Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya

Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read

Don't Like Don't Read

Once again

Don't Like Don't Read

.

.

.

Mumpung ada waktu senggang di sela-sela kegiatan studio arsitekturku yang sibuk di kampus, kusempatkan malam ini mengunjungi Sakura di Nagano. Perjalanan dengan mobil yang biasanya memakan waktu 5 jam, kutempuh hanya dalam 3,5 jam dengan Levi. Setelah mencari-cari info dari penduduk untuk menemukan penginapan mahasiswaTodai, akhirnya aku sampai di halaman mereka pukul tujuh malam.

Aku sengaja sembunyi-sembunyi agar gak ada anak Todai yang tahu kalau aku disini. Selain ingin mengejutkan Sakura, aku gak pingin dia mendapat hukuman gara-gara aku melanggar peraturan pelatihannya. Pelan-pelan, aku sembunyi di halaman samping yang penuh pepohonan. Gak ada orang yang berkeliaran. Desa ini benar-benar sepi di malam hari. Setelah beberapa menit mengamati situasi, tiba-tiba kulihat cewek pink itu menuju dapur yang berada tepat 7 meter di depanku. Nice timing! Dia sendirian! Aku keluar dari persembunyianku dan…

Dia lari kabur dengan ekspresi ketakutan. Hah? Apaan sih?

Gawat, ada suara orang, sebaiknya aku masuk ke mobil dulu. Kupacu mobilku berkeliling desa, mencari minimart terdekat.

Hahhh, aku kangen kamu, Cinta…

Kuhabiskan 3 kaleng kopi, 2 bungkus roti, dan 1 lusin permen melon selama begadang dalam mobil di depan penginapan. Kulihat jam tangan Rolex ku sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Kantung mataku punya kantung mata. Akhirnya, dengan modal nekat aku masa bodo dengan peraturan dan masuk secara percaya diri ke dalam penginapan. Whatever.

"Sasuke-kun?" tegur seseorang

"Ino?"

"Kenapa kamu bisa disini?" tanyanya sambil membawa sekeranjang sayuran.

.

.

.

Dasar bodoh. Gini nih jadinya kalau gak ada aku. Luka dan jatuh sakit kan jadinya? Aku mendengar cerita Ino dengan lengkap, dan why? For God's Sake, why? Kenapa mesti kudu sama Kakashi sih tersesatnya?!

Aku menuju florist terdekat yang udah buka, membeli mawar merah kesukaan Sakura sejak kecil, menyelipkan kertas favoritku di dunia, kertas dari Sakura di Izu, yang kutambah 2 kata dariku.

"TOO" yang maksudnya aku juga akan mencintainya selamanya, dan

-SS- Sasuke Sakura. Datar sih, tapi aku suka. Udah gitu aja.

Dan aku pun memasuki kamar istri mungilku yang masih terlelap. Kain kompresannya sudah kering. Kuusap keningnya yang panas, kucium lembut, dan aku menuju dapur mencari lemari es, mengambil beberapa es batu dan minta kain bersih ke Ino. Dapat kulihat ada cewek-cewek teman Sakura yang rambutnya mirip Ino, pirang panjang tapi diponi depan, terus cewek dengan wajah chinese berambut coklat dicepol dua sembunyi di balik punggung Ino memandangiku dengan pipi memerah. Please, aku bukan tontonan.

Sudah mendapat yang aku butuhkan, kukompres dahi Sakura, dan kuletakkan buket mawar itu di sampingnya. Kupandangi lama wajah cantik itu, dan aku memutuskan untuk membeli sarapan di lantai 1. Aku kelaparan. Baru beberapa langkah, telinga tajamku menangkap suara renyah buket di kamar Sakura yang sepertinya diambil. Aku kembali menuju kamar itu.

GREKKKK

"Pagi, Cinta"

Yah, pake nangis segala dia. Ckckck

"Sasuke-kun… aku kangen… " dia berusaha berdiri tapi goyah karena luka memar di cidera kakinya. Kutopang pinggangnya, kupeluk dia, kugendong, dan kuputar tubuhnya seperti mengayun anak kecil. Yah, kayak adegan-adegan drama yang sering ditonton Sakura itu deh.

"Hahaha, turunkan aku Sasuke-kun…" dia kelihatan begitu gembira

"Oke"

Kuturunkan dia di atas tubuhku yang berbaring di futon. Dia memerah dan tengkurap di atas dadaku, dengan wajah menatap lurus ke arah wajahku. Kupegang tengkuknya, kudekatkan wajahku untuk mengecup bibirnya.

Tapi

Sakura menutup hidung mancungku tiba-tiba sampai aku gak bisa bernafas. "Aw, lepasin. Ngapain sih!" protesku

"jangan cium aku. Aku bau, belum cuci muka"

"Pernyataan macam apa itu hah"

Kubalikkan posisi kami, sehingga sekarang dia ada di bawahku

"Dengar Sakura. Mau kamu belum mandi, mau kamu kucel, aku tetap suka sama kamu. Suka sama aroma tubuhmu yang manis. Aku juga suka kalau kamu keringetan kayak terakhir kita ML di rooftop rumah kita di bawah sinar matahari"

"Kyaaa, Sasuke-kun geniiiit!" dia menutup mukanya yang sudah merona gak karuan. Ya, ML terakhir kami benar-benar gila karena dilakukan di rooftop rumah yang dikelilingi panel aluminium, saat itu kami sedang memandangi wajah Tokyo dari rumah, dan adik nakalku bangun gara-gara rok mini Sakura terbuka dihembus angin dan memperlihatkan panty polkadot pinknya. Dan hebatnya kami melakukannya selama 1 jam nonstop dalam posisi berdiri, dengan celanaku yang masih kupakai (hanya resletingnya yang terbuka), dengan panty Sakura yang masih pada tempatnya, adikku kumasukkan melalui celah pantynya. Di bawah matahari yang bersinar terik, kami dengan semangat membara melakukan ritual cinta itu. Sakura membelakangiku dan meletakkan kedua tangannya di salah satu panel aluminium. Aku terus bergantian memegangi dada, pantatnya, dan ujung dadanya yang kutarik-tarik erotis. Kami bermain dengan tempo kilat tapi berkecepatan ekstrim dan bermandikan peluh manis. Sakura sampai berteriak-teriak kenikmatan, gak menyadari kalau kami sedang ML di udara terbuka (bukan di hutan Izu). Bahkan saking ekstrimnya kecepatan gerakanku, Sakura sampai mengerang kesakitan. Tapi ya, dasar istriku. Bilang sakit, sakit, sakit, dengan muka merah penuh mesum dan senyum, mana bisa aku berhenti. Hahaha.

Yak, cukup dengan kenangan amazing itu, sekarang aku menikmati lucunya istriku yang sedang kangen ini. Kutarik kedua tangannya, kupegang erat di kedua sisi kepalanya, wajah imut Sakura kunikmati dalam diam. Kudekatkan wajahku, pelan… kami menutup kedua mata bersamaan…

"EHEMMM"

KREK. Who the hell is that!

Sakura gelagapan dan segera duduk sopan di atas tatami. Aku dengan muka paling jutek sepanjang masa duduk dengan menekuk 1 kakiku, meletakkan sikuku di lutut yang menekuk itu.

KAKASHI HATAKE

.

.

.

Kami berada di halaman penginapan. Aku harus segera balik ke kampus karena dosen pembimbingku yang super galak, Mrs. Anko, mencarik-cariku. Setidaknya itu yang kubaca dari email Naruto barusan. Oke, Kakashi, kamu boleh aja ganggu kegiatan kami di kamar tadi, dan menceramahiku tentang peraturan pelatihan, tapi lihat sekarang.

Kupeluk erat Sakura di depan semua orang, termasuk Kakashi dan teman-teman cewek Sakura. Kuhisap aroma rambutnya, kuraih dagunya dengan ibu jari dan telunjukku, kuhisap bibirnya ganas, kumasukkan lidahku, kuremas pantas seksinya. Ciuman itu cuma berlangsung 15 detik karena Sakura kehabisan nafas dan malu. Hah, rasakan kau Kakashi.

Terakhir kukecup dahinya seperti biasa, dan aku pun kembali ke Tokyo. Ahhh, cepat kembali Sakura, aku udah kangen…

.

.

.

Kedatangan Sasuke-kun yang singkat dan manis membuatku bahagia. Sangat bahagia. Paling tidak rinduku bisa sedikit terobati. Masuk ke penginapan, aku mandi dan sarapan bareng para cewek.

"Ahhhh, aku juga mau kalau punya suami kayak Sasuke-kuuun" Shion menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memegangi kedua pipinya

"He really is a great kisser right?" ucap Ino antusias pada Shion dan Tenten yang langsung mengangguk-angguk cepat. Sukses membuatku memerah.

"Dia perhatian banget sama kamu ya, Sakura" sambung Tenten sabil tersenyum dan menopang dagunya di meja

"Hehehe…" aku tertawa sambil menggaruk pelipisku dengan telunjukku

"Aku sendiri kaget banget waktu melihat Sasuke-kun masuk ke penginapan pagi buta tadi" kata Ino

"Katanya dia udah nunggu dari tadi malam lho… aku melihatnya sih, aku kira hantu hitam lagi, habisnya dia ngintip dari balik pohon" kataku

"Ya ampun Sakura, aku kan cuma bercanda soal hantu itu. Kamu dan Shion sih percaya aja" kata Tenten sambil meminum sup miso nya

"Gila kamu. Walaupun ceritamu fiktif, nyatanya hantu itu secara gak langsung udah menggangguku 2 kali dalam wujud Kakashi sensei dan Sasuke-kun" aku menggembungkan pipiku

"Haahhh, untunglah ya, cuma boongan" Shion tertawa riang

"Hati-hati, setelahnya giliranmu diteror lho" aku jadi pingin goda Shion, hahaha

"Iya, benar. Katanya kalau kita takut padanya, kita malah dihantui lho!" tambah Ino dengan senyum lebarnya

"Hati-hati Shion, mungkin kali ini dia akan masuk ke kamarmu" Tenten cekikikan

"WAAAA! Kalian bego! Jahat!" Shion menutup kedua telinganya. Hahaha.

"Oke, cukup ngobrolnya, Shion dan Tenten, segera berangkat ke rumah sakit, Ino pergilah ke rumah Yamada san bersama dokter dari rumah sakit, kelihatannya penyakit Yamada san kambuh lagi. Dan kamu Sakura, kembalilah ke kamar" kata kakashi sensei tiba-tiba

"Baik" "Ya,sensei" "Baik sensei" jawab mereka bersamaan dan cekatan, pergi meninggalkanku di meja makan sendirian. Kakashi sensei membalikkan badan bersiap-siap pergi.

"Tunggu, sensei. Gak adil, kenapa cuma aku yang gak ikut ke lapangan?" protesku

"Dokter yang sedang sakit gak lebih dari seorang pasien juga. Beristirahatlah" katanya sambil melirikku sekilas lalu pergi.

.

.

.

Seharian bosan gak ngapa-ngapain, mainin mawar dari Sasuke-kun, ngobrol-ngobrol sama bibi penginapan, tidur, akhirnya malam datang. Kami semua memutuskan untuk pesta hot pot, memasukkan sayur, daging, jamur, dan bahan makanan lain ke dalam panci besar. Wakh, mennyenangkan… mereka semua pada minum-minum bir juga (jangan ditiru kebiasaan bodoh mahasiswa kedokteran Todai yang 1 ini yah), aku kapok dekat-dekat dengan mereka, terutama Ino! Nanti bajuku ditumpahin lagi. Aku menyendiri ke balkon atas. Sepi, tenang, dan dinaungi bintang-bintang. Ahhh, langit musim gugur memang selalu bersih, apalagi di desa seperti ini.

Aku menumpukan dagu pada tanganku yang kulipat di pagar kayu pinggiran balkon. Ahh, akankah aku bisa jadi dokter hebat seperti Mama dan Sasori-niichan ya…

GREKKK

Lamunanku buyar karena Kakashi sensei tiba-tiba membuka pintu dan berdiri di sampingku. Mukanya merah, wah dia mabuk. Rupanya Kakashi sensei bukan tipe peminum. Dia pasti dipaksa teman-teman cowok yang payah itu.

"Sensei, duduklah, jangan berdiri seperti itu, nanti jatuh. Kuambilkan air putih ya?"

GREP

Dia memegang pergelangan tanganku

"Jangan pergi. Disini saja. Aku cuma mau mencari udara segar" jawabnya masih dengan menunduk dan pandangan mata yang mengarah ke halaman di bawah sana. Aku diam dan gak jadi pergi. Dia duduk di sebelahku. Pundaknya menempel dengan pundakku, lalu dia menaruh kepalanya di pundakku. WHAAT?!

"Sensei, jangan begini donk!" aku mendorong-dorong kepala silvernya. Aduuuh, merepotkan sekali sih orang ini.

"Zzzz…" Yah, dia tidur. Duhh, gak mungkin donk aku membopongnya ke kamarnya. Meninggalkannya sendirian disini malah lebih gak mungkin lagi. Uhhh…

Duh… sampe kapan aku harus berposisi seperti ini…

"Rin" katanya tiba-tiba tanpa membuka mata

"Hah? Rin? Siapa itu? Pacar sensei ya? Aku bukan Rin, tahu"

Dia bangun dan membuka matanya, menatap wajahku, tapi matanya tidak sedang memandang seorang Sakura, dia sedang memandang orang lain. Dia memegang kedua pipiku, mengusapnya. Hah? Hah? Apa yang terjadi? Aku berusaha melepas kedua tangannya.

"Aku merindukanmu, Rin" katanya

"Sensei! Sudah kubilang aku bukan R-! hmp!"

Kakashi sensei mencium bibirku. Lembut, panas, dan intens di saat yang bersamaan. Aku berusaha melepaskan diri dengan sekuat tenaga, tapi sia-sia. Tenaga Sensei yang terlampau kuat gak bisa kuimbangi. Dia terus melumat bibirku, menciumi leherku, menjilati leherku, menghisapnya, dan menimbulkan kiss mark disana. Berkali-kali. Ah! Hentikan! Hentikan!

PLAKKKK!

Aku berhasil keluar dari cengkeramannya, kutampar pipi kirinya yang langsung membuatnya sadar. Dia terkejut memandang wajahku yang sudah merah dan berlinang air mata. Pandangannya menurun ke leherku yang penuh kiss mark dan bajuku biru leher tinggiku yang resletingnya sudah turun sebatas dada gara-gara dibukanya tadi.

"KAMU JAHAT!" aku berlari ke kamarku masih sambil menangis. Kutinggalkan dia yang terlihat masih shock di balkon dengan background langit malam musim gugur penuh bintang.

.

.

.

Ada sedikit cerita yang (gak) lucu pas bikin chapter ini. Sekitar pukul 21:00, setelah nulis scene SasuSaku ML di rooftop, aku ketiduran di depan laptop. Dengan musik yang kuencengggg banget. Heran, bisa ya ketiduran kayak kebo gitu? Haha. Aku terbangun sekitar pukul 1.30 pagi. Wewww, laptopku kasihan banget. hahaha.

Tuh kan? (gak) lucu kan? Wkwkwk. Lempar aja author sinting ini. Tapi lemparin ke pangkuannya Sasori-niichan ya? Iya ya, gak adakah satu dari minna-san yang suka sama sasori-nii? Hanya aku saja kah? Hehehehehe

Abaikan saja author sinting ini. Wkwkwk, tapi…

Review please?

CHANYOU