Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya
Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read
Don't Like Don't Read
Once again
Don't Like Don't Read
.
.
.
Aku memandangi langit-langit kamar di rumah dengan postur tubuh yang membentuk bintang segi lima dan pandangan kosong. Aku berusaha memenuhi ultra king size bed dengan rentangan kedua tangan kakiku, yang… masih saja tersisa banyak space di bednya.
Aku memandangi foto-foto frameless yang aku pajang di dinding kamar. Foto-foto perjalananku dan Sasuke-kun sejak kecil hingga sekarang. Kulirik wajah imutnya yang suka jutek pas kami masih duduk di kindergarten. Mataku lanjut merayap ke foto saat pekan olahraga di SD, Sasuke-kun dan Naruto nangis rebutan piala yang sebenarnya tidak mereka menangkan sama sekali. Aku terkikik dan mengubah postur bintangku menjadi postur udang. Ya, aku menyamping dan menekuk tubuhku.
Tiba-tiba sebutir air mata mengalir menuruni pipiku. Masih bingung dengan semua ini. Masih terngiang dengan jelas saat aku memutuskan meninggalkan Seoul dan memutuskan pulang.
FLASHBACK
"Kamu apa?!"
"Aku ingin hamil"
Akhirnya Sasuke-kun melepaskan gigitannya pada roti panggang itu. Dia langsung menghampiriku, memelukku, dan merengkuh kedua pipiku. Ditatapnya wajahku dengan sungguh-sungguh.
"Kamu serius Cinta?"
Aku mengangguk mantap. Kubalas tatapan tajam suamiku.
Dalam hening dia memelukku lama. Cukup lama.
Sampai
Membuatku bertanya-tanya
"Sakura, aku… ah, lupakan" katanya masih memelukku erat
"Ada apa Sasuke-kun? Apa pertanyaanku salah?"
"Tidak. Kamu gak salah"
"Tapi?" sumpah, aku sekarang jadi bingung
Sasuke-kun melepas pelukannya dan mengubah posisinya duduk di sebelahku dan menggenggam tanganku.
"Sakura. Begini, janji jangan marah ya?"
Kok perasaanku gak enak ya… aku mengangguk pelan
"Jujur, ini semua gak ada hubungannya dengan pertanyaan, atau… permintaan kamu barusan. Sama sekali gak ada. Kamu harus percaya padaku. Tapi… akhir-akhir ini aku kepikiran siapa cowok yang sebenarnya dijodohkan denganmu. Cowok yang membuat kita akhirnya menikah"
"Apa? Kamu mau membahas hal ini sekarang, Sasuke-kun? Kamu tahu, ini sedikit lucu karena rasanya telat banget kalau kita mau bahas ini. Dan. Aku gak suka"
"Bukan masalah suka atau gak. Aku kan kepikiran. Aku gak bisa nahan rasa ingin tahuku kan? Dan kenapa kamu gak suka bahas ini? Kamu gak perlu seperti itu kan? Kamu gak ada alasan untuk membenci topik ini"
"Eh? Kok malah jadi gini sih? Ya kamu itu yang jangan seperti ini. Jangan bahas tentang orang yang bahkan keberadaannya gak ada sama sekali dalam kamus kita. Kenapa Sasuke-kun tiba-tiba penasaran? Itu aneh. Ohhh. Aku tahu. Ya, kamu mengalihkan topik tentang bayi itu kan?!" aku mulai terbawa emosi
"Gini ya, aku sudah memperingatkan kamu kalau semua ini gak ada hubungannya dengan pertanyaanmu" nada bicara Sasuke-kun mulai meninggi juga
"Ya. Ini pasti ada hubungannya. Aku tahu! Kamu gak mungkin bahas hal yang sudah seharusnya berkarat berbulan-bulan yang lalu saat ini kalau gak ada tujuan tertentu. Kamu gak pingin kita punya anak kan? KAMU GAK INGIN AKU HAMIL KAN?!"
"…."
"Kenapa diam?"
"Aku sudah memintamu percaya padaku tapi ternyata… terserahmu lah" dia melepas genggaman tangannya dan memalingkan muka ke arah lain.
Aku jadi langsung merasa bersalah dan menyesal dengan kata-kataku. Sikap Sasuke-kun yang tiba-tiba dingin membuatku takut.
"Sa.. Sasuke-kun"
"Ya, kamu benar. Entah aku, atau kamu, yang jelas rupanya kita memang belum siap punya anak"
"Ja, jangan begitu. Maafkan aku yang terlalu cepat emosi…" suaraku bergetar menahan air mata
"Sikap kita masih perlu diperbaiki. Aku mau fokus pada proyek Uchiha Group dan skripsi dulu. Kamu bebas berada disini selama yang kamu mau. Tapi maaf, mungkin aku gak bisa memperhatikanmu" katanya sambil berdiri membelakangiku dan pergi keluar apartemen.
Aku
Tidak sanggup berdiri
Aku
Menangis, meraung di ruangan yang tiba-tiba terasa hampa dan gelap. Aku gak bisa berhenti menangis. Gak bisa makan. Gak bisa tidur. Kutunggu dia kembali. Dan nihil.
.
Setelah packing, aku menempelkan memo di pintu lemari es.
Maafkan aku, Sasuke-kun.
Kumohon jaga kesehatan. Makanlah yang teratur. Aku menunggumu pulang di rumah.
Rumah kita.
Sakura
FLASHBACK END
.
.
.
Sakit
Yang kurasakan saat membaca memo yang ditinggalkan Sakura. Kenapa kamu masih childish aja sih. Aku kan cuma ingin tahu siapa cowok yang dijodohkan denganmu. Tinggal kasih nama, selesai. Simple.
Gara-gara sikapnya yang menjengkelkan, aku jadi mengatakan hal yang seharusnya gak perlu untuk dikatakan. Yah, sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, lebih baik aku benar-benar fokus dengan Seoul dulu. Aku sudah cukup pusing dengan kecelakaan di proyek minggu lalu yang mengakibatkan beberapa pekerja konstruksi terkena luka parah dan harus dipulangkan ke Jepang.
.
.
.
Hari-hariku begitu sepi tanpa Sasuke-kun. Aku menyibukkan diri dengan kuliahku, karena musim semi depan, bulan maret, kami semua akan wisuda. Ini benar-benar saat yang sangat sibuk. Sasuke-kun bahkan gak pulang ke Jepang sama sekali. Sebegitu kecewanya kah dia?
Telfon, video call gak pernah dia respon. Hubungan kami hanya melalui email. Itupun jarang sekali dia balas.
5 Januari
To : S
Sasuke-kun, aku sudah sampai di rumah dengan selamat. Kamu cepat nyusul pulang ya?
8 Januari
From : S
Aku sibuk disini
25 Januari
To : S
Kapan kamu pulang? Aku sangat kesepian disini. Kamu masih marah padaku kah? Aku harus berbuat apa biar kamu gak marah lagi?
Aku benci ini. Gak seperti Sasuke-kun yang biasanya. Yang selalu ada untukku. Yang selalu perhatian padaku.
Cepat pulang
31 Januari
To : S
Kalau kamu terus seperti ini aku bisa marah. Masa gara-gara perjodohan semuanya jadi runyam gini? Bagaimanapun suamiku adalah kamu kan? Bukan orang lain kan? Kenapa dipertanyakan?
2 Februari
To : S
Kamu gak pernah lagi balas emailku. Sebegitu pentingnya kah kehidupanmu disana? Bahkan lebih penting dariku?
9 Februari
From : S
Maaf
9 Februari
To : S
Pulanglah Sasuke-kun… aku mohon…
14 Februari
To : S
Hari ini begitu banyak pasangan merayakan Valentine. Mereka saling berbagi kasih sayang. Berbagi coklat, boneka, kue, dan banyak hal indah lainnya. Tapi. Aku tidak iri sama sekali. Aku tidak iri dengan benda-benda itu. Aku hanya iri pada keadaan. Aku hanya ingin kamu pulang dan berada di sisiku.
22 Februari
To : S
Orang tua kita tidak mengetahui keadaan kita sekarang. Bahkan teman-teman dekat. Bahkan Naruto juga tidak tahu. Tapi sampai kapan aku bisa menyembunyikan semua ini? Aku butuh kamu.
1 Maret
To : S
Kamu tidak pernah membalas emailku lagi sekarang. Aku harus bagaimana lagi? Aku harus bagaimana lagi?
10 Maret
To : S
Ini bahkan sudah mendekati waktu wisuda. Kamu gak pulang Sasuke-kun? Kamu perlu menghadiri ujian akhir dan administrasi wisuda. Oke, admin masih bisa diwakilkan ke staf Uchiha Group. Tapi ujian? Please, kalau memang belum ingin bertemu denganku, aku akan mengalah. Aku tidak akan ke Todai saat kamu kesana.
26 Maret
To : S
Semua orang mulai bertanya-tanya tentangmu Sasuke-kun. Bagaimana tidak, besok adalah graduation day. Aku… kehabisan kata-kata.
I LOVE YOU
I WILL ALWAYS LOVE YOU FOREVER, SS
.
.
.
Sakura, cintaku, aku merindukanmu. Maafkan suamimu ini yang harus bersembunyi dalam waktu yang cukup lama. Ini semua belum berakhir, sayang. Nanti, aku berjanji akan kuceritakan semuanya. Saat ini, aku hanya ingin melihat wajah cantikmu.
Lihat, kamu keluar dari Todai Dome, dengan graduation outfit lengkap. Kamu gak menyadari keberadaanku ya. Wisuda memang selalu ditemani bunga kebanggaan Jepang yang namanya kamu renggut juga. Lihat, rambut indahmu yang semakin panjang tertiup angin musim semi dan berkilau. Kesepian tidak mampu merenggut kecantikanmu.
Ah, aku gak sabar lagi untuk segera menemuimu. Kulangkahkan kakiku keluar dari Levi. Mendekatimu selangkah demi selangkah.
Dan
Wajah cantik itu akhirnya menangkap sosokku
Tanpa panjang lebar, pinky berlari memelukku. Kudekap erat tubuhnya yang masih mungil, kuhirup aroma cherry yang menguar dari rambutnya. Kuciumi bibirnya. Dia membalasnya. Kami berpagutan di tengah ribuan orang di area plaza.
Rasa de ja vu ciuman di depan altar pernikahan kami terulang kembali. Seolah-olah gak ada satupun makhluk hidup di sekitar kami. Bahkan bumi tempat kami berpijak pun, runtuh, dan aku, melekat pada gravitasi yang bernama Sakura.
.
.
.
Kugendong Sakura keluar dari Levi, menuju kamar kami yang terletak di lantai dua. Aku menggendongnya dengan masih berciuman. Sungguh. Cabut dari kampus, sejak memasuki Levi, aku menyetir sambil memangku Sakura. Kami berciuman sepanjang jalan. Kemampuan menyetirku gak berkurang walau hanya sebelah mata yang memandang jalanan. Sakura menciumi bibirku tanpa henti.
Kurebahkan dia di bed, kutelanjangi dia tanpa ampun. Kulempar semua pakaian yang dia kenakan tanpa menyisakan apapun. Apapun. Aku juga langsung melucuti pakaianku. Sakura sudah berhasrat juga.
Kami kangen. Sangat.
Kugigit bibir bawahnya, kumasukkan lidahku, kumasukkan jariku di V nya memastikan dia sudah basah dan gak akan sakit saat juniorku nanti menusuknya.
Kujentikkan jari, dan lampu mulai meredup padam. Cahaya sunset kemerahan menyorot kami langsung dari dinding kaca kamar.
Sakura merengkuh rahangku. Dan aku, siap menghabiskan malam dan pagi esok untuk memberikan segenap hati dan cintaku.
.
.
.
Jarum jam yang menempel langsung pada dinding kaca menunjukkan pukul 6 pagi
"Saa… Sasuke-kunh.. hh.. hh… aku tidak tahan lagi… sa.. sakitt…"
"Tidak. Aku sangat merindukanmu"
"Ku.. kumohon… istirahat seb… sebentarrhhh.. ahhhhkkhhh"
"Ahhhhhhhh" cairanku keluar di dalam rahimnya untuk yang kesekian kalinya
"Oke. Istirahat beberapa menit" kurebahkan kepalanya di lenganku. Dia tidur menyamping dan masih sangat cantik walau aku menghajarnya tanpa ampun semalaman nonstop.
Setelah berbaring selama 30 menit, dan mengumpulkan tenaga, Sakura mulai menginterogasiku
"Kemana saja kamu, suamiku…" tanyanya lirih
"Aku janji nanti akan kuceritakan semuanya. Pertama, maafkan aku gak bisa membalas email-emailmu"
"Sasuke-kun sudah disini, itu sudah cukup untukku"
"Hn… tidurlah dulu"
"Aneh, aku bahkan gak ngantuk. Aku masih ingin mendengar cerita dari Sasuke-kun"
"Gak sekarang. Sekarang waktunya bikin Uchiha kecil"
Sakura blushing dan senyumnya merekah
"Tapi aku masih penasaran…" lanjutnya
"Iya. Gak apa-apa. Wajar. Kamu kan gak dengar kabar dariku berminggu-minggu"
"Iyaaa. Benar. Ayo cerita…"
"Oke, tutup matamu dulu" kututup matanya menggunakan telapak tangan kananku. Masih seperti itu, kubuka kakinya dan kumasukkan lagi juniorku.
"Kyaahhhh… Sasuke-kun nakal!"
"Heheh. Sudah kubilang bikin Uchiha kecil dulu, baru cerita"
"Ohhhh Sassssuke-kunnnhhh…." Dia mengeluh tapi berbarengan desahan. Aku tersenyum dan meneruskan ritual cinta kami.
.
.
.
Jam menunjukkan pukul 12 siang. Akhirnya K.O juga. Dengan hanya memakai boxer, aku menikmati wine sambil memandangi wajah Sakura yang baru terbangun. Posisinya menyamping menghadap aku yang duduk di sofa seberang bed.
"Aku benar-benar butuh penjelasan, Sasuke-kun" tanyanya pura-pura jutek masih sambil rebahan
"Oke-oke"
…..
"Aku kena kasus di Korea, Sakura"
Iris emerald itu langsung menatapku tajam. Tubuh putih yang penuh bercak pink-merah itu bangkit dan ditutupi selimut sutranya. Dia menghampiriku, berlutut di depanku sambil menangis.
Aku menariknya ke pangkuanku. Kuelus punggung telanjangnya.
"Aku kena kasus yang sangat berat di Korea"
.
.
.
Wew, wew, wew… chapter apaan nih gaje buangeeet. Nanti deh, nanti akan clear kok… hehehe
Hontou hontou ARIGATOOOOOOU buat yang baca, review SS. Sumpah terharu, dengan minna-san yang masih mau mampir ke fic ini… #peluksatusatu
Terus ikuti yaaaa? Yaaa? Ya… ya? Ya…? #maksa
Review please?
Mother CHANYOU
