Ia berkedip.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali.
Wajahnya yang biasanya hanya menampakkan ekspresi datar tanpa emosi kini dipenuhi dengan rasa heran, dan kebingungan yang sangat.
Senyuman lebar nan ramah dan tatapan menyeramkan gadis berambut cokelat tua pendek di depannya yang terlihat sangat kontras itu tidak membantu proses loading otaknya.
Beberapa menit kemudian berlalu, dan otaknya yang tidak sanggup juga memproses informasi yang baru saja didengarnya hanya dapat memproduksi satu jawaban ambigu.
"... eh ...?"
.
.
La Cosa Nostra is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Azureinne Karale
Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki
An Alternate Universe, lot of typos, possibly out of character story with no actual pairing
Read at your own risk
.
.
Setelah Kuroko Tetsuya membuka matanya untuk menemukan sepuluh pasang mata menatapnya dengan tatapan penasaran bercampur waspada, Kuroko tahu bahwa ia tidak akan dapat melarikan diri lagi.
Setidaknya untuk saat ini.
Otaknya sudah menyusun rencana melarikan diri yang sangat brilian, yang menyangkut ide dimana ia akan membeli tiket pesawat ke pedalaman Afrika atau Papua Nugini. Atau Amazon sekalian. Kemana saja, yang penting jauh dari peradaban.
Namun, dari setiap kemungkinan yang memenuhi otak Kuroko, direkrut oleh famiglia*tidak dikenal ini adalah hal terakhir yang ia pikirkan—tidak, bahkan hal itu tidak pernah terlintas di benak Kuroko sejak ia terbangun dari pingsannya.
Dan ini adalah pertama kalinya Kuroko menemukan sebuah famiglia yang merekrut seorang anggota tanpa terlebih dahulu menginterogasi asal-usulnya. Apakah mereka lupa bahwa Kuroko meminjam dompet anggota mereka dan menghabiskan isinya?—Kuroko rasa tidak.
Kini, berjalan di belakang gadis berambut cokelat pendek yang baru saja mendeklarasikan Kuroko telah resmi masuk ke dalam Seirin Famiglia, Kuroko menatap inchi demi inchi lorong mansion besar yang terletak entah di bagian mana kota Venezia.
Mata birunya tidak pernah melewatkan satu pun detail dari wallpaper berwarna cokelat muda nyaris krem dengan gambar lambang Seirin Famiglia—menurut asumsi Kuroko—bahkan setiap warna yang telah pudar dan wallpaper yang telah terkelupas. Seolah jika Kuroko berbuat demikian, ia dapat menemukan jalan keluar rahasia dibalik wallpaper yang melapisi dinding lorong tersebut.
"Apakah ada yang sedang tidak sibuk?"
Kuroko menoleh ke sumber suara, di depannya. Dan mendapati Riko melongokkan kepalanya ke dalam sebuah ruangan dengan pintu ganda yang terbuka sedikit. Kuroko mengedipkan matanya beberapa kali, menatap punggung Riko di depannya dengan tatapan yang hanya dapat dideksripsikan sebagai heran.
Ini pertama kalinya Kuroko melihat seorang mafioso yang memperlihatkan punggungnya di hadapan mafioso lain yang baru saja ditemuinya. Walaupun mafioso tersebut tidak memiliki senjata, bukan berarti ia tidak menguasai satupun beladiri, bukan? Dan walaupun mafioso terlihat tidak berbahaya, bukan berarti mereka tidak memiliki pikiran licik, bukan?
Apakah Seirin Famiglia memang seperti ini, cepat lengah dan tidak dapat waspada?—Kuroko rasa tidak. Jika mereka selalu bersikap seperti itu, Famiglia ini tidak akan pernah dapat bertahan dan eksis hingga sekarang.
Ataukah ini karena gadis berambut cokelat pendek, yang perannya di dalam Seirin Famiglia belum Kuroko ketahui, sudah mempercayai Kuroko sepenuhnya?
Kuroko menatap punggung Riko Aida yang perlahan melangkah masuk ke dalam ruangan yang tidak dapat Kuroko identifikasi tersebut. Gadis itu berseru dalam bahasa Russia, yang Kuroko tidak ketahui apa artinya dan apa maksudnya.
Pemuda berambut biru pucat itu kemudian ikut melongokkan kepalanya ke dalam sebuah ruangan besar yang dindingnya dilapisi karpet abu-abu yang kedap suara dan lantai keramik yang ditutupi sebuah karpet hitam tebal. Lampu besar yang tergantung di tengah ruangan tidak dinyalakan, namun, ruangan tersebut masih terang-benderang karena cahaya dari banyak monitor besar yang diletakkan di setiap sudut.
Kuroko mengikuti langkah Riko yang berjalan memasuki ruangan asing tersebut sembari mengulangi pertanyaannya, dalam bahasa Italia yang dimengerti Kuroko. Mata biru Kuroko memindai satu-persatu layar yang menampakkan pemandangan yang berbeda-beda.
Salah satu layar, yang paling dekat dengan pintu masuk, menampakkan sebuah peta dunia dengan cahaya kecil yang menyala-nyala dengan warna terang di satu tempat, di gambar benua Eropa, tepatnya Venezia, Italia. Layar di sebelahnya menunjukkan gambar lambang Seirin Famiglia, sedangkan layar terakhir di barisan yang paling dekat dengan pintu menampakkan daftar profil anggota Seirin Famiglia—mengapa Kuroko tahu? Karena 'Anggota Seirin Famiglia' tertulis besar-besar di paling atas.
"Astaga, Izuki! Sudah kubilang nyalakan lampu ketika kalian sedang bekerja!"
Seruan Riko membuat Kuroko mengalihkan perhatiannya dari salah satu layar di tengah ruangan yang menampakkan profil seseorang dengan rambut platina dan mata hijau metalik yang Kuroko yakini pernah ia temui di suatu tempat dan menoleh ke tempat dimana Riko berdiri sembari berkacak pinggang.
"Kami sedang menghemat listrik, Riko. Listrik itu sumber kebahagiaan manusia."
Kuroko berjalan mendekati Riko dan menatap seorang pemuda berambut hitam yang tengah duduk bersila di lantai dan sedang sibuk mengutak-atik sesuatu menyerupai robot kegemukkan berwarna perak dengan sepasang mata bulat besar dan bibir lebar yang membentuk senyum yang mengerikan, bagi Kuroko.
"Sia-sia saja, Izuki. Jika kalian ingin menghemat listrik, setidaknya matikan salah satu dari monitor kalian. Kalian adalah grup dengan tagihan listrik paling besar, tahu."
Pemuda berambut hitam yang dipanggil 'Izuki' tidak berhenti untuk menoleh ke arah Riko sebelum membuka mulutnya untuk menjawab, "Matikan atau tidak matikan, itulah pertanyaannya." Katanya, dengan nada suara seolah ia tidak sadar dengan apa yang meluncur keluar dari bibirnya.
"Aku serius di sini, jadi berhentilah bekerja dan jawab pertanyaanku, Izuki." Riko tersenyum, nampak kontras dengan suara berat nan menyeramkan yang baru saja ia gunakan. Membuat 'Izuki' menghentikan pekerjaannya dan berdiri dalam sekejap sebelum memasang hormat bagaikan seorang tentara yang siap menerima perintah atasannya.
"Apakah ada diantara kau dan Mitobe yang sedang menganggur?" Riko berkata, mengedit pertanyaannya sembari mempertahankan senyuman lebar yang malah terlihat menakutkan bagi orang-orang yang melihatnya.
"Well, seperti yang kau lihat barusan, Riko, aku sudah pasti tidak. Aku baru saja menyelesaikan robot buatanku, dan aku harus mengetesnya. Dan Mitobe sedang mencoba menciptakan senjata baru ... Sepertinya." Pemuda berambut hitam dengan mata yang sama kelamnya tersebut mempertahankan sikap hormatnya. Satu-dua bulir keringat mengalir menuruni pelipisnya, dan Kuroko dapat melihat kedua kaki pemuda itu agak gemetar, entah karena apa.
"Kalau begitu, kau tidak perlu melanjutkan pekerjaanmu." Riko melipat kedua tangannya di depan dada dan mengangguk sekali, seolah memerintahkan 'Izuki' agar menegakkan tubuhnya dan berhenti memberi hormat kepadanya.
Dan 'Izuki' menurutinya. Pemuda berkulit pucat—yang sungguh terlihat seolah ia tidak pernah keluar dan mengenal apa itu cahaya matahari dan indahnya langit biru di luar sana—itu menaikkan sebelah alisnya, nampak heran dengan perintahRiko, "Siapa yang memberi izin itu?"
"Kau kuizinkan." Riko menjawab dengan nada penuh percaya diri, "Toh, Junpeo tidak akan keberatan. Tetapi kau harus sudah menyelesaikan robot itu besok." Lanjut Riko lagi. Sebuah senyuman lebar kembali terbentuk di wajahnya yang cantik, namun kali ini, senyuman itu seolah berkata 'Jika-kau-tidak-turuti-kata-kataku-kau-tidak-akan-pernah-melihat-cahaya-matahari-selamanya'.
Riko berbalik dan menepuk bahu Kuroko sekali sebelum melangkah keluar dari ruangan tersebut, langkah kakinya yang pasti bergema di lorong yang kosong, meninggalkan Kuroko dan 'Izuki' yang terdiam dan menatap punggungnya yang semakin menjauh.
"Jadi kau Kuroko Tetsuya? Orang yang menghabiskan isi dompet Taiga?"
Kuroko mengangguk menanggapi pertanyaan Izuki, wajahnya masih bersih tanpa ekspresi, dan matanya masih kosong tanpa emosi, nampak tidak tersinggung dengan pertanyaan 'Izuki' yang agak menyinggung. Nampaknya untuk sementara waktu, gelar Kuroko di Seirin Famiglia adalah 'Orang yang menghabiskan isi dompet Taiga'.
"Oke ... Apakah kau tahu barusan Riko menyuruhku melakukan apa?"
.
"Ahahaha, tentu saja, Shun Izuki tidak akan dapat meninggalkan ruangannya!"
Kuroko menatap punggung pemuda berambut cokelat muda yang berjalan di sampingnya dengan tatapan heran, seolah meminta penjelasan tentang maksud tersembunyi yang berada di dalam kata-kata yang baru saja meluncur keluar darinya.
Pemuda bernama 'Izuki' yang ditemui Riko barusan menyuruh Kuroko pergi ke ruangan yang tak jauh dari ruangannya dan berkata bahwa sebaiknya Kuroko meminta bantuan seorang pemuda bernama Kiyoshi Teppei untuk membawanya jalan-jalan di sekitar mansion Seirin Famiglia dan menjelaskan beberapa hal yang perlu dijelaskan di dalam keluarga mafia yang satu ini.
Kuroko tidak tahu mengapa 'Izuki' tidak mau mengantarnya langsung, dan pemuda berambut biru pucat itu berasumsi bahwa 'Izuki' sedang sibuk dengan robot buatannya itu. Namun nampaknya Kiyoshi tidak berpikir begitu.
"Kau tahu—namamu Tetsuya, kan?—Katanya, Izuki itu alergi matahari, jadi ia tidak pernah keluar dari ruangannya. Tetapi itu baru gosip sih. Bahkan sempat beredar berita di kalangan mafia Italia, katanya Izuki adalah spesies vampir, saking jarangnya ia keluar dari ruangannya. Bahkan Mitobe tidak sejarang dirinya."
Mata biru kosong milik Kuroko membesar sedikit, menanyakan pertanyaan bisu yang tidak meluncur keluar dari bibir sang empu.
Tanpa menoleh ke arah pemuda yang lebih muda, Kiyoshi mengangguk sembari terkekeh geli, seolah menanggapi pertanyaan Kuroko yang bahkan tidak diketahui apa. "Kau lihat sendiri, kulit Izuki sangat pucat, bukan? Bisa dibilang karena itulah banyak orang yang mengiranya vampir.
"Baiklah, cukup pembahasan tentang Izuki-nya. Aku yakin Izuki mengirim kau bukan untuk membahas mengapa ia berkulit sangat pucat dan tidak pernah keluar dari ruangan gelap itu, kan?" Kiyoshi merenggangkan kedua tangannya, seolah pembicaraan tentang pemuda berambut hitam yang kini status rasnya tidak diketahui tersebut menguras energinya. "Aku sebenarnya terkejut Junpei dan Riko merekerutmu masuk ke Seirin! Kami sudah jarang merekrut orang lagi sejak generasi kesepuluh Famiglia terbesar di Italia telah muncul dan sejak Teiko mulai berkuasa di sekitar Asia."
Kuroko hanya mengangguk, tidak tahu ingin mengeluarkan tanggapan dan respon seperti apa. Mata birunya menatap Kiyoshi yang berhenti di depan sebuah pintu ganda yang tertutup.
Salah satu alis Kuroko kembali naik. Lagi-lagi. Mereka memperlihatkan punggung mereka kepada orang yang baru saja mereka rekrut masuk ke dalam Famiglia mereka.
Kiyoshi membuka pintu ganda bercat cokelat tua tersebut dan melangkah masuk, "Taiga? Tsucchi? Kalian masih hidup?" Serunya, sembari menoleh ke sana dan kemari sebelum berbelok ke satu arah dan meninggalkan Kuroko yang membeku, berdiri diam dan tak tahu harus melakukan apa di depan pintu ganda tersebut.
Selain menunjukkan punggung mereka dan lengah di hadapan mafioso lain, ternyata anggota Seirin Famiglia cenderung suka meninggalkan tamu mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak teridetifikasikan tanpa mengundang orang itu masuk bersama mereka sembari menyerukan nama rekan mereka.
Mata biru Kuroko kemudian menangkap sebuah ukiran yang berada di permukaan pintu ganda yang baru saja dibuka Kiyoshi. Tidak seperti pintu ganda di dalam sebuah mansion pada umumnya, pintu itu tidak memiliki ukiran yang detail dan dicat hingga mengkilap.
Pintu itu hanya terbuat dari kayu oak dan hanya dipelitur hingga terlihat lebih anggun serta elegan. Gambar yang terukir di atas pintu adalah sebuah lambang spades yang lazim berada di dalam kartu remi, diukir sangat besar hingga jika Kuroko ingin melihat gambar tersebut secara lengkap, Kuroko harus menutup pintu ganda tersebut.
Kuroko memiringkan kepalanya, berpikir. Apakah semua pintu di mansion Seirin memiliki ukiran besar seperti ini? Ia tidak ingat. Apa artinya? Apakah ini semacam kode?
Pemuda berambut biru pucat tersebut ingat ada seseorang di dunia mafia yang menciptakan sebuah kode yang hanya dimengerti oleh dirinya, ia lupa siapa namanya, namun ia tahu bahwa orang itu adalah orang pertama yang menciptakan kode di dunia mafia untuk dirinya sendiri. Mungkin anggota Seirin juga seperti itu, namun mereka menciptakan kode yang hanya dimengerti oleh mereka saja, bukan diri sendiri?
"Ah, Tetsuya! Masuklah!"
Kuroko tersentak, pemuda itu cepat-cepat melangkah masuk, mengikuti suara Kiyoshi yang entah berasal darimana di dalam ruangan tersebut.
Ruangan yang Kuroko masuki itu besar—hampir sama dengan ruangan milik Izuki, namun tanpa lapisan kedap suara yang terpasang di dinding dan karpet cokelat tua alih-alih hitam. Dindingnya tidak dipenuhi monitor yang menyala, melainkan berak-rak buku dalam berbagai macam bahasa. Sebuah jendela besar nampak tepat di hadapan pintu masuk, tirainya yang panjang dan anggun terikat di kanan dan kiri, membiarkan cahaya keemasan matahari menyelinap masuk dan menyinari ruangan yang identik dengan sebuah perpustakaan tersebut.
Puas memindai dan mengamati ruangan tersebut, mata biru Kuroko kembali beralih, nyalang mencoba mencari-cari sosok Kiyoshi yang baru saja menyuruhnya masuk. Ia kemudian menemukan Kiyoshi duduk di salah satu sofa yang berada di sudut, di depannya, nampak seorang pemuda berambut cokelat tua yang tengah membaca dengan serius.
Ragu, Kuroko berjalan mendekati Kiyoshi. "Duduklah!" Kuroko menurutinya. "Sebelum aku memperkenalkan orang ini, sebelumnya aku akan menjelaskan satu-dua hal yang harus kau ketahui di dalam Seirin." Kiyoshi berkata dengan nada ceria.
"Sebenarnya tiga, Teppei. Tentang grup, kode, dan anggota." Pemuda berambut cokelat tua yang duduk di hadapan Kiyoshi berkata. Matanya yang sipit masih memindai kata demi kata ketika ia berujar.
Kiyoshi mengabaikannya dan melanjutkan, "Kau tahu, Seirin Famiglia itu sebenarnya tidak terlalu besar. Namun tidak terlalu kecil juga. Intinya terlalu besar untuk dijadikan satu grup dan terlalu kecil untuk dijadikan banyak tim. Jadi, Seirin terbagi menjadi empat grup. Yang pertama adalah Spades, Clubs, Heart, dan Diamonds.
"Spades adalah grup asassin yang bertugas untuk membunuh, Clubs adalah grup err ... anak buah yang bertugas untuk membersihkan 'sisa-sisa'," Kiyoshi menaikkan kedua tangannya, membuat tanda kutip dengan kedua tangannya, "Kerjaan Spades. Clubs juga menghilangkan barang bukti, dan mengumpulkan informasi, Heart adalah tim medis dan hacker, sedangkan Diamonds adalah grup yang berisi mekanik sekaligus pembuat senjata.
"Di Seirin, terutama untuk bertugas, kami menghindari pemakaian nama, karena hal itu dapat beresiko. Kami menggunakan kode, dan tentu saja kode ini tidak digunakan jika kita berada di dalam mansion. Contohnya, kodeku adalah 7, di dalam misi, kau harus memanggilku kode 7. Apakah kau mengerti sejauh ini, Tetsuya?"
Kuroko mengangguk. Ia ingat Riko pernah berkata kepada dirinya, ketika gadis berambut cokelat tua pendek itu mendeklarasikan masuknya Kuroko ke dalam Seirin Famiglia. Kode Kuroko adalah 11.
"Spades berisi Kagami Taiga, kodenya adalah 10, dan Satoshi Tsuchida, kodenya 9." Kiyoshi menunjuk pemuda berambut cokelat tua yang kini telah menutup bukunya dan tersenyum hangat ke arah Kuroko.
"Senang bertemu denganmu, Tetsuya." Kata Tsuchida, dengan ramah.
"Hearts berisi Hiroshi Fukuda, kodenya 13, Koki Furihara, kodenya 12, dan Koichi Kawahara kodenya 15. Aku yakin mereka seumuran denganmu. Aku akan membawamu bertemu dengan mereka, nanti. Diamonds berisi Shun Izuki, kodenya 5, dan Rinnosuke Mitobe, kodenya 8. Sedangkan Clubs sejauh ini hanya diisi oleh Koganei Shinji, kodenya 6. Tetapi kudengar kau masuk ke dalam Clubs, bukan?"
Kuroko mengangguk. Ia ingat Riko juga pernah berkata demikian.
"Pemimpin Seirin adalah Hyuuga Junpei, dia pemimpin Seirin yang ke-2, dan kodenya adalah 4. Aku adalah tangan kanan Hyuuga," Kuroko menaikkan sebelah alisnya ketika mendengar secercah nada bangga dalam suara Kiyoshi, tetapi ia tidak berkomentar, "Kodeku 7. Dan Riko Aida adalah penasihat pribadi Seirin. Beserta ayahnya sebenarnya. Tetapi ayahnya lebih suka bepergian. Apakah kau memiliki pertanyaan, Tetsuya?"
Kuroko menggeleng. Sistem di dalam Seirin Famiglia jauh lebih mudah daripada sistem di dalam Famiglia-nya yang dulu. Mereka tidak menggunakan kelas-kelas—atau perlukan Kuroko sebut sebagai kasta atau level?—dan mengakui kekuatan setiap individu.
Mungkin Kuroko akan betah di sini. Mungkin sebaiknya ia membatalkan pesanan tiket pesawatnya yang mengarah ke sebuah pulau tak berpenghuni di Benua Oceania.
"Nah, bagaimana jika sekarang aku akan menemanimu menghadap Junpei? Tesmu akan segera dimulai. Kau tidak berpikir masuk ke sini akan semudah membalik telapak tangan, bukan?" Kiyoshi bangun dari duduknya dan tersenyum.
"Dan aku yakin sebagai seorang mafia kau tahu jelas, Tetsuya. Bahwa kegagalan adalah kematian."
.
.
Essere continuato
.
.
*Famiglia: Dalam bahasa Italia artinya Family (keluarga). Istilah yang sering di pakai untuk merujuk pada sebuah keluarga mafia.
Dilema Arleinne dan Azureinne :
Azu : "Azu merasa sangat malu dengan Kiyoshi disini ... Astaga, OOC-nya ..." *nutupin muka pakai kertas koran bekas gorengan*
Aru : "Halo semuanya! Kembali lagi dengan Azu dan Aru di La Cosa Nostra chapter keempat! Yay!" *puter rekaman tepuk tangan dan jeritan fans* "Tolong abaikan saja Azu yang sedang meratapi nasib di sana. Memang pada dasarnya orang berhati lembut dan suka tersenyum seperti Kiyoshi dan seseorang penggila baseball di fandom sebelah akan menjadi jahat di tangan Azu ..."
Azu : "... Tidak usah diperjelas, terima kasih ..."
Aru : "Sama-sama~ Sekarang, akhirnya sistem Seirin sudah jelas, fyuh~ Mungkin akan lebih gampang kalau kita pakai sistem Guardian, ya, Azu?"
Azu : "Well, kebayang sih. Jadi nanti si Hyuuga jadi sky, terus nanti Kiyoshi jadi ... mist?"
Aru : "..."
Azu : "..."
Aru : "Nah, mari kita sudahi pojok Dilemma Azu dan Aru ini sebelum rubrik ini lebih panjang dari ceritanya. Saya akan mendoakan biar Akashi datang ke mimpi kalian kalau kalian mereview~."
Azu : "Omong-omong soal Akashi, inget nggak sih waktu Aru ketawa ngakak sampe peruta sakit gara-gara liat mukanya Akashi?"
Aru : *tiba-tiba pengen ketawa* "Pffft… gara-gara liat tampang lawaknya Akashi itu kan? Pokoknya sekarang kalau liat Akashi jadi pengen ketawa mulu deh… Anyway, Saya akan mendoakan biar Aomine datang ke mimpi kalian kalau kalian mereview~."
Azu : "… nggak harus review. Kalau ada kritik, saran, komentar, masukkan, silahkan isi di kolom yang tersedia."
Aru : "Kayaknya peran kita kebalik?"
Azu : "Ganti suasana. Terima kasih sudah mampir. Datang lagi nanti~."
