Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya
Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read
Don't Like Don't Read
Once again
Don't Like Don't Read
.
.
.
Apa katanya? Senang? Di dalam dadaku serasa ada kembang api yang meledak dengan menyenangkan. Rasanya ingin kumakan saja cewek cherry ini.
"Sebenarnya aku… menyukai Sasuke-kun sejak lama"
DEG!
Tak banyak bicara, segera kuraih pinggang kecilnya dan kugendong dia ala bridal style, kurebahkan di king size bed. Kuposisikan diriku di atasnya, kuelus pipinya, mata hijau itu memandang onyx kelamku yang berkilat-kilat gembira.
"Sejak kapan?" tanyaku
"Aku tidak tahu. Dari kecil, kita selalu bersama. Kemana-mana bersama, main bersama, melihat Sasuke-kun yang semakin gagah dan berwibawa, aku semakin suka. Hingga tanpa sadar rasa itu sudah memenuhi hatiku sepenuhnya. Senyum Sasuke-kun adalah hal yang tak tergantikan di dunia ini"
Dadaku sudah seperti gempa bumi campur tsunami, berdegup kencang. "Bagaimana dengan perasaan Sasuke-kun padaku?"
Aku yang tiba-tiba marah pada diriku sendiri karena menikahi gadis ini gara-gara mobil, bangun dan duduk di pinggir bed. Membelakangi Sakura menatap langit malam yang penuh bintang. Tuhan, kenapa aku jadi sebingung ini? Istriku,menyatakan cintanya dengan tulus di hadapanku, tapi aku malah kecewa pada diri sendiri.
"Hiks… "
Sakura menghadap punggungku dan menyandarkan kepalanya. Kedua tangannya memegangi pinggangku, bisa kurasakan tangan itu bergetar karena menangis.
"Aku tahu pernikahan kita bukan atas dasar cinta pada awalnya, tapi aku tidak keberatan kalau cintaku bertepuk sebelah tangan. Setelah ini pun, kumohon jangan membenciku, Sasuke-kun"
Aku segera memutar tubuhku dan memeluk Sakura erat. "Benci? Kamu bercanda? Kamu pikir siapa yang selama ini mengingatkanmu makan? Siapa yang menemanimu begadang saat kamu mengerjakan tugas? Siapa yang merawatmu saat kamu sakit sendirian di apartemen?!"
"Hiks.. hiks…"
"Kamu adalah cinta pertamaku, Sakura. Sejak pertama kali kita bertemu"
Dia kaget dan mendongakkan kepala tidak percaya, kupegang kedua pipinya yang basah, tangan kananku menelusuri tengkuknya, dan perlahan kudekatkan wajah kami berdua. Pelan… pelan… sengaja untuk menikmati momen ini. Jarak bibir kami tinggal beberapa inci, nafas kami saling bertemu… Sakura memejamkan matanya, kupandangi bulu mata lentik itu, dan bibir kami pun bertemu.
Kalau tadi aku menciumnya dengan kasar, ciuman sekarang lebih lembut dan saling berbalas. Sakura memagut bibir atasku, dan aku menghisap bibir bawahnya. Kumasukkan lidahku dan bermain-main dengan lidah Sakura. Sakura memainkan tangannya pada rahangku dan kami pun saling serang dan memeluk selama 10 menit, kulepaskan ciumanku dan kucium buas leher putihnya. Nambah kiss mark, menggigitnya, dan Sakura pun akhirnya mendesah.
"Ohhhh…hhh… Sasuke-kun"
"Aku mencintaimu Sakura"
Kulepaskan tali dress Sakura dan kulepas bra tanpa tali yang dipakainya, kuremas pelan dada kenyal itu sambil terus menciumi leher Sakura terus menurun ke dada atasnya. Sakura terus mendesah saat kurebahkan dia perlahan. Kuhentikan sebentar aktifitasku, kupandang wajah cantik Sakura yang sudah memerah dan nafasnya yang gak teratur. Tangan Sakura meraih kerah kemejaku, menarik dasiku, melahap bibirku sambil membuka kancing-kancing kemejaku.
Sekarang gantian dia yang aktif menciumi leherku, menjilatnya, uhhhhh… sensasi geli yang enak banget. Digigitnya leherku, dihisap, menciumi dadaku, menggigit ujung dadaku. Aku gak tahan lagi, kulepas dressnya dan dia sekarang cuma pakai panty renda hitam. Kulumat tanpa ampun 2 dada amazingnya, sambil kumasukkan jariku ke dalam pantynya. Dan oh, Sakura sudah sebasah ini rupanya.
Kami bergelut dalam making out ini dalam gerakan yang berubah-ubah, kadang aku di atasnya, kadang dia di atasku, kadang kami berhadap-hadapan menyamping, dan saat aku mulai menarik panty Sakura, smartphone nya berdenting entah bagaimana caranya bisa berada di samping bantal.
Sakura nyengir dan meletakkan 4 jarinya di depan bibir minta waktu baca email yang baru masuk. Huh, siapapun itu yang mengganggu kami berdua, terkutuk kau.
Wajah sakura terkena cahaya dari smartphonenya saat kulihat irisnya sedikit terkejut. Email dari siapa sih?! Kurebut, dan kubaca email itu
Selamat malam, Sakura-san
Lama tidak bertemu, dan sekarang bertemu di Paris. Sungguh menyenangkan. By the way, maukah kamu kencan denganku besok? Aku tahu kamu dan si sombong Uchiha itu menginap di hotel mana. Jangan Tanya aku darimana aku dapat info. Besok kutemui kamu disana.
Sai
PS : Aku masih mencintaimu dengan baik walau kamu sudah dirampas Uchiha
Gila. Cowok brengsek ini gila! Kulempar smartphone itu ke lantai dan pecah menjadi 3 bagian. Sakura spontan memelototiku, dia menutupi tubuhnya dengan selimut, dan memarahiku "Sasuke-kun! Jangan begitu! Aku ngerti kalau Sai benar-benar menyebalkan, tapi benda ini kan gak salah apa-apa!"
"Temperamenmu sangat keterlaluan. Suasana hatimu juga cepat berubah-ubah. Aku gak ngerti dengan jalan pikiranmu!" lanjutnya
Please, aku lagi malas debat. Dan yang terpenting, Sai sudah mengganggu malamku 2 kali. 2 kali Sakura. Kenapa kamu gak ngerti perasaanku. Parahnya lagi dia mengganggu kita yang sedang make out! Kenapa kamu seolah bela si pucat itu terus!
"Aku gak bela Sai, Sasuke-kun. Camkan itu. Aku cuma gak suka kalau kamu terlalu pemarah kayak gini" lanjutnya seolah bisa membaca pikiranku
Aku berdiri merapikan kemejaku ,"Nanti kubelikan yang baru" sahutku dingin dan berjalan malas keluar kamar
.
.
.
Sasuke-kun jahat. Bahkan setelah kunyatakan perasaanku dengan sungguh-sungguh, bahkan setelah kita berdua memadu kasih, bisa-bisanya dia bersikap kasar kayak gitu. Toh aku gak bakal meladeni ajakan apapun dari Sai. Sudah gitu gak minta maaf malah main kabur dan mengatakan kalau mau membelikanku smartphone baru. Aku gak minta itu!
Aku gak peduli dia mau kedinginan atau ngapain di luar sana. Aku gak akan mau peduli pada pantat ayam congkak itu! Aku mau tidur. Aku capek!
.
.
.
Pagi tiba dan… Aku gak bisa tidur. Huaaa. Kemana Sasuke-kun kok gak balik-balik ke hotel? Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja di luar sana. Kupandangi wajahku yang layu di depan cermin lebar. Kantung mataku menghitam gak bisa tidur mikirin Sasuke-kun, bola mataku memerah kebanyakan nangis.
Selesai mandi, kuputuskan untuk mencari Sasuke-kun di sekitar sini sambil tanya-tanya pihak hotel siapa tahu ada yang mengetahui kemana pangeran kegelapan itu pergi, yang… ternyata gak membuahkan hasil. Aku gak berani berkeliling jauh-jauh karena phone ku sudah rusak dan gak bisa dipakai maps lagi. Boro-boro maps. Telfon, email in Sasuke-kun aja sudah gak bisa. Daripada menambah masalah tersesat untuk kedua kalinya, aku pun menuju restaurant hotel karena perutku berteriak-teriak minta diisi.
Kumakan dengan hati yang makin berat memikirkan Sasuke-kun sudah makan atau belum karena kulihat dompet Levi's nya ketinggalan di kamar. Steak salmon dan milk tea lezat itu pun tidak kuhabiskan. Maaf ikan, aku khawatir dengan suamiku, jadi kamu gak aku habiskan. Setelah meninggalkan uang dan tips di meja, aku keluar dari restaurant dan melihat sosok yang gak asing lagi berdiri di hadapanku sedang tersenyum.
"Sai. Mau apa kamu kesini"
"Lho, kita kan mau kencan, Sakura-san"
"In you dream" sahutku dingin
"Wah wah, dingin sekali kamu pagi ini. Ada masalah?"
Iya, kamu. Kamu lah masalahku. Yang menjadi sumber malapetaka ini. Aku membungkuk hormat dan berkata dengan lancar ,"Sai, terima kasih atas perhatianmu dan perasaanmu, dulu, dan sekarang. Tapi demi kebaikanmu, tolong tuntaskan perasaan itu, buang jauh-jauh. Aku gak akan pernah tertarik padamu. Aku adalah Sakura Uchiha. Istri Sasuke-kun. Istri sah, disini dan disini" kutunjukkan jari manisku dan kuletakkan telapak tangan di dadaku.
"Well, sayonara. Please don't disturb us again. I'll appreciate it" lanjutku
Aku pun pergi dan naik ke kamarku dengan lega. Wajah Sai datar-datar saja. Biarlah.
.
.
.
Sial. Rasa lapar membuatku terpaksa kembali ke hotel. Rasa-rasanya dompetku ketinggalan di sofa kamar. Brrrrr, kedinginan karena keliling-keliling taman di kota malam-malam, bodohnya aku main kabur begitu saja. Semua ini pokoknya salah si pucat-senyum-palsu-menjijikkan itu. Beberapa langkah memasuki lobby hotel yang dekat dengan restaurant, kulihat pemandangan Sai dan Sakura yang berhadap-hadapan. Ohhh, jadi ajakan kencan itu dilaksanakan beneran ya?
Aku bergegas mendekati mereka berdua yang sepertinya gak menyadari keberadaanku, namun dalam jarak 4 meter, aku berhenti dan bersembunyi di balik vas bunga raksasa.
". . . tolong tuntaskan perasaan itu, buang jauh-jauh. Aku gak akan pernah tertarik padamu. Aku adalah Sakura Uchiha. Istri Sasuke-kun. Istri sah, disini dan disini"
Kulihat Sakura menggerakkan tangannya entah di bagian mana. Gak kelihatan dari sini.
"Well, sayonara. Please don't disturb us again. I'll appreciate it"
Sakura pun pergi dengan anggunnya. Setelah dia menghilang dari balik pintu lift, kulihat Sai yang seolah baru tersadar dari ucapan telak Sakura berusaha menuju lift juga. Kucengkeram pundak kurusnya, dia berbalik dan kutarik kerah bajunya.
"Sekarang Sakura sudah mengatakannya sendiri. Kalau kau masih ganggu dia, aku gak akan segan memotong monyongmu yang penuh senyum palsu itu. Aku gak main-main"
Kudorong tubuhnya dengan pundakku dan aku menyusul istri hebatku ke kamar. Dari balik pintu lift yang menutup perlahan, dapat kulihat jelas sorot mata Sai yang putus asa dan menyerah.
.
.
.
CKLEK!
Rambut panjang pink yang berkilau itu tersibak saat Sakura menoleh cepat ke arahku. Duh, wajah mungilnya jadi kuyu kebanyakan nangis. Dia pasti gak tidur semalaman.
"Sakura… aku-"
TAP
Dia menerjangku dan aku bersiap menerima pelukan hangat darinya…
JIIITTT!
"Ouuuchh! Apa-apaan ini?!"
Sakura mencubit kedua pipiku lebar-lebar. Duh, mati rasa. Sakiiiit!
"Hukuman untuk pria jahat dan tidak berperikemanusiaan!"
"Lepasin donk. Perih niiih!"
"Gak, kamu sudah bikin banyak kissmark di leherku, sekarang aku juga mau bikin mark di pipimu, Sasuke-kun!"
"Ampun, gomen deh gomen. Aku mau dapat kissmark, tapi pake bibir, jangan pake jari!"
Akhirnya Sakura melepas cubitannya. Duh, gak lagi-lagi deh. Aku mengusap kedua pipiku. Panas.
"Jangan membuatku cemas lagi, Tuan Uchiha" Sakura akhirnya memelukku. "Cih, kangen kan?" tanyaku. Dia mengangguk dengan polos. Kucium puncak kepalanya. Suasana ini yang aku suka.
"Sasuke-kun…"
"Hn"
"Mandi sana. Bau nih"
KREK
Kerutan jengkel muncul di keningku. Sakura terkikik dengan manisnya.
.
.
.
Maaf ya kalau sangat gaje…
Semangat ini harus kupertahankan, aku tipe orang yang bisa mendadak berhenti dan gak mood nulis dalam waktu yang cukup lama. Hehehe #lebay #abaikan
RnR, please? hihihi
CHANYOU
