Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya
Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read
Don't Like Don't Read
Once again
Don't Like Don't Read
.
.
.
Setelah mandi, bersiap-siap (tanpa bersenandung, karena suasana hatiku buruk. banget), aku bercermin sekali lagi, kupakai pakaian serba suram. Seperti hatiku. Kemeja hitam, celana jeans khaki, trench coat coklat tua, flat ankle boots khaki, scarf hitam dan penutup telinga warna khaki juga. Kubuka pintu kamarku dan…
"Sejak kapan disitu?" tanyaku dingin pada Kakashi sensei yang bersandar pada dinding di depan kamarku
"Sekitar 45 menit. Boleh minta waktu sebentar?" tanyanya sambil menghampiriku
"Gak boleh. Aku mau melanjutkan schedule-ku ke herbal green house" sahutku cuek sambil berjalan
"Jangan begini Sakura" cegahnya sambil memegangi pergelangan tanganku
"Lepasin, sensei!"
"Kamu harus mendengarkan aku dulu" dia keras kepala memegangi tanganku
"Lepasin atau aku teriakin Stalker lho!" ancamku
Melihat mataku yang mulai berkaca-kaca, dia akhirnya melepas tanganku. Aku berlari keluar penginapan cepat-cepat. Aku masih belum bisa memaafkanmu, sensei. Maaf.
.
.
.
"-san… Sakura-san?"
"Eh? Iya, Suzuki-san?" aku gelagapan
"Anda yakin tidak ikut kami pulang?" tanya ibu pemilik herbal green house. Wanita baik hati yang mengelola green house ini bersama putra-putrinya yang ramah.
Aku menggeleng sopan dan mempersilakan mereka pulang duluan. Mana mungkin juga aku menumpang mobil mereka yang sudah penuh dengan pegawai-pegawainya.
"Baiklah, kami duluan… hati-hati Sakura-san… ini, kutinggalkan payungku. Di luar benar-benar hujan deras"
.
.
.
Hampir 45 menit aku merenung di salah satu sudut green house yang didesain khusus untuk menerima tamu dengan set meja kursi taman dan dikelilingi hortensia. Kusilangkan kakiku, kutarik scarfku lebih ke atas karena hawa semakin dingin. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul 16.45. Langit mulai memudarkan cahayanya dan menghadirkan tangisan yang semakin deras. Memandangi tanaman-tanaman kecil dan suara air di luar sana, pikiranku melayang pada Kakashi sensei.
Sebenarnya siapa Rin? Kenapa Kakashi-sensei memperlakukanku sebagai Rin? Apa dia selalu baik padaku karena menyangka aku adalah Rin? Ekspresi wajahnya malam itu, malam saat dia kutampar, terlihat begitu tersakiti… bahkan dia menunggu lama di depan kamar untuk memberikan penjelasan. Kenapa sekarang aku yang merasa bersalah?
Tidak! Bagaimanapun dia yang salah! Kakashi sensei sudah bertindak seenaknya, kurang ajar, dan gak sopan sama sekali. Aku belum bisa memaafkannya!
Akhirnya karena hujan gak kunjung reda, aku memutuskan untuk berjalan pulang dengan berbekal payung warna transparan milik Suzuki-san. Aku berjalan di jalanan yang sangat sepi sendirian. Gawat, aku harus melewati kuburan untuk bisa pulang. Kalau pagi sih, gak nyeremin, tapi ini kan senja, hujan pula. Sepi juga. Uh, sepertinya nasib sial selalu menghampiriku.
Aku berjalan cepat-cepat. Yang namanya manusia, kadang saat merasa takut, kita malah ingin melirik sebentar ke objek itu. Saat melewati depan area makam, aku menangkap sosok jangkung yang amat sangat kukenal. Ya, itu bukan hantu hitam.
.
.
.
Kuhampiri pelan-pelan Kakashi-sensei yang sedang berdiri di salah satu batu nisan di pemakaman. Jaket jumper biru tuanya basah kuyup. Ngapain coba orang ini basah-basahan.
"Kakashi sensei…"
"Rin. Dia adalah cinta pertamaku. Besar di desa ini. Gadis cantik yang polos dan ceria. Ya, seperti kamu…" dia berbicara tanpa menoleh ke arahku
"Tapi aku bukan Rin, sensei…"
"Iya, aku tahu. Maafkan aku. Rin, gadis yang kutemui saat pelatihan seperti kalian. Saat pelatihan selesai, kepulanganku tertunda karena aku cidera berat setelah menolong teman-temanku yang tertimbun longsor. Teman-teman dan dosenku ngotot mengajakku pulang ke Tokyo dan merawatku disana, tapi aku bersikeras untuk tetap tinggal. Alasanku gak lain adalah karena keberadaan Rin"
Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh
"Dia adalah putri pemilik penginapan. Selalu ramah dan baik hati pada setiap orang, tapi selalu menghindar dariku. Suatu saat kutanya padanya kenapa dia bersikap seperti itu, dia menjawabnya dengan jawaban yang sangat mengejutkanku. Dengan pipi yang memerah dia menyatakan cintanya padaku. Aku, yang sudah sejak awal menyukainya, mengajaknya untuk pacaran denganku…"
Aku masih menyimaknya baik-baik…
"Hampir 1 bulan aku berdiam di desa itu. Tiap hari adalah saat yang menyenangkan sampai suatu malam, aku dan Rin dipanggil ayahnya secara pribadi. Kami diminta mengakhiri hubungan kami karena Ayah Rin memiliki janji dengan almarhum temannya untuk menikahkan anak mereka. Nama tunangan Rin adalah Obito. Laki-laki paling terpandang di desa ini. Yang juga amat sangat mencintai Rin sepenuh hati. Pria yang sangat sempurna untuk Rin"
"Rin meolak mati-matian pada rencana Ayahnya. Bahkan Ayahnya sampai memohon, menunduk pada Rin karena beliau bukanlah tipe pria yang bisa merusak janji, apalagi janjinya terikat pada seseorang yang sudah tiada"
"Malam itu juga, aku memutuskan untuk pergi diam-diam dari desa. Tapi saat akan keluar dari penginapan, Ayah Rin datang padaku dengan tergesa-gesa mengabarkan bahwa Rin kabur dari rumah. Kami mencarinya kemana-mana dengan panik. Salah satu warga melihatnya pergi menuju hutan. Kami marah pada diri sendiri, juga pada Rin. Apa yang dipikirkannya sampai mengambil jalan bodoh untuk kabur ke hutan di tengah badai"
"Dan kami menemukannya tiada… Di lereng bukit. Dengan wajah cantik yang air matanya bahkan belum mengering. Aku memeluknya, menggoncang-goncang tubuhnya, aku seperti orang gila yang gak membiarkan siapapun menyentuh Rin termasuk Ayahnya…"
Kakashi sensei membalikkan badannya menghadap padaku. Menatap wajahku yang sudah berlinang air mata. Dia mendekat dan mengusap air mataku.
"Kejadian itu sudah berlalu. Sudah beberapa tahun yang lalu. Dan kamu datang 3 tahun yang lalu. Di jurusan kita ini. Wajahmu, suaramu, sifatmu, sangat mirip dengannya. Sampai tadi malam aku kehilangan kesadaranku, bersikap brengsek, kurang ajar padamu…"
Aku memandang mata sensei yang mulai menangis. Entahlah, aku gak yakin itu hujan atau air mata. Tapi aku yakin, hatinya lebih menangis daripada penampilannya.
"Maafkan aku sakura…" katanya pelan…
Aku
Memeluknya
Payung transparan itu terjatuh. Kupeluk Kakashi sensei yang tersimbah air hujan. "Maafkan aku juga Kakashi sensei… Aku ikut berduka akan kematiannya… tapi, sensei, aku adalah Sakura Uchiha, bukan Rin. Aku adalah istri Sasuke-kun" aku melepas pelukanku.
"Istri sah disini…" aku menunjukkan jari manis kiriku yang berhiaskan cincin kawin "dan disini" meletakkan telapak tanganku di dadaku, di hatiku.
Kakashi sensei tersenyum dan memelukku lagi, "Benar, Sakura… sekali ini, kumohon biarkan aku memelukmu. Kamu begitu mirip dengannya. Hari ini adalah peringatan kematian Rin. Tapi aku gak akan membandingkan kalian berdua lagi…"
"Tapi… aku minta satu hal.." lanjutnya
"Apa.."
"Biarkan aku tetap menjagamu, karena aku gak ingin melihatmu terluka"
Aku bingung harus bereaksi seperti apa. Kami pun hanyut dalam diam. Untunglah Kakashi sensei menghargai jawabanku. Bagaimanapun Sasuke-kun adalah satu-satunya untukku.
.
.
.
"TADAIMAAAAA!" seruku saat memasuki rumah. Ya! Pelatihan sudah selesaiiii. Sekarang saatnya kembali ke kehidupan rumah tangga.
…
…
Kok sepi sih? Kemana Sasuke-kun? Kulihat kamar, dapur, taman, kolam renang, kamar mandi, rooftop, garasi, dan hah? Padahal Levi ada? Kemana sih dia? Baru saja akan kutelfon, pangeran kegelapan itu menelfonku.
"Cinta? Dimana kamu?"
"Sasuke-kun, aku baru sampai rumah nih. Kamu dimana?"
"Ya ampun, kalau udah pulang kenapa gak bilang-bilang sih? Aku baru aja sampai di bandara Incheon"
"Aku kan mau bikin kejutan. Hah? Apa?! Incheon? Seoul? Korea Selatan?! Ngapain Sasuke-kun kesana?"
"Aku ngawasin proyek pembangunan apartemen cabang Uchiha Group Korea, sekalian tugas akhir skripsiku ngambil proyek ini"
"Hah? Baru dengar kalau ada Uchiha Group di Korea.. Sasuke-kun bohong ya?"
"Aduh, Sakura. Cabang ini memang baru launching beberapa bulan lalu. Apartemen ini adalah proyek perdana kami di Seoul"
"Begitu.. hei, kenapa Sasuke-kun gak kabarin aku dulu sih?"
"Gomen, gomen. Perjalanan ini juga terbilang mendadak karena studio arsitektur di kampus udah memulai studi lapangan. Yah, intinya, gak ada kuliah lagi sampai menjelang sidang skripsi dan graduation"
"Sasuke-kun jahat! Terus aku harus sendirian di rumah sampai kapan?"
"Kamu nyusul aja kesini juga, Sakura"
"Wakh, ya gak bisa lah. Aku kan juga udah mau skripsi!"
"Gini aja. Aku kan belum tahu kapan pulang, tapi setelah setelah malam natal sampai tahun baru, kamu kesini aja"
"Baiklah… Sasuke-kun no Baka!"
Aku merosot di sofa bed dengan sangat bete. Aku kangeeeen…
.
.
.
Musim gugur telah terlewati, musim dingin udah di depan mata. Aku sering meminta trio calon dokter Shion, Ino, dan Tenten menemaniku di rumah sambil bareng-bareng mengerjakan skripsi (yang lebih banyak mengerjakan gosip, maksudnya). Hingga akhirnya, saat malam natal, aku memutuskan untuk pulang ke rumah Papa dan Mama di Kyoto. Sasori-nii menjemputku ke rumah dan kami bermobil dengan BMW sport merahnya.
Setelah dinner yang sangat menyenangkan, kami melakukan kebiasaan keluarga kami yang sangat kusukai, dan sangat dibenci Onii-chan. Katanya kekanakan. Menurutku lucu kok. Ya, tukar kado. Hihihi. Well, walau benci, dia pun sudah menyiapkan kado juga.
"Ini hadiah buat Mama, semoga sehat selalu dan tambah cantik" Papa memberi Mama sebuah kalung dengan permata warna teal transparan. Wahhh, cantik banget.
"Buat Onii-chan, nih!" Papa memberikan setumpuk foto cewek-cewek cantik dan kelihatan anggun. Sasori-nii memandangnya dengan penuh tanda tanya. Aku juga. Mama tertawa. "Papa ingin putra sulung Papa juga segera menikah. Aku ingin punya menantu yang cantik, pintar masak, berasal dari kalangan baik-baik,. Makanya, pilih ya? Nanti kita atur pertemuan dengan keluarga mereka. Hahaha" kata Papa antusias. Sasori-nii geleng-geleng dan membolak-balik foto itu. Menatapnya setengah hati.
"Dan, buat putri cantikku, Papa sudah menyiapkan sesuatu yang selalu bikin kamu tersenyum. Tunggu ya" papa masuk ke kamarnya dan kembali membawa sebuah…
"WAAAAHHHH!" seruku gembira dan melompat ke hadiah itu. Sebuah teddy bear raksasa warna krem.
"Ya ampun Papa, Sakura kan udah gede. Ngapain sih kasih beginian?" Onii-chan meraih tengkuk Chris (nama teddy bear yang langsung kudapatkan karena ini adalah malam natal), dan menjunjungnya tinggi-tinggi. Aneh, dengan tubuh imut begitu, stamina Sasori-nii benar-benar berkebalikan dengan penampilannya. Kurebut kembali Chris dan kupeluk erat-erat.
"Makasih banyak Papa" kucium pipinya, Onii-chan menyilangkan tangannya di dada. Dia bete karena hadiahnya cuma foto-foto cewek calon pendamping. Hahaha.
"Buat Papa, nih" dari Mama, setumpuk vitamin untuk kesehatan pria paruh baya. Papa pasang ekspresi Mama-you-are-not-kidding-me-right? Hahaha. Aku dan Onii-chan ngakak.
"Buat Onii-chan, nih. Digunakan dengan baik ya?" setumpuk buku-buku medis untuk S2. Ya ampuuuun. Aku dan Sasori-nii menepuk jidat kami. Mama di pikirannya gak ada selain tentang medis ya?
"Dan untuk Sakura, nih" suplemen, vitamin, dress, majalah, dan susu untuk calon Ibu hamil. Huwaaaaa, apaan sih?! Papa tertawa, Onii-chan gantian pasang ekspresi Mama-you-are-not-kidding-me-right? Sedangkan aku hanya bisa memeluk dan menyembunyikan wajah merahku di punggung Chris. Ampun dehhh.
"Buat Papa dan Mama" Onii-chan menyodorkan tiket pesawat. "Pergilah honeymoon biar kalian selalu mesra. Jangan ditolak ya" uaaah, siapa sih yang bisa nolak Sasori-nii? Dia kasih tiket pesawat untuk liburan ke New York.
"Aku? Aku? Aku gak dikasih tiket pesawat ke New York juga?" aku memeluk kepala merah Onii-chan.
"Gak. Kamu udah kebanyakan main-main. Nih, buat kamu. Ratu fashionista"
Wahhhhh! Dress Chanel warna krem, high heels dari Tiffany & Co., dan handbag dari Hermes. "Uwaaaahhh! Onii-chan sangat ngerti aku! Aishiteru!" kucium pipi Onii-chan.
Sekarang giliranku memberi mereka hadiah. Ya, hadiahku beda dari mereka semua. Kusuruh mereka menunggu beberapa menit. Ya, setelah dinner yang menyenangkan dan acara tukar kado, aku menyajikan dessert amazing pada mereka.
"Selamat menikmati, Light Cream Mousse Verrine with Berries Compote"
Jelas. Mata mereka menatap dessert amazingku yang kusajikan di wine glass transparan yang sangat elegant.
"Dessert adalah kesukaan Papa, bahan yang kupilih adalah buah-buahan sehat seperti strawberry, raspberry, blueberry dan orange sorbet khas Mama, dan Onii-chan selalu suka sama makanan manis. Cicipi ya?"
"Penampilan sih boleh aja cantik, tapi rasanya gimana. You were terrible cook, remember?" Onii-chan meragukan dessertku. Huuh, kusuapkan 1 sendok mini dessert ke mulut mungilnya. Dia diam. Papa dan Mama menahan nafasnya.
Onii-chan merampas sendok dari tanganku, menghabiskan 1 gelas penuh dan menyodorkannya padaku dengan bibir yang belepotan whipped cream. Hahaha, unyuuuu.
"Lagi!" perintahnya sok galak dengan muka kayak gitu. Hahaha. Papa dan Mama langsung mencoba dan menikmatinya dengan bangga. "Ahhh, menjadi seorang istri sudah membuat putriku menjadi wanita sejati"
Aku tersenyum bangga, dan tiba-tiba iPhone ku bergetar. Wah? Video call dari Sasuke-kun? Aku permisi dari keluargaku dan berlari menuju kamar.
Sesampainya di kamar, kuangkat panggilan itu.
"Sasuke-kun? Ada apa? Tumben video call?"
Gak ada jawaban. Hanya ada wajah Sasuke-kun yang memelas meringkuk dalam buntelan selimut yang mengelilingi mukanya. Kamarnya gelap, wajahnya terpantul cahaya iPhone.
"Sasuke-kun.. jawab donk"
"Sakura…"
"Iya, Love…"
"Aku kangen"
Dengan dua kata itu, terlihat sebutir air mata menuruni pipinya.
.
.
.
Minna-san… gomen lama bangeeet update. Jujur chapter ini gaje banget. mungkin otakku rada-rada hang gara-gara krisis waktu, jadi isi ceritanya aneh banget. Hontou gomen ne? Super salut buat reader yang masih setia. Mwahaha. O iya, I have announcement (gitu gak ya tulisannya? Hahaha)
Karena alasan tertentu, saya dengan ini mengumumkan perubahan nama saya dari 'queen free' menjadi 'CHANYOU'
Supaya orang tua ini bisa kelihatan agak muda gitu, dengan nickname nya yang baru. Wkwkwk. Dan ada makna yang daleeem banget di hatiku tentang CHANYOU. Terima kasih banyak atas perhatiannya.. wkwkwk
Terima kasih banyak pula untuk review, fav, dan follow nya.. Aishiteru :*
Review please?
CHANYOU
