Musim semi, dua tahun kemudian…
Sepasang kaki melangkah perlahan, menyusuri jalanan yang masih lembab. Pagi masih bergulir, matahari belum begitu menampakkan wujudnya dan jalanan masih sangat sepi dari para pejalan kaki. Ia hanya sendiri, di tempat yang dikenalnya namun kini terasa asing. Dua tahun bukan waktu yang singkat—terlebih karena ia memang dengan sengaja tidak pernah datang lagi ke tempat ini.
Ini pertama kalinya—dan banyak hal telah berubah dibandingkan ketika terakhir kali ia ke tempat ini.
Ada banyak hal yang terjadi di sini—terlalu banyak hingga ia ingin sekali melupakannya. Tapi sulit. Karena itu semua berhubungan dengan anak itu.
Ia melangkahkan kedua kakinya memasuki sebuah taman. Terdiam beberapa saat, sebelum kemudian ia mendekati salah satu bangku yang berada di tengah taman. Menara jam itu masih ada di sana, semakin bertambah tua tapi tetap berdiri tegak. Ia tersenyum kecut. Rasanya seperti terbawa kembali ke masa lalu, dan membuatnya teringat banyak hal yang sangat disesalinya.
Benci—dan penyesalan. Bukan untuk siapa-siapa. Itu ia tujukan pada dirinya sendiri, untuk dirinya yang berubah jadi seorang pengecut yang bahkan tidak melakukan apa-apa ketika anak itu pergi. Perasaan itu masih ada hingga kini, dan mungkin tidak akan pernah hilang selama ia tidak melakukan apapun.
"Anggap saja hukum karma sedang berlaku…" Ia bersandar pada punggung kursi, menatap langit berwarna biru gelap. Ini awal musim semi, udara masih terasa sedikit dingin dan ia sendiri. Tidak ada seorang pun di sekitarnya, seolah memang hanya ia satu-satunya orang di dunia ini.
Ddrrrrttt… Ddrrrrttt…
Ponselnya bergetar, tapi ia enggan bahkan untuk sekedar mengambilnya dari saku dan melihat siapa yang sedang berusaha meneleponnya—sejak tadi. Ia sudah tahu. Itu pasti sepupunya. Mungkin mencarinya atau hanya sekedar ingin memarahinya karena ia menyalahi janji dan malah datang ke tempat ini.
Awal musim semi, sekaligus juga hari kelulusan sepupunya yang menyebalkan tapi baik itu. Bukannya ia ingin mengingkari janjinya—sebenarnya ia bahkan tidak ingin kembali lagi ke tempat ini. Sejak lulus dua tahun yang lalu, ia selalu saja mencari alasan untuk tidak lagi mengunjungi Kyuhyun di asrama. Dan mungkin kalau saja anak itu tidak memaksanya datang dengan alasan ini adalah hari kelulusannya, ia jelas tidak ingin datang.
Banyak hal tetap sama seperti waktu ia pergi dari sini, tapi sebagian dari hal itu pun tetap terkesan berbeda baginya. Hampir semua yang terjadi padanya di sini adalah berhubungan dengan anak itu. Ingin dilupakan, tapi hatinya bahkan masih terus ingat.
"Kira-kira… apa dia juga melihat langit yang sama dengan apa yang kulihat sekarang?"
.
.
Kyuhyun mendengus. Ini sudah entah yang keberapa kalinya ia menghubungi sepupu yang lebih tua dua tahun darinya itu. Puluhan panggilan—yang tidak dijawab, dan belasan pesan—yang semuanya terkirim tapi tidak dibalas sama sekali.
Kesal, jelas saja. Memangnya siapa yang lusa kemarin berjanji akan datang di hari kelulusannya—walau sebenarnya itu juga atas paksaannya. Tapi kan apa salahnya datang di hari kelulusan sepupunya sendiri, toh orang itu juga alumni sekolah ini.
"Masih tidak bisa dihubungi?"
Suara Kibum tertangkap indera pendengarannya, dan ia hanya mempoutkan bibirnya. Bahkan kekasihnya saja mau datang walaupun harus jauh-jauh datang dari luar kota.
"Kalau sudah, aku tidak akan terus-terusan memegang ponselku sambil bersumpah-serapah, berharap orang yang kuhubungi terkena kutukan dariku."
Kibum tersenyum tipis. Kyuhyun yang moody bukan sesuatu yang menyebalkan sebenarnya, asal sasaran kemarahan anak ini bukan dirinya. Malah terlihat lucu, karena anak itu merajuk seperti anak kecil yang menginginkan mainan. Tapi, mungkin wajar kalau ia bertingkah seperti ini. Yesung adalah keluarga yang paling dekat dengan Kyuhyun, bahkan kedekatan mereka hampir seperti saudara kandung, walau tak jarang remaja tanggung itu menjahili sepupunya. Tapi di luar itu, Kyuhyun benar-benar menyayangi namja yang lebih tua dua tahun darinya itu.
"Sudahlah, kurasa Yesung-hyung butuh waktu untuk sendiri. Kau kan tahu, tempat ini baginya seperti apa."
"Tapi tetap saja…"
"Jangan mempoutkan bibirmu terus, itu seperti undangan padaku untuk segera menciummu saat ini juga."
"Mwo?" Mendengar itu sontak Kyuhyun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, dan menatap kesal pada kekasihnya itu. Kyuhyun memang hobi menjahili orang lain, tapi orang ini adalah satu-satunya yang tidak bisa dijahilinya—walau dia ingin—malah dia yang balik dijahili.
"Yesung-hyung butuh waktu untuk sendiri, toh akan lebih baik kalau kita tidak mengganggunya sekarang."
"Hah?"
"Kyuhyun-ah!"
Ia sontak menoleh, sedikit melupakan apa yang baru saja ingin ia tanyakan pada kekasihnya itu. Seorang namja bertubuh sedikit lebih pendek darinya agak berlari mendekatinya.
"Wookie-hyung~!"
Tuh kan, yang bukan keluarganya saja datang—setidaknya walau datang bukan untuknya, tapi mereka menyapanya. Bahkan si tiang merah yang kini kembali tinggal di China juga datang—entah dengan tujuan apa.
Hubungan Zhou Mi dengan Ryeowook berakhir lima bulan yang lalu. Kyuhyun tidak tahu apa penyebabnya, dan mungkin juga tidak peduli—toh kedua orang ini juga tidak pernah sekalipun membahas hal itu ketika bertemu dengannya ataupun ketika mereka saling berkirim e-mail. Tapi bahkan kedatangan Zhou Mi sekalipun di hari kelulusannya cukup membuatnya merasa heran. Menemani Ryeowook? Walau mereka terlihat datang bersama, rasanya juga tidak mungkin. Lagipula datang jauh-jauh dari China hanya untuk itu bukannya termasuk pemborosan?
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, Gui Xian. Aku hanya mengantar seseorang ke sini. Dan karena waktunya bersamaan dengan hari kelulusanmu, ya sudah, sekalian saja datang ke sekolah ini."
Kyuhyun sedikit melotot. Bagaimana mungkin orang ini tahu apa yang dipikirkannya? Memangnya ia ini sebenarnya orang yang mudah ditebak atau bagaimana?
"Kau memang mudah ditebak kok, bahkan walau tidak punya kemampuan membaca pikiran, hanya dengan melihat wajahmu saja sudah cukup untuk menebak apa yang sebenarnya tengah kau pikirkan."
"Yak!"
Kyuhyun merengut kesal. Kenapa hari ini rasanya semua orang seperti sedang bersekutu untuk membuatnya kesal? Pertama Yesung, yang sampai sekarang belum juga memberikan respon yang cukup berarti untuk setidaknya memberi kabar ia ada di mana sekarang. Lalu Kibum yang bukannya membantu malah membuatnya semakin kesal dengan ucapannya yang sedikit ambigu. Memangnya untuk apa Yesung dibiarkan sendiri? Kan tujuannya ke sini itu untuk datang ke hari kelulusannya.
Kibum hanya tersenyum tipis, memilih untuk diam—sebenarnya sedang berusaha menahan hasrat untuk turut serta menggoda Kyuhyun, tapi berhubung ia sudah lama tidak bertemu anak ini, membuatnya marah hanya akan mempersulit dirinya sendiri. Kan percuma jadinya kalau ia datang tapi Kyuhyun mengabaikan dirinya hanya karena ia ikut-ikutan menggodanya.
"Zhou Mi-ah… biar kutebak, seseorang yang baru saja kau maksud sepertinya berhubungan dengan Yesung-hyung. Aku benar kan?"
Kibum tidak menatap namja yang masih saja lebih tinggi dibandingkan dengan mereka semua ketika ia bicara. Tapi ia tahu, dari diamnya namja itu, sudah cukup sebagai jawaban untuknya.
"Yah… anggap saja itu sebagai permintaan maafku dua tahun yang lalu—untuknya."
.
.
Yesung masih diam di tempatnya duduk. Masih menatap ke arah kolam air mancur di depannya dengan tatapan datar. Suasana di sekelilingnya sedikit ramai kini jika dibandingkan dengan saat ia datang tadi. Suara obrolan dan riak air terdengar bersahutan memenuhi gendang telinganya. Ia sedikit membenci keramaian—sejak saat itu, hanya sepi yang disukainya dan diizinkan untuk menemani hidupnya.
Panggilan dari Kyuhyun dan pesan singkatnya terhenti sejak lima belas menit yang lalu. Mungkin menyerah atau malah terlanjur kesal hingga anak itu kemungkinan tidak akan mempedulikannya selama beberapa saat—toh, Kyuhyun tetap saja akan merajuk padanya (selain pada Kibum) kalau anak itu sedang ada masalah dengan keluarganya atau menginginkan sesuatu, yang kemungkinannya tidak dikabulkan oleh kekasihnya.
Dua tahun memang bukan waktu yang singkat, tapi bahkan sepupunya itu tidak berubah sama sekali. Sering mengganggunya via telepon, atau mengirim e-mail terus-terusan padanya seperti spam (sebenarnya ia memang sering menganggap kiriman dari anak itu adalah spam—dan kabar mengenai kelulusan Kyuhyun bahkan hampir saja ia hapus sebelum dibaca sama sekali).
Tapi ia tahu…
Itu hanya bentuk dari sikap Kyuhyun yang sebenarnya mengkhawatirkan dirinya. Dua tahun, dan ia memang seperti menghilang. Hanya keluarganya—yang artinya termasuk Kyuhyun juga—yang tahu dimana dirinya selama itu. Dan mungkin itulah sebabnya selama itu pula Kyuhyun selalu menceritakan banyak hal padanya—dari yang memang penting bahkan yang sama sekali tidak penting. Ia bahkan hampir saja mengira anak itu sudah putus dengan Kibum karena intensitas komunikasi Kyuhyun padanya terjadi setiap hari.
Yah, walau sebenarnya apa yang diceritakannya tak lebih dari sekedar curhat colongannya mengenai setiap hal yang dialaminya seharian itu.
Mungkin anak itu mengira ia kesepian—sebenarnya itu bukan kemungkinan melainkan fakta, tapi jelas ia tidak akan mau mengakuinya di depan sepupunya itu.
Kyuhyun selalu memberitahukannya banyak hal. Dimulai tentang Leeteuk, Heechul bahkan juga Changmin. Jadi, sebenarnya bahkan walau ia menghilang sekalipun, ia masih berhubungan dengan orang-orang itu—secara tidak langsung, kecuali mungkin dengan satu orang. Kyuhyun tidak pernah menceritakan apapun mengenai anak itu. Sekali pun, bahkan tidak pernah menyebut atau menyinggung namanya.
Yesung tidak tahu—apakah itu bentuk lain dari rasa khawatir Kyuhyun ataukah memang sebenarnya sepupunya itu sebenarnya belum memaafkan dirinya sepenuhnya.
Ia menghela nafas. Suasana taman sedikit lengang. Keramaian tadi hanya sesaat. Hanya tinggal beberapa orang—termasuk dirinya—yang masih berada di tempat ini.
Ia butuh kesendirian—untuk saat ini. Setidaknya dengan itu ia bisa benar-benar berfikir. Yang dilakukannya dulu itu salah, ia tahu itu. Setidaknya mereka tidak perlu berpisah seperti itu kalau ia tidak lebih mementingkan egonya sendiri.
Segalanya memang sudah sangat terlambat. Ia menyadari itu sejak awal. Tapi alih-alih menemuinya di hari terakhirnya di sini, ia memilih untuk bersembunyi. Lebih memilih untuk kalah dari rasa takutnya. Pengecut—dan wajar saja kalau setelahnya beberapa orang lebih memilih untuk menyalahkannya, walau mereka tahu apapun yang terjadi anak itu tetap akan pergi.
Kalau saja ia sedikit menghilangkan egonya, mungkin walau anak itu pergi, setidaknya mereka masih berhubungan—entah sampai berapa lama.
Tapi sekarang benar-benar hilang kontak.
Ia tahu Kyuhyun sebenarnya beberapa kali pernah menghubungi anak itu—toh mereka memang berteman dekat. Tapi mungkin karena beberapa hal, Kyuhyun lebih memilih untuk bungkam mengenainya.
Pilihan yang tidak salah. Mungkin kalau ia ada di posisi Kyuhyun, ia akan melakukan hal yang sama sepertinya.
Jadi sebenarnya, siapa yang bodoh di sini?
.
.
Langkahnya sedikit tergesa, berusaha berlomba dengan apapun yang bahkan sama sekali tidak mengejarnya. Ia memang tidak sedang terburu-buru—harusnya menikmati kunjungannya ini, tapi rasanya kalau membuang waktu malah akan membuatnya kembali kehilangan kesempatan.
Beberapa kali hampir menabrak, seperti semua orang di depannya ini sedang berkomplot untuk menghalangi jalannya. Kenapa rasanya jarak dari SM High School ke tempat itu seperti makin menjauh? Bukankah dulu ketika ia masih berada di sini, jaraknya bahkan terlampau dekat.
Ia menarik nafasnya perlahan, langkahnya terhenti—setelah beberapa kali hampir menabrak, ataupun tersandung. Tempat ini tidak berbeda jauh dengan dulu, masih tetap sepi di saat-saat tertentu dan tetap menarik untuk sekedar dilihat. Satu persatu apa yang pernah terjadi padanya di tempat ini kembali terbayang dalam benaknya. Tidak ada yang menyenangkan—kalaupun ada, itu bahkan hanya sesekali terjadi. Kebanyakan terlalu menyakitkan untuk diingat, tapi seperti sebuah film—terkadang flashback pun sering terjadi padanya.
Menyebalkan? Tidak juga—setelah dipikir berkali-kali.
Setidaknya kalau semua itu tidak pernah terjadi padanya, mungkin ia tidak akan pernah tahu tempat ini, mengetahui kebenaran atau bahkan bertemu dengannya.
Karena itu, mungkin alasan kenapa ia hampir berlari ke tempat ini adalah karena ia tidak ingin lagi segalanya kembali terlambat dan ia akan benar-benar kehilangan.
.
.
Derap langkah tertangkap indera pendengarannya, mau tidak mau membuatnya refleks langsung menoleh. Ia tertegun, memilih untuk diam terpaku—dan hampir menganggap itu ilusi optik sebenarnya.
Bahkan kalaupun keajaiban benar-benar terjadi, memangnya Tuhan mau sebaik itu membuatnya terwujud pada dirinya yang sebenarnya jauh dari kata baik?
Figurnya masih sama—seperti terakhir kali ia melihatnya. Atau mungkin sedikit berubah? Yah, siapa yang tahu. Toh ia tidak peduli sama sekali.
"Gege…?"
Suaranya juga sama. Mengalun melalui gendang telinganya. Terlalu nyata untuk sebuah khayalan, tapi terlalu mustahil untuk menganggapnya kenyataan.
Ketika sosoknya berdiri tepat di dekatnya, mungkin ia harus benar-benar berterimakasih pada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk bertemu dengannya.
Ia tersenyum tipis. Miris—tapi sedikit lega dan rindu. Ada banyak hal yang rasanya mengalir ingin diucapkan begitu saja. Tapi, mungkin satu kalimat ini sudah lebih dari cukup.
"Hei, ini pertama kalinya kita bertemu sejak dua tahun yang lalu, aku memang tidak pantas mengucapkan ini tapi rasanya kalau tidak diucapkan rasanya sedikit mengganjal," Yesung menarik nafasnya pelan, "maukah kau memaafkan aku?"
Tidak ada balasan, tapi senyum di wajah anak itu sudah merupakan jawaban yang lebih dari cukup untuknya.
Henry mendekat, lalu memeluk sosok namja yang bahkan selama dua tahun tanpa bertatap muka dengannya masih saja berseliweran dalam pikirannya.
"Jangan mengatakan apapun lagi. Aku benar-benar merindukanmu, gege."
.
.
Flavored of Love
Chapter 8
.
.
END
.
a/n ada yang mau protes dengan endingnya? Plis jangan, saya lebih suka seperti ini. xD #maksa Akhirnya setelah entah berapa tahun, ff ini beres dan hutang saya setidaknya sedikit berkurang—sedikit sih. xD
NEXT, mungkin fokus ke yang lain tapi tergantung mood juga. :p
Oke, sampai bertemu di fic lain~ ^^
