Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya
Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read
Don't Like Don't Read
Once again
Don't Like Don't Read
.
.
.
Seminggu sudah sejak malam itu. Esok hari setelah malam itu, Sasuke-kun membawaku pulang ke Kyoto menemui Pama dan Mama. Mereka tercengang dan hanya bisa mengangguk-angguk setengah tidak percaya kalau Sasuke-kun, sahabatku sejak kecil malah melamar putri mereka. Dalam perjalanan kembali ke Tokyo giliran memberitahu keluarga Uchiha, aku tersenyum-senyum penuh kemenangan mengingat ekspresi Mama. Biarlah aku menikah dengan Sasuke-kun daripada harus menikah dengan pria dari antah berantah.
Pun di rumah Uchiha, Paman Fugaku, Bibi Mikoto, dan Itachi-nii langsung setuju tanpa panjang lebar penjelasan. Dan gak pake lama, besok adalah upacara pernikahan kami. Malam ini kami, 3 serangkai Sasuke-kun, aku, dan Naruto berkumpul di mansion Sasuke-kun.
"Huaaaaa. Kalian jahat. Kenapa kamu menikah dengan teme, Sakura-chaaaan? Aku kan sayang banget sama kamu. Hiks… hiks"
"Sudahlah Naruto, disini kami cuma saling membutuhkan kok" kataku sambil mengusap rambut blondenya yang lebat itu
"Tetap saja ini pernikahan, Sakura-chan. Huhuhu.. kalian jahat banget. Hei, teme! Awas kalau nanti kamu gak tanggung jawab sama Sakura-chan, kurebut dia nanti ya!"
"Hn. Jangan khawatir"
.
.
.
"Hihi, kasihan Naruto. Dia ketiduran, kecapekan nyanyi-nyanyi lagu galau. Baiklah, aku mau pulang dulu ya Sasuke-kun"
"Hn. Hati-hati"
Hmmmmh… Sasuke-kun tidak mengantarku pulang ya. Memang sih apartemenku dan mansion Sasuke-kun dekat jaraknya, tapi paling tidak tawarin antar pulang donk. Aku berjalan terus di sepanjang tepian sungai dengan pohon-pohon sakura yang bermekaran. Akhirnya menikah juga. Apa ini benar-benar keputusan yang tepat?
GREP
"Sasuke-kun?" aku menoleh mendapati Sasuke-kun yang menarik pergelangan tanganku
"Aku memang tidak melamarmu sebagaimana layaknya laki-laki. Tapi bagaimanapun kamu mempelaiku besok. Kuantar pulang"
Tak banyak bicara kami berjalan santai menuju apartemenku. Hembusan angin musim semi dan kelopak bunga sakura menerpa wajah kami. Yah walaupun tidak ada yang tahu, tapi dari dulu aku diam-diam menyukai Sasuke-kun. Dia yang cool, ganteng, pintar, dan sedikit sombong. Tak kusangka aku malah menikah dengannya. Tapi, bagaimana nasibku setelah dia mendapatkan uang yang diinginkannya? Apakah aku akan ditinggalkannya…
"Hei, ngelamun aja. Sudah sampai nih"
"Oh? Iya, terima kasih banyak. Sasuke-kun mau masuk dulu?"
"Gak. Nanti Om dan Tante terbangun," iya, Papa dan Mama malam ini menginap disini
". . ."
". . ."
"Baiklah. Aku pergi" katanya
"Sasuke-kun.."
"Hm?"
"Sampai jumpa besok" kataku akhirnya
"Kutunggu di altar" dia tersenyum kecil
"dan aku akan memakai gaun putih" jawabku tradisional ikut tersenyum
Dia berjalan menghampiriku pelan. Dan… mengecup dahiku sekilas. Aku memandangi punggung gagahnya yang kian menjauh. Kenapa menciumku? Jangan, nanti aku beneran jatuh cinta. Aku masuk apartemen dan tidak memikirkan apapun lagi. Besok aku akan menjadi Nyonya Uchiha.
.
.
.
Kupandangi lagi diriku dalam cermin. Oke, cantik tanpa cela, sepupu Shizune memang perias yang hebat.
"Sakura-chan! Kamu cantik bangeeeeet! Andai aku mempelai laki-lakinya" seru Naruto masuk ke ruanganku bersama Sasori-nii
"Sakura, aku masih marah sama Papa dan Mama yang sudah mengakibatkan pernikahan ini. Tahu begini mending aku gak jadi kuliah di Inggris aja dan menjagamu seumur hidup" kata Sasori-nii sambil menyilangkan tangannya di dada
"Hahaha, Sasori-nii bisa aja" kupeluk dia. Sasori-nii memang paling sayang padaku. Kalau ada cowok yang dekat-dekat aku langsung saja aku dipeluk seakan-akan adiknya ini mau dimangsa harimau
"Pokoknya kalau si Sasuke itu macam-macam padamu, akan kuculik kamu dan kubawa ke London"
"hahaha, sudah 2 cowok yang mengancam merebut aku nih. Tuh Naruto juga"
"Sudah,sudah. Jangan nambah-nambah pikiranku, Naruto. Sakura menikah dengan Sasuke saja sudah cukup bikin aku senewen. Jangan ikut-ikutan ngerebutin Sakura"
Kami bertiga tertawa dan tibalah upacara dimulai. "Kamu siap, sayang?" Tanya Papa. "Hhhhh. Sampai kapanpun aku tidak akan siap, Papa. Hanya jangan biarkan aku jatuh ya?"
.
.
.
Fuhhhh… sabar, sabar, sabar… semua ini demi Lamborghini Veneno Silver Limited Edition… pandangan tamu-tamu padaku seolah mengatakan kalau mempelai laki-laki bad mood abis. Gimana nggak, dari tadi pagi buta aku dipermak sana-sini sama Kaa-san, terus pasang poker face berusaha senyum kepada para tamu, dan lain-lain. Aku kan cuma mau upacara pernikahan biasa aja, tapi kenapa semua kenalan, partner bisnis, saudara-saudara, dan semua undangan pihak keluarga Haruno datang semua?!
Berdiri di altar dengan mood seperti ini benar-benar menyiksaku. Cepatan donk Sakura, kita selesaikan semua ini dengan cepat
"MEMPELAI WANITA MEMASUKI RUANGAN"
Deg! Here we go
Sakura melangkah masuk bersama Om, bukan Papa Jiraiya. Dia… cantik. Banget. Memakai wedding dress dari Dior, dia semakin anggun. Ya Tuhan, walau ini semua pernikahan mendadak, tapi dia terlihat begitu siap dan tenang. Mataku gak bisa lepas dari dirinya yang setapak demi setapak semakin dekat padaku.
Tap
Papa menyerahkan tangan mungil Sakura yang terselubung renda-renda padaku. Aku membungkuk hormat pada Papa dan meraih tangan mungil itu
"Hadirin dipersilakan duduk" pendeta memulai
"Kita semua berkumpul di hari yang penuh cinta ini untuk mempersatukan 2 insan, Sasuke Uchiha dan Sakura Haruno. Apakah engkau, Sasuke Uchiha, bersedia menerima dan menjaga Sakura haruno sebagai istrimu yang sah, dalam keadaan sakit ataupun sehat, dalam suka maupun duka, dan mencintainya, menyayanginya, sampai maut memisahkan kalian?"
Sungguh aku merasa kotor, mempermainkan hal sakral ini demi mobil, tapi semua sudah terjadi dan aku tidak bisa menarik kembali semua ini
"Aku bersedia"
Kulihat iris emerald Sakura berkaca-kaca. Apa dia menyesali keputusan gila kami ini?
"Apakah engkau, Sakura Haruno, bersedia menerima dan menjaga Sasuke Uchiha sebagai suamimu yang sah, dalam keadaan sakit ataupun sehat, dalam suka maupun duka, dan mencintainya, menyayanginya, sampai maut memisahkan kalian?"
"Saya bersedia" dia menutup matanya dan sebutir air mata menuruni pipi lembutnya
"Kalian dipersilakan menukar cincin"
Kuraih jemari kecil Sakura dan kuselipkan cincin warisan dari Kaa-san, sebuah cincin berlian putih ke jari manisnya. Begitu pas dan cantik. Sekarang dia meraih jariku dan menyelipkan cincin perak polos dengan aksen garis hitam.
"Silakan mencium istrimu. Ciuman pertama sebagai suami-istri"
Kuraih wajahnya, kuusap bekas airmata tadi, dan kami mulai mendekatkan wajah… dan…
Bibirku menyentuh bibirnya untuk pertama kali. Lembut, manis, aroma cherry, gak kusangka sakura membalas ciumanku, kami pun berciuman seolah ruangan ini hampa, seolah gak ada orang lain disini selain kami berdua
Tepuk tangan para tamu membuyarkan duniaku dan kami melepas ciuman secara perlahan. Oh, aku gak bisa nahan kata-kata ini lebih lama lagi
"Kamu cantik"
.
.
.
Selesai upacara, berfoto-foto, kami semua pesta kebun di rumah utama Uchiha. Masih memakai wedding dress aku duduk dan melihat orang-orang terdekat sedang memberikan speech di podium.
Fugaku : Senang dan bangga kedua keluarga hebat ini bisa bersatu dalam ikatan kasih sayang. Aku berharap semua tamu mau mendoakan anak-anak kami ini agar berbahagia selamanya
Mikoto : Tidak terasa Sasuke kecil kami yang sering menangis, sekarang telah menjadi suami dari wanita cantik. Jadilah suami yang hebat dan jangan membuat seorang wanita menangis ya, sayang
Jelas sekali sudut bibir Sasuke-kun tertarik ke bawah, cemberut, saat Kaa-san menyebutkan kecengengannya di masa kecil barusan. Aku cuma bisa tertawa
Jiraiya : Wahaha, sekarang tidak ada yang lebih membahagiakan seorang ayah kalau putri kecilnya menikah dan dijaga seumur hidup oleh pria baik. Mari kita bersenang-senang hari ini dan minum-minum sepuasnya. Wahaha
Ampun deh, Papa… duhhh
Tsunade : Sasuke, kamu harus jadi pria yang kuat untuk bisa menjaga Sakura, karena Sakura sendiri adalah gadis yang kuat. Dan kamu juga harus kuat agar Mama bisa segera menggendong Uchiha kecil. Oke?!
Hhhh.. orang tuaku benar-benar hiper
Sasori : Pokoknya kalau ada apa-apa dengan Sakura, kumasukkan kamu ke ruang operasi, Sasuke
"Keluargamu tidak berubah Sakura. Hmph" Sasuke-kun terkekeh
Naruto : Jujur aku patah hati Sakura-chan menikah dengan orang lain. Huhuhu. Tapi jika ada orang lain yang menikahi Sakura-chan, kupikir cowok terbaik itu adalah kamu, teme! Jaga sakura-chan baik-baik ya! Awas kalau tidak!
Ino : Uwah, Sakura, akhirnya aku keduluan kamu. Okelah, semoga berbahagia, aku mewakili semua teman-teman jurusan kedokteran menyampaikan selamat pada kedua pengantin!
Sasuke : Hhh. Intinya, aku beruntung mempunyai istri cantik dan pintar, terima kasih atas doa kalian. Udah gitu aja. Eh, khusus doa dari Mama Tsunade tentang Uchiha kecil, akan kupertimbangkan secepatnya
"Cuiiittt cuiiit"
"Cieeeeeee"
"Woooo, bagusss Sasukeeee!"
"Kyaaaaa"
Sasuke-kun turun dari podium dan menyeringai puas. Aduuuh, kehidupan macam apa yang menantiku kelak?
.
.
.
Tambah aneh aja ya fic nya, gaje, abal, super alay
Big thank you buat yang review, yang login cek PM ya
Hontou ni Arigatou
CHANYOU
