Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya

Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read

Don't Like Don't Read

Once again

Don't Like Don't Read

.

.

.

Aku memasuki gedung kantor investigasi Uchiha Group di Seoul. Gedung dengan eksterior dan interior minimalis, yang terselimuti fasad-fasad solid kaca, panel, aluminium hitam, putih, biru tua, dan karpet abu-abu membuat suasana semakin dingin. Salju masih turun. Sejak sampai di bandara Incheon aku tidak membuang-buang banyak waktu. Aku harus segera memberi pelajaran pada si brengsek yang sudah mengganggu hariku.

PIP

Asistenku menggesekkan ID Cardnya, lalu pintu besi besar itupun terbuka. Aku masih harus melewati beberapa pintu lagi untuk mencapai ruang utama.

Sampai disana, kudapati Orochimaru berdiri menyambutku dengan berbagai dokumen menumpuk dan berserakan dimana-mana.

"Maaf, Sasuke-sama, disini sedikit beran-"

"Tidak usah pedulikan soal itu. Cepat beri tahu aku detail-detail pentingnya" potongku sambil merebahkan diri di kursi sambil melonggarkan dasi.

"Petunjuk dan titik terang kita adalah sesuatu yang anda kirimkan pada saya tempo lalu" dia menyodorkan kertas abu-abu di atas meja

"Hm. Lanjutkan"

"Kertas itu memang bukan kertas yang umum. Sejujurnya, kertas itu adalah kertas kualitas tinggi yang hanya digunakan oleh kaum menengah ke atas"

Aku menyimak dan mengerutkan alisku

"Dan yang menarik adalah, kertas itu hanya diproduksi di Eropa. Tentu akan sangat melelahkan bagi kepolisian untuk menelusuri satu persatu cabang peredaran kertas itu"

"Tapi,.." lanjutnya

"Bagi Uchiha Group itu hanyalah persoalan biasa. Dengan basis data yang dikumpulkan cabang London, ada satu organisasi intelektual bawah tanah terkenal yang menggunakan kertas itu SEKALIGUS terlibat langsung dengan Jepang. Mengingat kertas-kertas ini kita peroleh dari Sakura-sama yang sedang berada di Jepang"

"Dan?"

"Faktanya, saya menemukan selembar kode rahasia yang ditulis di kertas yang sama, di proyek apartemen kita, yang berisi sebagian dari kode peledakan di gedung kita. Saya mendapatkannya dari agen intel kita yang menangkap basah anggota tingkat rendah mereka yang dengan bodohnya menunjuk langsung ke persembunyian bos mereka"

"Mari.." lanjutnya

Orochimaru mengajakku ke sebuah ruangan yang terpisah jauh dari ruang utama. Kami menuju basement yang juga dijaga ketat. Ruangan kering yang sama sekali tidak ada maintenance. Dinding polosnya hanya beton tebal yang kokoh.

"Ini dia, Hidan Francois. Ketua organisasi mafia intelektual Eropa. Sindikat yang beroperasi mencuri benda-benda seni, mengadakan jasa konsultasi kriminal, dan pelindung sekaligus ancaman bagi pejabat-pejabat korup di seluruh Eropa"

"Well, well… aku tersanjung sekali kamu memujiku seperti itu, Mr. Orochimaru, dan ini dia Mr. Uchiha sombong yang ganteng itu. hmmmm"

Dia adalah pria besar dengan rambut perak dan janggut hitam yang ditata rapi. Tangannya diborgol. Mata hijaunya memandang remeh padaku.

"Jangan besar kepala, Hidan. Kau tahu siapa yang sekarang ada di depanmu?!" bentak Orochimaru

"Bagaimana bisa aku tidak mengenali targetku, you foolish people. Hahaha"

"Cukup. Sekali lagi mulut rusakmu mengeluarkan kata-kata bodoh lagi,-"

Aku menghadang Orochimaru yang mulai senewen dengan Hidan. Aku melirik Orochimaru mengisyaratkannya untuk diam, lalu memandang tajam pada Hidan.

"Jangan buang-buang waktu, Orochimaru. Bukan dia pelakunya. Yah tapi kamu bisa menyerahkannya kepada polisi Seoul atas pencurian lukisan di museum Morikami bulan lalu"

"Bu, bukan dia pelakunya?"

"Hn"

"Bagaimana bisa!?"

"Hahaha. Mr. Uchiha, ternyata aku salah menilaimu. Kamu memang pintar" Hidan tertawa tanpa dosa

BUKKK!

Pukulanku mendarat di hidungnya yang seketika penyok dan bersimbah darah. Dia pingsan. Stafku langsung membawanya pergi ke kepolisian.

"Kamu memang bukan pelaku utama. Kamu gak lebih dari sekedar pion yang sedang dimainkannya. Ayo, Orochimaru. Kita tangkap bosnya"

Aku memunggunggi pintu besi dingin itu dan tersenyum. Ya, sekarang aku tahu siapa yang ada di balik semua ini. Bodohnya aku yang tidak menyadari sebelumnya.

.

.

.

Aku memandang lautan salju di depan mataku. Mencekam dan mempesona. Saat ini aku sedang berada di Nami island. Di sebuah resort ski tenang dan sepi yang menentramkan suasana hati. Kuhirup udara dingin yang masih membekukan rongga pernafasanku.

Aku berjalan menuju teras belakang. Platform kayu dengan pagar kaca setinggi 1 meter. Kulihat tetangga sebelahku sedang melukis pemandangan menakjubkan disini dengan santai.

"Halo Sai"

"Halo, Uchiha Sasuke" sahutnya tanpa memalingkan muka, masih dengan muka palsu yang tersenyum

"Kamu gak terkejut dengan kehadiranku disini?" tanyaku

"Sebaliknya, kamu gak terkejut dengan keberadaanku disini?"

Kami terdiam dalam hening yang kuat

"Sejujurnya aku suka dengan lukisanmu dan karya-karya senimu yang lain"

"Benarkah? Aku tersanjung"

"Ya. Aku adalah pecinta dunia seni"

Dia masih tersenyum kosong dan melukis dengan santainya

"Ya. Lukisan, ukiran, pahatan, juga… puisi" lanjutku

"You, always smile and shines, You, my dearest flower, You, growing in my heart" kubacakan puisi-puisi yang dikirim Sai ke Sakura

Dia akhirnya memandangku. Walau senyumnya masih belum hilang dari wajahnya. Dia berdiri.

"Jadi sudah ketahuan ya? Aku yakin bukan hanya puisi yang sudah kau temukan"

"Benar. Jangan bergerak. Tempat ini sudah dikepung oleh polisi dan tim investigasiku"

"Hmp. Dasar naïf. Cuma begini saja?"

Aku mulai geram. Kukepalkan tinjuku. Kutarik katana yang dari tadi kusembunyikan dari balik punggung.

Kuacungkan pedang samurai itu ke dagu Sai.

Kuas lukisnya jatuh ke lantai kayu bersamaan dengan dua tetes darah. Ujung katanaku masih menempel di leher pucatnya.

"Hahaha. Dasar payah. Sangat payah. Dengar, Uchiha. Kau kira aku bodoh? Aku sudah memasang bom di hampir setiap sisi vital gedungmu. Kecelakaan-kecelakaan kecil tiap hari di jam yang berurutan itu hanyalah kamuflase untuk menyamarkan tujuanku yang sebenarnya. Hahaha. Ya, apartemen itu akan lenyap dalam seketika. Hahaha!"

BRETTTTT

Jaket bulunya robek. Baju berlapis-lapis itu terkoyak oleh tebasan katanaku. Dada pucatnya kini berhias garis merah memanjang dari bahu sampai pinggangnya. Dalam keadaan terkejut, dia sempoyongan ke kanan dan ke kiri, kuterjang dia, kurobahkan di atas platform. Kutindih dadanya yang terluka itu dengan lututku. Kuhunuskan katana tepat di depan bola matanya.

Kudengar dari kejauhan polisi menembakkan tembakan peringatan. Tapi Orochimaru dan timku berhasil menahan para polisi untuk tidak bergerak. Ya, mereka tahu apa yang akan terjadi kalau mereka berani mendekat.

"Ya, aku memang bodoh tidak menyadari semua ini dari awal. Harusnya dari pola rapi itu, aku bisa menyadari kalau kau yang ada di balik semua ini. Hidan memang bos organisasi itu. Tapi otak dari semua kejahatan organisasi itu adalah kau"

"Buat apa kau panjang lebar gini Uchiha?"

"Tapi" lanjutku

"Aku gak cukup bodoh untuk menyadari bom yang kau pasang di gedungku. Tim penjinak bom gabungan Korea dan Interpol sudah bergerak sejak 6 jam yang lalu. Servermu juga sudah dihack. Jadi, tuan kriminal, riwayatmu tamat sampai disini"

"Hmp. Paling tidak aku juga berhasil menyadap rumahmu selama kau di Korea. Yah, tubuh telanjang Sakura saat mandi akan jadi kenanganku di penjara nanti"

"BRENGSEKKKK!"

Kuangkat tubuh kurusnya dan kulempar ke tumpukan salju. Kupukuli wajahnya, darah memuncrat dari hidung dan rongga mulutnya. Kutarik rambutnya, kuhentak-hentakkan kepalanya ke bebatuan. Kupukuli tubuh tidak berdaya itu, kucengkeram lehernya, kulihat matanya. Mata yang akan segera hancur karena ketajaman katana. Salju putih yang memerah karena darah itu akan menjadi saksi keadilan. Keadilanku.

Aku mengangkat pedangku untuk menambah tenaga menghujam wajah pecundang ini saat tangan Orochimaru menahanku.

"Cukup. Dia hanya mau membuatmu menjadi seorang pembunuh. Dan kau, Sai. Hukuman berat sedang menantimu"

.

.

.

"Terima kasih atas bantuanmu" ucapku pada Lee Min Ho. Pemilik resort ski tempat kejadian naas itu terjadi.

"Tidak masalah. Aku melakukannya demi Sakura" jawabnya

Entah bagaimana caranya, Lee Min Ho muncul tiba-tiba di depan gedung investigasiku tepat setelah aku menemui Hidan Brown. Tepat saat aku baru akan memulai pencarian besar-besaran Sai ke seluruh Korea. Dia mencurigai seorang pria Jepang yang beraktifitas dengan berbagai alat-alat elektronik dan rekan kerja yang terlihat mencurigakan. Awalnya dia tidak menganggap semua itu hal serius, sampai akhirnya Lee min Ho sempat melihat lukisan Sakura di ruang tamu resort Sai yang diberi coretan berbentuk X berwarna merah darah. Dengan tulisan KILL HIM OR KILL YOU.

Lee Min Ho tahu dia harus menemuiku. Dengan bantuan manager dan rekan-rekannya, dia berhasil mengetahui bahwa aku adalah suami Sakura. Lalu, dia menyerahkan resortnya padaku untuk rencana ini dan terjadilah semua ini.

"Aku tidak akan melupakan jasamu. Selamanya" aku menyalaminya

"Hm. Jaga Sakura baik-baik"

.

.

.

"Sidang akan digelar berkali-kali. Dan Sai bukanlah orang biasa. Pasti dia mempunyai badan hukum yang kuat" Orochimaru menjelaskan padaku di dalam mobil Range Rover hitam miliknya

"Aku percayakan semua padamu. Aku yakin kamu bisa membantuku"

"Baiklah"

"Keluaargaku berhutang banyak padamu, Orochimaru"

"Tidak. Aku sudah berjanji pada Madara-sama untuk menjaga keluarga Uchiha dari belakang. Dan inilah saatnya. Saat untuk menepati janji"

Gak kusangka. Pengacara menyebalkan yang membacakan warisan Kakek ternyata sangat baik padaku. Terima kasih Kakek, selalu memikirkan keluarga, selau terorganisir, dan selalu berpikir jauh ke depan.

DRRRTTTT

"Ya. Sasuke disini"

"Apa?!"

TEP

"Orochimaru, arahkan mobil ini ke bandara. Aku harus pulang"

"Sekarang?!"

"IYA SEKARANG!"

Orochimaru yang masih bingung dengan keadaan terpaksa menuruti keinginanku.

Ya. Janin Sakura kembar. Dan harus dilahirkan sekarang juga atau salah satu dari mereka, Sakura, atau bayi kami meninggal dunia.

.

.

.

Akh, payah banget tentang action. Yah, anggap aja selingan deh. Wkwkwkw

2 chapter to go… hohoho

Stay tune, minna-san… Aishiteru…

Review please?

Mother CHANYOU