Chapter 2: Takdir itu lah yang membuatku jatuh cinta dan terluka

Cast:

Min Yoongi (Female)

Park Jimin (Male)

Jeon Jungkook (Female)

Kim Taehyung (Male)

Jung Hoseok (Female)

Kim Namjoon (Female)

Kim Seokjin (Female)

Hai... aku balik lagi dengan segala penyesalan karena buat pembaca bingung. Makasih yang udah baca dan udah review chap1 yang aslinya gagal total , jelek gajelas, dan ada kalimat yang pasti ga kalian ngerti. Karena cerita awal ini Yoongi jadi cowo. Tapi setelah berguru alias berdikusi sama temen aku. Jadi Yoongi dijadi cewe aja gajadi cowo. Mungkin karena ke Amatiran aku yang amat sangat disayangkan ga teliti pas ganti gender ini. Ada kalikat yang aku lupa buat ubah cerita yang pas Yoongi jadi cowo.

Mian everybody :'(

Dan makasih yang udah review meskipun sedikit.

Tapi kalian amat sangat membantu aku buat jadi lebih baik lagi *lebay bin alay*

.

.

.

.

Hari ini adalah hari kelima setelah hari dimana aku mengenalkan diri secara langsung sebagai dokter yang bertanggung jawab kepadamu. Aku liat keadaanmu terus membaik. Bahkan sekarang kau sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit dibantu oleh orang-orang atau keluarga yang menjagamu. Aku merasa senang sekaligus merasa perasaan yang aneh. Perasaan yang merasa sedikit lagi aku tak bisa melihatmu, merawatmu, dan melihat senyum manismu lagi.

"Waah, ku liat perkembang kondisimu semakin membaik yah Tuan Park." Ucapku dengan senyum yang sengaja aku buat.

"Ya, Terima Kasih dok. Ini semuakan berkat dokter yang sudah merawatku dengan baik." Ucapnya ramah dengan sesekali mencoba untuk sedikit berjalan.

"Ani,, kau lah yang berusaha ingin cepat sembuh dan terus selalu ingin mengetahui kondisimu. Dan sekarang aku bisa melihat usahamu. Dan Tuan Park kau sangat bersemangat sekali. Pasti karena kau tau sebentar lagi kau dapat pulang kerumah. Tapi ingat kau tetap tidak boleh terlalu lelah dan juga harus selalu mengontrol keadaanmu." Aku mengucapkan kalimat terakhir menjadi sedikit senang. Mungkin karena aku menyuruhnya harus tetap kontrol keadaannya. Agar aku masih bisa melihatnya.

"Ah.. dokter Min bisa saja. Aku memang selalu semangat setiap harinya meskipun sebelum terjadi kecelakaan ini. Dan bisa kah kau memanggilku Jimin saja? Kurasa umurmu dan umurku tidak jauh berbeda. Lagi pula kita sudah sedikit saling mengenal dan ini sudah hari satu minggu lebih kau merawatku." Dengan senyum manisnya aku bisa melihat memang dia adalah orang yang ceria.

Mungkin karena dia seperti ini makanya banyak sekali orang yang menjenguk dan memberikan karangan bunga didepan rumah sakit ini yang bertuliskan "semoga lekas sembuh" dan sebagainya.

"Ah.. Arra baik lah Tuan Par.. emm maksudku Jimin." Sedikit aku mendengar jimin sedikit terkekeh mendengar perkataan ku.

"Dan bolehkah aku memanggil mu Yoongi? Dan apa aku boleh minta nomer tlp mu?"."Ahh jangan salah paham itu agar aku tidak terlalu canggung memanggilmu seperti itu. Dan untuk nomermu itu... emmm.. untuk mungkin saja suatu saat aku sedang tidak bisa kerumah sakit. Aku harap kau mau kerumahku untuk memeriksakan kondisiku." Dia agak sedikit ragu-ragu. Dan aku merasa aku dapat melihat sedikit kemerahan dikedua pipinya. Mungkin dia malu atau apa.

'Apa dia bilang apa? Dia bilang ingin memanggil nama belakangku saja? Dan apa aku tidak salah dengar dia meminta nomerku. Meskipun hanya untuk dapat mengontrol perkembangannya. Ahh perasaan apa ini?' aku berperang didalam batinku dan merasa kaget. Apa benar seorang Park Jimin pasiennya yang baru dikenalnya beberapa hari lalu mengucapkan kata-kata yang membuat jantungku tak karuan.

"Hmm.. baiklah tidak apa jimin. Kau dapat memanggilku atau diluar kau bisa memanggilku Yoongi saja. Dan untuk nomerku. Baiklah jika memang untuk tujuan seperti itu akan aku berikan nomerku." Aku sebenarnya senang-senang saja meski dia meminta nomerku untuk berhubungan lebih lanjut denganku. Bahkan tanpa sadar aku sudah memberikan kartu namaku kepadanya.

"hmmm.. terima kasih . dan maaf jika selama aku disini merepotkan mu." Dia memberikan senyum yang membuatku gila lagi. Dengan cepat aku membalas senyum nya lalu langsung berpamitan kepadanya. Karena jujur saja aku tidak tahan dengan jantungku yang sedikit aneh belakangan ini.

Drrrrrtt...

Baru saja beberapa langkah aku keluar dari ruang rawatnya. Aku merasa Smartphone kesayangan ku bergetar.

From: 0342xxxxxxxx

Hi...

ini nomerku. Dan bisakah kau langsung menyimpan nomerku! Agar aku tidak merasa sedikit malu karena sudah meminta nomermu dan mengirim sms kepadamu.

Park Jimin

To: Park Jimin

Oh ternyata kau jimin. Baiklah akan ku simpan. Dan tidak perlu seperti itu aku juga tidak keberatan atau merasa terganggu kau mengirim sms kepadaku.

From: Park Jimin

Ahhh kau baik sekali .

Engh... maksudku Yoongi hehe ^_^

"Mwooooo... Dia memberikan aku emotic seperti ini? Apa aku sudah gila? Hanya seperti ini aku merasa jantungku seperti ini lagi?" aku agak sedikit terkejut melihat sms terakhir yang jimin kirimkan kepadaku. Dan tanpa sadar suster hobie bertanya kepadaku.

"Apa kau tak apa ?"

"ahh tidak aku baik-baik saja. Sepertinya belakangan ini kau sering bertanya seperti itu yah suster hobie." Sambil tersenyum jahil aku mengejarnya.

Jimin POV

"ah aku pikir aku sedikit berlebihan memberikan emotic seperti itu. Dan bahkan ini pertama kalinya aku mengirim sms kepadanya dan langsung memberikan emotic pada seseorang. Ada apa denganku?" aku berbicara sendiri sambil melihat ponsel pintar yang aku pegang ini.

5 menit...

15menit...

"ah apa marah kepadaku setelah membaca sms ku yang terakhir yah? Apa aku tidak sopan memberikan emotic seperti itu? Apa dia sedang sibuk sampai tidak dapat membalas smsku yah?" lagi-lagi aku merasa bingung pada diriku sendiri.

'apa yang sebenarnya terjadi yah? Kenapa aku berani sekali meminta nomernya? Kenapa bahkan aku merasa malu untuk memanggil nya Yoongi yah? Apa aku tidak sopan baru beberapa hari kenal dengannya malah sudah meminta nomernya? Ah jimin ada apa denganmu' batinku.

Entah sejak kapan aku menjadi seperti ini. Dan agak sedikit aneh karena sebagai Park Jimin yang cool dan selalu digemarin dan didekati oleh wanita. Baru pertama kali meminta nomer wanita dan merasa malu dengan kelakuannya sendiri.

Jimin POV end

Setelah Yoongi mengejar suster Seok hingga sampai keruangannya sendiri. Yoongi duduk dan melihat smartphone kesayangannya itu dengan terus tersenyum kegirangan. Dan Jimin yang merasa aneh pada dirinya sendiri kenapa seorang laki-laki sepertinya bisa merasa seperti ini.

.

.

.

Sudah 2hari berlalu Jimin dan Yoongi terus bertukar pesan. Dan mereka merasa semakin lebih dekat. Sampai suatu siang jimin mendapat tamu sebelum kunjungan dokter keruang rawatnya.

"Jimin oppa..." ada perempuan berambut panjang putih dan bergigi kelinci yang tiba-tiba memanggil Jimin dan langsung memeluknya erat.

"Kookie? Sejak kapan kau berada diSeoul? Bukan kah kau sedang berada diParis untuk acara Fashion Week?" Jimin pun sedikit menarik wanita itu dari pelukannya untuk melihat wajah wanita itu.

"Ahh oppa... aku mendengar berita kecelakaanmu dari kekasihnya bambam kemarin. Dan untungnya acara itu sudah selesai. Jadi aku segera ambil penerbangan secepatnya. Aku merasa khawatir denganmu. Aku juga sangat merindukan mu oppa. Apa oppa tidak merindukan ku?" ucap wanita itu yang ternyata kekasih Jimin semenjak 1bulan lalu.

"Hmm jadi seperti itu. Aku sudah membaik kookie sayang dan kau tidak perlu mengkhawatirkan ku. Rindu? Ahhh kau tau aku bahkan tidak fokus mengendarai mobilku karena saking merindukanmu hingga terjadi seperti ini." Balas jimin sambil mencium pucuk kepala kekasihnya itu dan memegangi tangan kekasinya.

Tanpa sadar Sudah sejak 5menit yang lalu Yoongi melihat mereka. Dan sekarang dia merasa panas melihatnya dan bahkan mengutuk dirinya sendiri karena sudah bodoh merasa kalo jimin menyukainya karena sudah 3hari belakangan ini mereka saling bertukar pesan. Bahkan sepasangan kekasih yang sedang melepas rindu itu benar-benar tidak sadar dengan kehadirannya.

"Ekhemm... maaf mengganggu kalian. Aku kesini ingin mengecek kondisi Ji.. oh maksudku Tuan Park." Dengan agak sedikit berdeham Yoongi menyadarkan sepasang kekasih itu dengan kehadirannya.

"o-oh iya tidak apa-apa Yoongi.. eh maksudku ." bahkan jimin kaget dan segera melepas tangan sang kekasih yang sedari tadi dia genggam.

"Ah annyeong dokter maaf kami tidak sadar kau ada disini. Oh silahkan jika kau ingin memeriksa kekasihku yang manja ini" ucap sang gadis yang seperti nya dia seorang model menurut Yoongi. Karena make up dan pakaian gadis itu yang sedikit mencolok.

'apakah ada event didekat sini? Kenapa perempuan ini terlihat seperti habis show yah? Dan cantiknya kekasih jimin. Ah bodoh kau yoongi sudah tidak tau diri sekali! Ingat Yoongi kau tidak ada apa-apanya dibandingkan dia!" batin Yoongi sambil memeriksakan keadaan jimin.

Dan setelah dipersilahkan untuk memeriksa Jimin. Yoongi pun mulat mengecek dari tanda-tanda vital jimin kepala jimin dan luka operasi. Dan mungkin Yoongi tidak sadar karena berperang dengan batinnya sendiri. Sudah ada sepasang mata yang entah sejak kapan terus memperhatikan gerak gerik dan raut wajah kebingungan Yoongi. Bahkan 2 mata itu ingin memastikan apa Yoongi tidak apa-apa.

"Ah kau sudah benar-benar sembuh Tuan Park. Sepertinya sore ini juga kau sudah boleh pulang." Ucap Yoongi sambil terus memaksakan untuk tetap tenang.

"Ahh bagus sekali. Oppa, aku akan mengantarmu kerumahmu. Tapi apakah ada dan dirumah? Jika tidak ada aku ingin sekali menemanimu oppa." Ucap jungkook sambil terlihat ada ketakutan diraut wajahnya.

Sepertinya kekasih jimin merasa takut terhadap kedua orangtua Jimin. Dan memangnya apa yang terjadi antara wanita itu dengan keluarga jimin? Dan denga cepat jimin menjawab pertanyaan kekasihnya itu.

"Baiklah jika kau ingin mengantarku. Tapi ayah dan ibu sedang ada dirumah. Sepertinya kau tidak bisa menemaniku kookie sayang. Tapi tidak apa karena kita kan masih bisa melepas rindu disini. Dan kalo nanti kita pulang. Bagaimana kita mampir keCafe taehyung untuk sekalian bertemu dengannya." Ucap jimin menengangkan kekasihnya. Dan sepertinya Jimin juga tidak ingin jika jungkook kerumahnya.

"Yeeeey oppa aku sangat senang sekali. Kita akan bertemu taetae hyung disana. Aku juga sangat rindu padanya dan juga minuman buatannya." Gadis itu kembali memeluk jimin dengan senyum kegembiraannya.

Dan tanpa sadar jimin melihat kearah Yoongi. Jimin pun terlihat sedikit khawatir pada Yoongi. Entah apa yang sedang jimin pikirkan. Tapi jimin merasa kalo Yoongi terlihat tidak baik-baik saja melihatnya bersama kekasihnya.

"ah baiklah sebaiknya aku pergi. Annyeong"

"ah iya dokter terima kasih sudah merawat kekasihku selama aku tidak ada. Anyyeong."

Yoongi pun tersenyum lalu pergi meninggalkan sepasang kekasih itu. Dan tanpa sadar lagi-lagi suster Seok melihatnya dengan kebingungan.

"Apa kau sedang sakit ? kenapa wajahmu pucat?" tanya suster Seok karena khawatir kepada calon dokter disampingnya ini.

"Ah aku tidak kenapa-kenapa suster Seok. Tapi sepertinya aku kelelahan. Aku akan minta ijin lalu pulang ." ucap Yoongi denga lesu.

"Ah tidak usah biar aku saja yang bilang kepada kepala ruangan. Kau bisa langsung ambil barangmu diruangan lalu pulang dan beristirahat lah." Ucap suster Seok dengan cepat sambil tersenyum manis.

Tak lama kemudian Yoongi sudah sampai didepan ruangannya dan segera merapihkan barang-barangnya dan sedikit dibantu oleh suster Seok.

"ah terima kasih eonni aku sangat merepotkanmu. Kau baik sekali kepadaku."

"sama-sama kau juga baik kepadaku. Ramah kepadaku jadi aku bahkan menganggapmu sebagai adikku disini." Sambil tersenyum suster Seok meninggalkan Yoongi yang sudah siap pulang kerumah.

"Yoongi-ah"

Baru yoongi mau menghentikan taxi. Ada laki-laki yang memanggilnya. Dan ternyata itu adalah taehyung yang baru keluar dari mobilnya.

"ah hyungie ada apa? Kenapa kau kesini? Apa ada yang sakit?"

"ne.. temanku sakit dan dirawat disini. Dan ada apa denganmu ibu dokter yang cantik. Kenapa mukamu terlihat pucat?" laki-laki itu pun meletakkan punggung tangannya kekepala Yoongi.

"Kau hangat Yoongi. Bagaimana dokter sepertimu bisa sakit? Kajja.. biar aku antar kau pulang."

"tidak usah repot-repot kau kan mau menjenguk temanmu disini. Kenapa malah mengantarku?"

"tidak apa-apa Yoongi. Lagipula tadi dia mengabariku kalo dia sudah sembuh dan akan segera pulang. Ayoo cepat masuk kedalam mobilku." Taehyung segera menarik tangan Yoongi untuk segera masuk kemobil yang sudah dibukakan pintunya oleh taehyung.

Didalam mobil Yoongi hanya diam dan taehyung selalu mencuri pandang pada Yoongi dan merasa sedikit bingung.

'apa yoongi seperti ini jika dia sakit? Ah aku merasa dia sangat aneh jika sakit.' Batin taehyung

Drrrrrrt...

Ponsel Pintar Yoongi pun bergetar.

From: Park Jimin

Yoongi kau sedang dimana? Kenapa aku keruanganmu kau tidak ada? Dan setelah aku tanya pada suster disana. Mereka bilang kau pulang karena sakit. Apa karena aku?

Yoongi hanya melihat dan tidak membalas sms dari jimin.

"kenapa hanya dibaca? Kau tidak ingin membalasnya?" tanya taehyung.

"tidak tae. Aku malas membalasnya. Dan bisakah kau mengajaku makan terlebih dulu? Aku lapar dan belum makan dari tadi pagi."

"Hah? Kau belum makan sudah siang begini Yoongi? Pantas saja kau sakit. Baiklah ayo ke Cafe ku. Aku akan membuatkan makanan dari menu baru yang ku buat kemarin. Dan kau akan menjadi orang pertama yang akan mencicipinya." Ucap taehyung meberikan senyum terbaiknya.

"wah kau memang keturunan keluarga Kim. Bahkan eonni mu pun sudah menjadi chef terkenal didunia. Ah aku jadi ingat seokjin eonni. Bagaimana kabarnya? Apa dia masih diAmerika?"

"tidak dia sudah dirumah dan kau tau aku belajar menu baru darinya. Dan yang akan kusajikan untukmu itu adalah menu paling special dan sangat rahasia yang seokjin eonni ajarkan padaku." Dengan semangat taehyung menceritakannya kepada Yoongi.

Yoongi dan Taehyung adalah teman sejak kecil. Bahkan Yoongi sudah dianggap seperti anak sediri dikeluarga Taehyung. Sampai kakak taehyung juga sangat senang jika sesekali Yoongi datang kerumah keluarga Kim untuk bermain dengan taehyung dulu.

Setelah sekian lama diperjalanan yang sebenarnya tadi itu sudah sedikit lagi sampai dirumah Yoongi. Tapi mereka putar balik karena Yoongi lapar.

#Cafe Bangtan#

"kemana sih sitaetae itu? Sudah tidak jadi menjengukku. Sekarang aku keCafenya pun dia tidak ada." Jimin mengumpat teman SMAnya yang sekarang menjadi sahabatnya itu karena sejak kedatangannya belum melihat batang hidungnya sama sekali.

"kkkkk... oppa kau sangat lucu. Dan kenapa kau tidak memesan makanan atau minuman yang lain dulu sebelum tae oppa datang." Jungkook menahan tawanya sejak tadi karena jimin selalu mengumpati temannya itu.

Tidak lama dari itu terdengar suara terbukanya pintu cafe.

Kliking...

"Ah dia akhirnya datang. Darimana saja kau alien bodoh? Kau tau aku sudah hampir 15menit menunggumu dengan perut kosong. Kau bahkan membatalkan untuk menjeng- " tiba-tiba Jimin berhenti mengumpat karena dia melihat tae tidak datang sendirian melainkan dengan seorang gadis dan bahkan jimin mengenal gadis itu.

"bawel kau Park. Aku tadi mengantarkan teman spesialku dulu. Kkkkk... " dia berucap sambil melihat Yoongi yang sedang dipegang tangannya dan sedari tadi Yoongi menundukkan kepalanya.

"Ahh tae bisakah kau melepaskan tanga-" Yoongi pun memotong ucapannya karena dia melihat seseorng yang sedang duduk berdua dengan wanita yang dilihatnya tadi dirumah sakit sedang melihat kearahnya.

"Yoongi?" jimin pun memanggil nama Yoongi.

Dan Yoongi pun langsung menarik tangannya dari tangan taehyung dan langsung berlari keluar Cafe.

"Ada apa dengannya? Dan Park bawel kenapa kau bisa mengenalnya?" Jimin pun kaget dengan pertanyaan Taehyung yang meihat aneh kearah Jimin.

.

.

.

.

.

.

TBC

Maaf untuk chapt1 udah gagal banget bikin ceritanya.

Dan untuk guess:

makasih yaah udah mau baca dan review cerita aku. Benar apa kata kamu kalo aku salah hehe. Ada yang lupa aku ganti waktu mengganti gender. Ada kalimat yang lupa diubah. Dan saking oonnya diriku main publish publish aja. Semoga chapt2 ini bisa mengurangi kesalahan aku yah

bagaimana apa menurut kalian ini dihapus aja atau lanjut? Soalnya bener-bener kurang yakin sama cerita ini :'( yang udah baca jangan lupa review yah. Karena semakin banyak review dan masukan semakin bisa memperbaiki kesalan author.