Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya

Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read

Don't Like Don't Read

Once again

Don't Like Don't Read

.

.

.

Aku menyandarkan kepalaku di pundak Sasuke-kun selama berada di dalam taxi menuju rumah. Setelah liburan panjang di pulau kosong Izu, kami harus kembali ke dunia perkuliahan.

"Eh? Taruhan?!"

"Iya, aku dan Hinata dulu jadian gara-gara Dobe, aku, Shikamaru, dan Gaara taruhan"

Aku memperhatikan Sasuke-kun setengah gak percaya. "Kami taruhan, siapa di antara kami yang bisa menaklukkan cewek paling cewek di Sekolah Putri Ao"

"Hahhh? Dan kenapa Sasuke-kun yang bisa menang?"

"Mereka semua bego sih. Cara mereka PDKT norak. Aku sih, cuma tinggal datang ke kelasnya di tengah-tengah pelajaran, kuseret dia ke taman, dan kusuruh dia, ingat ya, kusuruh, bukan kuminta, jadi cewekku"

"Huh. Terus? Terus?"

"Ya udah. Kita jalan gitu aja. Gak ada rasa sama sekali di pihakku. Tapi rupanya dia naksir banget sama aku"

"Hmmm"

"Makanya aku udah tahu semua sifat jelek dia di belakangku. Pas di bandara juga, aku tahu kamu udah panas dan mau mukul dia waktu kulihat dia bisik-bisik di telingamu. Waktu itu aku langsung memegang tanganmu kan?"

"Eh? Jadi Sasuke-kun udah tahu?"

"Iya. Pas sebelum kecelakaan itu, pas insiden kemeja coklat itu, aslinya kamu jangan feel guilty lah, lihat akibatnya. Dia udah sering ngambek kayak gitu. Aku sih cuek aja. Sejak awal daya tariknya sebagai cewek di mataku adalah nol besar"

"Huuuuu. Gara-gara itu aku jadi patah hati sama Sasuke-kun dan nerima perasaan Sai pas dia nembak aku di panggung festival sekolah. Sasuke-kun baka"

"Cih. Kamu sih"

Kami sampai. Di gerbang rumah kami, terparkir mobil Bugatti Veyron biru metalik. Jangan-jangan…

"Halo, Sakura" sapanya. Setelah kami turun dari taxi. Ya, Kakashi sensei.

"Halo, sensei. Ada perlu apa? Ah, mari masuk dulu. Kami baru pulang dari Izu. Hehehe"

Kakashi sensei menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Sasuke-kun. "Halo, apa kabar?" sapa sensei

"Hn" sahut Sasuke-kun cuek dan gak menyahut uluran tangan itu. Kakashi sensei memandangi Sasuke-kun lama dan akhirnya memasukkan kedua tangannya ke saku celana jeansnya. Huh, sikap apa-apaan sih, dasar Sasuke-kun. Udah kubilang kalau dia itu dosenku. Ngapain jutek segala.

Walau capek, aku harus menjamu tamu dengan baik. Kupersilakan sensei masuk, dan kami ngobrol ceria. Kakashi sensei mengkhawatirkan kondisiku yang gak ada kabar sejak keluar dari rumah sakit. Dia juga menyampaikan salam terima kasih dari Kiba dan Hinata (yang mana aku tahu aslinya pasti dari Kiba aja). Ternyata hampir tiap hari sensei mampir ke rumah dan gak pernah berhasil menemuiku. Sasuke-kun kuajak gabung ngobrol, tapi dia malah menyetel speaker home theater kami keras-keras supaya sensei cepet pulang. Hhhh. Ckckck.

.

.

.

Minggu demi minggu berlalu. Aku dan Sasuke-kun banyak menghabiskan waktu untuk fokus pada kuliah kami masing-masing, hingga kini di penghujung musim gugur, di saat daun momiji yang goldenbrown mulai berguguran, aku mulai komplain pada Sasuke-kun yang tiap hari sibuk bikin replika gedung sama Naruto, gambar kerja arsitektur di PC nya, bahkan sering studi banding berhari-hari di prefektur lain. Gak jarang aku sendirian di rumah. Kadang ditemani Ino, Kaa-san, atau Mama.

"Sasuke-kuuun" pelukku dari belakang. Sasuke-kun sedang asyik bikin animasi 3d gedung semacam skyscraper gitu deh di laptop apple nya.

"Hn"

"Bosan. Aku kangen Sasuke-kun yang dulu"

"yang dulu gimana sih? Aku tetep gini-gini aja kok"

"Makan keluar yuk.. aku pingin sushi…"

"Call delivery kan bisa"

"Aku maunya sushi yang berjalan (?)"

"Seleramu, Sakura. Murahan"

"Ya makanya ajak ke tempat yang elit"

"Aduh aku lagi sibuk nih. Ngerti gak sih?"

"Sasuke-kun baka!" aku melepas pelukanku dan menghempaskan diri di sofa bed depan TV. DRRRT. iPhone ku menyala. Kubaca dengan malas email masuk barusan. Iris mataku cerah dengan tiba-tiba. "Sasuke-kun, jurusanku ada party nih, ayo datang yuk?" ajakku antusias.

"Ckck. Sakuraaa, aku sibuk. Ngerti gak sih?" jawabnya dengan tidak memalingkan mukanya 1 senti pun

"Kok gitu sih? Segitu pentingnya ya? Terus aku kesana sama siapa donk?"

"yang barusan email kamu siapa?"

"Ino"

"Ya udah, suruh Ino jemput kesini"

"Huh. Oke. Aku gak masak lho, awas aja kalo kelaparan di rumah"

"Gak bakalan"

Huh sombong. Aku menghubungi Ino dan bersiap-siap. Kupakai tank top hitam dengan blazer putih, celana jeans abu-abu, dan boots merah yang eye-catching. Waktu kupamiti, Sasuke-kun cuma melirik padaku sebentar dan aku berharap dia mau mencium keningku seperti biasa, tapi ternyata…

"Kalau pulang bawain makanan ya"

KREK

Cowok menyebalkan iniiiii!

.

.

.

Akh! Payah! Udah mabuk, pake acara numpahin minuman segala ke blazer putihku. Huuuuuuuhhhhh! INO! Beberapa teman udah pada pulang. Jadi malu sendiri lihat mereka, yang notabene mahasiswa-mahasiswa jurusan kedokteran Todai malah minum-minum kayak gini. Hehhhh…

"Sakura, kami akan mengantar Ino pulang. Dia benar-benar gak bisa bangun" seru teman-teman kami

Aku melambaikan tangan dengan keadaan lesu. Setelah mobil mereka pergi, aku merogoh handbag merahku untuk meraih kunci Levi, eh?! Aku tadi kan berangkat bareng Ino?! GAWAT!

Kukejar mobil mereka siapa tahu masih ada di dekat sini, yang ternyata… sudah lenyap. Kucoba berulang kali telfon Sasuke-kun untuk minta jemput, tapi gak diangkat. Ah dia pasti masih asyik di depan laptop. Aku melangkah lesu menuju restaurant tempat kami party.

"Ada apa Sakura-chan?" tanya seorang temanku

"Aku lupa kalau tadi numpang Ino. Sekarang dia udah pulang sama teman-teman…" jawabku dengan ekspresi wajah yang gak banget

"Mau aku antar? Hihihi" tawar Lee-senpai, kakak tingkat jurusan teknik yang entah kenapa bisa nyasar di party anak kedokteran ini. Uh, dia bau minuman lagi. Bukan rahasia umum lagi kalau Lee-senpai naksir aku sejak dulu. Cuma aku gak mau. Walaupun baik hati, dia itu aneh banget. dia adalah ketua klub karate Todai. Ketua klub yang sangat tegas. Terlalu tegas. Baik cowok, atau cewek, kalau mau masuk klubnya harus bisa melalui tes khusus yang disiapkannya. Yah, walau gak sedikit juga sih yang berhasil. Intinya, kalau udah pake baju karate, dia bagai monster. Tapi kalau di kehidupan sehari-hari, dia sangat konyol dan lebay dan alay dan uh pokoknya.

"Ehhh… tidak usah. Terlalu merepotkan" tolakku halus dan sedikit menjauh darinya. Ngerii. Hehehe

"Gak apa-apa, gak merepotkan kok Sakura-chan…" katanya sambil berusaha merangkul pundakku

TEP

"Sudah cukup Lee. Duduklah, biar aku yang mengantar Sakura pulang" kata Kakashi sensei tiba-tiba sambil meletakkan coat hitamnya pada bahuku yang hanya pake tank top gara-gara Ino menumpahkan minuman ke blazer putihku yang kumasukkan ke handbagku.

Ucapan Kakashi sensei sontak bikin seluruh orang di ruangan mengarahkan pandangannya ke arah kami. DEG! Malunyaaaaa. Aku diam dan dirangkul sensei pelan keluar restaurant menuju tempat parkir. Bisa kurasakan keheningan mendadak yang menyusup di belakangku di antara teman-temanku. Saat pintu ditutup, langsung saja kudengar gemerisik mereka yang mungkin heboh dan bertanya-tanya tentang sikap sensei padaku.

.

.

.

"Anu, sensei… turunin aku disini aja, aku akan menelfon Sasuke-kun" kataku memecah kesunyian di dalam Bugatti Veyron biru metalik Kakashi-sensei.

"Kenapa? Kamu gak suka diantar oleh dosenmu?"

"Bu, bukan begitu. Hehehe. Nanti pasti jadi gosip di jurusan kita. Hahaha" kuakhiri dengan ketawa yang amat garing.

"Jadi kamu lebih suka digosipkan dengan si Lee itu?" tanyanya sambil menghadap ke wajahku sambil tersenyum. Wekh, dosen ini benar-benar kece dengan rambutnya yang silver. Aku kikuk dan menggeleng cepat.

Ya ampun, apa kata Sasuke-kun nanti…

.

.

.

LAPARRRRR

Padahal tadi udah bilang kalau gak bakalan lapar. Tapi yahhh… perut Sasuke yang sixpack ini minta diisi.

Ya, aku memang cowok yang suka mengeluh. Pas di Izu, entah udah berapa ratus kali telinga Sakura panas mendengar keluhanku tentang panasnya Izu. Dan sekarang, laparrrrr.

Bodohnya aku yang menunggu Sakura pulang dari party sambil membawakan makanan. Lama banget, ini udah jam 11 malam lho. Kuambil iPhone ku yang kutaruh di kamar, eh?! Ada missed call dari Sakura? Kapan? 1 jam yang lalu? Wah ada apa ini? Saat akan kutelfon Sakura, kudengar mesin Bugatti Veyron berhenti di depan rumah. Walau jarak rumah dan jalan lumayan jauh, indra pendengaranku memang tajam kalau soal mobil sport. Perutku juga tajam kalau soal makanan.

Aku turun dari kamar dan menuju pintu utama yang terbuat dari kaca. Baru kudorong sedikit, handle pintu, kulihat di seberang, dosen jelek itu membukakan pintu mobil untuk Sakura. What the heck?! Ngapain Sakura pulang dengan orang itu?

Sakura melepas coat hitam gede yang dipakainya, bego, dadanya bisa kelihatan donk! Dosen itu mengembalikannya lagi dan memasangkannya ke pundak bening Sakura. Dan posisinya itu! Posisinya kaya mau meluk! Sakura kelihatan buru-buru membungkuk dan pamit kepadanya dan berjalan-setengah-lari ke arah rumah. Aku buru-buru duduk di sofa sambil menyilangkan tangan di dada.

"Tadaima…"

"Ngapain orang jelek itu yang ngantar kamu pulang"

"Pertama, kalau ada orang pulang itu, dibalas 'Selamat datang'"

"Jawab dulu pertanyaanku" lanjutku sambil memberinya deathglare terbaik yang bisa kuberikan

"Kedua, kenapa Sasuke-kun gak angkat telfonku?"

Well, aku gak mau jawab. Masa iya aku bilang kutaruh di kamar saat aku asik-asik main game online?

"Ketiga, demi anda, suamiku yang terhormat, Ino mabuk dan diantar teman-teman pulang. Begitu aku telfon kamu, yang ternyata gak ada respon, teman-temanku yang baik hati menawariku tumpangan pulang. Si Lee-senpai yang kamu benci itu, mengajakku pulang dengan muka merah karena mabuk juga. Akhirnya Kakashi-sensei berbaik hati mengantarku pulang. Yaaaahhh, terima kasih deh pada tuan Uchiha yang super sibuk sampai gak bisa ditelfon, dan pulang-pulang aku dimarahin"

Aku bingung mesti jawab apa. Si pinky ini semakin pintar main kata-kata ngelawan suaminya. Kubalikkan situasinya, "Terus apa-apaan adegan drama di depan gerbang barusan!" kuhampiri Sakura dan memegang jijik lengan coat yang sedang dipakai Sakura

"Akh! Aku capek jelasin. Aku mau tidur aja!" Sakura melempar handbag dan coat hitam itu ke sofa. Dia naik ke kamar kami di lantai 2.

DRRRRTT.. DRRRTTT

"Halo?" jawabku pada iPhone Sakura yang kuambil dari dalam handbagnya

"Ahh? Sasuke-kun ya? Maaf, boleh sampaikan ke Sakura? Aku minta maaf, aku baru sadar dari mabukku. Aku tadi menumpahkan minuman ke blazernya, aku gak enak kalau dia kedinginan di musim begini.."

"Hn. Jangan khawatir. Dengan coat hangat dari dosen kalian yang jelek itu, dia sampai di rumah dengan selamat" ejekku

"Eh? Maksudnya?"

"Hn. Heh, Ino. Lain kali kalau ngajak Sakura keluar, jangan tinggalin dia sendirian. Awas kamu. Dia pulang diantar Kakashi barusan" aku yakin Ino pasti bisa mendengar nada gak enak yang keluar dari mulutku. Aku menutup telfon dan mengambil kunci Levi. Aku mau tidur di rumah Dobe aja malam ini. Aku bete. Dan lapar.

.

.

.

Aku sampai di rumah Dobe yang mungil tapi mewah di tengah Tokyo. Begini-begini si bodoh ini adalah putra kedua walikota Tokyo. Kakaknya Karin, pernah naksir aku, tapi kutolak sampai akhirnya dia kapok dan sekarang bertunangan dengan Suigetsu yang selalu perhatian padanya. Good. Cocok deh, putri sulung walikota Tokyo dan putra tunggal walikota Osaka. Dobe sendiri, daripada tinggal di rumah orang tuanya yang seperti istana Timur Tengah, lebih memilih tinggal di rumah ini. Gak kuceritakan semuanya sebelum aku dapat makanan enak dan tidur. Dia ngamuk-ngamuk karena aku datang tengah malam dan seenaknya call delivery lalu ngegame, terus ketiduran. Gak tega juga sih ninggalin Sakura sendirian di rumah. Tapi aku udah telfon salah satu bodyguard cewek Tou-san dan menyuruhnya berjaga di sekitar rumah.

Pagi harinya, kuceritakan semuanya pada Dobe dan reaksi yang kuharapkan dari sahabat girang ini malah bikin suntuk.

"BWAHAHAHA! Kamu jealous Teme?!"

"Cih"

"Yah, kalau sainganmu Kakashi-sensei sih, kamu pasti kalah. Buahahaha"

KREK

"Hahaha, just kidding, Teme. Ah, Sakura-chan telfon. Loh, kok telfon ke aku sih?"

"Angkat aja. Loudspeaker. Jangan bilang kalau aku disini. iPhone ku kumatikan dari tadi malam"

"Ohayou Sakura-chaaaan"

"Ohayou, Naruto. Hei, Sasuke-kun di rumahmu gak?"

"Hmmm, enggak tuh. Kenapa Sakura-chan?"

"Dia lagi-lagi main kabur. Cih, kayak di Paris dulu. Aku sebel!"

"Kenapa? Kalian bertengkar karena apa?" Naruto mengedipkan sebelah matanya padaku. Aku tersenyum miring. Yah, kasihan juga sih Sakura.

"Aduh, aku gak ada waktu untuk menjelaskan. Aku sedang buru-buru nih!"

"HEH, mau kemana kamu?!" seruku tiba-tiba

"Lho?! Sasuke-kun? Wah! Kalian sekongkol ya?! Kalian jahat. Baka! Ya udah, jaa ne! Sasuke-kun pasti lupa ya, mulai hari ini untuk 1 bulan ke depan, aku pelatihan di desa di prefektur Nagano! Kamu memang sibuk sendiri! Gak pernah ada waktu buat aku. Awas, jangan sesekali menyusulku ya! Peraturan melarang kami menerima kunjungan keluarga! Jaga diri, jangan telat makan. Sasuke-kun dan Naruto BAKA! – tuuuuut-"

Aku dan Dobe saling berpandangan bego dan dalam sepersekian detik, kami berlari menuju Levi dan segera ke stasiun. Sial! MACETTTTT!

Aku memang bodoh dan egois! Akh! Aku mengutuk diriku sendiri yang serba salah. Aku memukul-mukul setir dengan gak sabaran. Bahkan Dobe ikut-ikutan panik, menghentak-hentakkan kakinya gak sabaran.

.

.

.

Setelah perang dengan jalanan yang macet, kami sampai di stasiun. Kami berlari-lari kayak di movie-movie Hollywood. Dan… terlambat. Aku mengejar Sakura yang berada di dalam kereta. Kepala pink itu menyadari kehadiran kami, dan dia ngomong gak jelas dari balik kaca jendela kereta. Yang jelas tangannya mengisyaratkan untuk jangan telat makan dengan menggerakkan jari-jarinya ke mulutnya dan membuat huruf silang dari lengannya serta menunjuk jam tangannya. Waduh, iya-iya. Jangan makan terus yang kamu omongin. Akhirnya aku sampai pada batasku mengejar, dia melambaikan tangannya sambil kiss bye. Aku jadi refleks kiss bye juga.

"Hihihi. Selama hampir 21 tahun mengenalmu, ini pertama kalinya sejak umur 4 tahun kamu kiss bye sama orang. Huahahaha"

KREK. Damn it!

Kuraih tengkuknya dan kuseret kembali menuju parkiran. Kami gak sadar, mata orang-orang melihat kami dan gak sedikit yang terbahak-bahak melihatku dan Dobe memakai boxer, kaos, dan sandal indoor.

.

.

.

Hontou gomen, agak lama update. Hamba hanyalah seorang yang krisis waktu. Huhuhu

Mohon tetap stay tune ya… I LOVE YOU ALL…

Review, please?

CHANYOU