Dreamer~
.
.
HyukBin Fanfiction
Fantasy, Drama
.
With a Jellyfish family
.
Twoshoot? Chaptered? Maybe.
.
A Story by DaeMinJae
.
.
Happy reading!
Sorry for bad! Typos! Gaje!
Anak laki-laki itu berlari menuju kamar noona-nya.
"Tidak bisa tidur lagi?"
"Noona... aku bermimpi menjelajahi sebuah gunung, untuk mencari sebuah air"
"Kau bodoh... saking bodohnya menerima ajakan mimpi gilamu itu... sekali lagi noona bilang, mimpi jangan pernah kau ingat... karena itu akan mengganggu hidupmu"
.
.
.
Fifteen years later~
.
.
.
Aku seorang pemimpi. Setiap harinya aku bermimpi dengan cerita yang sama. Tapi, sayangnya setiap aku bangun, aku akan lupa tentang apa isi mimpi itu.
.
.
.
Hembusan angin itu menyejukkan hati seorang pemuda yang berdiri ditengah sebuah ladang jagung yang belum tumbuh tinggi. Pemuda itu merentangkan tangannya. Matanya terpejam. Ia sedang memikirkan sesuatu.
Terbang terbawa angin
Ia membuka matanya. Dan tak lama, ia terbang layaknya kapas. Melayang diudara dengan lihainya. Ia beraksi melawan angin yang menerbangkannya. Pemuda itu menjerit keras. Ia merubah posisi tubuhnya menghadap keatas. Ia melihat segumpal awan berwarna warni setiap gumpalannya.
Jatuh perlahan-lahan
Sekarang ia bagaikan kertas yang akan jatuh. Ia melayang kesana kemari.
"Hey Sanghyukie, Aku mencarimu tadi... ada yang ingin aku kenalkan padamu"
Tiba-tiba ada seseorang yang mengajak bicara pemuda itu. Kita ketahui nama pemuda itu 'Sanghyuk'. Sanghyuk menatap orang itu.
"Siapa hyung?" Tanya Sanghyuk. Orang yang dipanggil 'hyung' oleh Sanghyuk itu tersenyum mistis. Tangannya diangkat keatas, dan ia menjentikkan jarinya.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang muncul entah dari mana. Orang itu melambai kearah kami. Sanghyuk menatap orang itu bingung. Orang itu semakin dekat. Dan Sanghyuk kini bisa melihat wajahnya. Tampan, batin Sanghyuk.
Sanghyuk side
"Sanghyukie, kenalkan ini Hongbin. Yang akan menemanimu mengerjakan sesuatu. Dan Binnie, ini Sanghyuk, orang yang aku ceritakan tadi" Hakyeon hyung memperkenalkan diriku, kepada Hongbin. Dan memperkenalkan Hongbin padaku.
Aku masih bingung, aku disini hanya ingin bersenang-senang tapi... bagaimana bisa aku mendapatkan tugas?.
Aku menatap Hakyeon hyung dan Hongbin bergantian. Mereka berdua tengah berbisik-bisik. Tentu aku penasaran. Aku langsung cemberut saat melihat Hongbin tertawa bersama Hakyeon hyung. Entah mengapa, ada sesuatu dalam diriku yang tidak ingin Hongbin itu tertawa kecuali saat bersamaku. Padahal kami baru bertemu tapi kenapa seperti ini?.
Normal side
"Hei Sanghyukie... hyung ada misi untukmu sekarang, untuk mengambil air suci berwarna-warni yang berada didalam gunung itu. Dan kau akan pergi bersama Hongbin" Ujar Hakyeon. Ia menunjuk sebuah gunung yang tidak begitu tinggi. Namun didepan gunung itu terdapat sebuah sungai panjang, dan sangat lebar. sungai tersebut biasa disebut Goneriver bukan karena ada hewan buas dan ganas, tapi karena sungai itu terkena sebuah kutukan. Ada seorang penjaga disungai itu, dia memiliki tubuh yang agak transparan dan menyerang orang yang melewati sungai itu.
"Dan kau tidak bisa meminta-minta apapun dalam hatimu, seperti yang kau lakukan seperti biasa" lanjut Hakyeon.
Sanghyuk terkaget mendengar ucapan Hakyeon. Padahal dalam hatinya tadi sudah semangat ingin melakukan perjalanan dengan bantuan hatinya. Dan Hongbin sendiri, hanya diam dengan bibir yang diangkat kecil, sangat kecil, hingga tidak bisa disebut senyuman.
"Kita akan melaksanakannya hari ini hyung?" Sanghyuk bertanya pada Hakyeon sambil menunjuk dirinya dan Hongbin. Hakyeon menggeleng. Ia menarik tangan Sanghyuk dan Hongbin menuju sebuah gubuk yang berbentuk aneh, kalau dikatakan reyot, tidak mungkin. Kayu penyangganya masih terlihat baru.
"Kalian bisa berangkat besok atau lusa... persiapkan mental kalian. Dan terakhir... kalian tidak bisa meminta bantuan kepadaku"
Setelah Hakyeon mengucapkan kata itu. Tiba-tiba ia menghilang. Meninggalkan asap yang cukup tebal.
Selang beberapa detik Hongbin menatap Sanghyuk dengan pandangan yang sulit diartikan.
Apa kau tak ingat padaku?
.
.
.
.
.
.
Suara-suara entah yang berasal dari mana, membuat Sanghyuk bergidik ngeri. Sambil mondar-mandir ia menutup kedua telinganya. Suara itu mengganggunya, mereka menggunakan bahasa yang tidak diketahuinya.
"Apa dia benar Sanghyuk?" "Tidak mungkin..." "Bagaimana bisa Sanghyuk melupakan kita?"
Suara aneh itu terus saja terdengar. Hingga tiba-tiba muncul dua peri laki-laki, mereka mengepakkan sayap kecilnya menuju Sanghyuk. Salah satu dari peri tersebut memakai kacamata, menendang pipi Sanghyuk dengan keras. Namun Sanghyuk hanya merasakan rasa seperti digigit nyamuk, tidak lebih.
"Hey.. kenapa kau menendangku, dan kalian itu siapa?"
Sanghyuk menatap bingung kearah dua peri itu. Salah satu tangannya ingin memegang peri tanpa kacamata yang sedari tadi diam, dan hanya memperlihatkan senyumnya. Namun peri itu terus saja mundur kebelakang. Sanghyuk terus saja mendekati peri itu. Hingga peri itu terbang menjauh. Membuat Sanghyuk berlari mengejarnya.
"Ish... kenapa aku ditinggal." Peri berkacamata itu menggerutu. Ia melipat kedua tangannya di dadanya.
Tiba-tiba Hongbin muncul dari belakang sang peri, tangannya menyenggol kaki mungil sang peri. Peri itu terkaget, tubuhnya oleng hingga akhirnya ia jatuh kelantai kayu yang dingin. Ia menatap Hongbin tajam, kilat kemarahan mencuat dari matanya.
"Ya! Kau bisa-bisanya mengagetiku Bean!"
Peri itu berdiri, dan mengusap-usap baju kecil yang ia pakai dan terbang menuju Hongbin. Ia menendang pipi seperti ia menendang pipi Sanghyuk tadi, namun lebih keras.
Hongbin hanya tertawa melihat kelakuan peri laki-laki itu. Menurutnya sangat lucu jika mengganggu peri itu.
"Tak biasanya, dimana Hyoshin hyungnim? Aku merindukannya" Ujar Hongbin setelah ia puas menertawakan peri itu. Oh iya, nama peri berkacamata itu Shikyung, dan yang satu lagi adalah Hyoshin. Mereka berdua adalah satu-satunya peri kembar, yang dimanapun sampai kapanpun tetap bersama.
Shikyung kembali cemberut. Hongbin hanya memikirkan kembarannya yang sangat tampan itu. Ia menghela nafasnya. Dan terbang pergi menjauh. Sebelumnya ia berkata-
"Apa orang yang tinggal bersamamu itu Sanghyuk asli?"
Hongbin terdiam mendengarnya. Ia tidak yakin sebenarnya apa Sanghyuk yang bersamanya kini adalah anak mungil yang pemberani itu?. Hongbin menghela nafasnya sendiri, bingung dengan pemikirannya sekarang.
"Sanghyuk, apa benar kau tak mengingatku?"
.
.
.
.
.
.
Sanghyuk berlari-lari mengejar peri itu. Ia menembus semua yang ada didepannya tak peduli apapun itu. Sampai kaki Sanghyuk tersandung sebuah akar kayu yang berukuran sedang. Sanghyuk berjongkok memegang lututnya yang berdarah.
"Hei.. argh.. berhentilah peri kecil!"
Sanghyuk berteriak. Suaranya makin lama makin pelan karena ia kekurangan nafas. Ia meremas dada kirinya. Nafasnya terengah-engah. Sanghyuk mencoba menstabilkan deru nafasnya. Sambil sesekali ia melirik tempat dimana peri bernama Hyoshin itu pergi, siapa tahu kalau peri itu akan kembali? Dan menolongnya.
Tubuh Sanghyuk mulai kedinginan, Sanghyuk baru menyadari kalau dari tadi ia tidak memakai jaket tebal. Sanghyuk hanya memakai kemeja tipis dengan lengan yang digulung sampai sikut, dengan celana jins panjang.
Sanghyuk duduk menyandar diakar kayu itu. Ia merapatkan kakinya. Tubuhnya bergetar menandakan ia masih kedinginan. Ia menutup kedua matanya. Dan hampir saja Sanghyuk ingin menangis ketakutan.
Hongbin hyung, tolong aku...
Sanghyuk berucap lirih. Hanya Hongbin yang bisa ia mintai tolong, sangat tidak mungkin ia meminta bantuan pada Hakyeon, apalagi pada peri yang ia kejar tadi. Sanghyuk terus menunggu Hongbin datang. Dengan sesekali ia batuk karena saking dinginnya hawa disekitar.
.
.
Matahari mulai terbenam, membuat warna oranye yang indah. Dan dapat kita lihat, Hongbin yang tengah sibuk menyibak semak-semak didepannya. Tadi, ia mendengar suara Sanghyuk yang dalam keadaan bahaya. Dan langsung saja ia berlari keluar dari gubuk. Ia mencari Sanghyuk dengan naluri yang ia rasakan.
Hongbin melihat Sanghyuk tengah meringkuk disebelah akar pohon yang disandarinya tadi. Hongbin berjalan mendekatinya. Ia melihat bekas air mata diwajah Sanghyuk, dan mengusapnya.
"Kenapa bisa kau jadi seperti ini hyuk..."
Hongbin berkata. Dan mengangkat tubuh Sanghyuk tanpa membangunkannya. Dengan menggendong ala bridal style Hongbin membawa Sanghyuk menuju gubuk. Hongbin tersenyum. Ia merasa de javu dengan kejadian ini. Tubuh Sanghyuk masih sama ringannya dengan dulu.
Flashback
"Hyung... kepalaku pusing"
Seorang anak kecil tengah mengeluh pada anak disebelahnya. Mereka berdua sedikit lagi akan sampai ditempat dimana air itu berada.
"Benarkah? Apa kau demam?"
Anak kecil yang ditanya menjawab. Anak itu Hongbin. Tangannya menempel dikening Sanghyuk. Hawa panas langsung menjalar keseluruh telapak tangannya.
Setelah mengetahui bahwa Sanghyuk demam. Hongbin berjongkok, dan menyuruh Sanghyuk untuk menaiki punggungnya. Sanghyuk terus menggeleng tidak mau. Takut merepotkan katanya. Tapi, lama kelamaan akhirnya Sanghyuk luluh juga dengan permintaan Hongbin.
Sanghyuk menaiki punggung Hongbin. Dan Hongbin sendiri mulai berdiri, tangannya ia lingkarkan kebelakang menopang tubuh Sanghyuk.
Hongbin berjalan menuju tempat air itu sendiri. Sanghyuk sudah tertidur karena tidak kuat menahan sakit.
Flashback off
Hongbin menaruh Sanghyuk diatas kasur. Dan duduk disampingnya, Ia mengusap-usap rambut Sanghyuk lembut. Hongbin khawatir dengan keadaan Sanghyuk sekarang.
Hongbin membaringkan dirinya disamping Sanghyuk. Karena memang hanya ada 1 kasur disini. Ia menarik selimut untuk menutupi dirinya dan Sanghyuk. Hongbin memejamkan matanya dan tertidur.
.
.
.
.
Keesokkan harinya Sanghyuk terbangun lebih awal. Ia menatap Hongbin disebelahnya dan tersenyum.
"Terima kasih telah menolongku hyung"
Sanghyuk membayangkan, pasti dirinya kemarin sangatlah buruk. Hanya karena lutut terluka ia menangis. Sanghyuk menuduk, setiap ia melihat darah kenapa ia selalu ingat noonanya.
Noona Sanghyuk meninggal karena kecelakaan. Ia dtabrak sebuah truk, dan terlempar jauh. Namun, ia jatuh didepan sebuah mobil, sang pengemudi tentu kaget hingga ia tak sengaja menginjak pedal gas dengan keras. Hingga membuat noona Sanghyuk kembali terpental. Tubuhnya terlempar kearah Sanghyuk.
Sanghyuk kecil yang melihat kejadian itu terdiam. Hingga akhirnya tubuh penuh darah noonanya berada tepat didepannya.
Deg...
Sanghyuk menangis. Ia mendekati tubuh noonanya. Ia berjongkok didepannya dan menggoyang-goyangkan tubuh noonanya.
"Noona! Jangan tinggalkan Sanghyukie sendiri... Sanghyukie takut, hiks.. Noona! Noona! Bangunlah"
Sanghyuk terus menangis keras. Hingga sebuah ambulans datang dan perawat-perawat itu mengangkat tubuh noona. Sanghyuk mencoba menggapai tubuh noonanya. Tapi ia dicegah seorang perawat. Jadi, ia bisa apalagi selain menatap perginya ambulans yang membawa noonanya.
.
.
Hongbin terbangun dari tidurnya. Ia mendapati Sanghyuk yang tengah menatapnya dengan wajah merah merona. Hongbin tertawa kecil melihatnya. Hongbin duduk diata kasur.
"Sanghyukie, mandilah. Nanti kita obati kakimu. Dan apa kau masih demam?"
"Kepalaku masih pening. Tapi hyung...-"
"Ah, apa kau mau aku mandiin eoh?"
Blush...
Wajah Sanghyuk langsung memerah. Ia menggeleng kaku. Jantung Sanghyuk kini tengah berpacu sangat cepat. Sanghyuk langsung berdiri dan pergi dengan pelan. Kakinya tidak bisa untuk berlari.
Hongbin hanya geleng-geleng melihat Sanghyuk.
.
.
.
Sanghyuk menghampiri Hongbin yang tengah duduk dilantai, ah tidak... dia sudah melambarinya dengan karpet.
"Hongbin hyung..." Ujar Sanghyuk. Hongbin menoleh. Ia menatap Sanghyuk lama, dan melambaikan tangannya mengisyaratkan untuk Sanghyuk mendekat.
"Sini, aku obati lukamu"
Hongbin mengambil kapas dan obat merah disampingnya. Ia mengoleskan obat keluka Sanghyuk. Ia meniupi luka itu. Dan menutupnya dengan kapas.
Sanghyuk meringis sakit. Perih langsung menjalar ketika obat merah itu mengenai lukanya. Tapi entah kenapa langsung hilang saat Hongbin meniupinya, pipi Sanghyuk memerah...
"Ini.. minumlah.. agar demammu turun"
Hongbin menyodorkan sebuah pil berbentuk kotak. Sanghyuk menerimanya dan meminum dengan segelas air putih.
Sanghyuk merasa kepalanya langsung pusing. Tubuhnya tiba-tiba meninggi. Pakaian yang dipakainya sampai robek. Tunggu, Robek?
"YAK! HYUNG TUTUP MATAMU! JANGAN MELIHAT KEMARI!"
Namun Hongbin tidak menuruti katanya Sanghyuk. Matanya terbuka lebar melihat Sanghyuk yang nakex didepannya, bagaikan manusia yang baru lahir, kulitnya putih, mulus tanpa bulu, pinggang Sanghyuk sangatlah ramping. Hongbin membayangkan itu saja sudah hampir ngiler.
Ternyata, pil yang diberikan Hongbin itu adalah pil untuk meperbesar tubuh. Dan jika dosisnya berlebih bisa-bisa menjadi raksasa.
Sanghyuk berlari menuju kamar. Untung tadi ia membawa handuk. Ia sangat malu sekaligus kesal terhadap Hongbin. Bagaimana bisa Hongbin salah memberikan obat.
"Awas kau hyung, aku doakan kau dikerubung lebah! Ish"
Sanghyuk menggerutu tak jelas. Ia tak sadar mengucapkan kata-kata itu. Sanghyuk berganti pakaian. Tak lama itu, ia mendengar suara Hongbin yang menjerit ketakutan.
"HUAAA! KENAPA ADA SEKUMPULAN LEBAH!"
Sanghyuk membuka pintu kamarnya. Ia menemukan Hongbin yang berlari berputar-putar didalam gubuk. Sanghyuk terkikik geli melihatnya. Ucapannya menjadi kenyataan? Wow...
"Sanghyukie! Apa kau meminta aku dikerubung lebah eoh! Hyaaaa... aku takut lebah!"
Hongbin berteriak, ia masih saja berlari. Jika ia berhenti bagaimana wajah mulus bak malaikatnya? Disengat lebah bisa-bisa wajahnya penuh bintul. Apalagi lebahnya berbentuk aneh! Mana ada lebah berkepala kuda? Bersayap kupu-kupu?. Aish.. membayangkan saja sudah membuatnya ngeri.
"Maafkan aku hyung! Ambilkan aku obat penebus pil yang kau berikan tadi!" Ujar Sanghyuk. Ia masih agak kesal dengan Hongbin. Biarkan saja dia dikerubung lebah, aku tak peduli.
Hongbin kini berlari menuju kearah Sanghyuk. Ia sudah lelah berlari-lari. Sekarang solusi terakhir itu hanya mendekati Sanghyuk. Semua keinginan yang jahil, atau jahat hanya bisa tertuju pada orang lain. Tidak dengan sang peminta.
"Sanghyukie.. tolonglah.. jangan seperti ini"
Hongbin memegang tangan besar Sanghyuk. Tubuhnya merosot kebawah ia sekarang tengah duduk didepan Sanghyuk sambil memohon. Hongbin takut pada lebah dari kecil.
Sanghyuk mulai luluh dengan permintaan Hongbin. Ia menarik tangan Hongbin untuk berdiri. Dalam hatinya ia berkata, hilanglah.
Hongbin memeluk tubuh Sanghyuk yang besar dengan erat, ia berulang kali mengucapkan terima kasih pada Sanghyuk.
Sanghyuk tersenyum ia membalas pelukan Hongbin. "Sama-sama hyung, maafkan aku tadi" ujarnya.
.
.
.
Hari keberangkatan~
.
.
Tubuh Sanghyuk sudah kembali seperti semula. Dan kini hari yang telah ditentukan Hongbin dan Sanghyuk untuk berangkat menuju gunung. Mereka berdua tidak membawa apa-apa. Dengan tangan kosong mereka berangka, tanpa rasa curiga ataupun takut sedikitpun.
Dari arah lain, tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian hitam dengan membawa sebuah pisau, dan menaiki sebuah kuda datang menuju gubuk yang ditempati Sanghyuk dan Hongbin.
Ia membuka pintu gubuk itu, dan menengok kedalam. Ia mengobrak abrik seluruh isi gubuk. Namun tidak ada apapun. Orang itu keluar dari gubuk.
"Sial.. mereka sudah berangkat!"
.
.
.
.
TBC!
Thanks for Byul Hun.K , HRYeon, Panda Qingdao , adisauliahnp , FTafsih , Naranari Part II . Dan yang udah favourite + follow ff ini~
Apa kalian puas dengan chapter ini? Maaf kalo jelek, Jae ga berpengalaman banget bikin fantasy. Makin lama ceritanya hampir mirip alice/?. Udah bacotnya dikit aja.
May to review?
