beberapa bulan yang lalu...

kening mengkerut, dagu ditekuk dan mata yang menerawang ke angkasa. Pesawat komersial dari penjuru kota terdengar dan tidak perlu memandangnya karena kau takkan dijatuhi uang maupun batangan emas. Suara pesawat dan riak air yang saling beradu tidak membuat Pemuda kecokelatan manis mendongkak untuk memandang sejenak, walaupun begitu ia tetap menerawang angkasa selama 10 menit.

HETALIA HIDEKAZ HIMARUYA

ALL HETALIA CHARACTER WITH HUMAN NAMES ON IT.

"Sianida buatan Lovino tidak cukup kuat, jadi kupakai pedang saja. Lumayan untuk membuatnya mendapat luka sobek menganga dari ujung telinga" ujar Antonio, menghentikan aktivitas saling pandang dengan langit lalu melihat ke arah kolam persegi panjang di hadapannya, air mancur yang terjatuh langsung ke kolam dengan tinggi tidak lebih dari 2 meter, berjajar dengan rapi. pohon-pohon mini dan bunga Lily tumbuh dengan subur. Tumbuhan pagar yang telah dipangkas dengan rapi menimbulkan kesan seperti tempat duduk yang lumutan.

"Tapi racun Arsenikku memang mutakhir, ah kandungan racunnya mencapai 3,1 miligram per liter, aku sudah baik dengan memberinya waktu beberapa menit untuk menikmati indahnya hidup. Setidaknya setelah puas dengan pedang itu, aku bermain-main sedikit dengannya" jawabnya lagi, seolah-olah ia mengetahui apa yang selanjutnya si penelepon tanyakan. Antonio menutup panggilan dari microheadset nya. Selagi pemuda itu sedari tadi tidak memakai baju, berjemur pagi, hanya celana pendek yang ia kenakan. Perawakannya yang berotot diterangi oleh cahaya matahari, tidak putih tapi ia memiliki otot seorang atlit terlatih, menampilkan lekukan indah seolah memantul sinar matahari, menjadikannya terlihat seksi. Selagi embun belum berjatuhan, ia hanya memandang kosong dari balkon lantai dua.

Pagar dari kayu pohon ek dengan kuatnya menompang tubuh pemuda itu. Ia sedang bersantai di sebuah Villa dengan desain mirip dengan Alhambra, museum yang berdiri beberapa kilometer dari tempat ini.

"suaramu terlalu pelan, apa aku perlu merobek tenggorokanmu?" suara seorang perempuan terdengar begitu sangat dekat sampai ditelinganya.

Pemuda beriris hijau itu menghela napas, tersenyum simpul "Buenos días, my dear" ujar Antonio menghiraukan Wanita berambut platina yang memeluk manja Antonio Carriedo dari belakang, merasakan sensasi bau parfum vanilla dan bunga matahari dari rambut wanita itu "добрае раніца Antonio, tidak salah aku bisa menemukanmu disini, dipagi hari yang indah." ujarnya sontak membuat Antonio kaget karena pisau dingin milik wanita itu menyentuh kulit punggungnya. Sebisa mungkin Antonio mencoba tidak terlalu banyak bergerak.

"terlalu indah untuk memoles pisauku dari darah manusia." Lanjut wanita itu lagi

ada jeda yang sangat panjang sampai akhirnya Antonio berbalik menghadapnya, menatap wanita berdarah Belarusia itu lalu mengusap rambut platinanya lembut, mencium harumnya perlahan "aku perlu memikirkan sesuatu querido, kalau tidak, aku akan menjadi seonggok daging cincang saat ini." keluhnya

Natalya tidak merespons, ia sibuk mendekatkan pisaunya pada dada bidang Antonio Carriedo Fernandez. mensejajarkan mata pisau dengan hidung pemuda tampan itu, membuatnya tertawa sebentar "kau tahu? aku suka pria sepertimu. Tapi hatiku hanya milik Ivan seorang"

Antonio menghela nafas, mengangkat tangan kanannya untuk merengkuh pinggang wanita itu "oh ya? apa daya tarikku kurang untuk memikatmu hm?"tanyanya, tatapan nakal seorang Antonio yang bisa membuat seorang Dokter sinting, Lovino masuk dalam dekapannya,

Tapi hal ini tidak berlaku bagi Natalya

"biasa saja, kecuali tubuhmu itu yang ingin sekali aku kuliti." Natalya membisikkan kata-kata ditelinga Antonio, hingga ia harus berjinjit dan bibir mereka bertautan satu sama lain.

Natalya mematahkan kecupan singkat mereka dan tersenyum "itu tidak adil kau tahu? menodong seorang wanita menggunakan handgun sedangkan ia menggunakan pisau. Dimana tata kramamu?" Natalya sedikit risih karena moncong handgun itu mencium perutnya.

ia terdiam sejenak tanpa mengalihkan pandangan "pasti Glock." lanjutnya sedih

Antonio tertawa singkat, wanita ini memang hebat. Nalurinya seperti hewan buas yang selalu waspada jika bahaya mendekat, tapi kelemahannya bagi Antonio terlihat bagaikan melihat oase di padang pasir, sangat jelas dan membutuhkan keberanian yang besar untuk mencobanya. Satu hal yang Antonio pelajari dari kelemahan Natalya.

"Baiklah, Glock ku memang memiliki hawa presensi yang lain. setidaknya ia telah memuntahkan peluru kepada seorang gadis cantik di jalan raya. Kau ingin tahu anggota tubuh bagian mana yang ditembak?"tanya Antonio, melepas rengkuhannya tapi tetap menodong pistol.

Natalya mendesah perlahan, melepaskan diri dari Antonio lalu menyimpan belati dibawah rok hitam pendeknya, menyembunyikan benda tajam itu hanya dengan selipan kain dari kaus kaki hitam buatan beludru Georgia. Ia berjalan menjauh dari hadapan Antonio, "kau paling suka menembak di bagian tengkuk seperti biasa." suaranya menghilang, begitu pula dirinya.

Antonio tertawa, harus ia akui sekali lagi, ia memang gadis luar biasa. Jika saja dia tidak gay, mungkin wanita itulah incarannya, tidak dipungkiri wajah galak Lovino yang membuatnya menjadi seperti ini.

Jemari Antonio memegang sebuah surat dari Natalya, entah kapan gadis itu memasukkan ke dalam saku celana pendek miliknya. Sebuah surat undangan heh? lumayan juga.

"Skak mat, ratu telah datang." ujarnya, satu hal lagi yang ia pelajari maupun yang telah diberitahu Lovino, jangan pernah mempercayai wanita itu sedikitpun.

.

Maaaaf semuanya :'( ideku dan chap lainnya hilang bagai-pooff kaya indomi rebus yang cepat habis dalam hitungan detik, padahal masaknya beberapa menit nah, itu perumpamaannya. Sekali lagi maafin aku mungkin kita harus berakhir disini, entah aku bisa atau tidak WB parah :( terima kasih telah mereview huhuhu

30 Maret 2014

,