Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya

Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read

Don't Like Don't Read

Once again

Don't Like Don't Read

.

.

.

"Sensei… kapan aku bisa dapat cuti?" tanyaku pada Kakashi sensei yang sibuk menganalisa dokumen-dokumen di meja kerjanya. Aku sengaja masuk ke ruang kerjanya untuk meminta cuti.

"Belum saatnya, Sakura. Lagipula saat ini sedang puncaknya musim panas, banyak anak kecil jatuh sakit. Sebaiknya kamu malah kudu lebih sering stand by disini" jawabnya tanpa memalingkan muka.

"Baiklaaaah…" sahutku lesu dan beranjak dari kursi. Kakashi sensei menahan tanganku.

"Kamu sehat, Sakura?"

"Eh? Iya, aku baik-baik saja. Kenapa sensei?" aku heran juga. Dia menggeleng pelan dan melepas genggamannya. Aku pun pergi dari ruangannya.

.

"DORRR!" seseorang memelukku dari belakang saat aku berbelok di ujung lorong.

"Kyaa! Naruto! Ngagetin aja. Ngapain kamu kesini?" aku menoleh mendapati Naruto nyengir dan mencubit hidungku

"Haha. Gak apa-apa. Teme kan menitipkan kamu sama aku" dia menunjuk mukanya sendiri dengan ibu jarinya. Aku tersenyum. Dasar Naruto.

"Ayo kita makan siang Sakura-chan. Ini sudah waktunya jam istirahat kan? Aku tahu restoran ramen yang enak"

Aku mengangguk.

.

.

.

"Ini" Naruto menyodorkan sebuah amplop warna cream dengan ukiran warna royal blue. Wait, jangan-jangan ini?

"Dibuka aja dulu" lanjutnya sambil menyeruput kuah ramen

Kubuka amplop cantik itu. Apa iya Naruto mau menikah? Dengan siapa? Kubaca dengan seksama surat itu…

Ahhh… Ternyata Karin neesan yang menikah dengan Suigetsu san. "Wah, omedetou... kapan nih? Besok?"

"Hmm! Datang ya? Teme masih di Korea ya, Sakura-chan?"

"Iya nih. Aku telfon dulu deh…"

….

….

"Halo, Sasuke-kun? Lagi ngapain?"

"Hmmm… sudah makan?"

"Hmmm… iya…"

"Jangan lupa jaga kesehatan walaupun sibuk.."

"Hmmm. Iya. Iya.. baik… Karin neesan besok menikah. Kamu pulang ya? Kita datang ke pesta pernikahannya…"

"… Ohhh, iya… iya, aku mengerti. Akan kusampaikan…"

"Iya… baik…"

"Hati-hati disana… Love you too"

KLEP

"Gomen Naruto. Sepertinya Sasuke-kun gak bisa hadir. Dia masih sibuk mengurusi proyek dan kasusnya"

"Hmm. Aku sudah dengar sih tentang kasusnya. Masih berlanjut ya.."

"Begitulah. Kasihan juga dia. Padahal aku pingin cuti yang mengujunginya kesana…"

"Sabar ya Sakura-chan. Aku yakin Teme pasti kuat" Naruto menyemangatiku dan mengacak-acak poniku

"Baiklah. Kita ketemu besok malam di pesta ya?"

"Anuu.. bagaimana kalau besok kamu aku jemput?" tanya Naruto sambil menggaruk pelipisnya

"Boleh. Hehe"

.

.

.

Sudah sore. Aku bersiap pulang. "Jaga kesehatan, Sakura. Terima kasih atas bantuannya hari ini" ucap Kakashi sensei saat aku berpamitan

"Terima kasih sensei," aku membungkuk hormat

"Kamu yakin gak perlu diantar pulang?"

"Tidak, terima kasih. Aku baik-baik saja, sensei" tolakku halus. Aku pun menuju Levi.

.

Setelah memakai seat belt, pandanganku menangkap sebuah kertas abu-abu tergeletak di kursi penumpang. Surat dari siapa lagi ini?

You, always smile and shines

Wangi. Darimana datangnya, kulirik jendela mobil. Ah, ternyata ada celah. Pasti orang iseng memasukkannya lewat situ.

Dalam perjalanan pulang aku menimbang-nimbang siapa lagi yang kebiasaan kasih surat? Senyum simpul tiba-tiba terbentuk di bibirku. Jangan-jangan… Sasuke-kun kasih kejutan lagi? Aku kan minta sering-sering dikasih beginian. Hehe…

.

.

.

Di rumah pun, dalam mailbox, kudapati kertas serupa. Kali ini bertuliskan :

You, my dearest flower

Aku geli. Hihihi… Duh, Sasuke-kun…

.

.

.

Aku sedang memakai aksesoris terakhirku, anting perak panjang untuk melengkapi penampilanku yang memakai long dress soft pink keluaran Dior edisi summer saat bel rumah berbunyi. Kulihat di monitor, BMW Sport merah Naruto sudah terparkir apik di depan gerbang. Kupencet tombol gerbang, aku bergegas membuka pintu.

"Selamat malam, princess" ucapnya sambil meraih tanganku yang terbalut renda pink, dan menciumnya

"Ahaha. Dasar Naruto. Jangan kayak gini"

"Gak boleh?" cengirnya. Kugandeng tangannya mengajaknya berangkat.

.

"Kamu kok sempat keluyuran jemput aku gini sih? Harusnya temani Om Minato dan Tante Kushina donk" kulirik Naruto yang sedang nyetir

"Gak apa-apa. Sudah banyak orang yang membantu disana. Aku kan gak mau Sakura-chan datang ke pesta sendirian" jawabnya sambil meraih tanganku, digenggamnya.

"Jangan, Naruto" kulepaskan pelan-pelan tanganku. Tumbenan sih dia so sweet banget sama aku.

Diraihnya kembali tanganku dan kali ini digenggam erat.

"Kumohon, untuk malam ini saja, hanya malam ini, ijinkan aku jadi pacar Sakura-chan"

"HAH?"

"Tunggu, jangan salah paham dulu. Bagaimanapun Teme adalah sahabat terbaikku. Aku gak akan mengkhianatinya"

"Terus?"

"Begini.. dalam pesta nanti, aku mau dijodohkan juga. Gak tau sama siapa. Aku sih gak peduli. Aku menentang gagasan Ayah dengan syarat"

Aku masih mendengar dengan seksama

"Aku akan berpetualang keliling dunia. Aku akan belajar di seluruh penjuru dunia, Sakura-chan. Aku belum ingin menikah. Satu-satunya gadis yang ingin kunikahi sudah menikah" dia menoleh padaku dan lagi-lagi nyengir dan menampakkan dua lesung pipinya.

Aku memerah dan mengalihkan pandanganku ke depan.

"Bagaimanapun kamu memang cinta pertama Teme. Tapi, kamu juga adalah cinta pertamaku. Ijinkan aku malam ini saja merasakan bagaimana menjadi pacar Sakura-chan"

"Kamu tahu aku gak bisa bisa melakukannya, Naruto"

"Kamu gak bisa. Tapi aku bisa. Gak apa-apa kalau Sakura-chan gak menganggapnya beneran, cukup aku aja yang merasakan. Gimana?"

"Naruto jelek" aku setuju dengan pipi memerah. Gomen ne, Sasuke-kun. Aku cuma gak tega sama Naruto. Aku akan membuatnya bahagia sebentar.

.

.

.

Pesta yang amat meriah. Aku memberi Naruto waktu untuk bergabung dengan keluarganya sembari berkeliling menikmati champagne. Banyak sekali tamu-tamu penting Negara. Bagaimana tidak, Om Minato kan walikota.

Karin neesan terlihat cantik dengan wedding dress skybluenya. Senada dengan jas Suigetsu san. Kupandangi mereka berdua, membayangkan saat aku dan Sasuke-kun menikah. Saat itu Sasuke-kun bahkan belum menyadari perasaanku padanya. Pernikahan serba mendadak, honeymoon ndadak, pindah rumah ndadak, eh ternyata sekarang aku baru tahu kalau sejak awal aku dijodohkan sama Sasuke-kun. Asem. Manis. (?)

"Permisi, Uchiha-sama… ada pesan untuk anda" tiba-tiba seorang waiter mengantarkan sepucuk memo di atas nampannya. Ya ampun, memo ini lagi?

You, growing in my heart

Lama-lama aku jadi geram pada Sasuke-kun. Kalau memang disini, cepat muncul donk. Saat akan menanyai waiter itu darimana dia mendapatkan memo itu, dia sudah menghilang.

Tunggu.

Aku seperti mengenal suara waiter tadi. Akh bodohnya aku gak melihat mukanya. Jangan-jangan…

"Apa kata-kataku mampu memasuki hatimu?"

Aku menoleh cepat, mencari sumber suara yang berbisik dari balik punggungku barusan.

Nihil.

Dia berhasil berbaur dengan semua tamu. Sial. Siapa kamu? Aku yakin aku mengenal suaranya. Tapi dimana? Kapan?

.

.

.

Pesta sudah mencapai anti klimaks. Naruto mengajakku berdansa di taman di luar ballroom. Bermandikan cahaya warna-warni yang soft, dia mulai mengajakku memasuki ritme pelan-pelan.

Dilingkarkan tangan kirinya pada pinggangku, digenggamnya tangan kiriku dengan tangan kanannya.

"Sakura-chan…"

"Hm?"

"Andai kita terlahir kembali, maukah kamu jadi istriku?"

"Ah, ngomong apa sih kamu, Naruto?"

"Ayo jawab"

"Ya ampun. Jangan melankolis gini donk. Mana Naruto cerewet yang biasanya?" kucubit pipinya yang biasanya memaparkan lesung pipi itu

"Akh! Gomen Sakura-chan… aku lepas kendali. Aku benar-benar bingung…" dia tampak menyesal dan mengerjapkan kelopak matanya.

"Gak apa. Semangat donk. Aku yakin kamu pasti bahagia banget nanti. Banyak petualangan luar negeri yang menantimu. Hehe"

"Terima kasih Sakura-chan. Kamu memang yang terbaik"

Naruto mengecup dahiku. Mengecup pipiku. Dan memelukku.

.

"Jadi begini ya" suara pemilik rambut raven itu mengagetkan kami berdua.

Sasuke-kun berjalan cepat ke arah kami dan mengarahkan tinju ke rahang Naruto.

"KYAAAAA! Apa yang kamu lakukan, Sasuke-kun?!"

Dia gak menjawab, Naruto malah meninju balik Sasuke-kun. Mereka saling baku hantam dengan sengit. Ahhh, apaan sih!

"BERHENTI KALIAN, SHANNNAAROOOOOOO!"

Kutahan tinju Naruto dengan tangan kananku, dan kutahan lengan Sasuke-kun dengan punggungku.

.

.

.

"Oh. Jadi si bodoh ini mau pergi ke luar negeri ternyata" ucap Sasuke-kun sambil menyibakkan poninya ke belakang

"Dasar temperamen jelek yang gak pikir panjang" ejek Naruto sambil mengelus-elus pipinya

Mereka berdua duduk di samping kedua sisi tubuhku. Kami duduk di atas platform kayu oak di atas kolam yang memantulkan lampu taman warna biru.

"Sudah jangan tengkar terus. Gak ada yang salah gak ada yang benar disini. Kita kudu saling memaafkan"

"Hn" Sasuke-kun mengalihkan mukanya sambil mengarahkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan naruto

"Baik, baik" Naruto melempar kerikil ke kolam lalu membalas uluran tangan Sasuke-kun

"Sejak kapan Sasuke-kun ada di Jepang?"

"Baru saja kok"

"Pasti sejak kemarin ya?" aku menebak berdasarkan memo pertama yang kuterima di dalam Levi kemarin

"Eh? Gak kok. Aku loh baru sampai barusan. Nih, tiketku masih ada" dia menyodorkan tiket pesawatnya.

Sasuke-kun dan Naruto langsung menyadari ekspresi wajahku yang tiba-tiba kaku

"Kenapa kamu Sakura-chan?"

"Ahh, aku mengerti. Memo-memo itu pasti dari kamu ya Naruto?"

"Haaah? Gak, gak, jangan aneh-aneh Sakura-chan, nanti Teme bego ini mukul aku lagi"

Aku tercengang dengan jawaban Naruto. Lalu siapa?

Sasuke-kun dan Naruto berpandangan tidak mengerti.

Aku menoleh tiba-tiba.

"Ada apa Sakura?" Sasuke-kun mulai curiga

Sungguh. Aku yakin, barusan, dari arah kaca jendela ballroom, ada seseorang mengamatiku. Memandang ke arah kami. Tapi kuurungkan niatku bercerita pada mereka berdua. Terutama Sasuke-kun. Aku gak mau dia terbebani lebih dari ini. Kasus yang ditanganinya sudah cukup membuatnya terlihat sedikit lebih kurus.

"Gak apa-apa. Hehe… kayak ada serangga hinggap di pundakku barusan. Musim panas memang musimnya serangga ya. Hehe"

Duh, I'm a terrible liar. Mereka pasti gak percaya dengan alasanku barusan.

"Iya, disini memang masih cukup banyak serangga langka lho" kata Naruto

"Masa? Gak mungkin. Adanya cuma di hutan Gunma" Sasuke-kun ikut-ikutan ngobrol

Fuhhh, untunglah mereka gak curiga

"Mmmmm… anooo… Otanjoubi Omedetou, Sasuke-kun… sekarang kamu lebih tua 1 tahun dariku" kukecup sekilas bibirnya

"Haha… thanks, Cinta"

"Weeewww, iya ya, ini kan tanggal 23 Juli. Omedetu Temeee" rangkul Naruto

"Sasuke-kun…"

"Hm?"

"Aku hamil 4 bulan"

.

.

.

Waaah… sebentar lagi tamat. Rencana tamat di chapter 23. Lihat nanti aja deh. Hahaha

Stay tune minna-san… terima kasih atas review, terima kasih udah baca SS. I Love You All So Much

Review please?

Review please?

Mother CHANYOU