Title : Take Flight [Semi-Songfic]

Author : Kim Sun Ri

Genre : Romance, Hurt/Comfort, SliceofLife

Rating : T

Length : Oneshot [Sequel]

Disclaimer : This fict is mine, but the casts aren't

Warning : Yaoi, BoyXBoy, BL, AU, OOC(?)

Pairing : Eunhae

.

Don't Like Don't Read!

A/N : Song used is titled 'The Flight [비상]', by Im Jaebum, but I used the bit that Hwang Chi Yeol (3) sung. I changed the title of the song for the fic title to be a little more fitting.

Link for the performance: https:#/www.#youtube.#com/watch?v=XEddjokhgM8 (erase 3 #)

(p.s : psst.. he made a cameo in this story hehe)

Enjoy!

.

.:Take Flight:.

.

.

Author's POV

"Sekarang waktunya..."

Donghae berbisik pada dirinya sendiri, tangannya tanpa sadar menggenggam erat ujung bajunya. Ia gemetar, tangannya yang satu lagi menggenggam mic yang masih dimatikan. Matanya menoleh sekeliling dengan cepat, tak berhenti di satu titik selama lebih dari lima detik, sebuah kebiasaan ketika ia sedang merasa gugup. Ia terus memandang area belakang panggung tersebut.

Mengapa aku disini?

Bisik suara dalam kepalanya, dan ia kembali meragukan semuanya kembali. Keberanian yang semula ia bangun perlahan kembali goyah saat rasa pesimis mulai melingkupinya. Perlahan, pikirannya memutar kembali hal yang terjadi seminggu lalu.

.


.

"...Showcase?"

Donghae menggumam, menyuarakan kebingungannya. Tangannya menggenggam selembaran kertas yang diberikan oleh guru vocal sekolahnya. Perlahan ia mengangkat wajahnya yang semula menatap kertas itu untuk menatap heran ke arah gurunya tersebut.

"Ne," jawab sang guru dengan senyuman.

"Tapi ini showcase biasa bukan? Bukankah sekolah kita memang rutin mengadakan showcase setiap beberapa bulan sekali? Lalu mengapa seonsaengnim bilang ini penting sekali?" tanya Donghae.

"Memang ini showcase biasa. Namun disaat yang sama tidak biasa juga. Kabarnya, akan ada banyak pencari bakat dari agensi terkenal yang akan datang ke showcase ini nanti. Dan itu merupakan sebuah kesempatan yang amat bagus," sang guru berhenti sejenak untuk menatap Donghae dengan senyuman kecil, matanya menyiratkan perhatian. Meski begitu diliputi sedikit rasa maaf juga, mungkin karena hal yang akan ia ucapkan. "Aku ingin memberi kesempatan ini untukmu, Donghae. Aku tau kondisi keluargamu sedang sedikit... sulit. Jika ada satu saja dari pencari bakat itu yang tertarik pada suaramu, itu akan menjadi sebuah peluang besar untukmu."

Donghae tertegun, kemudian ia menunduk. Genggamannya pada kertas itu semakin mengeras, sedikit gemetar. "A-aku... Aku tidak yakin, seonsaengnim... Ada banyak murid sekolah kita yang lebih baik dariku... A-aku..."

Menyadarinya, sang guru menepuk pelan bahu murid favoritnya itu, kemudian membiarkan tangannya disana menggenggam bahunya dengan gestur yang menenangkan. "Semua orang memiliki suaranya sendiri, Donghae. Dan semua itu tergantung dari yang mendengarnya. Kau tidak bisa menilai siapa yang lebih baik ataupun lebih buruk darimu, karena semua suara terdengar indah di telinga yang berbeda."

Ia melihat bagaimana gemetar tangan Donghae menghilang, namun terlihat jelas pula bahwa muridnya itu masih merasa ragu. Ia menghela napas kecil, namun masih dengan senyuman menenangkan yang sama.

"Masih ada waktu, pikirkanlah dahulu. Namun ketahuilah bahwa apapun hasilnya, pasti akan selalu ada jalan untuk mencapai impianmu selama kau selalu bernyanyi dengan sepenuh hati."

Donghae mengangguk, kemudian mengangkat wajahnya untuk tersenyum juga. "Aku mengerti. Terimakasih, Hwang-seonsaengnim."

.


.

Mengingat kembali waktu itu rupanya hanya membuat Donghae semakin merasa gugup. Ia kembali teringat perasaan ragunya, perasaan tidak percaya diri yang muncul ketika ia mengingat murid-murid lain dengan suara yang indah.

Lagi-lagi ia mempertanyakan keputusannya untuk berada disini sekarang, bersiap di belakang panggung auditorium sekolah, menunggu namanya dipanggil untuk maju kedepan. Ia mulai berpikiran untuk merubah kuputusan tersebut disaat ia masih bisa mangkir dari semua itu.

Aku ingin lari.

Haruskah aku lari? Haruskah aku menyerah disini?

Ia mengintip dari belakang panggung, dan matanya melihat barisan-barisan bangku yang dipenuhi orang-orang yang akan menontonnya nanti. Kemudian melihat beberapa orang yang sepertinya merupakan para pencari bakat. Satu orang, dua orang, tiga orang, dan mungkin orang yang duduk di sudut, dengan wajah serius dan saku seperti berisi kartu nama itu juga. Rasa gugupnya kini mencapai puncak.

Namun kemudian pandangan matanya terhenti pada sosok seseorang. Orang tersebut duduk di bagian tengah, deretan cukup awal. Ia terlihat sedikit tidak sabar, menonton siapapun yang sedang tampil dengan sedikit gerakan gelisah, seolah menunggu sesuatu, atau mungkin seseorang untuk tampil. Tanpa sadar Donghae tersenyum, tau bahwa ialah yang orang itu tunggu. Ialah yang membuat mata orang itu berkilat senang sesaat setiap kali seseorang di panggung menyelesaikan penampilannya, hanya untuk kembali meredup saat mengetahui yang berikutnya tampil bukanlah dirinya.

Lagi-lagi, Donghae kembali teringat akan hari yang sama, namun di waktu senja.

.


.

Donghae berjalan di lorong sekolah dengan kepala tertunduk, masih menggenggam selebaran mengenai showcase yang akan diadakan minggu depan. Untungnya sekolah telah usai sejak dua jam lalu, maka lorong sangat sepi sekarang. Hanya terdengar beberapa suara beberapa murid yang tinggal untuk latihan lebih dari kejauhan, entah di dalam kelas ataupun di ruang khusus yang disediakan sekolah.

Kata-kata Hwang-seonsaeng masih berputar dalam benaknya, namun ia terus meragukan dirinya sendiri.

"Hae? Sudah selesai?"

Terdengar suara yang familier memanggilnya dengan nada lembut, nada yang selalu digunakan ketika berhadapan denganya. Donghae mengangkat wajahnya, dan ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum saat ia melihat orang yang begitu dikasihinya.

"Ne, Hyukkie. Maaf, lama menunggu ya?" tanya Donghae.

"Ah, ani," sangkal Hyukjae. "Sebenarnya aku juga sempat dipanggil Yunho-hyung tadi untuk mendiskusikan beberapa kegiatan. Jadi aku tidak menunggu lama."

"Ah, begitu?" ujar Donghae retoris.

"Mhm. Ngomong-ngomong, jadi ada apa Hwang-seonsaeng memanggilmu?" belum sempat Donghae menjawab, Hyukjae melihat kearah selebaran yang masih dibawa Donghae. "Itu apa?"

"Ini..." Donghae menyerahkannya kepada Hyukjae dan menjelaskan selagi Hyukjae membacanya disaat yang sama. "Showcase yang akan diadakan minggu depan. Hwang-seonsaeng memintaku untuk tampil."

Hyukjae menatap Donghae kembali, mengangkat sebelah alisnya. Seolah ia tau bahwa bukan itu saja hal yang dikatakan sang guru kepada Donghae. Donghae menghela napasnya.

"...Katanya akan ada beberapa pencari bakat yang akan datang. Dan itu merupakan sebuah peluang besar."

Wajah Hyukjae berubah cerah. "Itu sangat bagus! Mungkin saja kau bisa ditarik ke agensi, Hae," ujarnya senang.

Namun antusiasmenya meredup saat ia melihat Donghae tidak menunjukkan rasa senang yang sama. "Donghae?"

"A-aku... Entahlah..." bisik Donghae pelan, kembali tertunduk.

"Ada apa?"nada suara Hyukjae kembali melembut, ia langsung menarik Donghae kesisinya, merengkuhnya lembut. Donghae menyandarkan dirinya pada Hyukjae dan menghela napas pelan.

"...Aku takut. Apa aku sanggup melakukan ini, Hyukjae? Apa suaraku sanggup menarik minat para pencari bakat? Bagaimana jika setelah aku menyanyi tidak ada yang tertarik dengan suaraku? Bagaimana jika aku hanya mempermalukan diriku sendiri diatas panggung itu?"

"Jangan berpikir begitu. Aku yakin mereka akan tertarik dengan suaramu, Donghae. Tidakkah kau percaya pada Hwang-seonsaengnim? Percayalah juga pada dirimu sendiri, Donghae. Kau memiliki suara yang indah. Suara paling indah yang pernah kudengar," bisik Hyukjae halus, mengusap surai rambut Donghae.

Wajah Donghae memerah sedikit, dan ia tersenyum. "Kau terlalu memfavoritkanku. Suaraku tidak sebagus itu. Masih banyak yang suaranya lebih bagus dariku. Dan sungguh... Aku tidak yakin suaraku mencapai sesuatu yang mereka harapkan..."

Hyukjae menghela napasnya, dan mereka terdiam seperti itu selama beberapa saat. Sebelum kemudian Hyukjae tiba-tiba berdiri dengan begitu tegap, sedikit menyentak, membuat Donghae terlonjak dari posisi bersandarnya.

"Hyukkie?"

"Kemari."

Donghae merasakan jemari tangan Hyukjae menggapai miliknya, menggandengnya erat sebelum menariknya mengikuti Hyukjae yang kini berlari.

"H-Hyukkie? Kita kemana?" seru Donghae dengan sedikit rasa panik.

Ia mendengar Hyukjae terkekeh tanpa menjawab pertanyaannya. Kemudian ia membiarkan dirinya ditarik, melewati lorong-lorong sekolah, keluar gedung, melewati area kosong, sebelum akhirnya berhenti didepan sebuah pohon besar. Pohon yang kini menaungi rerumputan dibawahnya dari sinar mentari senja. Pohon dimana mereka selalu membagi cerita impian.

"Menyanyilah," ujar Hyukjae tepat ketika mereka berhenti berlari.

"A-apa?" tanya Donghae dengan napas sedikit tersengal sehabis berlari.

"Menyanyilah, Hae. Biarkan aku mendengarmu lebih dulu sebelum kau tampil disana nanti. Menyanyilah sepuas hatimu," ucap Hyukjae dengan nada menyemangati.

Tangannya mengusap tangan Donghae, sebelum melepasnya perlahan, memberinya ruang. Donghae terdiam sesaat, terkejut. Ia amat ragu, dan cukup enggan. Namun dengan ditatap seperti itu, akhirnya ia menyerah. Perlahan Donghae mengatur napasnya untuk kembali stabil.

Kemudian ia membuka mulutnya dan mulai bernyanyi.

Awalnya suaranya cukup pelan, hanya sedikit di atas bisikan, diiringi dengan tiupan angin lembut sore hari. Namun lama-kelamaan, Donghae terhanyut dalam nyanyiannya sendiri. Ia memejamkan matanya, dan perlahan-lahan suaranya mengeras. Hingga akhirnya ia bernyanyi dengan lepas, tanpa memikirkan apapun.

Menyanyi dengan segenap perasaannya.

Saat Donghae membuka matanya setelah nyanyiannya selesai, napasnya sedikit tersengal. Ia merasa sulit bernapas, namun bukan karena rasa lelah, melainkan kepuasan yang begitu membuncah di hatinya. Karena begitu banyak perasaan yang melingkupi dirinya, terbawa emosi yang diluapkan melalui nyanyiannya.

Ia mendapati Hyukjae tengah menatapnya, perasaan kagum, bangga, dan kasih sayang yang melimpah tersorot melalui matanya yang dalam. Kemudian Hyukjae mengusap pipinya, sebelum mencium keningnya dengan lembut.

"Kau sempurna, Hae. Mereka akan menyesal jika mereka tidak memilihmu."

Donghae tersenyum.

.


.

Mengingatnya yang tersenyum saat itu membuat Donghae kembali tersenyum sekarang. Perlahan semua keraguannya hilang. Rasa hangat kembali melingkupi dirinya. Dan saat ia kembali melihat Hyukjae duduk diantara penonton, ia menemukan jawaban yang terus ia tanyakan sedari tadi.

Ia disini karena ia cinta menyanyi. Karena dengan menyanyilah ia bisa menumpahkan seluruh isi hatinya. Ia disini karena ia yakin dengan hatinya yang terus mengejar impian itu. Impian appanya, yang kini juga menjadi impiannya sendiri.

Karena itulah sekarang ia berdiri disini, menanti namanya untuk dipanggil, untuk menyanyi diatas panggung itu dan menunjukkan pada semua orang bahwa ia akan meraih impiannya.

Saat itu juga ia mendengar namanya dipanggil, dan ia melihat bagaimana Hyukjae langsung duduk tegap di kursinya, matanya terbuka lebar menatap panggung. Ia tidak bisa menahan tawa kecil yang lepas dari bibirnya sebelum ia melangkah dengan pasti keatas panggung.

"Annyeong haseyo," sapa Donghae kepada penonton sambil menggenggam micnya dengan kedua tangan. "Namaku Lee Donghae, dan malam ini aku akan membawakan sebuah lagu untuk kalian semua. Semoga kalian menikmati," ujarnya dengan sebuah senyuman.

Penonton terdiam untuk menyaksikan penampilannya, dan semua lampu dimatikan, menyisakan lampu sorot yang melingkupinya. Akan tetapi Donghae sama sekali tidak memperhatikannya. Yang kini ia rasakan hanyalah musik yang mulai mengalun, dan iapun memejamkan matanya, mulai bernyanyi.

'Nuguna hanbeonjjumun jagimani segyeoro'

At least once in their lives, everyone experiences the moment

'Ppajyeodeulge deuineun seunggani itji'

When the feel engrossed in their own world

Perlahan Donghae membuka matanya, menatap dengan sendu. Sepenuhnya terlarut dalam nyanyiannya, ia tidak memperhatikan apapun. Merasakan setiap kata-kata yang teralun dari mulutnya, menyampaikan semua keraguannya sebelumnya dalam melodi.

'Ijen ireon nae moseub najocha buranhae boyeo'

Now, I look uneasy myself

'Eodibuteo sijakhalji mollaseo'

Because I don't know where to start

Perlahan, keyakinan semakin terdengar jelas dari suaranya. Suatu perasaan kerinduan, dan keinginan untuk pencapaian tersampaikan dengan sempurna. Donghae menumpahkan semuanya kedalam lagu tersebut. Kedalam setiap kalimat, kesetiap kata.

'Nado sesange nagago shippeo'

I want to go to the world too

'Dangdanghi nae kkumdeureul boyeojulkkeoya'

I need to proudly show my dreams

'Geutorog oraetdongan omcheuryeotdeon nalgae'

My wings that have been shrunk back for so long

'Hanuro deo neolke pyeolchyeo boimyeo'

I will spread them wide in the sky

Hyukjae tertegun ditempatnya di kursi penonton. Seolah dapat melihat sepasang sayap putih yang sungguh perlahan mengembang di punggung kekasihnya. Dan ia tersenyum, tersenyum ketika seluruh perasaan Donghae tersampaikan.

Seolah merasakan tatapannya, kemudian pandangan Donghae berpindah dan terhenti padanya. Senyuman terulas dibibir Donghae, bagai cermin yang memantulkan senyumannya sendiri yang kini begitu lembut.

'Dashi saerobge sijakhal kkeoya'

I will start afresh

'Deo isang amugeotdo museobji anha'

I will no longer shrink from anything

Donghae kembali memejamkan matanya, ekspresi yang mirip dengan yang ia tampilkan ketika ia memulai nyanyiannya. Namun kali ini terlukis seulas senyuman. Dan iapun menyanyikan kalimat terakhir dalam nyanyiannya.

Suaranya meninggi, mengenai nada tinggi dengan sempurna, menahannya disana selama beberapa saat sebelum berhenti sejanak dan melanjutkannya ke kalimat penutup dengan sempurna.

'I sesang gyeondyeonael geu himi doejolkkeoya'

They will give me strength to bear this world

'Himgyeoweotdeon.. banghwangeun..'

My difficult.. past struggles..

Saat musik berhenti mengalun, penonton meledak dalam sorakan tepuk tangan yang menggema. Namun itu semua tidak terlihat di mata Donghae. Yang ia lihat kini hanyalah kekasihnya yang tersenyum begitu lebarnya, begitu hangatnya. Hatinya kembali dilingkupi perasaan hangat.

Apapun hasilnya, aku tidak peduli. Karena akhirnya disinilah aku, melakukan hal yang paling kusukai dengan segenap hatiku.

Aku tidak menyesal. Sama sekali tidak menyesal.

Aku bahagia.

Appa, apa kau melihatnya?

.

.

.

-Fin-

.

Jika dilihat lagi sebenarnya cerita ini tidak terlalu mengarah ke eunhae romance, tapi lebih donghae-centric. Semoga tidak mengecewakan ya ;_;

Disarankan mendengar lagunya agar feelnya lebih berasa. Meski suara Chi Yeol mungkin akan sulit disamakan dengan suara Donghae (XD) This guy seriously has the best singing voice in my ears. He's my most favorite singing voice of all time now, beating literally everyone else in the world lol. I know it sounds too much but, hey, its my ears XD

(Dan untuk itu kubuat dia mendapat cameo disini lol)

Oh untuk lirik bahasa inggrisnya, kudapat dari video yang sama terjemahannya. Dan bila ada yang ingin terjemahan bahasa Indonesianya, aku mencoba menterjemahkan sebisa mungkin, namun karena aku takut feelnya jadi tidak pas maka tidak kupakai dalam tengah cerita:

Nuguna hanbeonjjumun jagimani segyeoro

Paling tidak sekali dalam hidupnya, semua orang pernah merasakannya

Ppajyeodeulge deuineun seunggani itji

Saat mereka tenggelam dalam dunianya sendiri

Ijen ireon nae moseub najocha buranhae boyeo

Sekarangpun, aku merasa gelisah

Eodibuteo sijakhalji mollaseo

Karena aku tidak tau harus memulai darimana

Nado sesange nagago shippeo

Aku ingin pergi ke dunia itu juga

Dangdanghi nae kkumdeureul boyeojulkkeoya

Aku ingin menunjukkan mimpiku dengan bangga

Geutorog oraetdongan omcheuryeotdeon nalgae

Sayapku yang telah tertahan untuk begitu lama

Hanuro deo neolke pyeolchyeo boimyeo

Akan kubuka lebar kukepakkan di angkasa

Dashi saerobge sijakhal kkeoya

Aku akan memulai baru

Deo isang amugeotdo museobji anha

Aku tidak akan lagi mundur dari apapun

I sesang gyeondyeonael geu himi doejolkkeoya

Semua itu akan memberiku kekuatan untuk menghadapi dunia ini

Himgyeoweotdeon.. banghwangeun..

Semua kesulitanku.. yang telah kulalui..


Waktunya bales review! :)

Leenahanwoo: kapan sih aku ga bikin happy ending heheheh

Syuku: aigoo gomawo~ Ceritaku sayangnya selalu minim konflik karena aku tidak suka drama... aku author yang ga kuat sama drama... kkk

elfhyukhae: Tepat waktuuuu ;)

aniielfishy: hehe maaf false alarm kalau begitu. Ini sequelnya sudah muncul :D

amyla1994: dan disini lebih memfokuskan ke cita-cita hae lagi~ gomawo ^^

tacoyuki: *kasih tisu* uljimma~.. jeongmal gomawo! :D

elfishy09: aiih makasih~.. ini update! :D

Ranti Fishy: jangan mewek kkk. Itu yang terus kupertanyain dari kapan tau. Aku juga pengen Hyukjaeku sendiri /loh ikut curhat/. Ini hasil jadinya~

nurulsaputri26: /pukpuk/ /kasih tisu/ tenang eunhae akan selalu bersama hehe. Gomawo!

Hae Fishy: kkk iya ff lama. Semangat saengie! Semoga kesampean hehe. Seneng bisa berguna :D gomawo! :D


Thanks for all the reviews! And yay I post it in time! Hehe

Last but not least, mind to RnR? ^^

-Rey