Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya
Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read
Don't Like Don't Read
Once again
Don't Like Don't Read
.
.
.
Kupeluk. Kuciumi Sakura. Kabar bahagia itu bagai mimpi. Kupandangi wajah cantiknya yang semakin manis dengan make up naturalnya. Kubelai rambut pinknya, dan kucium lagi bibirnya.
"Terima kasih, Cinta. Terima kasih. Ini adalah kado terindah yang pernah ada" kuhisap aroma rambutnya yang wangi
"Tunggu. Empat bulan? Kenapa baru sekarang bilang?" kuelus perutnya yang belum terlihat mengandung
"Hihi. Sengaja. Buat kejutan di ulang tahun Sasuke-kun"
"Tapi kamu sehat kan? Gak sakit? Atau gejala?"
"Aku baik-baik saj-"
Tiba-tiba Dobe memeluk Sakura dan memutar tubuhnya. Long dress soft pinknya ikut berkibar memutar. "Waaah, selamat Sakura-chaaan. Aku bakal dapat keponakan lucu niiih"
Kuraih pinggang Sakura cepat-cepat. "Lepas. Jangan sembarangan menyentuh Sakura mulai sekarang. Kalau ada apa-apa dengan bayiku, kubunuh kamu"
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak padahal aku sedang serius. Ck.
.
.
.
Aku menyelimuti tubuh Sakura yang sudah tertidur pulas di kamar kami. Kusibakkan poni yang menutupi dahinya, kucium, dan kuelus pipi lembutnya. Aku segera turun ke ruang tamu dimana Dobe menungguku. Ya, setelah pesta usai, aku memintanya ikut pulang ke rumah.
"Kamu tahu kan maksudku mengajakmu kemari?" tanyaku to the point padanya
"Ya. Reaksi Sakura-chan dan kata-kata yang keluar darinya tadi"
"Benar. Dia sudah berusaha menutupinya, tapi kita sama-sama tahu kalau ada seseorang diluar sana yang mencoba mengganggunya"
"Memo… memo… gomen, Teme. Aku benar-benar gak tahu kapan si pelaku memberi Sakura-chan benda itu"
"Bukan salahmu juga. Kemungkinan pelakunya adalah orang yang sangat licin dan cerdik"
"Kurang baik juga kalau kita bertanya langsung sama Sakura-chan ya?"
"Jangan! Aku gak mau kesehatannya terganggu. Dia harus selalu sehat dan menjaga kandungannya" aku gak sengaja menaikkan nada suaraku dan meletakkan lemonade yang sedang kuminum dengan keras ke meja.
"Wuzz. Hati-hati Bro" jas abu-abu Dobe terkena lemonku
"Ngomong-ngomong soal abu-abu, nih, pas aku memutar tubuh Sakura-chan tadi, aku sempat mengambil memo darinya" Dobe menyodorkan kertas abu-abu bertuliskan "You, growing in my heart"
"Terima kasih banyak. Akan kukirim ke staf investigasiku yang sedang berada di Seoul supaya dianalisa"
.
.
.
"Sasuke-kun… ayo donk buka pintunya…" Sakura merengek memaksaku membuka pintu Levi. Ya, kami sedang berada di depan RS Jiyugaoka.
Dia adalah cewek keras kepala yang gak mau cuti demi kehamilannya. Mentang-mentang aku ada di Jepang selama 3 bulan, dia gak mau cuti. Ya, usia kehamilannya sekarang sudah menginjak usia 7 bulan. Mana bisa aku meninggalkannya ke Korea dengan kondisi seperti ini.
"Sakura. Bisa gak sih kamu ambil cuti dan diam di rumah aja?" jawabku sambil menatap lurus ke depan
"Aku masih sehat kok. Lihat, bayi kita juga tumbuh dengan sehat" Sakura mengelus perut besarnya yang terbalut blus bunga-bunga dan coat putih dokter
Aku meliriknya sekilas. "Cepat cuti ya"
Dia gak menjawab, tersenyum dan malah meraih pipiku, memalingkan mukaku ke arahnya. Dikecupnya bibirku. Dasar.
Kuhisap kuat-kuat bibirnya, kuabsen satu-persatu giginya dengan lidahku. Kulepas pagutanku dan kuhisap lehernya.
"Ahh, jangan bikin kissmark pagi-pagi donk.. nanti aku diketawain teman-teman kantor" dia mengelus-elus lehernya yang memerah karena hisapanku barusan
"Haha. That's the point. Sudah, pergilah. Kujemput nanti sore" kulepas seatbeltnya dan kusempatkan mencium bayiku
"Jaga Mommy ya jagoan kecilku. Kalau Kakashi jahat-jahat sama Mommy tendang aja. OK?"
Sakura memukul pelan kepalaku. "Belum-belum sudah diajarin kasar"
"Sudah, pergi sana" sahutku
.
.
.
Setelah bergegas pulang, mengganti Levi dengan Ducati-ku, aku kembali menuju RS Jiyugaoka. Sementara ini aku memang kurang kerjaan. Jadi aku memutuskan untuk mengamati Sakura diam-diam secara pribadi. Aku benar-benar khawatir dengan kesehatannya. Dan mana mungkin aku memarkir Levi mentereng itu di RS. Bisa-bisa Sakura protes sana-sini.
Kupakai ripped jeans, jaket hitam, sweater turtleneck, dan topi hitam. Walau aku gak merokok, aku jadi terpaksa merokok di smoking area, karena di area itu aku bisa berbaur dengan cowok yang berpostur sama denganku sekaligus mendapat view bagus ke arah lorong yang menghubungkan antar ruangan.
Kulihat Sakura sibuk mondar-mandir dengan dokumennya. Bercengkrama dengan beberapa anak kecil dan beberapa suster. Aku tersenyum sendiri melihat wajah teduhnya yang terlihat sangat bahagia. Cinta, kamu adalah istri terhebat. Kamu mencintaiku, mencintai anak kita, mencintai pekerjaanmu, mencintai anak-anak kecil.
Tiba-tiba Kakashi mendekati Sakura tergesa-gesa. Ekspresi Sakura terlihat terkejut dan mereka segera menghilang dari balik gedung. Kubuang rokokku setelah terbatuk berkali-kali dan menyusul mereka. Apa yang terjadi?
Kuikuti arah mereka berdua pergi. Hah? Ruang operasi? Sekilas dari balik pintu kulihat Sakura sedang bersiap-siap memakai seragam operasi.
"Maaf, tuan, anda dilarang masuk" seorang perawat laki-laki menutup pintu ruang operasi. Aku celingukan dan mendapati seorang ibu menangis di bangku. Ahhh, kenapa nangis sih? Mau gak mau aku jadi iba. Kuhampiri ibu itu.
"Nyonya kenapa?"
"Anak saya koma lagi, tuan… dia akan sadar kembali kan? Dia akan baik-baik saja kan?" dia merintih menghadap padaku
"Iya, Nyonya. Anak anda pasti akan baik-baik saja. Istri saya akan membuat anak anda tersenyum lagi di hadapan anda"
"A… anda suami Sakura sensei? Ohh, beruntungnya aku. Tuan, Sakura sensei adalah dokter yang sangat baik dan sayang pada anak saya, Konohamaru. Belum pernah saya menjumpai dokter paling baik hati, paling penyayang, dan sangat perhatian"
Aku tersenyum reflek. "Terima kasih, Nyonya"
"Anak saya menderita Leukimia sejak kecil. Sudah 1 tahun ini dia dirawat di RS. 3 bulan yang lalu keadaannya membaik secara drastis sejak dia ditangani secara khusus oleh Sakura sensei"
Nyonya itu pun menceritakan semua kisah pertemuannya dengan Sakura dan kembali menangis mengingat operasi yang sedang dijalani anaknya. Aku dan beliau menunggu berjam-jam sampai gak terasa jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Langit mulai gelap dan hawa semakin dingin.
.
Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka. Kakashi dan Sakura keluar, mereka sempat terkejut melihat kehadiranku disana. Sakura bergumam pada Kakashi menyuruhnya pergi, lalu dia menghampiri kami.
"Nyonya… bisakah kita bicara di ruangan saya?" tanya Sakura lembut
"Ba, bagaimana anakku Sakura sensei?" Nyonya itu mencoba menengok ke ruang operasi
"Nyonya, Konohamaru-chan adalah anak ganteng yang sangat kuat. Perjuangannya selama ini tidak sia-sia. Tapi kini dia sedang tersenyum di surga dan berlari-lari dengan sepatu lucunya. Kumohon Nyonya dapat mengikhlaskan kepergiannya agar Kono-chan di langit juga bahagia…"
"Jadi.. Konohamaru… hiks… hiksss….." Nyonya itu menangis lebih deras dan terjatuh dalam pelukan Sakura. Sakura memandangku dari balik bahu Nyonya itu mengisyaratkan aku untuk pergi. Hatiku ikut perih. Aku pun pergi menuju taman RS.
.
.
.
Aku termenung memandangi daun-daun momiji yang berguguran di tengah malam musim gugur. Pekerjaan seorang dokter sangat mulia. Perasaanku campur aduk memandang Sakura yang terlihat kelelahan dan ekspresi yang tidak terbaca.
Tangan mungil itu menyentuh pundakku. Kutarik tangannya, kuajak duduk di sampingku. Kupakaikan jaketku padanya. Dia meletakkan kepalanya di pundakku.
"Sa..suke-kun…" suaranya parau menahan gejolak hebat dalam dadanya
"Menangislah Sakura" kugenggam tangannya yang dingin
Air mata itu langsung mengalir deras tanpa suara. Wajar, jika dia menangis. Menahan rasa sakit dan kehilangan, dan masih harus bersikap tegar di depan semua orang terutama keluarga pasien. Tidak jarang menjadi target caci maki, hujatan, sumpah serapah. Padahal, yang dia tahu hanyalah berusaha menyambung nyawa setiap jiwa.
Kamu adalah wanita yang sangat kuat dan baik hati, Sakura. Kugenggam lebih erat tangan itu. Dan kami berdua tenggelam dalam diam.
.
.
.
"Aku malu sekali, Sasuke-kun…"
"Ngapain harus malu? Dokter juga berhak sakit kan?" aku menyuapi Sakura yang terbaring lemah di sofa bed rumah kami. Sudah 1 bulan berlalu sejak kejadian di RS itu, kesehatan Sakura menurun. Faktor mental karena kehilangan anak rawatnya dan hawa musim gugur yang sangat dingin membuatnya semakin lemah. Kandungannya yang sangat besar juga membuatnya semakin cepat letih.
Kakashi sudah merekomendasikannya untuk libur sampai dia melahirkan nanti, tapi Sakura bersikeras akan terus membantu selama dia sanggup membantu. Aku sempat jengkel dan marah pada sifatnya yang keras kepala itu. Tapi seorang suami pasti selalu iba dan gak bisa berkata apa-apa kalau sudah melihat perjuangan istrinya kesana-kemari dengan beban lebih dari 5 kilogram.
Dia menggeleng lemah menolak suapan terakhirku. "Ayo dimakan donk, tinggal suapan terakhir nih"
"Aku gak bisa, rasanya mua- ugmmmh" dia menutup mulutnya dan bergegas ke toilet. Kuikuti dan kupijat pelan punggungnya. Suapan-suapan tadi keluar lagi. Wah, kalau kayak gini terus, gak ada makanan yang bisa masuk ke dalam perutnya.
Tanpa bicara, kubopong istriku ke dalam Mercy yang notabene lebih nyaman untuk wanita hamil daripada Levi. "Mau kemana kita Sasuke-kun?"
"Kamu harus dirawat di RS"
"Jangan. Aku gak mau merepotkan orang lain"
"Kalau kamu jatuh sakit aku yang repot. Kamu suka?"
"Gak suka. Tapi aku bisa merawat diriku sendiri di rumah"
"…"
"Sasuke-kun"
"…jangan banyak omong"
"Sasuke-kun!"
Gak kuhiraukan dia dan kupacu Mercy ke RS Jiyugaoka secepat mungkin.
.
.
.
"Lihat, mukamu kelihatan sedikit lebih cerah" kuelus pipinya. Sakura kini dirawat inap di kamar VVIP dengan infus yang menempel di tangannya
"Aku tetep gak mau lama-lama dirawat gini"
"Kalau kamu gak nurut aku untuk dirawat disini, lebih baik jangan jadi dokter lagi"
"Benar, Sakura" Kakashi kali ini setuju denganku
Mendengar suaminya dan dosennya berkata begitu membuat Sakura gak berkutik. Dia mendengus, "Iya deh iya"
"Bagus. Begitu donk" kucium bibirnya.
"Nanti kalau ada apa-apa, hubungi aku atau Kabuto. Dia selalu stand by disini kalau aku gak ada. Beristirahatlah"
Setelah pintu ditutup, aku berbaring di sebelah Sakura. Bed queen size ini cukup besar untuk kami berdua. Aku memiringkan tubuhku dan menyelimuti Sakura dengan lenganku.
"Mommy kelelehan, sayang. Kamu juga kudu kuat ya?" kuelus perut besar Sakura yang entah kenapa tampak sangat lucu dan menggemaskan
"Baik, Daddy" Sakura menjawab pertanyaanku
"Nanti, apapun yang terjadi, baby kudu sayang terus sama Mommy dan melindungi keluarga selamanya"
"Aku juga sayang Daddy, dan aku akan melindungi keluarga Uchiha dan Haruno sekuat tenaga"
"Bagus. I Love You honey.."
"Love you too, Daddy…"
Aku bangun dan mengecup perut Sakura, lalu berbaring lagi.
"Sudah punya nama untuk anak kita, Love?" Sakura bertanya padaku
"Sudah donk"
"Walau belum tahu cowok atau cewek?"
Ya, walau sakura sudah USG, aku menolak untuk tahu jenis kelamin anakku. Biarkan itu jadi kejutan manis untukku.
"Iya, sudah kok. Mau tahu?"
"Mau, mau, mau"
"Namanya…"
"Iya… ?"
"Rahasia."
"Daddy jahat"
"Hahaha"
DRRRTTT
iPhone ku tiba-tiba bergetar. Hah? Pengacaraku di Seoul? Ada apa?
Aku keluar dari ruangan untuk berbicara dengannya.
.
Setelah berbincang-bincang dengan pengacaraku, aku masuk ke kamar Sakura dan berbaring di sampingnya lagi.
"Ada apa Sasuke-kun?"
"Gak ada apa-apa kok. Hehe"
"Jangan bohong"
"Gak kok"
"Ayo jawab"
"Gak mau"
"Jawab!"
"Gak"
"Kalau gak jawab aku gak mau rawat inap"
"…"
"Sasuke-kun!"
"Duhh. Barusan Orochimaru bilang kalau tersangka utama kasus di Korea sudah berhasil ditangkap. Sidang akan segera digelar. Aku harus hadir disana"
"Syukurlaaaah. Cepat kesana donk, Sasuke-kun"
"Ogah"
"Kenapa"
"Pakai tanya kenapa lagi, jelas-jelas aku gak mau ninggalin kamu dengan keadaan seperti ini"
"Kalau Sasuke-kun kayak gini terus aku bakalan marah beneran deh. Cepat ke Seoul. Aku disini baik-baik saja. Ada Mama, Kaa-san, teman-teman RS, banyak banget pokoknya yang ada di sampingku. Sasuke-kun kudu pergi ke Seoul"
"…."
"Jangan bimbang lagi, sayang… please… ini akan jadi hadiah terindah untuk kelahiran baby nanti"
"Kamu… kamu yakin Sakura?"
"Hm! Sangat yakin! Please, selesaikan semua, suamiku"
Aku berdiri dan mengecup dahi, pipi, hidung, bibir, dan perut Sakura. "Terima kasih Sakura. Kamu yang terindah"
"I Love You" katanya
"I Love You more. Aku janji, aku akan menemanimu saat persalinan nanti"
"Iya… pergilah sayang. Kutunggu, salah, kami tunggu" sambungnya sambil mengelus perut besarnya
Setelah memandangnya cukup lama dari pintu kamar, kuberikan senyumanku dan aku pun berlalu. Aku berlari dan mulai sibuk menelfon para staf untuk menyiapkan segala keperluan keberangkatanku. Aku gak mau membuang waktu. Akan kuselesaikan semua ini.
.
.
.
Aishiteru, minna… terharu dan senang banget dengan review-review minna-san… semua itu gak akan terganti…
Tetap ikuti SS sampai akhir ya… sedikit campur aduk juga perasaanku ff ini sudah mau tamat. Campur aduknya karena senang pastinya karena ff ini membuatku mendapatkan petualangan luar biasa dalam berimajinasi dan dapat mengenal minna-san… sedih juga karena yahhh masa udah selesai sih. Hehe. Lega juga, karena dengan ini bisa lanjut ff berikutnya, kecewa? Lebih ke sungkan, soalnya banyak buangeeet typo, alur, setting, ah semuanya deh, isi cerita yang mungkin gak jelas (banget. Bukan mungkin lagi, Mother baka!)
Pokoknya salut banget sama readers semua baik yang fav, follow, review, review as guest, atau bahkan silent reader, pokoknya arigatou gozaimasu ne… terima kasih banyak mau menghargai karyaku yang (sangat) gaje ini… hehehe
Stay tune ya?
Review please?
Mother CHANYOU
