Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
Genre : Romance/Drama
Pairing : SasuHina slight ItaIno and SaiSaku
A/N : Okey, karena chapter kemaren banyak yang nanyain soal perbandingan umur, sekarang saya kasih tahu dulu perbandingan umurnya, jangan pada jantungan ya? XD
Hyuuga Hinata – 15 tahun
Uchiha Sasuke – 21 tahun
Yamanaka Ino – 19 tahun
Uchiha Itachi – 27 tahun
Haruno Sakura – 19 tahun
Uchiha Sai – 19 tahun
Beginilah perbandingan umurnya. Hina-chan memang masih muda (baca : kecil), tapi yang ini sesuai permintaan Su-chan dan saya pikir juga kayaknya bisa jadi cerita yang menarik, termasuk untuk konfliknya. Ditambah, ini setting-an Jepang, dan kalau kita liat di manga-manga, anak umur 15 tahun di Jepang itu juga udah cukup dewasa kok.
Yah, saya cuma berharap cerita ini nggak mengecewakan minna-sama dan semoga perbedaan umur ini nggak terlalu mengganggu.
Ohyah, this chapter is dedicated to Uchiha Sasuke who celebrates his birthday on July, 23th. ^^v
Oke, enjoy the story. :3
Chain of Love
Chapter 2 – An Agreement
Wedding is one of women's ultimate
dream.
But only a few of them realize that
wedding is another form of…
chain
.
.
.
Hiashi mengerutkan dahinya saat ia mendengar suara-suara aneh dari luar ruangan yang tengah ia tempati dengan Orochimaru. Sepertinya, Hiashi tidak salah dengar karena Orochimaru pun langsung menyipitkan matanya ke arah pintu geser yang menutup ruangan tersebut.
Tepat saat Hiashi hendak berdiri untuk melihat ke luar, pintu geser itu terbuka dan…
BRUAK!
"KABUTO!" teriak Orochimaru setengah terbangun dari posisi duduknya saat ia melihat anaknya tersungkur di lantai beralaskan tatami tersebut.
"Ugh!" erang Kabuto dalam kondisi yang bisa dibilang cukup berantakan. Bajunya kotor oleh bercak tanah dan wajahnya tampak sedikit lebam. Saat Orochimaru menyadari bahwa putranya tersebut tidak mengenakan kacamatanya, seseorang seolah menyadari hal tersebut dan melempar kacamata Kabuto ke atas tubuhnya yang masih terbaring.
Orochimaru mengangkat wajahnya hanya untuk berhadapan dengan tatapan tajam dari sang pemilik onyx.
"Kau…," desis pria berambut hitam panjang tersebut.
"Uchiha Sasuke?" sambung Hiashi dengan tatapan terkejut. "Sampai Itachi juga? Kenapa kalian ada di sini?"
Menggantikan Sasuke, Itachi menjawab dengan tenang, "Sebenarnya ada pembicaraan yang ingin kami lakukan dengan Hiashi-Jisan. Tapi sebelum sempat kami melakukannya, kami melihat kejadian yang kurang mengenakkan…." Itachi melirik ke arah Hinata.
"T-Tou-san…," lirih Hinata sambil berjalan ke dekat ayahnya. Sebelah tangannya ia letakkan di depan bibirnya. Takut—itulah kata-kata yang dapat menggambarkan keadaan Hinata saat itu. Tubuhnya terlihat gemetar dan wajahnya sedikit pucat. Matanya melirik gelisah ke arah Kabuto sebelum ia memilih untuk menunduk.
Hiashi yang menyadari hal tersebut langsung merengkuh putrinya dan menoleh tajam ke arah Kabuto. "Apa yang kau lakukan pada putriku?"
"Apanya?" tanya Kabuto sambil memasang kembali kacamatanya. Ia berusaha bangkit dengan dibantu oleh ayahnya. Begitu ia—setidaknya—bisa duduk dalam posisi yang lebih wajar, ia pun langsung menunjuk ke arah Sasuke dan memasang tatapan tidak suka, lebih tepatnya… benci. "Aku tidak melakukan apa-apa tapi cowok itu langsung saja menghajarku! Apa memang seperti itu cara Uchiha yang terkenal memperlakukan orang?"
"Cih!" decih Sasuke. Pemuda berambut raven dengan model jabrik di bagian belakangnya itu sudah hendak menyembur Kabuto saat ia merasakan sebuah tepukan di bahunya.
"Sasuke," ujar Itachi sambil memberikan sorotan tajam pada Kabuto, "tidak akan memukulmu tanpa sebab." Itachi kemudian menengok ke arah Hinata. "Mungkin Hinata-Hime bisa menjelaskan apa yang baru saja terjadi?"
"E-eh?"
"Hime, apa yang terjadi?" desak Hiashi pada putrinya yang masih terlihat ragu-ragu itu.
Hinata melirik ke arah Kabuto yang sudah memandang tajam ke arahnya. Gadis bermata sewarna dengan pearl itu menunduk cepat, "K-Kabuto-san… d-dia…."
"Cowok sial itu memaksa untuk mencium putrimu," jawab Sasuke cepat menggantikan Hinata.
Kabuto mendelik ke arah Sasuke. "BOHONG! ITU BO—…."
"I-Itu benar, Tou-san!" ujar Hinata dengan mengumpulkan segenap keberaniannya. Ia menunduk dengan wajah yang sudah sangat memerah. Kedua tangannya tampak menggenggam bagian bawah kimono-nya dengan erat.
"Kh!" geram Kabuto sesaat setelah ia mendengar pengakuan Hinata. Ia kemudian melirik ke ayahnya, berusaha meminta bantuan. Orochimaru memberikannya satu pandangan mematikan. Tapi hanya sekejab sebelum pria berambut hitam panjang itu memasang senyum liciknya.
"Itu bukan masalah bukan, Hiashi? Apalagi mengingat bahwa mereka akan segera menikah," ujar Orochimaru sambil berdiri. Ia kemudian menepuk-nepukkan kedua tangannya dan tersenyum.
"'Memaksa'… itu artinya ada salah satu pihak yang tidak setuju," ujar Hiashi pelan. Mendadak, pria paruh baya bermarga Hyuuga itu menggeram, "Mana bisa kuserahkan putriku pada orang yang suka memaksa seperti putramu? Pemaksa sepertinya tidak akan bisa membuat putriku bahagia! Maaf, tapi anggap saja kita tidak pernah membicarakan apapun soal lamaran itu. Silakan angkat kaki dari rumahku sekarang juga!"
Orochimaru dan Kabuto langsung membelalakkan matanya. Sementara Itachi sudah menyunggingkan sebuah senyum tipis. Sasuke sendiri? Ah, tidak banyak yang berubah dari ekspresi Uchiha tengah ini.
"Kau serius dengan ucapanmu itu, Hiashi?" tukas Orochimaru perlahan. Tidak putus asa. "Kau bukan tidak tahu kondisimu sendiri kan? Dan… ah? Rumahmu? Sampai kapan rumah ini bisa kau pertahankan sebagai rumahmu?"
Hinata memandang Orochimaru dengan kebingungan juga rasa ingin tahu yang tersirat jelas. Lalu, perlahan, ia mendongak ke arah ayahnya, meminta penjelasan. Hiashi yang menyadari tatapan Hinata mulai berkeringat dingin.
Ini tidak sesuai rencananya.
Ia tidak ingin Hinata tahu soal kondisi keluarga Hyuuga yang sudah di ujung tanduk.
"Soal itu," ujar Itachi kembali membuka mulut. "Kami punya penyelesaiannya." Itachi kemudian tersenyum sopan. "Tapi tentu saja kita tidak akan bisa berbicara dengan tenang sementara Tuan Ular dan anaknya masih ada di sini."
Orochimaru memaksa matanya terbuka dengan lebih lebar, seolah ia hendak menunjukkan kuasanya pada Itachi—seolah hendak menerkamnya. Itachi sendiri tidak terlalu memedulikannya. Ia tetap terlihat tenang.
Merasa bahwa ancamannya tidak mempan, akhirnya pria itu menarik Kabuto berdiri. "Menarik! Anak ayam Uchiha berusaha menantangku?" Orochimaru kemudian menoleh ke arah Hiashi. "Kita lihat saja, sejauh mana anak-anak ayam ini bisa membantumu, Hiashi. Kau akan menyesal sudah mengusirku!"
Setelah itu, Orochimaru menyeret Kabuto keluar dari ruang tamu keluarga Hyuuga. Begitu keduanya akan melewati pintu, secara refleks, baik Sasuke maupun Itachi langsung menyingkir. Tepat saat itulah, Kabuto dan Sasuke saling melemparkan pandangan kebencian satu sama lain. Lalu Kabuto pun menghilang bersama ayahnya, meninggalkan Sasuke dan Itachi yang belum berniat meninggalkan kediaman Hyuuga.
"Jadi…," ujar Hiashi memecah keheningan, "apa rencana kalian, Bocah? Apa Fugaku yang menyuruh kalian ke sini?"
"Sebelumnya," ujar Itachi sambil berjalan satu langkah, memasuki ruang tamu yang sudah diisi oleh Hiashi dan Hinata, "bolehkah kami masuk terlebih dahulu?"
Hiashi menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar kedua Uchiha muda itu masuk. Sasuke yang terakhir masuk, kemudian menutup pintu gesernya. Hinata masih mengamati gerak-gerik pemuda itu sampai pintu geser tertutup. Namun sial bagi Hinata, kegiatan mengamatinya tertangkap basah oleh Sasuke sehingga dengan cepat gadis berambut indigo itu pun menunduk dalam panik. Sasuke mengerjapkan matanya sekilas sebelum sebuah senyum—yang tidak terlihat oleh siapapun—menghias wajahnya yang biasa terlihat dalam ekspresi kaku. Sasuke pun berjalan mengikuti Itachi ke seberang meja, berhadap-hadapan dengan Hiashi dan Hinata.
Keempat orang itu kemudian duduk di depan meja tanpa ada yang memberi aba-aba. Tadinya, Hinata sudah hendak bangkit untuk memberitahukan pelayan mereka agar membuatkan minuman bagi kedua tamunya yang baru datang tersebut. Tapi dengan sopan, Itachi pun langsung menghentikan sang nona rumah.
Hinata pun terdiam di tempatnya. Pikirannya berkecamuk antara hendak tetap di tempat atau pergi untuk memanggil pelayan sesuai rencana awalnya. Sedikitnya Hinata beranggapan bahwa ia tidak terlalu diharapkan dalam pembicaraan ini, walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa gadis itu sangat penasaran dengan apa yang hendak dibicarakan oleh ayahnya dan kedua Uchiha muda tersebut. Dan karena Hinata adalah seorang nona muda yang tahu diri, ia pun menengok ragu-ragu ke arah ayahnya, meminta izin dan persetujuan dari ayahnya mengenai apa yang harus ia lakukan—tetap di sini atau sebaiknya menjauh.
Hiashi terkesan keberatan pada mulanya, tapi ia lantas berpikir bahwa ia tidak mungkin lagi menyembunyikan kenyataan yang menyedihkan ini pada putrinya. Dengan berat hati, Hiashi pun mengangguk ke arah Hinata dan membiarkan Hinata duduk di sebelahnya, berhadapan langsung—walaupun tetap dipisahkan oleh sebuah meja di tengah—dengan Sasuke.
"Baiklah," kata Itachi yang memulai pembicaraan, "aku langsung saja pada pemasalahan. Kami sudah tahu seberapa parah kehancuran perusahaan Hyuuga dan karena itu kami di sini menawarkan suatu perjanjian."
Hiashi menghela napas.
Memang sudah tidak mungkin disembunyikan lagi, batin Hiashi—pasrah.
Hinata sendiri masih terdiam, mengira-ngira ke mana pembicaraan ini akan mengarah. Walaupun demikian, otaknya sudah mulai mengolah beberapa informasi yang membuatnya sampai pada satu kesimpulan : perusahaan keluarganya sedang mengalami masalah yang sangat berat dan kini tengah berada di ambang kehancuran. Meskipun demikian, belum meluncur sepatah kata pun dari bibir mungil gadis ini—tidak bahkan untuk sekedar mengkonfirmasi kebenaran dari kesimpulan yang sudah dibuatnya sendiri.
"Perjanjian apa?"
Itachi berdeham. "Kami akan membayar semua hutang piutang perusahaan Hyuuga. Termasuk gaji karyawan yang ditangguhkan. Dengan syarat…." Itachi melirik ke arah Hinata. "Rasanya memang tidak enak untuk mengatakannya, terutama setelah kasus tadi. Yah…."
"Kalian bermaksud meminang Hinata?" tanya Hiashi tepat pada sasaran.
Hinata tampak bergedik, pundaknya menegang. "E-eh?"
"Seperti itulah kira-kira," jawab Itachi perlahan, namun tegas, "untuk Sasuke."
Sasuke tampak cuek dan bahkan tidak memandang ke arah Hinata maupun Hiashi.
"Sebentar, Itachi. Ya… aku tahu kalau aku bisa mempercayai kalian atau dalam hal ini… Sasuke." Hiashi melirik ke arah pemuda berambut raven yang sudah balik memandang pemimpin keluarga Hyuuga tersebut. "Tapi kenapa harus dengan jalan ini?"
Itachi mengangkat bahu. "Kalau Ji-san punya jalan lain yang lebih baik? Bagaimanapun, hutang Hyuuga bukan hutang dalam jumlah yang kecil. Ji-san yang paling tahu hal itu."
"Tapi…."
"Ini dunia bisnis," ujar Sasuke yang mendadak membuka mulutnya, "bantuan yang kami berikan hanya bisa sebatas ini."
Hiashi tampak memegang dahinya. "Tidak ada cara lain kah?" lirih Hiashi.
Sekejab, Hinata merasa bahwa ayahnya terlihat sangat tua dari yang seharusnya. Kelelahan—secara fisik maupun psikis—pasti yang telah membuat pria itu tampak lebih tua dan… lemah.
Hinata hanya bisa mengernyitkan alisnya. Kesedihan pun membuat wajah cantiknya terlihat sendu. Sesuatu yang tidak mengenakkan terasa menghantam jantungnya, membuatnya menggenggam erat bagian dadanya yang dilapisi oleh kimono.
"A-ano…," ujar Hinata ragu-ragu. Berkat satu suaranya, kini tiga pasang mata sudah memandang ke arahnya. "A-aku… aku memang t-tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi… tapi… ano… k-kalau kalian memang bisa membantu keluarga Hyuuga… m-membantu ayahku… a-aku…." Hinata menelan ludah. "A-aku tidak keberatan dengan… lamaran ini…."
"Hime?" ujar Hiashi dengan mata yang sedikit terbelalak.
"A-aku tidak bermaksud lancang, Tou-san… t-tapi… asal bisa membantu Tou-san…." Hinata memandang ke arah Itachi dan kemudian Sasuke. Saat mata pearl-nya beradu pandang dengan onyx Sasuke, sekali lagi gadis itu menunduk. Wajah putihnya kini merona hebat. "L-lagipula… m-mereka… sepertinya t-tidak jahat. G-gomen! Maksudku… tidak seperti… uh…."
Hinata tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Bukan sifatnya untuk menjelekkan orang lain, sejelek atau sejahat apapun orang itu sebenarnya. Tapi tanpa ia lanjutkan pun, ketiga pria yang ada di situ sudah tahu siapa yang dimaksudkan oleh gadis itu. Dan… siapa lagi yang mungkin selain Orochimaru dan anaknya—Kabuto?
Mendadak, Itachi terlihat seolah ia baru mendapatkan suatu ide. Tapi ekspresi itu segera tersamar dalam wajah tenangnya.
"Begitulah, Hime. Tapi… perjanjian yang kami tawarkan ini bukan sekedar perjanjian pertunangan."
"Eh?"
"Tapi pernikahan," jelas Itachi yang jelas-jelas mengabaikan tatapan bingung adiknya sendiri.
"Maksudmu…," ujar Hiashi dalam nada yang lebih menekankan kalau dia bertanya. Pria paruh baya ini pun menyipitkan matanya.
"Pernikahan, Ji-san. Kalau hanya pertunangan, tentu akan dapat dengan mudah dibatalkan. Tapi dengan pernikahan…." Itachi menghentikan kata-katanya dengan sebuah senyum. "Lagipula, dengan cara ini, tentu Orochimaru dan putranya tidak akan bisa berbuat macam-macam terhadap Hime. Kurasa ini bukan pembicaraan yang buruk?"
"Se—…."
"Sebentar!" potong Hiashi, sedetik lebih cepat dari Sasuke yang juga sama-sama terlihat kaget. "Kau bukan tidak tahu kalau Hinata masih SMA kan? Dia baru menginjak kelas 1 SMA, kalau boleh kuingatkan!"
"Tentu aku tidak melupakannya. Sasuke juga tidak," jawab Itachi sambil mengacak-acak rambut adiknya. Sang adik hanya bisa menepis tangan tersebut dan kemudian memasang death-glare yang disertai dengan dengusan kesal.
Lagi-lagi Itachi dan ide bodohnya! batin Sasuke mengumpat.
"Sasuke tidak akan melakukan hal yang macam-macam pada Hime. Hime juga bisa tetap bersekolah seperti biasa. Tidak ada masalah kan?"
"Tapi…." Baru Hiashi hendak mendebat kembali, mendadak ucapannya malah dipotong oleh seseorang yang sama sekali tidak disangkanya. Ya—putrinya sendiri.
"T-tidak masalah. K-kalau memang bisa se-seperti itu, aku… aku sangat be-berterimakasih," ujar Hinata sambil menundukkan kepalanya, memberi penghormatan sepenuhnya pada orang-orang yang telah bersedia membantu ayahnya. "Tapi… ano… k-kalau begitu… sebagai istri nanti… a-apa yang harus kulakukan ya?" tanyanya polos sambil mengangkat kepalanya.
"Sebentar!" seru Sasuke, sedikit terkejut. "Kau serius mau menerima pernikahan ini begitu saja?"
"Y-ya?" tanya Hinata yang malah kebingungan.
Hiashi menyipitkan mata karena didengarnya pertanyaan Sasuke yang malah terlihat seolah tidak menghendaki pernikahan itu. Digerakkannya bola matanya—yang berwarna sama dengan warna mata putrinya—ke arah Itachi yang ternyata tengah tersenyum penuh makna.
"Jadi… perjanjian ini sudah resmi disepakati bukan?" ujar Itachi yang memotong pembicaraan canggung antara Sasuke dan Hinata. Hinata mengangguk cepat, sangat cepat, sampai-sampai Sasuke tidak mendapat kesempatan untuk memuntahkan protesnya. "Kalau begitu, soal resepsi pernikahannya…."
"Ano… ka-kalau boleh… ng… resepsi itu… ti-tidak perlu diadakan. Maksudku…." Hinata menatap takut-takut ke arah Sasuke. "A-apa boleh?"
Itachi mengerjapkan matanya sekilas. "Boleh saja sih. Tapi kenapa…."
"A-aku… aku tidak merasa bahwa resepsi itu… bisa dilakukan da-dalam situasi se-seperti ini." Hinata menunduk sambil mengeratkan kepalan tangan di atas pahanya. "Di saat perusahaan Hyuuga sedang… da-dalam masa sulit, ka-kalau mendadak berita pernikahanku tersebar… pasti akan menjadi sesuatu yang ti-tidak mengenakkan. Baik bagi keluarga Hyuuga… maupun keluarga Uchiha. Ke-keluarga Hyuuga akan dianggap menjual putrinya sendiri sementara keluarga Uchiha bi-bisa saja dianggap mencari keuntungan di saat keluarga Hyuuga sedang terjatuh. Ki-kita tentu tidak ingin go-gosip seperti itu tersebar kan?"
Baik Hiashi, Sasuke, maupun Itachi hanya bisa tertegun mendengar penuturan Hinata. Gadis itu, walaupun mungkin ia tahu bahwa pernikahan ini bersifat bisnis, ia tetap tidak ingin menimbulkan kesan yang bisa menjatuhkan seperti itu di depan mata publik. Siapa yang sangka, kalau gadis yang terlihat polos seperti Hinata sudah cukup mendalami kotornya dunia bisnis? Dan meskipun yang ia pikiran tidak lebih adalah usaha untuk menyelamatkan nama baik keluarganya, tetap saja Uchiha juga mendapat sedikit keuntungan dari pemikirannya yang seperti itu.
Hinata tidak salah.
Gadis itu bukan gadis bodoh—ia paham akan situasinya. Mungkin jauh lebih paham dari anggapan orang-orang di sekitarnya.
"Ma-maksudku… cukup…segelintir orang saja yang tahu…." Hinata mengakhiri perkataannya dengan menundukkan kepalanya.
"Yah… itu bukan masalah besar sih," jawab Itachi sambil tersenyum. "Ya kan, Sasuke?"
Sasuke sekejab tampak bengong memandangi sosok Hinata. Sampai dirasakannya mata onyx kakaknya masih menatapnya. "Aa… Hn."
Itachi mati-matian menahan dirinya untuk tidak tersenyum geli melihat tingkah sang adik yang seolah masih terperangkap dalam pesona Hyuuga muda tersebut.
"Kupikir perempuan selalu memimpikan resepsi dalam pernikahan mereka?" ujar Itachi sambil tersenyum.
Hinata kala itu sedikit bergedik. Tapi kemudian, diangkatnya kepalanya hanya untuk memperlihatkan sebuah senyum. "Y-ya. Mungkin. Tapi… itu bukan sesuatu yang penting. Se-setidaknya, bukan di saat seperti ini."
"Hime," ujar Hiashi, "kau serius dengan perjanjian ini? Maksud Tou-san, Tou-san masih bisa melakukan sesuatu, tidak harus…."
Hinata menggeleng lemah. "Tou-san selama ini sudah bekerja keras. A-aku bisa seperti sekarang, semua karena Tou-san. Ka-karena itu, untuk kali ini, bi-biarkan aku menolong Tou-san." Hinata kemudian menengok kembali ke arah Sasuke dan Itachi. Gadis itu pun kembali menundukkan kepalanya dalam pose memberi hormat, "Mo-mohon bantuannya."
Itachi menundukkan kepalanya sesaat setelah Hinata mengatakan hal itu. Lalu perlahan tangannya terangkat dan mendarat di kepala adiknya yang—oh, sungguh tidak peka. Dipaksanya Sasuke untuk menunduk bersamanya.
"Kami juga… mohon bantuannya."
Hiashi mengamati kedua pemuda Uchiha itu sebelum akhirnya pria itu juga menundukkan kepalanya dengan alis yang mengernyit. "Aku… titip putriku. Tolong… bahagiakan dia."
Saat itu, bagaikan ada sesuatu yang merasukinya, Sasuke langsung berkata dalam suara yang terbilang mantap.
"Ji-san tidak perlu khawatir soal itu. Aku tidak akan berbuat sesuatu yang dapat menghancurkan perjanjian ini."
o-o-o-o-o
"Wah, wah, kau benar-benar membuatku terkejut, Sasuke," ujar Itachi saat keduanya sudah berada di dalam mobil mewah milik keluarga Uchiha, sudah cukup jauh sejak mereka meninggalkan kediaman Hyuuga. "Siapa sangka kalimat itu bisa meluncur dari mulutmu?"
Sasuke tidak menjawab, ia lebih memilih mengarahkan pandangannya ke samping kirinya, menatap jalan. Dengan sebuah tangan—yang setengah terkepal—ia pun menyangga dagunya. Sementara tatapannya tampak kosong, mengawang. Pikirannya sendiri menelusuri detik demi detik yang sudah berlalu.
Bagaimana ia begitu dikejutkan oleh kekuatan seorang putri Hyuuga yang tampak lemah.
Ketegaran dan kebaikan hatinya.
Rasa sayangnya terhadap keluarganya—dalam hal ini, ayahnya.
Perlahan, Sasuke menutup matanya.
"Hn."
"Reaksi yang terlalu lama," tukas Itachi yang duduk di sebelahnya sambil tersenyum. "Ngomong-ngomong, apa kau lihat? Hinata-chan sampai memerah seperti tomat kesukaanmu saat mendengar kata-kata terakhirmu tadi."
"Tidak ada hubungannya dengan tomat," tukas Sasuke ketus sambil membuka kembali matanya dan mendelik pada kakaknya yang duduk di bagian tengah mobil bersama dirinya. Ya, keduanya duduk di bagian tengah mobil sementara seorang supir melajukan mobil berwarna hitam tersebut dengan suatu pembawaan yang profesional.
Itachi tertawa kecil. "Memang tidak ada hubungannya, Otouto," jawab Itachi sambil mengacak rambut Sasuke.
Sekali lagi, Sasuke menepis tangan tersebut. "Berhenti mengacak rambutku, Baka Aniki. Jangan membuatku lebih marah dari ini. Kau tahu? Aku sudah hendak memakimu saat kau melontarkan ide bodoh soal pernikahan itu! Tanpa memberitahukannya padaku terlebih dahulu!"
"Apa bedanya?"
"Demi Tuhan, Itachi! Pernikahan tentu saja berbeda dengan pertunangan!"
"Tapi akhirnya sama saja kan? Kalian tetap akan segera menikah." Itachi mengangkat bahu sambil membuang muka ke arah kanan, melihat deretan toko-toko yang dipenuhi orang. Bersamaan dengan itu, matanya pun menangkap rintik hujan yang mulai membasahi kaca jendela mobil mereka. "Pertunangan dan pernikahan itu bedanya tidak banyak, Sasuke."
"Ck!"
Itachi hanya terdiam sambil mengulas senyum, mengamati beberapa orang yang lalu lalang di sekitar daerah pertokoan yang tengah ia lewati. Ada orang yang tampak terburu-buru sambil melihat jam di pergelangan tangannya, ada pula yang tampak santai berjalan di bawah payung bersama pasangannya. Beberapa di antaranya—yang tampak seperti pemilik toko—tampak berusaha mempengaruhi pelanggannya agar mampir ke toko mereka. Segelintir yang terpancing akan langsung mengikuti sang pemilik toko untuk membeli barang yang bahkan mungkin tidak mereka perlukan.
Situasi yang biasa, rutinitas yang biasa. Tidak ada yang aneh. Semua benar-benar nampak biasa.
"Memang kau tidak keberatan jika aku menikah duluan, eh? Bagaimanapun, kau itu lebih tua dariku, Itachi. Harusnya kau menikah lebih dulu dariku."
Satu kalimat panjang dari Sasuke langsung menarik Itachi kembali dari lamunannya.
"Kalau aku lebih tua darimu, tentu kau tidak akan memanggilku hanya dengan nama seperti itu," jawab Itachi tenang.
"Hah?" balas Sasuke sambil memasang wajah yang tidak enak ke arah Itachi, seolah ia ingin berkata 'jadi-kau-merasa-lebih-muda-dariku-heh-?'.
"Bercanda," ujar Itachi sambil tersenyum ke arah Sasuke. "Asal Otouto-ku ini senang, aku ikut senang kok." Bersamaan dengan berakhirnya kalimat Itachi, pria muda itu pun menyentil dahi adiknya.
Sekali lagi, Sasuke berdecak sambil menyentuh dahinya yang menjadi korban jari-jari Itachi. Kebiasaan yang tidak pernah hilang dari Itachi—kebiasaan yang tidak disukai Sasuke, namun juga tidak dibencinya.
"Ah, tolong berhenti sebentar di depan," ujar Itachi pada supirnya, mendadak. Supir yang sigap itu pun mengangguk pelan dan kemudian menepikan mobilnya sesuai perintah Itachi. Sasuke hanya bisa mengernyitkan alisnya dengan heran.
Apa lagi kali ini? batin Sasuke mulai menerka-nerka rencana apa lagi yang hendak dilakukan oleh sang kakak.
Itachi turun dari mobilnya. Dan karena kondisi saat itu sedikit gerimis, ia pun setengah berlari, memasuki sebuah toko.
"Flower Shop?" tanya Sasuke—entah pada siapa—sambil menyipitkan matanya. "Mau apa lagi dia?"
Beberapa saat, Sasuke terdiam di mobil, menanti kedatangan sang kakak yang jalan pikirannya sering kali tidak bisa ia tebak. Ia menghela napas panjang begitu menyadari bahwa sang kakak tidak kunjung kembali meskipun sudah nyaris sepuluh menit berlalu. Sasuke pun sudah menyentuh knop pintu mobilnya—di bagian Itachi duduk tadi, saat mata onyx-nya menangkap sosok dua orang keluar dari toko bunga yang tadi dimasuki kakaknya.
Di bawah sebuah payung berwarna kuning cerah, Sasuke mendapati kakaknya tengah berjalan ke arah mobil, bersama seorang gadis cantik berambut pirang pucat yang diikat ponytail. Sasuke menyipitkan mata demi dilihatnya kakaknya yang semakin mendekat—bersama gadis yang sepertinya pegawai di toko bunga tersebut—dengan tangan yang memegang sebuah buket bunga.
Sasuke pun langsung membuka pintu dan menggeser duduknya, untuk membiarkan Itachi masuk. Kakaknya itu kemudian mengangguk ringan pada sang gadis yang sudah mengantarnya dan sang gadis pun balas mengangguk sambil tersenyum.
"Terima kasih atas kunjungannya. Datang lagi ya!" seru si gadis dengan riang sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Ya, terima kasih," jawab Itachi sambil mengangkat tangannya setelah ia menurunkan kaca jendela mobilnya.
Setelah itu, mobil pun kembali bergerak. Kaca jendela mobil pun kini tertutup kembali seutuhnya. Begitu dirasakannya pandangan menusuk dari Sasuke, Itachi tidak bisa lagi menahan senyum gelinya. Dengan perlahan, ia pun menepukkan buket bunga itu ke wajah Sasuke yang terus-terusan memandangnya penuh tanya.
"Apa ini?" tanya Sasuke sambil memegang buket bunga yang baru saja dipukulkan ke wajahnya.
Diamatinya buket yang didominasi bunga berwarna putih serta bunga berwarna merah muda yang berbentuk seperti kuncup-kuncup kecil yang berjumlah banyak dalam tiap tangkainya. Dan jika dilihat lebih dekat lagi, bunga putih itu pun ada dua jenis, bunga putih polos dengan lima kelopak berujung lebih lancip—nyaris menyerupai gambaran bintang—serta bunga putih dengan kelopak yang lebih membulat dan di bagian tengahnya terdapat semacam putik berwarna kekuningan yang sedikit menonjol.
Buta—Sasuke tidak tahu apa-apa soal bunga-bunga itu.
"Bunga Stephanotis, Orange Blossom, dan Heather Pink," ujar Itachi seolah menangkap kebingungan adiknya, "berarti kebahagiaan dalam pernikahan, cinta yang abadi, dan good luck."
"Untuk apa?" tanya Sasuke sambil balik memukulkan buket tersebut ke wajah Itachi.
"Tentu saja untuk doa dan hadiah pernikahanmu, Otouto?" jawab Itachi sambil mengelus pelan wajahnya dan merapikan kembali buket bunga tersebut. "Gadis di toko bunga itu yang memilihkannya."
Sasuke hanya mendengus pelan.
"Katanya," ujar Itachi sambil menyandarkan kepalanya ke kaca jendela dan memejamkan matanya, sementara tangannya menyodorkan buket bunga itu untuk diambil Sasuke, "pernikahan itu bukan hal yang mudah. Lebih tepatnya, pernikahan adalah suatu bentuk hilangnya kebebasan yang lain—keterikatan."
Sasuke akhirnya menerima buket bunga itu dengan wajah sedikit bingung.
"Namun, cinta dapat membuat keterikatan yang terasa mengekang itu menjadi sesuatu yang tidak memberatkan." Itachi menghela napas panjang dan kemudian tersenyum. "Karenanya, arti bunga-bunga itu menjadi doa yang baik bagi pernikahanmu kan?"
Sasuke memandangi bunga-bunga dalam genggaman tangannya.
Kebahagiaan dalam pernikahan, cinta yang abadi, good luck.
"Pernikahan adalah keterikatan… ," gumam Sasuke pelan. "Heh."
"Tidak salah kan?" jawab Itachi yang sudah membuka matanya. "Tapi, bagaimanapun juga… kurasa ini bukan ide yang buruk, mengingat bahwa memang hal inilah yang kauinginkan."
Sasuke menyandarkan kepalanya ke belakang. Rambut raven-nya pun berhimpitan dengan sandaran kepala mobilnya, membuatnya terlihat sedikit berantakan.
"Yah…." Sasuke menatap bagian atas mobilnya. "Tapi apa dia juga merasakan hal yang sama denganku? Maksudku, apa dia benar-benar menginginkan pernikahan ini sebagaimana aku menginginkannya?"
"… Itu tugasmu untuk membuatnya merasakan hal yang sama dengannya, Otouto." Itachi kembali memandang jalan. "Membuatnya merasakan pernikahan ini bukan sebagai ikatan yang memaksa… tapi sebagai suatu keinginan yang tanpa beban."
***つづく***
Terus terang, minna, saya nyaris kelepasan dan membiarkan Orochimaru manggil Kabuto dengan sebutan Kabuto-chuan di bagian-bagian awal (pas Kabuto dilempar ama Sasuke itu lho). Gimana jadinya kalau Orochimaru sampe manggil Kabuto dengan sebutan kayak gitu ya? *author aneh mulai mikir aneh* mungkin Hiashi, SasuHina, n Ita-koi langsung pada sweatdrop di tempat yah? Dan nggak kebayang malunya Kabuto. Wakakaka.
Terus lagi, pas Kabuto n Sasu saling lempar pandang, saya kebayang Sasu narik bawah matanya dan ngejulurin lidah, terus Kabuto ngebales sampil nepuk pantat. *Astaga, ini otak saya kenapa ya? Jadi error gini?=.=a
Ah, daripada makin ngelindur, lebih baik saya ucapkan dulu terima kasih yang sebesar-besarnya untuk reviewer di chapter kemarin : Rey-kun, Ai HinataLawliet, Miyabi Kise, lonelyclover, Anna just reader, Kimidori hana, ulva-chan, Aiwha Katsushika, Shiroonna Hyouichieffer, ika chan, suzumiya, risa-chan-amarfi, Lollytha-chan, Miiki Ananda, yuuaja, harunaru chan muach, Sugar Princess71, Yamanaka Chika, uchihyuu nagisa, Saqee-chan, Hizuka Meyuri, uchan, Miya-hime Nakashinki, YamanakaemO, Chikuma new, el Cierto, Anasasori29, Himawari Edogawa, kyu's neli-chan, FYLIN, Airi Princess'Darkness AngeL, Vytachi W.F, Handa-chan. Review kalian membuatku semangat deh ngelanjutin fic ini. Arigatou (dan maaf nggak ngebalesin satu-satu lewat sini—terutama buat yang non login, takutnya malah pada stress bacain cuap-cuap saya yang panjang di sini =w=a)
Terus, terima kasih juga saya ucapkan buat semua yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu!*bow*
Oke, sekian cuap-cuap saya di chapter ini. Tapi tetap aja, saya butuh pendapat minna-san mengenai chapter kali ini. So… review, please?
I'll be waiting.
Regards,
Sukie'Suu' Foxie
~Thanks for reading~
