaimana yang akan terjadi nantinya…

Yah, berharap saja semoga namja ini belum memiliki kekasih... atau ia mungkin akan trauma dengan yang namanya kisah cinta lagi.

.

To Be Continued—

.

a/n Kapan terakhir kali saya update ini ya? TwT Padahal cuma tinggal sekian 3 chapter lagi, dengan chapter ini berarti tinggal dua lagi, tapi entah kenapa WB dengan nistanya telah lebih dulu menyerang sebelum saya selesai bikin chapter yang ini. Kalau misalnya ada yang gak sinkron sama chapter-chapter sebelumnya harap maklum ya, saya baca chapter-chapter sebelumnya sekilas sih. u_u

Thanks ya, buat yang dengan setia mengingatkan saya sama ff ini, entah kenapa saya sedikit malu juga sama mereka yang masih menunggu ff ini. u_u

PS: Saya rada malu sebenernya sama gaya bahasa saya di chapter2 awal ff ini lho… xD

Sekian dari saya… RnR? :)

.

BEST REGARDS

REiRiN—

.