Kim Jongsoo a.k.a KJ-27 is back with new story!

Halo, Jongsoo kembali dengan membawa sebuah cerita baru. Tentang sisi lain kehidupan Kaisoo, tentang bagaimana mereka jatuh cinta dan hilang kepercayaan, lalu kembali jatuh cinta dengan cara yang sama.

Take your time to read this one! Hope you like my new story with Kaisoo (as always) inside the story.

Welcome to my fanfict world and enjoy!

- KJ-


Sudah dua hari berlalu sejak kedatangan cucu pertama Nyonya Yura, dan sudah dua kali dua puluh empat jam pula Jongin menghabiskan waktu makan siangnya untuk mengajari Baekhyun bahasa Korea. Pernah saat ia sedang berdiskusi dengan Luhan di lorong lantai enam, Baekhyun tiba-tiba muncul dari dalam kamar Nyonya Yura dan menyapa calon dokter serta spesialis muda itu dan akhirnya diskusi itu pun berakhir dengan acara story telling dari Baekhyun tentang bagaimana kehidupannya selama tinggal di Lyon.

Dan dari kurang lebih 300 menit obrolan yang Jongin dan Baekhyun urai selama dua hari ini, masing-masing dari mereka kini mulai menemukan sisi menyenangkan dan menenangkan dari lawan bicaranya. Dari Jongin yang mulai lebih sering menggoda Baekhyun, dan Baekhyun yang mulai bersikap seperti orang gila ketika ia baru saja bertemu Jongin walau hanya satu kedipan mata. Baekhyun tahu jika mungkin saja Jongin sudah memiliki kekasih, bahkan Baekhyun sempat menebak bahwa Jongin dan Luhan adalah sepasang kekasih, tapi nyatanya ketika ia menghabiskan makan siang ketiganya bersama Jongin, dua partner kerja itu mengungkapkan bahwa mereka adalah sahabat sejak mulai masuk jenjang koass. Dan Baekhyun mempercayainya.

Entah kenapa, tapi Baekhyun selalu suka saat Jongin tertawa meski itu hanya sekilas. Ia sangat suka melihat dua manik tajam Jongin menghilang sesaat ketika pemuda itu tertawa, ia juga menyukai sensasi yang terjadi pada perutnya ketika pemuda itu tiba-tiba mengusak pucuk kepalanya seperti seorang kakak yang baru saja memanjakan adiknya. Padahal jelas bahwa Baekhyun lebih tua dari Jongin, tapi hal itu tidak pernah membuatnya ciut nyali untuk semakin meyakinkan perasaannya sendiri bahwa ia memang menyukai Jongin.

Hari ini Jongin mengambil libur dan Baekhyun tidak tahu hal itu. Itulah kenapa gadis cantik yang biasanya sangat bersemangat ketika ada di rumah sakit itu sekarang sedang dalam mode malasnya. Kata Luhan, gadis kelahiran China yang tadi ia temui secara tidak sengaja di lorong lantai enam, Jongin mengambil libur dua hari karena ada urusan pribadi dan ijin dari dokter tampan itu sudah resmi masuk ke dokumen Kepala Bagian yang artinya Jongin memang benar-benar libur dan ini adalah hari dimana Nyonya Yura bisa pulang yang artinya lagi, Baekhyun tidak akan lagi bertemu Jongin.

Sedangkan Jongin yang memang sudah dari jauh hari mempersiapkan dua hari ijinnya ini saat ini baru saja terpaksa bangun dari tidurnya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi dan seluruh cacing di perutnya sudah berdemo karena sejak kemarin malam pemuda ini tidak memberi mereka makanan layak makan.

"Sudah pagi, ya?" gumam Jongin dengan wajah bangun tidurnya. Surai coklatnya yang mulai memanjang di bagian wajah itu membuatnya harus meniup bagian depan rambutnya agar matanya bisa melihat lingkungan kamarnya. Segera setelah nyawanya sudah mulai kembali ke tubuhnya, pemuda ini bangun dari posisinya dan menghampiri meja nakasnya dan memandang wajah bangun tidurnya di cermin.

"Mungkin aku benar-benar harus potong rambut," monolognya. Ia mengamati lekuk wajahnya dan memastikan bahwa kumis tipis serta jambangnya yang mulai menebal itu memang harus dirapikan. "Jika aku tidak merapikan ini dalam tiga jam, manusia itu bisa menjitak kepalaku dengan senapannya."

Lalu setelah asik memandangi wajahnya di cermin, Jongin pun berdiri dan mengambil handuk dari lemarinya. Bersamaan dengan itu, ponselnya berbunyi cukup nyaring.

"Yeoboseyo,"

"Kau tidak lupa menjemputku, kan?"

Jongin tertawa singkat sebelum menjawab pertanyaan sang penelepon. "Kau bilang kau tidak perlu dijemput, jadi aku tidak akan menjemputmu. Lagipula, ijin yang kuberikan pada Tuan Sooman itu untuk beristirahat. Minggu depan ada operasi besar dimana hanya aku yang mewakili bagian. Kau mau kepalaku yang berharga ini tertimbun banyak beban sebelum aku mengoperasi pasien?"

Sosok peneleponnya itu pun tertawa seiring suara panggilan pemberitahuan keberangkatan pesawat yang terdengar sayup-sayup. "Baiklah, temui aku di Chocoffee jam sepuluh."

"Pastikan kau tidak terlambat. Aku tidak ingin jatah liburku jadi tidak berharga karena kau,"

Dan sambungan telepon itu pun berakhir. Jongin melempar ponselnya sembarangan ke arah kasurnya dan mewujudkan niatnya tadi untuk mandi dan segera bersiap menuju cafe langganannya untuk menemui sosok peneleponnya tadi.

Dan hanya butuh lima belas menit untuk Jongin memastikan bahwa kumisnya sudah kembali tipis, dan jambangnya sudah kembali rapi. Dengan wangi maskulin yang menguar begitu kuat dari tubuhnya, beberapa orang yang nantinya berpapasan dengannya mungkin mengira Jongin baru saja berendam dengan parfum. Membuka lemari pakaiannya dengan sekali gerak, Jongin mencari-cari baju mana yang harus ia kenakan hari ini. Merasa bosan dengan kemeja karena ia hampir setiap hari menggunakannya ketika bekerja, maka Jongin pun memilih kaos putih polos lengan panjang dan memadukannya dengan celana jins panjang warna biru gelap kesukaannya. Setelah memberikan gel rambut secara asal pada rambutnya, pemuda dua puluh satu tahun ini pun mendekati dinding kamarnya yang penuh tempelan kertas warna-warni.

"Chocoffee jam sepuluh, lalu ke supermarket, dan—Oh astaga! Nenek Yura hari ini pulang!"

Jongin menepuk dahinya sendiri dengan keras. Bisa-bisanya ia melupakan hari kepulangan pasien spesialnya itu. Mungkin selain karena sejak Baekhyun—cucu pertama pasiennya itu datang ia sudah jarang menghabiskan waktu berlama-lama di ruangan inap sang pasien, Jongin juga disibukkan dengan beberapa laporan kasus dari rekan-rekannya yang mengkonsulkan pasiennya pada Jongin.

"Yeoboseyo,"

"Kau masuk, kan?"

Suara di seberang terdengar menahan tawanya sejenak. "Oh, Dokter Kim." Ujarnya seraya memberi penekanan pada panggilannya. "Ada apa meneleponku pagi-pagi? Bukankah dokter sedang ijin?"

Jongin memutar bola matanya malas. "Ayolah, Lu. Sedang ada siapa disana sampai kau harus seformal ini, huh?"

"Apa? Kau mau berbicara dengan Dokter Kim, Baek? Oh tidak jadi? Ya sudah kalau begitu." Sahut suara itu. "Dia mencarimu seharian ini, katanya Nenek Yura ingin kau datang baru dia mau pulang."

Jongin memijat pelipisnya pelan. Ia benar-benar merasa bodoh karena bisa melupakan satu hal itu. Jika ia memaksakan mengunjungi rumah sakit pagi ini, maka seluruh agendanya akan jadi berantakan.

"Katakan pada mereka aku baru bisa datang setelah jam makan siang. Aku masih ada urusan. Tiang pulang," sahut Jongin sambil membenarkan tatanan rambutnya. "Sudah, ya? Aku harus buru-buru."

"Benarkah? Sampaikan salamku padanya, ya?"

Jongin hanya berdehem sekali dan kembali menutup sambungan teleponnya. Setelah kembali menengok arloji yang baru ia pakai, pemuda ini segera mengambil mantelnya dan berlari dengan sedikit terburu-buru meninggalkan apartemennya.

"Wow, kau terlihat terburu-buru, Jong." Tegur salah satu tetangga apartemennya, yang juga rekan kerjanya, Choi Minho.

"Tiang pulang dan aku belum membeli bahan makanan. Jadwal lembur rumah sakit benar-benar menghantam waktu bebasku, Min."

Minho tertawa sejenak. "Itu resiko spesialis, Jong. Itu kenapa aku lebih senang jadi dokter umum, dan omong-omong, kenalanmu yang cantik itu sejak fajar sudah mencarimu."

Jongin tertawa mendengar sahutan Minho. "Baekhyun maksudmu? Ya, tadi Luhan sudah memberitahuku."

"Jika kau pacaran dengan gadis itu, Jong, kau benar-benar dokter yang pandai ambil kesempatan." Ucap Minho lagi.

"Yang benar saja, dia hanya kuanggap teman, Minho. Kau tahu pasti siapa yang kuincar untuk jadi kekasih, kan?"

Minho mengangguk paham. "Ya ya, aku tahu dengan pasti bahwa kau akan lebih memilih Luhan seribu kali untuk jadi pacarmu ketimbang Baekhyun. Aku tahu betapa nyaman jadi alasan utamamu memilih gadis, Jongin."

Dan satu jitakan mampir di kepala Minho. "Khayalanmu sungguh tidak bisa ditolerir, Min. Sudahlah, mengobrol denganmu pagi-pagi begini hanya membuang waktu berhargaku. Perutku bisa semakin lapar jika aku terus meladenimu."

Lambaian tangan Jongin pada Minho yang menertawainya pun akhirnya mengakhiri sesi obrolan pagi mereka. Jongin memilih segera masuk ke lift yang terbuka agar ia segera bisa ke lobby dan keluar dari gedung apartemennya untuk mencari makanan bagi para cacing-cacing di perutnya yang sejak tadi tidak berhenti berdemo ini.

Dan entah ini adalah hari sial Jongin atau bagaimana, saat pemuda itu tengah berjalan santai di trotoar dan menengok kanan kiri mencari rumah makan yang sudah buka dan menunya ia sukai, langit Seoul menumpahkan seluruh tabungan airnya dan sukses membuat Jongin berlari sekuat tenaga mencari tempat berteduh terdekat. Dan akhirnya kakinya ia jejakkan disini. Sebuah cafe kecil dengan beberapa rak buku di dalamnya. Corak minimalis klasik menyelimuti cafe ini dan bau kopi yang lezat pun menyeruak masuk menyapa indera penciuman Jongin.

"Coffeecation? Nama yang unik," pikirnya sambil menepukkan tangan kanannya ke mantelnya yang lumayan basah akibat hujan tiba-tiba di luar sana. Setelah menggantungkan mantelnya, Jongin memilih untuk memesan sebuah hot cappucino dan lalu mengajak kakinya untuk terlebih dulu berkeliling mengitari rak-rak penuh buku itu sebelum ia menyentuhkan pantatnya di sofa empuk nan menggoda itu.

Sorot pandang Jongin terarah ke rak buku dengan major kesehatan. Ia tidak menyangka di cafe kecil ini ternyata ada koleksi buku kesehatan yang lumayan. Biasanya ia hanya menemukan tumpukan novel romansa di rak-rak buku yang ada di cafe-cafe di Seoul yang tentu saja itu tidak terlalu menarik perhatiannya. Sebagai seorang spesialis muda, Jongin tentu harus selalu memperbaharui ilmunya dengan buku-buku penuh kata-kata latin yang menyulitkan. Walau terkadang kepalanya sering berasap ketika ia harus menyelesaikan laporan kasus dengan buku panduan setebal buku bagaimana cara mengerti wanita yang pernah ia lihat sekilas di dunia maya, tapi Jongin menyukainya.

Dan Jongin pun menemukannya, sebuah buku yang selalu menarik perhatiannya jika ia berkunjung ke toko buku untuk membeli sticky notes kesayangannya. Kata ajaib yang membuat organ pentingmu bekerja diluar normal dalam sekejap; LOVE. Begitulah judul buku karangan seorang penulis ternama Seoul, Irene. Dan ketika tangan kanannya berniat mengambilnya, sebuah tangan mungil ternyata mendahuluinya.

"Ah, silahkan, Anda saja." Sahut Jongin sopan seraya menarik cepat tangannya dari buku itu sesaat setelah ia menyentuh tangan mungil tadi.

Tatapan Jongin terkunci sejenak pada sang pemilik tangan mungil ketika sosok itu menampilkan senyum malu-malunya. "Terima kasih,"

Jongin mengangguk pelan dan mempersilahkan sosok itu berlalu dari hadapannya. Dan tak perlu waktu lama bagi Jongin untuk menyadari bahwa salah satu organ di dalam rongga dadanya sedang mengalami perubahan ritme. Dan sudut bibirnya sedikit terangkat ketika ia sadar bahwa jantungnya memompa darah lebih cepat dari biasanya. Adrenalinnya meningkat tiba-tiba berkat sentuhan singkatnya dengan tangan mungil tadi ditambah tatapan lembut kedua obsidian cantik itu.

Jongin pun akhirnya memilih buku kesehatan lain yang sebenarnya tidak terlalu ia suka untuk ia baca. Setidaknya, ia akan bisa dengan mudah menetralkan kembali degupan jantungnya ketika ia fokus pada satu hal diluar penyebab jantungnya tadi gugup. Tapi ketika pandangannya kembali beradu dengan sosok mungil pengambil buku kesayangannya itu, harapan Jongin musnah.

"Atas nama Jongin!" panggilan sang kasir membuyarkan lamunan sekilas di kepala Jongin.

"Terima kasih,"

Setelah mendapatkan pesanannya, Jongin pun mengitari area yang ditata sedemikian rapi sehingga bisa menghasilkan proporsi nyaman untuk para pengunjung menghabiskan waktunya di cafe ini sembari membaca buku dan menikmati hidangan ringan yang disuguhkan oleh cafe ini.

Dan entah ini adalah keberuntungan pemula atau bagaimana, Jongin menemukan hanya ada satu sofa kosong tersedia tepat di meja nomor tiga belas, dimana sofa sisanya di meja itu sudah diduduki dengan sangat nyaman oleh gadis pengambil buku kesayangannya dan ketika Jongin hampir memutuskan untuk pulang saja, gadis itu menurunkan bukunya dan menatap Jongin sebentar lalu memanggilnya.

"Anda bisa duduk disini jika Anda mau," sahutnya sopan dan menutup akhir kalimatnya dengan senyum singkat yang membombardir jantung Jongin.

"Tentu. Anda tidak keberatan?"

Dan diluar dugaan Jongin, gadis itu kembali tersenyum bahkan kali ini lebih lebar. Mungkin setelah ini Jongin harus menemui Jaebum dan memintanya memeriksa keadaan jantungnya apakah organ itu masih baik-baik saja setelah serangan beruntun pagi ini.

"Anggap saja balasan karena buku ini?" sahut gadis itu lagi. "Lagipula di luar sedang hujan deras dan kukira Anda tidak akan suka kehujanan,"

Jongin tertawa kecil. "Tentu. Aku singgah disini karena menghindari kiriman air hujan dari langit, jadi perkiraan Nona tepat sasaran."

Jongin akhirnya duduk di depan sosok mungil itu; mencari posisi ternyamannya untuk memandang sang gadis dan bukan membaca buku di tangannya. Ketika sadar bahwa kelakuannya ini terlihat bodoh dan kekanakan, Jongin pun menahan tawanya dan memilih meminum minunmannya tanpa ingat bahwa yang ia pesan adalah—

"AH!"

hot cappucino.

Jongin mengutuk fokus otaknya yang kabur saat ini. Kenapa ia harus lupa bahwa pesanannya adalah hot cappucino? Kenapa juga ia harus memesan minuman panas ketika biasanya ia akan selalu memesan minuman dingin tak peduli apapun cuaca diluar sana?

"Anda baik-baik saja?" tanya gadis itu. Jongin bersumpah tatapan khawatir gadis itu benar-benar membuat perutnya geli seketika.

"Y-ya, aku hanya lupa bahwa pesananku ini minuman panas." Sahut Jongin singkat kemudian berdiri dan memesan satu cup ice cappucino di kasir lalu kembali lagi ke sofanya.

"Anda memesan lagi?"

Jongin mengangguk cepat. Ia suka dengan sifat ingin tahu gadis ini. Sejenak ia tiba-tiba teringat Baekhyun yang juga sangat penuh keingintahuan. "Jika nanti minuman ini dingin, aku akan memesan es batu dan menuangkannya ke cangkir ini baru aku meminumnya." Jawab Jongin sambil kembali membuka bukunya dan mulai mencari bagian menarik untuk dibaca yang tidak juga ketemu hingga akhirnya perdebatan batin Jongin tentang apakah ia harus memulai pembicaraan dengan gadis ini atau tidak pun berhenti dan menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa ia harus tahu siapa gadis ini jika ia tidak ingin jantungnya tiba-tiba ditemukan tidak berdetak esok hari.

"Kau—ah maksudku, Anda tinggal di sekitar sini?" Jongin sempat meralat pertanyaannya dan memilih tetap melanjutkan pertanyaan dengan kata sapa formal pada gadis ini.

Senyum gadis ini kembali tercetak di wajah cantiknya sebelum ia menjawab pertanyaan Jongin. "Apakah kosa kataku terlalu formal?" tanyanya sopan. "Tidak, aku bukan asli Seoul. Tapi Nenekku sedang dirawat di rumah sakit dekat sini." Jawabnya ramah.

Jongin menggaruk kepala belakangnya. "Tidak, tapi aku terbiasa dengan sapaan informal. Sapaan formal hanya kugunakan saat menangani pasien." Balas Jongin. "Nenekmu sedang sakit?"

Gadis itu mengernyitkan dahinya. "Kau... dokter?"

"Ya, aku bekerja di Hyundai Hospital, tidak jauh dari sini. Apa Nenekmu dirawat disana?"

Gadis itu tiba-tiba merubah raut wajahnya jadi sangat antusias. "Benarkah? Ya, Nenekku dirawat disana. Seminggu yang lalu ia masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya kambuh," jelas gadis itu.

Ingatan Jongin seperti baru saja direfresh saat mendengar penjelasan sang gadis. Seminggu yang lalu. Penyakit jantung. Jika ada pasien rawat inap dengan diagnosa jantung, ia pasti tahu siapa. Jangan-jangan ia kenal dengan Nenek gadis ini?

"Vraiment?" ulang Jongin lagi memastikan.—Benarkah?

"Ya, nama Nenekku adalah Kim Ah Young. Apa kau mengenalnya?"

Dan Jongin pun sukses tersedak minumannya sendiri.

"Kau baik-baik saja?" tanya gadis itu lagi sambil menawarkan Jongin selembar tisu dari pouchnya. "Apa aku mengagetkanmu?"

Jongin memberi isyarat bahwa ia tidak apa-apa dengan tangannya lalu menerima uluran tisu dari gadis itu. "Nenekmu adalah pasien utamaku,"

Dan kini giliran gadis mungil itu yang terkejut. "K-kau D-Dokter Kim?"

Jongin mengangguk yakin sambil sesekali tertawa. "Kau tahu namaku?"

Gadis itu tertegun sejenak. Ia berusaha kembali mengingat bagaimana sekitar hampir dua belas jam lalu sejak ia tiba di Seoul dan bertemu Nenek serta saudara sepupunya, kupingnya sudah disuguhi cerita antusias dari saudara sepupunya tentang dokter yang merawat Nenek mereka. Bagaimana saudaranya itu menyukai tatanan rambut berantakan sang dokter, lalu senyumnya yang begitu manis hingga bagaimana tatapan lembut dokter dengan marga Kim itu bisa membuat jantung sepupunya berdegup berantakan. Dan pagi ini, ketika sensasi yang sama persis ia alami, dadanya menghangat. Tapi ketika ia tahu siapa sosok tampan di depannya ini, perang batin menghampirinya.

"Baekhyun eonnie bercerita tentangmu,"

"Ah, dia memang suka bercerita, ya?" ulang Jongin. "Apa kalian menungguku untuk datang menjenguk Nenek Yura?"

Gadis itu mengangguk pelan. "Nenek bilang ia tidak mau pulang sampai dokter tampan yang merawatnya datang. Dan ternyata dia sedang ada disini, minum kopi." Gurau gadis itu sambil menahan tawa manisnya.

"Berteduh, Nona." Ralat Jongin cepat sekembalinya ia mengambil pesanannya di kasir. "Aku berencana datang kesana setelah makan siang karena aku masih ada urusan setelah ini. Tapi kurasa, jika hujan berhenti sebelum makan siang, aku akan menemanimu ke rumah sakit sekaligus menengok Nenek."

Jongin bersyukur bahwa takdirnya hari ini cukup bagus. Dibalik kesialannya yang harus kehujanan, ia bisa bertemu dengan gadis mungil yang membuat organ dalamnya bergejolak.

Dan tiba-tiba sebuah suara aneh menginterupsi keheningan diantara keduanya.

"Kau lapar?" tanya gadis itu sembari menahan tawanya. Barusan perut Jongin dengan tidak elitnya berbunyi keras hingga gadis itu sempat kelepasan tertawa. Walau Jongin harus setengah hidup menahan malu, tapi jika balasannya adalah tawa berharga sang gadis, maka ia akan menerima dengan lapang hati.

"Aku belum makan sejak kemarin malam karena harus lembur di Emergency Station."

Dan Jongin lagi-lagi harus menenangkan jantungnya karena tindakan tiba-tiba gadis ini membuatnya luar biasa bahagia.

"Kau mau berbagi sandwhich denganku?"

.

.

.


Jongin merasakan bagaimana jantungnya masih hidup sampai detik ini walau sejak lima menit lalu ia berjalan beriringan dengan gadis cantik yang sampai detik ini ia belum ketahui namanya. Bukan ia tidak berusaha untuk tahu, tapi ia tidak berani. Tapi lagi-lagi akhirnya, ia kalah oleh nalurinya sendiri.

"Sejak kita berbicara di cafe, aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Ucapnya sambil tetap menatap jalan di depannya dan menjaga agar tangan kanannya tidak trembling karena gugup dan mengakibatkan payung yang ia bawa saat ini tiba-tiba jatuh.

"Can I know your name?" lanjut Jongin sambil menoleh menatap gadis itu dengan tatapan sok manis.

Gadis itu tertawa lagi. Entah ini tawa yang keberapa, tapi Jongin tak pernah menghitungnya. Yang Jongin tahu, setiap kali gadis ini tertawa, ia merasakan jantungnya naik tempo dan perutnya terasa seperti penuh kupu-kupu.

"Aku terlalu asik mengobrol denganmu sampai lupa memperkenalkan diri, ya?" ulang gadis itu.

Jongin mengendikkan bahunya pelan. "Begitulah."

"Baiklah kalau begitu," sahut gadis itu pelan lalu ia pun berhenti tiba-tiba. "Ya, kenapa kau tetap berjalan!" teriaknya yang kemudian ditertawakan Jongin yang segera membalikkan badannya dan kembali berdiri di depan sang gadis mungil itu.

Sambil mengulurkan tangan kanannya, gadis itu menyebutkan namanya.

"Do Kyungsoo, itu namaku, Dokter Kim."

Jongin menaikkan sudut bibirnya dan tersenyum. "Senang akhirnya bisa mengetahui namamu, Nona Kyungsoo. Jadi, apakah kita akan melanjutkan perjalanan kita ke rumah sakit?" tanya Jongin lagi sambil menurunkan payungnya dan membiarkan hujan sedikit membasahi mereka.

"Jongin!" pekik Kyungsoo.

Jongin menemukan satu hal baru hari ini bahwa ternyata malaikat bisa begitu dekat dengan manusia dan ia juga bisa berteriak cukup nyaring.

"Aku hanya bercanda. Tak mungkin aku membiarkan mantelku basah lagi, kan?"

Dan pukulan ringan hadir di lengan kanan Jongin diiringi tawa menyenangkan dari keduanya. "Jadi, Nona Kyungsoo mengambil major musik di Boulder?"

Gadis itu tertawa lagi. "Ya, aku hanya menumpang lahir di Seoul. Selebihnya, aku warga Colorado."

Dalam perjalanan singkat mereka yang dimulai sekitar lima menit lalu dan percakapan panjang yang dimulai sekitar dua setengah jam lalu itu, masing-masing dari dua sosok yang berdiri berdekatan dengan tinggi berbeda ini mendapat banyak informasi baru. Dari jenjang pendidikan keduanya yang akhirnya terbongkar juga setelah Kyungsoo iseng menanyakan bagaimana bisa Jongin dengan usia yang lebih muda darinya satu tahun itu lebih dulu lulus dan mendapat gelar spesialis penyakit dalam. Lalu cerita tentang hobi mereka masing-masing. Dan bahkan tentang silsilah keluarga mereka.

Dalam perjalanan singkat itu juga, Jongin terkadang diam-diam mencuri pandang ke Kyungsoo. Menatap bagaimana wajah seorang malaikat dari dekat, dan tak jarang Kyungsoo memergoki Jongin sedang iseng-iseng menyamakan langkahnya dengan langkah Kyungsoo. Dalam tawa singkatnya, Kyungsoo diam-diam menghirup bebas scent maskulin yang menguar kuat sejak tadi dari tubuh tegap milik Jongin. Gadis itu bahkan sempat berpikir apakah pemuda tampan yang sedang berjalan bersamanya ini mandi dengan guyuran parfum? Karena demi seluruh koleksi parfum yang ia punya, scent milik Jongin ini benar-benar membuatnya hampir mabuk.

Dan tiba-tiba keheningan menyenangkan yang menyelimuti keduanya harus terganggu dengan bunyi ponsel Jongin.

"Yeoboseyo,"

"Ya manusia sok sibuk. Apa kau ini melupakan janjimu denganku, huh?"

Jongin menatap arlojinya dan matanya membulat seketika. "Maaf, hyung. Aku ada urusan mendadak sekarang. Aku ijin terlambat, ya?"

"Terlambat karena sedang berkencan dengan seorang gadis? Begitu maksud ijinmu?"

Dan Jongin langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh area di sekitarnya sampai ia menemukan sosok bermantel biru sedang berdiri menatapnya dari arah lobby rumah sakit tujuannya.

"Kau sudah disana?"

"Jika kedua penglihatanmu masih sehat, berarti kau bisa melihatku berdiri disini seperti orang bodoh menunggumu."

Jongin menahan tawanya dan menatap Kyungsoo sejenak yang seolah menanyainya siapakah orang yang sedang ia telfon. Dan dengan menyebutkan hyung tanpa suara dari bibirnya, Kyungsoo pun mengangguk paham.

"Kan kau sendiri yang bilang kita bertemu di Chocoffee. Kenapa kau malah berdiri disana?" dan Jongin pun memutuskan sambungan teleponnya ketika ia dan lawan bicaranya kini sudah saling berhadapan.

"Jadi ini alasanmu meminta ijin terlambat? Mengencani seorang gadis pagi-pagi begini?" tanya sosok itu tanpa menghiraukan tatapan tajam dari Jongin dan malah menatap Kyungsoo yang tersipu malu.

"Kami tidak berkencan, demi Tuhan, hyung." Balas Jongin malas. "Sudahlah, ayo masuk. Aku harus mengantarnya bertemu Neneknya dulu baru aku bisa pulang bersamamu,"

Sosok itu mengangguk paham sambil sesekali menggoda keduanya dengan tatapan penuh canda dan senyum penuh arti. "Lelaki yang bertanggung jawab,"

"Neneknya adalah pasienku, hyung. Hari ini beliau pulang dan aku harus ada disana agar Neneknya mau pulang." Tambah Jongin.

Kyungsoo mengangguk pelan seolah membenarkan kata-kata pemuda jangkung dengan kumis tipis itu.

"Kau tidak mau memperkenalkanku pada kekasihmu?"

"Hyung!" pekik Jongin bosan. "Kyung, kenalkan, ini hyungku."

"Park Chanyeol, kau bisa memanggilku Chanyeol oppa karena kau pasti lebih muda dariku, kan?"

Jongin menatap lelaki bermantel biru tua itu dengan malas.

"Kyungsoo, Do Kyungsoo. Itu namanya," potong Jongin sebelum gadis itu mengenalkan siapa namanya. Seolah tidak rela jika gadis ini mengeluarkan suara merdunya di depan orang lain, Jongin berinisiatif mengenalkan Kyungsoo pada Chanyeol.

"Pagi, Dokter Kim." Sapa salah seorang perawat pada Jongin ketika ia berpapasan dengan Jongin. Anggukan dari Jongin pun seolah jadi jawaban yang cukup bagi para karyawan rumah sakit atau siapapun yang menyapanya.

"Sepertinya adikku cukup terkenal ya disini?"

Lelah dengan sikap kakaknya yang terlalu bawel, Jongin pun meminta Chanyeol menunggunya di ruangannya. "Kau tunggu saja aku di ruanganku. Tidak perlu ikut ke atas. Pasienku itu punya jantung lemah, jika ia mendengarmu cerewet, sakitnya bisa kambuh." Jelas Jongin sambil memberikan kunci ruangannya pada Chanyeol yang kemudian mengangguk pasrah dan melambai pada Kyungsoo.

"Sampai jumpa lagi, Kyungsoo!" teriak Chanyeol sambil kemudian berlari kecil menuju ruangan adiknya.

"Maafkan hyungku, ya? Dia memang tidak bisa tenang barang satu hari saja." Maaf Jongin pada Kyungsoo yang kemudian terlihat menahan tawanya.

"Tidak masalah, Jongin. Dia kakak kandungmu? Kenapa marga kalian berbeda?"

Jongin menekan tombol lift menuju ke atas dan membiarkan lift turun untuk menjemputnya.

"Dia sepupuku satu-satunya. Persis seperti kau dan Baekhyun. Dia baru pulang dari tugasnya di Arizona."

Kyungsoo menoleh cepat. "Jadi Chanyeol oppa di Amerika juga?"

Jongin mengangguk bersamaan dengan terbukanya pintu lift yang membuka jalan bagi Luhan untuk keluar. "Oh, hai, Dokter Kim."

Jongin tertawa kecil sebelum kemudian mengusak surai Luhan dan menjawab sapaannya. "Halo juga Nona Lu,"

Seperti tersengat aliran listrik yang entah dari mana, Kyungsoo tiba-tiba memegang dada kirinya saat Jongin dan ia masuk ke lift dan Luhan keluar dengan tawa cantiknya.

"Dia sahabatku. Tapi dia masih berkutat dengan koassnya dan belum juga lulus hingga sekarang," jelas Jongin seolah ingin menepis segala sakit Kyungsoo yang mungkin saja hadir.

Kyungsoo mengangguk sekali lalu menatap Jongin sekilas. "Pantas kau membalas sapaannya,"

Jongin menoleh dan memberi Kyungsoo tatapan penuh tanya.

"Sejak di lobby, banyak sekali pegawai dan perawat yang menyapamu, tapi kau hanya mengangguk dan tersenyum. Tapi tadi, kau membalas sapaan gadis cantik itu bahkan memanggil namanya. Jadi aku menduga bahwa kau memang mengenalnya dengan baik," balas Kyungsoo datar.

Jongin tertawa sejenak. "Aku memang jarang membalas sapaan mereka ketika aku sedang terburu-buru. Biasanya tidak begitu, kok." Ralat Jongin. "Ah, sudah sampai. Ayo,"

Kyungsoo mengangguk lagi dan mengikuti langkah Jongin menuju kamar Neneknya, dan ketika hampir sampai, tiba-tiba pintu terbuka dan Baekhyun keluar dari sana dengan wajah terkejutnya karena menemukan Jongin datang bersama adik sepupunya.

"Jongin? Kyungsoo? Bagaimana—"

"Ceritanya cukup panjang, Baek. Kita temui Nenek dulu, ya?" potong Jongin yang kemudian memilih masuk untuk segera melihat pasiennya. "Siang, Nek." Sapanya sopan.

"Ah, akhirnya kau datang juga, Sayang. Apa Luhan menyampaikan pesanku dengan baik?"

Jongin tersenyum separo. "Tentang Nenek yang tidak mau pulang jika aku tidak datang?"

Dan anggukan Nyonya Yura menjawab pertanyaan Jongin. "Bagaimana aku bisa pulang tanpa menemuimu dulu? Sedangkan kau itu dokter yang merawatku sejak awal, Nak."

Jongin tertawa. "Maaf, Nek. Hari ini dan besok aku memang mengambil cuti karena ingin istirahat. Minggu depan aku bersama dokter dari bagian bedah akan melakukan operasi besar, jadi aku memilih untuk merefresh isi kepalaku dulu."

"Begitu? Syukurlah. Nenek kira kau ini sakit, Nak."

Jongin menggeleng pelan. "Aku sehat, Nek. Ya sudah, sekarang Nenek sudah bertemu denganku, dan apa masih ada keluhan?"

Nyonya Yura menggeleng dan tersenyum. "Tadi Eunji dan Jaebum sudah datang memeriksaku. Katanya aku sudah sangat baik dan bisa pulang,"

"Ya, aku memang meminta Jaebum menggantikanku dua hari ini, Nek. Kalau begitu, ayo, kita turun." Ajak Jongin sambil kemudian mencari tas bawaan Nyonya Yura dan membawanya dengan sekali genggam.

Baekhyun dan Kyungsoo membantu Nenek mereka turun dari ranjang dan memapahnya sampai ke lift.

"Kalian kenapa bisa datang bersamaan?"

Baekhyun kembali melontarkan pertanyaannya pada Jongin dan Kyungsoo. Dan keduanya langsung saling pandang sebelum tertawa bersama.

"Kami bertemu di cafe. Dia sedang sarapan, aku sedang berteduh." Jelas Jongin sambil kembali melirik Kyungsoo diam-diam. Dari sudut ini, ia bisa merasakan jantungnya masih terasa kencang degupannya. Dan ia juga masih bisa merasakan bahwa dadanya menghangat sejak tadi.

Jika salah satu ungkapan di buku kesayangannya itu memang benar adanya, mungkin Jongin harus benar-benar waspada dengan satu kata sederhana pengontrol kerja seluruh organ tubuhnya itu yang mungkin saja saat ini sedang dalam perjalanannya mendekati Jongin.

Dan kini, Jongin mendapati separuh dadanya nyeri ketika akhirnya ia harus benar-benar berpisah dengan gadis menggemaskan yang baru ia temui pagi ini itu. Sopir pribadi Nyonya Yura sudah datang dan langsung membawa ketiga wanita cantik itu untuk kembali ke rumahnya. Beruntung tepat sebelum gadis penyebab jantungnya itu naik ke mobil, Jongin lagi-lagi berani nekat untuk meminta.

"Can I get your number?"

Dan setelahnya, Jongin menemukan jantungnya kembali tenang dengan dada yang masih menghangat. Mungkin setelah ini ia akan benar-benar menemui Jaebum untuk memeriksakan keadaan jantungnya. Atau mungkin ia memilih untuk dengan nekat menemui Kyungsoo di rumahnya seperti ide gila yang baru saja terlintas di kepalanya. Tapi nyatanya, Jongin memilih untuk terus tersenyum bahagia hingga Chanyeol yang baru keluar dari ruangannya pun dibuat heran karenanya.

"Kau sakit, ya?"

Jongin tertawa lepas sambil menatap ponselnya lembut. "Jika kata sederhana itu memang penyebab sakitku ini, maka aku mungkin memilih untuk tidak sembuh saja. Aku tidak tahu bahwa Irene benar."

Chanyeol menatap Jongin lagi penuh tanya. "Apanya yang benar?"

Dan Jongin pun menjawabnya dengan mantap.

"Bahwa satu kata sederhana bernama cinta, bisa membuat seluruh organ pentingmu bekerja diluar normal seketika."

.

.

.

tbc


Nyoh yang minta part Kaisoo/Jongin-Kyungsoo hahaha.

Tenang, Jongin tercipta khusus untuk Kyungsoo dan sebaliknya juga. So I will never separate them, kecuali jalan skenario ceritanya memang harus begitu *dikeplak

So, udah pada liat MV Call Me Baby? How's that? Is it cool enough? Hahaha. For me, that's typically SM's MV wakakak jadi aku tenang2 aja kecuali di bagian wajah2 kedua bias utamaku yang kadang terkampret itu. Kyungsoo dan Baekhyun.

Nah, saya menunggu mungkin ada MV lain yang dibuat. EXODUS mungkin? El Dorado? Hurt? Atau kalo bikin MV dari semua tracknya juga alhamdulillah =))

Write down your review on the box and I'll give you the next chapters in the next days!

Sekian, Salam!

KJ-27