Kris X Chanyeol
.
.
Do not copy-paste or repost because this story is from my own imagination. I just add names for fill the casts, EXO is belong to their own self.
Close the tab if you don't like it.
Warning! These is YAOI and some sexual contents for some chapters.
.
Benar-benar tidak dianjurkan untuk yang merasa 'belum' cukup umur karena...
There's some sex scenes in some chapters.
Hope you like it~
.
.
Chapter 5
Kris tetap melakukan rutinitasnya, maksudnya... mengamati Chanyeol dari jauh. Semuanya terasa aneh, Chanyeol tidak pernah lagi berkata atau mengungkit akan perasaannya pada Kris. Tetapi, Kris tidak mau terlalu mempedulikan hal itu. Ia mencintai Chanyeol, jadi? Apa yang perlu di khawatirkan?
Chanyeol sedang dalam proses kemoterapinya. Anak itu sering mengeluh akhir-akhir ini. Seperti, rambutnya yang semakin menipis dari hari ke hari, atau kepalanya yang sering pusing. Itu biasa, efek kemoterapi selalu seperti itu.
Chanyeol terus mengoceh tentang, "Bagaimana kalau nanti aku jadi botak?"
Mereka bercengkrama seperti biasanya. Di kamar Kris, tidur beriringan setelah sesi bercinta yang menyenangkan. Oh, Kris tidak bisa lupa. Chanyeol sangat seksi walaupun tidak bersuara. Dengan mendesah, dirinya akan berkali-kali lipat lebih gila di buatnya.
Kris tertawa mendengar pertanyaan Chanyeol, namun ia memilih menjawab saja. Dirinya mencubit dagu milik anak itu, kemudian berkata, "Kau akan tetap cantik di mataku."
"Damn! Hyung! Itu,..."
Chanyeol memberi jeda sebentar, seperti berpikir keras. Kris benar-benar ingin tertawa melihatnya. Tubuh polos Chanyeol yang hanya berbalut selimut membuatnya semakin menggemaskan. Chanyeol masih bergumam, lalu— "A-aku tampan, hyung! Enak saja!" Chanyeol pura-pura merajuk. Ia melipat kedua tangannya di dada, membuang wajahnya sedikit.
Kris tertawa keras. Chanyeol tidak mungkin bisa mengabaikannya, sedangkan mereka saja sedang dalam posisi bersandar pada headbed sambil berpelukan begini. "Kau cantik, Yeol."
"Absolutely not! Aku tampan!"
"Kau cantik... sayang."
"Aku tampan!"
"Tidak, kau—"
"Aku tampan, aku tampan, aku tampan, aku—" terus seperti itu. Chanyeol sangat kekanakan, dan polos. Kris menyukai Chanyeol yang seperti ini. Suka merajuk, tidak mau kalah dalam berdebat apalagi saat sang dokter menggodanya.
"Kau cantik, Chanyeol." Kris berseru sekali lagi. Membuat Chanyeol mendengus lebih keras. "Aku tampan!"
"Kalau kau mengaku tampan, kenapa kau menyukai laki-laki?"
Okay, Chanyeol diam. Dan Kris mengangatkan sudut bibirnya penuh kebanggaan, Chanyeol kalah telak. Namun, beberapa detik kemudian Kris jadi berpikir kalau dirinya juga menyukai laki-laki. Kenapa hal seperti itu bisa terjadi pada mereka?
"A-aku tidak tahu. Aku mengantuk!"
Chanyeol menunduk, tenggelam dalam dada bidang Kris Wu. Menyamankan posisi mereka. Kris tahu, ini hanya pengalihan saja. Tetapi sepertinya Chanyeol terlihat benar-benar mengantuk. "Kau mengantuk?"
Chanyeol hanya diam dan mengangguk. Akhirnya mereka berbaring, Chanyeol memilih masuk dalam-dalam ke pelukan Kris yang hangat.
Kris hanya bisa tersenyum menanggapi itu, "Tidurlah..."
Chanyeol sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin tidur, tetapi pada akhirnya ia benar-benar terlelap karena terbawa suasana sekitar. Apalagi pelukan Kris yang hangat.
.
.
Heal Me, Medicine
.
.
Chanyeol selesai melakukan radiasi, dan rasanya sungguh buruk. Benar-benar buruk. Chanyeol merasakan tubuhnya jauh lebih lemas dari biasanya, tetapi dirinya terlalu malas juga untuk berada di kamar. Yeah, merenung di kamar rawat seharian membuat dirinya jauh lebih terlihat seperti orang sakit jiwa lagi. Chanyeol tidak mau!
Dirinya memutuskan berjalan sendirian di lorong rumah sakit, mencari-cari letak lift ruang yang di sediakan di lantai dua. Chanyeol rasa, atap adalah pilihan terbaik untuk saat ini. Terlebih, dirinya masih malas juga berkunjung ke kantin pegawai untuk mengemis jatah makanan orang-orang rumah sakit yang memang seharusnya bukan untuk dirinya itu terlebih dahulu. Si juru masak manis sedang merajuk karena Chanyeol terlalu banyak mengambil daging kemarin.
Dan Chanyeol setengah tertawa kali ini, menggelengkan kepalanya sebentar untuk menghapus kegilaannya. Sungguh, si koki lucu itu benar-benar menggemaskan. Chanyeol memang konyol, suka mengerjai orang-orang di sekitarnya. Dan, kemudian ia tersenyum kecut.
Jongin...
Aih, Chanyeol sedih. Hari-harinya di rumah sakit terasa sepi. Ia lebih sering merasakan sakit kepala, rambut kerennya mulai rontok sedikit-sedikit, dan sialnya Chanyeol merasa kalau waktu berjalan semakin lambat saja! Itu membuatnya sungguh jengah dan—
Entahlah... sampai di situ, dan Chanyeol berpikir dirinya tidak benar-benar menyesal.
"Ouh..." Chanyeol tidak sengaja menabrak pundak seorang perawat. "Sorry..." wanita itu hanya tersenyum.
"It's okay." Dan mereka kembali pada jalur masing-masing, meneruskan langkah ke arah yang berbeda. Chanyeol terlalu banyak berpikir.
Dirinya sudah tiba di depan lift, ia menekan tombol yang ada hingga lampu menyala merah. Layar di atas menunjukkan lift tengah naik ke lantai 3, itu berarti Chanyeol harus menunggu sebentar hingga ruangan nya turun ke lantai dasar.
Chanyeol mengeratkan pegangannya pada tiang infus, lalu membenarkan posisi cannula di hidungnya agar terasa lebih nyaman. Hingga arah panah di atas pintu menunjukkan ke bawah, Chanyeol menghela nafas karena mengetahui dirinya hanya akan menunggu beberapa detik lagi. Dan benar...
Pintu lift terbuka, Chanyeol mendongak.
K-kris hyung?
Chanyeol agak terkejut, tetapi tidak terlalu ia tampakkan dengan jelas. Dirinya lebih memilih langsung masuk, dan berakhir pintu lift tertutup. Kris ada di sebelahnya.
"Mau kemana?"
Kris bertanya, mengalihkan pandangannya dari dokumen di tangan untuk fokus menuju Chanyeol. Chanyeol berdehem sedikit, membenarkan syal pemberian Kris saat itu. Menyadari waktu untuk naik hanya sebentar, Chanyeol langsung menjawab— "Aku ingin ke atap, hyung."
"Sayang sekali aku tidak bisa ikut."
Chanyeol hanya tersenyum simpul. Pintu lift terbuka saat tiba di lantai 3, tetapi tidak ada seorang pun di sana. Chanyeol maupun Kris sama-sama mengernyit bingung, tetapi berusaha mereka abaikan saat pintu tertutup lagi.
"Well, aku harus tiba di lantai 5 secepatnya."
"Baiklah." Chanyeol terlalu bingung harus menjawab apa, terlebih suasana di lift agak sedikit aneh.
Kris mulai menyadari dirinya merindukan Chanyeol tidak sampai dalam kurun waktu sehari, dan itu konyol. Sangat konyol. Dirinya ingin mengobrol lebih lama dengan Chanyeol, tetapi di sisi lain ia mulai sadar kalau sebentar lagi mereka akan sampai di lantai 5.
Ia bingung harus bagaimana. Lantai 4 sudah terlewati, tidak ada seorangpun yang hendak memakai jasa lift di lantai itu. Dan hasrat ini benar-benar...
Oh, persetan!
"Chanyeol..."
Chanyeol menoleh, dan yang ia dapati adalah—Kris menjatuhkan dokumennya asal dan menerjang bibirnya, menabrakkan punggungnya ke dinding, dengan kedua tangan di kunci. Tetapi tidak terlalu rapat. Chanyeol terlalu terkejut, sampai-sampai menyadari kedua bola matanya yang rasanya ingin keluar. Ini membuat dirinya benar-benar gila!
Ting!
Lantai 5.
Kris langsung melepaskan bibirnya. Di detik itu juga, pria yang lebih tua tersenyum sambil mengecup keningnya. "Aku mencintaimu."
Kris menunduk untuk mengambil dokumennya, lalu melangkah hingga menghilang dari dalam lift.
Chanyeol merasakan dadanya yang berdebar-debar hebat.
Anak itu mulai menyadari, ia bisa saja terjebak dalam lift yang akan segera turun ke lantai dasar. Jadi, Chanyeol memilih bangun, lalu berjalan keluar dengan tujuan awalnya. Atap.
Chanyeol melangkah cepat-cepat menuju tangga manual, mencoba mengabaikan semuanya. Detak jantungnya, rasa panas di seluruh tubuhnya, dan mungkin kedua pipinya yang sudah memerah. Yah, merona atau apalah itu.
Aku tidak tahu!
Chanyeol berjalan setengah menghentak, menggeleng-geleng untuk menghapus hal yang mulai mengganggunya. Kejadian di lift, ciuman di lift, dan oh! Keparat dengan itu semua!
Chanyeol tidak bisa mengontrol semuanya!
Ia bisa gila!
.
.
"Mpph—"
Chanyeol mengeratkan pegangannya pada pundak lebar Kris, menahan seluruh pasokan oksigennya yang tersedia sangat sedikit kali ini. Lelaki yang lebih tua ikut melenguh, tetapi tidak ingin melepaskan ini. Kris terus mengulurkan tangan besarnya, menarik tengkuk Chanyeol yang lebih kecil untuk mendekat lagi. Mereka berdua sudah benar-benar merasa sesak.
Kris membiarkan Chanyeol mencakar pundak miliknya sepuasnya. Sampai kemudian, Chanyeol memukuli dada Kris kencang. Itu pertanda, Chanyeol sungguh-sungguh kehabisan nafas. Kris melepaskan bibir mereka, membiarkan Chanyeol menarik nafas banyak-banyak. Dada mereka berdua sama-sama naik turun seiring dengan semua paru-paru mereka yang tengah bekerja.
Chanyeol membenarkan posisi cannula di hidungnya agar lebih nyaman, ia jatuh dalam dada Kris yang ada di bawahnya. Kris suka seperti ini, Kris suka saat Chanyeol yang ringan bersedia duduk di atas pangkuannya dan memeluk dirinya. Ini sangat nyaman, dan menyenangkan. Kris bisa merengkuh Chanyeol sesukanya.
Chanyeol mengangkat kepalanya sedikit, mensejajarkan posisi wajahnya tepat di hadapan Kris. Membuat nafas yang hangat saling bertukar. Anak itu masih memejamkan mata, dan Kris maju sedikit untuk mengusap perlahan wajah itu. Membuat Chanyeol semakin lemas merasakan sentuhan lembut milik sang dokter. Chanyeol tidak sanggup lagi.
Chanyeol menyampirkan tangannya di atas pundak Kris lagi, keduanya. Mencengkram pundak itu seiring dengan pergerakan tangan Kris yang menyusuri wajahnya. Ini sangat lembut, gila, adiktif, dan memabukkan.
Chanyeol tidak bisa berhenti untuk mengerang pelan, kedua tubuh mereka yang sudah tidak tertutupi apapun membuat semuanya semakin kacau saja. Kris mendekatkan bibirnya pada telinga Chanyeol, "Aku mencintaimu, Park Chanyeol."
Lalu menciumnya, mengulurkan lidahnya di sana, lalu mengulum telinganya. Membuat Chanyeol merasakan kegelian yang sama pada malam-malam bersama Kris, membuat Chanyeol terangsang lebih hebat. Ini membuatnya lebih menggila lagi.
"Ngah.. hyungh..."
Kris mengunci bibir itu, memeluk punggungnya lebih erat, membuat kemaluan mereka yang tumpang-tindih jadi saling bergesekkan pelan. Chanyeol frustasi!
Kris tidak tahan lagi. Akhirnya, ia memilih membalik posisi mereka. Chanyeol di baringkan, di tindih di bawahnya. Kris melepaskan ciuman itu, menyangga tubuhnya dengan kedua lengan yang ada. Dirinya menatap Chanyeol yang memejamkan mata dengan mulut terbuka. Anak itu berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
Kris tersenyum, merasakan peluh yang sama menetes perlahan di dahinya. "Chanyeol..."
Kris menatap wajah itu memuja, kagum dengan paras kekasihnya.
Kris terpaku sejenak.
Kekasih?
Kris mulai berpikir, dengan dirinya menyatakan perasaan, juga sering tidur bersama Chanyeol... bukan berarti mereka sepasang kekasih, kan? Chanyeol belum menjawab perasaannya. Chanyeol tidak pernah menyebutkan kalau ia juga mencintai Kris. Belum.
Kris mengelus peluh di dahi Chanyeol. Ia hendak bertanya tentang ini. Kejelasan hubungan mereka, dan semuanya. Walaupun Chanyeol pernah menyatakan cinta pada Kris, tetapi... masih ada yang kurang. Ya, masih sangat kurang malah.
"Chanyeol..."
Sekali lagi ia berseru, dan Chanyeol baru menjawab lagi. "Ngh?" anak itu mulai membuka mata. Menatap Kris yang berada di atasnya, "Apakah kita sepasang kekasih?"
Chanyeol menatap bingung ke arah Kris, keadaannya benar-benar kacau. Oh, apakah hal seperti itu masih perlu di tanyakan di saat-saat seperti ini?
"Apa?" Chanyeol merespon sebisanya. Kris hanya tersenyum.
"Apakah kau mencintaiku, Chanyeol?" lelaki itu mengganti pertanyaannya.
Tadi kekasih sekarang... apa ini?
"Tentu saja. Aku merasa sudah pernah menjawab perasaanmu, hyung. Aku mencintaimu. Jika tidak, aku tidak akan mau melakukan hal-hal seperti ini." Chanyeol menjawab dengan nada serius, dan Kris malah tertawa. Chanyeol mengerutkan keningnya tidak suka.
"Kenapa?"
Kris menggeleng pelan, menghentikan tawanya lalu mengusap dahi Chanyeol. Lelaki itu mencium bibir Chanyeol dengan cepat. "Tidak, aku hanya memastikan saja. Berarti kita memang benar-benar sepasang kekasih. Iya, kan?"
"Hyung!"
Chanyeol memukul dada Kris gemas. Kris tertawa lagi. Oh, dirinya baru mengerti. Jadi, setelah semua ini—Kris masih sempat-sempatnya menanyakan apakah mereka kekasih atau bukan?
"Hyung bodoh!"
Tentu saja iya! Chanyeol sudah menyatakan terlebih dahulu perasaannya pada Kris, lalu Kris menyatakan juga apa yang ia rasakan pada Chanyeol, mereka sudah sering tidur bersama dan ciuman panas bukan hal asing lagi. Dan, Kris masih bisa-bisanya menanyakan apakah kita sepasang kekasih? Chanyeol ingin mengutuk otak Kris yang sungguh bodoh itu!
"Bodoh! Idiot!"
Kris tertawa lagi. "Yaya, aku tahu. Aku hanya memastikan saja, sayang."
Lelaki di atasnya mencium pipi Chanyeol. Chanyeol mengeratkan pegangannya, bahkan ia sudah melingkarkan kedua tangannya di leher Kris.
"Ayo, kita lanjutkan lagi!" Chanyeol berseru dengan semangat, lalu mengecup bibir lelaki di atasnya terlebih dahulu. "Aku-mencintai-mu, hyung." Chanyeol berkata penuh dengan penekanan sambil tersenyum. Yah, anak ini mengolok kebodohan Kris.
Chanyeol menyeringai.
"Oh, jadi kau mengejekku, hm?"
"Tidak!"
Kris balik menyeringai, "Mulai nakal..."
"Aku tidak mengejekmu."
"Yes, you do."
"I don't!"
"Chanyeol!" Kris langsung mendekatkan wajahnya. "Hyung!" Chanyeol terkikik. Kris menciumi seluruh wajahnya, pelukan mereka semakin rapat. Ini nyaman, tetapi geli!
"Hyung geli!"
"Biarkan saja, dasar kau anak nakal!"
Chanyeol tertawa sangat kencang, mengekspresikan rasa menggelitik di seluruh wajahnya. Kris tidak bisa berhenti dengan apa yang tengah ia lakukan. Kris menyukainya.
Ia berhenti, membuat Chanyeol terengah karena lelah tertawa.
"Aku mencintaimu, Chanyeol."
Kali ini Chanyeol tersenyum tulus, "Aku lebih mencintaimu, hyung."
Kris menggeleng, "Tidak, aku lebih-lebih mencintaimu."
Chanyeol tertawa sebentar, sebelum akhirnya ia menerima bibir Kris yang melumat miliknya lagi.
.
.
"Kris?"
Merasa namanya di panggil, Kris menoleh. Matanya sedikit membulat, "Jeniffer?"
Perempuan itu tersenyum di sebelahnya, "Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu disini." Sedangkan Kris mengangguk pelan, "Aku juga. How's life?"
"Not really good. Sebenarnya, aku di sini untuk anakku. Dia sedang demam tinggi."
Kris mengangguk lagi. Dirinya merasa harus mengiyakan saja tentang apa-apa yang Jeniffer bicarakan. Lagipula, bukan dirinya yang memulai duluan, kan?
"Kau sudah meminumkan paracetamol?"
Jeniffer mengangguk. "Tentu, dengan dosis yang ada. Tapi, tidak berpengaruh banyak, jadi aku ke sini."
"Oh..."
Kris meneruskan aktifitasnya di meja administrasi, seperti biasa. Membiarkan perempuan di sebelahnya sibuk dengan urusannya sendiri. Kris sedang malas untuk di ganggu, okay? Terlebih, Jeniffer adalah mantan pacarnya yang paling cerewet yang pernah Kris punya.
Kris dulu memang sering menjalin hubungan, tetapi dirinya tidak pernah benar-benar serius menjalaninya. Dan lagi, semua wanita yang menjadi mantan kekasihnya itu bermula pada kencan buta dari akal bulus teman-teman kuliahnya saja Kris tidak pernah terlalu tertarik.
Kecuali dengan Park Chanyeol. Apa kabarnya kekasih lucunya itu?
"Aku duluan, Kris."
Jeniffer berseru agak pelan, tetapi Kris menoleh saja. Lelaki itu mengangguk.
"Take care."
Perempuan itu berjalan menjauh. Kris mengembuskan nafas lelah.
Aku jadi merindukan Chanyeol.
Ia tersenyum, bertekad menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat hari ini.
.
.
.
To Be Continued—
.
.
.
Or End?
.
.
Huwaa akhirnya bisa lanjutin.. hehe. Ga kelamaan kan updatenya? Engga lah. Sebenernya ini mau di update semalem Cuma mata eonni ga kuat lagi, dan baru jadi 2/4nya kan ga seru wkwkwk. Yang ngarepin ff ini bakalan wordsnya panjang, maaf ya. Ini udah eonni atur, cerita ini pasti kurang lebih 2k words aja. Pendek, tapi bikin cekot-cekot. Apalah ini wwkkww. Oke, langsung aja...
Thanks To:
[Nyssa HunHan] [KaiMinHun] [retnoajeng19] [HyuieYunnie] [chocolatos] [Galaxy YunJae] [justnyao] [XOXO Kimcloud] [Kwa's Orange sky] [Black Kim] [PurpleGyu] [winter park chanchan] [Fetty EXO-L] [exochanxi1] [Nanda] [fienyeol] [ceretbruh] [BlackLavends] [parkwu] [Cosmo] [XiuNiiChan] [Ftafsih] [pipidrahma] [Wiye YunJung] [oktaviarita rosita] [KaiNieris] [Park Shita] [bublegum] [ling-ling pandabear] [JongOdult] [egatoti] [sanee] [Kim Chan Min] [sanexchan] [yeollyana] [kimihyun211]
Wanna give me some reviews?
Ada yang ga kesebut atau pennamenya eonni salah tulis?
