Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya

Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read

Don't Like Don't Read

Once again

Don't Like Don't Read

.

.

.

Sialan. Sejak tadi siang Sakura ngeledek air mata yang dia lihat lewat video call tempo hari. Dia kira aku nangis karena aku kangen sama dia. Duh, kangen sih kangen, but please. Seorang Uchiha nangis gara-gara cewek? The truth was, aku nangis gara-gara diare hebat setelah pesta kimchi pedas sama orang-orang kantor. Cih.

Melihat Sakura tertawa, aku jadi memandangi bibirnya yang begitu sensual dan menggiurkan. Mulutnya yang terbuka itu seakan mengundang lidahku untuk memasukinya. Kutarik tangannya dan kudekap tubuhnya ke pelukanku. Kucium lehernya untuk memancing hasratnya.

"Kyahaha, geli Sasuke-kun" tawanya semakin keras, dan tolong ditandai, bukan tawa sensual, tapi tawa ngakak yang gak banget. Geram, kucium telinganya, dia semakin melompat dan mundur sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.

"Apaan sih? Gak ngerti suamimu lagi kangen ya!"

"Uph. Hihi"

Cewek ini ya. Dikasih muka seram masih aja ketawa-ketawa.

"Gomen-gomen… habisnya geli tau"

Aku cuek dan mengalihkan pandanganku ke laptopku. Kulanjutkan lagi proyek skripsiku dengan serius. Lihat, dalam hitungan ketiga, pasti dia memelukku dan merengek merayuku. 1… 2… 3…

"Sasuke-kuuuun…" yak, target kena

Aku diam gak jawab

"Hobinya ngambek deh. Ya udah, aku cuma mau pamit. Aku mau jalan-jalan ke Namsan Tower, jaaa…"

Aku menoleh dan mendapati dia sudah keluar dari apartemenku. Hhh. Selalu. Putri aktif yang gak bisa diam. Awas saja kalau tersesat lagi seperti honeymoon di Paris dulu.

.

.

.

Wahhh, merasakan salju di Namsan Tower, naik gondola dan memandangi pemandangan Seoul dari ketinggian. Tapi yah, kenapa sepi sekali… mungkin sudah mulai sore ya. Aku sendirian masuk ke gondola. Saat pintu gondola sudah mulai menutup, seorang cowok masuk dengan tergesa-gesa. Sendirian.

Lucunya, saking jangkungnya cowok itu, kepalanya membentur pintu dan dia sekarang jongkok sambil memegangi kepalanya yang tertutup wool hat. Mukanya gak kelihatan karena dia pakai sunglasses.

Kok… kok aku familiar ya? Apa jangan-jangan Kakashi sensei? Tingginya mirip sih, tapi rambutnya coklat tua.

"A, are you alright, Sir?"

"Fine, thanks" jawabnya sambil melepas sunglassesnya. OH MY GOODNESS!

LEE MIN HO!?

Aktor terkenal itu ada didepankku?! Berada dalam satu gondola bersamaku?! Entah deh apa yang ada di pikiran Lee Min Ho saat ini melihatku mangap lebar-lebar dan hanya bisa melotot.

Sumpah, gak berlebihan deh orang mengagung-agungkan cowok satu ini. Tinggi, cakep, pinter acting, cool, dan waaawwww apa sih di dunia ini yang gak bisa dimiliki cowok ini.

"You're not Korean?"

"I'm Japanese" sahutku dengan pipi memerah gugup

"Wah, what a coincidence. Aku pernah shooting agak lama di Jepang, dan sedikit-banyak bisa bahasa Jepang" sahutnya ceria. Hallooou Sir, lafalmu bagus banget. Ini bukan sedikit-banyak, tapi banyak-banyak.

"Kamu Lee Min Ho kan? Benar dia kan?"

"Iya, dan sorry, aku numpang gondola kamu. Aku dikejar-kejar sekumpulan fans cewek kemari. Padahal aku udah berusaha tampil normal" jelasnya sambil nyengir kayak Naruto. Sumpah image nih cowok beda banget dengan peran-perannya yang cool, judes, jutek, bangsawan.

"Tunggu, kenapa kamu kesini? Dan kenapa kamu membuka identitasmu di depanku?" aku jadi sedikit curiga. Jangan-jangan dia maniak yang sampai operasi plastik mirip Lee Min Ho untuk merampok turis asing macam aku.

"Karena aku percaya padamu"

CIAAAA! Masa bodo dengan maniak, oplas, atau turis lah. Siapa yang gak melting dengan semua ini. Berdua di gondola yang menanjak perlahan di tengah salju-salju kecil yang mulai terjun ke bumi, dipandang lurus dari mata ke mata sama malaikat, biarin acting biarin bohongan, aku gak akan menyesal udah datang ke Korea Selatan.

Aku tetap memerah dan hanya bisa menunduk malu.

PIP. SREEEKKK

Gondola sudah sampai. Kami berdua keluar. Dia memakai kembali wool hat dan sunglassesnya. Malam mulai turun. Aku tersenyum padanya sekilas dan pergi.

.

.

.

Sepuluh meter dari gondola, aku menoleh. Dia mengikutiku dari belakang. Uh apaan sih. Kamu maniak beneran ya?

Aku berusaha cuek dan membeli twister potato. Dia ikutan beli juga.

Aku membeli milk tea hangat, dia ikut beli kopi panas.

Aku memotret pemandangan malam, dia ikut-ikutan berdiri di pinggir pagar tapi memandangku geli.

Aku jadi capek dan duduk di bangku di bawah pohon yang berhias lampu-lampu jingga.

"Kenapa mengikutiku? Dasar stalker" entah kenapa aku jadi judes

"Gak, kamu lucu"

JLEB!

Enough, sampai kapan kamu mau menusuk hatiku, tampan?

Aku memerah lagi dan lagi dan mengalihkan mukaku ke arah lain.

"Siapa namamu?"

"Sakura"

"Sakura, aku suka kamu"

"UHUKKK! Uhuhukk" aku tersedak milk tea ku. Dia pun menghampiriku dan mengelus leher belakangku.

"Kamu baik-baik saja? Mianhae…"

"Hhh. Please stop teasing me" aku merengut dengan pipi yang sudah kayak tomat

"Sorry. Iya, aku suka kamu, Sakura. Kamu lucu dan gak kayak cewek-cewek lain"

Itu karena dari tadi aku sangsi jangan-jangan kamu maniak, Sir

"Aku… yah, mungkin kamu udah tau berita di luar sana. Aku kan terkenal" sahutnya sambil menyibakkan rambut lebatnya ke belakang. Cih, pede. Iya-iya, terkenal.

"Tapi.. ada berita apa ya? Sorry aku jarang mengikuti dunia entertainment"

"Good. Setidaknya masih ada satu orang yang akan mendengar kisah sebenarnya. Hahaha" ketawanya garing tapi jelas ada nada pahit di dalamnya.

Dia menyilangkan kaki panjangnya dan memasukkan tangannya ke saku jaket. "Aku dituduh korupsi uang di management, digosipkan menghamili artis Kim xxx xxx, katanya orang tuaku mafia besar di Cina, dan yang paling parah, aku digosipkan gay"

Dia menceritakan itu semua sambil tertawa miris menahan kesedihan. "Yang korupsi adalah mantan managerku yang dulu. Terus aktris Kim xxx xxx itu memang cewek ular yang selalu cari sensasi dan sialnya kali ini aku yang kena gosip gara-gara aku pernah menemaninya satu kali ke sebuah pesta. Orang tuaku mafia? Haha, iya mafia makanan. Restaurant mereka memang merajalela di seluruh dunia. Dan gay? Please. Coba lihat aku Sakura. Menurutmu aku seorang gay?"

Aku menggeleng pasti. Ya ampun, aku juga bisa kali, menilai seorang cowok gay atau bukan.

"Pelarianku dari semua itu adalah keluar diam-diam kayak gini. Gak peduli nanti manager hyung marah-marah. Dengan jalan-jalan begini, bebanku serasa hilang. Mengikutimu pun, aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengejar seseorang. Bukan dikejar-kejar terus"

Aku menatap mukanya sungguh-sungguh. "Lee Min Ho ssi, aku tahu kamu bukan orang seperti itu. Jangan menyerah! Kehidupan ini memang tidak mudah. Ambillah sisi positifnya, kamu begitu dicintai semua orang di seluruh dunia. Kamu adalah artis yang sangat berbakat. Kamu-"

"Sst! Tapi bohong! Hahaha. Aku baik-baik saja kok"

Aku memegangi kedua pundak kokohnya. "Tidak. Matamu mengatakan semuanya. Jangan terluka ya? Kunantikan aktor Lee Min Ho yang berkharisma dan cool seperti biasanya. Kalau memang sudah muak disini, datanglah ke Jepang, disana kamu akan kuterima dengan sangat baik bersama suamiku"

Dia memandangiku lama dan terperangah. Dia kemudian menunduk tersenyum dan menutup kedua matanya. "Keputusanku malam ini untuk menaiki gondola tidak salah rupanya"

"Terima kasih Sakura. Seandainya kita bertemu lebih awal"

Aku tersenyum dan kami pun memutuskan untuk pulang. Menuruni anak-anak tangga yang berderet di bawah lampu-lampu temaram, dia mulai tersenyum senang dan terlihat lebih ceria. Aku masih gak percaya aku bisa berjalan-jalan dengan orang ini. Ya, dunia artis memang tidak mudah. Diterjang badai kesana-kemari, bahkan gak sedikit yang sampai mengorbankan nyawanya yang sangat berharga. Tapi aku yakin, Lee Min Ho adalah cowok kuat. Dia pasti bisa melalui semua ini.

"Baiklah, see you again"

"Eits, sini dulu" dia meraih iPhone yang kugenggam dari tadi dan meraih pundakku. Dia mengajakku selfie dengan iPhone ku! Ya ampuuun…

"Sayang sekali kamu udah menikah. Tunjukkan foto ini pada suamimu ya. Bilang, kalau gak menjaga kamu baik-baik, ada artis Korea yang akan mencarimu kelak"

Kami tertawa dan say goodbye…

.

.

.

DELETE?

YES

"Hyaaaa! Ngapain kamu hapus siiiih?" aku teriak histeris ke Sasuke-kun setelah dia menghapus foto selfie ku bareng Lee Min Ho. Setelah sarapan keesokan paginya, kutunjukkan foto itu ke Sasuke-kun biar dia gak salah paham.

"Hn"

Cih, jawaban macam apa itu?! Dasar ambigu.

Dia lanjut sibuk dengan laptopnya sambil menggigit sudut roti panggang tanpa selai. Aku tersenyum kecil. Untung fotonya udah aku backup.

Aku nonton TV dan melihat siaran internasional yang pakai bahasa inggris. Eh? Ada press conference nya Lee Min Ho live?! Dia tampil ganteng dengan jas putih, kemeja hitam.

"Anda begitu banyak diterpa berita miring akhir-akhir ini. Bagaimana menurut anda?"

"Kehidupan ini memang tidak mudah. Tapi aku mengambil sisi positifnya"

"Sisi positif seperti apa?"

"Ya, aku dicintai banyak orang di dunia, aku juga harus bersyukur atas bakat yang diberikan Tuhan padaku hingga aku bisa seperti ini"

"Anda terlihat bahagia sekali. Apakah ada kabar baik yang kami dan para penggemar akan dengar?"

"Hmmm" dia tersenyum dan memasang bros bentuk bunga sakura di kerah jasnya lalu menuruni podium dan berlalu. Aku tersenyum bahagia juga. Benar-benar petualangan singat yang manis.

"Anooo, Sasuke-kun…"

"Hn?" masih sibuk dengan laptopnya

…..

…..

"Apaaa?" tanyanya gak sabaran

…..

"Aku pingin punya bayi"

KLAP!

Spontan laptopnya ditutup dan dia berputar dari kursi fancynya 180 derajat masih menggigit erat roti panggangnya.

Hihihi

"Kamu apa?!"

"Aku ingin hamil"

.

.

.

Sungguh, rasanya untuk meminta maaf pun aku sudah gak sanggup. Serasa gak punya muka. Minna-san… my dearest readers… maafkan aku yang sudah amat sangat lama vacuum…

Aku mempunyai insiden. Really. True story. Data-data laptopku selama 5 tahun hilang gara-gara install ulang laptop. Ini bukan tentang harga, tapi tentang nilai kenangan. Bayangkan, foto, data-data jaman kuliah dulu. File-file yang di download dan dikumpulkan sedikit demi sedikit dari awalnya kilobyte sampai jadi ratusan gigabyte

Akkkhhhh! Aku ngedrop cukup lama.

Tapiii, really, datanglah seorang pangeran baik hati dan cerdas, mampu mengembalikan semua kehilangan itu. Bahagia? Jelas. Bersyukur? Pasti! Kapok? Banget!

Okay minna-san yang baik hati, mohon dukungannya ya… supaya aku bisa bangkit lagi. Ayo bangkitkan mayat hidup Chanyou ini

Review, please?

Mother CHANYOU