Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya
Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read
Don't Like Don't Read
Once again
Don't Like Don't Read
.
.
.
Para pekerja konstruksi apartemen di Seoul sedikit demi sedikit mengalami kecelakaan kerja. Ada yang terjatuh, terluka akibat peralatan listrik, pertengkaran antar pekerja, dan banyak lagi. Media Korea menuntut kualitas kinerja Uchiha Group yang dinilai tidak professional.
Tidak sedikit komplain dan tuntutan dari banyak keluarga Korea atas kecelakaan-kecelakaan yang menimpa Ayah, Kakak, Anak mereka. Tentu aku bertanggung jawab atas semua itu untuk meredam amarah warga Seoul. Tapi aku merasa aneh dengan semua ini.
Kejadian-kejadian itu rapi sekali. Senin, kecelakaan terjadi jam 1 siang. Selasa, terjadi jam 2 siang. Begitu berurutan terus sampai hari jumat dan kembali ke angka 1 lagi di senin berikutnya. Terlalu aneh kalau disebut kebetulan. Aku yakin semua ini adalah kejahatan yang terorganisir dengan baik.
Saat ini aku masih menyelidiki kasus ini dengan tim detektifku dan bantuan kepolisian Seoul. Sementara belum didapat hasil yang memuaskan dari investigasi mereka. Tapi aku terus mengejar pelaku sampai akhir.
Sakura menyimak ceritaku dengan air muka yang berubah-ubah cemas-takut-terkejut-emosi-cemas lagi. Aku masih mengelus-elus punggung halusnya untuk menenangkannya.
"Aku janji akan terus mengabarkan padamu tentang perkembangan kasus ini. Tapi selain itu, aku minta kamu jangan bahas kasus ini lagi. Oke?"
"Bagaimana bisa? Kalau terjadi sesuatu pada Sasuke-kun aku bisa khawa-"
Kucium lembut bibir pinknya. Membungkam kata-katanya.
"Kamu mau kan menuruti permintaanku tadi? Jangan bahas sebelum aku bahas"
Istriku mengangguk dengan terpaksa. Kupeluk dia erat-erat. Aku benar-benar menyayanginya.
Dia bergerak mundur memegangi kedua pundakku, "Bagaimana dengan kuliahmu? Bagaimana bisa aku wisuda sendirian? Kamu belum lulus donk?"
"Ck. Kata siapa?"
"Kamu menyuap kampus ya?" tanyanya jutek
"Kamu benar-benar merendahkanku Sakura"
Dia memiringkan kepalanya, bingung.
"Kamu pikir selama ini aku gak pernah ke Todai? Aku ikut kok ujian. Walau datang paling akhir. Terus administrasi dan lain-lainnya aku serahin ke stafku. Kamu gak lihat di dalam Levi tadi ada ijazahku?"
"Hah? Masa sih? Mana ada?" dia mengelak
"Gimana bisa tahu, bibirmu ganas banget selama kita berada di mobil"
Dia tersipu malu kemudian memelukku. "Omedeteou, Love. Selamat " bisiknya
"Salah. Tanjoubi Omedetou, Cinta. Selamat ulang tahun"
"Eh!? Sekarang tanggal berapa sih?"
"Payah," Aku menyentil dahi lebarnya yang tertutup poni. Bisa-bisanya lupa. 28 Maret. Aku bahkan sampai sengaja pulang ke Jepang untuk moment yang satu ini.
"Ya ampuuun. Aku sampai lupa pada ulang tahunku sendiri. Serius, Sasuke-kuuun. Habis, aku dibikin galau sama kamu selama 3 bulan ini" dia menggembungkan pipinya
"Haha. Sini, aku minta cium" pintaku
"Hei, yang ulang tahun kan aku, aku donk yang minta hadiah"
"Ah, cerewet" kuangkat tubuhnya dan kusandarkan di dinding kaca. Telanjang.
"Lagiiiii?!"
"Kenapa? Gak mau?"
"Bu.. bukannya begitu.. semalaman nonstop sampai pagi, pagi sampai siang, masih mau lagi?!"
"Katanya pingin hamil?"
"….. Iya sih…" dia memalingkan muka dengan pipi kayak tomat. Duh imutnya! Kugigit ujung dadanya
"Kyaaaahh"
"Ini hadiah buat kamu"
"Ouhhhhh…" Sakura menutup mukanya, tapi langsung kutarik kedua tangannya ke atas agar gak bergerak. Kuputar tubuhnya agar membungkuk membelakangiku. Dan jam-jam berikutnya kuserang dia dari belakang tanpa ampun dengan menghadap pemandangan seluruh Tokyo dari kamar kami.
.
.
.
Setelah merayakan ultah Sakura di resto, aku mengajaknya menaiki bukit tertinggi di kompleks perumahan kami. Sepi, sejuk, dan dinaungi bintang-bintang.
"Kenapa Sasuke-kun mengajakku ke tempat ini? Hehe… tapi aku senang sekali" tanyanya dilengkapi senyum cantik
"Aku suka disini. Beberapa bulan yang lalu saat aku jogging sampai kehujanan, sampai sakit, ingat?"
"Yang sebelum kejadian kecelakaan Hinata?"
"Benar. Aku kehujanan karena terlalu lama diam disini, Sakura. Aku suka memandang Tokyo dari sini. Memang, dari rumah juga bisa, tapi disini sangat sepi dan dikelilingi cemara. Aku suka"
"Iya. Damai sekali rasanya…"
"Kamu dengar sesuatu?"
Dia hening dan memiringkan sedikit kepalanya, mencari-cari suara yang kumaksud.
"Hmmm.. aku gak mendengar apapun. Hanya beberapa suara serangga sih.."
"Tepat. Disini seperti orkestra alam. Langit berbintang, suara serangga, dan gemericik air mancur" kupeluk pundak Sakura agar lebih dekat denganku. Dia menaruh kepalanya di pundakku.
"Aku bingung mau kasih hadiah apa ke kamu. Kurasa cincin di jarimu cukup cincin pernikahan kita. Kalung bvlgari yang kamu beli di Paris juga gak ada saingannya. Jadi… mmmm… nih"
Kusodorkan sebuah benda tipis silver berbentuk persegi panjang. Sakura jelas-jelas bingung dengan benda itu. Aku malu. Sial. Seorang Uchiha malu.
"A.. apa ini, Sasuke-kun?"
"Jangan dibuka dulu sebelum aku pergi ke Korea"
"Hah?! Kamu mau pergi kesana lagi?"
"Iya. Skripsi usai, tapi proyek masih terus berjalan. Belum lagi kasus itu"
"Aku masih kangen kamu…" dia mencium leherku
"Aku juga" kucium dahinya. "Tapi aku benar-benar harus pergi, Cinta"
"Sampai kapan?"
"Aku belum bisa memastikan, yang jelas aku harus stand by disana. Gomen ne?"
Sakura mengangguk dan menggenggam tanganku. "Aku masih harus meneruskan studiku selama 2 tahun sambil magang di rumah sakit untuk meraih gelar Dr. "
"Iya, semangat ya. Sakura sensei. Magang dimana kamu?"
"RS nya Kakashi sensei. RS Jiyugaoka"
"Ya ampun, gak ada RS lain apa?"
"Gak apa-apa. Menurut Mama, RS itu adalah tempat terbaik untukku karena dekat rumah, dekat kampus, tempat dosen pembimbing juga, Kakashi sensei"
"Dia lagi. Ck. Oke deh. Apa yang terbaik aja lah'
"I Love You, Sasuke-kun"
"Pokoknya kalau dia macam-macam, langsung lapor ke aku ya"
"Iya, iya, jangan khawatir. Balas dulu donk ucapan cintaku"
"Gak perlu kata-kata" kucium bibir Sakura lembut di bawah lautan semesta.
.
.
.
Pagi harinya aku terbangun mendapati bed kosong. Kemana perginya Sasuke-kun? Masih dengan nightgown panjang sutra lavender tanpa lengan, kukelilingi rumah mencari pangeran kegelapanku.
Platform belakang rumah, gak ada. Kamar mandi, dapur, kolam renang, gak ada. Garasi? Aneh. Levi dan Mercy (Mercedes hitam jadul Sasuke-kun), motor Ducati merahnya juga ada di tempat. Aku menuju dapur lagi, mengambil tomat untuk jus Sasuke-kun nanti kalau dia pulang.
Saat itulah, kulihat memo yang ditempelkannya di lemari es. Tulisannya:
Cinta, saat kamu membaca memo ini, aku sudah di dalam pesawat menuju Incheon. Atau mungkin sudah sampai di Seoul. Maaf aku gak pamit langsung. Melihatmu tertidur pulas setelah ML amazing kita di kolam renang tadi malam, bikin aku gak tega bangunin kamu.
Sukses dan sehat-sehat disana.
I LOVE YOU TOO (balasan yang tadi malam)
Aku gak percaya ini. Gak nyangka secepat ini dia balik lagi ke Korea. Kasus yang ditanganinya pasti gak main-main. Sedikit sedih karena harus ditinggal lagi. Tapi lega sekali, ternyata dia gak marah padaku selama 3 bulan belakangan.
Oh! Aku baru ingat. Aku bergegas lari ke kamar. Mengambil sesuatu yang dikasih Sasuke-kun semalam. Sebuah amplop silver berkilau ukuran medium.
Kupandangi amplop itu. Dia menyuruhku membukanya setelah dia berada di Korea kan? Berarti aku sudah boleh membukanya kan?
Aku memposisikan diriku senyaman mungkin di bed. Kubuka dengan hati-hati, kutarik kertas cream di dalamnya. Wangi. Isinya:
Dear Sakura
Ah, apa ini? Surat? Belum pernah aku nulis surat cinta. Jangan diketawain ya?
Happy Birthday my beloved wife. Pertama kali aku bertemu denganmu, masih ingat gak? Kamu nangis karena bonekamu terjatuh di kolam koi di rumahku. Waktu itu kita umur berapa ya? Sekitar 3 tahun? Nah, my first impressionku ke kamu adalah: nih cewek cengeng banget. Tapi ya, tetep aja kuambilkan bonekamu. Setelah menerimanya, kamu kubentak "JANGAN NANGIS, DASAR CENGENG" dan tangisanmu tambah gede.
Pernah juga pas kita duduk di bangku kindergarten. Kita bertiga, aku, kamu, dan Dobe main rumah-rumahan. Aku jadi Ayah, kamu jadi Ibu, Dobe jadi anak kita. Aku yang sejak awal ogah dan jijik dengan permainan itu, kamu marahin mulu sepanjang permainan. Dobe yang memang sudah sayang banget sama kamu dari kecil, ikut-ikutan marahin aku. Kutendang mainan-mainan kita, dan… kamu nangis lagi. Dobe mengibur kamu yang lagi nangis. Dan aku langsung merasa bersalah seketika itu juga. Ingat bagaimana caraku bikin kamu senyum lagi? Ya. Aku bilang gini "Maafkan aku Ibu, Ayah gak akan tending-tendang lagi. Yuk siapin makan malam buat Ayah." Payah.
Saat SD, pas pelajaran memasak cookies. Cookies buatan kamu, ya, gak diragukan lagi, ASIN. Please, cookies loh, masih aja dimasukin garam. Waktu akan dinilai sensei, kamu baru mencicipi cookies asinmu. Mata kamu langsung merah menahan tangis. Takut dapat nilai jelek. Akhirnya aku menukar cookiesku dengan punyamu. Dan kamu dapat nila A+, aku dapat C.
SMP. Pertama kali kamu menstruasi. Saat pelajaran olahraga di musim panas. Kita semua berenang. Dan kamu mendapatkan tamu pertamamu saat itu juga. Awalnya Dobe dengan bodohnya bertanya padaku, "Teme, paha Sakura-chan terluka ya? Ada darahnya. Tuh lihat. Sepertinya dia gak tau deh" dan aku langsung menutupi pinggulmu dengan jaket olahragaku dan kugendong ke ruang ganti cewek. Sensei yang marah-marah ditahan sama Dobe.
Dan masih banyak lagi cerita kita. Yang banyaknya kamu nangis. Yang banyaknya aku nolong kamu. Tapi kamu perlu tahu. Sejak kakiku menginjak dasar lumpur di kolam koi waktu itu, itulah pertama kalinya aku menyukaimu. Dan saat kamu dibelain Dobe pas kita main rumah-rumahan,itulah pertama kalinya aku cemburu padamu. Saat kamu mens pertama, itulah pertama kalinya aku yakin pada diriku sendiri bahwa gadis inilah yang ingin kulindungi seumur hidup.
Aku memang bukan cowok yang sempurna. Tapi aku janji, akan menjaga cintaku padamu sampai kapanpun. Kamulah cintaku. Kamulah sayangku. Kamulah alasan aku bisa melindungi sesuatu yang sangat berharga. Dan. Aku tidak akan pernah bisa kehilanganmu. Otanjoubi Omedetou, my girl.
P.S: Aku udah Tanya sama Papa Jiraiya. Cowok yang dijodohin ke kamu dulu ternyata bernama Uchiha Sasuke. Asem.
Aku menangis, tertawa, terharu, campur aduk membaca surat dari Sasuke-kun. Ya tuhan, terima kasih telah Kau hadirkan dia dalam hidupku. Tidak akan pernah cukup waktu yang telah dan akan kuhabiskan bersamanya. Aku terlalu mencintainya untuk kehilangan dia. Kucium surat itu dan kumasukkan ke brankas sharingan agar aman.
Kutelfon pangeran raven itu.
"Sasuke-kun?"
"Halo?"
"Hei, main kabur aja ke Korea"
"Haha. Sorry. Ini aku baru sampai bandara Incheon"
"Aishiteru. Suratnya romantis bangeeet"
"Surat apaan sih?" dia pura-pura bingung
"Surat di amplop silver itu!"
"Silver apa sih?"
"Uh. Yang kamu kasih tadi malam"
"Yang mana sih?!"
"Yang tentang masa kecil kita!" aku gemas
"O, oh… Ooohh.. ha… hahaha…" dia kikuk. Hihihi
"Bagus kok suratnya. Sering-sering kasih lagi ya?" seruku
"Ogah. Sudah ya. Aku mau ke Seoul"
"Ih dasar. Love You, hati-ha-"
TUUUUT
Ya ampun. Saking malunya dia main tutup telfon tiba-tiba. Ckckck.
Aku tersenyum dan menurutku surat itu adalah hadiah terbaik di ulang tahun yang pernah aku terima.
. . .
Tunggu, apa tadi?
Cowok yang dijodohkan padaku bernama UCHIHA SASUKE ?! geeeezzzz, Papa dan mama kudu diberi pelajaraaaaan!
.
.
.
Waduuuh, tambah suayaaaang sama minna-san. Terima kasyiiiihhh banget atas dukungan minna-san semua. Aku gak akan bisa bangkit dan semangat lagi kalau gak karena review, fav, follow, dan bahkan silent readers atau guest yang udah bersedia mampir. Terima kasihhhhh. Terus seperti itu ya… aku butuh kalian #karenaakusayangkamu #muuuuah
Review please?
Mother CHANYOU
