Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya

Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read

Don't Like Don't Read

Once again

Don't Like Don't Read

.

.

.

"Oke, dalam hitungan ke lima kalau gak bangun, posisinya aku balik lho"

Hah? Apa sih… masih ngantuk nih…

"1… 2… 3… "

"KYAAAAAA"

.

.

.

Masih dengan ekspresi blushing aku menggosok gigi di depan cermin lebar di kamar mandi. Bisa-bisanya aku tidur di atas tubuh Sasuke-kun. Aku gak ingat apa-apa sejak digendong pulang tadi malam. Bajuku pun masih dress skyblue kemarin. Duh, malunyaaa.

Usai berkumur aku berpaling ke belakang berniat mengambil handuk dan… mendapati Sasuke-kun telanjang dada mau mandi juga.

"KYAAAA"

.

.

.

Jujur melihat Sasuke-kun, Naruto, Sasori-nii telanjang dada bukan pemandangan asing buatku. Tapi entah kenapa sejak menikah, rasa deg-degan ku pada Sasuke-kun begitu besar. Setelah keadaan mulai tenang, aku menyalakan TV yang sebenarnya tidak ditonton sama sekali. Sasuke-kun duduk dan menikmati kopi panas dari room service.

"Hari ini jangan pergi kemana-mana sendirian ya"

"Baik… tapi ajak aku kemana gitu biar gak bosen. Ya? Ya?"

"Hn. Nanti kamu juga tahu"

"Asik. Kemana jadwal kita, Sasuke-kun?"

"Aku janji akan mengajakmu ke suatu tempat nanti. Tapi untuk saat ini sampai jam yang ditentukan kamu diam aja ya"

"Apa? Duhhhh"

"jangan rewel"

"Huhhh. Iya, iya" aku sedikit kecewa dan mendengus pelan, tapi Sasuke-kun adalah tipe orang yang menepati janji, karenanya aku sedikit berharap-harap

.

Hening

.

Siang hari berlalu

.

Hening

.

"Aaaahhhh, Sasuke-kun, aku bosaaaaaan!"

"Cerewet bawel, ah! Aku mau pergi dulu. Jangan kemana-mana"

"Aku ikuut"

Sasuke-kun memberikan deathglare nya yang scary dan aku pun kembali tengkurap di sofa dengan bete

.

.

.

Jam 6 malam.

Duh kemana sih, Sasuke-kun? Aku bosan, laparrrr, dari tadi makan makanan hotel melulu. Aku telfon dia aja ah

TOK TOK TOK!

Eh? Sasuke-kun kah? Aku membuka pintu dan mendapati bellboy memberikan nampan perak berisi amplop dan setangkai mawar merah. Setelah kuucapkan terima kasih, kututup kembali pintu dan kubuka amplop wangi itu. Masa dari Sasuke-kun sih? Gak mungkin dia seromantis ini. Hmmmmm…

"Dear Sakura

Berdandanlah yang cantik, di depan hotel sudah ada limousine menunggu. Awas kalau jelek gak akan kuampuni.

Suamimu yang ganteng"

Cih! Dasar sombong. Tapi aku tertawa juga dengan segala persiapannya yang cute ini. Oke, tuan Uchiha, saya akan menjadi wanita paling cantik yang pernah kamu lihat.

.

.

.

Pilihanku jatuh pada dress beludru warna maroon, sarung tangan renda hitam, high heels bertali maroon, rambut kusanggul sedemikian rupa dengan menyisakan sedikit poni di dahi dan kedua pipiku, aksesoris set ruby, dan make up natural yang elegan. Dalam limousine yang sudah dipesan Sasuke-kun, aku bertanya-tanya kemana mobil ini akan membawaku bertemu Sasuke-kun.

.

.

.

Aku sampai di sebuah bangunan bergaya arsitektur klasik dengan ornamentasi-ornamentasi super rumit yang diterangi cahaya jingga. Di depan pintu masuk aku disambut seorang pelayan yang lengkap dengan jas hitam dan dasi kupu-kupu. Memasuki ruangan yang ternyata begitu sepi , hanya terdengar alunan biola mendayu-dayu, kulihat disana, di satu-satunya meja makan kosong yang diterangi temaram lilin berhiaskan rangkaian bunga-bunga cantik, sesosok punggung yang gak asing lagi, berdiri membelakangiku.

Begitu jarak kami hanya tersisa 5 meter, pelayan yang membimbingku kesini sudah menghilang. Sasuke-kun menoleh, dan astaganaga dia begitu ganteng memakai tuxedo hitam, kemeja hitam, dasi maroon yang sama dengan warna dressku. Separuh wajahnya yang terkena lilin nampak tersenyum kecil melihat kehadiranku. Dihampirinya aku, diraih tanganku, dan diciumnya punggung tanganku. Ya Tuhan, mimpikah aku?

Dia menarik kursi untukku duduk, dan setelah memposisikan dirinya dengan nyaman, muncullah beberapa pelayan membawakan berbagai hidangan Perancis. Sambil menikmati makanan luar biasa itu, aku menginterogasi Sasuke-kun

"Jadi dari tadi kamu nyiapin ini semua Sasuke-kun?"

"Hn"

"Kenapa gak bilang-bilang sih?"

"Kejutan macam apa kalau dibilangin duluan"

"Semua ini untukku?"

"Gak, buat Itachi. Ya buatmu lah, baka"

"Sasuke-kun bisa romantis juga ya ternyata. Hihi"

"Cerewet"

"Terima kasih, Sasuke-kun. Rasanya kebosananku seharian di hotel lenyap seketika"

"Hm. Sudah seharusnya"

"Terima kasih banyak, Sasuke-kun. Aku.. aku begitu bahagia.."

"Sudah cukup dengan terima kasihnya. Ayo dimakan, jangan menyia-nyiakan uang yang sudah kukeluarkan"

Buh, tetap saja judesnya. Tapi kumakan juga makanan-makanan hebat ini. Benar-benar malam yang romantis, Sasuke-kun memang jarang berbicara, tapi aku tahu pandangan matanya malam ini begitu lembut dan mempesona. Dinner amazing ini kami akhiri dengan minum wine merah Italia, saat tiba-tiba mata tajam Sasuke-kun menangkap ada seseorang lain yang sedang makan malam di restoran ini

"Hey, I,ve booked this restaurant exclusively private for me and my wife. How could you let someone else sneak in and having damn dinner in our important time?!" komplain Sasuke-kun pada pelayan sambil berdiri menghampiri pengunjung itu

"Sudahlah sasuke-kun… kan kita sudah selesai dinner nya. Lagian hanya 1 orang saja kan?"

"yang namanya eksklusif itu ya tanpa pengecualian!"

"Sudah donk, jadi orang jangan marah-marah melulu" cegahku pada Sasuke-kun yang sudah mendekati pengunjung itu

"Good Evening, Sakura-san" sahut pengunjung itu. Eh? Aku mengenal suara itu. Lampu pun dinyalakan dan terlihatlah sosok Sai sedang duduk menikmati makan malamnya. Sai, mantan pacarku di SMA

"Kamu.. Sai kan?" Sasuke-kun juga mengenalnya dengan baik

Sai adalah mantan pacarku di SMA yang kupacari hanya selama 3 bulan. Itupun gara-gara cemburu pada Sasuke-kun yang jadian sama Hinata waktu itu. Sasuke-kun jelas-jelas benci banget sama Sai. Dan pertemuan ini akan sangat runyam.

"Dengar ya, pucat. Aku gak tahu ini restoran favoritmu atau apa, tapi malam ini tempat ini adalah milik kami, suami-istri Uchiha!" seru Sasuke-kun senewen karena senyum Sai yang harus kuakui memang selalu menyebalkan. Senyum palsunya itu.

"Wah wah.. jadi kalian sudah menikah ya? Sakura-san, bisa-bisanya kamu gak mengundangku ke pernikahanmu. Hmmm"

"Ya! Dia istriku sekarang. See?" Sasuke-kun memamerkan jari manisnya dan menunjukkan jari manisku pada Sai

"Yah, aku sih tidak peduli dengan itu. Aku cuma lapar dan ingin makan di restoran yang memajang lukisan-lukisan masterpiece ku"

DEG!

Kata-kata Sai dari dulu memang selalu jleb! Aku berusaha mencairkan suasana ,"Oh iya ya, Sai. Kamu kan kuliah di Institut Seni paris ya? Hebat kamu. Bagaimana kabarmu?"

"Ahh, seperti yang kamu lihat sendiri, Sakura-san… hidupku dikelilingi keindahan, jadi aku bahagia-bahagia saja disini. By the way, Sakura-san, kamu makin cantik saja" Sai berdiri dan mencium punggung tanganku tiba-tiba

Sasuke-kun langsung meraih pinggangku, memelukku, meraih daguku, dan menciumku!

Bukan ciuman seperti di altar, bukan ciuman lembut, melainkan ciuman panas penuh nafsu. Bibirnya meraih bibir bawahku, menggigitnya, memasukkan lidahnya ke rongga mulutku, mengabsen satu per satu gigiku, menghisap bibir atasku, membasahi sudut bibirku, mengakibatkan aku kesulitan bernafas dan terengah-engah… duh Sasuke-kun.. apa yang kamu lakukan? Tangannya pun gak tinggal diam, tangan kirinya mengelus punggungku yang setengah telanjang, sedangkan tangan kanannya sibuk meremas pantatku.

Tanganku yang terjepit di lengannya gak bisa apa-apa. Dada kami bersentuhan semakin erat, dan aku melambung tinggi gak bisa mikir apa-apa. Setelah puas dengan bibirku, Sasuke-kun menciumi pipiku, leherku, dan terakhir dahiku. Setelah menyeringai puas dia memandang Sai dengan remeh.

"Selamat malam, Sai. Senang bertemu denganmu"

Aku yang merah padam hanya bisa mengangguk dan dirangkul Sasuke-kun menuju limousine. Apa yang barusan terjadi?!

.

.

.

Dalam perjalanan pulang dalam limousine, Sasuke-kun cuek setengah mati padaku. Kutegur, kualihkan pembicaraan, tetap saja dia gak bergeming. Ada apa sih? Sudah seenaknya menciumku kayak gitu, sekarang malah diemin aku. Huh! Wajah gantengnya termenung menatap pemandangan malam Kota Paris kuno. Tangannya menopang dagunya, poninya sedikit menutupi pipinya, gak menutupi rahang tegas Sasuke-kun… aku semakin deg-degan gara-gara ciuman itu… Sasuke-kun… aku menyukaimu…

.

.

.

Malam hebat yang kurencanakan dengan baik, demi Sakura hancur gara-gara kemunculan si pucat-senyum-palsu-menjijikkan itu. Cih padahal malam ini aku ingin sedikit lebih dekat dengan Sakura. Moodku langsung buyar. Sakura berusaha menyenangkan hatiku dengan mengajakku ngobrol sejak pulang tadi hingga kini kami memasuki kamar suite. Aku masih jengkel dan merebahkan diri di sofa sambil melonggarkan ikatan dasi maroon super mahal yang sengaja kubeli siang tadi supaya kelihatan keren di depan Sakura. Kulihat Sakura kecapekan menghiburku dan langsung duduk di depan meja rias menghapus make up dan melepas aksesoris-aksesorisnya. Yah, aku jadi kasihan padanya yang sudah kucium dengan paksa. Sebenarnya mala mini aku memang ingin menciumnya dengan baik setelah makan malam. Tapi gara-gara Sai aku malah menciumnya dengan buas, bahkan dari jarak beberapa meter ini, masih jelas terlihat bekas pink kiss mark ku di lehernya.

Kuhampiri dia yang masih asik mengurai rambutnya yang disanggul, kupeluk Sakura dari belakang, kucium pelan bekas kiss mark itu, yang membuat pipi imut Sakura blushing seketika. Aku bebar-benar suka reaksi Sakura atas perlakuan-perlakuanku padanya.

"Sa.. Sasuke-kun"

"Ssst, diam"

". . ."

Kucium lagi lehernya sambil diam-diam mengalungkan Bvlgari yang dibelinya kemarin. Sebuah kalung silver dengan permata berwarna pink transparan. Selera Sakura dalam fashion memang bagus. Sakura memandangi leher jenjangnya yang kini berhiaskan kilau pink.

"Maafkan aku Sakura"

"Maaf untuk apa,Sasuke-kun?"

"Maaf sudah cuekin kamu, dan… maaf sudah cium paksa kamu di depan mantanmu"

Sakura memegang lenganku yang masih memeluknya dari belakang, tangannya begitu lembut. "Jangan, jangan minta maaf Sasuke-kun…" matanya menatap lurus ke mataku melalui cermin lebar di depan kami

"Aku… sangat senang dicium Sasuke-kun"

.

.

.

Hahaha… terima kasyyiihh banyak untuk reader-reader baik hati yang sudah support dan mereview fic ooc ini, fic super ooc. Hahaha

Dan sepertinya kecepatan inspirasi saya menulis berbanding lurus dengan jumlah review, follow, dan favorite. Hihihi

Intinya, semakin banyak semangat dari reader-reader baik hati seperti kalian, semakin semangat pula otak ini beroperasi #apasih #gaje #wkwkwk

CHANYOU