Kris X Chanyeol
.
.
Do not copy-paste or repost because this story is from my own imagination. I just add names for fill the casts, EXO is belong to their own self.
Close the tab if you don't like it.
Warning! These is YAOI and some sexual contents for some chapters.
.
Benar-benar tidak dianjurkan untuk yang merasa 'belum' cukup umur karena...
There's some sex scenes in some chapters.
Hope you like it~
.
.
Chapter 6
Seminggu setelah pertemuannya dengan Jeniffer, Kris di kejutkan oleh banyak suara bising. Sungguh, ini rumah sakit, bukan tempat untuk orang-orang berteriak-teriak sesuka hati mereka. Jadi, itu membuat Kris secara langsung mengerutkan keningnya bingung. Ia sibuk dengan beberapa catatan pasien, ia sengaja bekerja lebih awal hari ini dan suara di luar sana sama sekali tidak membantu. Ya, maksudnya secara keseluruhan... itu sangat mengganggu. Ia tetap memandang bingung ke arah pintu, pena mengambang bersama tangannya, dan catatan yang separuh jadi—lebih tepatnya masih banyak yang harus di tulis. Ia terlalu fokus mendengarkan suara di luar.
BRAK!
"Kris!"
Seorang wanita, dengan dress merah dan tas yang berwarna sama masuk dengan dada naik-turun. Nafasnya terengah-engah. Tunggu, Kris semakin bingung di sini. "Tolong aku—"
"Hey! Kau tidak boleh masuk sembarangan ke ruangan dokter!"
"Aku tidak peduli!"
Kris melotot, "Tunggu-tunggu, ada apa ini?" ia bertanya dengan tenang, membuat tiga orang—si wanita berbaju merah dan para security rumah sakit itu terdiam.
"Dia seorang penyusup dokter!"
"Tidak! Aku hanya ingin bertemu denganmu Kris."
"Dia memaksa masuk ke sini dokter, dia bahkan berteriak-teriak di lorong lantai dua sejak tadi." Yang lain memperjelas, membuat Kris semakin tidak mengerti.
Kenapa perempuan ini harus repot-repot bersikeras ke ruangan Kris dengan di cegat security? Bahkan Kris sangat yakin, di luar bukan hanya suara tiga orang ini. Pasti perempuan ini membuat kekacauan besar.
"Jadi apa boleh kami mengusirnya keluar seperti tujuan awal kami dokter?"
"TIDAK! Kalian tidak boleh, Ya Tuhan... Kris! Aku hanya ingin bertemu denganmu."
Kris menghela nafasnya, "Biarkan saja. Kalian tidak seharusnya bersikap seperti itu kepada wanita."
Wanita itu menyunggingkan senyum penuh kemenangan, bahkan ia menjulurkan lidah untuk mengolok dua penjaga rumah sakit itu. Membuat yang satu dengan tempramen tinggi menjadi kesal, "Dasar wanita gila!"
"Sudah, ayo kita pergi! Kami permisi dokter."
Pria yang lebih kurus, berusaha menarik temannya dengan amarah tidak terkontrol keluar dari ruangan Kris. Sungguh, Kris tidak mengerti.
Perempuan itu kemudian berjalan dengan santai untuk mendekat, ia bahkan duduk di kursi pasien—tepat di seberang Kris tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Kris menautkan alisnya, perempuan itu malah melipat kedua tangannya di dada.
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?"
Kris bertanya penuh selidik, perempuan itu malah tertawa "Aku? Oh... hanya ingin menyapamu saja."
"Apa maksudmu? Siapa kau?"
Wanita itu mendengus, ia menatap Kris tidak percaya. "Aku? Kau tidak ingat denganku? Yang benar saja! Jesus!"
Kris menatap perempuan di depannya tidak suka, "Katakan saja siapa dirimu, dan jangan berbelit-belit."
Wanita itu mengangguk-angguk, "Well... aku Liara. Sudah ingat? Aku mantan kekasihmu yang tercantik dari mungkin 20 mantan kekasihmu. Euhm, aku benci mengatakan ini, tapi aku lebih cantik dari kakakku sendiri—Jeniffer."
Kris membulatkan matanya, "Apa?"
Ya, bagus... sepasang saudari yang menyebalkan.
"Okay..."
"Kau sudah ingat denganku?"
Liara mengetes Kris, memandang lelaki di seberangnya penuh harap. Kris mengangkat kedua bahunya, "Kurasa, ya. Mengingat aku pernah punya pasangan yang sangat menyukai babi."
Liara tertawa, "Kau mengingatku!"
Perempuan itu berseru senang, ia bahkan bertepuk tangan. Sungguh, wanita ini benar-benar gila. Siapa yang tidak ingat dengan Liara? Adik kandung Jeniffer. Saat Kris berkencan dengan Jeniffer setelah kencan buta yang di rencanakan dengan teman-teman kuliahnya—justru Liara datang dan menghancurkan semuanya. Yang pasti, Liara selalu mengganggunya. Wanita itu tidak suka saat Kris bergandengan tangan dengan Jeniffer atau sejenisnya.
Wanita itu benar-benar seorang pengganggu.
Kris hanya mengangguk, ia kemudian menunduk dan meneruskan pekerjaannya tadi. Liara merengut melihat itu, "Really? Kau lebih tertarik dengan kertas-kertas itu ketimbang aku?"
Kau pikir aku pernah tertarik padamu, huh?
"Huh? Oh, maaf. Aku sedang memiliki banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan secepat mungkin."
"Kau tidak berniat menghormatiku sebagai tamu?"
Kris mendongak, ia menajamkan tatapannya, "Kalau kau berharap seperti itu, harusnya kau datang ke rumahku, bukannya ke rumah sakit."
"Tapi kau tidak pernah pulang!"
"Bagaimana kau tahu?" Kris terpaksa menghentikan kegiatannya lagi.
Liara menyebul poninya yang jatuh, rambut pirangnya sengaja ia belai di depan Kris. Maksudnya berusaha membuat Kris tertarik lagi padanya. Liara belum bisa melupakan Kris, walaupun lelaki itu tidak pernah mempedulikannya. Sekuat apapun Liara mencoba.
"Jeniffer cerita padaku, kalau kau bekerja sebagai dokter di rumah sakit ini saat ia membawa anaknya untuk periksa. Dan, aku mencoba mengecek alamat rumah lamamu dan kau tidak pernah ada di sana. Paling-paling hanya ibumu yang sesekali datang ke sana."
Oh, yang benar saja! Jeniffer sialan!
"Jadi, Jeniffer itu seorang pengadu, ya?"
Liara mengangguk-angguk, "Tentu saja. Apalagi, dirinya sangat tahu kalau aku sangat menyukaimu. Bahkan aku sampai merebutmu yang saat itu dalam posisi sebagai kekasih Jeniffer hingga menjadi kekasihku, kan? Aku hebat, bukan?"
Liara tertawa sendirian, menggema sampai seluruh ruangan kerja Kris yang tidak sebegitu luas. Melihat respon yang tidak menyenangkan dari Kris, Liara akhirnya berdehem setelah menghentikan tawanya yang di buat-buat itu dengan susah payah.
"Jadi, bagaimana kabarmu?"
Kris memutuskan menunda dulu pekerjaannya selama si bedebah berisik ini masih ada di ruangannya, ia hanya mengetuk-ngetukkan penanya di meja. "Aku? Well, sangat baik."
Jeda beberapa detik, dan Kris hanya diam saja. Ini bukan yang Liara harapkan. Setidaknya seperti bagaimana denganmu? atau paling tidak dan kau? saja itu sudah cukup. Ia merasa sedikit kecewa dengan itu.
Liara mencoba mencari topik yang bagus, setidaknya tidak terlalu bertele-tele tetapi menarik untuk di bicarakan. Liara berusaha membuat Kris tertarik untuk mengobrol dengannya. Ya, Liara sangat menginginkan itu.
"Apa kau sudah punya kekasih?"
Itu terucap tanpa sengaja di mulutnya, membuat Liara refleks menutup mulutnya yang suka asal bicara itu menggunakan kedua telapaknya untuk membekap bibirnya sendiri.
Kris terdiam, membuat Liara menjadi salah tingkah. Apakah ia salah telah menanyakan hal pribadi seperti itu?
"Tentu."
Liara membulatkan kedua matanya, setelah itu ia kembalikan posisi tangannya seperti semula. "What?! Seriously?!"
Kris mengangguk pelan, setelah itu ia mengangkat kedua bahunya. "Well, dia adalah lelaki yang manis dan—"
"Apa?! Kau berpacaran dengan seorang pria?!"
Respon terkejut berlebihan yang Kris dapati dari Liara, tetapi ia hanya mengangguk santai. "Yeah, begitulah."
Liara menatap Kris tidak percaya, "Yang benar saja! Apa kau menjadi seorang gay sekarang?"
Kris tahu, dari nada bicaranya Liara tengah mengolok dirinya. Karena pertama, Kris seorang gay yang memacari lelaki, dan kedua itu... berarti tidak ada peluang lagi untuk Liara kembali pada Kris. Kris paham betul, perempuan ini mempunyai obsesi khusus padanya. Kris sudah mengetahui itu sejak bertahun-tahun lalu.
Kris akhirnya mengangguk, tapi sejenak ia mengangkat bahunya lagi. Seperti seseorang yang tidak kosisten, "Euhm, bisa di bilang ya. Tapi, mengingat aku memiliki banyak mantan kekasih wanita sepertinya julukan biseks lebih pantas. Kalaupun orang-orang menyebutku homo itu juga tidak masalah."
Kris berseru dengan santai, itu membuat Liara menjadi geram.
"RGH! Memangnya apa yang kau pikirkan sampai-sampai kau mau memacari seorang pria?!"
Perempuan itu berseru kencang, setengah berteriak, di hayati dengan banyak makian dan dahi yang berkedut marah saat mengucapkannya. Kris malah senang melihat itu, oh... kapan perempuan ini cepat enyah dari hadapannya?
"Karena dia sangat manis. Tidak ada wanita yang bisa menyaingi wajah cantiknya, dia sangat manja, dan ehm... apalagi yang harus aku gunakan untuk mendekskripsikannya?"
Kris mengangkat sudut bibirnya puas, membuat Liara semakin kesal. Perempuan itu langsung berdiri sambil menggebrak meja kerja Kris dengan sangat keras.
Okay, Kris sedikit terkejut dengan ini. "Lihat saja! Urgh!"
Perempuan itu berjalan setengah menghentak, membuat Kris menatap ngeri ke arah highheels nya yang seperti akan patah saja. Setelah itu, Liara membanting pintu ruangan Kris. Kris di buat terkejut entah keberapa kali untuk pagi ini.
Kris hanya bisa menghembuskan nafas lega. Akhirnya ia bisa membuat perempuan itu enyah dari hadapannya, dan melanjutkan pekerjaannya lagi. Kris tidak mau memikirkan apa maksud dari perkataan Liara tadi.
.
.
Heal Me, Medicine
.
.
Chanyeol berjalan menuju kamarnya, seorang perawat membantu langkahnya. Sang suster sudah bersikeras menawarkan agar Chanyeol menggunakan kursi roda saja, tetapi Chanyeol menolaknya. Chanyeol tidak mau tampak selemah itu. Rambutnya banyak yang rontok, dapat di lihat pada telapaknya sekarang. Sang perawat sudah meninggalkan ruangannya, Chanyeol sendirian. Ia memutuskan memakai lagi beannienya. Sungguh, Chanyeol malu. Ya ampun, ia tidak mau terlihat dengan kepala setengah botak saat kakak perempuannya menjenguk nanti. Chanyeol sudah di janjikan banyak barang. Seperti, Chanyeol rindu dengan sweater hangat rajutan ibunya sendiri, atau surat-surat konyol dari teman-teman mainnya di sma. Ya, mereka sudah berbahagia di universitas, seperti Jongin juga, sedangkan Chanyeol harus menghabiskan waktu dua tahunnya yang menyedihkan di Kanada dengan tergolek lemah di rumah sakit.
Bahkan rumah sakit ini lebih seperti rumahnya. Kakaknya akan menjenguk Chanyeol, yah setelah sekian lama dirinya berusaha menyempatkan waktu untuk adiknya yang tercinta.
Chanyeol sibuk memainkan ponselnya, tiba-tiba ia mendengar suara pintu ruang inapnya yang terbuka. Seorang laki-laki muncul di balik pintu, membuat Chanyeol membulatkan matanya terkejut. "Jongin? Jongin!"
Chanyeol berteriak histeris, membuat Jongin tertawa. Lelaki itu masuk dengan sebuket bunga besar dan roti isi daging yang banyak—Jongin sangat tahu tentang apa yang Chanyeol suka maupun tidak suka.
"Ayo masuk!"
Jongin mengangguk, lalu duduk di kursi yang tersedia di samping ranjang Chanyeol. "Apa kabar hyung?"
Chanyeol terkikik geli, "Fine! Bagaimana denganmu? Kuliahmu berjalan dengan lancar?"
Jongin mengangguk, "Tentu. Tapi aku sempat mendapat skors karena mengacau di kelasku." Ia tersenyum kecut saat mengatakannya, membuat Chanyeol tertawa keras.
Jongin meletakkan buket bunga besar yang dominan dengan warna merah muda-biru itu ke atas meja, beserta roti-roti kesukaan Chanyeol. Chanyeol merengut saat melihat bunga, "Kenapa kau membawakanku bunga? Kau pikir seleraku seperti perempuan, huh?"
Jongin tertawa, "Ya, kau kan seperti wanita. Kau sering di bawahi kekasih doktermu itu, kan?"
Jongin menaik-turunkan kedua alisnya, membuat Chanyeol kesal lalu memukul lengannya keras. "Enak saja kau!"
"Sakit hyung!"
"Dasar sialan kau Jong—AA roti isi!"
Chanyeol langsung menyambarkan kotak roti tersebut, ia membuka bungkusannya dengan cepat setelah mengambil satu lalu mengunyahnya sambil mendesah lelah. "Sudah berapa lama aku tidak memakan yang seperti ini?"
Jongin tertawa lagi, "Kau ini berlebihan sekali."
"Sungguh Jongin! Aku sudah lama tidak memakan ini."
Jongin meredakan tawanya, ia hanya tersenyum sambil menengok ke arah sekeliling. "Hyung..."
"Hm?"
Chanyeol sibuk mengunyah rotinya, "Dimana kekasih doktermu itu?"
Chanyeol melotot, "Uhuk! Uhuk!" Jongin terkejut saat melihat Chanyeol tersedak hebat, anak itu sibuk memukul-mukul dadanya agar batuknya cepat reda.
"Pelan-pelan kalau makan hyung!"
Chanyeol meraih botol air minum yang selalu ia sediakan di meja, ia menatap Jongin dengan tajam setelahnya. "Sialan kau Jongin!"
Jongin mendelik, "Kenapa kau jadi menyalahkanku?"
"Jelas-jelas ucapanmu membuatku tersedak bodoh!" Chanyeol menegak air putihnya lagi. Jongin mendengus, "Aku kan hanya bertanya, hyung."
Chanyeol mencibir, "Ya! Ya! Terserah kau saja!"
"Aku bersungguh-sungguh hyung... mana kekasihmu itu? Dia yang menarikmu waktu kita sedang berciuman—"
"Ya! Hentikan! Tentu saja dia sedang mengurusi pasiennya bodoh!"
Chanyeol merengut, Jongin tertawa sambil memegangi perutnya. "Kau ini lucu sekali. Tapi, sungguh... kalau kalian bercinta, kau yang berada di bawahnya atau—"
"Ya! Hentikan ucapan bodohmu itu!"
Jongin tertawa keras lagi, ia mengusap air matanya yang menetes karena tawa yang berlebihan. "Kau ini benar-benar lucu kalau kesal."
Chanyeol menyantap rotinya dengan beringas. Jongin kemudian terdiam, ia menyadari Chanyeol yang semakin pucat dan beannie yang anak itu gunakan. "Eum... hyung? Itu..." Jongin menunjuk-nunjuk topinya, Chanyeol baru menyadari itu.
"Oh, ini?"
Ia menunjuk kepalanya, Jongin mengangguk menanggapi itu. "Rambutku banyak yang rontok. Karena kemoterapi."
Jongin mengangguk-angguk pelan, "Boleh aku melihatnya?"
Chanyeol menatap Jongin ragu, namun ia menepis itu semua. Untuk apa? Mereka sudah sangat mengenal baik satu sama lain, kan? Akhirnya, Chanyeol membuka beannienya secara perlahan. Jongin terperangah melihatnya, separuh kepala Chanyeol yang atas—tidak tertutupi rambut. Chanyeol bersungguh-sungguh dengan perkataannya.
Jongin hanya diam, ia takut salah bicara. Chanyeol memakai beannie nya lagi sambil tertawa, "Kenapa? Katakan saja Jongin!" ia berusaha mencairkan suasana yang mendadak canggung. Mungkin Jongin hanya sungkan menyinggung masalah penyakitnya? Ya, Chanyeol hanya berpikir seperti itu.
"Apa... kau merasa lebih baik akhir-akhir ini?"
"Tentu saja. Bahkan setelah terapi aku merasa lebih baik, walaupun sedikit efek samping seperti pusing atau rambut rontok itu tidak masalah."
"Sudah stadium berapa kankermu itu hyung?"
Chanyeol bergumam sebentar, "Aku rasa 2. Ya, anehnya selama 2 tahun di rumah sakit, aku menolak keras kemoterapi, dan... yah, mungkin Tuhan sangat sayang padaku."
Jongin tersenyum, "Cepat sembuh, hyung."
Chanyeol membalasnya, Jongin yang menggenggam telapak tangannya. "Terima kasih, Jongin. Terima kasih."
.
.
.
Sudah berbulan-bulan, Chanyeol menjalani terapinya, dan keadaannya semakin membaik. Jongin sesekali menjenguknya saat itu sempat, menghibur banyak waktu luang Chanyeol dengan candaan selama berjam-jam. Sweater baru buatan ibunya, yang sempat di bawakan kakak perempuannya saat berkunjung membuat Chanyeol nyaman selama tidurnya setiap malam-malam. Hangat dan lembut. dr. Smith merawatnya dengan baik.
Sedangkan Kris tidak mempunyai banyak waktu luang untuk Chanyeol, terlalu banyak rapat dokter, terlalu banyak urusan yang mengharuskannya bertugas sesekali ke rumah sakit lain. Sudah hampir sebulan ini, ia tidak bertemu Chanyeol. Tidak seperti bulan-bulan lalu, ia masih sempat. Ia hanya sempat berkomunikasi dengan anak itu lewat telepon, berkirim pesan, intinya seperti itu. Yang membuang Kris pusing, Liara terus-terusan menelponnya, entah wanita itu dapat nomor ponselnya dari mana.
Kris sangat kesal.
.
.
.
"Kris!"
Liara datang setengah berlari, ia tidak peduli dengan kemudian pergelangan kakinya yang akan terkilir atau apapun itu. Masa bodoh. Kris melihat tidak suka ke arah Liara. "Untuk apa kau ke sini?"
Ia melipat kedua tangannya di dada, membuat Liara merengut sebal. "Hargai aku sebagai tamumu!"
"Ini rumah sakit, Liara! Bukan rumah pribadi!"
"Tapi tetap saja! Kau harusnya—"
"Bisakah kau diam? Atau aku akan memanggil security untuk mengusirmu dari sini."
Liara melotot, "Kau tidak bisa melakukan itu!"
Kris mendengus, "Pergilah, aku sedang tidak ingin di ganggu."
"Setidaknya, jadilah kekasihku lagi Kris! Aku sudah lama ingin bertemu denganmu untuk membicarakan ini, aku sering ke rumah sakit tetapi kau juga sering sibuk dan tidak ada di ruanganmu!"
"Pergilah! Aku sedang bekerja, dan aku sudah punya kekasih!"
"Mana kekasihmu? Oh, aku tahu... laki-laki sakit, yang selalu memakai pembantu pernafasan di hidungnya, membawa infus kemana-mana, dan menutupi kepalanya dengan beannie putih karena botak, kan?!"
Liara berteriak kesal, itu berhasil menyulut amarah Kris sendiri.
"Jaga ucapanmu!"
Kris menggebrak meja kerjanya, ia berdiri dari posisi duduk. Dahinya berkedut-kedut emosi. Itu membuat Liara menyunggingkan senyuman miring, perempuan itu melipat kedua tangannya di dada. "Aku benar, kan? Kenapa tipemu buruk sekali, Kris? Dan, oh aku ingat dia sering bercanda dengan laki-laki seumurannya di kamar bahkan di taman rumah sakit. See? Pasangan gay juga bisa berselingkuh, cinta yang seperti itu tidak a—"
"Jaga ucapanmu!"
Kris berteriak lantang, membuat Liara terperangah. Sekarang pria itu melangkah mendekatinya, membuat Liara refleks mundur karena menatap mata penuh amarah yang tersulut panas. Kris mendekat, membuat Liara sampai terjebak di pintu. Ia bingung harus menghindar kemana lagi.
"AKH!"
Kris menjambak rambutnya kuat, membuat Liara mengerang, lelaki itu membuka pintu ruangannya lalu menyeret Liara ke luar. Perempuan itu berteriak keras karena kulit kepalanya yang serasa ingin lepas. Lagi-lagi, lantai dua rumah sakit ini di buat ramai karena kekacauan yang Liara buat.
Kris langsung mendorong Liara, membuat perempuan itu terjatuh dengan posisi salah. Kakinya terkilir. "AKH! It hurts! Aw.."
Liara memegang pergelangan kakinya dengan takut-takut, kakinya benar-benar sakit. "Kau gila Kris!"
"Kau yang gila!" Kris berteriak tidak terima, membuat Liara terdiam. Ia hanya bisa meringis merasakan sakit di kakinya.
"Kau lihat?—" Kris menunjuk ke arah kakinya, "Kau pantas mendapatkan itu! Kau boleh memakiku sesukamu, tapi kau tidak boleh mengolok Chanyeol seperti itu! Dia itu bukan laki-laki buruk seperti yang kau ucapkan tadi! Kau itu hanya pembual besar, Liara! Jika kau mengajakku untuk sebuah komitmen lagi,... jawabannya tidak. Karena aku sudah tahu, kau itu sakit jiwa! Kau hanya punya obsesi besar padaku."
Liara menatap tidak percaya ke arah Kris, "K-kau..."
"Ya, silahkan... cari orang lain yang bisa menolongmu. Aku masih banyak pekerjaan, permisi."
Kris mendorong pintu ruangannya, lalu masuk. Liara menatap pintu itu dengan kedua matanya yang berkaca-kaca. Apa? Dia bilang Liara hanyalah wanita sakit jiwa dengan obsesi besar pada Kris? Seburuk itukah dirinya?
Liara mengusap air matanya, ia masih melihat ke arah pergelangan kakinya yang sakit. Perlahan, warnanya berubah menjadi kebiruan.
"Astaga, nona aku akan membantumu..."
Seorang dokter membantunya untuk berdiri, beberapa perawat membawakan kursi roda untuk Liara duduk.
Liara tidak akan membiarkan Kris tenang setelah mengatainya seperti itu tadi.
Lihat saja...
.
.
.
"Kau sembuh, Chanyeol. Kau perlu melepaskan ini. Ini sebuah keajaiban!"
dr. Smith melepaskan cannulanya, Yoora—kakak Chanyeol yang duduk di sebelahnya bahkan menangis saat melihat hasil x-ray pada paru-parunya. Chanyeol merasakan sesuatu yang membuatnya sangat senang.
"Kau sembuh Chanyeol. Kau sembuh! I-ibu pasti akan sangat senang!" Yoora menepuk bahu Chanyeol senang, Chanyeol mengangguk cepat. Ia tidak tahan bila melihat salah satu orang yang di sayanginya menangis untuknya seperti itu.
Chanyeol merasakan nafasnya yang berjalan dengan baik, ia bisa menghirup oksigen dengan mudah... semudah ia mengeluarkannya juga. dr. Smith tersenyum melihat itu. "Selamat, Park Chanyeol! Aku tidak menyangka—"
dr. Smith menunda ucapannya sebentar, lelaki itu kembali duduk di kursinya. Menjadi bersebrangan dengan Chanyeol juga Yoora. "Dua tahun kau mengidap pneumonia, kau kesulitan bernafas, dan selama dua tahun itu pula stadium mu tidak naik. Kau tetap stabil, aku tidak tahu apa penyebabnya. Kondisi psikis yang baik juga mendukung kesembuhan pasien, Chanyeol terlihat banyak tersenyum pada semua orang dan itu menjanjikan sekali. Dan, hanya butuh beberapa bulan ini kau sudah sembuh. Kau bisa segera pulang jika kau mau."
"Kau bisa pulang, Chanyeol!"
Yoora tersenyum senang, mengusap air matanya sendiri. Chanyeol sangat senang melihat kakaknya bisa sebahagia itu, tetapi mendadak ia teringat sesuatu.
Pulang?
Bagaimana dengan Kris Wu? Apa hubungan mereka masih bisa berjalan layaknya pasangan normal? Kalau Chanyeol pulang ke Korea, apakah itu tidak akan menjadi lebih sulit lagi?
Bagaimana ini?
Chanyeol menunduk sedikit, ia menggigit bibirnya pelan. Ia takut. Satu hal yang paling membuatnya takut adalah berpisah dengan Kris. Walaupun berbulan-bulan ini mereka hampir tidak pernah bertemu, komukasi lewat ponsel saja, dan—bahkan selama tiga minggu ini Chanyeol tidak mendapati satu pesan atau panggilan pun dari Kris. dr. Smith banyak memberi tahu, Kris sibuk mengurusi rumah sakit yang ada di Amerika Serikat. Kris jarang ada di sini. Haruskah setelah sekian lama mereka tidak bertemu, Chanyeol malah mengucapkan perpisahan pada Kris?
Chanyeol hanya tersenyum kecil, penuh paksaan agar tidak membuat kakak perempuannya terbebani. Ia tidak mau mendengarkan apa-apa lagi yang di katakan dr. Smith selanjutnya.
.
.
.
Kris baru tiba di Kanada sore ini, ia memilih tidur sebentar lalu kembali ke ruangannya. Kris terlalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan ia lupa kapan terakhir kali dirinya mengisi baterai ponselnya. Kris hampir tidak pernah memegang ponsel, ia terlalu malas menanggapi gangguan-gangguan seperti telpon dari Liara atau sebagainya. Bukan, bukan maksud Kris menghindari Chanyeol. Hanya saja, ia butuh ketenangan saat bekerja. Dan setelah semuanya selesai, ia akan menjelaskannya pada Chanyeol.
Lagipula, dr. Smith juga tahu Kris banyak di tugaskan hal-hal seperti itu. Secara tidak langsung, Chanyeol pasti akan menanyakan kabarnya pada dr. Smith dan pria itu akan memberi tahu Chanyeol, benar?
Kris tidak tahu!
Ia menenggelamkan wajahnya pada dua lengannya, Kris masih sangat mengantuk. Dan pekerjaan seperti itu menumpuk sangat banyak, membuatnya membuang banyak waktu dan melupakan istirahat bahkan setidaknya makan.
Kehadiran seseorang merusak suasana tentram milik Kris.
Ia mendongak, mendapati Liara sudah berdiri di hadapannya sambil melipat dada. Menampilkan senyuman menyebalkan, Kris muak dengan wanita ini. Pintu ruangannya sudah Liara tutup. Melihat Liara yang sudah tahu dimana posisi ruangan Kris membuatnya tidak harus menarik perhatian kepada semua orang karena bertanya-tanya lalu memaksa masuk seperti waktu itu. Liara santai saja menanggapi ini.
"Apa lagi?"
Kris bertanya dengan malas, membuat Liara tersenyum sangat manis. Manis yang di buat-buat, Kris rasanya ingin muntah. Well, ia tidak punya mantan kekasih yang semengganggu ini—Liara adalah satu-satunya.
"Aku masih akan tetap memaksamu jadi kekasihku lagi..."
Kris mendengus, "Aku tetap akan menjawab tidak akan hal itu."
Liara menggeram, "Kau harus mau!"
"Kenapa? Kau tidak berhak memaksaku seperti itu, Liara! Kau bukan siapa-siapa dan—"
Liara tertawa kencang, berpura-pura tertawa sambil bertepuk tangan dengan keras. Kris mengerutkan keningnya bingung, "Lucu sekali Kris. Kau akan membandingkanku dengan bocah asiamu itu!"
"Dia punya nama!"
"Terserah! Aku tidak peduli akan hal itu! Aku muak jika kau membicarakan tentang kekasih gay mu itu!"
"Dan satu hal, aku tidak pernah membandingkanmu dengan dia, aku hanya membandingkannya dengan para mantan kekasihku."
"Aku juga mantan kekasihmu!"
"Jika kau merasa seperti itu..., tidak masalah!"
"ARGH! Persetan denganmu Kris!"
Liara melemparkan tasnya ke kursi, ia langsung duduk di pangkuan Kris setelah memutar kursinya. Membuat Kris terbelalak dan belum sempat mencegah saat Liara langsung mencium bibirnya ganas. Perempuan ini benar-benar tergila-gila padanya, dan akan melakukan apapun caranya agar Kris mau menjadi miliknya lagi.
Liara memaksa Kris, ia hampir mencekik leher Kris. Ciuman penuh paksaan, Kris tidak ingin membalas ini tetapi mulutnya sudah terlanjur terbuka. Membuat seolah-olah lelaki itu menerima ciuman Liara.
Perempuan itu membuka sendiri resleting belakang bajunya, membukanya sampai melorot sepundak. Kris membelalakkan matanya. Ya Tuhan, apakah ia akan di perkosa seorang wanita gila begitu? Liara sengaja tidak memakai bra, perempuan itu sudah menurunkan pakaiannya sampai di perut. Keseluruhan dadanya tampak, dan ia memaksa Kris mengarahkan mulutnya ke dadanya.
"Come on Kris, ahh!"
"Tidak! Aku..." Kris tidak bisa melawan. Tenaga perempuan ini sangat kuat, dan dengan Liara menggesek-gesekkan pahanya di atas kemaluan Kris membuat ini semua menjadi buruk lagi. Kris berpikir, tidak mungkin ia mendorong Liara—kalau sampai perempuan itu terbentur ke lantai, kemungkinan besar ia akan mati dan Kris akan di kejar-kejar oleh tuntutan seumur hidup. Jeniffer tidak jauh menyeramkan dengan Liara.
.
.
.
"dr. Wu memanggilmu ke ruangannya, Mr. Park Chanyeol."
Chanyeol mendongak, ia mengangguk setelahnya. Perawat itu pergi. Yoora memegangi pundaknya erat, perempuan itu mengangguk.
"Ini waktu yang tepat Chanyeol. Kau bisa mempertimbangkan ini dengannya, kalian pasti bisa. Kris Wu pasti sudah cukup dewasa untuk ini, begitu juga denganmu."
Chanyeol mengangguk pelan, "Terima kasih, noona."
Yoora menepuk pundaknya sekali lagi, sebagai penyemangat. Chanyeol turun dari ranjangnya, ia berjalan keluar dari kamar dan menuju ke ruangan Kris yang berada di ujung sana. Masih di lantai dua.
Setelah tiba, Chanyeol menarik nafas banyak-banyak. Ia harus siap dengan konsekuensinya. Chanyeol senang dirinya bisa sembuh, tetapi ia harus menerima juga resiko pulang ke Korea. Itu berarti Kris dan dirinya hanya bisa berhubungan sebatas email atau sejenisnya. Sungguh, Chanyeol tidak ingin ini terjadi tetapi ia harus tahu... Kris seorang dokter dan masih banyak yang lebih membutuhkannya ketimbang Chanyeol.
Kau bisa melakukan ini Chanyeol!
Chanyeol memutar kenopnya perlahan...
"Ahh.. Kris! More..."
Mendengar itu Chanyeol langsung menggebrak pintunya sampai terbuka lebar. Bunyi yang sangat keras membuat mata Kris yang sedari tadi terpejam karena menahan semuanya terpaksa harus terbuka. Kedua matanya terbelalak.
Chanyeol?
Chanyeol menguatkan pegangannya pada kenop pintu, masa bodoh jika semua orang di luar melihat apa yang Kris lakukan di ruangan ini.
Chanyeol merasakan bibirnya mulai bergetar, seluruh wajahnya memerah karena meredam emosi, dan kedua katanya yang sudah memanas. Apa ini? Apa yang Kris lakukan? Jadi, selama ini... saat Kris tidak sempat menghubunginya, sibuk mengurusi urusan di luar rumah sakit ini... malah bermain dengan wanita yang sudah setengah telanjang di ruangannya sambil mendesahkan nama Kris, begitu? Bagaimana Chanyeol bisa berpikir jernih? Di saat ia mengumpulkan tekad, keberanian untuk membicarakan perihal hubungan mereka—Kris malah seperti ini?
Kris langsung mendorong Liara, perempuan itu berteriak karena terjatuh ke lantai. Kris tidak peduli, lelaki itu langsung berdiri. Chanyeol membuang matanya saat air mata itu menetes. Hatinya sakit. Setelahnya. Kris tidak mengira kalau Chanyeol akan berlari menjauh dari pintu ruangannya.
"Chanyeol! Park Chanyeol!"
Kris hendak keluar dari sini, tetapi Liara menarik kakinya. "Mau kemana kau?!"
"Jangan tarik kakiku jalang!"
Liara tersenyum puas, "See? Setidaknya ini setimpal dengan kakiku waktu itu."
Kris melotot.
Bagus sekali Liara.
Liara sengaja. Ia sengaja merencanakan semua ini, membuat Chanyeol datang ke ruangannya saat mereka dalam posisi seperti itu. Namun, kemudian ia melihat Liara meneteskan air matanya. "Kau tetap harus bersamaku."
"Tidak!"
Kris membentak. "Aku mencintai Chanyeol!"
Setelahnya Kris berlari menuju ruangan Chanyeol. Dirinya sudah membuang banyak waktu tadi.
.
.
.
To Be Continued—
.
.
.
Or End?
.
.
Ini No Edit. Telen banyak-banyak typosnya wkkwkw. Well, akhirnya bisa lanjutin ff ini lagi. Sorry for late update yaa... hehe.. for info, memang dari awal planning ff ini pendek. Jadi, 2 atau 3 chapter lagi mungkin end. Langsung aja...
Thanks To:
[PurpleGyu] [Kirity Kim] [HyuieYunnie] [HealMeMedicineIsEnd] [Black Kim] [AprilianyArdeta] [FettyEXO-L] [JongOdult] [KimChanMin] [winterpark chanchan] [fienyeol] [bublegum] [retnoajeng19] [egatoti] [Kwa's Orange Sky] [XOXO KimCloud] [justnyao] [Wu tyfan] [kimihyun211] [yeollyana] [exochanxi1] [fitrysukma39] [Ftafsih] [guardian's feel] [JessicaInuzukaUzumaki] [HamsterXiumin] [ling-ling pandabear] [oktaviarita rosita] [ChanBaekLuv] [fixme92] [MinYeolKook] [HanitaCho] [sanexchan]
Wanna give me some reviews again?
