Kris X Chanyeol
.
.
Do not copy-paste or repost because this story is from my own imagination. I just add names for fill the casts, EXO is belong to their own self.
Close the tab if you don't like it.
Warning! These is YAOI and some sexual contents for some chapters.
.
Benar-benar tidak dianjurkan untuk yang merasa 'belum' cukup umur karena...
There's some sex scenes in some chapters.
Hope you like it~
.
.
Chapter 2
Kris merasakan keanehan. Chanyeol lebih sering diam ketimbang biasanya. Chanyeol mengacuhkannya setiap Kris mencoba berbicara. Seperti seorang lelaki yang bisu mendadak. Dan Kris mulai merasa ketergangguan pada perasaannya sendiri. Entah kenapa, Kris rindu dengan Chanyeol yang suka menguntit akan dirinya. Tapi ia hanya seorang Kris Wu, apa yang bisa diharapkan? Berekspresi saja ia tidak bisa. Maksudnya, wajahnya memang seperti itu. Datar, dingin, serius, seolah tidak pernah ada hal aneh yang terjadi dalam hidupnya.
Kris berjalan ditemani perawat sampai dibagian administrasi. Ia melirik arlojinya dan mengingat sesuatu tentang jadwal check up rutinnya untuk Chanyeol. Entahlah, ia merasa ingin datang lebih sering ke kamar anak itu akhir-akhir ini. Akhirnya Kris berjalan kearah kamar Chanyeol, membawa kertas-kertas untuk catatan perkembangan kesehatan Chanyeol yang tidak pernah berubah selama dua tahun.
Kris ingin menanyakan banyak hal. Ia juga tidak tahu.
Tetapi saat Kris tiba, ia melihat dokter lain dengan spesialis yang sama dengan dirinya—memeriksa Chanyeol.
Kris mengerutkan dalam dahinya sendiri. Tunggu, dirinya bingung.
Ia mengetuk, menjujung tinggi kesopanan yang ia punya kemudian masuk. "dr. Smith?" Kris bertanya dan pria yang berumur sama itu menoleh.
"Yes?"
Disitu ada Chanyeol. Anak itu hanya diam, memandang jauh keluar jendela.
"Bisa kita bicara sebentar?"
Pria itu mengangguk dan Kris berjalan menuntun kearah luar pintu lalu menutupnya pelan. "Kenapa kau disini?"
dr. Smith menatap bingung, "Kau ini bagaimana? Kan Chanyeol meminta orang tuanya untuk menggantimu dengan dokter baru untuk kelajutan pengobatannya."
"Apa?"
dr. Smith mengangguk, namun ekspresi yang sama belum hilang. "Aku kira kau sudah tahu."
"Tidak ada seorangpun yang memberi tahu padaku. Termasuk perawat khusus Chanyeol."
dr. Smith mengerutkan kening, "dr. Wu, Chanyeol sudah tidak memakai perawat khusus lagi."
"Apa?"
Kali ini Kris dibuat semakin bingung. Dokter pengganti, memecat perawat khusus? Jadi, Chanyeol benar-benar ingin menghindarinya. "Bagaimana bisa kau tidak tahu?"
"I don't know. Bahkan Chanyeol sudah tidak mau berbicara denganku sejak beberapa hari yang lalu." Kris membuang nafasnya kearah lain, ia merasa benar-benar frustasi.
dr. Smith mengangguk, "Ya, anak itu terlihat lebih diam akhir-akhir ini."
"..."
"Well, aku harus melanjutkan tugasku, Kris."
Kris mengangguk kaku, "Baiklah."
Kris melihat lagi dari jendela sebelum berjalan melewati lorong menuju ruangannya. Chanyeol benar-benar menjauhinya.
.
.
Kris merasa dirinya sering memperhatikan Chanyeol. Mereka sering berpapasan dilorong, sesibuk apapun Kris dengan sesi perbincangannya dengan perawat, Kris tetap melirik kearah Chanyeol. Dan anak itu tidak merespon. Anak itu terlihat benar-benar kosong, ia hanya menatap lurus kedepan seolah tiba-tiba akan muncul sebuah televisi didepannya.
Kris mendadak menjadi peduli. Ia merasa kekhawatiran akan Chanyeol meningkat berpuluh-puluh kali lipat. Bukan, bukan karena pneumonia atau sejenisnya. Tapi ini karena Chanyeol. Ia mulai khawatir, apakah anak itu tetap memperhatikan pola makannya atau selalu meminum obatnya. Sejak perawat khusus Chanyeol itu sudah tidak dipakai, Chanyeol terlihat lebih berantakan dari sebelum-sebelumnya.
Kris sering melihat dari jendela ruangannya, Chanyeol yang duduk diam dikursi roda. Tangannya yang semakin pucat. Kris merasa dirinya mulai merasa takut. Takut kalau dr. Smith yang jelas-jelas profesional tidak bisa mengurus Chanyeol. Yang ia pikirkan hanyalah Chanyeol, Chanyeol, Chanyeol dan dirinya. Kris merasa Chanyeol sudah membencinya. Kris tidak tahu. Ia terlalu bodoh untuk mengira-ngira apa yang membuat Chanyeol sebegitu menjauh dari jangkauannya.
Ini karena Chanyeol. Ya, Kris memikirkan Chanyeol lebih banyak kali ini.
.
.
Kris melewati lorong karena iseng, ia terlalu bosan dengan jadwalnya yang kosong untuk malam ini. Kris ingin kesana. Kris ingin ke tempat Chanyeol. Kris ingin mengunjungi Chanyeol setidaknya sesekali. Kris ingin berbicara dengan Chanyeol. Hell yeah, Kris merindukan anak itu.
Ia berjalan setengah bersiul, Kris merasa ini bukan gayanya. Kris merasa dirinya akhir-akhir ini mendadak berganti kepribadian. Ini aneh. Namun ia terbelalak, Chanyeol tidak ada dikamarnya.
Kris berlari setelah itu hanya untuk menyusuri setiap penjuru bangsal pesakitan, karena ia mengira bisa saja Chanyeol tidak menghapus sikap konyol dan nakalnya. Bisa saja anak itu bersembunyi dikantin pegawai rumah sakit atau sebagainya. Tetapi nihil, Kris sudah bertanya tentang lelaki tinggi yang pucat dengan cannula dihidungnya sambil menyereti tabung oksigen kecil karena Chanyeol mencabut infusnya dengan sengaja. Kris merasa takut. Rasa takut yang kedua kalinya ia rasakan setelah melihat Chanyeol tidak bisa bernafas dijalan setelah pesta orang rumah sakit berakhir.
Kris takut. Kris benar-benar merasa takut.
Namun ia mulai menebak-nebak. Apa yang pernah Chanyeol lakukan atau dimana tempat diarea rumah sakit yang sering ia kunjungi akhir-akhir ini.
.
.
Kris menjerit setelah mendorong pintu dengan susah payah dan berhasil tiba diatap rumah sakit. Chanyeol, sudah berada diujung atas balkon. "Chanyeol!" Kris berteriak sekali lagi, ia berlari dengan cepat—Chanyeol sudah hampir terpeleset karena terkejut dengan suara Kris. Anak itu bisa jatuh.
Kris menarik pergelangan kaki Chanyeol yang rapuh, masa bodoh jika Chanyeol terjungkal menimpanya asalkan anak itu tidak jatuh kebawah. Sial rumah sakit ini punya setidaknya lima lantai.
"Chanyeol, turun!" Kris berusaha menutupi ekspresinya, namun suara yang dikeluarkannya tidak mendukung. Ia tidak bisa memungkiri, Kris khawatir akan Chanyeol.
Chanyeol menunduk mencoba melihat kakinya yang ditahan paksa, "Apa hyung?!" ia berteriak, lebih seperti memaki. Kris memasang ekspresi terbaiknya, "Kau bisa jatuh, idiot!"
Chanyeol mendecih, mencebikkan bibirnya kemudian— "Aku ingin jatuh." Kris merasakan perbedaan. Chanyeol yang tadi berteriak dan tiba-tiba berubah dingin. Suara yang tidak pernah Kris dengar dan ia tidak pernah mengira Chanyeol akan mengeluarkan suara seperti itu. Terlebih kepadanya.
Sebelum Chanyeol berbalik, Kris sudah menarik anak itu sampai terjatuh seperti perkiraannya. Chanyeol memberontak dan hendak naik lagi, tetapi Kris sudah terlebih dulu membalikkan badannya. Dan Kris melihatnya.
"APA?!" Chanyeol berteriak seolah memakinya untuk kedua kali. Mata Chanyeol merah, kedua pipinya basah. Chanyeol menangis. "Apa hyung?!" bahunya bergetar. Chanyeol terlalu lama menahan semuanya. Kris terkejut, ia baru melihat wajah Chanyeol yang seperti ini. Anak ini sekarat, tetapi kali ia tidak pernah terlihat rapuh seperti ini.
Kris hendak memberikan tubuhnya dengan sukarela, ingin memeluk raga itu. Tapi kemudian Chanyeol mendorongnya sampai limbung, Kris bersyukur tubuhnya tidak ambruk. "Jangan berpura-pura seolah kau manusia yang paling peduli padaku!"
"..."
Chanyeol berteriak, tetapi berakhir dengan serak. Ia mengusap pipinya, "Kau hanya berlaku seperti ini karena aku menyedihkan. Aku tampak seperti itukan?" ia tertawa. Kris tidak mengerti. Ia terlalu bodoh untuk paham perasaan seseorang karena dirinya terlalu beranggapan hidup hanya untuk tenggelam dalam buku-buku. Kris memang bukan manusia.
Chanyeol menghentikan tawanya, "Aku bodoh kan hyung? Aku terlalu percaya diri, aku terlalu peka dengan sikapmu padaku padahal itu tidak berarti apa-apa untukmu."
"..."
"Berhentilah peduli padaku hyung."
Satu isakan lagi, dan Kris mulai merespon apa yang Chanyeol katakan. Tindakan yang satu-satunya bisa ia gunakan selain menatap Chanyeol dengan diam seperti orang bodoh. "Chanyeol..." ia berseru pelan sekali.
"..."
"Apa maksudmu?" ia bertanya dengan hati-hati dan Chanyeol membuang mukanya. Ia semakin menangis dan menatap Kris lagi. Jauh lebih terluka. "Kau memang bukan manusia..."
Kris mengernyit, ia masih belum mengerti. Ia masih tidak paham dengan kesedihan Chanyeol. Kenapa anak itu begitu marah padanya.
"Setelah aku mengatakan semua ini, walaupun aku mengumpat sekasar-kasarnya kau juga tidak akan mengerti. Aku bilang cinta padamu, tetapi kau malah menanggapinya dengan apa yang aku bicarakan. Kenapa kau begitu bodoh?"
"..."
"Kau tidak pernah terbebani tentang perasaanku padamu! Kau hanya tidak peduli! Kau memang tidak peduli! Setelahnya kau berlagak seolah tidak apa-apa, karena kau acuh! Aku benci denganmu."
"Chanyeol..." Kris baru mengerti. Ia baru mengerti tentang seseorang yang terluka, terlebih ini karena dirinya. Chanyeol terlalu jujur dan baik untuk menjelaskan semuanya pada Kris agar dirinya mengerti.
"Setidaknya, kalau kau benar-benar tidak peduli... jangan bersikap seolah kau peduli, hyung."
Kris melangkah maju sedikit, "Aku tidak bermaksud—"
"Kau peduli padaku hanya karena aku sakit hyung!" Chanyeol berteriak lagi. Urat-urat dikulit pucatnya tampak begitu mengerikan.
Kris melotot, "Aku tidak—"
"Kau khawatir padaku karena aku sakit! Kau takut terjadi apa-apa padaku karena aku sakit! Semuanya karena aku sakit, sekarat dan akan mati! Kau hanya peduli dengan profesionalisme-mu sebagai dokter! Kau tidak melakukan semua itu karena aku!"
Chanyeol menurunkan tubuhnya hingga terduduk, ia memeluk lututnya. Menyembunyikan wajahnya yang semakin buruk dan menyedihkan. Kris maju dengan takut-takut, ia berlutut meraih kepala Chanyeol. Chanyeol menampiknya. "Tidak hyung!"
Kris merasa sangat bersalah. Kris berusaha melakukan apapun. Chanyeol benar-benar terluka, benar-benar sakit, itu semua karena dirinya. Tetapi Kris tetaplah Kris. Ia menganggap ini hanya sebatas rasa iba. Kris tidak tahu apapun soal perasaan.
Kris kemudian memeluk Chanyeol walaupun anak itu menolak dengan sungguh-sungguh. Kris tidak menyerah, ia menggendong paksa tubuh Chanyeol yang terlalu ringan untuk ia bawa. Sedikit kesulitan karena Chanyeol terus memukulinya dan menendang-nendang. Setidaknya Kris bisa membawa anak ini ke kamar, walaupun ia tidak bisa membuat Chanyeol berhenti menangis.
.
.
Keesokkan harinya, lorong rumah sakit lantai dua dibuat ramai oleh perawat-perawat yang berteriak memanggil-manggil Dokter Smith. Kris merasa terusik dengan acara menulis catatan pasiennya diruangan, jadi ia memutuskan keluar. Salah satu perawat lewat, hendak berlari kearah lorong tetapi Kris menghentikannya.
"What's going on?"
"Park Chanyeol, Dr. Wu! Park Chanyeol ingin bunuh diri dikamarnya."
"What?!" Kris berseru kaget, matanya terbelalak. Perawat itu akhirnya berlari, ikut meramaikan lorong bersama pegawai rumah sakit lainnya. Kris melihat dengan sesak dari jendela. Dr. Smith membujuk Chanyeol yang sedang menangis sambil mengarahkan pisau dapur ke pergelangan tangannya. (Kris yakin Chanyeol mencurinya dari dapur rumah sakit)
Kris merasakan hal yang berbeda dengan asli atau tidak. Jika ia akan berseru berlebihan pada adegan bunuh diri klasik di televisi yang bahkan jarang ditontonnya, kali ini rasanya sangat berbeda. Ini jauh lebih menakutkan. Kris tahu Chanyeol seperti depresi berat, ia stress dan ya tuhan...
Kris melihat tatapan itu lagi. Chanyeol yang terluka.
.
Kris akhirnya berhasil masuk setelah melewati kerumunan itu. Kris berdiri tepat dibelakang Dr. Smith. "Chanyeol, please... You don't have to do this." Dr. Smith terus memohon agar setidaknya Chanyeol tidak melakukan tindakan gila seperti itu.
Chanyeol masih terisak, kemudian ia menatap Kris dibelakang dokter barunya. "Apa yang kau lakukan disini?!" ia berteriak. Entahlah terdengar sangat menyeramkan. Dr. Smith bingung, namun ia merasakan pandangan mata Chanyeol yang mengarah ke sosok lain dibelakangnya. Chanyeol menatap Dr. Wu.
Chanyeol menatap Kris tidak suka, Dr. Smith merasa kalau ini adalah urusan pribadi.
"Kalian berdua harus menyelesaikan ini." Dr. Smith memilih mundur dan mengajak orang-orang lain agar tidak memperhatikan antara Chanyeol dan Kris dalam kamar rawat itu. Setidaknya agar Chanyeol tidak menaikkan emosinya lagi.
Kris menatap Chanyeol. Berusaha memasang ekspresi terbaiknya. "Chanyeol..."
Chanyeol malah menempelkan pisau itu ke tangannya. Kris melotot, "Whoa... Chanyeol tunggu.." Kris mengangkat kedua tangannya, mengisyaratkan Chanyeol untuk menghentikan apa yang ia lakukan.
Kris mencoba mendekat. "Pisau ini akan menggores tanganku, atau menusukmu hyung."
"Kau boleh menusukku." Kali ini Kris kehilangan rasa takutnya. Ia berjalan kearah Chanyeol, apa adanya. "Tapi kau jangan lukai dirimu sendiri."
"Aku akan mati hyung!"
"You don't." Kris sudah sangat dekat dengan Chanyeol.
"Chanyeol..." Chanyeol menggeleng dengan cepat, ia masih menangis dengan pisau keparat itu diatas pergelangan tangannya.
"Jangan lakukan ini."
"..."
"Kumohon..."
"Kenapa kau melakukan ini?"
Kris mengerutkan keningnya, "Apa?"
Chanyeol tertawa hambar, kedua pipinya sudah benar-benar mengerikan. "Pergilah! Jika kau tidak peduli, setidaknya jangan bersikap seolah-olah kau peduli padaku!" Chanyeol berteriak untuk kesekian kalinya pada Kris. Seperti yang ia lakukan diatap semalam.
"Chanyeol..."
"Aku muak melihat wajahmu dihadapanku, hyung."
Kris melihat Chanyeol yang sudah tidak terlalu peduli akan pisaunya. Pria itu langsung menepis tangan Chanyeol agar pisaunya terlepas. Chanyeol berteriak tidak terima, Kris memeluknya.
"Kau harus tenang!"
Chanyeol menangis dengan suara frustasi. Ia merasa semuanya tidak adil. Chanyeol menangis sejadi-jadinya. Chanyeol kehilangan kesadarannya saat merasakan sesuatu masuk kedalam tubuhnya. Kris menyuntikkan bius untuknya.
.
.
Seminggu setelah kejadian itu, Kris mulai merasa dirinya terlalu banyak marah lebih daripada biasanya. Ia merasa marah karena Chanyeol benar-benar tidak mau menyapanya, Chanyeol menghindari kontak mata dengannya, dan yang paling Kris benci disini—
Chanyeol menerima rekomendasi Dr. Smith untuk memulai kemoterapinya. Chanyeol mau di kemoterapi, dengan Dr. Smith. Dr. Smith yang baru menjabat jadi dokternya yang baru, bukan Kris yang sudah dua tahun terakhir merawatnya. Bukan Kris.
Chanyeol benar-benar melupakannya. Dan Kris rasa Chanyeol benar-benar benci dan muak kepadanya seperti yang dikatakannya di atap malam itu. Kris mencoba menuruti apa yang Chanyeol mau. Kris mencoba mengacuhkannya. Kris tidak mencoba memulai kontak mata terlebih dahulu seperti biasanya yang akhirnya diabaikan oleh anak itu. Kris mencoba tidak peduli. Tetapi kemudian ia ingin mengutuk semuanya. Kris ingin mengutuk kedekatan Chanyeol dengan Dr. Smith.
Kris adalah pria berhormon normal, okay? Kenapa dirinya harus merasakan hal seperti itu kepada yang tidak seharusnya. Kepada lelaki, dan itu Park Chanyeol.
Kris merasa panas sendiri, pasalnya Chanyeol memberikan semua senyum, candaan, dan tawa yang biasanya hanya untuk dirinya—sekarang beralih kepada Dr. Smith. Dan semua perawat disekeliling Chanyeol.
Sangat menyebalkan. Kris benar-benar merasa tidak dianggap.
Terlebih, Kris sering melihat Chanyeol berjalan dengan infus dan cannula miliknya sambil bercanda dengan pasien lelaki yang seumuran dengan anak itu dilorong rumah sakit.
Kris menganalisis semua yang ia rasakan, dan akhirnya ia menyerah. Kris mencarinya pada internet. Rasa khawatir, takut terjadi hal buruk pada Chanyeol. Kris merasa ragu dengan kata, "—berarti kau menyukainya"
Ia mencari lagi diinternet, apakah dirinya termasuk normal karena menyukai laki-laki. Hasil yang didapatkan, "Tidak ada batas pada cinta kepada seseorang. Lagipula gay tidak tabu di Kanada." Sial Kris mengumpat kalau pada kenyataannya selama ini dirinya tidak normal.
Dan ia mencari tentang rasa panas yang ia rasakan saat melihat Chanyeol bersama dengan orang lain, "—itu artinya kau cemburu."
Kris memaki dengan menggebrak meja kerjanya keras. Sial!
.
.
.
To Be Continued—
.
.
Or End?
.
.
I'm so sorry, sebenernya mau posting next chapternya Kris Hyung(?) cuman belom siaappppp huweee T-T udah manteng depan laptop capek tauga sih dan ubek-ubek isi otak rasanya ngadet. Mungkin akan siap beberapa hari kedepan 1/3 nya udah jadi sih mueehehe '-' maaf buat kesalahan pengetikannya soalnya saya bukan anak medis. Makasih buat sarannya yaa hehe itu bikin eonni bisa koreksi tulisan eonni biar bisa nulis dengan lebih baik lagi ^^.
Thanks To:
[Baby Crong] [azurradeva] [FlowAraa23] [Oh kyungsoo] [XOXO KimCloud] [Keys13th] [justnyao] [egatoti] [winter park chanChan] [krisyeolwife] [KaiNeiris] [MinYeolKook] [Cosmo] [Fetty EXO-L] [2727] [PurpleGyu] [parkwu] [kwa'sOrangesky] [YulCY] [afranabilacantik] [parkmyun] [meaw] [XiuNiiChan] [rakan] [ling-ling pandabear] [parkchu] [ve] [exochanxi]
Wanna give me some reviews again?
