Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya

Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read

Don't Like Don't Read

Once again

Don't Like Don't Read

.

.

.

Di dalam kabin pesawat kelas eksekutif, pikiranku melayang ke RS Jiyugaoka. Entah kata-kata apa saja yang keluar dari mulut pramugari, aku gak mendengarnya sama sekali. Sampai akhirnya tenggorokanku berteriak kehausan. Aku meminta air mineral kepada pramugari yang segera mengambilkan air dengan ekspresi bingung. Yah, mungkin dia heran sama cowok yang cuekin tawarannya tadi dan sekarang memintanya mengambil air.

Setelah menghabiskan air itu, mataku tidak bisa diajak kompromi lagi. Aku terlelap dalam diam.

.

"..an, Tuan, bangunlah!"

Aku mengerjapkan mata, pramugari tadi menggoncang-goncang pundakku, membangunkanku. "Syukurlah, mohon maaf atas ketidaknyamanan ini, Tuan. Tolong kenakan live vest dan oxygen mask anda. Mari, saya bantu…"

Aku tidak mengindahkan tawaran pramugari baik hati itu. Aku berdiri, melihat sekelilingku. Mereka semua panik. Beberapa remaja dan manula duduk diam dengan wajah ketakutan. Tidak sedikit pula anak-anak kecil menangis histeris. Beberapa pria dewasa berteriak menyumpahi awak pesawat.

Aku melihat ke jendela pesawat, kuperhatikan dunia yang sekarang ada di bawahku. Salah satu sisi sayap pesawat mengeluarkan percikan api. Sialan. Pesawat ini akan segera jatuh kurang dari beberapa menit lagi. Dan yang membuat mata onyxku membulat adalah warna bumi di bawah sana. Biru.

Kami berada di atas laut. Shit!

Aku bergegas menuju ruang pilot saat tiba-tiba ada pramugari lain berlari sambil menangis ke arahku. "Kita semua akan mati!"

"Apa maksudmu?!" bentakku padanya

"Pilot kita terkena serangan jantung! Beliau MENINGGAL!" air mata yang menggenangi matanya semakin deras saat dia menekankan kata terakhir.

Dalam beberapa detik pikiranku kosong.

Tapi aku tidak bisa tinggal diam. Aku meminta dua orang pria berperawakan besar ikut bersamaku. Kusuruh mereka mengamankan jenazah pilot itu, dan sekarang aku menduduki kursi kemudi.

Co-pilot dengan keringat deras mengucur di pelipisnya itu memandangiku tidak percaya. Tangannya bergetar dan bibirnya memucat.

"Tidak ada waktu untuk takut! Ikuti instruksiku sekarang juga!"

.

.

.

Aku berdiri memegangi pagar besi di buritan kapal penyelamat. Memandangi puing-puing pesawat yang sudah hangus dilalap api di pulau seberang sana. Asap hitam tebal mengepul ke langit membentuk piramida terbalik.

Dalam keadaan darurat, aku mengarahkan pesawat yang sudah kacau menuju pulau manapun yang bisa dilihat. Dengan bahan bakar yang menipis karena terjadi kebocoran, serta sisi sayap pesawat yang terbakar, aku mendaratkan pesawat menuju sebuah pulau kecil yang asing. Pendaratan itu tidak bisa disebut mulus, tapi untung saja tidak ada korban luka berat apalagi meninggal. Satu-satunya korban meninggal adalah pilot yang terkena serangan jantung.

Sebelum mendarat darurat, aku sempat memberikan koordinat posisi kami kepada pelabuhan terdekat. Dan sekarang semua orang bisa bernafas lega di atas kapal penyelamat. Kecuali aku.

Aku mondar mandir di buritan kapal sambil menengadahkan i-Phoneku mencari-cari sinyal. Oh shit! Aku harus segera menghubungi stafku. Immediately!

.

.

.

Aku frustasi dan duduk dengan sebal di dek kapal. Sudah 3 jam kami berada di kapal ini dan masih harus berapa lama lagi untuk mencapai daratan?!

Aku melirik lagi iPhone ku, yak! Akhirnya ada sinyal juga!

"Halo? Dobe!? Aku butuh bantuanmu!"

"Ya, nanti saja penjelasannya. Kirim helikopter pribadimu ke pelabuhan Shimonoseki!"

"…? Halo?! Hei! Suaramu hilang" oh shit, sinyal disini benar-benar busuk!

"Dobe? Ya, Shimonoseki prefektur Yamaguchi!"

"Apa?! Jangan bercanda! Helikopter lainnya?"

KLAP

Aku mematikan telepon dengan geram. Bagaimana bisa saat dibutuhkan malah gak bisa bantu dengan alasan helikopternya sedang dipakai Karin dan Suigetsu ke Hokkaido sedangkan helikopter lainnya sedang dalam maintenance. Tidak ada pilihan lain. Sementara ini alternatif tercepat hanyalah pulang ke Tokyo lewat bandara Yamaguchi Ube menggunakan pesawat standar. Ugh!

.

.

.

Aku melanjutkan perjalananku setelah menginjakkan kaki di tengah-tengah pasar ikan di pelabuhan Shimonoseki. Petugas penyelamat langsung mempersilahkan aku pergi tanpa menunggu kedatangan polisi yang bertugas menginterogasi korban kecelakaan pesawat setelah kutunjukkan kartu identitas Uchiha ku.

Setelah menghabiskan waktu selama 2 jam di pesawat, aku menuju parking area dan mendapati Levi dikelilingi stafku yang mencolok banget dengan suit hitam mereka. Aku menyambar dengan kasar kunci Levi yang diserahkan stafku dengan santun. Dia kaget, dan aku jadi merasa bersalah.

Aku memutar mobil dengan gaya yang berlebihan. Kubuka jendela mobil, sambil memakai sunglasses, kutatap staf itu. "Thanks"

.

.

.

Demi Tuhan. Jarak antara Bandara Haneda dan RS Jiyugaoka sebenarnya bukanlah jarak yang patut diperhitungkan. Tapi Demi Tuhan. Aku melihat Rolexku.

21:21

Yang benar saja!

Demi Tuhan!

Aku baru sadar kalau hari ini tanggal 1 Januari. Tahun baru.

Jalanan Tokyo seperti piring labirin madu yang dikerubungi lebah dan ratu lebah. Belum lagi ada pawai di Shibuya. Arghhh! Habis sudah!

.

.

.

Jari telunjukku mengetuk-ketuk steering wheel keren ini dengan gemas. Sampai kapan aku akan terjebak di kegilaan ini!

Kulihat kembali Rolex, pukul 22:56

Aku membuka pintu Levi, dan membantingnya dengan keras. Otomatis aku menjadi bahan perhatian seisi Shibuya.

Kubiarkan Levi disana. Di tengah-tengah warna yang menari-nari, di antara manusia-manusia yang tengah merasakan kebahagiaan tahun baru. Kamu adalah awal dari cerita ini. Kamu adalah sebuah euphoria yang melekat dalam kehidupanku bersama Sakura. Kamu adalah oasis yang mempertemukan cintaku dengan Sakura. Selamat tinggal Levi. Kamu akan selalu menjadi bagian dari ceritaku.

Kupandangi Levi untuk terakhir kalinya. Bibirku membentuk senyum tipis tanpa sadar.

Sekarang aku mempercepat lariku. Seakan mendramatirsir suasana, kembang api dengan berbagai bentuk dan corak mewarnai langit malam. Salju putih turun dengan lembut ke permukaan aspal yang sudah terselimuti pendahulunya. Cahaya-cahaya temaram dari toko-toko dan mall menerpa pipi kananku. Lagu-lagu khas tahun baru menyusup di telingaku. Please. Lagu-lagu ini gak cocok banget dengan suasana hatiku. Gak cocok banget dengan kondisiku. Aku sedang terburu-buru membayangkan istriku yang sudah berjuang, dan aku ingin mereka semua selamat. Mereka, istri dan anak-anakku. Aku memandang lurus ke depan

.

.

.

Aku menarik nafas untuk yang kesekian kalinya di depan gerbang megah RS Jiyugaoka. Aku melonggarkan dasiku dan menuju ruangan VVIP Sakura.

.

Iris emerald milik wanitaku itu mengarah padaku. Wajah cantiknya menoleh dengan lembut. Pipinya memerah.

"Sasuke-kun…" senyum manis menghiasi wajahnya

Aku mendekat padanya dan melempar jas hitamku ke sofa di sudut ruangan. Aku mengecup dahinya dan mengelus lembut rambut pinknya yang indah.

"Sayang, rambutku sekarang jadi pendek gara-gara operasi nih. Katanya biar gak mengganggu. Hehehe" dia menjulurkan lidahnya

"Mau bagaimanapun kamu selalu cantik, Cinta" aku gak bohong. Penampilannya yang bagaimanapun tetap mempesona di mataku.

Aku membenamkan mukaku di antara leher dan pundaknya. "Aku senang kamu baik-baik saja, Sakura"

Aku yakin dia masih mampu mendengar suaraku yang bergetar karena menahan air mata. Walau kenyataannya sebutir air mataku sudah mengalir ke rambutnya yang terurai.

Aku bangkit dan menahan pipiku yang memerah dan memerah.

"Dimana anak kita?"

Dia tersenyum manis dan memencet tombol di samping queen bed nya.

Dua orang suster masuk sambil menggendong bayi di masing-masing pelukan mereka. Aku mengambil bayi-bayiku sekaligus.

Mereka berpamitan pergi dan menutup pintu coklat tua itu dengan pelan. "They're amazing" aku menatap putra-putriku dengan takjub.

"Kakaknya laki-laki, adiknya perempuan. Mereka menunggu Daddy untuk mendapatkan nama mereka" Sakura mengelus rambut mereka bergantian.

"Sasaki" aku menatap putraku yang membuka matanya. Rambutnya warna ungu muda, dengan iris mata ungu tua. "dan "Sarada" gadis kecilku menatapku dengan mata gelapnya yang persis denganku dan rambut hitam.

"Sasaki dan Sarada… nama yang manis" ucap Sakura. Dia menegakkan tubuhnya dan mencium bibirku.

"Mereka adalah permata yang tidak akan pernah terganti"

.

.

.

3 TAHUN KEMUDIAN

.

Summer. Ahh, musim panas… aku mengenakan bikini pelangi dan tiduran di lazy chair samping kolam renang. Sarada juga, dia memakai one piece pola tomat (?) di sebelahku. Kuoleskan sun block lotion di lengannya.

"Kamu gak ikut mereka renang, Honey?" tanyaku

Dia melirikku dari balik sunglassesnya dan meletakkan majalah fashionnya."Mommy, please"

Dia melanjutkan aktifitasnya saat aku terkekeh mendengar jawabannya. Gadis ini benar-benar anak Sasuke-kun. Setelah memasukkan lolipop ke mulut Sarada, pipi kiriku ditembak dengan water gun.

"Sa-sa-ki!" aku berdiri dan berkacak pinggang. Sasuke-kun dan Sasaki terbahak-bahak di pinggir kolam dengan water gun raksasa di tangan Sasaki yang oleng karena beban water gun terlalu berat. Sasuke-kun menahan tubuhnya yang hampir jatuh, dan mengarahkan gun mereka ke tumit Sarada.

CPAAAKK

Shannaro, duo nakal iniii.

"Sa-sa-ki!" Sarada menirukan poseku berkacak pinggang dan membanting majalah fashionnya ke lantai kayu.

"Panggil aku Onii-chan, Sarada!" Sasaki berteriak tidak terima

"Aku ogah punya Onii-chan kayak kamu!"

Aku berdiri di belakang Sarada diam-diam dan menggendongnya. Aku melompat ke dalam kolam dan menimbulkan gelombang besar.

BYURRRRR

"WAAAA! Mommyyyy!" Sarada marah dan langsung memelukku. Dia belum bisa berenang. Aku merebut water gun yang sedang dipegang Sasuke-kun.

"Yoosssshhh! Sarada, sekarang waktunya kita balas dendam!"

Sasuke-kun dan Sasaki berenang menghindar tapi kepala raven dan ungu mereka gak akan bisa luput dari bidikan kami. Sasaki lucu banget berenang dengan pelampungnya, sehingga pantat montoknya menyembul ke permukaan kolam. Aku memegangi perut Sarada saat dia dengan semangatnya menembaki target-target kami.

.

.

.

Sarada sedang asik membakar barbeque kami. Sasaki sedang bermain-main dengan remote control buggynya. Aku menyiapkan cocktail non alcohol di meja yang sudah kuhias dengan mawar dan lavender. Ya, kami mengadakan BBQ party.

"Halo, manis" tiba-tiba Sasuke-kun memeluk pinggangku dari belakang dan mencium leherku

"Wah, hampir saja tumpah. Halo juga, tampan" aku meletakkan gelas cocktail dan membalikkan badanku menghadap suamiku. Kulingkarkan tanganku ke leher Sasuke-kun. Dia dengan cepat memagut bibirku, menjilati setiap inci rongga mulutku.

Nafas kami terengah-engah saat Itachi-nii melempar kerikil (atau apapun itu) ke dahi Sasuke-kun. "Sialan! Kamu gak bisa lihat kami sedang berciuman!?" kerutan jengkel muncul di kening Sasuke-kun. Aku tertawa dan lanjut menyiapkan cocktail.

"Kamu yang sialan. Ada anak kecil disini tahu. Halo, keponakan-keponakanku yang manis!" Itachi-nii melambaikan tangannya kepada si twins.

"PAPA ITACHIIII" mereka berdua berseru berlari memeluk Itachi-nii. Di belakang Itachi-nii ada Tou-san dan Oka-san yang ikut memeluk mereka.

"Wah, long time no see" Sasori-niichan datang memakai pakaian super keren ala London. Dia melepas sunglassesnya dan main wink ke si twins.

"PAPA SASOOOO!" mereka berganti memeluk Sasori-niichan. "Halo, princess. Kamu semakin emmmmmmhhh" kakakku mencium kedua pipi Sarada lalu mengacak rambut Sasaki "Wah, buggymu keren banget, Sasaki"

"Ya! Mommy membelikanku minggu lalu" Sasaki bersemangat

"Benar. Kalau Teme yang membelikan pasti bukan buggy, tapi Lamborgini" Naruto datang sambil memutar-mutar kunci mobil Lamborghininya di udara.

"Iya donk" onyx Sasuke-kun silau melihat Lamborghini Gallardo kuning Naruto yang diparkir bersebelahan dengan Levi.

Levi?

Ya, Levi. Saat aku dan si twins pulang dari RS Jiyugaoka waktu itu, Levi sudah terparkir dengan apik di halaman rumah. Ternyata Naruto yang menyelamatkan Levi dari keramaian tahun baru Shibuya. Dia merasa bersalah karena waktu itu gak bisa meminjami helikopter pada Sasuke-kun. Jadi ceritanya, setelah merasakan 'rasa' Levi dalam perjalanan, Naruto jatuh cinta dengan mobil itu. Dengan mudah, BMW sportnya tersingkir gara-gara dia move on ke Lamborghini. Sayangnya, Naruto gak kebagian Veneno Silver Limited Edition. Yah, maklum, di dunia ini cuma ada 9 unit.

Menyusul kedatangan Naruto, tamu-tamu kami yang lain segera berbaur di backyard kami. Ada Papa yang menggendong Sasaki tinggi-tinggi di pundaknya, Mama membakar BBQ sama Sarada, ada Ino, Shion, Tenten, Kakashi-sensei . Surprisingly, dalam 3 tahun ini Kakashi-sensei akhirnya jadian sama Shion! Saking pinternya Ino dan Tenten mencomblangkan mereka berdua. Tapi sungguh, mereka adalah pasangan yang sangat serasi menurutku.

Ada Shizune-neesan, nenek Chiyo, Orochimaru-san, bahkan Kiba dan Hinata. Hinata sedang hamil dan sekarang benar-benar menjadi cewek super santun. Meskipun hanya berdua denganku saja, dia masih menjadi cewek santun. Kiba hebat.

Kami semua menikmati pesta ini dengan perasaan yang sangat hangat.

.

.

.

Pesta sudah selesai. Malam ini udara sedikit sejuk. Setelah anak-anak tidur, aku menuju platform belakang rumah yang mengarah ke pemandangan Tokyo di malam hari. Sebuah melody klasik mengalun di udara. Aku menutup mata. Angin semilir menyapu wajahku dan menerpa rambut pendekku ke belakang.

Pikiranku melayang ke saat itu. Beberapa tahun lalu di malam yang tak terduga di apartemenku.

"Maukah kamu menikah denganku, Sakura?"

"….ataupun sehat, dalam suka maupun duka, dan mencintainya, menyayanginya, sampai maut memisahkan kalian?"

"Saya bersedia"

Dan kami saling memandang dalam haru

"Kamu cantik"

Ingatan itu mengalun ke Paris saat pangeran kegelapan itu dengan congkaknya memasukkan kedua tangannya ke saku dengan senyum miring yang gak bisa lepas dari wajahnya

"Jelek sekali"

Dan betapa dia ingin mendominasiku. Ingin menunjukkan pada semua orang bahwa aku adalah miliknya

"Ya! Dia istriku sekarang. See?"

Dan saat aku menyatakan perasaanku untuk pertama kalinya

"Sebenarnya aku… menyukai Sasuke-kun sejak lama"

"Hn, jangan khawatir Sasori-nii. Aku akan menjaga Cinta selamanya"

"Cinta…"

"Dimana Sakura?! Sakura Uchiha! ISTRIKU!"

"Sakura…"

"Cinta, jangan diemin aku donk"

"Terima kasih, Cinta. Kamu yang terbaik…"

"Jangan rewel"

"Bosan. Aku kangen Sasuke-kun yang dulu"

"Aduh aku lagi sibuk nih. Ngerti gak sih?"

"Sasuke-kun baka!"

"HEH, mau kemana kamu?!"

"Sasuke-kun… aku kangen… "

"Aku pingin punya bayi"

Pulanglah Sasuke-kun… aku mohon…

"Aku benar-benar butuh penjelasan, Sasuke-kun"

"Kamu benar-benar merendahkanku Sakura"

"Ini hadiah buat kamu"

Ingatan-ingatan itu memenuhi isi pikiranku secara cepat. Berganti-ganti…

"Aku hamil 4 bulan"

"Menangislah Sakura"

"…jangan banyak omong"

Ada saat kami bergembira, ada saat dia begitu menyebalkan, ada saat aku sangat manja, ada saat kami bertengkar…

"IYA SEKARANG!"

Tapi aku tahu, suamiku selalu menyayangiku. Menyayangi kami…

I WILL ALWAYS LOVE YOU FOREVER

"I will always love you forever…" suara berat itu menyusup di daun telingaku. Tangan gagahnya memeluk leher dan pundakku dari belakang. Aku memegang lengannya yang memagari dadaku.

"Too…"

Kami hening selama beberapa detik. Dia lalu melepas pelukannya dan menyejajarkan tubuhnya di sampingku. Tangan kirinya mengenggam erat tangan kananku. Setelah kami memandangi cahaya-cahaya cantik di bawah sana, dia mengalihkan wajah tampannya kepadaku. Diraihnya rahangku, dikecupnya dahiku. Dibelainya rambutku.

"Sakura, aku mencintaimu…"

Aku meneteskan air mata bahagia dan mencium bibirnya…

Kepada pria inilah aku melabuhkan hatiku…

Dialah hidupku, dialah cintaku…

Selamanya…

.

.

.

Konniciwa minna-san… aku benar-benar patut dipersalahkan. Bagaimana bisa aku gak menyempatkan bikin chapter ini. Masalah datang lagi dan lagi. Kerjaan gak ada habisnya, mondar-mandir kesana kemari, dan tabletku rusak. Arghhhh! Sial. Padahal aslinya mau update chapter 23 di tanggal 23 Juni kemarin. Tapi nasib berkata lain. Sekarang aja baru bisa kasih chapter 22. Payaaaaah!

Tapi… gak akan kubiarkan cerita ini gak berakhir. Pasti ada endingnya kok. Haha.

Maaf ya kalau kurang greget atau gimana-gimana… tapi percayalah, aku selalu menaruh hatiku dalam setiap kata disini. Hehehe

Arigatou bangeeeet buat semuanya. Yang review, yang fav, yang baca, yang kasih saran, yang ngesupport terus… aku doakan semoga kalian semua sehat selalu dan bahagia…

I Love You all so muachhh

Chapter depan masih ada satu chapter lagi berisi Epilog.

Review please?

Mother CHANYOU