Menatap layar yang ditunjuk oleh salah satu rekannya, manik merah gelapnya yang biasanya tidak tampak antusias ketika harus berhadapan dengan teknologi yang satu itu kini membara oleh determinasi. Sesosok lelaki, tidak lebih tinggi dari 170 cm, berjalan dengan santai, kalau dilihat dari kacamata orang biasa.
Di balik lensa kacamata hitam yang digunakan oleh lelaki di dalam layar, ia bisa melihat maniknya yang berwarna entah apa menatap sekelilingnya penuh waspada. Untuk ukuran seorang 'turis' langkah kakinya terlalu cepat. Bahunya terlalu tegang, dan matanya terlalu waspada.
"Kurasa dia bukan turis," seniornya yang duduk di depan layar sambil berkomentar.
"The hell!" lelaki berambut merah itu mengutuk, "Kalau ia turis tidak mungkin ia bisa mencuri dompet dariku!"
"Bahkan pencopet paling payah di Sisilia bisa mencuri dompetmu, Taiga," seniornya yang lain berkomentar.
"Ap— it-itu kecelakaan! Kecelakaan … Fratello*!" Kagami Taiga, lelaki berambut merah yang kini menatap sekelompok lelaki di yang baru saja masuk ke ruangan penuh layar itu menyanggah.
"Aku tidak peduli itu kecelakaan atau tidak," kali ini salah seorang gadis melangkah santai dari balik kerumunan lelaki berjas itu, tubuhnya boleh lebih pendek dari Kagami Taiga, tapi determinasi dan karisma yang ia pancarkan bisa jadi membuat lelaki yang lebih tinggi dari Kagami Taiga seklipun bertekuk lutut, "Kalau kau tidak mendapatkan dompetmu yang hilang sebulan yang lalu kembali dan membayar tagihan kartu kreditmu yang overlimit," seringai di bibir gadis itu hanya bisa dideskripsikan sebagai seringai haus darah, "Aku akan memberimu misi dan mengatur ulang jadwal latihanmu hingga tiga kali lebih banyak dari yang terakhir."
.
.
La Cosa Nostra is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Arleinne Karale
Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki
An Alternate Universe, lot of typos, possibly out of character story with no actual pairing
Read at your own risk
.
.
Musim semi di Venezia mengundang perhatian banyak turis dari mancanegara, biarpun tidak seramai musim panas. Bau pizza yang baru dipanggang atau bau lasagna yang menguar dari rumah-rumah penduduk membuat perut Kagami bergemuruh minta jatah. Harum cappuccino dari café terdekat seolah mengundang Kagami untuk mampir. Lidah lelaki berambut merah gelap itu nyaris bisa merasakan pahit-manis minuman kesukaannya itu ditambah dengan seporsi tiramisu yang meleleh dimulut.
Suara seruan anak-anak kecil di dekatnya membuat Kagami sadar dari imajinasinya yang terlalu vulgar itu. Sepasang anak kecil berlari melewati Kagami sambil tertawa-tawa sementara di belakangnya rekan-rekannya yang lain mengejar. Ibu paruh baya yang tengah menjemur pakaian yang baru selesai di cuci memperingatkan sekumpulan anak kecil itu untuk berhati-hati karena pagi menjelang siang ini Venezia sangat ramai.
Kagami memandang sekelilingnya, kemudian mendesah kecewa karena target yang ia incar tidak ada disana, "Kode 5, aku tidak menemukannya," mengerang, Kagami mengadu pada seniornya yang bertugas sebagai pemberi petunjuk arah agar Kagami bisa mendapatkan dompetnya kembali.
"Tinggal sedikit lagi, Kagami. Jalan lurus terus lalu kau akan menemukan alun-alun dengan air mancur di tengahnya lalu ada empat cabang jalan yang berbeda," Kagami mengikuti arahan dari Kode 5 dan berjalan hati-hati, berusaha menghindari anak kecil yang berlarian dengan gembira seolah tidak memiliki beban di dunia ini atau ibu-ibu rumah tangga yang membawa jemuran atau makanan di tangan mereka.
"Ambil jalan yang utara lalu kau akan menemukan toko roti dan café berjejer di sana. Berjalan agak sedikit jauh ke dalam maka kau akan menemukannya. Ia terekam kamera di dekat café Barista," sekarang Kagami berlari setelah mendengat arahan lengkap dari seniornya.
Dan benar saja. Berjalan tidak jauh dari café Barsita, ia melihat sesosok lelaki yang tadi ditunjukkan oleh Kode 5 kepadanya melalui layar kamera pengawasnya.
"Hey, kau!" Kagami mengutuk suara tawa anak-anak kecil dan kerumunan yang membuat suaranya teredam. Ia juga mengutuk toko-toko kue dan café-café yang ramai pengunjung sehingga suaranya makin tidak terdengar
"Kau, yang bertopi abu-abu dan berkacamata hitam!" Kagami berusaha memperjelas maksudnya, memperbesar volume suaranya dan sekali lagi memanggil lelaki yang mencuri dompetnya itu.
"Kau! Kau tuli ya!?" kesal, Kagami berteriak berlari mengikuti lelaki mencurigakan itu yang melangkah menjauhinya. Itu artinya, lelaki pencuri dompet Kagami juga menjauhi kerumunan dan Kagami bisa melihat lelaki itu berhenti melangkah dan menoleh ke arahnya.
Lelaki yang mengenakan setelan jas hitam itu membuka kaca mata hitamnya. Manik merah Kagami yang membara karena determinasi bertemu pandang dengan sepasang mata beriris biru pucat, seperti langit di musim dingin.
Lelaki itu menoleh ke kanan dan ke kirinya, berusaha mencari orang yang mungkin dipanggil oleh Kagami. Namun, tidak ada orang di sekitar situ selain dirinya sendiri dan Kagami. Hanya ada beberapa anak kecil yang tengah berlarian sambil tertawa-tawa, sepertinya tengah bermain kejar-tangkap. Pemuda yang juga sekarang sudah melepas topi abu-abunya itu menunjuk dirinya sendiri. Mulutnya terbuka, mengucapkan 'Aku?' tanpa suara.
"Tentu saja, memangnya ada orang lain disini!?" Kagami bertanya, makin kesal. Makin dilihat orang yang mencuri dompetnya itu makin mencurigakan dan menyebalkan. Dan bukannya menanyakan apa keperluan Kagami, lelaki itu malah berbalik dan berjalan lagi. Seolah pertemuannya dengan Kagami selama beberapa detik itu tidak ada apa-apanya.
"Kau!" Kagami yang tidak tahan lagi akhirnya mengeluarkan kata-kata 'mutiara' dari mulutnya, saking kesalnya ia. Memangnya lelaki itu lupa apa yang telah ia lakukan pada Kagami? Hell, Kagami terancam tidak makan disini! Dan seolah menegaskan pikirannya, perut lelaki itu bergemuruh.
"Tolong jangan memaki di depan umum. Banyak anak kecil melihatmu," lelaki berambut biru muda, dengan warna yang mirip seperti selaput pelangi matanya itu berujar dengan tenang. Kagami terdiam dan memandanginya dengan tidak percaya, apa-apaan lelaki ini? Kagami kembali memaki dan kali ini ia melangkah mendekati pelaku pencopet dompetnya itu dengan langkah yang dihentakkan.
"Kau! Kau pasti adalah orang yang menginap di beberapa hotel atas nama diriku dan menggunakan kartu kreditku hingga overlimit, kan!?" Kagami menarik kerah baju lelaki itu dan bertanya langsung pada intinya.
"Siapa?" lelaki itu bertanya, masih dengan wajah datar yang sama, seolah-olah tanpa emosi. Seolah-olah lelaki berambut biru muda ini tidak memiliki emosi.
"Kau, tentu saja!" Kagami menggeram. Jika dibandingkan dengan lelaki yang berada di hadapannya itu, Kagami bagaikan binatang buas yang siap memangsa targetnya.
"Tidak, maksudku, kau siapa? Aku tidak merasa pernah mengenalmu," lelaki bermanik biru muda itu memperjelas pertanyaannya, masih tenang. Masih dengan ekspresi datar yang sama, membuat kesabaran Kagami meledak dibuatnya.
"Aku Kagami Taiga! Dan berhenti memasang ekspresi menyebalkan yang membuatku ingin meninjumu seperti itu! Karena kau menggunakan kartu kreditku hingga overlimit, aku jadi tidak bisa makan, tahu!" omel Kagami sambil mengguncangkan tubuh lelaki yang lebih pendek darinya itu.
"Aku hanya meminjamnya," lelaki berambut biru merogoh sakunya dan mengeluarkan dompet hitam yang Kagami kenali sebagai dompetnya yang hilang sejak sebulan yang lalu, "Ini aku kembalikan."
Kehilangan kata-kata, Kagami hanya berdiri diam sambil memandangi dompet yang sudah di tangannya sementara pelaku pencuri dompet Kagami berjalan dengan santai menjauhi Kagami, "Hei kau!" kesabaran yang sudah habis membuat Kagami memilih menyelesaikan masalahnya dengan kekerasan.
Sejauh yang ia ingat, pistol yang ia bawa sudah ia pasangi dengan silencer, maka Kagami merogoh saku jasnya dan mengeluarkan pistolnya, membidik ke arah lelaki berambut biru muda itu dan menekan pelatuknya. Menyeringai dengan puas setelah membayangkan akan bertambah satu mayat di ruangan mayat rumah sakit setempat.
Namun secepat kilat lelaki berambut biru itu berbalik, melemparkan belati ke arah Kagami dan Kagami berani bersumpah ia mendengar bunyi 'kling' pelan yang menandakan bahwa timah panasnya sudah mendarat dengan indah di atas aspal.
"Tolong jangan menembak di depan umum. Banyak warga sipil melihatmu. Dan tidakkah kau tahu bahwa menembak orang yang baru kau temui itu tidak sopan?" dan Kagami mengamuk, meninju wajah lelaki itu sebelum memukul ulu hatinya hingga ia pingsan.
"Kau pikir kau bisa lolos setelah membuat kartu kreditku overlimit, hah? Aku lapar tahu!"
.
"Anoo, Shinji … sepertinya tidak baik kalau kau terus mencolek pipi lelaki berambut biru muda itu," pelaku pencurian domepat Kagami yang tadi dihajar oleh yang bersangkutan kiti tergolek lemah, diikat di kursi sementara lelaki berjas hitam rekan-rekan Kagami yang lain mengerubunginya seperti sekelompk ilmuwan yang baru saja menemukan spesies baru.
Lelaki berambut biru muda itu bergerak sebelum kelopak matanya berkedip, berusaha menyesuaikan dirinya dengan cahaya yang menyambutnya. Ia berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menatap sekelompok lelaki berjas hitam itu.
"Akhirnyah kauh sadar jugah," Kagami berkomentar dengan mulut yang penuh dengan kue. Lelaki berambut merah gelap itu kemudian mengaduh kesakitan ketika sebuah buku yang digulung bertemu dengan kepalanya.
"Telan dulu makananmu sebelum bicara!" satu-satunya gadis diantara mereka melangkah mendekat ke arah lelaki berambut biru yang sekarang menjadi sandera mereka itu.
"Aku Aida Riko," gadis itu berujar, "Senang melihat wajahmu masih utuh biarpun Kagami sudah memberikan hadiah bogem mentah penuh cinta."
"Ap- Oy! Itu bukan penuh cinta … Sorella**!" Kagami membantah.
"Kuroko … Tetsuya," lelaki berambut biru itu berujar dengan ragu.
"Baiklah Kuroko Tetsuya, kami memiliki masalah disini," Aida Riko memasang wajah serius. Di sekelilingnya, sepuluh orang lelaki mengeluarkan pistol dari saku jas mereka dan membidik ke arah Kuroko yang masih terikat di kursi, "Kau mengambil dompet salah satu anggota keluarga kami dan memakai kartu kreditnya hingga overlimit. Sekadar info untukmu, masalah finansial adalah hal yang tabu untuk dibicarakan disini. Berniat untuk menjelaskan alibimu?"
"Aku baru sampai di Italia kemudian naik taksi untuk menuju hotel lalu supir taksi menitipkan dompet orang itu padaku," Kuroko menjawab dengan tenang.
"Eh …? Jadi kau dan Taiga sudah saling kenal?" Riko melirik lelaki tinggi besar di sampingnya yang menggeleng heboh.
"Aku tidak mengenalnya … Sorella," ujar Kagami sambil memelototi lelaki berambut biru itu, "Kalau aku mengenalnya, buat apa aku menuduhnya sebagai copet? Um … Sorella?"
"Baiklah, baiklah. Jadi kau mendapat dompet Taiga dari supir taksi? Lalu kau memutuskan untuk menggunakannya alih-alih mengembalikannya?" Aida Riko bertanya lagi.
"Di dalam tidak ada tanda pengenal atau foto selain lambang S dan uang serta kartu kredit," Kuroko masih menjawab dengan tenang.
"Lalu apa yang membuatmu memakainya? Kau bilang kau baru sampai di Italia, naik pesawat bukan? Tidak mungkin kau tidak membawa uang kan?" mengangkat sebelah alisnya, penasaran, Riko lanjut mengiterogasi Kuroko Tetsuya.
"Aku kabur dari Jepang, hanya membawa uang yang cukup untuk sampai ke Italia. Aku berencana meminjang uang dari orang Italia," masih dengan wajah datar yang sama dan dengan nada datar yang sama pula serta ketenangan dan pengendalian diri yang luar biasa, Kuroko menjawab.
"Ah begitu," Riko mengangguk mengerti, "Jadi kau adalah pencopet handal?" Riko memiringkan kepalanya, menatap Kuroko.
"Bukan, aku seorang mafia," Kuroko menjawab.
"Ooh, jadi kau adalah mafia," Riko mengangguk, kesepuluh orang lelaki itu pun mengangguk.
"Tuh kan! Aku sudah bilang kalau dia bukan turis kan?" salah seorang dari lelaki berjas hitam itu menyikut rekannya yang lebih tinggi, yang sama-sama berambut hitam. Tapi lelaki yang lebih tinggi, yang memiliki alis yang tebal itu hanya tersenyum sambil mengangguk diam-diam.
"Ahahaha," lelaki yang lain, kali ini berambut cokelat dan dari manik cokelat mudanya yang tampak ceria dan terbuka terpancar kehangatan itu membuka mulutnya, tertawa kecil, "Tak kusangka dia adalah mafia."
"Hee?" kali ini Riko yang membuka mulutnya, "Aku juga sependapat denganmu, Teppei."
"Ooh," lelaki dengan senyuman yang menyerupai kucing yang menggemaskan itu berseru dengan heboh, "Ternyata dia seorang mafia. Ya sudah … selesai kan masalah ini? Aku boleh kembali ke posku lagi kan?" lelaki berambut cokelat nyaris hitam itu bertanya.
"Ya, dan yang lain juga boleh kembali ke posnya masing-masing. Aku akan memberikan laporan ke Junpei mengenai masalah ini dan Taiga, kau harus tetap bayar tagihanmu kalau masih mau makan disini," sebuah seringai agak mengerikan terpeta di bibir Riko.
"Geez, baiklah, baiklah … Sorella."
"…."
Ya, mari silahkan lewat sini, Tuan Gagak. Jangan lupa backsound koak-koaknya ya. Eh, Nona Jangkrik, bukan bagian Anda muncul sekarang! Harap tunggu dan baca naskah dengan tenang di ruang tunggu!
"…tunggu, tadi dia bilang apa?" Riko berhenti di depan pintu sementara rekannya yang lain sudah berjalan menyusuri lorong.
"Taiga bilang dia akan membayar tagihannya," lelaki berambut cokelat dengan manik cokelat muda yang hangat menjawab pertanyaan Riko.
"Bukan, bukan Taiga. Tapi Tetsuya," Riko mengeratkan pegangannya pada kusen daun pintu.
"Dia bilang… dia… adalah… mafia…?"
Dan sepuluh orang lelaki itu berbondong-bondong masuk kembali ke ruangan, mengelilingi Kuroko Tetsuya dengan senjata yang teracung ke arahnya. Dasar Mafioso dengan reaksi yang rada telat!
"Kau dari keluarga mana?" Riko bertanya lagi, kali ini dengan ekspresi yang lebih serius. Ia bisa merasakan sensasi dingin yang tidak wajar menyapa tubuhnya, seiring dengan aliran adrenalin yang menyusuri pembuluh darahnya. Sekali ini, ketika ia menatap Kuroko Tetsuya, ada yang berbeda, yang tadinya terlewatkan oleh dirinya.
"Aku ditugaskan di Jepang," Kuroko menjawab, biarpun bukan jenis jawaban yang diinginkan oleh Riko, tapi Riko cukup mengapresiasikan jawaban dari lelaki itu.
"Apa keahlianmu?" Riko bertanya lagi.
"Belati," kali ini Kagami yang menjawab, "Ettou… tadi dia memotong peluruku dengan belatinya … Sorella," Kagami menambahkan.
"Menarik," Riko mengangguk, "Teppei, Taiga, jaga Tetsuya! Lainnya silahkan kembali ke pos kalian! Aku akan menemui Junpei."
"Hei, memangnya informasinya sudah cukup?" lelaki yang memiliki nama lengkap Kiyoshi Teppei itu bertanya.
Riko tersenyum, "Kau meremehkanku, Teppei?"
.
"Namanya Kuroko Tetsuya, menemukan dompet Taiga dari supir taksi. Persis dengan cerita Taiga yang merasa dompetnya ketinggalan di taksi. Ia adalah Mafioso, sama seperti kita, keluarganya belum diketahui tapi aku punya dugaan. Dia bilang dia ditugaskan di Jepang. Senjatanya adalah belati," membelakangi jendela yang menampakkan halaman belakang mansion yang luas itu, Riko duduk di atas kursi kayu besar yang menjadi tempat bagi Bosnya untuk mengerjakan bertumpuk-tumpuk paperwork setiap harinya.
"Dan dugaanmu …?" lelaki berambut hitam itu menyandarkan tubuhnya di kursinya, melepas kacamatanya dan mengucek-ngucek matanya yang terasa kering setelah nyaris seharian membaca.
"Dia dari Teiko," Riko menjawab, "Kau tahu maksudku? Tidak mungkin dia dari keluarga yang itu, Junpei. Mereka mendapatkan orang dari Jepang bukan mengirim orang ke Jepang."
"Jadi maksudmu dia salah satu dari Kiseki?" Junpei bertanya lagi.
"Bisa jadi, bisa tidak. Kiseki harusnya berjumlah lima orang dan kita tahu siapa kelimanya. Tapi masalahnya, akhir-akhir ini ada rumor yang beredar, yang tidak mengenakkan kalau menurutku," Riko memutar-mutar salah satu pulpen milik Hyuuga Junpei, bosnya di tangannya.
"Tidak ada rumor yang enak di dengar, Riko," Junpei berujar, menyangga dagunya dengan sebelah tangannya sementara tangannya yang lain asyik mengetuk permukaan meja kayunya yang terpelitur.
"Rumornya bahwa anggota Kiseki sebenarnya ada enam," Riko menghela napas berat.
"Jadi maksudmu, Kuroko Tetsuya ini adalah anggota Kiseki yang kabur dari Jepang. Atas dasar …? Apakah kaburnya Kuroko Tetsuya itu keinginannya sendiri? Atau karena dia terdesak?" Junpei menuliskan dugaannya di kertas, berikut hal-hal yang sudah Riko terangkan. Lelaki berambut hitam pendek itu tampak berpikir keras, pun dengan Riko.
"Menurutku … dia kabur karena keinginannya sendiri … Kiseki tidak miskin, kalau kau lupa. Kalau ada anggotanya yang kabur, Kiseki tinggal pasang iklan atau poster buronan dengan iming-iming yang lumayan," Riko akhirnya memecahkan keheningan di ruangan besar itu.
"Secara implisit kau berkata bahwa sebaiknya kita menjadikan Kuroko Tetsuya sebagai anggota famiglia kita," Junpei kembali menghela napas berat.
"Tidak ada salahnya bukan? Dengan tambahan anggota, misi yang kita terima bisa lebih banyak dan uang yang kita dapatkan juga bisa lebih banyak!" Riko melompat dari meja dan berdiri di hadapan bosnya, memberikan lelaki yang tampak lelah itu sebuah senyuman yang luar biasa lebar dan hangat.
"Baiklah," Junpei hanya bisa menghela napas panjang, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak akan apa-apa. Bahwa insting Riko selalu menuntunnya ke pilihan yang lebih baik, "Jangan lupa selalu awasi gerak-geriknya."
"Tentu saja, Junpei! Ah, dan aku berpikir untuk memasukkan dia ke dalam Clubs, kau keberatan?"
"Tidak. Lagipula Shinji sepertinya membutuhkan partner setelah orang macam Taiga masuk ke Spades."
.
"Kau yakin …?" Kiyoshi menatap gadis berambut cokelat di depannya dengan sorot cemas dan tidak yakin, tapi senyuman Riko tidak pudar di bibirnya.
"Tentu saja! Aku sudah mendiskusikan ini dengan Junpei!" Riko menjawab.
"Baiklah … baiklah …" Kiyoshi membuka pintunya dan mempersilakan Riko masuk ke dalam, tempat dimana Kuroko Tetsuya di sandera. Senyuman lebar tidak juga hilang dari wajahnya, dan dengan perlahan ia mendekati Kuroko.
Gadis ia menatap Kuroko dengan manik cokelat susunya sebelum mengeluarkan belati dari sakunya dan memotong tali yang mengikat tubuh Kuroko, membuat Kuroko keheranan yang bertanya-tanya, "… eh…?"
"Selamat datang di Seirin Famiglia, Kuroko Tetsuya! Kodemu adalah Kode 11 dan kau adalah anggota baru dari Clubs. Aku harap kau tidak kabur dan meninggalkan kami seperti kau kabur dan meinggalkan Jepang … karena kalau begitu, aku harus membunuhmu sebagai tanggung jawabku kepada Junpei."
.
.
Essere continuato
.
.
*Fratello: Bahasa Italia untuk kakak laki-laki. Kami tidak memakai senpai (biasanya Kagami memanggil seniornya dengan suffix –senpai) karena rasanya kurang pas.
**Sorella: Bahasa Italia untuk kakak perempuan (digunakan untuk menyebut wanita yang lebih tua).
Dilema Arleinne dan Azureinne :
Aru : "Kembali lagi dengan Aru dan Azu di La Cosa Nostra ini, yey! Ini update chapter kedua dari Aru, penuh dengan cinta dan kata-kata!"
Azu : "Berisik … dan apa-apaan itu ada humor garing diselipin disitu? Ini nggak ada genre humornya, woy!"
Aru : "Aih, Saya nulis berusaha nggak jauh-jauh dari cannonnya, Azu! Kan kadang-kadang tim Seirin emang lemot dan berhumor gitu kan? Kan? Kan? Apalagi pas di NG-Shuu…."
Azu : "Nggak ada hubungannya sama NG-Shuu, tahu!"
Aru : "Di Kurobas Cup 2013 juga banyak momen nggak jelasnya kan…?"
Azu : "Udah sana bales review anon! Oh ya, omong-omong, review anon akan selalu di balas oleh Aru, karena yang review sedikit jadi kami memutuskan untuk mengumpulkan review anon dan dibalas oleh Aru tiap dua chapter sekali."
Aru : "Oke! Pertama untuk Kurokolovers, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mereview dan terima kasih atas pujian tentang idenya Azu. Yup, seperti yang sudah Anda tebak, yang kode angka itu tim Seirin sedangkan yang kode nama dewa-dewa Yunani itu tim *piiiip* seiring dengan berjalannya cerita, kodenya akan terungkap kok~ sekali lagi terima kasih dan jangan lupa mampir lagi!"
Azu : "Emangnya ini rumahmu …?"
Aru : "Kemudian untuk Ruki, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk mereview dan well, selamat datang di cerita tanpa romance ini. Maaf, sebelumnya karena Aru dan Azu belum bisa bikin romance boy X boy jadi nggak ada bumbu romancenya. Aru dan Azu berusaha untuk menyesuaikan cerita dengan cannonnya, seperti yang sudah di bahas diatas jadi… yah… well… silahkan tebak sendiri dan menunggu kelanjutannya di chapter berikutnya. Mampir lagi yah!"
Azu : "Nah, itu untuk reviewer anonim yang mereview chapter satu."
Aru : "Sekarang giliran chapter 1 dan kita ketemu lagi dengan Kurokolovers terima kasih sudah membaca chapter 1 dan mereview lagi. sebelumnya, ada yang mau kami jelaskan disini. Pernah baca twilight saga? Di twilight saga itu prolognya merupakan cuplikan dari adegan klimaksnya cerita yang bersangkutan. Kalo di twilight itu prolognya adalah cuplikan waktu adegan Bella di tangkap James, kalo di New Moon prolognya adalah cuplikan waktu Bella mau menyelamatkan Edward pas Edward mau muncul ke tempat yang ada cahaya mataharinya, dan sebagainya (kalau tidak salah, saya sendiri agak-agak lupa dan bukunya entah dimana). Nah, kami memakai model begitu. Jadi mari kita anggap prolog kemarin adalah semacam spoiler, cuplikan kejadian yang akan terjadi di klimaksnya cerita ini. Kurang lebih begitu. Apakah menjawab semua pertanyaan Anda? Kalau belum, tolong tanyakan lagi yang belum dimengerti, akan kami jelaskan sebisa kami (tanpa memberikan spoiler yang berlebihan karena ntar jadinya nggak seru ._.)
Azu : "Nah, mari kita sudahi pojok Dilemma Azu dan Aru ini sebelum rubrik ini lebih panjang dari ceritanya. Azu akan mendoakan biar tim Seirin datang ke mimpi kalian kalau kalian mereview~."
Aru : "… nggak harus review. Kalau ada kritik, saran, komentar, masukkan, silahkan isi di kolom yang tersedia."
Azu : "… kolom yang tersedia itu maksudnya kolom review kan?"
Aru : "Terima kasih sudah mampir. Datang lagi nanti~."
