Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Fic ini semata-mata untuk kesenangan pribadi dan bagi yang senang membacanya
Absolutely No Flame, Don't Like Don't Read
Don't Like Don't Read
Once again
Don't Like Don't Read
.
.
.
"Mommy… Mom dimana?" suara nyaring Sasaki terdengar dari ruangan sebelah. Aku sedang asyik merangkai bunga di ruang hobby. Sejak 5 tahun yang lalu, aku dan suamiku pindah ke rumah utama Uchiha karena Tousan dan Kaa-san menghabiskan usia senja mereka dengan berpetualang ke luar negeri.
Aku berdiri. "Mommy disini, honey…"
Putra kecilku, yah walau gak bisa dibilang kecil lagi sih. Sasaki sudah menjelma menjadi cowok SMA keren berumur 18 tahun dengan tinggi 180 cm, rambut ungu muda yang sangat lebat dengan belahan pinggir yang ditata jabrik ke belakang, iris mata ungu tua, dan bibir tipis serta lesung pipi di sebelah kiri. Dia datang dan langsung memelukku.
"Happy birthday Mom… ahhh, I miss you so much" dia mengecup dahiku. Ahhh, dia semakin mirip dengan Sasuke-kun saja. Aku harus mendongakkan kepala untuk bisa balas mengecup dahinya. Kupandangi putraku yang sangat ganteng memakai kaos hitam merk HBA dengan jaket Supreme putih. Jeans Levi's nya sengaja dirobek-robek. Ah, masa muda…
"Mommy. Selamat bertambah tua. 40 tahun bukan usia yang menyenangkan lho" Sarada muncul di depan pintu dengan gayanya yang masih saja cuek. Gadisku yang berambut hitam legam panjang dengan belahan tengah dan volume rambut yang sengaja dia blow, membuat penampilannya seperti cewek-cewek kaya di Gangnam-Korea. Dia memakai tanktop Versace lengkap dengan jaket jeansnya, celana jeans pendek dan ankle boots kulit dari Guess. Dia memelukku dan mencium pipiku. Senyum manisnya membuat lesung pipi di sebelah kanannya muncul.
Aku memeluk mereka berdua. Bisa kurasakan mereka meresapi aroma rambutku dari ubun-ubun. Ahhh, gak ada yang bisa membuatku bahagia lebih dari ini…
.
.
.
"Kalian gak akan percaya kalau Mom dulu sangat payah dalam memasak" ucapku sambil memandangi anak-anakku makan masakanku dengan lahapnya.
Dengan pipi menggembung karena mulutnya penuh dengan pie cherry, Sasaki langsung tersedak. Sarada berhenti menyendok milk pudding buatanku dan menatapku tidak percaya.
"No Way! Tapi Mom adalah the best chef ever!" Sasaki yang logatnya kacau tercampur bahasa Inggris karena sejak SMP sekolah di Amerika terlihat sangat menggemaskan.
"Oke, tolong jelaskan. Aku bingung Mom" Sarada mengerutkan alisnya dan memandangku tajam sambil melipat kedua telapak tangannya di bawah dagu mungilnya.
"Not now, guys. Hari ini adalah hari khusus Mom dan Dad" Sasuke-kun tiba-tiba sudah berada di depan pintu. Dia melonggarkan dasinya dan berjalan menghampiri kami.
Aku memeluknya dan mengecup bibirnya. Sasuke-kun balas memeluk pundakku.
"Ahh, Daddy. I miss you" Sasaki memeluk kami berdua. "Akhirnya Dad pulang juga setelah keluyuran di Belgia selama 3 bulan" Sarada menyahut sambil memeluk kami semua. Oh Tuhan, ternyata aku masih bisa lebih bahagia lagi…
.
.
.
Aku memandangi pantulan wajahku di cermin di kamar kami. Lebih tepatnya kamar di atas cruise ship suamiku. Yah, kami merayakan ulang tahunku yang ke-40 di atas kapal ini dengan bersantai.
"Aku sudah tua…"
"Siapa bilang?" wajah stoic yang bersandar di pundakku itu menatapku melalui cermin
"Lihat saja kerutan di bawah mataku ini, Love…" aku menyentuh kantung mataku
Tangan dinginnya menyingkirkan tanganku dari wajahku, lalu meraih rahangku dan mengarahkannya ke bibirnya. Oh Tuhan… bahkan setelah bertahun-tahun menjalani hidup ini dengannya, kenapa jantungku masih saja berdebar-debar dengan keras tiap kali dia menyentuhku…
Tangan itu mulai merambah pundakku dari balik bathrobe, dan terus menjalar mencoba menarik tali bra ku.
Sasuke-kun menciumi leherku yang otomatis membuatku melenguh pelan. Kuremas rambut ravennya yang masih saja lebat dan tidak termakan usianya yang lebih tua 1 tahun dariku. Kupeluk kepalanya saat dia mulai menggigit dadaku.
Dalam sedetik dia sudah merobohkanku. Dengan lembut dia melucuti pakaianku. Aku pun membalas dengan perlakuan yang sama.
Kami menikmati sore yang sangat romantis…
.
.
.
Bulan begitu indah. Kami berlabuh dan beristirahat di resort Izu. Setelah makan malam bersama, Sasuke-kun dan Sasaki pergi entah kemana. Aku berada di kamar bersama Sarada yang tidur di pangkuanku.
"Mom…"
"Hmmm?" aku mengelus rambutnya yang sangat wangi dan lembut
"Ah, gak jadi…"
"Kenapa Honey? Ada masalah dengan cinta?" tebakku sambil tersenyum memandangnya yang melirikku malu-malu. Sungguh, wajah Sarada sangat mirip denganku kecuali iris matanya yang bagai kloning mata Sasuke-kun.
"I… Iya… ah… Mom tahu aku selalu cuek dan dingin sama anak cowok, tapi cowok ini… argh!" Sarada menggigit bibir bawahnya dan menepuk dahinya
"Cowok ini menghantui pikiranmu?"
"Jangan dibilang menghantui gitu donk, Mom… dia itu, menyebalkan. Selalu menggangguku dan mengikutiku kemapun aku pergi. Dia bahkan mau kuliah di Universitas yang sama denganku nanti. Dan yang menyebalkan lagi, aku selalu adu mulut dengannya. Image ku kan jadi kacau"
Ahh, romansa anak muda. Kuelus pipinya, "Dia menyukaimu"
"Aku gak mau sama dia"
"Kamu gak mau sama dia. Oke, kita lihat satu tahun lagi kamu jadian atau gak sama dia" aku tersenyum lebar
"Ah, Mom"
"Anak gadisku sedang jatuh cinta dan tidak menyadarinya" kucubit pipinya, "lihat Sasaki, kamu percaya? Selama di Amerika, dia sering email Mom. Kirim-kirim foto banyak anak cewek. Hhh, gak tahu deh dia dapat sifat kayak gitu dari mana. Dengan bangga dia selalu bilang kalau dia pangeran di High schoolnya, popular, paling cakep, atau apalah"
"Mom telat. Sejak SD dia sudah kayak gitu. Mom tahu kapan dan siapa first kiss Sasaki?"
Aku menaikkan alisku terkejut. "Kapan? Dimana?" aku penasaran banget
"Namanya Lily. Dia sahabatku. Kejadiannya kelas 6 SD. Lily anak blasteran. Sehari setelah mereka pacaran, kita anggap saja mereka pacaran, Lily pindah ke New York. Hahaha. Sejak saat itu dia jadi pecinta cewek. Dia terlalu patah hati dan gak mau serius lagi sama cewek"
Ahhh, aku jadi merasa sedih…
"Heh, siapa bilang. Aku udah nemu cinta sejati tahu! Dasar Sarada sok tahu" Sasaki berdiri di pintu menyandarkan satu bahunya sambil melipat tangannya di dada.
"Kemari, Dear" Sasaki menghampiriku dan tidur di sampingku. Menyandarkan kepalanya di pundakku. "Darimana saja kamu?"
"Rahasia. Hehe. Daripada itu, hei Sarada, aku udah nemuin Lily" ekspresinya serius dan menatap tajam Sarada
Sarada menoleh kaget. "Yang benar saja?! Dimana? Duh aku kangen banget sama dia"
"Disiniiiii" Sasaki mencubit keras-keras hidung Sarada sampai memerah
"SASAKI BAKA!" Sarada menarik rambut Sasaki
"Buahaha. Salah sendiri ember!"
Aduh aduh… anak-anakku… aku cuma bisa tertawa melihat tingkah mereka.
"Hei, hei, bertengkar di luar sana. Lihat Mommy. Yang satu tiduran di pahanya, yang satu sandaran di pundaknya" Sasuke-kun masuk ke kamarku
Mereka terdiam, berantakan, dan raut wajah yang menahan tawa. "Tuh si blacky who have started this fight" Sasaki menyalahkan Sarada dan menunjuk Sarada tepat di ujung hidungnya.
"Hisssh! Siapa ya yang tadi main cubit-cubit!" Sarada gak mau kalah dan menunjuk Sasaki tepat di tengah-tengah dahinya.
"Kamu sih ember!"
"Biarin. Wekkkk!"
"Sudah. Sudah. Sasaki, Sarada, kalian lupa misi kita ya?"
"Ah iya! Aku tadi kan mau panggil Mommy keluar" Sasaki menyingkirkan telunjuk Sarada dan menepuk dahinya sendiri
"Aku sukses. Aku kan cuma kudu nahan Mommy disini" Sarada menyilangkan tangannya di dada dan tersenyum miring
"Ada apa sih?" aku bingung. Persekongkolan apa yang sedang mereka lakukan?
"Mom ganti baju dulu deh…" Sarada mendorong pelan punggungku agar aku turun dari bed. "Hush, hush" dengan gerakan tangannya, Sarada mengusir Sasuke-kun dan Sasaki keluar dari kamarku.
Aku menaikkan satu alisku. Hmmmm. Aku masih bingung.
.
.
.
Aku menunggu Sakura di taman resort. Sasaki ada di sampingku. Angin pertanda datangnya musim semi berhembus melewati helaian rambut kami berdua.
"Dad…"
"Hm?"
"Bagaimana bisa cinta kalian berdua begitu kuat?"
Aku menoleh pada Sasaki. Kujawab pertanyaannya dengan senyuman, lalu kuacak rambut ungu mudanya.
"Hishh. Dad merusak suasana. Aku kan lagi serius. Duhh, rambutku berantakan deh" dia merapikan poninya ke belakang. Bocah berisik ini entah kenapa jadi mirip Sasori-nii. Aku tertawa dan menoleh ke belakang.
Cintaku datang dengan mengenakan sackdress bunga-bunga warna lilac dengan dasar warna teal dan dilapisi cardigan rajut warna krem.
"Hai" sapanya sambil memegangi satu lengannya. Wajahnya lembut dan manis. Ya ampun aku kan sudah tua, kenapa suasana ini masih sama seperti 10 tahun yang lalu, 20 tahun yang lalu, 30 tahun yang lalu…
…
…
"Daddy kok diam aja sih? Terpesona ya?" Sarada menggodaku setelah melirik ke Sakura, ke aku, ke Sakura, dan ke aku lagi.
"Aww. Sasaki! Apa-apaan sih?!" Sasaki terlihat mencubit lengan Sarada. "You ruined the mood, Sarada" walaupun Sasaki berbisik, suaranya masih terdengar oleh kami semua. kami semua pun tertawa.
"Ayo…" aku mengulurkan tanganku ke Sakura. Dia menyambutnya. Sentuhan tangannya masih membuat jantungku bergetar.
Kami melangkahkan kaki menuju heli pad. Ekspresi terkejut tidak bisa disembunyikannya. Dia menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
Aku membantunya naik helikopter, memasangkan belt, google, dan headphone.
"Mau kemana kita Sasuke-kun?"
Kuulangi kembali perlakuanku ke Sasaki tadi pada Sakura. Kujawab dengan senyum dan kuacak rambutnya. Dia memasang tampang sebal yang menggemaskan.
Aku mulai menerbangkan heli. Beberapa meter dari tanah, kami melihat Ssasaki dan Sarada yang memandang dengan muka memerah. Haha, aku sudah membuat mereka terlibat dalam rencanaku yang manis ini. Sasaki melambaikan tangannya, Sarada mencoba merapikan rambutnya yang terbang karena angin helikopterku dan memberi satu wink padaku.
.
.
.
Pemandangan laut malam hari sangat indah. Dilengkapi bulan yang memancarkan cahayanya dengan cantik. Sakura menyerah menanyakan kemana tujuan kepergian kami. Senyum tidak bisa lepas dari wajahku. Semua ini terlalu menyenangkan.
"Sasuke-kun…"
"Hm?"
"Kenapa kamu selalu tampan?"
Seandainya saat ini aku sedang minum, pasti aku menyemburkan minumanku, dan itu sama sekali gak keren.
"Jangan mengagetkanku. Nanti heli ini oleng lho"
"Oh, iya. Maaf… hehe. Tapi iya kok. Kamu selalu tampan" dia tersenyum dan memandangiku terus.
Aku gak mampu menjawab dan mulai bersiap untuk landing. Dengan muka merah tentunya.
.
.
.
"Wah. Sudah sekian tahun ya, Love…" kami memandangi villa kami di pulau pribadi. Memang sudah lebih dari 15 tahun kami belum pernah kemari lagi. Sejak tsunami menimpa Izu, villa ini sempat terbengkalai dan tidak terawat hingga hampir rusak. Tapi tahun lalu,villa ini diperbaiki dan diberi improvement. Bangunannya sekarang lebih modern dan mendekati arsitektur tropis minimalis.
"Benar. Maaf aku belum sempat memperbaiki tempat kenangan kita sampai tahun lalu. Aku merasa bersalah karena tidak memiliki waktu lebih. Tapi sekarang kamu dapat melihat kalau aku tidak ingin tempat ini hilang dari kenangan kita begitu saja" aku menggenggam tangan Sakura dan berjalan di atas pasir putih di bawah bayangan bulan.
"Indah sekali. Bahkan jauh lebih indah. Terima kasih banyak Sasuke-kun. Aku sangat bahagia…" matanya berkaca-kaca. Kugenggam tangannya lebih erat dan kami terus berjalan.
"…. Hm? Mau kemana kita Sasuke-kun?" dia memutar kepala pinknya dan menyadari bahwa kami tidak sedang berjalan menuju villa.
"You'll see…"
.
.
.
Gemericik suara air terjun kecil dan wanginya bunga-bunga liar yang cantik mengelilingi kami.
"Tentu kamu masih ingat tempat ini, kan?"
"Bagaimana aku bisa lupa?" dia memandang takjub. Ya, tempat ini adalah tempat dimana aku memiliki Sakura seutuhnya untuk pertama kali.
Tempat kami memadu kasih. Tempat kami mempercayakan jiwa dan raga satu sama lain.
Ingatanku melayang kembali ke saat itu…
Aku menggandeng tanganku selama kami melintasi hutan kecil, sungai, dan sampailah kami di sebuah air terjun kecil yang benar-benar romantis dengan bunga-bunga warna warni menghiasi sekelilingnya. Aku terus menariknya mendekati air terjun itu.
"Istriku, aku mencintaimu" wajahnya terkena sinar bulan yang sedang bercahaya dengan sempurna.
Aku terus menciuminya, sampai rasanya aku gak bisa memikirkan apapun.
Tapi aku suka. Sangat suka. Karena kami melakukannya atas nama cinta.
Mata onyxku gak pernah lepas dari wajahnya.
Sakura menoleh ke arahku dengan wajah cantiknya yang merah merona dan tersenyum manis. Kukecup pipinya dari belakang.
Bahkan cahaya bulan yang sempurna terpantul pada tubuhnya yang berkilau bening.
Aku mencintaimu. Sangat.
Aku tersadar dari lamunanku saat telapak tangan halus itu menyentuh pipiku. Kenangan yang sangat indah. Kutarik perlahan tangannya menuju telaga kecil yang kedalaman airnya hanya selutut.
Kuraih rahangnya, kupandang wajahnya yang terangkat perlahan. Usia tidak mampu memudarkan pesonamu, sayang. Mata hijau yang berkaca-kaca dari tadi akhirnya meneteskan satu butir air mata di pipinya.
"Aku sangat bersyukur karena kamulah yang menjadi belahan jiwaku. Aku mencintaimu, Sasuke-kun"
Kuusap air matanya, kukecup dahinya.
"Aku juga mencintaimu. Aku tidak akan pernah bisa hidup tanpamu. Kehilanganmu adalah hal terakhir yang kuinginkan di dunia ini"
Dia memelukku. Melingkarkan tangannya di leherku.
"Semoga di kehidupan lainnya, aku masih akan bertemu denganmu lagi…" bisiknya. Aku memejamkan mata.
Dadaku dan dadanya bersentuhan dan menyatukan irama detak jantung kami. Temponya sama. Sakura pasti sedang berdebar-debar juga. Kulingkarkan tanganku di pinggangnya. Kami menikmati keheningan yang sangat nyaman.
"Sakura…"
"Hm….."
"Terima kasih…"
Dia melepaskan pelukannya dan meletakkan tangannya di dadaku.
"Terima kasih juga…"
Aku menyentuh pipinya, mendekatkan dagunya padaku.
Dan…
Bibir kami bersatu dalam cinta.
Aku mencintai dia. Aku menyayangi dia.
Bahkan pun jika kami tidak ditakdirkan bersama, dia adalah cerita. Sebuah cerita yang terukir dalam mimpi-mimpiku. Dan jika bisa, aku ingin menghabiskan sisa hidupku hanya bersamanya.
Karena cinta, bukanlah sesuatu yang bisa dipahami. Hanya bisa dirasakan saat dua hati saling memercikkan api-api dan kemilau kehangatan.
Karena cinta, sangat jahat. Tidak mengenal siapa dia. Tidak mengenal dimensi. Tidak mengenal fasad.
Karena cinta, adalah imajinasi yang terwujud. Adalah cahaya, embun, dan sayap-sayap rasa.
Karena cinta, memang melengkapi segalanya.
Cinta kami adalah abadi.
Cinta kami tidak akan mati.
Selamanya…
I Will Always Love You Forever
-o-O-FIN-O-o-
.
.
.
Selesai…
Hehehe… Akhirnya begini deh… minna-san yang sangat kusayangi dan sangat berharga… terima kasih banyak atas perjalanan yang meyenangkan ini… mohon maaf karena (sangat) banyak kekurangan dan cela di cerita ini…
Dukungan, saran, dan semangat tanpa henti dari kalianlah yang membuatku bisa bertahan… hehehe.
I Love You… I Will Always Love You Forever…
Well, next fic mungkin tentang EXO. Adakah disini yang mencintai EXO? Karena fic selanjutnya adalah long one-shot story tentang Chanyeol. Hihihi.
With Love,
Mother CHANYOU
