Jendela yang terbuka lebar di belakangnya memang mengundang perhatiannya untuk sekadar memandangi luasnya halaman belakang dari Mansion Seirin tempat keluarganya bermukim. Tentu saja hal sesederhana itu tidak bisa ia lakukan, sebab dihadapannya bertumpuk kertas-kertas yang berisi laporan-laporan kerusakan akibat kelakuan rekan-rekannya.
Menghela napas sambil memegangi perutnya yang bergemuruh—salahkan bau lasagna yang menguar dari dapur, yang kebetulan berada di dekat ruangan kerjanya—lelaki berambut hitam pendek itu melepas kacamatanya dan mengucek kedua matanya yang lelah. Sudah dari pagi buta pemimpin Seirin Famiglia itu mengerjakan paperwork bagiannya.
Tidak hanya matanya yang lelah tapi juga kepalanya berdenyut hebat, ditambah dengan kehadiran anggota baru yang direkrut secara sepihak oleh penasihat pribadinya, lelaki berambut biru muda dengan manik senada yang bernama Kuroko Tetsuya dan beberapa saat lagi ia harus memberikan misi yang pas untuk membuat seluruh anggota keluarganya dan dirinya sendiri percaya pada anggota baru itu.
Ketukan di pintu membuat Hyuuga memakai kembali kacamatanya dan kembali (sok) sibuk dengan paperwork yang harus ia baca, periksa, dan ditandatangani.
"Junpei!" tapi sebuah suara membuatnya urat-urat di dahinya bermunculan, seraya meteran tingkat kesabarannya menurun hingga titik dibawah angka nol. Hanya ada satu orang yang kehadirannya membuat kesabaran Hyuuga menghilang dalam sekejap mata.
"Teppei! Apa maumu, hah?! Kau tidak tahu aku sedang sibuk mengurus masalah di misi terakhirmu?" meremas pulpen yang ada di tangannya, Hyuuga melirik Kiyoshi Teppei dengan manik cokelatnya yang tajam bagaikan elang.
"Eh? Oh, masalah restoran yang itu," lelaki tinggi berambut cokelat itu tersenyum, berusaha menghilangkan ketegangan dari Bosnya itu, "Aku hanya bercanda kok. Kau tahu kan aku tidak benar-benar serius mau menikahi seorang wanita? The hell, kerjaanku kan mafia. Masa aku menikah? Harusnya mereka tahu kalau aku cuma bercanda."
Sudah. Cukup sudah. Hyuuga sudah mengucapkan selamat tinggal pada partikel-partikel kesabaran yang tersisa dalam dirinya, "BERCANDA, HAH? SELURUH EKSISTENSIMU DI DUNIA INI ADALAH CANDAAN TAHU! GARA-GARA KAU BERCANDA BEGITU, PEMILIK RESTORAN MINTA GANTI RUGI TIGA KALI LIPAT! KAU PIKIR KITA INI KELUARGA KAYA YANG BANYAK UANG, HAH?!"
"Ahahaha, Junpei! Kau harus belajar lebih dalam lagi soal arti dari sebuah candaan, kau tahu? Kalau kau marah-marah terus begitu, kau cepat tua loh nanti," Kiyoshi berjalan santai ke arah meja kayu besar tempat bosnya menumpuk kertas-kertas tugasnya, "Lagipula, marah-marah di depan anak baru itu tidak baik. Bagaimana kalau dia kabur dan memutuskan untuk menyebarkan berita ke seluruh dunia kalau pemimpin Seirin Famiglia adalah seorang lelaki paruh baya yang suka marah-marah?"
"…aku tidak setua itu…" menghela napas, Hyuuga membenarkan letak kacamatanya, "Selamat datang, Tetsuya. Sebetulnya, aku tidak yakin Orang Besar Hobi Bercanda itu sudah menjelaskan ini kepadamu, tapi aku akan memberimu misi. Semacam ujian masuk Seirin Famiglia."
"Ahahaha, tenang saja Junpei! Aku sudah menjelaskannya kok!" Kiyoshi tersenyum bangga.
"Misimu kali ini bersama dengan Kode 6, Koganei, mengambil dokumen di markas Teiko di Toulouse," mengabaikan Kiyoshi, Hyuuga mengambil sebuah foto dari laci mejanya dan menunjukkan gambar tersebut pada lelaki berambut biru muda itu, "Ini markas Teiko di Toulouse," Hyuuga bisa melihat manik biru muda milik lelaki di hadapannya berkilau karena sebuah pemahaman dan pengenalan terlintas di benaknya, "Menurut Izuki, dokumen tentang keluarga Teiko ada di semua markas Teiko, termasuk di Toulouse ini."
Dan Hyuuga menyeringai begitu ia melihat Kuroko Tetsuya secara tidak sadar mengangguk, membenarkan kalimatnya, "Dan tugasmu adalah menyamar menjadi salah satu anggota Teiko, mengambil dokumennya dan membawanya kembali. Sebetulnya Koganei hanya akan menemanimu sampai di bandara dan ia akan menunggu di bandara. Secara teknis, misi ini kau kerjakan sendiri.
Kau juga harus meletakkan bom di lokasi yang strategis, Izuki bilang kalau bisa bomnya diletakkan di ruang arsip dan ruangan pemimpin markas. Bom ini adalah bom baru buatan Izuki, yang mengandung zat radioaktif. Bom akan di ledakkan oleh Izuki dengan pengendali jarak jauh."
"Lalu, aku harus menyamar jadi siapa?" Kuroko bertanya.
Hyuuga menarik napas seraya menggelengkan kepalanya, "Identitasmu untuk menyamar ke Teiko adalah Kuroko Tetsuya, dengan kode nama Schwarz."
.
.
La Cosa Nostra is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Arleinne Karale
Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki
An Alternate Universe, lot of typos, possibly out of character story with no actual pairing. A little portion of gore in this chapter
Read at your own risk
.
.
"Eh…? Jadi di dunia ini ada dua Tetsuya?" Kiyoshi bertanya sambil memiringkan kepalanya, "Hebat sekali… aku bertanya-tanya, apakah ada dua Kiyoshi Teppei di dunia ini? Atau mungkin ada dua Hyuuga Junpei? Atau bahkan bisa jadi ada dua Aida Riko? Waaah, mungkin ada dua Mitobe, dua Koganei, dua Tsucchi, dua Taiga, dan ada dua—."
"…Teppei, tutup mulutmu sebelum aku melemparmu dengan tumpukan kertas ini!" Hyuuga mengancam. Rahangnya mengeras seiring nada bicaranya yang merendah. Ia sendiri yakin urat-urat pertanda amarah sudah muncul di dahi dan lehernya, "Sebaiknya kau tutup mulutmu kalau masih saya nyawamu itu."
"Ahahaha, Junpei! Kau seram…" Kiyoshi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kembali ke misimu, Tetsuya," Hyuuga mengabaikan 'tangan kanannya' yang sekarang tampak gugup dan sedikit tidak nyaman akibat bentakannya tadi, "Kau dan Koganei akan berangkat ke Toulouse setengah jam lagi, dengan penerbangan sipil kelas ekonomi. Jangan bertanya kenapa kami hanya mampu membelikanmu tiket kelas ekonomi!"
"Dan jangan bertanya darimana aku tahu siapa itu Kuroko Tetsuya karena aku yakin kau tidak mau tahu!" tambah lelaki berambut hitam pendek itu ketika Kuroko Tetsuya membuka mulutnya untuk bertanya.
"Nah, nah, sebaiknya kau temui Koganei sekarang, Tetsuya. Sepertinya Bos kita sedang tidak dalam mood yang baik," bersandar pada bingkai pintu ganda yang terbuka, Aida Riko mengedipkan sebelah matanya ke arah Kuroko Tetsuya, "Dan Teppei! Aku menugaskanmu mengurus 'sesuatu' bukan? Kau lupa, hm? Kalau kau tidak menyelesaikannya tepat waktu, aku akan potong gajimu bulan ini," Riko berujar begitu sambil tersenyum manis, yang membuat Kiyoshi tidak bisa melakukan apa-apa selain menunduk ke arahnya dan pergi dari ruangan Bos mereka. Tetsuya mengikuti di belakangnya.
Samar-sama Riko dan Hyuuga bisa mendengar percakapan keduanya mengenai misi pertama Kuroko dan dimana mereka bisa menemukan Koganei. Sebelum keduanya mendengar lebih banyak, Riko menutup pintu ganda dan berjalan mendekat ke arah bosnya yang sekarang melepas kacamatanya dan memijit pelipisnya.
"Aku percaya kau bilang tadi kau tidak tahu apa-apa tentang Kuroko Tetsuya…?" Riko mendelik sebal ke Hyuuga.
"Beberapa menit setelah kau pergi untuk menemui Tetsuya, Ayahmu datang dan memberiku ini," Hyuuga menunjuk tumpukan kertas di sisi mejanya yang lain. Di lembar paling atas terdapat foto Kuroko Tetsuya dan biodata singkat tentang dirinya, "Ayahmu bilang butuh beberapa waktu untuk mencarinya, tapi ia berhasil menemukan biodata Tetsuya lewat sidik jari yang ditemukan Izuki di dompet Taiga. Beliau lalu mencari kecocokan dan ternyata sidik jari yang cocok ada di database Teiko. Ayahmu dan Mitobe menyusup ke database Teiko dan mencuri ini," terang Hyuuga sambil mengetukkan jarinya di atas tumpukan kertas yang berisi informasi tentang anggota terbaru famiglia mereka.
"Dan kau yakin penyusupan kita tidak terdeteksi karena…?"
"Kau tahu virus buatan Mitobe tidak pernah meninggalkan jejak bukan? Diam dan berbahaya, seperti pembuatnya."
.
Berdiri di depan gerbang besinya yang kokoh dan selalu tertutup membuat Kuroko Tetsuya dibajiri oleh nostalgia. Dulu, ia dan rekannya sering dikirim ke sini untuk mengecek keadaan markas atau untuk memberikan bantuan pada misi sulit yang diterima oleh Markas Teiko di Tolouse itu.
Lelaki berambut biru itu tersenyum samar ketika penjaga gerbang menoleh ke arahnya dan pengenalan terpeta di manik gelapnya. Lelaki berjenggot itu bergegas bangkit dari duduknya dan kedalam pos untuk menekan tombol otomatis yang mengendalikan pintu gerbang besi itu. Tak berapa lama, gerbangnya terbuka. Kuroko pun mempersilakan dirinya masuk ke dalam.
Bau segar rumput yang baru di pangkas menyapa indra penciumannya. Manik biru pucatnya hanya sekilas memandangi halaman Markas Tolouse yang luas, toh ia sering sekali mampir ke sini, dulu. Kuroko masih ingat bagaimana patung wanita di tengah halaman itu mengeluarkan air dari kendi yang ia bawa. Kuroko masih ingat bagaimana cahaya rembulan merefleksikan beningnya air kolam berbentuk lingaran yang seolah menjadi pusat dari halaman Markas Tolouse itu.
Kuroko tidak butuh sambutan, karena memang biasanya seperti itu. Tapi lelaki muda yang usianya tidak lebih dari tiga puluhan itu menunggunya di depan pintu ganda Markas Tolouse, tampak awas dan waspada. Senyuman yang memang tidak pernah bertahan lama di wajah Kuroko kini menghilang.
"Tuan Kuroko," pemimpin Markas Tolouse itu membungkuk singkat ke arahnya, "Kami merasa terhormat atas kunjungan Anda."
"Begitukah?" Kuroko bertanya selagi ia menaiki tangga. Mengabaikan pemimpin Markas Tolouse seutuhnya, Kuroko bergerak ke arah kiri dari pintu ganda, mendekati alat sensor sidik jari dan retina. Melebarkan manik biru pucatnya kemudian menekan jempolnya, Kuroko kemudian mendapatkan haknya untuk masuk ke dalam, "Tidak biasanya kau menyambut tamumu di depan pintu."
"Ada rumor yang beredar, Tuan Kuroko," lelaki itu membuka pintu ganda Markas Tolouse dan sekali lagi Kuroko membiarkan dirinya masuk ke dalam, "Kalau Anda memutuskan untuk meninggalkan Teiko…?" akhir dari spekulasi lelaki itu adalah sebuah pertanyaan.
"Rumor banyak beredar di dunia ini," jawab Kuroko singkat, "Aku ditugaskan untuk mengecek kelengkapan data kalian. Modernisasi sistem penyimpanan data akan dilakukan mulai bulan depan," Kuroko mengabarkan.
"Ah… begitukah? Aku rasa aku juga harus mulai merapikan arsip di kantorku. Sayang sekali aku tidak bisa menemani Anda, Tuan Kuroko. Semoga kerjaan Anda lekas selesai. Aku ada di kantorku kalau Anda memerlukan sesuatu," dan begitu saja lelaki itu pergi ke arah yang berlawan dengan yang dituju oleh Kuroko.
"Perasaanku saja atau kau dan orang itu sangat kaku, eh, Tetsuya? Tidak tahu arti dari 'santai' ya?" Shun Izuki, salah satu rekannya di famiglia barunya berkomentar dari alat komunikasi yang Kuroko pasang di dalam telinganya. Kuroko hanya diam.
Ia melenggang melewati alat pemindai tubuh, tanpa perlu repot-repot masuk melewatinya. Salah satu dari keuntungan menjadi seseorang yang berasal dari Markas Utama adalah, kau tidak perlu melakukan periksa badan atau melewati serangkaian alat pemindai tubuh untuk mengecek apakah ada benda mencurigakan yang datang bersamamu. Menurut Kuroko, dalam dunia mafianya, hal seperti itu masuk ke dalam kategori yang tidak berguna. Karena seorang mafia selalu membawa minimal satu senjata bersamanya, kemanapun ia pergi.
Suara-suara percakapan yang kental dengan aksen Prancis memasuki gendang telinganya, suara tawa yang menggelegar dan juga kikikan pelan terdengar dari arah Ruang Besar. Dan seperti sebelumnya, Kuroko hanya melewatinya, tidak merasa perlu repot-repot untuk mampir ke dalam biarpun dulu biasanya ia masuk ke sana untuk sekadar meminum fruit punch.
Makin dalam Kuroko menyusuri lorong-lorong artistik dari Markas Tolouse, makin samar suara-suara itu terdengar. Langkah kakinya menggema di lorong yang tidak terlalu luas itu. Selagi tangannya memainkan benda kotak berukuran kecil di saku celananya, manik biru pucat fokus menatap jalan di depannya. Hingga akhirnya Kuroko berhenti di depan pintu, yang letaknya di ujung lorong.
"Senior Izuki, kau bisa memodifikasi tampilan kamera pengawas ruang data sekarang," mungkin bagi orang awam, Kuroko seperti bicara sendiri. Tapi ratusan kilometer dari tempatnya berdiri, Shun Izuki dan Mitobe Rinnosuke mendengarnya dengan jelas. Seringai terpeta di bibir lelaki berambut hitam yang memiliki masalah dengan lelucon itu.
"Yosh, aku sudah menunggu dari tadi!" dengan penuh semangat, jemarinya menari di atas keyboard, mengetikkan serangkaian perintah pada komputer yang hanya dimengerti olehnya dan rekannya. Setelah selesai, ia mengamati salah satu dari beberapa puluh layar di hadapannya dan menyeringai begitu hasil yang ia inginkan sudah keluar.
"Kau lihat, Rinnosuke! Kita berhasil!" lelaki berambut hitam dengan alis yang lebih tebal, yang lebih banyak diam dibandingkan bicara tersenyum dan mengangguk penuh semangat.
"Tetsuya, kau bisa masuk sekarang!" perintah yang ia dengar dari Seniornya di Italia membuatnya sedikit kaget. Belum sampai lima menit berlalu dari kode yang ia berikan untuk Seniornya, tapi Seniornya itu sudah berhasil menyelesaikan bagiannya. Maka tanpa ragu, Kuroko membuka pintu dan masuk ke dalam.
Lantai atas Markas Tolouse adalah tempat dimana ruang penjaga bertugas. Seluruh sistem kemanan Markas Tolouse dijalankan dari sana, termasuk tempat khusus untuk mengawasi kamera pengawas yang tersebar di banyak tempat di Markas Tolouse.
"Hei, itu yang dari Markas Utama," salah satu pengawas menunjuk ke arah layar yang menampakkan gambar Kuroko memasuki ruangan data, "Siapa namanya? Tumben sekali dia tidak bersama dengan temannya yang berambut pirang. Apa yang dia lakukan?"
"Tuan Kuroko," rekannya berujar, ikut mengawasi ruang data dari layar, "Dan lelaki berambut pirang yang sering bersama dengan Tuan Kuroko adalah Tuan Kise. Boss bilang Tuan Kuroko memeriksa kelengkapan data karena modernisasi sistem penyimpanan data akan dilakukan bulan depan. Tapi kita disuruh untuk mengawasi dia."
"Hm…? Baiklah," dengan bosan kedua lelaki itu menyeruput kopi mereka dan melahap kue yang tersedia untuk mereka sebelum mengawasi gerak-gerik Kuroko yang tampak sibuk memeriksa halaman demi halaman yang tersimpan dalam map manila di salah satu lemari ruang arsip itu.
Padahal kenyataannya, Kuroko mencari di lemari yang terletak paling belakang dari ruangan itu, tempat dimana data-data penting tersimpan. Membutuhkan authorisasi untuk membukanya, tapi dengan bantuan Mitobe, Kuroko berhasil membuka segelnya dan mulai mencari apa yang ia butuhkan.
Ia butuh informasi lengkap tentang Teiko, yang ditugaskan oleh pemimpinnya yang baru, Hyuuga Junpei. Bukan karena Kuroko kurang informasi tentang Teiko, tapi masih banyak hal yang tersembunyi di balik bayangan tentang Teiko.
Begitu ia menemukan map putih yang bergambarkan lambang Teiko, tanpa buang waktu Kuroko mengambilnya. Ia mencari lagi dan kembali menemukannya. Total ia menemukan lima map dengan lambang Teiko di sampul depan mapnya. Merasa cukup dengan temuannya, Kuroko berdiri.
Tapi kilatan emas menarik perhatiannya. Ketika Kuroko menarik map emas yang menyapa rasa penasarannya, Kuroko bisa melihat lambang salah satu keluarga mafia paling berpengaruh di Italia terlukis di sampil mapnya. Di bagian atasnya dua buah senjata laras panjang saling bersilangan sementara sebuah kerang dengan dua sayap yang direntangnya tergambar di antaranya. Semacam segi enam ada di bawah senapan dan kerang dengan peluru tergambar di tengahnya. Sekelilingnya, sulur-sulur menghiasi dengan artistik.
Kuroko memutuskan untuk membawanya. Siapa tahu akan berguna ke depannya nanti.
Sebelum meninggalkan lemari arsip, Kuroko meletakkan sebuah kotak hitam yang sedari tadi ada di dalam sakunya. Kemudian sembari menyembunyikan hasil curiannya di balik jas, Kuroko berujar pada Seniornya, "Senior Izuki, aku keluar sekarang."
"Hai' hai'," muncul jawaban singkat dari seniornya, tepat setelah Kuroko membenarkan jasnya, "Kau bisa pergi sekarang, Tetsuya."
Kembali menyusuri lorong yang sama, namun kali ini lebih banyak orang-orang yang berpapasan dengannya karena jam makan siang sudah dekat. Kuroko hanya tersenyum kecil ketika ada seseorang yang menyapanya. Sesekali Kuroko balik menyapa ketika ia mengenal nama orang yang bersangkutan. Bau pedas menggelitik hidungnya, membuat lelaki berambut biru muda itu bererapa kali berhenti untuk bersin guna menghilangkan rasa gatal di hidungnya.
Ketika ia melewati Ruang besar, bau khas vanilla dan stroberi menyapa indra penciumannya, membuat kerongkongannya yang kering semakin menjadi. Berfokus pada tugas di tangannya, Kuroko berhasil menghindari sapaan maut dari es krim dan fruit punch yang dulu sering ia nikmati bersama dengan rekannya.
Tidak sulit mencari ruangan pemimpin Markas Tolouse. Kuroko dan rekannya berkali-kali ke sana untuk melapor misi atau melapor kedatangan mereka. Atau sekadar untuk bertemu. Biarpun pemimpinnya sudah ganti dari yang terakhir Kuroko temui—bahkan Kuroko sendiri lupa kapan terakhir dia kemari dengan label 'anggota Teiko Famiglia dari Markas Utama', yang jelas pergantian pemimpin Markas Tolouse terjadi ketika ia masih di Markas Utama—tapi ruangannya tidak dipindahkan ke tempat lain sehingga Kuroko masih ingat jalannya.
"Senior Izuki, tolong modifikasi kamera pengawas di ruang Pemimpin Markas Tolouse," Kuroko kembali berbicara pada diri sendiri. Ia tidak cemas seniornya di Italia sana tidak mendengarnya. Mikrofon dan alat penyadap di pasang di bahunya. Asalkan Kuroko berbicara cukup keras, dengan frekuensi yang bisa di dengar oleh manusia normal, Izuki dan Mitobe pasti bisa mendengarnya.
Hening menyapa ketika Kuroko menunggu balasan dari Seniornya yang pasti sekarang tengah bekerja setelah kode yang Kuroko sampaikan didengar olehnya. Kuroko menutup mata kirinya ketika partikel debu seenaknya menerobos masuk ke dalam matanya. Angin berhembus di jendela besar di sampingnya membuat rambut biru mudanya menari. Rasa dingin sekilas menyapa pipinya.
"Kau bisa masuk sekarang, Tetsuya!" mengetuk pintu, Kuroko kembali bermani dengan kotak di sakunya sambil menunggu pintunya terbuka.
"Masuk!" balasan singkat dari dalam.
"Ah, Tuan Kuroko!" pemimpin muda itu berdiri dari kursinya dan melangkah untuk mendekati Kuroko.
"Tidak usah repot-repot," Kuroko mengeluarkan pisau dari sakunya dan melemparkannya ke arah pemimpin Markas Tolouse itu, "Aku tidak akan lama."
"Kkkkh…" lelaki itu mencabut pisau yang tertancap di lengan atasnya, "Apa yang Anda lakukan, Tuan Kuroko? Apa maksudnya semua ini?" ia bertanya ketika Kuroko kembali mengeluarkan pisau dan kali ini ditambah dengan jarum yang cukup tebal.
Melihat amunisi yang Kuroko keluarkan, pemimpin muda itu jelas tidak mau kalah begitu saja. Ia membuka laci mejanya, hendak mengeluarkan pistol yang tersimpan di sana tapi Kuroko lebih gesit dan melemparkan jarumnya, membiarkannya bersarang di leher lelaki itu.
"Bukan apa-apa," jawab Kuroko singkat, "Hanya ingin saja," lanjutnya.
"Maksud Anda, Anda hanya ingin melukai—argh!" Kuroko melemparkan pisaunya dan kali ini mata gelap lelaki itu adalah sasarannya, "Argh!" berteriak menyedihkan, lelaki Prancis itu tergeletak di bawah meja, menggeliat sambil berusaha mencabut pisau Kuroko dari matanya sekaligus berusaha menutup luka yang ia derita agar darah yang keluar dari tubuhnya tidak semakin banyak.
"Anggap saja sebagai pelepas stres," jawab Kuroko singkat, berdiri menjulang di depan lelaki yang masih menggeliat kesakitan itu. Ia mengeluarkan tiga pisau sekaligus kali ini, "Lagipula, mana mungkin aku membiarkanmu setelah kau tahu aku kesini?" Kuroko mengangkat tinggi-tinggi tangannya sebelum membiarkan pisaunya melesat, mengikuti hukum gravitasi dan terbenam dalam leher lelaki itu.
Lirikan penuh benci dari mata kanannya yang sehat membuat Kuroko mau tertawa. Tapi tentu saja ia mampu menyembunyikannya dengan baik di balik topeng sempurnanya yang selalu tanpa ekspresi, "Kau tidak ada inisatif sama sekali," komentar Kuroko sambil berjongkok di samping lelaki yang kini hanya bisa memandanginya. Ia mencabut pisau dari leher lelaki itu, "Kau bahkan tidak melawanku."
Kuroko melihat cairan merah pekat yang menetes dari pisaunya sebelum memutuskan untuk kembali menghujamkan pisaunya pada leher lelaki itu dan setengah menariknya hingga kini luka sayatnya makin dalam dan lebar, "Matilah dalam diam."
Dan Kuroko menyumpal mulut lelaki itu dengan kotak yang ia bawa sebelum mengikat mulutnya dengan dasi yang tergeletak di meja. Berdiri, Kuroko mengambil kain dan menyiramnya dengan air, membersihkan bercak-bercak darah yang tertinggal di jasnya.
"Senior Izuki, keberatan kalau aku minta kau tidak mematikan modifikasi kamera disini sampai aku tiba di jarak aman?" Kuroko bertanya.
"Hmm…? Tidak. Aku tidak keberatan. Ini cukup menyenangkan, sebetulnya," dari Italia seniornya menjawab.
"Baiklah, aku pergi sekarang," Kuroko melenggang santai keluar dari ruangan pemimpin Mansion Tolouse itu. Dengan santai ia keluar dan memberikan kode pada penjaganya untuk membuka gerbang agar ia bisa pergi dari sana.
"Kapan Anda kesini lagi, Tuan Kuroko?" penjaga gerbang bertanya sebelum Kuroko melangkah lebih jauh.
"Kurasa tidak akan pernah," jawab Kuroko tersenyum tipis. Melihat keheranan yang terpeta di wajah lelaki paruh baya itu, Kuroko menambahkan, "Mungkin tugasku akan digantikan oleh orang lain.," dan Kuroko pun berlalu.
"Senior Izuki," Kuroko memanggil ketika jaraknya dengan Mansion Tolouse cukup jauh, "Kau bisa meledakkannya sekarang."
"Hm…? Kau yakin? Baiklah, Tetsuya. Saksikan sihirku yang kesekian!" di belakang Kuroko, ledakan yang sangat keras dapat terdengar dan langsung diikuti oleh kobaran api yang entah kenapa tiba-tiba sangat besar. Substansi panas membara itu makin menjadi seiring dengan angin yang berhembus, melahap habis Mansion Tolouse dan menjilati langit biru Prancis. Menghanguskan bangunan yang dulu dipandang masyarakat sangat indah dan dalam seketika menghabisi semua manusia yang ada di dalamnya.
.
Bingung harus memasang ekspresi macam apa, Hyuuga Junpei memutuskan untuk diam. Setelah Kuroko Tetsuya kembali dari misinya, Shun Izuki datang kepadanya, terburu-buru. Awalnya Hyuuga kita mekaniknya itu ingin melapor bahwa temuannya yang kesekian berhasil dan bisa dipakai, tapi lelaki itu malah menunjukkan sebuah video yang berhasil ia simpan sebelum semua data dari Mansion Tolouse terbakar.
Bahkan Hyuuga belum sempat menyentuh map yang dibawa oleh Kuroko.
"Jadi… Kuroko bisa menjadi pembunuh yang kapabel," akhirnya Kiyoshi Teppei mengangguk, memecahkan keheningan yang terasa agak berat di ruangan itu.
"Menurut arsip, Kuroko dan Pemimpin Mansion Tolouse itu memang memiliki hubungan yang tidak baik," Riko Aida menyuarakan pendapatnya, "Tapi tidak diberitahu apa sebabnya, mengapa, dan bagaimana."
"Bagus bukan?" Kiyoshi menyeringai, "Kita punya satu lagi yang berbahaya."
Izuki berdeham, "Dan kalau kau tanya aku, justru Tetsuya yang paling berbahaya. Sebab kita tidak bisa membaca dia sebaik kita membaca anggota yang lainnya."
Kali ini Riko Aida mengalihkan perhatian tiga orang lelaki itu dengan suara feminimnya, "Boleh kubilang kalau Kuroko Tetsuya adalah ancaman dalam bayangan?"
.
.
Essere continuato
.
.
Dilema Arleinne dan Azureinne :
Aru : "Edited. Karena sebenarnya yang kemarin itu memang nggak memuaskan dan review dari Resya melecut saya untuk mengeditnya. Dan sepertinya udah di editpun tetap kurang memuaskan ya huft… Actionnya itu loh… kenapa nggak bisa greget dan sesuai dengan yang saya inginkan sih? Itu malah jadi kind of gore dibandingkan dengan action atau malah yang ini lebih kurang memuaskan dari yang kemarin? Argh!"
Azu : *pukpuk* "Sudah… sudah… nah, nah, nah ada yang bisa membantu makhluk malang ini? Ada yang bisa memberikan rekomendasi cerita/fict yang punya adegan action yang bagus atau menawarkan tutoring biar si Aru bisa menulis action?"
Aru : "Dan kenapa si Sakurai punya character song sedangkan Shouichi Imayoshi yang sangat cute ketika dipanggil Ichi ngga punya character song? Padahal kapten Seirin dan kapten Kaijou punya character song! Apakah karena dia udah pensiun jadi kapten makanya dia nggak punya character song? Hei, Ichi gue butuh banyak cinta dan dia perlu banget punya character song!"
*ada suara BUK yang keras dan suara tubuh terjatuh ke tanah*
Azu : "Maaf yah… akhir-akhir ini hidupnya Aru berat(?) dia sedang galau gara-gara habis lihat gambarnya Ren Hakuren dan Ren Hakuyuu dari Magi trus dia jadi bingung mau milih yang mana. Apalagi currently, dia jatuh cinta sama Ren Kuoen. Terus… nggak ngerti deh sama Aru… Nah, bagian yang atas dan bawah nggak Aru edit karena sebenarnya Aru cuma mau ngedit yang bagian actionnya. Tapi nggak tau kenapa itu malah jadi semacam gore gitu…"
Aru : "Oke tanpa banyak komentar kita langsung saja ke balasan review untuk non-login. Dari chapter 2, Kurokolover sekalian di gabung dengan review non-loginnya di chapter 3, terima kasih banyak selalu menyempatkan diri untuk mampir dan membaca buah karya absurd kami dan juga terima kasih untuk support yang sudah di berikan~
Dan balasan untuk Yuuki di chapter 2, mungkin tema mafia sekarang sedang naik daun? Makanya Anda banyak menemukan sesuatu yang berbau mafia~ soal ide, Azu bilang terima kasih banyak atas pujiannya, dan adegan tembak-menembak yang dilakukan Kagami itu memang keren(?) karena jarang banget Kagami terlihat keren dan badass sekaligus seksi(?) aaaah bayangin Kagami megang pistol aja udah bisa bikin nosebleed /
Ehem, kembali ke review. Soal typo sedang coba kami kurangkan karena sejujurnya kami berdua adalah tipe yang paling males melakukan pengeditan, jadi mohon bersabar semetnara waktu sementara kami meningkatkan kemampuan mengedit kami sekaligus menghilangkan kemalasan untuk melakukannya.
Daaaaaan, tentu saja kami usahakan untuk menamatkan fanfict ini. Toh sekuelnya udah ada di kepala, jadi kemungkinan besar fict ini akan terselesaikan. Terlepas dari apa yang mungkin terjadi seperti misalnya ada kejadian tak didgua. Jadi… mohon bersabar dengan dua author freak yang hobi menclak-menclok sana-sini ini."
Azu : "Dan Azu juga mengucapkan terima kasih banyak buat para reader yang sudah mau mampir ke cerita ini, dan buat para review yang selalu memberikan suntikan semangat kepada kami berdua~"
Aru : "Akhir kata, kami tunggu kalian di kotak review dan kalau sanggup silakan tunggu kami di chapter selanjutnya~"
