Matanya, yang sewarna permukaan air yang cemerlang, menatap balik sepasang mata hitam yang tersembunyi dibalik lensa kacamata baca. Tak nampak satupun ekspresi, baik di dalam tatapannya maupun wajah tampannya.

"Jadi, Tetsuya. Kau berhasil menyelesaikan satu misi." Hyuuga Junpei berkata, tatapannya kemudian teralih ke kertas-kertas yang berada di depannya, "Dengan kerusakan yang sangat minimal." Lanjutnya, sembari kembali memandang Kuroko Tetsuya seolah menjalankan misi dengan kerusakan minimal adalah hal yang patut dipuji.

Hyuuga kembali berkonsentrasi kepada kertasnya, tak peduli jika Kuroko menanggapi kata-katanya atau tidak. Toh, ia sudah tahu laki-laki yang lebih muda tak akan merespon pernyataan konyolnya. Karena Kuroko tahu kertas yang berada di genggaman Hyuuga, yang ditandatangi oleh Izuki Shun sebagai fakta bahwa dokumen tersebut asli, sudah melaporkan misinya berikut semua informasi dan deskripsinya.

Sebenarnya Kuroko bertanya-tanya apakah Izuki tidak pegal, atau salah urat, menulis laporan sepanjang nyaris lima halaman dengan tulisan tangan—untuk penjamin keaslian, mungkin?

Hyuuga kemudian berdeham, menarik perhatian Kuroko yang terfokus pada kertas di genggaman Hyuuga. Laki-laki yang lebih tua itu kemudian meletakkan kertas laporannya, ia kemudian melipat kedua tangannya dan menjalin kesepuluh jari-jarinya sebelum akhirnya tersenyum samar.

"Sebagai boss-mu, aku memberimu selamat atas keberhasilan danjumlah minimum kerusakan yang kau buat, Tetsuya." Jeda, Hyuuga membiarkan Kuroko mengenali nada suara yang ia gunakan, nada suara yang biasa digunakan ketika seseorang menyembunyikan sesuatu dari orang yang bersangkutan.

"Kau anggota Seirin pertama yang dapat menekan kerusakan seminimal mungkin. Andai saja semuanya sepertimu, kami tak akan krisis kas seperti ini." Hyuuga berkata panjang lebar tanpa ditanya, memijat keningnya ketika ia berkata demikian.

"Lalu ... Misi apa lagi yang harus aku terima kali ini, Senior Hyuuga?"

Hyuuga menaikkan sebelah alis dengan cara lucu Kuroko memanggil namanya, namun ia tidak berkomentar. "Ini akan menjadi misi terakhirmu sebelum kau resmi masuk ke dalam Famiglia kami. Misimu kali ini akan bersama kode 5, Izuki, menghapus data-data Seirin yang ada di dalam CIA, FBI, dan M-16." Hyuuga meluruskan kedua tangannya dan menyandarkan punggungnya ke kursinya yang empuk dan nyaman.

"Kau tak perlu membom markas mereka. Kau cukup masuk ke dalam markas, memindahkan file atau dokumen tentang Seirin di dalam markas mereka, dan melarikan diri. Izuki akan bergerak bersamamu, kau akan memerlukannya jika ingin menyusup masuk ke dalam markas dengan keaman berteknologi tinggi." Hyuuga menjelaskan dengan singkat, tak menyadari bahwa penjelasannya agak terdengar mustahil untuk dilakukan oleh manusia.

"Tentu saja kau harus menyusup, bukan menyamar. Mungkin hal itu bisa kita lakukan jika kita memiliki alat untuk merubah bentuk retina dan sidik jari. Kau mau ditembak dengan laser ketika retina dan sidik jarimu tak sama dengan orang yang kau imitasi?"

.

.

La Cosa Nostra is a collaboration project between Arleinne Karale and Azureinne Karale. This chapter written by Azureinne Karale

Kuroko no Basket belong to Tadatoshi Fujimaki

An Alternate Universe, lot of typos, possibly out of character story with no actual pairing

Read at your own risk

.

.

"Bukankah itu berarti ... aku harus pergi ke Amerika?" Kuroko bertanya kepada seniornya, sang vampir tampan, Shun Izuki—yang akhirnya Kuroko ketahui nama lengkapnya setelah mendengar Aida Riko menerjang masuk dan mematikan beberapa monitor dengan kalap.

Sepertinya tagihan listrik Seirin naik lagi.

"Oh, tidak, anggaran Seirin tidak cukup untuk membayar tiket pesawat lagi. Kau tahu, CIA memiliki markas tersembunyi berkedok kedutaan Amerika di berbagai negara, kan? Kau hanya perlu menyusup ke kedutaan di Italia, lalu menanam virus yang telah kami siapkan ke software mereka dan voila, pesta selesai," Izuki meluncur maju dan mundur dengan kursi komputernya, tampak asyik sendiri dengan kursi baru yang ia rancang bersama rekannya.

"Hanya CIA?" Kuroko bertanya lagi, mata birunya tak lepas dari sosok Izuki yang mulai meluncur ke ujung ruangan dengan kecepatan tinggi dan menendang dinding agar dapat meluncur kembali ke pintu masuk, tempat Kuroko berdiri.

Izuki mengangguk, "Data yang ada di FBI dan M-16 akan diurus oleh Spades. Aku dan senior lain setuju bahwa mengurus tiga data sekaligus di organisasi macam tiga itu dapat membuatmu kewalahan, dan kau masih muda—ogh!" Izuki tersedak kata-katanya sendiri ketika Rinnosuke Mitobe menangkap kursinya untuk membuatnya diam di tempat.

"Intinya, rencananya hanya menyusup dengan sukses, lalu menanam virus. Kau akan pergi dua jam lagi, setelah makan siang—aku baru ingat aku belum sarapan, tidak apa-apa, kan?"

Kuroko mengangguk singkat.

Izuki berdiri dari kursinya, agak sempoyongan karena kegiatannya meluncur ke sana dan kemari. "Sempurna, kalau begitu aku akan makan siang dulu. Ayo, Mitobe," ajak sang pemuda yang lebih tua sembari berjalan linglung menuju pintu keluar.

Kuroko mengerjap, "Kata Fratello* Teppei kau alergi cahaya matahari...?" pernyataannya berubah menjadi pertanyaan begitu ia melihat Izuki keluar dari ruangan, menuju lorong penuh jendela yang bermandikan cahaya matahari siang Venezia—dan bau makan siang dari arah dapur.

"Omong kosong, film-film vampir itu salah besar tentang vampir yang alergi cahaya matahari," dengan seringai terakhir, sang senior beranjak menuju dapur bersama Mitobe.

Meninggalkan Kuroko menatap punggungnya dengan ekspresi datar paling heran yang ia miliki. Namun, setelah punggung kedua seniornya menghilang di balik belokan, kilatan heran di kedua mata Kuroko berubah menjadi sesuatu yang lebih serius, dan lebih berbahaya.

Kuroko berbalik dan menutup pintu ruangan Diamonds. Kedua mata birunya menjelajah dari satu monitor besar ke satu monitor besar lainnya. Tiga dari tujuh monitor raksasa mati, layar hitamnya memantulkan cahaya dari empat monitor lain yang menyala.

Kursi Izuki tergeletak di tengah ruangan, di salah satu sudut, terdapat rakitan sesuatu yang belum jadi. Obeng Inggris dan palu berceceran bersama baut dan sesuatu berbentuk kotak yang setengah jadi. Kursi Mitobe ada di sudut ruangan yang lain, menghadap meja kosong berisi tumpukan kertas-kertas putih dan sebuah laptop yang mati.

Ruangan itu terlihat lebih gelap dari yang seharusnya, mengingat tiga dari sumber cahaya utama dimatikan oleh Riko. Tetapi hal itu tidak menghentikan Kuroko untuk bergerak menuju laptop di meja Mitobe dengan kehati-hatian yang sesungguhnya tidak diperlukan.

Lagipula, siapa yang memasang ranjau di teritorial mereka sendiri, iya kan?

Tetapi pengalaman Kuroko berkata bahwa faktanya, mantan famiglia yang menaungi namanya memasang ranjau di tempat mereka sendiri. Yang akan aktif jika ranjau itu tidak dapat mengenali bentuk kaki dan cara melangkah seorang individu. Bagaimana mereka membuat ranjau seperti itu, jangan tanya Kuroko, pemuda itu sesungguhnya juga heran.

Kuroko mengeluarkan sarung tangan dari sakunya dan menyapukan jemarinya di atas trackpad laptop tersebut. Layarnya seketika menyala, tampilan aplikasi kata menyamput pandangan Kuroko. Sang mafiosi kembali merogoh sakunya, ia mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna hitam dan memasukkan benda itu ke tempat yang seharusnya.

Satu sapuan mata cepat ke dalam isi folder yang ada di dalam data laptop tersebut membuat Kuroko memutuskan bahwa ia akan mengkopi semuanya. Tak terkecuali, satu folder berisi blueprint senjata yang belum jadi dan seluruh data anggota Seirin beserta aliansi mereka.

Sebuah seringai tipis merekah di wajah Kuroko yang normalnya tanpa ekspresi.

Biarpun data yang Kuroko kopi ke flashdisk miliknya banyak—hampir 52 sepertinya, proses loading tidak selama yang ia kira. Jadi, Kuroko melanjutkan kegiatannya membuka folder demi folder dan mengkopi apa yang ia pikir akan berguna.

Kuroko berjengit ketika pintu ruang Diamonds mendadak terbuka, dicabutnya flashdisk hitam itu dari laptop Mitobe dan berjalan mundur ke tengah kegelapan yang melingkupi setiap sudut ruangan. Sosok kepala Kagami Taiga muncul dari balik kusen.

"Ah, mereka pasti di ruang makan," dan melangkah pergi, adalah yang dilakukan Kagami.

Kuroko menyelip keluar lewat pintu yang dibiarkan setengah terbuka. Memutuskan bahwa 65 folder yang ia kopi dari laptop Mitobe sudah lebih cukup untuk penyelidikan 'kecil'-nya.

Pemuda dengan rambut sewarna langit kala salju turun itu mengekori Kagami yang jelas-jelas tidak menyadari keberadaannya menuju ke ruang makan. Lagi-lagi anggota Seirin famiglia yang lengah dan menunjukkan punggung mereka tepat di depan orang asing macam Kuroko.

Kuroko mulai merasa kasihan dengan masa depan famiglia dengan ekonomi miskin ini.


Kedutaan Amerika untuk Italia memiliki pengamanan yang kelewat ketat. Tidak heran, mengingat mereka adalah negara adidaya yang mengontrol kegiatan luar-dalam dunia, dan Kuroko memaklumi sentimen mereka. Semakin tinggi pangkatmu, semakin paranoid dirimu.

"Kau tahu, sebenarnya aku agak berharap kau dapat tak terlihat di kamera pengawas, karena aku masih lapar," suara Izuki terdengar dari earphone yang terpasang di telinga Kuroko dan terhubung langsung ke markas Seirin, tepatnya ruang Diamonds.

"Aku bukan hantu, Fratello. Keberadaanku hanya cukup tipis untuk membohongi manusia. Jika aku tidak terlihat di kamera pengawas, kalian tidak akan pernah menemukanku dan aku tidak perlu membayar kartu kredit Kagami yang overlimit," Kuroko menyusuri pagar tembok setinggi lima meter dan menatap kamera pengawas yang terpasang di sudut pagar.

"Benar juga. Oke, maju," Kuroko menuruti kata-kata seniornya dan bergerak maju, melewati kamera pengawas yang sudah dimanipulasi, "coba panjat tiang telepon itu, tepat di depannya ada pohon dan patroli sedang berjalan menuju pintu utama sekarang," lanjut Izuki.

Kuroko mengambil ancang-ancang untuk berlari, ia melompat dengan tiang telepon di depannya sebagai pijakan lalu mendarat di atas pagar. Tanpa buang-buang waktu lagi, Kuroko melompat menuju dedaunan pohon yang rimbun dan menahan dirinya di atas dahan.

"Aku sudah memanipulasi lima kamera ke depan, aku serahkan para penjaga kepadamu,"

Kuroko melompat turun dan menendang tengkuk seorang penjaga yang kebetulan lewat di bawah pohon. Penjaga itu meronta di bawah tubuh Kuroko sejenak sebelum terdiam, pingsan.

Kemudian, alarm berbunyi.

Izuki mengumpat keras-keras hingga membuat telinga Kuroko berdenging, sang senior mengumpat dari satu bahasa ke bahasa yang lain, berseru kepada Kuroko agar segera melarikan diri karena Izuki lupa sama sekali memperhitungkan para penjaga dan tombol alarm yang mereka bawa untuk jaga-jaga—para penjaga dan tombol alarm sialan mereka.

Tetapi Kuroko tetap merangsek maju. Memanfaatkan kekacauan yang muncul di halaman untuk masuk lewat jendela yang terbuka dan menghindari karyawan biasa yang berlarian ke sana dan kemari, berhati-hati agar tidak tetabrak. Izuki masih berteriak dalam bahasa Russia.

Kuroko masih mengingat denah yang diberikan Mitobe kepadanya sebelum ia pergi, ia masih dapat melihat bayangan denah itu dengan jelas di otaknya. Kuroko dipanggil Schwarz bukan tanpa alasan, Kuroko berhasil melarikan diri dari mereka bukan tanpa pengalaman.

Sang mafiosi menempelkan punggungnya ke dinding ketika segerombol penjaga patroli berlari melewatinya. Kuroko melirik kamera yang merekam hiruk-pikuk kepanikan di sudut lorong, itu kamera kelima, berarti setelah belokan ini, Kuroko harus menghindari kamera dan orang-orang yang berlarian juga.

Ah, tetapi, bagaimana jika Kuroko menggunakan orang-orang yang berlarian itu sebagai media untuk menghindari kamera saja?

Dengan lihai, Kuroko bergerak dari satu punggung ke punggung yang lain, menyamai langkah orang-orang yang bergerak berlawanan dari dirinya dengan mudah. Langkahnya ringan dan penuh perhitungan yang teliti, Kuroko Tetsuya tidak lagi berjalan, ia menari.

Menari dalam tarian yang sudah ia hapal di luar kepala. Tarian yang membuatnya berhasil meneteskan darah dan menyabet tenggorokan orang-orang tanpa terdeteksi sama sekali.

Tak lama kemudian, ia sampai pada tujuannya.

Lagi-lagi ruang arsip. Tetapi ruang arsip yang ini jauh lebih modern dari milik Teiko. Terletak di tengah lorong besar yang mulai sepi karena sebagian besar karyawan dan penjaga telah berlari keluar gedung, di antara dua kamera yang bergerak setiap lima detik dari arah kanan ke arah kiri, Kuroko menunduk dan membuka pintu yang tak terkunci.

Sebelum kedua kamera itu sempat menangkap sosoknya, Kuroko melangkah masuk.

Ruangan itu cukup besar. Membentuk semacam lorong kecil dengan sesuatu menyerupai mesin data berteknologi tinggi di kanan dan di kiri. Di ujung lorong kecil yang terbentuk dari kedua mesin data berwarna abu-abu metalik tersebut, terdapat komputer yang mungkin digunakan untuk mengakses data yang ada di dalam dua mesin beraroma besi itu.

Suara langkah kaki dari lorong di luar pintu memberitahu Kuroko bahwa waktunya tidak banyak. Waktu miliknya terlalu sempit, bahkan Kuroko tidak akan sempat memasukkan flashdisk Mitobe dan menginstall virusnya—biarpun loading virus itu mungkin hanya memakan waktu sepersekian detik.

Masalahnya tidak terletak pada waktu yang dibutuhkan Kuroko untuk memasukkan flashdisk dan menginstall virus, pun loading virus Mitobe yang tidak Kuroko ragukan kecepatannya.

Melainkan terletak pada seberapa sempat Kuroko menghindari kamera kecil yang ada di tengah ruangan yang akan mengaktifkan laser untuk mengiris leher Kuroko karena pemuda berambut biru itu baru saja menghancurkan pindai retina yang ada di sisi dalam pintu.

Tuh kan, hanya Seirin yang tidak memasang ranjau di teritorial mereka sendiri.

Ada satu kamera yang mengarah tepat ke depan komputer. Dan earphone Kuroko mengeluarkan suara desisan alih-alih umpatan Izuki, dua mesin ini menganggu komunikasinya dengan Izuki. Kuroko tidak dapat meminta bantuan. Ia sendirian.

Kuroko merogoh sakunya, hendak mengeluarkan belatinya dan melemparnya untuk mengaktifkan laser itu demi mengukur seberapa cepat laser itu muncul agar ia dapat memperkirakan seberapa lincah kakinya harus melangkah, tetapi telapak tangannya mengenai benda lain. Dan benda itu bukan belati maupun pistol, juga bukan flashdisk Mitobe.

Sebuah dinamit.

Dinamit yang ia ambil dari saku pemuda berambut platina tiga hari yang lalu. Kuroko bahkan lupa ia masih memiliki dinamit itu di saku celananya, untunglah Kuroko belum sempat mencuci celananya dan menolak bantuan Teppei yang kemarin mendapat tugas mencuci.

Sekarang tinggal apinya.

Mata biru Kuroko teralih ke tengah lorong, tempat ia tahu bahwa ada jebakan yang terpasang.

Lagi-lagi seringai yang bukan-Kuroko-sekali terkembang di wajahnya yang tampan.

Kuroko mengeluarkan belatinya dan melemparnya. Bersamaan dengan lemparannya, pemuda itu berlari menuju ke tengah lorong kecil itu, kedua matanya terfokus hanya kepada belatinya.

Kuroko dapat melihat secercah cahaya merah tipis mendadak muncul di tengah lorong—dari lantai hingga langit-langit, memanjang dari ujung hingga ke ujung lain, dalam jarak tak lebih dari 10 senti—ketika belatinya semakin dekat dengan tempat dimana laser itu terpasang.

Di mata birunya, semuanya terlihat jauh lebih lambat dari yang seharusnya.

Belatinya meluncur melewati laser itu, bilahnya terbelah. Pada saat yang bersamaan, Kuroko melempar dinamitnya, sumbunya mengenai laser di atasnya, namun tubuh dinamit itu terlindungi oleh belati Kuroko yang menghalangi jalur salah satu laser tersebut.

Api segera menyala. Ternyata laser itu lebih panas dari yang seharusnya.

Kuroko melesat menuju pintu, membuka pintu setelah detik kelima dan memecahkan kaca yang ada di seberang Ruang Arsip. Kuroko meluncur di atap lantai dua dan melompat menuju pagar, berlari pergi. Di belakangnya, suara ledakan terdengar, api kembali membara.

Warna api itu mirip dengan salah satu iris seorang pemuda berambut merah yang menyaksikan segalanya lewat layar monitor raksasa yang terpasang tepat di depan kursinya.


"Selain menghapus semua data, Tetsuya juga menghancurkan satu gedung kedutaan. Kamera tidak dapat menangkap sosoknya, jadi mereka mengira ini ulah teroris," Riko meletakkan kertas laporan Izuki di hadapan Hyuuga yang memangku kepalanya dengan dua tangan.

"Aku rasa Tetsuya sudah cukup membuat dirinya diakui, Junpei. Biarpun aku sangat ingin segera meresmikan keanggotaan Tetsuya, kau tetap pemimpin Seirin," lanjut Riko lagi.

Hyuuga meraih kertas yang disodorkan Riko di mejanya. Kedua mata hitam itu bergerak cepat untuk memindai kata demi kata yang tertulis dengan gaya tulisan khas dokter milik vampir pribadi Seirin Famiglia, Izuki.

"Tidak ada yang sedang menjalankan misi malam ini, kan?" tanya Hyuuga.

Riko menggeleng, "Tidak, kenapa?" gadis itu balik bertanya.

Seringai Hyuuga terkembang. "Bagus, undang seluruh aliansi kita. Semiskin-miskinnya kita, kita tak mungkin melewatkan kesempatan untuk berpesta dalam kedok menyambut anggota baru kita, bukan?" Hyuuga meletakkan kertas itu kembali ke mejanya.

"Seluruh aliansi kita? Kau serius?"

Tidak, bukan dana yang Riko pikirkan, melainkan—.

"Ya, seluruh aliansi kita. Termasuk Kaijou. Kudengar mereka berhasil merekrut anggota Kiseki juga. Siapa namanya? Si Pirang yang terkenal dengan keahlian sniper miliknya itu?"

Hening.

"Ah ya, Kise Ryouta."

.

.

Essere continuato

.

.

Dilema Arleinne dan Azureinne :

Azu : "Tolong beri tepuk tangan karena Azu membuat rekor update setahun kemudian." *perlahan bersujud* "Maaf banget soal update super lama ini, awalnya gak selama ini, tapi lama-lama La Cosa Nostra berubah menjadi resolusi untuk update-setelah-UN-orz."

Aru : "Cih, sok sibuk dasar."

Azu : "Apa kabar Kiseki Change?"

Aru : "..."

Azu : "Kami berdua benar-benar minta maaf soal keterlambatan update baik La Cosa Nostra dan," *deathglare Aru* "Kiseki Change! Dan Azu secara pribadi minta maaf soal Monochrome dan Mekakushi-Dan no Basket, serta fakta bahwa AZU MAU MULAI MULTICHAP BARU, TOLONG AMPUNI AUTHOR NISTA PENUH DOSA INI."

Aru : "Yah, bisa dibilang update ini gara-gara kami menclok ke fandom-fandom baru selama uhuk, hiatus, uhuk. Dan juga saya sendiri sudah masuk kuliah sejak ... lama, jadi yah, bisa dibilang kesibukan kami benar-benar berlipat ganda."

Azu : "Tapi Azu sekarang sudah selesai UN, dan Kiseki Change! tinggal sebentar lagi kok, mungkin akan Azu kerjakan secara individu, hah." *lirik Aru*

Aru : *Sujud*

Azu : "Lanjut, sebelum komentar gak penting ini semakin panjang, untuk Kurokolovers, Kuroko bukan sadis kok, hanya sedikit ... yandere, mungkin? Ahahaha, maaf atas keterlambatan update ini, terima kasih atas reviewnya!"

Aru : "Lalu untuk Guest, bisa dibilang anak-anak Teiko lainnya juga tidak akan jauh-jauh, kufufufufu. Dan silahkan salahkan Azu untuk keterlambatan update kali ini, dan soal Kagami, karena hari ini dia tidak mendapatkan skenario, muehehehe, terima kasih atas reviewnya!"

Azu : "Btw, kalian pasti sudah tahu siapa pemilik iris sewarna api yang dimaksud, kan? Bisa dibilang kita mulai mendekati klimaks, ahahaha. Terima kasih kepada semua orang yang masih sudi membaca setelah setahun project ini ditinggalkan dan berhantu, uhuk."

Aru : "Akhir kata, kami tunggu kalian di kotak review dan kalau sanggup silakan tunggu kami di chapter selanjutnya~"