Kim Jongsoo a.k.a KJ-27 is back with new story!
Halo, Jongsoo kembali dengan membawa sebuah cerita baru. Tentang sisi lain kehidupan Kaisoo, tentang bagaimana mereka jatuh cinta dan hilang kepercayaan, lalu kembali jatuh cinta dengan cara yang sama.
Take your time to read this one! Hope you like my new story with Kaisoo (as always) inside the story.
Welcome to my fanfict world and enjoy!
Sudah hari keenam sejak Nyonya Yura keluar dari rumah sakit, artinya sudah lebih dari satu minggu Baekhyun ada di Seoul dan sudah enam hari juga Kyungsoo juga ada di Seoul. Dua cucu kesayangan Nyonya Yura itu adalah gadis-gadis yang belakangan sering menemani makan siang Jongin. Sebelumnya, setelah Nyonya Yura pulang, Jongin diundang makan malam oleh wanita paruh baya yang sangat kaya dan terpandang di Seoul itu. Karena tak mau dianggap sebagai adik durhaka, jadilah Jongin mengajak Chanyeol untuk ikut ke undangan makan malam itu. Harapannya malam itu hanya dua, Chanyeol tidak banyak bicara dan ia bisa punya waktu berdua cukup panjang dengan Kyungsoo.
Tapi sayangnya, lain harapan lain pula yang jadi nyata. Chanyeol tetap jadi dirinya sendiri yang tidak bisa diam dan berakhir dengan ceritanya tentang hampir seluruh masa kecil memalukan yang ia alami bersama Jongin yang membuat pemuda dua puluh satu tahun itu lebih sering face palm daripada tertawa. Dan sialnya, ia juga tidak punya banyak waktu untuk berdua dengan Kyungsoo karena entah kenapa Baekhyun meminta Jongin dan Chanyeol menemaninya serta Kyungsoo untuk bersantai di ruang tamu. Jadilah ia hanya bisa curi-curi pandang sesekali ke Kyungsoo.
Walau ia sudah punya nomor ponsel Kyungsoo, tak satupun pesan mampu ia kirimkan. Alasannya sepele, ia takut pesannya akan mengganggu Kyungsoo atau ia takut bahwa Kyungsoo akan mengabaikan pesannya. Tapi hampir tiap jam saat masih di hari cutinya, Chanyeol menemukan Jongin seperti mayat hidup dengan ponsel di tempat tidurnya.
"Terus saja berperang dengan pikiran bodohmu itu sampai Jupiter jadi sekecil Pluto. Kau itu pria, pakai insting masa bodohmu dan mulailah lebih dulu. Wanita itu manusia paling penuh pemikiran, makanya dia sering menangis. Cepat hubungi dia atau kau akan menemukan aku tiba-tiba melamarnya,"
Itulah ancaman paling manjur dari Chanyeol yang akhirnya bisa menggerakkan jari-jari Jongin untuk kemudian mengetik pesan singkat yang awalnya ia pikir tidak penting itu untuk Kyungsoo. Tapi setelah respon balik yang cukup positif dari Kyungsoo, Jongin langsung mengganti predikat Chanyeol dari sepupu paling menyebalkan menjadi sepupu paling cerdas.
Sejak makan malam yang menyenangkan itu, ada jadwal baru yang Jongin tulis di kertas warna-warni yang tertempel di hampir seluruh dinding kamarnya, yakni 'Berkencan dengan Kyungsoo—KAPANPUN!'.
Jongin memang sangat tergantung pada berpuluh-puluh lembar warna-warni itu. Bisa dibilang, seluruh agenda yang ia lakukan tiap harinya adalah apa-apa saja yang tertulis disana. Jika ada satu acara yang tidak tertulis disana, maka dapat dipastikan bahwa pemuda ini tidak akan datang. Ingatan Jongin akan nama-nama latin yang merepotkan itu memang luar biasa, tapi itu juga berkat tulisan unreadable miliknya yang berserakan di hampir seluruh bukunya. Ia harus terus menulis ulang apapun yang ia ingin hapalkan atau lakukan. Jika tidak, maka ia tidak akan menghapalnya dalam jangka lama. Atau singkatnya, Jongin akan melupakan sesuatu yang baru ia baca lima menit lalu jika ia tidak menuliskannya di kertas yang kemudian terus ia genggam dan sering ia baca.
Dan itu kenapa panggilan kecilnya adalah Kai. Itu pemberian Chanyeol, diambil dari hobinya yang suka menulis hal-hal to do listnya di sticky notes. Awalnya Chanyeol ingin memanggilnya Sticko, tapi karena imajinasi Chanyeol berubah menjadi sebuah stick pepero rasa coklat yang lezat, maka Chanyeol menggantinya menjadi lebih manusiawi dan agar tidak memperlihatkan seolah dia adalah kanibal. Bahkan jika ia berubah jadi seorang kanibal dan Jongin adalah satu-satunya manusia yang tersisa, maka ia lebih memilih membunuh dirinya sendiri dan memakan bangkainya daripada harus mencicipi Jongin. Dan Chanyeol pernah mengutarakan isi kepalanya ini pada Jongin, tapi berakhir dengan pukulan yang tidak main-main dari adik sepupu kesayangannya itu di punggungnya dengan embel-embel teriakan, 'BERHENTI MEMBICARAKAN ORGAN TUBUH! AKU TAKUT, HYUNG!'. Dan sekarang Chanyeol mendapati adiknya itu sudah menjadi seorang dokter spesialis penyakit dalam. What a words~
"Jadi hari ini ada agenda apalagi? Gadis cerewetmu itu mengajak makan lagi?" tanya Chanyeol yang baru saja keluar dari kamar mandi di kamar tamu yang ada di apartemen Jongin. Chanyeol sengaja menanyai Jongin karena ini adalah hari keenam gadis mungil bermata bulat itu ada di Seoul. Artinya, adiknya hanya punya besok alias satu hari untuk bisa menemuinya karena Kyungsoo hanya ijin satu minggu. Dan jarak Seoul menuju Colorado, tidak sedekat jarak hatinya dengan hati kekasihnya, Dara.
"Kenapa selalu Baekhyun yang mengajak makan siang? Kenapa Kyungsoo lebih sering diam? Kenapa Baekhyun menyukaiku, hyuuuuung?"
Ya, Jongin tahu bahwa cucu tertua dari pasien utamanya itu memang menyukainya. Jongin tahu dari Baekhyun sendiri saat tiga hari lalu gadis itu menyatakan bahwa ia menyukai Jongin sejak awal mereka berkenalan tapi tetap tidak akan memaksakan perasaannya pada Jongin. Dan sialnya, saat Baekhyun sedang mengakui perasaannya, Kyungsoo mendengar semuanya. Dan Jongin pikir, itu adalah alasan Kyungsoo mendiamkannya belakangan ini. Walaupun Jongin sudah dengan jelas menjawab pernyataan Baekhyun dengan tawa hambar dan senyuman kosong serta ucapan bahwa ia hanya menganggap Baekhyun ini seorang teman baik, tapi entah kenapa sikap Kyungsoo terasa berbeda padanya.
"Aku tak bisa membantu, Jong. Bukan salahku jika adikku ternyata punya gen tampan sepertiku," balas Chanyeol sambil membawakan Jongin sebuah bir kalengan dan satu bungkus rokok kesayangannya. "Kau selalu punya mereka jika kau sedang stress,"
Chanyeol tahu bahwa Jongin memang dokter spesialis penyakit dalam, tapi ia juga tahu tabiat adiknya yang akan selalu lari ke rokok dan minuman ketika ia punya banyak pikiran seperti saat ini. Karenanya, daripada harus melihat adiknya seperti mayat hidup, ia lebih senang melihat adiknya melampiaskan semua kesalnya dengan meracau sepuasnya ketika ia mabuk.
"Tapi Kyungsoo tidak suka perokok,"
Chanyeol tersenyum separo dan melemparkan rokok satu bungkus itu ke kepala Jongin. "Persetan dengan ketidaksukaan Kyungsoo pada perokok. Dia adalah satu dari sekian penyebab isi kepalamu menumpuk dan berantakan. Aku lebih senang adikku mabuk tapi masalahnya selesai saat ia sudah sadar daripada hanya diam, memendam semuanya dan bersikap sok kuat padahal hancur perlahan-lahan."
Jongin menyengir dan melepas tawanya sekali. "Tapi aku sedang dalam tahap pemulihan dari rokok, jadi hentikan usahamu untung membuatku kembali merokok, hyung. Harusnya kau mendukungku!"
"Mendukungmu untuk semakin jatuh dengan beban di kepalamu? Buka matamu lebar-lebar, Hitam. Kau perlu pelampiasan untuk bebanmu."
Sejak awal bertemu dua cucu Nyonya Yura, Chanyeol memang lebih memilih Kyungsoo daripada Baekhyun. Menurut Chanyeol, walau terlihat lebih sering tak acuh, tapi Chanyeol tahu bahwa Kyungsoo punya perhatian khusus pada adiknya. Beda dengan Baekhyun yang kadang sering menunjukkan hal-hal konyol untuk menarik perhatian Jongin. Kyungsoo bahkan hanya perlu duduk tenang dengan wajah sedih yang dibuat-buat atau bahkan wajah datar, dan sedetik kemudian ia akan mendapati pandangan penuh kekhawatiran dari Jongin. Jika belum terikat dalam sebuah hubungan perkekasihan dengan Dara, mungkin ia sendiri yang akan dengan semangat tinggi memperjuangkan agar Kyungsoo menyukainya. Tapi karena semua ini adalah jalan untuk Jongin, maka ia akan mengusahakan segalanya agar adiknya bisa kembali hidup.
"Tapi tidak dengan—hyung, Kyungsoo menelepon!" teriakan Jongin menguar dari dalam kamarnya bersamaan dengan bunyi ponselnya yang masih ia biarkan berdering.
"Yeoboseyo,"
Jongin mendapati jantungnya seperti baru saja berdetak kembali ketika telinganya dimasuki suara merdu milik Kyungsoo.
"E-ehm, a-apa kau sedang sibuk, Jongin?"
Jongin seperti baru saja diiming-iming sebuah ember berdiameter lima puluh centi dengan tinggi enam puluh centi yang terisi penuh dengan ayam goreng lezat. Pertanyaan Kyungsoo barusan terasa seperti surga baginya.
"Tidak, aku sedang tidak ada jadwal jaga hari ini. Lagipula, lusa Chanyeol hyung pulang ke Arizona, dan aku harus punya stok makanan lagi karena yang sekarang sudah dihabiskan olehnya," jawab Jongin sambil melirik ke arah ruang tamu dimana kakak laki-laki tertuanya itu memang sedang asik melahap cemilan miliknya yang sudah mulai menipis karena hampir tiap jam, ia dan Chanyeol akan memakannya sambil menonton televisi. "Ada apa memangnya, Kyung?"
"M-mau menemaniku ke Coffeecation?"
Dan tentu tidak ada pilihan untuk menjawab tidak bagi Jongin jika itu adalah Kyungsoo. Maka dengan segala keyakinannya, Jongin pun menjawab...
"Dia masih ada jadwal menemaniku, Kyung. Bisakah—"
"HYUNG! KAU MENGACAU! PERGILAH!" Jongin mengumpat pada Chanyeol yang baru saja berteriak disampingnya berusaha agar lawan bicara Jongin di telepon mendengarnya. "Maaf, jangan dengarkan—"
"A-apa kau sibuk? Kalau kau sibuk, a-aku tidak akan mengganggumu."
Dan Jongin pun akhirnya meminta ijin satu menit untuk meng hold sambungan telepon Kyungsoo hanya demi menghujani Chanyeol dengan pukulan tidak main-main di seluruh tubuhnya yang diakhiri dengan tendangan sekuat tenaga di pantat Chanyeol diiringi teriakannya. "JANGAN MENGACAUKAN HIDUPKU PARK CHANYEOL! ATAU ORGAN PENTINGMU AKAN BENAR-BENAR BERPINDAH KE PERUTKU!"
Dan tepat satu menit, Jongin kembali menyambungkan suaranya dengan Kyungsoo. "Hai. Tidak lama, kan? Kau masih disana?"
Jongin mendengar deheman Kyungsoo sekilas. "Apa yang terjadi barusan, Jong?"
"Hanya memberi pelajaran pada Chanyeol hyung. Jadi apa tawaranmu masih berlaku? Jika ya, aku akan segera mengganti bajuku dan menghampiri rumah Nenek." Putus Jongin sambil membuka lemari pakaiannya dan mulai memilih pakaian terbaiknya.
"Tidak perlu. Kita bertemu langsung saja disana, bagaimana?"
Jongin mengangguk paham walau ia tahu Kyungsoo tak akan melihatnya. "Apa hanya kita atau ada Baekhyun? Jika dia datang, aku akan mengajak Chanyeol."
Bisa Jongin dengar sayup-sayup dari seberang sana, ada suara tawa menyedihkan yang terekam telinganya sebelum jawaban Kyungsoo membuatnya sedikit tenang. "Eonnie sedang bosan jalan-jalan. Katanya ingin menonton drama saja bersama Nenek."
"Kalau begitu lima belas menit lagi aku akan ada disana. Di meja 13?" tanya Jongin memastikan sambil mengambil sebuah turtleneck hitam dari lemarinya Dan dengan sebuah ya yang singkat, sambungan telepon itu terputus. Jongin akhirnya kembali berkutat dengan outfit of the daynya lagi dan memutuskan bahwa ia akan mengenakan turtleneck saja dan celana kesayangannya serta mantel abu-abunya. Musim dingin yang masih mendera Seoul membuatnya harus sering-sering menjaga mantelnya agar tetap nyaman untuk dipakai.
"Kau jadi berkencan dengan Kyungsoo?" kepala Chanyeol tiba-tiba muncul dari celah pintu kamar Jongin yang baru saja dibukanya pelan-pelan. Dan bukannya jawaban yang pemuda itu dapat, melainkan lemparan baju.
"Ya!"
"Kan sudah kubilang untuk tidak menggangguku ketika aku sedang bersama Kyungsoo!"
"Tapi kan kau tadi tidak bersama Kyungsoo,"
"TAPI KAN DIA MENELEPONKU, HYUNG!" Jongin terkadang berpikir untuk mengubah majornya menjadi spesialis saraf untuk bisa mencari cara mencerdaskan kakak laki-lakinya ini untuk selamanya.
Chanyeol memberikan tawa puasnya pada Jongin seraya melemparkan sebuah mantel abu-abu ke kasur Jongin. "Pakai mantelku, diluar sangat dingin." Pesannya.
"Aku kan sudah punya," balas Jongin singkat sambil memakai bajunya. "Eh... masih di laundry, ya?" dan ia baru ingat bahwa mantel abu-abunya memang masih ada di dalam laundry. Lalu akhirnya ia pun mengambil mantel pinjaman dari Chanyeol dan memakainya.
"Otak cerdasmu itu kadang membal jika kau sedang jatuh cinta, makanya, hati-hatilah membuat keputusan ketika kau sedang jatuh cinta."
Jongin tidak tahu apa cemilan miliknya sudah membantu hyungnya untuk jadi lebih bijak atau bagaimana, tapi yang jelas untuk kali ini, kata-kata Chanyeol perlu ia catat.
"Baiklah, akan kucatat di sticky nanti. Aku pergi dulu, hyung. Jaga rumah baik-baik, kabari aku jika kau perlu apa-apa," pesan Jongin sebelum ia benar-benar keluar dari apartemennya. "Doakan aku," tutup Jongin sembari memeluk Chanyeol erat lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju cafe tujuannya, Coffeecation.
Dan setibanya di tujuan, setelah melepas mantelnya, Jongin segera menuju kasir dan memesan minuman kesayangannya lalu berlari kecil menuju meja penuh kenangan baginya, meja tiga belas.
Sejak pertama kali duduk di sofa ini hingga detik ini, Jongin masih bisa selalu mengingat bagaimana pertemuan manisnya dengan Kyungsoo terjadi disini. Bagaimana hampir seluruh kata-kata di buku milik Irene itu terwujud langsung tanpa aling-aling di hidupnya. Dan bagaimana sebuah kata sederhana bernama cinta, benar-benar sudah membuat organ pentingnya bertindak diluar normal.
Jongin mungkin baru mengenal Kyungsoo untuk beberapa hari. Tapi ingatan di kepalanya yang beberapa hari ini membaik, akhirnya memberikan jawaban meyakinkan kenapa ia terus bisa merasakan nyaman yang luar biasa ketika menatap kedua mata meneduhkan milik Kyungsoo. Mengapa ia bisa merasa sudah sangat mengenal Kyungsoo padahal baru enam hari lalu mereka bertemu disini saat hujan menyapa Seoul di pagi hari. Dan setelah pulang dari kencannya bersama Chanyeol, Baekhyun dan Kyungsoo beberapa hari lalu, Jongin mengurung diri di kamar untuk memikirkan dengan serius semua kesialan di hidupnya. Dan hasilnya, ia menemukan jawaban atas semua pertanyaannya.
Kecelakaannya.
"Hai,"
Sebuah sapaan merdu yang Jongin rindukan akhirnya kembali mampir setelah sebelumnya ia sudah mendengarnya di telepon.
"Sudah pesan?" tanya Jongin lembut dan gadis cantik yang ia tunggu sejak tadi itu pun mengangguk pelan.
"Mungkin akan datang bersamaan dengan pesananmu,"
Jongin mengangguk dan menatap Kyungsoo lagi. "Ada apa, Kyung? Apa kau ada masalah? Wajahmu terlihat murung sejak kemarin. Apa ini masalah—"
"Aku menyukaimu,"
"—Ba—tunggu. Kau bilang apa barusan?" Jongin mengutuk sikap cerewetnya yang muncul di saat tidak tepat begini. Ia bisa kehilangan pengakuan presticious dari Kyungsoo hanya karena ia tidak sabaran.
"Jongin, aku menyayangimu," lirih Kyungsoo sambil mulai menundukkan kepalanya dan meremas ujung sweater hitam dengan garis birunya itu.
Dan Jongin pun merasa seperti baru saja terlahir kembali dengan pengakuan singkat Kyungsoo. Kyungsoo menyayanginya. Ya, berkali-kali Jongin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ucapan Kyungsoo tadi memang tidak main-main sampai—
"Atas nama Jongin! Atas nama Kyungsoo!"
—panggilan sialan ini harus menginterupsi mereka.
"Aku akan mengambilnya sebentar." Pamit Jongin yang dengan cepat kembali ke mejanya lagi dengan dua cup minuman di tangannya. Satu ice cappucino dan satu ice latte.
Setelah meletakkan kedua minuman itu di meja, Jongin mendekatkan sofanya ke meja dan mencondongkan badannya menuju Kyungsoo lalu menggenggam lembut kedua tangan Kyungsoo yang masih menggenggam ujung sweaternya sendiri.
"Apa Chanyeol hyung mengatakan sesuatu padamu?" tanya Jongin lagi memastikan.
Kyungsoo menggeleng pelan sambil berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh. "Eonnie,"
Dan dengan satu jawaban Kyungsoo, Jongin semakin bisa menyambungkan seluruh benang putus yang ada di hidupnya itu.
"Jadi Baekhyun menceritakan semuanya? Dia tahu dari Chanyeol?"
Lagi-lagi hanya anggukan yang Jongin dapat dari Kyungsoo, dan ketika gadis cantik itu mendongak dengan wajah penuh air mata yang siap tumpah kapanpun, Jongin segera mendekap Kyungsoo dengan erat dan membiarkan bajunya basah oleh air mata Kyungsoo.
"Sudah tenang?"
Jongin menunggu anggukan Kyungsoo dan ketika ia mendapatkannya, ia segera melepas pelan pelukannya lalu mengusap air mata yang masih mengalir di kedua pipi gembul itu lalu mengecup keduanya dengan lembut.
"Jongin mianhaeyo. A-aku..."
Jongin meletakkan jari telunjuk kanannya di bibir Kyungsoo sebagai tanda agar gadis itu menghentikan bicaranya.
"Kesalahan ada di aku. Akulah penyebab ingatan tentangmu menghilang dari kepalaku. Aku sendiri yang dengan bodohnya membiarkan semua kenangan itu jadi abu-abu di kepalaku," tutur Jongin lembut sambil sesekali kembali mengusap pipi Kyungsoo.
"Aku sendiri yang dengan bodohnya memaksa mengendarai motor sial itu untuk menemuimu yang mana pada saat itu aku belum mahir menggunakannya. Jika aku menurunkan sedikit egoku dan meminta uang pada hyung untuk naik taksi, mungkin kita tidak akan pernah bertemu sebagai orang asing disini." Tambahnya sembari tetap menenangkan Kyungsoo di pelukannya lagi.
"Tapi, Jongin, enam bulan bukan waktu yang singkat." Cicit Kyungsoo. Jongin tersenyum kecil sambil tetap tidak menjauhkan kepala Kyungsoo dari dadanya.
"Memang bukan. Tapi berkat hari itu, aku bisa duduk disini menyandang status sebagai seorang spesialis yang sedang memeluk gadis cantik dari masa lalunya yang sempat terlupakan karena kecelakaan sialan itu," balas Jongin lagi. "Sudahlah, jangan menangis lagi, Kyung."
Tepat enam tahun lalu ketika Jongin masih menempuh pendidikan menengah atas tingkat pertamanya di Paris, Prancis, Jongin mengalami sebuah kecelakaan fatal yang entah bagaimana bisa membuatnya kehilangan sebagian ingatannya.
Enam tahun lalu, Jongin bertemu dengan seorang gadis cantik yang merupakan anak dari pembeli permen jualannya. Mulai dari pertemuan pertamanya itu, Jongin jadi lebih giat menjual permen dengan berbagai rasa agar ia bisa menarik perhatian sang gadis dan syukur ia bisa menarik perhatian keluarganya. Tapi usaha Jongin tidak terlalu membuahkan hasil hingga suatu hari, ketika baru pulang dari berjualan, Jongin yang sedang berjalan kaki pun menghentikan langkahnya tepat di depan sebuah gereja tua. Dari pelatarannya saja, Jongin bisa mendengar sayup-sayup merdu suara seorang gadis yang sedang menyanyi dengan indah. Dan ketika tangan usil Jongin membuka pintu gereja itu, kedua manik tajamnya bertemu pandang untuk kesekian kali dengan mata bulat itu. Tapi kali ini entah setan apa yang merasukinya, tubuhnya tiba-tiba menari dengan indahnya seirama dengan nyanyian sang gadis. Hingga akhirnya gadis itu selesai bernyanyi, Jongin pun berhenti meliukkan tubuhnya macam ballerino. Dan tanpa ia duga, gerakan tubuhnya yang accidental tadi mengundang harapannya untuk jadi nyata. Ia bisa mendapat perhatian penuh dari sang gadis dan juga keluarganya.
Sejak hari itu, hampir setiap hari selama satu bulan penuh di musim liburan itu, Jongin dan gadis cantik itu melakukan show kecil di depan gereja. Jongin menari, dan gadis itu akan menyanyi sesuai dentuman piano dari ayahnya. Hal itu terus berlangsung dan menimbulkan gejolak lain di hati remaja milik Jongin. Sadar bahwa ia memiliki sebuah perasaan khusus untuk partnernya, Jongin memilih untuk menundanya hingga waktu yang tepat. Tapi hingga hari ke-dua puluh enam dimana gadis cantik itu ternyata harus pulang lebih awal dari jadwal karena Neneknya masuk rumah sakit pun, Jongin masih memendamnya. Sampai akhirnya ketika ia sedang didepan gereja menunggu gadis cantik itu datang, seorang Pendeta yang ia kenal menghampirinya dan memberinya kabar bahwa hari itu gadis cantiknya akan pergi dari Paris untuk mengunjungi Neneknya. Dan setelahnya, Jongin menemukan dirinya berada di atas sepeda motor milik sang Pendeta menuju bandara dimana ia belum sekalipun pernah mengendarai motor yang akhirnya membawanya pada kenyataan pahit bahwa kegugupannya saat mengendarai kendaraan roda dua bermesin itu menghantarkannya pada tabrakan beruntun yang kabarnya sampai menghilangkan nyawa seorang bayi dalam kandungan seorang ibu muda.
Di bandara, gadis cantik itu dengan gugup dan penuh harap menunggu kedatangan pemuda yang ia sukai. Tapi hingga panggilan terakhir dari maskapai, sosok yang ia tunggu tak kunjung datang hingga akhirnya ia pun memilih untuk mencoba melupakan sosok itu. Sebaliknya, setelah kecelakaan yang tidak diharapkan itu, Jongin menemukan dirinya terbangun dalam keadaan penuh luka memar di bagian wajah, tangan dan kaki tepat enam bulan setelah kecelakaan terjadi. Bagian terburuknya adalah, ia kehilangan sebagian memorinya, dimana salah satunya adalah memori terbaik yang pernah Jongin miliki dalam hidupnya. Yakni bagian dimana pertama kali jantungnya memberi sinyal pada dirinya sendiri bahwa gadis cantik yang jadi rekan menarinya adalah seseorang yang punya arti khusus dalam hidupnya. Tapi karena ia tak bisa sekalipun mengingat semuanya, maka jadilah ia hidup dengan bayang-bayang kenangan indah di Paris tanpa pernah tahu siapa sosok yang sudah membuat kenangan indah itu bersamanya hingga enam tahun kemudian.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku ini Kai?"
"Karena aku ingat, bahwa aku hanya pernah merasakan jantungku berdetak begitu berbeda dari biasanya ketika aku bertemu dan bersama denganmu. Makanya ketika kita bertemu disini enam hari lalu dan aku merasakan hal yang sama, aku langsung mengingat sosok Kai. Dan ternyata, itu memang benar kau, Jongin." cerita Kyungsoo seraya kembali memeluk Jongin erat.
Ya, sejak kecil, Jongin memang selalu mempromosikan nama panggilannya sebagai Kai. Baru setelah kecelakaan yang membuatnya harus mangkir enam bulan dari kehidupan nyata itulah, nama panggilannya kembali jadi Jongin.
"Rupanya punya hyung seperti Chanyeol ada untungnya, ya?" canda Jongin.
Lelaki dua puluh tiga tahun itu adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki dan berkat kerja kerasnya pula, Jongin bisa menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dan bekerja di Hyundai Hospital. Kedua orang tua Jongin dan juga Chanyeol meninggal dalam musibah kecelakaan mobil saat Jongin dua belas tahun di London. Setelahnya, ia tinggal bersama Chanyeol yang saat itu masih menempuh pendidikan seni di Paris. Jadilah ia menghabiskan masa remajanya sebagai seorang Français. Setelah kecelakaan yang menimpanya, Chanyeol pun memutuskan untuk pindah menuju kampung halamannya di Arizona dan membawa Jongin juga bersamanya hingga ia menyelesaikan masa sekolah menengah atasnya dan membiarkan Jongin hidup mandiri di Seoul setelah adik kesayangannya itu memilih University of Seoul sebagai tujuannya.
"Jangan pergi lagi, Kyung." Pinta Jongin dengan lirih. "Saranghae, jeongmal neomu saranghae, Do Kyungsoo."
Jongin lega akhirnya setelah enam tahun perasaan itu ia pendam jauh di dalam hatinya bersama ingatannya yang tak kunjung membaik sebelum Chanyeol membantunya itu bisa terucap juga untuk Kyungsoo. Ternyata seluruh perasaan nyamannya selama ini berarti sesuatu; kenangannya bersama Kyungsoo enam tahun lalu, sebelum semua ingatannya tentang Kyungsoo hilang begitu saja dari otaknya.
"Tapi adikku harus kembali ke Colorado, Jongin."
Dan momen romantis itu pun lagi-lagi harus terinterupsi oleh adanya duo berisik ini.
"Baek?"
"Ya! Kau melupakanku?"
Dan Jongin pun sukses menjatuhkan air matanya bersamaan dengan pelukan paling eratnya yang ia berikan pada Chanyeol. "Terima kasih, hyung. Jeongmal gomawo untuk semuanya. Aku benar-benar menyayangimu,"
Chanyeol yang biasanya selalu punya candaan untuk membuatnya tetap tertawa bahagia, kali ini larut dalam haru yang tercipta. Ia pun balas memeluk Jongin dengan erat dan mengangguk pelan sebagai jawaban atas ucapan Jongin. Sepeninggal orang tuanya dan orang tua Jongin, ia adalah satu-satunya yang punya hak besar dan punya tanggungjawab besar atas Jongin. Karenanya ia selalu mati-matian bekerja agar cukup uang terkumpul demi adiknya, Jongin.
"Aku lebih menyayangimu. Jaga Kyungsoo baik-baik. Jangan pernah sekalipun kau membiarkannya jatuh sendirian, Jongin. Karena aku tahu betul bagaimana rasanya terpuruk sendirian," lirih Chanyeol sembari menepuk-nepuk punggung Jongin dan kemudian melepaskan pelukannya.
"Jadi, apa akhirnya kau dan Jongin sudah pacaran, Kyung?" dan pertanyaan bodoh Chanyeol dengan sukses membuahkan cekikan main-main dari Jongin.
"Kau baru saja menghancurkan momennya, Bodoh!" pekiknya tertahan yang diikuti tawa lepas dari Baekhyun dan Kyungsoo. "Saranghae, Do Kyungsoo." Ucap Jongin pada Kyungsoo tanpa suara. Dan dalam metode yang sama, Kyungsoo pun membalas.
"I love you most, Kim Jongin."
.
.
.
Hari ini Jongin mendapati dirinya sedang kembali bersantai di sebuah toko buku yang sekaligus juga toko musik. Dengan hanya memakai sweater V-neck warna abu-abu, dan celana kain warna biru gelap, Jongin sedikit banyak menghipnotis beberapa pengunjung toko ini dengan karisma dan wajah tampannya yang kini sudah benar-benar bebas dari kumis dan jambang. Tapi walau ia menghipnotis banyak pengunjung, nyatanya hanya satu dari sekian banyak pengunjung toko ini yang berhasil membuatnya terhipnotis. Dan itu adalah—
"Apalagi ini owl?" tanya Jongin cepat ketika sebuah headset menutupi kedua telinganya tiba-tiba.
"Dengarkan saja, Bawel."
—Kyungsoo.
Jongin memilih menuruti perkataan gadis bermata bulat yang kini sudah menyandang status baru sebagai kekasihnya itu sejak enam bulan lalu. Hari ini, Jongin meluangkan jadwalnya untuk terbang ke Amerika dan melanjutkan perjalanannya ke Colorado hanya untuk menemui Kyungsoo, gadis yang selalu jadi poin utama fokus kepalanya.
Sayup-sayup di dalam kepalanya, terdengar alunan lagu dari headset yang mengalir memasuki gendang telinganya. Dan Jongin mulai ikut bernyanyi walau dengan lirih.
"I may seem strong, I may be smiling. But there are many times when I'm alone."
Kyungsoo tersenyum kecil ketika telinganya mendengar Jongin menyanyikan salah satu lagu kesukaannya dari boyband asal Korea yang sedang famous itu. Dan tanpa sadar, ia pun ikut menyanyi bersama Jongin.
"I may seem like I don't have any worries. But I have a lot to say,"
Dan detik selanjutnya, dua sejoli penuh aura merah muda itu pun saling menoleh dan saling menatap dalam kedua obsidian lawan bicaranya sambil terus bernyanyi bersama.
"The moment I first saw you, I was so attracted to you. I didn't weigh out my thoughts and just talked,"
Jongin melepas headsetnya dan mengusak surai coklat sebahu milik Kyungsoo lalu setelahnya ia pun menarik Kyungsoo ke dalam pelukannya dan memberinya pelukan erat yang menenangkan.
Tiap detik yang terlewati bersama Kyungsoo, Jongin berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin. Karena kecelakaan yang ia alami enam tahun lalu, ia harus kehilangan ingatan berharganya tentang Kyungsoo. Dan sejak ia mulai bisa kembali mengingat semuanya, Jongin sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan pernah lagi menyianyiakan kesempatan apapun yang datang kepadanya yang berhubungan dengan Kyungsoo.
Apalagi, ia pernah satu kali lepas fokus dari Kyungsoo barang lima menit dan tiba-tiba ia sudah menemukan Kyungsoo berbaring di rerumputan dalam keadaan tidak sadarkan diri. Kejadian yang terjadi sekitar tiga bulan lalu ketika Kyungsoo mengunjungi Jongin di Seoul ini membuatnya semakin meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia harus selalu melindungi Kyungsoo dan tidak sedikitpun melepas fokusnya pada Kyungsoo.
"You don't know how much I love you, do you?" bisik Jongin pada Kyungsoo sambil merangkulnya dan mengiringinya berjalan menuju kasir dengan sebuah keranjang belanja berisi beberapa CD Album EXODUS milik salah satu boyband asal Seoul favorit Kyungsoo dan beberapa sticky notes baru untuk Jongin.
Ya, Jongin masih sangat bergantung dengan kertas tempel warna-warni itu. Bahkan sejak kehadiran Kyungsoo, tingkat kecintaannya pada sticky notes pun bertambah. Karena kini di kamarnya, tak hanya susunan agenda harian yang tertulis dengan tulisan yang lebih bisa dibaca daripada tulisan miliknya, tapi juga tulisan-tulisan romansa seperti ungkapan 'I Love You, Kim Jongin!' lalu 'Fighting! I will always be with you!' dan berbagai ungkapan penuh sayang dari Kyungsoo untuk Jongin serta banyak juga pesan-pesan Kyungsoo untuk Jongin seperti agar lelaki kesayangannya itu tidak lupa makan, tidak melupakannya dan tidak berhenti mencintainya.
"I do know it, Kim Jongin." balas Kyungsoo seraya menyunggingkan senyumnya pada Jongin sebelum ia membuka dompetnya yang tiba-tiba jatuh dari tangannya itu.
"Careful, baby." Ingat Jongin.
Dua sejoli ini kemudian segera keluar dari toko tersebut dan melanjutkan perjalanan mereka mencari sebuah cafe untuk membantu mereka melepas rasa lapar mereka.
"Kesana saja, ya?" tunjuk Kyungsoo pada sebuah restauran kecil berkonsep makanan Prancis.
"Ada yang merindukan Paris, hm?" tebak Jongin yang dihadiahi anggukan Kyungsoo.
"Mengulang kenangan masa lalu tidak salah, kan?"
Jongin tertawa kecil lalu segera menggamit lengan kekasihnya menuju restauran tersebut. Aroma pastry yang menggoda langsung menyapa penciuman Jongin dan Kyungsoo sesaat setelah pemuda jangkung itu mendorong pintu masuk restauran itu. Ornamen-ornamen kecil bernuansa Paris terlihat bertengger di beberapa sudut restauran, dengan perpaduan warna putih, dan biru gelap serta beberapa coretan warna coklat gelap di sudut-sudut ruangan, restauran ini mulai mendapat perhatian Jongin.
"Bonjour! Puis-je vous aider, monsieur?"—Welcome! Can I help you, Sir?
Jongin tersenyum kecil saat ia mendengar sapaan ala Prancis lagi. Sejak Baekhyun sudah mulai bisa lancar berbahasa Korea berkat kerja keras Chanyeol yang baru satu bulan lalu memutuskan hubungannya dengan Dara itu, Jongin jadi jarang menggunakan bahasa Napoleon Bonaparte lagi.
"Puis-je commander quelque chose de délicieux ici?"—Can I order something delicious here?
Sang pelayan pun mengangguk dan mempersilahkan Kyungsoo serta Jongin untuk duduk di meja yang tersedia dan seperti sudah tersetting, keduanya tanpa koordinasi pun segera duduk di meja nomor tiga belas; meja kenangan mereka.
"Your menu, Sir." Sahut sang pelayan sambil menyodorkan dua buah buku menu pada Jongin dan Kyungsoo.
"We will call you again when our orders are decided," ujar Kyungsoo yang diangguki oleh Jongin dan sang pelayan itu pun segera undur diri.
"Kau mau makan apa, Sayang?" tanya Jongin pada Kyungsoo yang kelihatan sedikit bingung itu.
"Aku sudah lupa bagaimana rasa masakan Prancis, Jongie."
Dan Jongin pun tak bisa menahan gelinya saat itu juga. "Lalu kenapa kau mengajakku kemari, hm?"
"Kukira hanya dekorasinya saja yang berbau Prancis, ternyata makanannya juga. Aku belum pernah datang kemari sebelumnya, jadi aku tidak tahu."
Jongin mengangguk paham lalu segera melihat menu restauran ini sekali lagi dan berusaha memilih makanan yang kira-kira akan Kyungsoo sukai.
"Kau suka beef, kan? Kalau begitu pesan, Boeuf Bourgignon saja bagaimana?"
Kyungsoo mengangguk pasrah. "Apa saja deh, Jongie."
Dan kemudian, Jongin pun memanggil pelayan yang tadi memberikan menu padanya.
"One Boeuf Bourgignon, one Coq Au Vin. And give me your best wine," tutup Jongin. Senyuman penuh arti dari Jongin pada pelayan itu pun akhirnya jadi penutup sesi pesan memesan makanan ini.
"Jadi apa yang akan kita bahas kali ini? Tentang cerita cinta kita lagi atau bagaimana?" goda Jongin sembari memasang celemek makannya di pahanya.
Kyungsoo tertawa kecil lalu menatap Jongin dengan tenang. Setiap detik yang ia lalui bersama Jongin sejak mereka mulai kembali menjalin hubungan dan dengan status yang lebih jelas, Kyungsoo ingin semua berlalu dengan baik-baik saja dan dengan indah-indah saja. Ia tidak ingin hal sekecil atau bahkan hal sebesar apapun menjadi alasan perpisahannya dengan Jongin. Ia ingin selamanya bisa berada di samping lelaki itu, ada di pelukannya ketika mereka sama-sama pertama kali membuka mata di pagi hari dan jadi yang terakhir bagi Jongin sebelum pemuda tampan itu menutup mata di malam hari.
Kyungsoo begitu menyayangi Jongin dan tidak ingin sekalipun berpisah darinya. Sempat kehilangan Jongin untuk beberapa waktu nampaknya membuat Kyungsoo semakin paham betapa besar arti kehadiran Jongin di sisinya. Bahkan dengan sebuah senyum tipis Jongin pun, Kyungsoo bisa memastikan harinya pasti berlalu dengan baik-baik saja.
"Bagaimana jika berkhayal tentang masa depan?" balas Kyungsoo.
Jongin mengernyitkan dahinya sejenak. "Kenapa harus berkhayal? Bukankah sudah satu hal yang pasti bahwa aku akan melamarmu suatu hari nanti setelah kau menyelesaikan studimu dan kau siap untuk ku nikahi?"
Kyungsoo lagi-lagi menyimpan nyeri yang muncul di dadanya dan memilih menampilkan tawa terbaiknya di hadapan Jongin. Ia punya alasan khusus yang menurutnya sangat kuat kenapa ia mengatakan bahwa ia ingin mengkhayalkan masa depannya bersama Jongin. Ia menyimpan rapat-rapat sebuah rahasia yang tak seorangpun ketahui dan itulah alasan kenapa Kyungsoo sangat ingin bisa menyusun masa depan khayalannya bersama orang yang sangat ia cintai di setiap detakan jantungnya, Kim Jongin.
.
.
.
tbc
Monggo yang minta momen Kaisoonya dibanyakin. Dua scene Kaisoo doang ini. Backsoundnya pasti udah pada denger dan tahu dong, lagu barunya EXO hahaha.
Haha, Chapter selanjutnya mulai masuk masalah ya. Agak lamaan ya? Liburan datang jadi mau refreshing otak dulu.
Terima kasih yang sudah review. Yang belum dibalas, sabar ya? Kadang lupa bales =))
Gak banyak omong deh, mau ucapin ini aja: Happy April Fool's Day!
Sekian, Salam!
KJ-27
