Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya
Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read
Don't Like Don't Read
Once again
Don't Like Don't Read
.
.
.
Kulempar kunci mobil dan iPhone yang baru dibelikan Sasuke-kun 2 hari yang lalu di koridor rumah sakit. Cuma menyisakan dompet dan satu-satunya set pakaian yang melekat di tubuhku ini, aku kabur.
Aku berlari menuju stasiun kereta api. Aku gak mau menuju rumah. Rumah itu pasti tempat pertama Sasuke-kun nyari aku. Aku memantapkan tujuanku dan duduk di gerbong kereta api sendirian dalam keadaan sembab gak karuan.
Aku akan menuju suatu tempat yang gak ada seorangpun mengira aku akan kesana. Bahkan Pama, bahkan Mama, bahkan Sasori-nii.
.
.
.
Dua hari ini bagai neraka buatku. Sudah kukerahkan anak buah Tou-san yang terbaik, tetap saja gak ada kabar dari kepala pink itu. Dia sudah bikin aku pusing, cemas, kangen, takut kehilangan, dan akkkkh! Aku mengacak rambutku. Aku benar-benar pusing.
"Kamu kelihatan sangat pucat dan letih, sayang. Tidurlah sebentar, sudah 2 hari kamu gak tidur" ucap Kaa-san lembut
"Gak bisa, Kaa-san. Sebelum ada kabar sedikit aja dari Sakura, aku gak bisa tenang. Heh? Iya halo, ini aku. Bagaimana Dobe, kamu dapat info?" iPhone yang bahkan belum sempat berdering, masih setengah getar, langsung kuangkat
"Hn. Oke aku mengerti. Thanks. Teruskan cari info ya"
Hhhhhhh… nihil. Aku menghembuskan nafas dalam-dalam
"Sasuke, maaf aku harus meminta bantuanmu di saat seperti ini. Tapi Tou-san mohon, pergilah ke Izu untuk menemui investor dari New York, mereka sudah stand by disana sejak kemarin" kata Tou-san tiba-tiba
"Apa?! Kenapa gak Itachi aja sih?! Tou-san gak lihat keadaanku sekarang?"
"Yah, wajar kalau kamu lupa. Kamu bahkan lupa makan, lupa mandi, sudah 4 hari ini Itachi ada di Hokkaido melihat perkembangan pembangunan Ski Resort baru yang progresnya masih 23%"
Ya ampun, resort yang sudah dimulai pembangunannya akhir tahun lalu masih belum jadi juga? Kontraktornya stress
"Duh, kenapa gak Tou-san aja sih?!" protesku
"Hhh, kalau Tou-san bisa, aku gak minta bantuanmu, Sasuke. Sejak kakekmu meninggal perusahaan menjadi lebih sibuk dari biasanya. Banyak kontraktor-kontraktor baru yang gak ngerti sistem Uchiha group, dan itu jadi tanggung jawab Tou-san"
Aku diam dan masih memandangi Tou-san dan Kaa-san dengan cemberut
"Ayolah, sayang… meeting itu memang hanya sebentar, tapi sangat penting karena beliau adalah investor dari anak perusahaan teman baik kakek Madara" Bahkan Kaa-san pun tega menyuruhku bisnis di saat aku kehilangan Sakura kayak gini. Kalau sudah gini aku bisa apa…
.
.
.
PANAS! PANNNNAAASSSS!
Ke Izu?! Di musim panas?! Tanpa SAKURA?! Malapetaka
Aku melonggarkan dasiku setelah tamu-tamu kaya dari New York itu keluar ruangan dari restoran jepang yang elit ini. Cuma basa-basi kayak gini aja Tou-san memaksaku kesini. Masih gak ada kabar dari Sakura. Kemana sih belahan jiwaku itu?!
Mataku menerawang menatap taman zen dengan air mancur bambu yang begitu tenang di luar sana. Kok batin ini masih gak bisa tenang aja sih. Melihat taman yang mirip dengan yang ada di rumah utama Uchiha bikin aku teringat malam pas kami berangkat honeymoon dadakan yang berlanjut jadi Europe Tour. Ah, sudahlah, lebih baik aku terbang ke Tokyo lagi dan melanjutkan pencarianku. Terlalu sakit kalau galau di Izu yang panas ini.
Di dalam taxi yang berjalan di sepanjang garis pantai pun, aku ngelamunin Sakura. Mata hijaunya yang bening dan teduh, pipi imutnya yang berubah pink saat kusentuh, bibir pink nya yang merona, rambut pinknya yang berkilau dan berkibar-kibar lembut tiap tertiup angin. Kayak rambut gadis di atas perahu di dermaga kecil seberang itu.
WAIT
SAKURA!
ITU SAKURA! DI ATAS perahu penyeberangan itu Sakura!
"STOP!" perintahku pada driver dan kesodorkan beberapa lembar uang, aku langsung keluar dan berlari menuju dermaga itu. Gak tahu deh driver itu ngomong dan teriak apa aja di balik kaca mobilnya, yang jelas uang yang kubayarkan tadi lebih dari tarif yang seharusnya.
Aku menyeberang jalanan panas yang padat kendaraan dan gak peduli pada mereka yang ngamuk-ngamuk karena jalur mereka kuterobos. Mereka mengacungkan kepalan tangan, dan ada juga yang mengacungkan jari tengahnya. Like I care huh!
Kulompati pagar pembatas antara trotoar dan pantai setinggi 1,2 meter. Pendek aja. Aku berlari mati-matian mengejar perahu yang sudah akan berangkat itu.
PANASSSS
"Shit!" umpatku yang terlambat menaiki perahu. Beberapa orang di dermaga memandangiku aneh. Mungkin batin mereka, ini James Bond dari mana kok bisa lari-larian di di pantai panas ini sambil pakai jas hitam eksklusif.
"Bro! kamu tadi lihat ada gadis berambut pink naik perahu itu kan?!" tanyaku kehabisan nafas pada seorang yang terlihat seperti nelayan.
"Ohhh?! Maksud anda Sakura-chan?" jawabnya riang. Sumpah, kalau bukan karena aku butuh info dari orang ini aku pasti mencekik lehernya karena dengan lancangnya memanggil Sakura-ku dengan imbuhan –chan.
"Ya! Ya! Kamu mengenalnya?"
"Wah, tuan, siapa yang gak kenal dengan cucu Nenek Chiyo yang cantik dan baik hati itu. Semua penduduk sekitar sini dan pulau seberang sangat menyukai Sakura-chan!" serunya semangat dan merona. Dasar Sakura, pesonamu terlalu tinggi sampai bikin semua orang suka sama kamu.
"Nenek Chiyo?! Jadi Nenek Chiyo tinggal di pulau itu?" aku menunjuk pulau yang kelihatan rindang dan hijau banget di seberang sana. Kalau Nenek Chiyo sih aku juga kenal. Tapi sejak kapan dokter legendaris itu pensiun dan mengucilkan diri di pulau seperti itu?
"Iya, tuan. Ummm… ngomong-ngomong anda siapa ya…" tanyanya linglung
"Aku suami Sakura yang tercinta" jawabku singkat dan menuju perahu selanjutnya
.
.
.
Kesalahan
Kesalahan besar pake baju beginian disini. Bercucuran keringat berjalan dari bukit-hutan-bukit-sungai-bukit lagi. Aku kecapekan. Kenapa penduduk pesisir tadi mengarahkanku ke rumah Nenek Chiyo lewat jalan beginian sih! Istirahat sebentar di bawah pohon, seseorang menegurku
"Loh?! Kamu kan Nak Sasuke?"
"Ne.. Nenek Chiyo?!" seruku gembira
Kupeluk dia. Ah, nenek baik hati yang menyayangi 3 serangkai, aku, Sakura, dan Dobe saat dia masih tinggal di Tokyo belasan tahun yang lalu.
"Ngapain kamu disini dengan penampilan kayak gitu? Ayo kita pulang dulu" katanya sambil menggandeng tanganku.
"Ah. Nenek, apa Sakura ada di rumah Nenek? Aku harus mengclearkan salah paham di antara kami"
"Loh? Dia bilang dia kesini karena disuruh liburan kesini olehmu"
Hhhh dasar Sakura. Kuceritakan semua dari A sampai double Z kepada Nenek Chiyo. Dengan segera Nenek Chiyo mengumpat mati-matian sama ulah Hinata. Dia juga memukul kepala ravenku pelan memakai lobak yang baru dibelinya. Kenapa aku juga kena sih?!
.
.
.
"Sakura, kamu yakin gak mau pulang?" tanya Shizune-neesan yang sudah tahu permasalahanku
"Gak. Belum. Aku masih jengkel berat sama Sasuke-kun" kataku pedas sambil memotong wortel. Aku mau belajar masak dari Nenek Chiyo dan Shizune-neesan
"Tapi gak pantas cewek main kabur kayak gini…"
"Ahhh, Shizune-neesan jangan gitu donk. Lagian disini enak, tenang dan sepi. Aku merasa rileks sekali disini"
Kupandangi lingkungan sekitar rumah Nenek Chiyo yang bergaya jepang kuno dan gak terlalu besar. Aku kangen suasana ini. Sekitar rumah penuh dengan pohon-pohon, semak, dan binatang-binatang kecil seperti tupai.
"Tadaimaaa" suara Nenek Chiyo dari luar terdengar
Aku bergegas menyambutnya. "Selamat data-"
SASUKE-KUN!
.
.
.
"Geseran dikit!" protesku pada Sasuke-kun
"Mau geser kemana lagi sih?! Udah gak ada tempat gini loh!"
"Uggh! Gerah tahu"
"Ya udah lepas aja yukatamu. Apa perlu kubantu?" Tanya Sasuke-kun nakal
"Ogah!"
Gara-gara Nenek Chiyo yang merupakan fans #1 Sasuke-kun, aku jadi terpaksa berbagi kamar sempit ini dengan futon yang juga teramat mini. Tiba-tiba datang dengan penampilan yang gak banget. aku gak tahu gimana cara Sasuke-kun bisa nemuin aku, yang jelas pasti cuma kebetulan yang gak disengaja. Ngapain coba pake jas hitam-hitam gitu ke desa di pulau kecil gini. Setelah makan malam Nenek Chiyo men-sidang kami berdua dan menyuruh kami segera baikan. Nenek Chiyo juga marah karena aku bohong mengenai kedatanganku kemari. Kami berdua disuruh saling minta maaf satu sama lain. Sasuke-kun sejak awal tujuannya memang mau minta maaf, tapi aku? Gak mau. Ogah. Titik.
"Sakura…"
Aku berbaring menyamping membelakangi Sasuke-kun dan pura-pura tidur sambil memejamkan mata
"Aku tahu kamu belum tidur. Hadap sini lah"
". . ."
"Aku kan udah ceritain semuanya. Kenapa kamu masih marah sih?"
Karena bagaimanapun, dari apa yang kulihat sore itu, dan apa yang kamu ceritakan tadi, semua intinya sama aja. Bibirmu dan bibir Hinata udah bertemu. Batinku.
"Aku gak akan pernah mengkhianati kamu kok"
…
"Cinta, jangan diemin aku donk"
…
"Aku mesti gimana lagi sih?"
…
"Kamu gak tahu keadaanku beberapa hari ini sih. Aku sampai lupa makan lupa mandi lupa tidur mikirin kamu lho"
"Apa? Lupa makan? Lupa tidur? Sasuke-kun gimana sih! Kan baru sembuh. Nanti sakit lagi!" aku spontan membalikkan badan. Kesehatan Sasuke-kun selalu jadi beban pikiranku selama aku kabur.
"Iyaaa, makanya kalau gak ada kamu aku kan jadi sakit. Tapi yang paling sakit itu disini" Sasuke-kun manja-manja sambil memeluk dadanya sendiri
Aku gak bisa nahan tawaku lagi. "Hahaha, udah deh gombalnya. Aku maafin Sasuke-kun deh"
"Good girl" ucapnya sambil mengecup dahiku, yang tapi langsung kuhalangi pake telapak tanganku
"Eits! Tapi kalau sampai terjadi lagi, kaburku gak akan sedekat Tokyo-Izu lagi. Got it?"
"Akh! Iya, iya!" Sasuke-kun mulai gusar dar meraih tanganku yang kupakai menutupi dahiku dan meletakkannya di pinggangnya sehingga posisi tanganku sekarang memeluknya
Diciumnya dahiku, turun ke pipiku, dan ke bibirku. Eits, aku menjauhkan sedikit wajahku.
"Enough, Mr. Uchiha. Anda hanya bisa sebatas itu. Jangan cium bibirku"
"Cerewet" gak dipedulikannya laranganku dan mulai menciumku dengan ganas. Aku jadi terbawa suasana dan membalas ciumannya. Tangan nakalnya mulai masuk ke dalam yukataku dan meremas dadaku pelan. Well, melihat sasuke-kun yang telanjang dada dan diperlakukan kayak gini bikin nafasku mulai gak teratur. Kami saling bikin kissmark, dan Sasuke-kun mulai melepas yukataku dengan cara yang sensual.
Yukataku kini hanya sebatas pinggang. Dadaku yang hanya dibaluti bra hijau kini menempel erat pada dada telanjang Sasuke-kun. Tangan nakalnya gak berhenti mengelus seluruh badanku. Tengkukku, punggungku, pinggangku, pantatku, dan terakhir dipeluknya aku erat-erat sambil berbisik "Aku kangen kamu"
Dan tanpa ada jeda, dia tertidur dengan enaknya dengan tangan masih di dalam pantyku merambah pantatku. Dasar pangeran kegelapan yang seenaknya sendiri. Kupandangi wajah gantengnya. Ganteng banget, tapi agak kurusan. Apa benar aku udah bikin dia sengsara beberapa hari ini? Kasihan sekali suamiku. Apa aku berlebihan menghukumnya ya? Kutarik tangan nakal yang sudah lemas itu, kuarahkan ke pinggangku, kupeluk erat Sasuke-kun. Kami pun tertidur dalam damai.
.
.
.
Setelah berpamitan pulang pada Nenek Chiyo dan Shizune-neesan, kami menaiki speedboat yang diantar pegawai Sasuke-kun dari Uchiha Izu Cluster. "Ahhh, aku harus minta maaf pada Tou-san dan Kaa-san kalau sudah di Tokyo nanti" aku bersandar dan menikmati angin laut yang menerpa wajah kami
"Gak usah buru-buru. Mumpung di Izu, kita mampir dulu ke pulau pribadi Uchiha"
"APA?!"
Sasuke-kun tersenyum miring. Aku menatap wajahnya lekat-lekat. Mau kemana katanya?! Pulau pribadi?
"Hn"
"Baru dengar kalau sasuke-kun punya pulau pribadi"
"Kamu meremehkan Uchiha Group, Sakura"
"Mau ngapain sih disana?"
"Memilikimu seutuhnya" jawab Sasuke-kun dengan senyum mesumnya. Wajahnya begitu gembira dengan rambut yang berkibar ke belakang membuat dahinya ter ekspose. Huaaaaaaaaaaaaaa
.
.
.
Aku suka banget sama pasangan aneh ini. Wkwkwk
Minna-san ARIGATOOOOUUU atas dukungan, review, dan semuanya deh. Akhir-akhir ini saya semacam kehabisan waktu. Memang benar waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Minna-san juga ganbatte ne? kudoakan kalian semua sehat selalu
Sasori-niichan, bubu' di lenganmu donk #maksabanget
Review please?
CHANYOU
