Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya
Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read
Don't Like Don't Read
Once again
Don't Like Don't Read
.
.
.
Hhuuuuuuffff… huuuuaaaahhhh…
Kuambil nafas dalam-dalam. Udara sejuk dan bersih Nagano membuatku merasa segar. Pemandangan merah, coklat, orange, menyatu dalam balutan alam yang menenangkan. Di musim gugur seperti ini, berwisata memetik apel, jeruk, dan jamur adalah andalan prefektur Nagano. Jurusan kedokteran tingkat 3 sudah harus mulai pelatihan di desa-desa berkembang.
"Jadi, gara-gara aku kalian tengkar ya?" kata Ino sambil menggandengku tiba-tiba
"Ah, sudahlah, gak apa-apa. Dari dulu Sasuke-kun memang kayak gitu orangnya"
"Heh, kamu diantar Kakashi sensei pulang ya?" goda Ino sambil menyikut-nyikut perutku
Aku mengangguk
"Hwah, Sakura! Bisa-bisa kamu jadi bahan gosip orang-orang lho. Secara kan, Kakashi sensei banyak banget penggemarnya"
"Aduh, Ino.. aku kan gak minta diantarin, di tengah jalan aja aku minta turun, tapi orangnya gak mau"
"Geez, bagaimanapun, kamu pasti jadi perhatian semua orang. Tumbenan ya Kakashi sensei perhatian sama cewek. Biasanya kerjaannya cuma ke kampus-RS-kampus-RS"
"Hadeh, aku mana tahu. Udahan yuk, kita masuk ke penginapan aja dulu"
Jumlah mahasiswa yang pelatihan di prefektur Nagano hanya ada 13 orang dengan 1 orang dosen pembimbing. Dan apesnya dosen pembimbing kami adalah Kakashi sensei. Euhhh, aku ogah kalau nanti ada gosip. Penginapan kami lumayan besar walau arsitekturnya rumah tradisional jepang. Tugas kami disini membantu di rumah sakit lokal secara bergantian, penelitian tanaman herbal di green house setempat, serta saling bertukar info medis dengan dokter-dokter disini.
.
.
.
Setelah perkenalan dengan penduduk lokal, kami para cewek memutuskan untuk berendam di onsen penginapan. Ahhh, mandi air panas di udara sedingin ini adalah kesempurnaan tiada tara.
"Duh, Shion, dada kamu gede juga ya" seru Ino tanpa tedeng aling-aling
"Sialan, jangan keras-keras, Ino. Nanti onsen cowok pada dengar"
"Biarin, biar kamu cepet dapat cowok. hahahaha" jawab Ino
"Huh, talk to yourself. Kita kan jomblo mania" sahut Shion gak mau kalah
"Halah, ribut aja kalian ini. Nikmatin aja onsen alami ini. Di Tokyo gak ada beginian" Tenten ikut masuk ke dalam onsen
"Ciee yang baru jadian sama Neji senpai" godaku
"Siapa Neji senpai?" tanya Shion
"Temennya Lee senpai dari fakultas teknik. Dia anak jurusan teknik kimia" kata Ino
"Cieeee. Traktiran donk" sambung Shion
"Ah, apaan sih" Tenten malu dan membenamkan dagunya ke dalam air
"Ngomong-ngomong dada Tenten lumayan kecil ya. Gak nyangka, habisnya Tenten kan orangnya tinggi" kata Shion
"Iya nih, aku jadi kurang pede. Bagus juga punya kamu dan Ino" jawab Tenten
"Haaa, aku malu dengan dada segini. Tiap jalan selalu dipelototi cowok-cowok mesum" Shion memerah
"Haa, iya donk, aku kan merawat banget tubuhku ini, hohoho" Ino menyahut sambil berdiri sedikit untuk memperlihatkan dadanya pada kami. Aku, Shion, dan Tenten bersemu merah. Gila, bagus banget bodi Ino.
"BUT! Aku masih iri sama bodi Sakura. Ukuran dadanya proporsi sama pinggulnya. Pinggangnya juga ramping banget. ahhhh, kamu olahraga apa sih, Sakura?" tanya Ino sambil memelukku dari belakang dan menarikku ke atas sehingga tubuh telanjangku terlihat oleh mereka semua.
"Ah! Ino! Apa-apaan sih!" aku langsung menceburkan diri lagi. Mereka semua tertawa melihat pipiku yang tambah merah
"Alah, ibu rumah tangga ini pake malu segala. Taruhan, kamu dan Sasuke-kun pasti ML tiap malam ya?" goda Ino. Jujur, setelah dari Izu, hampir tiap saat ada kesempatan, kami selalu ML. pagi, siang, sore, malam, di kamar, di kolam, di kamar mandi, di ruang TV, bahkan di dapur… ampun deh… tapi akhir-akhir ini kami jarang melakukannya karena sama-sama kecapekan gara-gara aktifitas yang padat. Akhirnya aku menggeleng, menjawab pertanyaan Ino.
"Hah! Bohong banget! kamu gak bisa bohongin kita Sakura. Bodi kamu lho makin seksi sejak kamu nikah" tambah Shion
"Ah, sudah, jangan bahas bodi terus" sahutku
"Hei, kalian tahu gak? Di balik keindahan Nagano, kabarnya di musim kayak gini ada rumor tentang hantu hitam yang berkeliaran" kata tenten. Dan tiba-tiba angin berhembus mengikuti kalimat Tenten barusan. Brrr, di onsen panas ini kenapa tiba-tiba jadi dingin…
"Ahh! Jangan bahas itu!" Shion ketakutan
"Eh, iya lho, bener, aku tadi juga sempat ngobrol sama suster di rumah sakit, katanya memang ada cerita tentang hantu hitam yang suka mengintip dari balik pohon. Kadang masuk ke kamar hanya untuk memandangi kita" Ino antusias
"WAA!" aku berpelukan dengan Shion. Iya, aku memang takut sama yang begituan. Ah, rese'. Ngapain sih bahas beginian!
"Dan parahnya, hantu itu cuma menampakkan diri sama cewek"
"IHHH! Hantunya pilih-pilih. Menyebalkan. Udah ah! Aku mau ke kamar aja! Ayo Sakura!" aku mengikuti ajakan Shion. Kami berdua keluar dari onsen. Ino dan Tenten cekikikan melihat kami berdua.
.
.
.
Satu minggu berlalu dengan menyenangkan. Kami melupakan cerita hantu itu dengan kegiatan kami di rumah sakit, mendaki bukit untuk memetik jamur, jogging di pinggir ladang penduduk, ah menyenangkan. Tapi… aku kangen sama Sasuke-kun. Dia bahkan gak telfon, gak ngechat, gak ada kabar sama sekali. Aku mau telfon dia duluan, tapi males. Selalu keingat saat dia main kabur lagi. Menyebalkan. Sasuke-kun ganteng no Baka. Dengan kata ganteng yang dicoret!
Sore ini, kami akan memasak kari. Kami berpencar mencari jamur, apel, dan bahan-bahan lain. Aku dan Tenten kebagian mencari apel. Keasyikan mencari apel di kebun milik salah satu dokter teman Kakashi sensei, aku terpisah dari Tenten. Hah, gawat! Kebun ini kan luas banget!
"TENTEEEEN! Dimana kamuuu?"
Hening
"TENTEEEEN!" huh, sebel. Kenapa sih aku sering banget tersesat. Mana aku buta arah, lagi. Aku berjalan kesana-kemari tanpa tujuan. Hahhhh, capekkkk… aku duduk di sebuah batu besar dikelilingi suasana jingga sunset dan pohon-pohon apel yang cantik. Tiba-tiba telingaku menangkap suara gemerisik kaki yang menginjak daun-daun kering. Aku menoleh
"Tentee-"
DEG! Suaraku tercekat di tenggorokan. i… itu.. hantu hitam! Gak salah lagi! Dia serba hitam, tinggi. Di balik pohon. Membelakangiku! Aku mundur perlahan, supaya dia gak melihatku. Aduh, keringatku mulai bercucuran. Bulu kudukku merinding.
Mundur…
Mundur…
SREK
Tumitku menabrak tumpukan dedaunan kering. Bayangan hitam itu menoleh. Sial. Aku melepaskan keranjang apelku yang sudah penuh, dan berlari sekencang-kencangnya.
Hosh, hosh, hosh… hhhuufff… hosh… aku berlari gak tentu arah saking ketakutan. Mataku yang buram karena penuh air mata membuatku berlari menabrak semak, tersandung, dan terjerembab berkali-kali. Bayangan hitam itu masih mengejarku. "TOLOOOONG!" teriakku membabi buta.
"KYAAAAA" aku terjatuh di lereng curam yang cukup tinggi. Untung tumpukan daun kering menjadi landasan jatuhku, tapi Oh Tuhan… kakiku terkilir. Aku mendongakkan kepalaku ke atas, ya ampun, hantu itu keras kepala sekali sih! Dia ikut terjun ke arahku.
"Tuhan, maafkan aku yang masih banyak salah. Papa, Mama, Onii-chan, Tou-san, kaa-san, Itachi-nii, minna, maafkan kesalahanku. Sasuke-kuuuun, aku mencintaimuuuuuu" aku menangkupkan kedua tanganku dan menutup mataku. Aku pasrah pada nasibku.
…
Kok? Gak ada apa-apa?
Aku membuka kedua mataku…
Oh, GOD! Kakashi sensei berdiri menjulang di depanku dengan coat hitam. Duh, orang ini koleksi coat hitam ya?!
"HOAAA! Senseiii. Gara-gara sensei, aku berpikir mungkin aku akan mati hari ini!"
"Kamu ini. Ngapain malah lari dariku?" tanyanya sembari jongkok dan menatap mukaku lurus
"Habisnya kukira sensei adalah hantu hitam!" air mataku semakin deras. Kakashi sensei menyebalkan!
"Hah? Hantu hitam? Apaan tuh?"
"Cerita hantu di desa ini!"
"Hah, mitos apa lagi itu? Baru dengar. Kamu ini ya. Mahasiswi kedokteran terbaik yang harusnya berpikir logis, kenapa percaya begituan? Dasar"
"Huh. Biar! Kakashi sensei sendiri ngapain kesini? Kami kan sedang mencari apel!" kuabaikan sudah sopan santunku. Orang ini terlalu menyebalkan. Dia udah sukses bikin jantungku hampir copot.
"Ya, aku tahu. Tenten sudah kembali ke penginapan dan bilang kalau dia gak bisa nemuin kamu. Bisa-bisanya tersesat. Ckck"
"Aku sendiri gak tahu. Siapa sih yang pingin tersesat" jawabku jutek dan mencoba berdiri, dan usahaku itu sia-sia. Berkat cidera pergelangan kakiku, aku terjatuh ke depan, menindih Kakashi sensei. WAKH, malunyaaaa!
Aku bangun dan duduk. Tiba-tiba Kakashi sensei membuka sneaker Adidas coklatku dan memijat pelan pergelangan kakiku.
"Akh, jangan sensei. Aku bisa melakukannya sendiri…" mukaku merah padam
"Aku bisa melakukannya lebih baik dari kamu"
Aku diam. Iya, dengan beberapa tekanan dari jari-jari sensei, kakiku terasa sedikit lebih baik.
"Gawat, matahari sudah terbenam. Sebaiknya aku meminta pertolongan. Kita gak mungkin memanjat tebing ini dengan keadaanmu sekarang" sensei mengeluarkan smartphone nya. Aku lanjut mengurut kakiku perlahan.
"Sakura, aku punya kabar buruk"
"Apa?"
"Kita berada di luar jangkauan area sinyal"
GOD! Sejauh apa sih kami tersesat di kebun ini!
.
.
.
Setelah membopongku di sepanjang jalan, kami menemukan sebuah pondok kecil untuk berlindung dari udara dingin. Jelas banget pondok ini gak pernah dipakai. Debu dimana-mana, dan kayu yang sudah hampir lapuk dimakan usia. Tapi saat ini, tempat ini adalah pemberian terbaik dari Tuhan atas nasib sialku.
Lapar. Dingin. Cidera. Capek. Ngantuk. Lengkap deh. Ahhh, Sasuke-kun… aku kangen kamu…
TEP
"Ehh?!" aku kaget, Kakashi sensei tiba-tiba menggenggam tanganku
"Sudah kuduga. Kamu kedinginan. Mukamu kelihatan biru" dilepasnya coatnya dan dipakaikan ke pundakku. Kukembalikan lagi coat itu, "Jangan, kita sama-sama kedinginan. Sensei pakai aja. Aku gak terlalu kedinginan kok"
"Dengar ya, kamu adalah tanggung jawabku. Jadi lebih baik dengarkan aku dan turuti perintahku" jawabnya seraya memakaikan kembali coatnya padaku, bahkan kali ini dikancingkannya pula. Disentuhnya pipiku, "Tuh kan, dingin banget"
Aku malu dan memundurkan sedikit kepalaku. Kakashi sensei melepas belaiannya.
"Kita tunggu pagi datang, dan berusaha mencari jalan keluar atau sinyal. Terlalu bahaya kalau berjalan di tengah kebun luas ini malam hari" katanya.
.
.
.
Berjam-jam aku menahan kelopak mataku agar gak ketiduran. Duh dingin bangeeeet. Kulihat Kakashi sensei yang duduk dengan tenang hanya dengan sweater turtleneck hitamnya.
"Hatchiii!" duh… rupanya aku kena flu dan demam deh… rasanya pusing.
Kakashi sensei mendekat, mendekat, dan ehhhh?! Mau apa dia?! Menyibakkan poniku dan menempelkan dahinya dengan dahiku.
"Kamu demam, Sakura. Beberapa jam yang lalu mukamu biru, sekarang merah padam. Panas"
Wew, aku gak tahu deh mukaku merah karena demam atau malu. Tapi iya, sensei, aku benar-benar merasa gak enak badan.
"Sebaiknya kamu tidur. Jangan memperburuk keadaan tubuhmu dengan menyiksa diri mencoba untuk gak tidur" Kakashi sensei menyandarkan punggungnya pada dinding, dan menarikku ke pelukannya. Posisiku menyamping, dia menyandarkan kepalaku pada dada bidangnya dan memelukku erat agar aku hangat. Iya, kakashi sensei begitu hangat.
Aku menolak dan berusaha bangun, tapi dia menahanku dengan kuat. "Sensei, jangan, aku baik-baik aja.."
"Sudah kubilang kamu adalah tanggung jawabku. Sudah diam, dan tidurlah" dia masih saja menahan kepalaku agar tetap berada di dadanya.
Ohhh, hangat. Nuraniku menolak dengan keras atas perlakuan ini. Pikiranku melayang pada Sasuke-kun… Tapi… tubuhku sangat membutuhkan semua ini. Dipeluk Kakashi sensei membuatku merasa hangat. Mataku semakin berat… dan.. aku pun tertidur dalam pelukan Kakashi sensei… maafkan aku Sasuke-kun… maafkan aku…
.
.
.
Aku terbangun dari tidurku di penginapan. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Flu ku gak sembuh-sembuh walau demamku udah turun. Aku sudah dirawat teman-teman dengan baik. Aku bangun dari futon dengan kompres yang terjatuh dari dahiku.
Kulihat cidera pergelangan kakiku yang membiru. Masih ingat tadi pagi, begitu cahaya matahari mulai menampakkan cahaya, Kakashi sensei menggendongku di punggungnya, mencari arah jalan pulang untuk kami berdua. Dan akhirnya setelah berjalan selama 1 jam, kami menemukan gerbang kebun. Ahhhh, kebun macam apa itu kayak hutan aja luasnya.
FLASHBACK
"Kakashi sensei…" kataku sambil masih berada di punggungnya
"Iya?"
"Maafkan aku. Aku merasa gak enak…"
"Jangan begitu"
"Kakashi sensei baik-baik saja?" gak kedinginan tadi malam?"
"Gak kok. Panas demammu bikin aku hangat juga. Hehe"
"Maafkan aku"
"Sudah kubilang jangan begitu, Sakura'
"Kakashi sensei selalu baik padaku"
…
…
"Aku cuma gak mau melihat kamu terluka"
DEG!
FLASHBACK END
Aku haus. Sepertinya semua orang sedang berkumpul di ruang berkumpul untuk bersantai. Aku masih terlalu letih untuk ikut bergabung. Kuambil air putih di dapur, dan saat meneguk air putih itu, mataku menangkap sosok hantu hitam itu lagi! Dia ada di balik pohon di luar sana. Menatap kesini! Walau diluar sana gelap, bayangan hitam itu tertimpa sinar lampu terang dari penginapan. Dan kali ini aku yakin sekali kalau sosok itu bukan Kakashi sensei, soalnya kudengar suara sensei ada di ruang berkumpul bersama teman-teman. Aku gemetaran dan dan segera kembali ke kamar. Kupejamkan mata dan aku pun tertidur lagi. Mau gak mau harus bisa tidur!
.
.
.
Esok paginya, aku terbangun dalam keadaan segar dan merasa jauh lebih baik. Tanganku bergerak mencari iPhone ku di pinggir futon.
SREK
Eh? Apa ini?
HAH?
Kukucek mataku terpana dengan benda yang tiba-tiba ada disana itu.
Seikat penuh mawar merah yang diselubungi renda putih dan pita gold. Ada greeting card di dalamnya. Di permukaan atas ada gambar karikatur Sasuke-kun dengan tulisan 'Sasuke-kun ganteng no Baka' dengan kata ganteng yang dicoret, yang aku ingat pernah kubuat di Izu. DEG! Sasuke-kun! Ini pasti dari dia! Aku tersenyum lebar dan membalikkan kartu itu. Indeed, tepat sekali, tertulis :
I WILL ALWAYS LOVE YOU FOREVER
Di bawahnya ada tambahan tulisan tangan Sasuke-kun yang bagus (iyalah, goresan calon arsitek)
"TOO"
-SS-
Ahhhh, kupeluk mawar-mawar itu dan kucium aromanya. Wangi, masih segar, berarti Sasuke-kun ada disini?!
GREKKKK
Pintu kamarku dibuka. Ya, pangeran kegelapan dengan baju serba hitam itu tersenyum miring dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Air mata bahagia menuruni pipiku. Ohhh, betapa aku kangen dengan suamiku…
"Pagi, Cinta"
.
.
.
Wkwkwk, mulai lagi deh ff ini jadi GJ. Hahaha
Duuuuh, terharu banget dengan review yang udah menembus angka 100+ dari minna-san yang baik hati, terima kasih buanyaaak atas support kalian (yang bikin aku semangat begadang update ff ini) hahaha … aku sayang kalian #peluksatusatu
Review, please?
CHANYOU
