iamjustlol proudly present

.

"It's Wrong"

.

Casts:

Kim Seokjin

Kim Taehyung

Kim Jongdae

Kim Minseok

Increase depending to the story

.

Rated: M

.

Genre: Family, Romance, Comedy?

.

Chapter 2

.

Disclaimer: theirselves, their families, Bighit entertainment, God

.

Warnings: Incest, Yaoi/BL/Shounen-Ai

.

Don't bash the story, casts, or me. This is a fanfic for Chia eonni, sorry for the late update: (((

.

Let's read!

.

.

.

"Ehmm—maksud TaeTae tidak bisa… sekarang! Seokjin hyung juga sebentar lagi ujian, kan hyung? Jadi maksud TaeTae tidak bisa sekarang! Kasihan nanti kalau misalnya Seokjin hyung terpilih lalu hyung harus kuliah sambil menjadi trainee, kalau Seokjin hyung stress dan pingsan begitu saja bagaimana?" ucap Taehyung, berusaha memutar otaknya.

"Ah," ucap Jongdae dan Minseok bersamaan, melanjutkan aktivitas makan malam mereka. Sedangkan Seokjin? Tanpa Taehyung menoleh pun ia sudah tahu bahwa hyung-nya sedang berusaha keras menahan tawanya.

.

.

.

"Appa, besok aku mau diantar Seokjin hyung, ya?" tanya Taehyung sembari menghabiskan buah apel yang berada di tangannya.

"Wae?" sahut Jongdae yang menatap layar laptop-nya. "Kau dihipnotis hyung-mu ya?"

Minseok yang sedang mencuci piring menahan tawanya sedikit. "Tidak, yeobo. Mungkin ia ingin seluruh siswa di sekolahnya tahu bahwa ia memiliki hyung yang tampan. Selama ini, kan, hanya kau yang pernah ke sekolahnya."

"Kalau begitu kenapa tidak kau saja, hm?"

"Kalau ada siswa yang tampan bagaimana, hm?"

"Arra, arra," jawab Jongdae sedikit berdecak. Seokjin turun dari lantai atas dan mendudukkan dirinya di sebelah ayahnya, menyalakan TV. "Seokjin-ah, mungkin akhirnya adikmu menyadari ketampananmu. Ia minta kau antar besok?"

Seokjin tersenyum. "Aigoo, me and my handsomeness," jawabnya yang dihadiahi sebuah jari yang mendorong kepalanya—jari Jongdae.

"Aigoo, you and your over-confident-ness," sahut Minseok.

"That word doesn't even exist!" jawab Seokjin.

"Lupakan," kata Minseok, akhirnya. "Besok kau tidak ada kuliah pagi, kan? Antar adikmu sana, tumben-tumbenan ia tidak merengek untuk diantar ayahnya saja."

"Mungkin ia akhirnya dapat membuka hatinya kepada hyung-nya yang tampan dan yang selalu memanjakannya."

Sudah lama, sih, pikir Seokjin. "Apanya memanjakan?"

"Aigoo, you and your stupidness," jawab Jongdae, menatap Seokjin. "TaeTae disuruh membuat makalah? Sini hyung carikan materinya; jangan seperti itu, TaeTae, nanti jarimu berdarah!; TaeTae mau makan dimana? Ayo hyung antar; TaeTae sudah selesai menggambarnya? Sini hyung yang mewarnai." Jongdae mengikuti segala nada dan ekspresi yang Seokjin tunjukkan saat mengatakan hal tersebut kepada Taehyung.

"Seperti ini tidak kau bilang memanjakan?" lanjut Minseok. "Makanya sampai-sampai tadi dia menangis hanya karena kami bilang bahwa kau tidak ingin membantunya mengerjakan pr lagi."

Taehyung berdiri dari duduknya dan duduk di sebelah Seokjin. "Ani, itu tidak dimanjakan."

"Eomma, appa, bagaimana bisa aku tidak memperlakukannya seperti itu saat ia mengerjakan apapun ia terlihat sangat bodoh yang berarti bodoh dalam artian imut yang berarti dia terlihat seperti perempuan yang bodoh dan imut dan kenyataannya dia memang adikku sendiri, jadi, well…"

Jongdae dan Minseok menatap Seokjin bersamaan lalu tertawa. "Akhirnya kau mengatakannya Seokjin! Dari dulu sudah kubilang adikmu ini tampannya malah menuju ke cantik!" kata Minseok, masih tertawa.

Taehyung memanyunkan bibirnya lalu berdiri dari duduknya lagi. Apel yang berada di tangannya baru tiga perempat habis—sehingga masih ada seperempat bagiannya—ia memberikannya ke hyung-nya.

"Wae?" tanya Seokjin.

"Makan ini," kata Taehyung. "Siapa tahu air liurku yang sudah bercampur dengan air dari apel ini menjadi racun."

Dan Seokjin, Jongdae, dan Minseok tertawa lagi. Anak sulung keluarga tersebut juga langsung menggigit apel pemberian adiknya dan langsung menghabiskannya, memberikannya senyuman renyah.

Sebenarnya Taehyung kesal. Bukan kesal karena ia ditertawakan begitu—itu sudah sering. Tapi karena hyung-nya yang dengan mudahnya menggigit apel itu padahal gusinya sejak tadi kesakitan saat menggigit buah tersebut. Haruskah aku ke dokter gigi? pikirnya saat menaiki tangga masih dengan tawa keluarganya.

.

.

.

"Tae? Kau tidak sekolah hari ini?"

"…"

"Ya! Kim Taehyung!"

"…"

Diguncangnya tubuh mungil itu.

"Ah, wae?!"

"Kau bilang mau hyung antar! Mau tidak? Kalau tidak hyung tidur lagi!"

Mata Taehyung sontak terbuka. "Ani, ani, hyung! Aku bangun, ya, aku bangun!" Ia mendudukkan dirinya di sisi tempat tidurnya. "Sekarang jam berapa?"

"Sekarang? Jam 7:45 kalau tidak salah."

"YA! HYUNG BODOH! KENAPA BARU MEMBANGUNKANKU JAM SEGINI?!"

.

.

.

"Eomma, aku berangkat sekarang, ya. Nanti aku ada janji dengan temanku jadi aku baru bisa pulang sekitar pukul 8 nanti," kata Seokjin.

"Arra, arra. Berkendara dengan aman, hm?"

Seokjin mengangguk. Ia menoleh ke ayahnya yang sedang mencoba memakai dasi. "Appa," panggilnya lalu menundukkan kepalanya.

"Ya, ya, pergilah."

Anak sulung tersebut tersenyum "Ah, eomma, sepertinya appa butuh bantuan," katanya dan Minseok langsung berjalan menuju Jongdae dan memakaikan dasi pada suaminya tersebut. "Taehyung-ah! Kalau kau tidak turun pada hitungan ke lima hyung langsung berangkat ya!"

"NE AKU SUDAH MAU TURUN HYUNG!"

"Satu."

Terdengar suara orang berlari.

"Dua."

Terdengar seperti suara saat handphone jatuh.

"Tiga."

Terdengar suara orang yang oleng.

"Empat."

Terdengar langkah kaki yang menuruni tangga dengan terburu-buru.

"Lima."

"Hyung, aku sudah siap!" kata Taehyung. "Eomma, appa, aku berangkat dulu, ya," katanya lalu mencium pipi kedua orangtuanya sebelum berlari dengan membawa sepatunya di tangan kirinya dan dasi yang tersampir di bahu kirinya menuju mobil hyung-nya.

.

.

.

Seokjin menyetir mobil Audi i8-nya dengan kecepatan yang bisa dibilang cepat, namun ia menyetirnya dengan sangat santai. Ia sesekali bernyanyi lagu-lagu kesukaannya—walaupun tidak sampai habis.

Sementara itu, adiknya kesusahan memakai dasi. Bukannya tidak bisa, hanya saja ia sedang tidak bisa berpikir apapun karena biasanya ia tidak bangun kesiangan dan terburu-buru seperti ini.

"Tae," panggil kakaknya.

"Mwo?!" jawab Taehyung kesal karena masih tidak bisa memakai dasinya.

Seokjin malah terkekeh. "Kenapa, hm? Tidak bisa memakai dasi?"

"Hyung diam saja," kata Taehyung, berdecak.

"Ah," ucap Seokjin. "Kau tidak memakai eyeliner-mu ya hari ini?"

Taehyung menggeleng pelan, menatap sisi kanan—tampan—Seokjin yang sedang menyetir.

"Kenapa, hm?"

"Aku malas, hyung. Tadi aku juga buru-buru."

"Kau mau semua siswa di sekolahmu cinta padamu begitu? Kau ingin membuat mereka cinta mati padamu?"

"Please, you're overreacting," jawab Taehyung, memutar bola matanya.

"Tapi, Tae—"

"Hyung," potong Taehyung. "Hyung sadar tidak, sih, setiap kali aku ke sekolah memakai eyeliner pasti siswi-siswi itu akan mendekatiku dan memberiku makanan dan segalanya? Aku tidak suka hal itu, hyung. Makanya aku ingin mencoba ke sekolah tanpa eyeliner-ku."

"Jadi kau lebih ingin siswa-siswa yang mendekatimu?" tanya Seokjin.

"Hah?"

Seokjin menoleh sebentar untuk melihat ekspresi Taehyung yang—sangat—kebingungan. "Kau ingat tidak, sih, saat kau kelas 2 SMP dan hyung belum menyuruhmu untuk memakai eyeliner? Kakak kelasmu semua mengajakmu duduk bersama mereka di kantin, adik kelasmu semua minta kau ajarkan mata pelajaran yang terang-terangan mereka sudah mengerti, dan teman seangkatanmu selalu menjadi bodyguard-mu? Ah, dan kau ingat temanmu itu, siapa? Kim Mingi? Kim Myungi?"

"Kim Mingyu, hyung."

"Iya, dia. Dia pernah ke rumah kita dan memperkenalkan dirinya sebagai pendamping hidupmu pada eomma dan appa. Kau tidak lihat betapa terkejutnya kami saat itu. Dan kalau saja aku tidak memanggilmu untuk pulang saat kau di taman dengannya, sudah dapat kupastikan ia akan mencium bibirmu," jawab Seokjin. "Lebih baik bagiku kau dikerubungi perempuan daripada laki-laki seperti dulu, TaeTae."

Taehyung mengangguk pelan sebelum mengerucutkan bibirnya. Ia bahkan melupakan dasinya yang belum terpasang.

Tak lama kemudian, mobil Seokjin memasuki kawasan sekolah Taehyung. Ia memakirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk. Ia melepas safety belt-nya lalu merogoh laci dibawah dashboard-nya. Ia lalu mengeluarkan sebuah eyeliner tidak lama kemudian.

"Hyunggg~" rengek Taehyung.

"Diam, Tae. Kau sudah mendengar alasanku."

Lalu sang adik cemberut lagi. Seokjin memegang dagu Taehyung untuk menghadapnya dan memakaikan eyeliner pada kedua kelopak mata Taehyung dengan sangat terampil. Lalu, ia memasangkan dasi Taehyung dengan cepat dan rapih.

"Terima kasih, hyung!" kata Taehyung, menyampirkan tas sekolahnya ke bahu kanannya, hendak membuka pintu.

Namun, Seokjin menarik dasi Taehyung dan mencium bibir adiknya tersebut. Awalnya ia berniat untuk sedikit menggoda adiknya, namun, di luar perkiraannya, bibir adiknya malah langsung beraksi, membuat nafsu Seokjin terpancing. Ia dengan cepat melumat bibir tipis, menjilati mulut, dan menggigit-gigit bibir bawah adiknya.

"Hyungghh~" desah Taehyung.

Seokjin melepaskan ciumannya. "Pergilah. Aku akan menjemputmu jika bisa nanti."

Taehyung mengangguk dengan pangling sebelum membuka pintu dan keluar dari mobil hyung-nya. Dan ia langsung disambut dengan teriakan para siswi. Oh yang benar saja.

Sang kakak menyalakan mesin mobilnya lagi dan membuka kaca mobilnya. "Sampai bertemu nanti, Taehyung-ah!"

Seakan-akan memiliki kepribadian lain jika dipakaikan eyeliner, Taehyung hanya mengangguk dan melambaikan tangannya pada Seokjin sebelum kembali berjalan.

Seokjin terkekeh sebelum memutar setirnya, keluar dari sekolah Taehyung dan menuju ke kampusnya. "Aigoo lucunya," gumamnya.

.

.

.

"Kau mengerti, Yoongi?"

Lelaki mungil berambut blonde itu menggelengkan kepalanya, mengerucutkan bibirnya sedikit. "Kau sialan sekali, sih, Seokjin. Bisa mengerti ini hanya dengan satu kali pertemuan."

"Itu namanya belajar di rumah, bodoh," jawab Seokjin.

Seokjin tengah berada di kamar tidur salah satu sahabatnya, Namjoon. Meskipun kamarnya lebih kecil dari kamarnya, itu malah mempersempit karena dua orang temannya juga datang, Yoongi dan Hoseok.

Hoseok yang—sedikit—lebih pintar daripada Yoongi sudah mengerti sejak Namjoon menjelaskan untuk kesepuluh kalinya, sedangkan Yoongi masih belum mengerti meskipun ini sudah hampir ketigapuluh kalinya Seokjin mengajarinya dengan soal yang berbeda.

Seokjin menghela napas, berdiri dan berjalan menuju Namjoon yang sedang berkutat dengan laptop-nya.

"Namjoon-ah."

"Wae?"

"Koleksi majalah pornomu dimana?"

Namjoon langsung menatap sahabatnya itu dengan mata terbuka lebar. "HAH?"

"Tsk, jangan jaim. Cepat mana?"

"Tidak ada, Kim Seokjin."

"Heh," decih Seokjin. "Aku tahu kau sudah mengumpulkan majalah-majalah begitu sejak aku ke kamarmu pertama kali kelas 2 SMP—"

"ARRA!" jawab Namjoon, berteriak. "Ada di bawah tempat tidurku."

Seokjin tersenyum. "Klasik. Thanks, bro."

Tidak menghiraukan ocehan Namjoon, Seokjin berjalan ke tempat tidurnya dan merogoh di kolong tempat tidur lalu mengambil dua buku yang terlihat lebih menarik—karena terlihat baru dibuka tadi malam. Seleranya sudah berganti menjadi maniak adiknya.

"Yoongi-ya," panggilnya.

"Hm?" jawab Yoongi malas yang mencoba menjawab soal yang diberikan Seokjin dengan bertumpu pada sikunya.

Seokjin mendudukkan dirinya di depan Yoongi lagi sebelum membolak-balik majalah terlarang itu, dan akhirnya menemukan satu foto dimana seorang cewek tengah membuka lebar kakinya, memperlihatkan apa yang berada di pangkal pahanya.

"Kita sebut saja wanita kurang bahan ini sebagai x," katanya, lalu mencari di majalah satunya dan menemukan wanita yang memakai lingerie dengan puting yang mengeras dan celana dalam yang basah yang tercetak jelas. "Dan wanita ini sebagai y."

Yoongi yang awalnya terlihat malas-malasan, sekarang terlihat jelas bahwa matanya berkilat terangsang. "L-lalu?"

"Kalau kita menambahkan wanita x dengan wanita y maka?"

"Tidak berbeda."

"Tepat," jawab Seokjin lalu memutar bola matanya perlahan. "Kalau kita kalikan?"

"Jadi threesome."

"Min Yoongi."

"Jadi wanita xy maksudku."

"Akhirnya," kata Seokjin, menaruh majalah-majalah itu kembali. "Ini pelajaran SD, Yoongi. Bagaimana kau bahkan bisa lulus SMP?"

Yoongi menatap temannya itu. "Aku tidak memiliki ingatan sehebat kau, sialan."

"Ya, ya, whatever. Dan kau juga hanya bisa mengerti kalau disambung-sambungkan dengan hal porno seperti itu? Kau tidak jauh beda dari Kim Namjoon dulu."

"KIM SEOKJIN DASAR PEMBUKA AIB ORANG!"

Seokjin hanya memutar bola matanya lagi lalu ponselnya berbunyi. "Halo?"

"Hyung~!"

Ia sontak tersenyum saat mendengar suara manja itu. "Ada apa? Kau sudah pulang, hm?"

"Sudaaahh~ hyung belum selesai ya sama teman hyung?"

"Tidak apa, hyung bisa langsung pergi," jawabnya, berdiri dan berjalan perlahan untuk mengambil tas dan kunci mobilnya. "Kau masih di sekolah?"

"Iya, tadi Jimin mengajakku pulang, tapi aku ingat hyung akan menjemput jadi—" Tapi ucapan Taehyung terpotong.

"A-aaahhhh! Kim Seokjin! Di-disana!" desah Hoseok tak karuan.

"Nnngghhh! Seokjin! Jangan disitu! Aku sensitif! Aaahhh!" diikuti dengan desahan Yoongi yang lebih menjijikkan.

"Seokjin I'm cumming! Oohhh kau hebat sekali sayang—ngghh!" dan terakhir ditutup dengan teriakan Namjoon.

"Akh! Apa-apaan?!" teriak Seokjin kesal karena mereka mengeluarkan suara menjijikkan itu dengan volume yang cukup kencang sehingga Taehyung mungkin bisa mendengarnya, meskipun dalam volume yang kecil. "Tae? Hyung kesana sekarang juga, ya?"

"H-hyung…" Taehyung menjawab dengan nada berbisik. "Aniya, aku dipanggil ketua tim. Hyung jangan mencoba-coba datang ke sekohiks."

"Tae? Halo? HALO?" namun teleponnya terputus. Seokjin mencoba menelepon lagi namun sepertinya ponsel Taehyung sudah dimatikan. Ia akhirnya berbalik, menatap ketiga sahabatnya yang sedang tertawa girang melihat ia yang panik.

"KALIAN!"

TBC!

Sudah satu tahun dua bulan-an astaga terhura sekali hati ini;;;; maaf ini kesannya kepaksa banget ya? Yang nungguin juga maaf banget tiap kali baca PM atau comment yang nanya "ini kapan update?" "udah setahun lho" keknya waktu cepet banget pindah padahal sih engga begitu hehe:D

Jadinya author mau fix rajin nih. Kesannya sombong banget udah banyak yang mau baca dan comment dan fav dan follow tapi tiap mau update harus nunggu lama banget;;;; jadi kalau kalian baik sama author, ingetin yaa hehe lewat PM atau kalau mau kenalan lewat line minta di PM aja yaa!

Last, mind to review?

Love,

Me