Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya

Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read

Don't Like Don't Read

Once again

Don't Like Don't Read

.

.

.

Kini Hinata sibuk mengaduk-aduk bubur jahanamku. Ooh rupanya aku tadi lupa memasukkan dashi (sari ikan). Habisnya, dashi lagi kosong di lemari es. Hinata menggantinya dengan ikan kering yang dihaluskan, hm, good, satu hal lagi yang bikin aku merasa uhhhh selain ukuran dada melonnya itu. Aku juga lupa memasukkan soyu ke bubur itu. Arghhh payah!

Alasan dia kemari karena ingin berterima kasih atas bantuan kami gara-gara insiden pingsan di bandara. Alasannya sih karena jetlag, ah gak usah pura-pura deh, aku udah tahu kalau alasan sebenarnya adalah kaget karena Sasuke-kun sudah married. Itu pun pingsan pura-pura. Dasar poker face.

Aku mempersilakan dia masuk dan cipika-cipiki dengan kami. Saat aku menuangkan green tea, dia nyelonong masuk ke dapur dan menawarkan diri 'membetulkan' bubur itu. Dengan nada yang gak enak didengar dia berkata, "Ugh! Ini bubur apa sih?! Kok jelek amat kayak yang bikin. Aku betulin ya? Iya" pertanyaannya dijawab sendiri. Dasar weirdo.

Seusai dia masak, kami duduk-duduk di ruang tamu sambil menyantap bubur telur dan green tea ditemani blueberry cheesecake. Wakh, tambah gendut aku ntar.

"A… Anu, bagaimana rasanya, Sasuke-kun? E.. enak?" tanyanya sambil memiringkan kepala

"Hn"

"A… aku gak nyangka Sasuke-kun sedang sakit, aku minta alamat kalian dari Na.. Naruto-kun. Aku ingin berterima kasih pada kalian" katanya sambil menyodorkan bingkisan, yang kelihatan banget dibeli dari Armani. Isinya kemeja cowok. Jelas-jelas cuma mau ngasih Sasuke-kun. Cih, aku juga gak berharap kok.

"Hn"

"A.. apa Sa.. Sasuke-kun suka dengan kemejanya?"

"Hn"

"A… Apa gak dicoba dulu?"

"Ntar"

Wih, dingin banget Sasuke-kun. Well, walau aku kurang suka sama gadis ini, tapi gak nyaman juga kalau atmosfernya kayak gini

"Hinata, kemarin hari kamu sempat bilang kalau kuliah di Fashion Academy, kamu pasti jadi model ya?" akhirnya aku berusaha menciptakan suasana yang lebih friendly

"Sasuke-kun yakin gak mau coba dulu kemejanya?" Hinata rupanya mulai senewen sampai lupa sama perannya yang jadi good girl

"Jawab dulu pertanyaan Sakura. Dia nanyain kamu tuh" Sasuke-kun cuek abis dan menyandarkan kepala ravennya pada punggung sofa sambil mengambil blueberry di puncak cheesecakenya tanpa sedikitpun melirik Hinata

"Aku bukan model. Aku desainer baju. Sudah. Ayo Sasuke-kun, coba dulu kemejanya" rengeknya sambil membuka box kemeja coklat tua itu

"Wah, bagusnya, Sasuke-kun" aku mau gak mau ikut merayu Sasuke-kun yang jutek

"Sudah kubilang ntar an aja"

"Sebentar saja, Sasuke-kun" Hinata mendekati Sasuke-kun sambil membawa kemeja itu, ditempelkannya ke dada Sasuke-kun

"AKU BILANG NTAR YA NTAR. LAGIAN AKU GAK COCOK PAKE WARNA COKLAT. Desainer baju macam apa yang maksa gini? Gak pinter matching in warna, lagi"

DEG! Aku jadi takut, kusentuh pundak Hinata yang gemetar, dan…

"JANGAN SENTUH! AKU BENCI KAMU, SAKURA! DAN KAMU SASUKE, KAMU GAK PERNAH HARGAIN PERASAANKU. AKU BENCI KALIAAAAN!" teriaknya sambil menangis sejadi-jadinya dan berlari menuju Aston Martin Vanquish putihnya.

"Sasuke-kun, kamu keterlaluan" aku berkata begitu sambil mengejarnya. Kugedor-gedor kaca mobilnya sambil teriak minta maaf tapi dia gak peduli dan terus mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah kami. Gak pake mikir lama, aku meraih kunci Levi di dalam rumah dan mengejar mobil Hinata dengan Levi. Kutinggalkan Sasuke-kun yang masih pasang muka jutek di ruang tamu.

.

.

.

Duh kemana sih Sakura?! Udah malam juga gak pulang-pulang. Ngapain juga sih repot-repot ngurusin Hinata. Tau gini mending kuceritakan dari awal aja tentang Hinata. Kutelfon dari tadi gak diangkat-angkat. Akhirnya setelah percobaan ke 20, panggilan itu diangkat juga.

"Halo? Sakura? Dimana kamu?"

"Halo, aku Dr. Kakashi. Sakura ada di Rumah Sakit Jiyugaoka, mohon jangan panik dia se-"

TUUUUUT

Tanpa banyak pikir panjang lagi, aku mengeluarkan Mercedes Benz Hitam jadulku dari garasi dan langsung melesat ke RS Jiyugaoka. Sakura, apa yang terjadi padamu?! Kalau semua ini gara-gara Hinata, aku bersumpah akan membuat gadis Hyuga itu menyesal pernah mengenalku!

.

.

.

"Dimana Sakura?!" bentakku pada petugas resepsionis

"Maaf? Anda..?" petugas geblek itu lola banget

"Dimana Sakura?! Sakura Uchiha! ISTRIKU!"

"Ahhh, Sakura-sensei.. silakan, kemari, Uchiha san"

Derap langkah berisik kakiku bergema di lorong RS yang seharusnya hening ini. Kumasuki sebuah kamar VIP, dan kulihat Sakura sedang duduk di atas bed dengan lengan diperban, bersenda gurau dengan cowok rambut silver yang pake masker dengan coat dokter. Kucengkeram kerah coat putih itu.

"KAU apakan Sakura, brengsek!"

"Hyaa, ngapain kamu, Sasuke-kun?! Lepasin, dia dosenku!"

"HAH? Dosen?"

Sebenarnya ini ada apa sih!

"Oke, Sasuke-kun tolong jangan kaget dulu ya…"

"Hn" masih bete, aku berusaha duduk tenang di sofa sambil menyilangkan tangan di dadaku

.

.

.

FLASHBACK

Aku sendiri gak tahu kenapa aku mesti ngikutin Hinata kayak gini. Sejahat apapun dia, tetap aja aku ikut merasa bersalah atas ucapan tajam Sasuke-kun. Bagaimanapun, walau nantinya dia gak mau maafin, paling tidak aku harus bisa mewakili permintaan maaf Sasuke-kun langsung di hadapannya.

Levi dan Aston Martin berkelak-kelok di turunan bukit dengan kecepatan tinggi. Kupacu Levi agar bisa menyalip mobil Hinata, tapi dia begitu lihai menghalang-halangi lajuku. Kontur jalanan yang menurun dan lebar membuat kami serasa battle racing sungguhan. Hujan musim panas mulai turun dengan derasnya. Ban-ban mobil kami berdecit di sepanjang jalan.

Gerah dengan kondisi yang semakin ekstrim, kusejajarkan Levi dengan mobilnya, dan Hinata dengan berangnya berusaha menabrak sisi kiri Levi, yang otomatis membuatku banting setir ke kanan, untungnya saat itu di sebelah kanan ada bahu jalan trotoar, 2 roda sisi kanan Levi menaiki bahu jalan yang gak terlalu tinggi.

Kuinjak pedal gas, dan aku pun menyalip Hinata. Kuhentikan mendadak mobilku memutar agar dia mau berhenti. Kini mobil kami saling berhadapan dalam hujan. Saat baru mau turun dari mobil, dia memacu mobilnya lagi, menerobos celah sempit antara mobilku dan bahu jalan. Fuh, untung aja gak menggores Levi. Sasuke-kun bisa histeris kalau tahu Levi terluka.

Aku mendecih dan memutar Levi lagi, menyusul putri ngambek itu. Hujan semakin deras, aku mempersempit jarak kedua mobil. Yak, berhasil, jarak kami sekarang kurang dari 3 meter. Kusejajarkan kembali Levi di jalur kanan, tapi dengan segera kukurangi kecepatan, dan segera mengklakson berkali-kali memperingatkan Hinata.

Mungkin karena terlalu banyak memperhatikan mobilku lewat spion dan tertawa bangga karena mengira aku menyerah mengejarnya, Hinata gak melihat truk besar sedang melaju ke arahnya oleng karena badai ini. Aku menginjak rem kuat-kuat dan kini Levi berhenti mendadak dan membentuk garis elips hitam bekas roda di jalanan basah ini.

Aku keluar mobil dan menuju Aston Martin Hinata yang ringsek dan gak berbentuk lagi. Di tengah badai yang semakin mengamuk dan kobaran api yang akan segera membesar, aku menarik tubuh pingsan Hinata, memeluknya erat dan membawanya jauh dari ledakan mobilnya.

.

.

.

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba kami berdua berada di ruangan yang gak asing lagi buatku. Ini kan aroma rumah sakit? Dan lebih dari itu, ini kan rumah sakit tempat aku praktek tugas akhir semester kemarin? Para staf rumah sakit sudah memanggilku sensei meski aku cuma mahasiswi praktek. Aku berdiri lemah dan menuju pintu tempat orang-orang cemas mendiskusikan sesuatu.

"Ada apa, Kakashi sensei?" tanyaku lemah dan bingung

"Sakura? Kamu sudah sadar? Sebaiknya kamu istirahatlah dulu, nanti akan kuceritakan semuanya. Kabuto-sensei, tolong cek lagi di RS Kichijohi" jawab Kakashi sensei, dosenku sekaligus Kepala Dokter disini

"Baik, sensei" jawab Kabuto sensei

"Cek apa? Sebenarnya ada masalah apa? Oh iya! Bagaimana keadaan Hinata?"

"Hmm, begini Sakura, berkat pertolongan cepatmu yang Heroik, keadaan Hyuga-san tidak terlalu parah. Dia menderita patah tulang di beberapa tubuhnya, dan gegar otak ringan yang harus segera dioperasi. Hanya saja…"

"Hanya saja apa, Sensei?!"

"Dia kehilangan banyak darah, dan persediaan darah A dan O kami sudah habis. Kami sudah mengecek beberapa RS dan Lab di sekitar sini, tapi akses jalan menuju satu-satunya RS yang masih memiliki stok darah A di sekitar sini tertutup longsoran akibat badai. Jadi.."

GREP!

Aku meraih tangan Kakashi sensei, "Golongan darahku O, sudah gak ada waktu lagi. Kumohon, ambil darahku saja. Aku baik-baik saja"

Dalam situasi yang tidak mendesak, Kakashi sensei pasti lebih memilih mencari darah A, tapi ini darurat, dan kami gak punya waktu untuk chit-chat lagi. "Baiklah, tapi kita periksa dulu apa rhesus kalian cocok"

FLASHBACK END

.

.

.

"… Dan untungnya cocok, Sasuke-kun. Aku benar-benar lega"

"Lalu kenapa dia yang angkat telfonmu?" Sasuke-kun masih senewen

"Yah, setelah darahku diambil, aku tertidur dan masih shock karena kecelakaan itu, mungkin karena iPhone ku berdering terus-menerus, Kakashi sensei berinisiatif mengangkatnya"

Sasuke-kun diam. Yah, marah lagi deh. Tanpa berkata apa-apa lagi Sasuke-kun pergi meninggalkan kamarku.

.

.

.

Pagi harinya aku terbangun dengan rasa remuk yang teramat sangat menjalar di badanku. Kejadian kemarin memang ekstrim. Ahhh, lapaar… kemana sih Sasuke-kun di saat seperti ini…

Aku menuju kantin dan sarapan disana. Setelah itu aku berniat menengok keadaan Hinata sebentar. Saat akan mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu, kulihat pemandangan ganjil yang menusuk hati.

Sasuke-kun ngobrol sama Hinata! Ohh, jadi dia membiarkanku semalaman sendirian dan kelaparan di pagi hari karena menemani mantannya ini toh? Lebih parahnya lagi wajah Hinata yang sudah sadar pasca operasi dan memakai neck brace itu memancarkan kegembiraan, kesenangan, kebahagiaan seorang wanita yang benar-benar jatuh cinta. Pipinya merona dan tersenyum manis.

Aku baru saja mau masuk menginterupsi mereka saat sebuah tangan memegang lenganku.

"Uchiha san? Boleh ngobrol sebentar?"

.

.

.

Kami duduk di taman RS. Dia, cowok yang belum pernah kutemui dalam hidupku. Matanya sipit, rambutnya cepak warna coklat, mengaku bernama Kiba, tunangan hinata. Iya, tunangan.

"Maafkan tunangan saya yang sudah banyak merepotkan anda, Uchiha-san"

"Sakura"

"Sakura-san" dia mengangguk

"Sekali lagi maafkan tunangan saya, dia memang sedikit egois dan pintar acting demi keinginannya yang terkadang menggebu-gebu. Saya masih berusaha memperbaiki sifat buruknya itu" lanjutnya

"Anda hebat, Kiba-san. Saya gak munafik, dia memang cukup menyebalkan. Tapi suami saya pun gak kalah menyebalkan, karenanya waktu insiden itu terjadi, saya berusaha minta maaf padanya atas nama suami saya"

"Iya, saya sudah mendengar semua ceritanya dari Kakashi sensei. Juga tentang donor darah itu"

Aku jadi malu. Ngapain sih Kakashi-sensei cerita-cerita soal itu juga. Aku pun menunduk malu.

"Yah, selain karena simpati, saya juga adalah calon dokter, saya harus professional, karena menolong orang lain merupakan kebahagiaan untuk saya"

"Uchiha san beruntung sekali memiliki anda sebagai instrinya"

"Ya, aku juga beruntung sekali memiliki dia sebagai suamiku. Anu, maaf pernyataan gak sopan saya, tapi sebagai tunangan, anda harusnya sedikit mengawasi gerakan Hinata. Anda mengerti maksudku?" tanyaku sambil membentuk tanda petik dari telunjuk dan jari tengahku

"Benar sekali, Sakura-san. Dia memang agak berontak dengan pertunangan kami yang merupakan hasil perjodohan orang tua masing-masing. Tapi sejujurnya, ah malu mengatakannya, saya sayang padanya. Bagaimanapun buruknya sifatnya, saya merasa saya lah yang harus mengubahnya menjadi lebih baik"

"Anda pria yang baik, Kiba san"

"Terima kasih Sakura-san. Baiklah, tidak baik meninggalkan wanita cantik sendirian, apa anda mau saya antarkan ke kamar anda? Karena saya harus menengok keadaan Hinata"

"Ah gak apa-apa. Santai aja. Aku suka disini. Silakan kesana, Kiba-san. Senang berkenalan dengan anda"

.

.

.

Senja datang bersama warna jingganya yang hangat. Bertolak belakang dengan cuaca gila kemarin. Selesai mengurus keperluan rumah sakit bersama Kakashi sensei, aku bersiap-siap pulang ke rumah. Kucari sasuke-kun kemana-mana gak ada, kutelfon gak bisa, aku pun berniat mampir ke kamar Hinata dan menengok keadaannya.

Saat akan mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu, kulihat pemandangan ganjil yang menusuk hati. Serasa de ja vu, persis seperti kejadian tadi pagi, kulihat Sasuke-kun berada di kamar itu. Again. Cuma kali ini gak ada Kiba-san.

Dan

Mereka lagi ciuman

Ciuman

.

.

.

Aku benci dengan diriku sendiri. Semalaman terjaga di lorong rumah sakit, memikirkan betapa egoisnya aku, gara-gara aku, istri tercintaku mengalami hal mengerikan. Dalam badai luar biasa kemarin aku malah enak-enakan tidur, berharap meringankan demamku, yang ternyata memang sembuh sore harinya. Tapi, for God Sake, Sakura belum pulang juga saat kulihat di garasi cuma ada Mercedes Benz hitam jadulku.

Mondar-mandir gak jelas di dalam rumah, waktu itu aku pikir ngapain Sakura ngejar-ngejar Hinata yang notabene memang pantas untuk dibentak. Sifatnya itu lebih menjengkelkan daripada sifatku. Tapi sekarang aku sadar, gara-gara sifatku yang menjengkelkan ini, wanita-wanita itu sekarang terbaring di rumah sakit.

Pagi datang, kuminum kopi kaleng murahan dari vending machine. Semalaman aku menjadi filsuf dadakan yang berusaha memasuki pola pikir Sakura. Hmmm, ya, aku memang jahat. Aku sudah membentak gadis yang mencoba kasih present. Akhirnya aku memutuskan untuk melihat keadaan Hinata sebentar, walau begitu dia adalah korban fisik paling parah kan? Nanti baru akan menghabiskan waktu bersama istriku tercinta.

Saat di kamar Hinata, aku gak bisa pamit dengan cepat. Cowok mana coba yang tega lihat cewek pake neck brace dan perban disana-sini sedang minta ditemani sebentar sambil tersenyum-senyum. Ahhh, aku ingin segera ke kamar Sakura nih!

Akhirnya setelah berhasil keluar dari cengkeraman "Sasuke-kun disini sebentar…" "temani disini Sasuke-kun" "Sasuke-kun tega…" "Lima menit lagi, Sasuke-kun…" aku bisa bernafas lega dan berlari menuju kamaar Sakura. Dan… kosong.

Hih, kemana sih cewek ini, aku kangeeeeen!

.

.

.

Kucari kemana-mana gak ada. Cih, payah! Kemana sih pinky! Sore datang, gagak berkoak-koak. Mungkinkah Sakura sedang berada di kamar Hinata? Aku ke kamar menyebalkan itu sekali lagi.

"Ah! Sasuke-kun… kemarilah, kemarilah, aku minta tolong!"

Dih, kenapa cewek ini Sasuke-kun Sasuke-kun lagi sih

"Ada apa lagi kali ini" ucapku cepat dan dingin

"Kumohon, tolong… tolong, sepertinya mataku kemasukan debu…"

Cih, gosok aja pake tanganmu

"Tolong, Sasuke-kun… tangan kiriku ada infus, tangan kananku masih kaku dan diperban"

Dengan malas, aku meniup mata jeleknya yang pucat itu…

CUPPPP!

WHAT THE HELLLLLLL!

Cewek gila ini menciumku! Kutarik kembali tubuhku. "HEH KAU CEWEK GILA, GAK KAPOK KAMU? Camkan ya, sampai kapan pun kamu gak akan bisa mendapatkanku!"

"A, Ada apa ini?" seru seorang cowok berambut coklat cepak

"Siapa kau!?"

"Aku tunangan Hinata, Uchiha-san. Apa yang sedang terjadi?" Oh ternyata dia mengenaliku

"Bagus, kamu, please awasi cewek ini. She's insane! Dia cium aku!"

"Hinata!"

"Bodo, aku suka Sasuke-kun!"

PLAKKK

Wih, cowok yang mengaku tunangan Hinata ini menampar Hinata

"Uchiha san, maafkan Hinata. Sebaiknya anda segera menyusul Sakura-san, saya melihatnya berlari sambil menangis di koridor, dan saya buru-buru menuju kesini"

"Cih, jangan harap aku akan memaafkanmu Hinata. Dan kamu, Bro, thanks a lot. Please, please ikat Hinata dan nikahi dia secepatnya" ucapku sambil berlari mencari Sakura

Dari sudut mataku di balik pintu, kulihat cowok cepak itu memeluk Hinata yang menangis sesenggukan. Semoga kamu bisa melihat kebaikan hati cowok cepak itu Hinata. Walau sebentar bertemu, aku tahu dia cowok yang tepat untukmu.

.

.

.

Ahh, real life yang huhuhu #peluksasori

Maaf ya kalau chapter ini jadi lebay alay gitu, hontou gomen…

Sasori-niichan… bubu' di pangkuanmu dong #capekkk #teparrr

Review, please?

CHANYOU