"Tadi ada makhluk yang mengejar kita, Tapi saat aku ingin lari, hyung ada didepanku jadi aku dorong" Sanghyuk berbicara terbata-bata karena malu. Dia mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa mengendalikan keinginannya. "Benarkah? Tak apa, aku tidak bisa marah padamu manis.." Hongbin tersenyum dan memperlihatkan dimplenya. Sanghyuk terpesona lagi dengan Hongbin. Dia sudah terperangkap dalam jeratan pesona Hongbin.

.

Perjalanan masih jauh, kalian jangan bermesraan!

.

Suara itu muncul kembali dan mengagetkan keduanya!.

Sanghyuk yang pertama kaget, ia sampai terbatuk batuk. Hongbin juga kaget, dan untung dia bisa menyembunyikan teriakan ala ala perempuannya. Ia menghampiri Sanghyuk yang terbatuk batuk itu. Ia menepuk nepuk punggung Sanghyuk pelan untuk meredakan batuknya.

Tanpa Hongbin sadari wajah Sanghyuk sudah memerah sempurna karena tepukan itu. Sanghyuk menelan ludahnya susah. Ia kehilangan kata-kata. Yah, padahal ia baru menyadari perasaannya. Rasanya begitu tidak bisa dijelaskan. Campur aduk, dan tinggal ditambah gula saja. Jantungnya tidak dapat berhenti berdetak kencang. Mungkin, kalau dicek menggunakan alat pendetak jantung, alat itu akan rusak karena sakit cepatnya ini! Rasanya ingin copot.

Akhirnya Sanghyuk sudah bisa menormalkan detak jantungnya. Deru nafasnya teregah-engah seperti habis berlari maraton sejauh 80 kilometer. Ia mendongak menatap Hongbin yang sudah ada didepannya. Dan tersenyum paksa.

"Kita bisa melanjutkan perjalanan hyung, aku sudah agak baikan sekarang" Ujar Sanghyuk pelan. Tangannya mengusap keringat dingin yang keluar tiba-tiba itu. Hongbin hanya mengangguk polos. Ia kembali tersenyum dengan memperlihatkan dimplenya. Sanghyuk terdiam. Ia kembali terjirat pesona seorang Lee Hongbin. Padahal sedetik yang lalu, ia bernafas lega karena Hongbin tidak menyadari bahwa dirinya sedang terkena yang namanya Jatuh cinta. Apa perlu digaris bawahi? Tidak, nanti Hongbin akan mengetahuinya.

Mereka berjalan kembali menuju Gumierock. Sesuai jalan yang telah ditunjukan oleh Jaehwan. Mereka akhirnya bisa keluar dari hutan emas yang penuh misteri-misteri mistis. Hutan itu menghilang selangkah setelah Hongbin dan Sanghyuk keluar.

Dreamer

.

.

Hyukbin fanfic

Fantasy, drama

.

By DaeMinJae

.

Sorry for bad! Typo!

The cast's is don't belong to me okay! Don't like don't read~

.

Happy reading!

.

.

Masih dalam perjalanan. Sanghyuk merasa aneh akan bau menyengat yang masuk ke lubang penciumannya. Baunya seperti permen karet? Permen karet raksasa? Mungkin. Kalau hanya permen karet kecil pun baunya tak se-menyengat ini.

"Kau tak merasakan bau menyengat ini hyung?" Sanghyuk bertanya tanpa menolehkan kepalanya kearah Hongbin. Hongbin mengendus, mukanya berubah datar.

"Apa kau tak melihat diriku tengah membumpat hidung eoh?" Ujar Hongbin. Karena hidungnya memang dibumpat, suara Hongbin seperti anak kecil. Atau lebih menjerumus ke suara kodok.

Mendengar suara Hongbin, Sanghyuk malah tertawa keras, menurutnya suara itu sangatlah lucu!. Hongbin hanya diam, dalam hatinya membatin, 'anak ini tadi terbatuk batuk. Sekarang sudah tertawa.. awas saja'.

Sanghyuk masih saja tertawa. Tawanya makin keras saja. Padahal cuman masalah sepele. Hongbin mulai geram mendengarnya. Ia maju selangkah lebih cepat dari Sanghyuk. Ia melangkah tanpa memperdulikan Sanghyuk. Dan Sanghyuk sendiri masih berdiri ditempatnya, ia tak tau bahwa Hongbin sudah berjalan terlebih dahulu karena memang dirinya tidak sedang melihat Hongbin. Ia mulai berhenti tertawa karena suaranya mulai serak.

AAA!

Sanghyuk tersentak. Itu suara Hongbin. Ia menoleh kesamping, Hongbin tidak ada. Tanpa babibu Sanghyuk langsung berlari mencari Hongbin.

Salah satu kesulitan mencarinya hanyalah jalan. Berulang kali Sanghyuk salah masuk jalan hingga bertemu makhluk aneh yang membuatnya geli. Seperti; Pohon berbalut baju penari hula-hula hawaii, dan sebagainya.

Saat kembali mencari jalan Sanghyuk tak sengaja mendengar rintihan Hongbin. Walaupun suaranya kecil ia masih bisa mendengarnya. Sanghyuk berjalan pelan mencari Hongbin. Ia tidak melihat jalan sampai-sampai kakinya menginjak sebuah permen karet.

"Yatuhan, kenapa ada permen karet selengket ini" Sanghyuk mengeluh berkali-kali. Sepatunya tidak dapat lepas dari permen karet lengket itu. Saking ia kesal sepatunya ia lepas dan ditinggal begtu saja. Tanpa berfikir apapun ia kembali berlari.

Suara Hongbin makin lama makin lirih. Sanghyuk mempercepat langkahnya. Ia menemukan sebuah semak semak tinggi, seukuran tinggi dengannya. Ia menyibak semak itu menggunakan tangannya. Ia melihat setengah tubuh Hongbin dan sebuah permen karet raksasa?. Kenapa bisa Hongbin ada disana!

"Hongbin hyung!" Sanghyuk berteriak. Ia berlari menerjang Hongbin. Ia memegang kepala Hongbin yang masih terlihat. Karena setengah dari perutnya sampai kebawah termakan didalam permen karet raksasa itu. Ia merasakan bahwa tubuh Hongbin mulai dingin.

Hongbin merasa ada yang memegang kepalanya, tepat dipipinya. Ia mendongak. Ia tersenyum paksa sambil menatap sayu kearah Sanghyuk yang menatapnya khawatir.

"Sanghyukie, pergilah.. Ambilah air itu, jangan kau pedulikan diriku" Hongbin berucap lirih. Suaranya tersendat sendat karena tubuhnya semakin masuk kedalam permen karet itu. Pernafasannya mulai susah. Hongbin hanya bisa berdoa semoga saja dirinya tidak mati didalam permen karet raksasa itu.

Sanghyuk menatap bingung plus masih khawatir. Ia mengusap surai kehitaman milik Hongbin dengan lembut. Ia tidak akan meninggalkan orang yang dicintainya disini! Dan tidak akan pernah. Mata Sanghyuk mulai berair. Ia menahannya agar tidak keluar air mata. Dan itu membuat matanya merah.

"Tidak hyung, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.. walaupun aku dihukum mati sekalipun aku tidak mau hyung..." Sanghyuk berucap dengan bibir yang bergetar. Suaranya terdengar parau. Hongbin terkekeh pelan mendengar penuturan dari Sanghyuk. Darahmya berdesir pelan mendengar ada yang meng-khawatirkannya setelah beberapa tahun belakang ini -semenjak noonanya terjebak disini. Ia sangat senang. Ia mencintai Sanghyuk, dan dengan perhatian ini, Hongbin dapat merasakan bahwa ia memiliki harapan lebih untuk dicintai.

Sanghyuk mengusap bekas air matanya. Ia cemberut, Hongbin malah terkekeh saatendengar penuturannya tadi. Apa Hongbin menganggap itu cuma main-main?. Tentu tidak, dalam hati Sanghyuk paling dalam, ia sudah berkata bahwa ia menyukai -ah tidak- mencintai Hongbin. Jadi ia juga harus menjaga Hongbin. Sekarang Hongbin sekarat, pernafasannya terganggu. Sanghyuk masih memikirkan cara untuk menyelamatkan Hongbin. Keluar dari permen karet raksasa itu.

"Sebentar hyung, aku pergi mencari bantuan.." dengan cepat Sanghyuk berlari balik mencari pertolongan. Ia berlari kebelakang. Tepatnya jalan menuju rintangan sebelumnya. Yang bisa disebut, Goldiehood.

Satu-satunya cara adalah memanggil Jaehwan. Yang memang sudah lama disini. Walau berbeda tempat tapi Sanghyuk percaya, Jaehwan pasti tau sedikit cara untuk melepaskan Hongbin dari permen karet. Sanghyuk terus berlari, kadang ia berhenti sebentar karena ia harus mengingat ingat jalan yang benar dan juga ia butuh istirahat sebentar. Untungnya Sanghyuk didunia nyata orang yang pintar olahraga. Jadi ia tidak begitu lelah.

Sanghyuk menengok kanan kiri. Siapa tahu kalau ada orang yang berniat mengganggunya. Peluh mulai bercucuran dari dahi sekitar ujung rambut bagian depan. Peluh itu menetes layaknya air mata saat sedang bersedih. Keluar begitu banyak. Sanghyuk mempercepat larinya saat ia melihat siluet kecil daun emas yang jatuh. Padahal ini masih belum sampai di Goldiehood.

Sanghyuk merasakan bahwa daun itu menuju kearahnya. Jadi ia memelankan langkahnya setelah berlari bagaikan angin. Daun itu jatuh diatas kepalanya. Ia meraih daun kecil itu dari kepalanya. Dan menatap daun itu seraya tersenyum tipis.

"Apa daun ini dari Hwany noona?" Sanghyuk mengusap usap daun emas itu. Rasanya memang benar dari Jaehwan. Tunggu, ada sesuatu yang aneh saat Sanghyuk mengusap daun itu. Makin lama ia merasa tubuhnya mulai memberat. Ia serasa ingin jatuh. Sanghyuk susah payah menjaga dirinya agar tetap berdiri tegak. Namun...

.

.

~o0o~

.

.

Suara tawa itu mengejutkan Hongbin. Hongbin kini hanya terlihat bagian pundak keatas. Tubuhnya semakin masuk kedalam permen karet itu. Jika kalian merasakannya mungkin akan aneh. Ada rasa geli seperti tergelitik dari dalam. Ayolah, itu membuat Hongbin merinding.

Hongbin mendongak dengan susah payah, melihat siapa orang yang tiba tiba tertawa sendiri saat tiba disini. Ia hanya dapat melihat orang berpakaian hitam itu. Karena memang Hongbin dari awal tidak mengetahui kalau dirinya dan Sanghyuk diikuti oleh seseorang, Hongbin hanya dia menatap orang yang tak dikenalnya itu. Ah, kini dapat dilihat bahwa orang itu memakai sebuah masker sewarna dengan bajunya.

"Kau menyesal mengikuti perintah ini?" Ujarnya. Tangannya yang tertutup pakaian hitam itu menoel dagu Hongbin.

Hongbin tentu saja menggeleng mendengar pertanyaan itu. Sebenarnya Hongbin ingin bertanya. Tapi tidak bisa karena tubuhnya sebagian besar sudak masuk kedalam. Itu membuat pernafasannya semakin dan semakin sulit. Ia mau berbicara sesuatu saja hanya keluar angin lalu dari mulutnya.

"Cih, kau ikut hanya karena Sanghyuk kan?" Ujar orang itu. Ucapannya terdengar mengintimidasi. Hongbin terdiam, dari dulu ia sering terjebak disini karena memang dari dulu ia mengharapkan Sanghyuk kecil kembali kemari. Setelah ia pertama kali melihatnya.

Flashback

Hongbin kira berumur sekitar 12 tahun. Dirinya tengah berjalan sendirian. Hingga dia menemukan sebuah kastil yang agak kecil. Hongbin agak kaget sebenarnya. Dalam pikirannya membayangkan kalau ini sekedar imajinasinya saja.

Hongbin melihat sepasang kakak adik yang keluar dari kastil itu. Saat melihat anak yang lebih muda -kemungkinan- darinya itu. Hongbin merasa dirinya terasa seperti... ah itu tidak dapat dijelaskan. Karena penasaran Hongbin melangkah hati hati menuju kastil itu. Dirinya mulai menganggap bahwa kastil itu memang ada disini. Biasanya kan kebanyakan berada dibagian eropa. Kastil kebanyakan diisi oleh makhluk makhluk halus katanya. Hongbin mencoba tidak takut akan hal itu.

Hongbin sudah berada didepan pintu kastil. Ia mendongak keatas menerawang seberapa tinggi kastil ini. Ia mengetuk pintunya pelan. Baru sekali diketuk pintu yang mungkin lebih bisa disebut gerbang itu terbuka. Hongbin akan melangkahkan satu kakinya kedalam.

"Tunggu Bean... jangan kau masuk dahulu" Sebuah suara mengintrupsi Hongbin untuk tidak masuk. Hongbin menoleh kebelakang ia melihat noonanya dengan kekasihnya itu. Hongbin tidak jadi masuk, ia berjalan berbalik kearah noonanya.

"Kenapa? Aku ingin masuk noona. Aku belum pernah melihat kastil sungguhan." Hongbin merengek pada noonanya. Ia menarik narik lengan noonanya agar mau membolehkan dirinya masuk kedalam. Noonanya menghela nafas, ia menoleh kesamping menatap kekasihnya meminta persetujuan. Kekasihnya itu terdiam sejenak. Kemudian mengangguk.

"Kau boleh masuk Bean, asalkan bersama kami..." Kekasih noona Hongbin itu mengusap usap rambut Hongbin dan mencubit pipi ber-dimple Hongbin. Ia terkekeh kecil saat melihat Hongbin yang cemberut. Noona Hongbin juga ikut tertawa.

Kalian orang-orang yang terpilih.

Mereka bertiga masuk kedalam. Yang mereka lihat hanyalah ruangan kosong. Tidak ada siapaun. Tapi ada sebuah palang bertuliskan 'kalian bisa lewat sini'. Walau mereka agak takut tapi tetap melanjutkan jalan mengikuti palang itu.

Hingga mereka berada didepan tirai berwarna emas yang sangat kontras dengan warna kastil yang agak gelap. Mereka saling berpandangan. Seperti saling berunding sesuatu.

"Biarlah aku yang menyibaknya" akhirnya kekasih noona Hongbin. Jung Taekwoon. Memberanikan dirinya sendiri menyibak tirai tersebut. Karena memang ia laki-laki. Dan yang paling -err.. tua disini.

Kosong. Keadaan masih kosong seperti diruang pertama tadi. Begitu pula lorong lorongnya. Sepi tidak ada orang sama sekali.

Tiba tiba entah datang dari mana ada seorang manusia, entah itu laki laki atau perempuan tidak dapat ditebak. Dia menghampiri ketiganya. Dan mengatakan sesuatu,"Apa kau percaya akan mimpi?"

Ketiganya saling berpandangan -lagi. Lalu menatap kedepan. Dan menjawab sesuai dengan hasil yang didpaatkan dari perundingan 5 detik tersebut. Dari noona Hongbin, Jaehwany. Hongbin. Dan terakhir adalah Leo.

"Tentu..." "Tentu..." "Tidak..." Jaehwany dan Hongbin terkejut mendengar jawaban Leo yang berkebalikan dengan hasil. Mereka berdua menoleh kearah Leo. Tapi Leo berkata terlebih dahulu "Aku memang tam pernah percaya mimpi itu benar, tapi untuk kali ini aku memang percaya." Ujarnya. Itu membuat Jaehwan dan Hongbin lega.

Setelah ketiganya sudah mengucapkan jawaban mereka, orang itu membuat isyarat tangan,"Kalau begitu, ikutlah denganku". Ketiganya hanya mengangguk dan mengikuti.

.

.

Mereka dibariskan didepan pintu besar. Sangat besar mungkin tingginya lebih dari 5 meter. Pintu itu terbuka. Didalamnya ternyata hanya ada tembok putih saja. Tidak ada apapun selain itu. Ketiganya hanya cengo menatap isi dalam pintu itu. Hingga tanpa persiapan apapun, mereka didorong masuk kedalam pintu itu. Masuk dan tubuh mereka jatuh kebawah. Kejurang dalam.

Flashback end.

"Kalau, iya memang kenap-argh.." Belum selesai Hongbin berbicara. Tubuhnya kembali tersedot kedalam. Tapi ini seperti menggunakan remot kontrol. Tidak seperti sebelum sebelumnya sama sekali tidak sakit. Hongbin tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya bisa diam kembali dan menutup kedua matanya.

Jika aku benar benar mati didalam batu permen karet ini, aku akan bahagia jika Sanghyuk merelakanku. Hwany noona, Taekwoon hyung, Sanghyukie, selamat tinggal!

.

.

END! :v

.

.

.

.

.

Ga kok tenang;" (troll gagal)

.

Sanghyuk terjatuh, dan dirinya pingsan ditengah jalan. Suara angin yang membuat rumput bergoyang itu menjadi saksi bisu Sanghyuk yang pingsan.

Ada satu hal, jangan pernah memegang isi dari hutan ini.

Tubuh Sanghyuk menjadi tak terlihat semakin lama. Tubuhnya seperti hilang tertelan angin. Mungkinkah jika Sanghyuk akan menggantikan Jaehwany sebagai penjaga Goldiehood?

.

.

Jaehwan kini menatap nanar Sanghyuk yang terbaring disampingnya. Setelah saat sesudah Sanghyuk hilang tadi. Ada seseorang tak dikenal -lagi- menanyai Jaehwan, "Apa kau mau digantikan?". Jaehwan tadi langsung merasa aneh saat ditanyai begitu. Rasanya tadi tidak ada yang masuk kedaerah hutan kecuali Hongbin dan Sanghyuk.

"Siapa dulu orangnya?" Tanya balik Jaehwan. Orang itu hanya mengangguk, dan menjentikkan jarinya, dan muncullah Sanghyuk yang terkapar disebelah orang itu. Orang itu melirik Sanghyuk, dan kembali menatap Jaehwan seperti mengucapkan 'anak ini yang menjadi penggantimu'. Jaehwan melotot, tentu ia tidak mau. Bagaimana nasib adiknya nanti?

"Tidak. Tidak mau." Jaehwan menekan kata yang diucapkannya. Mendengar ucapan Jaehwan, orang itu tak berbicara lagi dan pergi begitu saja. Jaehwan lega karena orang itu menanyainya terlebih dahulu. Jika tidak? Ah, tak dapat dibayangkan.

Jaehwan menepuk nepuk pipi Sanghyuk pelan sambil berucap, "Bangunlah Sanghyuk..". Ia terus mengulanginya beberapa kali. Hingga akhirnya Sanghyuk mengerjapkan matanya. Jaehwan tersenyum melihatnya.

"Apa kau sudah baikan?" Tanya Jaehwan setelah Sanghyuk sudah sadar sepenuhnya. Sanghyuk hanya mengangguk, tubuhnya kini sudah lebih baik. Jaehwan kini menatap Sanghyuk tajam. "Kenapa bisa kau memegang barang dari hutan ini? Bukankah aku sudah berucap jangan pernah memegang barang dari hutan ini!".

Sanghyuk hanya bisa menunduk menyesal. Bodohnya dia, kenapa tadi ia memegang daun itu, kenapa juga ia merasa bahwa itu dari Jaehwan? Ia sudah bodoh sekarang sangat bodoh.

"Maafkan aku..-err.. noona, ada sesuatu yang ingin ku beritahu" Sanghyuk berujar dengan gugup, apalagi dengan tatapan tajam dari Jaehwan. Tapi yang sebenarnya tatapan itu tergolong cute.

"Apa memang?" Jaehwan mulai penasaran. Apakah ini tentang Hongbin? Hongbin menjadi kekasih Sanghyuk? Oh yatuhan.. kau mengabulkan do'aku.

"Hongbinhyungterjebakdigumierock" Sanghyuk mengucapkannya tanpa spasi, nafasnya juga tersengal sengal. Jaehwan hanya mendengar pada bagian awal dan akhir. Hongbin dan Gumierock. Oh no, sekarang pikiran negatif mulai ber-sliweran(?) Diotaknya.

"J-jangan bilang... Bean terjebak dipermen karet paling lengket itu?!" Jaehwan berkata dengan gagap. Adiknya bisa tidak selamat jika masuk kedalam permen karet itu!. Yah, Jaehwan sangat tidak rela. Sanghyuk yang mengangguk itu tambah membuat Jaehwan down. Ia tak percaya apa yang terjadi.

"Dan bisakah kau membantuku menyelamatkan Hongbin hyung noona?" Sanghyuk agak ragu dengan kata-katanya itu. Ada sebuah pikiran diotaknya bahwa Jaehwan akan menolak ini. Dan satunya Jaehwan menerimanya karena ia sangat menyayangi adiknya.

Jaehwan berpikir terlebih dahulu, jika ia memilih dengan babibu bisa saja ia terkena sebuah hukuman yang berat. Hongbin atau tidak dapat hukuman?. Jaehwan bingung. Andai Taekwoon ada disini, mungkin dirinya bisa meminta sebuah jawaban. Tapi sekarang keadaan sudah berbeda, Tidak ada Taekwoon lagi.

Baiklah, Jaehwan akan menetapkan hatinya untuk tidak... menolak permintaan Sanghyuk. Ya, dia bersedia membantu Sanghyuk menyelamatkan Hongbin. Ia memilih dirinya terkena hukuman sampai dirinya mati dari pada yang mati itu Hongbin.

"Noona.. apakah kita juga bisa memanggil Leo hyung?"

Jaehwan menggeleng. Jari telunjuknya diangkat keatas dan digoyangkan. Sanghyuk mengangguk angguk. "Kita harus bergegas noona. Tubuh Hongbin hyung tadi sudah masuk setengah."

"Ok.. setelah noona berganti baju"

.

.

.

Mereka berdua segera berlari mencari Hongbin. Karena jaraknya cukup jauh mereka harus berlari lebih cepat. Sesekali berhenti karena Jaehwan kelelahan. Maklumlah, wanita.

Mereka berdua melihat jelas dimana kepala Hongbin didorong paksa untuk masuk kedalam permen. Jaehwan geram. Ia melangkah cepat untuk menghampiri orang yang mendorong kepala adiknya itu. Dengan sebuah tonjokan tepat dipipi yang tertutup oleh masker, orang itu tersungkur.

Orang itu diam, ia merasakan ada darah yang mengalir disudut bibirnya. Tapi untuk menyembunyikan identitas ia tidak melepas maskernya dan mengusapnyam

"Sanghyuk, tariklah Hongbin keluar! Atau tidak kau lempar sesuatu yang cukup banyak kepermen itu! Biar orang ini aku yang urus!" Jaehwan berteriak. Kemudian ia mendekati orang itu. Dan menarik bajunya keatas agar orang itu berdiri. Dengan tatapan benci dan tajam saling beradu. Tanpa disadari orang itu menendang tulang kering Jaehwan. Jaehwan berteriak kesakitan memegang kakinya.

"Cih, begitu saja sudah sakit" Orang itu berdecih, ia menggulung lengan panjang bajunya sampai siku. Dan berbalik untuk pergi. Jaehwan menatap orang itu dengan smirk yang cukup mengerikan, "Kau laki-laki kan? Aku anggap kau kalah jika kau pergi, cih" kata Jaehwan dingin membuat yang mendengarnya merinding.

"Anggap saja aku kalah, deal.." Ucap orang itu dan berlalu pergi. Jaehwan kini malah geram, ia ingin menghajar orang itu habis habisan. Dengan langkah cepat meskipun agak terseok seok ia mendekati orang itu. Ia menonjok punggung orang itu hingga dia terjatuh lagi, kali ini terjatuh tengkurap. Jaehwan membalikkan badan orang itu. Dan menonjoknya brutal. Jaehwan ingat, orang inilah yang menjatuhkan Taekwoon-nya kedalam jurang itu. Tonjokannya semakin brutal dan keras. Air matanya mengalir. Ia menangis karena ia sangat marah jika mengingat soal Taekwoon yang diikat begitu kencang dulu.

"KAU MEMANG PANTAS UNTUK DIBUNUH! SETELAH MELIHAT PERBUATANMU ITU!." Jaehwan kini benar benar geram. Ia tidak bisa menahan emosinya untuk tidak menonjok orang itu habis habisan. Bau anyir mulai menyerbak disekitar sana. Baunya mengalahkan bau permen karet yang tajam. Warna merah pekat kini menghiasi baju Jaehwan yang tadinya putih bersih.

"Dulu seharusnya kau tidak usah membuang Taekwoon! Maka kau tak akan M-A-T-I ditanganku" Jaehwan berkata lagi. Dengan penekanan yang tajam pada bagian 'mati'.

Orang itu sudah dipenuhi bercak bercak darahnya sendiri. Bau anyir membuatnya ingin muntah. Orang itu ingin membalas, tapi tubuhnya tidak dapat digerakkan.

"Orang itu bukan aku!" Orang itu membela dirinya sendiri. Jaehwan hanya tertawa sinis mendengarnya, bukan dirinya? Lalu siapa? Dilihat dari matanya pun sama! Jaehwan dapat menerawang kalau wajahnya pasti sama!

.

.

.

Sanghyuk pergi untuk mencari batu batu asli ataupun benda padat kecil untuk dilemparkan kearah permen karet. Karena tadi ia sudah mencoba menarik Hongbin keluar, sayangnya tenaganya tidak cukup.

Sanghyuk melempari batu itu satu persatu dengan cepat. Telinganya mendengar suara perkelahian Jaehwan itu. Ia dapat merasakan bagaimana marahnya Jaehwan sekarang. Tapi setelah mendengar kata 'bunuh' dan 'mati' Sanghyuk mempercepat melempar batunya. Ia tidak mau ada yang mati disini, cukup noonanya saja yang sudah tiada.

Setelah beberapa waktu Sanghyuk melempari batu, tiba-tiba permen karet itu bergetar. Ia melihat Hongbin yang keluar sedikit demi sedikit dari permen karet itu. Ya, Sanghyuk senang. Tapi agak khawatir karena Hongbinnya menutup matanya seperti terlihat tak bernyawa? Oh tidak!...

Jemari Sanghyuk mengecek detak nadi ditangan Hongbin setelah tubuhnya sudah keluar semua. Satu kata empat huruf yang dirasakan Sanghyuk sekarang. Lega. Detak nadi Hongbin masih terasa, walaupun pelan. Hongbin masih hidup!

"Noona! Hongbin hyung masih hidup!" Giliran Sanghyuk yang berteriak. Jaehwan menoleh. Ia langsung berjalan pelan menghampiri Sanghyuk karena kakinya masih sakit. Dan meninggalkan orang itu.

.

.

.

Aku menyesal menerima permintaan ini.

.

.

TBC/END?

Yuhuuuu... update~ ini pertama kali 3k loh. Kkk..

Jae ga mau banyak bacot,- Thanks yang udah review. Maaf ga nyebutin yak :)

Silent readers~ maukah kalian mereview? Dengan satu katapun gakpapa.

Review please? *ngemis :'