Vocaloid © Yamaha. No commercial profit taken.

Warning cliché. Kesamaan ide harap dimaklumi.


loner

by devsky

02 reject


Seorang tukang gencet yang tidak punya otak dan mengesalkan; adalah impresi pertama Yuuma terhadap Park SeeWoo.

Cengiran jelek, plester di hidung, serta rambut ikal acak-acakan yang selalu menempel di diri SeeWoo adalah referensi Yuuma dalam menilai anak itu. Penilaian ini pula yang menjadi alasan mengapa Yuuma sampai membuat catatan mental untuk menjauh dari anak tersebut.

Tapi kebetulan saja, di tahun keempat, nama Yuuma tercantum dalam kelas yang sama dengan SeeWoo. Kebetulan saja, dia duduk di samping SeeWoo. Dan kebetulan saja, Yuuma melihat SeeWoo menatap takjub ke arahnya setelah ia berhasil mengerjakan soal matematika dari pak guru.

Hidup penuh dengan kebetulan dan Yuuma membencinya.

Karena kebetulan tidak dapat diprediksi. Kebetulan mengacaukan kalkulasi. Kebetulan menimbulkan apa yang telah Yuuma susun sejak awal jadi berantakan dan tak akan pernah rapi lagi. Dalam kasus ini, kebetulan telah membuat SeeWoo, yang seharusnya mengabaikan presensinya, jadi memasang mata ke arahnya.

Sial.

"Hei, hei, Yuuma. Kau pintar sekali!" SeeWoo menarik kursi, duduk di samping meja Yuuma.

Jam istirahat telah berdering siang itu. Sebagian anak berkumpul bersama teman-temannya di kelas. Sebagian besar lain menyebar ke seluruh penjuru sekolah.

Yuuma, seperti biasa, tetap duduk di bangkunya. Menundukkan pandangan. Memfokuskan diri pada deretan kata dalam text-book.

"Bagaimana kau melakukannya? Itu bahkan belum diajarkan!" Masih SeeWoo yang bicara. Masih dengan nada takjub yang sama. Masih menyebalkan di telinga Yuuma. "Kautahu, aku saja tidak mungkin bisa mengerjakannya. Tapi kau bisa! Hebat sekali! Apa kau lihat wajah Pak Guru tadi? Dia kaget! Wow. Kau percaya itu?"

Fokus. Fokus, Yuuma. Fokus. Abaikan dia dan baca saja buku bahasa Inggrismu. Pelajari dengan baik dan teliti.

"Ternyata kabar yang kudengar benar. Kau brilian! Ah, aku senang sekali bisa sekelas dengan anak pintar sepertimu."

Terus pertahankan fokusmu, Yuuma. To-be untuk I adalah am; you, they, dan we adalah are; he, she, dan it adalah is. Jangan terbalik. Jangan pernah.

"Hei, hei, Yuuma! Ayo, kita berteman—"

"Tidak."