Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

Genre : Romance/Drama

Pairing : SasuHina slight ItaIno and SaiSaku

This chapter will be dedicated to harunaru chan muach for a reason ^^v. Also for those who have been stressed out with my 'amnesia'. Huakakaka! *insert evil laugh here*

Btw, Happy SasuHina Days Love, minna! Saya belum bisa janji bikin fic untuk SHDL, tapi moga-moga ini bisa sedikit mewakili *digampar bolak-balik* XD

Okay then… Enjoy!


Chain of Love

Chapter 3– Sweet Lie


Flowers have their own

language.

They're always honest,

whispering the truth.

While humans…

do the opposite.

.

.

.

Sosok berambut ebony pendek itu menoleh saat didengarnya suara pintu yang terbuka. Suara lantang para pelayan yang bekerja di rumahnya sudah cukup memberitahukan pemuda itu mengenai orang-orang yang tengah menginjakkan kaki di kediamannya—kediaman Uchiha.

Tanpa merasa perlu untuk beranjak dari sofa yang nyaman, pemuda itu kembali memusatkan perhatiannya pada buku berisi penuh tulisan. Meskipun demikian, sebuah senyum terkembang di wajahnya yang berwarna pucat. Dia tidak sakit. Tidak. Memang itulah warna alami kulitnya.

"Bagaimana?" ujar sang pemuda pucat saat kedua orang yang baru saja sampai itu mengambil tempat mereka masing-masing.

Seorang pemuda yang berambut raven jabrik langsung menjatuhkan dirinya di sofa di seberang si pemuda pucat sementara pemuda lainnya memilih untuk duduk di sebelah si pucat. Menanggapi pertanyaan si pemuda pucat, sang pemilik rambut raven—Sasuke—langsung memutar bola matanya dengan bosan. Ia kemudian merentangkan kedua tangannya dan meletakkannya di atas sandaran sofa. Kepalanya kini menengadah ke atas dan matanya terpejam.

Merasa tidak mendapat jawaban apa pun, si pemuda berkulit pucat—Sai—langsung menoleh ke arah pemuda lainnya. Sang kakak tertua dari keluarga Uchiha—Itachi—tersenyum untuk menanggapi tuntutan dari adiknya yang satu itu.

"Tentu saja semua berjalan lancar," jawab Itachi semakin menegaskan.

Sai kembali memandang Sasuke yang masih bergeming.

"Oh." Nada merendahkan itu keluar begitu saja dari mulut Sai. Hanya saja, di balik nada meremehkan yang dilontarkannya, sebuah senyum khas seorang Uchiha Sai tetap menghias wajahnya.

Sasuke perlahan membuka kedua matanya. "Apa?" ujarnya sinis.

"Kukira kau akan gagal," cemooh Sai yang kali ini sudah kembali memandangi tulisan demi tulisan dalam buku tebalnya yang bersampul kecoklatan. "Kau itu kan sangat canggung kalau harus berhadapan dengan seorang cewek."

"Mereka tidak punya pilihan," jawab Sasuke arogan.

"Hmph! Jahat sekali memanfaatkan situasi dimana mereka tidak bisa menolak," celetuk Sai lagi—tanpa dipikir. Memang seperti itulah habit si pemuda berkulit pucat tersebut. Dia tidak perlu merasa segan ataupun sungkan saat melontarkan kata-kata yang tajam dan cukup menohok.

"Jangan berkata seperti itu," sanggah Itachi sambil mengacak-acak rambut Sai. "Biarpun dia seperti itu, pada dasarnya Sasuke kan…."

"Aku ke kamar dulu!" potong Sasuke cepat sambil bangkit berdiri dari sofanya.

"Dia kabur," ujar Itachi yang diiringi dengan tawa kecil. Sai sendiri akhirnya menutup bukunya untuk kembali menimpali pembicaraan yang mulai menarik minatnya ini.

"Jadi kapan dia akan resmi masuk sebagai keluarga Uchiha?"

Sekali lagi, Sasuke tidak mengacuhkan pertanyaan si Uchiha bungsu. Ia terus melangkah menuju kamarnya yang harus melewati tangga terlebih dahulu. Dan pada akhirnya, pertanyaan Sai pun kembali dijawab oleh Itachi.

"Besok."

Setelah itu, tidak ada lagi perkataan Sai ataupun Itachi yang dapat tertangkap oleh telinga Sasuke. Bukan karena ia tuli tapi jarak yang sudah terlampau jauh, ditambah dengan pikiran yang tidak berada pada tempat seharusnya, membuat Sasuke seolah mengunci dirinya dalam dunianya sendiri.

Dunia dimana hanya ada bayangan dirinya dan gadis itu.

o-o-o-o-o

"Kau yakin dengan keputusanmu ini, Hime?" Suara serak Hiashi kembali merasuk gendang telinga Hinata yang tengah membereskan barang-barangnya. Untuk ke berapa kalinya sudah Hiashi bertanya seperti itu—Hinata tidak sempat menghitungnya. Bosan sedikit terbersit dalam benak Hinata. Tapi ia mengerti, ini adalah bentuk kekhawatiran orang tua pada anaknya. Pada putri satu-satunya.

"Iya, Tousan. Aku yakin," jawab Hinata lembut sambil tersenyum. Sesaat, dihentikannya aktivitas memindahkan isi lemarinya ke dalam sebuah koper besar berwarna dasar ungu terang dengan motif checkerboard. "Tousan tidak perlu mencemaskanku."

Hiashi menghela napas. Ia tahu bahwa putrinya sudah mengambil keputusan. Ia tahu kalau kedua Uchiha tersebut sudah memegang janji pernikahan ini. Ia tahu… kalau ini mungkin adalah jalan terbaik bagi kelangsungan hidup putrinya. Di saat ia lemah dan tidak berdaya, menyerahkan Hinata pada keluarga Uchiha yang terkenal mapan, akan bisa menjadi sokongan yang baik bagi kehidupan putrinya. Hei, bagaimanapun, orang tua selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya kan?

Tapi… Hiashi masih merasa tidak rela. Hinata baru berusia lima belas tahun. Usia yang sangat muda—terlalu muda untuk menikah.

"Hime…."

"Tousan," sela Hinata lembut. Mata lavender itu menunjukkan ketenangan yang sangat. "Sungguh, aku tidak apa-apa. Lagipula… kita tidak mungkin lagi membatalkan perjanjian dengan Uchiha-san."

Hiashi menggelengkan kepalanya. "Kalau kau merasa tidak siap, Tousan bisa pikirkan jalan keluar lain untuk masalah ini."

Hinata memasang senyumnya. Senyum yang manis yang mampu membuat pria mana pun luluh. Tidak hanya itu, mungkin kaum hawa pun tidak akan segan-segan mengakui betapa manisnya sosok gadis yang terlihat rapuh tersebut. Tapi Hiashi, sebagai orang tua dari sang gadis, berhasil menangkap sesuatu yang lain dari senyum itu.

Sebuah tekad.

Tekad kuat yang tidak akan runtuh hanya karena bujukan Hiashi.

Sebagai seorang ayah yang cukup sibuk, Hiashi memang jarang mengamati perkembangan Hinata. Selama ini, yang diingatnya hanya sosok seorang putri yang memiliki attitude baik, lembut, dan penyayang. Kesampingkan kesan lemah yang ditimbulkan oleh pembawaan sang putri Hyuuga yang terkadang akan tergagap-gagap saat berbicara.

Lebih dalam daripada itu, Hinata adalah seorang putri yang kuat bukan?

"A-aku… biarkan aku yang membantu Tousan kali ini," ujar Hinata. "Lagipula… uhmm… se-sejujurnya… aku juga… aku juga… cukup menyukai Uchiha Sasuke-san."

Pernyataan terus terang dari Hinata kontan membuat Hiashi terbelalak. Siapa yang menyangka kalau Hinata ternyata memiliki perasaan semacam itu pada sang tengah Uchiha?

Tidak.

Pasti tidak seorang pun yang akan menyangka.

Karena memang, itu adalah dusta.

Kebohongan yang manis untuk membungkam kecemasan seorang ayah.

Ya. Hinata adalah putri yang kuat. Putri yang tahu kapan harus berbohong demi membuat ayahnya tenang.

Meskipun sungguh, demi apa pun di dunia, berbohong adalah hal yang paling tidak dikuasai oleh Hinata. Dan berbohong juga adalah hal yang paling dihindarinya—hal yang paling dibencinya.

o-o-o-o-o

Malam berlalu begitu saja. Meninggalkan Hiashi dengan segala kegundahannya saat dilihatnya sebuah Mercedes Benz hitam mengilat berhenti di depan rumahnya. Pelayan yang diminta Hiashi untuk melihat siapa yang datang segera kembali tak lama kemudian dengan membawa satu nama bersamanya.

Uchiha Sasuke.

Cukup dengan itu, Hinata yang sudah dalam balutan seragam sekolahnya segera berjuang membawa koper-kopernya. Melihat putrinya yang tampak kewalahan, Hiashi pun segera turun tangan dengan membawakan koper terberat Hinata. Lalu, dengan segala wibawa yang melekat padanya, Hiashi pun menyuruh bawahan yang bekerja di rumahnya untuk membawakan sisa-sisa barang Hinata yang akan segera berpindah ke rumah keluarga Uchiha.

Begitu Hinata dan Hiashi, serta beberapa pelayan yang juga ikut membawakan barang Hinata, telah berada di luar, suasan hening langsung menyergap. Hinata tampak memandang ragu pada Sasuke sementara pemuda itu terlihat enggan memandang balik.

Hiashi mengamati Sasuke dari atas sampai bawah sebelum ia kemudian berujar, "Ohayou, Sasuke."

"Hn. Ohayou," jawab Sasuke datar dengan kepala yang sedikit menunduk canggung kepada Hiashi.

"Kau tidak mau membukakan bagasimu untuk menaruh barang putriku?" tanya Hiashi sedikit sinis. Respons Sasuke selanjutnya adalah terbelalak sejenak dan langsung membukakan bagasi belakang mobilnya dengan memencet sebuah tombol yang ada di kunci mobilnya. Hiashi mengangguk kecil dan para pelayan langsung meletakkan barang-barang Hinata. Pria paruh baya itu kemudian memberikan koper besar yang semula dipegangnya pada salah satu pelayan yang kembali bergegas ke arah bagasi belakang mobil Sasuke.

Hinata sendiri masih berdiam diri di tempatnya dengan sebuah tas sekolah yang digenggamnya erat-erat. Gadis itu hanya bisa mengunci rapat mulutnya walaupun sesekali ia mencuri-curi pandang ke arah calon suaminya. Saat itulah, mendadak pandangan keduanya beradu.

"E-eh… o-ohayou, Uchiha-san…."

"Hn." Sasuke hanya mengangguk kecil. Pemuda itu kemudian membuang muka ke arah bagasi mobilnya sebelum ia beralih pada Hiashi dan para pelayan. "Apa barangnya sudah semua?"

"Jangan bertanya padaku," jawab Hiashi sambil melirik ke arah Hinata. Sasuke pun menggerakkan kepalanya untuk melihat ke arah Hinata yang langsung mengangguk kecil.

"Baiklah." Sasuke pun segera membukakan pintu di sebelah kursi pengemudi. Mendapat isyarat tersebut, Hinata langsung beranjak dari tempatnya—masih dengan kedua tangan yang menggenggam erat tali tas selempang berwarna coklat tipis kesayangannya. Gadis itu pun menunduk sedikit sebelum akhirnya ia benar-benar masuk ke dalam mobil. Beberapa saat setelah Hinata masuk, Sasuke langsung menutup pintu mobilnya.

Pemuda itu kemudian menoleh pada Hiashi yang baru saja selesai memberi perintah pada para pelayannya untuk masuk kembali ke rumah. Sasuke menunggu sebentar hingga Hiashi memandang ke arahnya kembali.

Begitu dirasanya pandangan mata bertanya Hiashi mulai mendominasi, Sasuke pun langsung melepaskan suaranya ke udara seraya mengangguk kecil, "Kalau begitu, saya permisi dulu, Jiisan."

"Sasuke…," panggil Hiashi tepat setelah Sasuke mengangkat kepalanya. Pemuda itu hanya menaikkan satu alisnya dan Hiashi pun melanjutkan. "Aku titip putriku."

Mulut Sasuke terbuka sedikit tapi ia tahu bahwa bukan saatnya ia kaget. Apa yang dikatakan Hiashi sebentar lagi akan menjadi kewajibannya, tugasnya, tanggung jawabnya—apapun sebutannya, setali tiga uang. Dan ia tidak bisa pergi begitu saja tanpa memberi jawaban yang pasti pada Hiashi.

Demikianlah Sasuke kembali mengangguk. Kali ini, sebuah anggukan yang mantap.

"Tentu saja."

Dan ia pun berjalan memutar untuk menghampiri kursi pengemudi setelah mendapat izin tidak terucap dari Hyuuga Hiashi.

o-o-o-o-o

Mobil melaju sepanjang perjalanan. Tidak ada yang terdengar selain deru halus mesin mobil yang sayup-sayup. Mata onyx itu memandang tajam pada jalanan di balik kaca mobil di depannya sementara mata pearl itu seakan menerawang pada jalanan di sampingnya.

Hening.

Hening.

Hening.

Keheningan yang membosankan. Canggung dan kaku. Sama sekali bukan suasana yang nyaman.

Kami-Sama, bagaimana bisa terjadi situasi seperti ini di antara dua orang yang dalam hitungan jam akan resmi terikat sebagai suami istri yang sah?

Hinata melirik sedikit ke arah sang pengemudi yang selalu memasang wajah seriusnya. Untuk beberapa saat, Hinata tenggelam dalam pergulatan batinnya sendiri.

Ajak dia bicara atau tidak, ya?

Tetap, wajah datar itu tidak memberikan pertanda apa pun sebagai jawabannya.

Bagaimana ini?

Gadis manis itu kini tengah menunduk, memainkan lipitan pada rok seragamnya yang berwarna biru dengan panjang selutut.

Tanyakan apa saja, Hinata. Ayolah!

Tangan yang semula terbuka itu mengepal karena sebuah tekad. Mulut mungilnya yang berwarna merah muda itu sudah siap mengeluarkan kata-kata. Namun, sudah siap bukan berarti ia sempat. Pemuda itu terlanjur memotongnya.

"Jam berapa kau pulang dari sekolah?"

"E-eh? I-itu… jam…." Sesaat, pikiran Hinata terasa kosong akibat pertanyaan yang dilontarkan mendadak tersebut. Gadis itu pun berusaha mencari bantuan dengan menggerakkan bola matanya ke arah jam tangan kecil dengan model rantai tipis yang menjadi talinya. "Jam… dua siang."

Sasuke mengangguk tanpa memandang ke arah Hinata. Tangannya sendiri masih menempel pada kemudi, memainkannya sedikit-sedikit dengan gerakan yang halus. "Aku akan menjemputmu lagi nanti. Setelah itu kita langsung ke kantor urusan sipil."

Sekali ini, giliran Hinata-lah yang mengangguk. "Ba-baik, Uchiha-san."

Kerutan itu spontan saja terlihat di dahi Sasuke.

Baiklah. Mereka memang baru saja mengenal. Tapi mereka sudah akan menikah, kan? Apa sebutan formal itu masih harus digunakannya? Yang benar saja!

"Sasuke."

"Ng?"

"Panggil aku 'Sasuke'."

Hinata menoleh ke arah Sasuke dan mengerjapkan matanya. Sedetik, dua detik. Tak lama. Ya. Tak lama, sebuah senyum lembut menghampiri wajah gadis itu.

"Ka-kalau begitu, kau boleh memanggilku dengan sebutan 'Hinata'."

o-o-o-o-o

Sasuke bukanlah orang yang suka mengingkari janjinya. Hinata harus mencatat fakta itu dalam benaknya.

Pukul dua tepat dan mobil hitam itu sudah kembali parkir di depan sekolahnya, membuat beberapa siswa berdecak kagum sekaligus bertanya-tanya. Tentu saja situasi siang dan pagi berbeda seratus delapan puluh derajat. Di kala pagi, tidak banyak yang sempat menjadi saksi akan kedatangan mobil mewah tersebut. Sementara siang? Ya—tidak usah dijawab. Hanya sebuah pertanyaan retoris.

Hinata merutuki kelengahannya tersebut. Harusnya ia mengatakan pada Sasuke agar menjemputnya di tempat lain. Setidaknya, bukan tepat di depan gerbang sekolahnya. Hinata tidak keberatan jika harus berjalan seratus sampai dua ratus meter asalkan ia tidak harus menjadi salah satu bagian dari sorotan siswa-siswi sekolahnya. Menjadi tontonan bukan hal yang menarik bagi seorang Hyuuga Hinata. Sebaliknya, itu hanya akan membuat wajah putihnya berubah kemerahan.

Namun apa daya. Nasi sudah menjadi bubur.

Pada Shion—teman barunya, Hinata hanya mengatakan bahwa ia ada urusan sehingga ia harus pulang cepat. Selanjutnya, Hinata hanya bisa berharap agar Sasuke tidak turun dari mobilnya dan membuat kehebohan yang lebih dari sekarang. Oke, soal kehadiran mobil mewah itu Hinata masih bisa berbohong—oh, lagi—dan mengatakan bahwa mobil itu adalah mobil salah satu kerabatnya.

Tapi jika sampai Sasuke yang notabene adalah pengusaha muda terkenal itu sampai keluar dari mobil? Kebohongan apa yang harus diucapkannya untuk menutupi hubungan yang mengejutkan antara seorang Hyuuga Hinata dengan seorang Uchiha Sasuke?

Hinata mengembuskan napas, berusaha mengesampingkan semua ketakutannya. Bagaimanapun, ia tidak boleh membuat calon suaminya itu menganggapnya sebagai perempuan yang tidak bisa tepat waktu. Beginilah keadaannya sekarang, berlari dengan terburu-buru melintasi lorong yang cukup panjang sampai menuruni tangga demi tangga.

Diabaikannya tatapan siswa-siswa lain yang memandanginya dengan heran karena hanya ialah satu-satunya yang bergerak mendekat ke arah mobil mewah yang terparkir nyaman di depan gerbang sekolah. Berbeda dengan yang lain, yang hanya melewati mobil itu sambil sesekali melirik, meneliti mobil tersebut.

Tepatnya, meneliti siapa yang ada di dalam mobil mewah tersebut.

Oh, kumohon, batin Hinata sedikit gusar. Jangan turun dari mobil.

Beruntunglah Hinata karena Kami-Sama masih menyayanginya. Sasuke tidak turun. Membukakan pintu juga tidak. Dan walaupun terkesan angkuh, nyatanya keputusan Sasuke itu seolah menjadi jawaban atas segala kecemasan Hinata. Gadis itu pun bisa menyelinap masuk ke samping kursi pengemudi dengan perasaan yang lebih lega meskipun ia tetap saja terburu-buru saat menutup pintunya.

Tidak dihiraukannya napas yang mulai tersengal dan pipi yang sedikit memerah—karena lelah, karena panas, juga karena malu.

"To-tolong, segera jalankan mobilnya," pinta Hinata kikuk sambil menunduk.

Tidak ada jawaban dan sebagai gantinya, ban mobil mulai menggelinding, melindas jalan di bawahnya, melesat meninggalkan sekolah swasta tempat Hinata menuntut ilmu. Meskipun permohonannya dikabulkan, tapi Hinata langsung merasa tidak enak hati.

Dia baru saja memerintah calon suaminya—seorang Uchiha yang terkenal. Sikap macam apa itu? Hinata bukan tidak tahu kalau ia bukan pada posisi yang bisa meminta macam-macam pada sosok penolongnya. Tapi bukankah keduanya juga sama-sama tahu posisinya yang lain? Jika hubungan mereka diketahui umum, gosip akan dengan segera menyeruak. Satu hal yang sama-sama tidak dikehendaki keduanya.

Hinata tidak salah.

Tapi tetap saja….

"Go-gomenasai."

"Hn?"

"Su-sudah meminta macam-macam."

Lagi, tidak ada jawaban yang mengudara. Hinata pun merasa semakin tidak enak hati. Tapi mungkin Hinata harus mulai belajar banyak soal calon suaminya—termasuk kemampuannya untuk memotong ucapan yang hendak dilontarkan Hinata tepat di saat gadis itu akan membuka mulutnya.

"Bukan masalah." Sama seperti sebelumnya, Sasuke menanggapi pernyataan Hinata tanpa sedikit pun berpaling ke samping kirinya. "Aku bisa menangkap maksudmu."

Ah, tidak sia-sia Hinata membuka mulutnya. Setidaknya, ada satu kata yang bisa diucapkannya.

"A-arigatou… Sasuke-kun."

o-o-o-o-o

Urusan di kantor sipil berjalan cepat. Tentu saja tidak ada yang berani mempersulit seorang Uchiha. Dalam sekejap saja, keduanya resmi menjadi pasangan pengantin baru—suami istri.

Entah bagaimana rasanya. Bagi Hinata, semuanya terasa bagaikan mimpi. Aneh dan membingungkan. Terasa bagaikan bohong, tapi semua nyata. Terbersit keinginan untuk mundur, tapi ia sadar kalau ia tidak bisa.

Takut, tegang, semua emosi itu mendarat dalam diri Hinata—mengocok perutnya hingga membuatnya sedikit mual, menghantam kepalanya hingga membuatnya pusing.

Di sisi lain, gadis itu merasakan suatu debaran yang aneh. Ia tidak sakit sehingga ia meyakinkan dirinya bahwa debaran itu adalah bentuk ketegangannya. Bayangkan saja saat sedang melihat sesuatu yang menyeramkan, debaran itu tidak jauh berbeda. Setidaknya, itulah keyakinan yang mati-matian ditanamkan Hinata.

Dengan kondisi seperti itu, Hinata hanya bisa menyerahkan semua urusan pada Sasuke. Dia tidak banyak berkata-kata kecuali ditanya. Dan kegugupan membuat gagapnya sedikit lebih parah dari biasanya. Pandangan petugas administrasi yang mencatatkan pernikahan mereka pun semakin aneh terhadap pribadi Hinata.

Pernikahan di antara dua umur yang terpaut cukup jauh ini pun sudah mengundang tanda tanya, bukan? Apalagi dengan sosok pengantin wanita yang masih menyandang status sebagai siswi SMA. Dan… ya, jangan lupakan kenyataan bahwa petugas administrasi itu juga cukup mengenal sang mempelai pria.

Tapi sekali lagi, tidak ada yang berani mempertanyakan kejanggalan itu di hadapan seorang Uchiha. Di bawah uang, semua bungkam. That's it. Semua selesai.

Kini keduanya sekali lagi berada dalam mobil hitam yang selalu setia mengantarkan mereka ke mana pun pasangan ini hendak pergi. Tapi tidak banyak berbeda dari sebelum-sebelumnya, sekali lagi mobil ini menjadi saksi atas keheningan yang selalu dan selalu melanda keduanya.

Bedanya, Hinata tidak lagi berusaha untuk membuka pembicaraan. Saat ini dia masih terlalu sibuk oleh pemikiran-pemikiran yang bagaikan benang kusut.

Dia sudah menikah.

Hyuuga Hinata kini resmi berganti nama menjadi Uchiha Hinata.

Tidak harus diketahui orang banyak—demikian kesepakatannya. Di sekolah pun Hinata akan tetap memakai nama gadisnya.

Tapi semua tetap berbeda.

Mendadak, dorongan itu muncul. Sedikit mengguncang tekad dan ketabahan Hinata.

Ia ingin menangis.

Tidak, jangan menangis, Hinata!

Seruan batinnya terus dan terus mengingatkan Hinata, menguatkan dirinya yang mendadak rapuh. Ini adalah keputusannya. Ia yang memilih jalan ini. Ia tidak seharusnya menyesalinya.

Dan Sasuke tidak boleh melihat penyesalan itu.

Tapi, air mata itu semakin ingin melesak keluar.

Seandainya tumpah….

Oke, dusta lainnya. Katakan saja itu air mata kebahagiaan. Sederhana dan meyakinkan.

Tapi….

"Ah!" seru Hinata yang sedikit teralihkan oleh pemandangan luar. "Bo-boleh berhenti di depan sana sebentar?"

Sasuke mengernyitkan alisnya. Tapi ia juga urung bertanya lebih lanjut. Alih-alih bertanya, ia hanya menuruti permintaan istrinya itu dalam keheningan yang mulai membuat Hinata terbiasa.

Begitu rem diinjak, Hinata menoleh sebentar ke arah Sasuke.

"Maaf, aku tidak akan lama."

"Lakukan sesukamu."

Hinata mengangguk. Sementara tangannya menyentuh kenop pintu mobil, mulutnya menggumamkan, "Arigatou, Sasuke-kun."

Hinata kemudian berlari kecil ke arah seorang gadis berambut pirang yang tengah melambai ke arah salah seorang wanita berambut hitam dengan sebuah buket bunga di tangannya. Sasuke mengamati pemandangan di sekelilingnya sebelum ia mendecih pelan.

"Di sini lagi?"

o-o-o-o-o

"Ino-nee!"

Gadis berambut pirang itu terkesiap. Ia pun berhenti melangkah lebih jauh ke dalam tokonya. Dalam gerakan yang membuat rambut ekor kudanya berayun perlahan, gadis yang dipanggil 'Ino-nee' itu menolehkan kepalanya. Sekejap saja, mata aqumarine itu berbinar di sela-sela keterkejutannya.

"Hina-chan?" pekik Ino dengan senyum yang mulai terkembang. "Astaga! Sudah lama sekali kita tidak bertemu, ya?"

Hinata mengangguk pelan. Dari wajahnya, tampak sesaat gadis berambut indigo itu melupakan segala keresahan yang sebelumnya melanda.

"Apa kabarmu? Sudah masuk SMA, eh, sekarang?" ujar Ino lagi sambil berkacak pinggang setelah sebelumnya ia memberikan pelukan singkat pada gadis yang lebih pendek darinya itu.

Ditanya soal kondisinya, mau tidak mau pikiran Hinata kembali melayang pada kejadian yang baru saja dialaminya.

Sudah menikah.

Oh, yang benar saja! Hinata tidak mungkin mengatakan hal itu, kan?

"Aku baik-baik saja," jawab Hinata lemah, "bagaimana dengan Ino-nee sendiri?"

"Aku? Seperti yang kaulihat," balas Ino sambil mengangkat kedua tangannya dan tertawa kecil. Ino kemudian melirik ke arah tokonya, "Saat ini aku lumayan sibuk. Bisnis toko bunga ini cukup menguntungkan. Mungkin tidak lama lagi aku bisa membantu membiayai operasi kedua matanya."

Hinata sedikit memasang wajah khawatirnya. "Shino-nii…?"

Jawaban yang didapat Hinata hanyalah sebuah anggukan yang dilengkapi dengan senyuman menenangkan dari Ino.

"A-Ano…."

"Sst! Sudah, sudah. Jangan dibahas lagi, okay? Aku sedang berjuang dan aku percaya kalau aku mampu melakukannya." Ino menggerakkan sebelah tangannya naik turun dengan wajah yang seolah tanpa ada beban. "Daripada itu, kau ke sini dengan siapa?"

Ino pun melongok ke arah belakang Hinata. Sebelah tangannya ia letakkan di atas alisnya, berusaha melihat ke arah mobil hitam yang diyakininya sebagai mobil Hinata.

"Supir?" tanya Ino lagi saat Hinata tidak menjawab dan malah menunduk dengan kaku. Tanpa segan-segan, Ino pun menunjukkan keheranannya. "Bukan, ya?"

Hinata menggigit bibir bawahnya. Sekilas, Ino bisa merasakan kegelisahan gadis itu. Lihat saja cara Hinata memainkan jari-jarinya.

"Te-teman," jawab Hinata akhirnya.

"Teman?"

Hinata memasang sebuah senyum palsu yang mengiringi anggukan kepalanya. Bersamaan dengan berakhirnya anggukan itu, kesedihan perlahan mulai terkuak di wajah Hinata. Tapi tetap saja, Hinata memasang senyum aneh yang kaku. Bukan senyum yang enak untuk dilihat. Dan Ino tidak sebodoh itu sampai ia tidak menyadari ekspresi tidak wajar yang ditampilkan oleh gadis yang lebih muda empat tahun darinya itu.

Ino pun kini tidak lagi memasang senyumnya. Matanya kemudian menangkap bayangan bunga-bunga berwarna keunguan dengan poros yang berwarna kuning menyembul. Diraihnya bunga-bunga yang menempel dalam satu tangkai yang sama itu sebelum disodorkannya ke depan Hinata yang langsung memasang ekspresi kebingungan. Meskipun demikian, Hinata tidak membiarkan tangan Ino terus melayang menanti sambutan tangannya. Diambilnya bunga itu dari tangan Ino sebelum pandangan matanya kembali mengarah pada si gadis penjual bunga.

"Bittersweet, Hina-chan," jelas Ino sambil menatap langsung ke bola mata Hinata. "It means… truth."

Hinata terkesiap.

"Kebenaran, sama seperti hidup, tidak selalu manis bukan?" lanjut Ino sambil menepuk pundak Hinata. "Tapi kebohongan, akan terasa jauh lebih pahit. Baik untuk orang lain… maupun bagimu sendiri."

Tidak bisa.

Hinata sudah hampir tidak bisa menahannya lagi.

"Kau boleh cerita apa saja padaku, Hina-chan. Aku siap mendengarkan, kok! Ingat? Aku sudah menganggapmu sebagai adikku sendiri, lho?" Ino memiringkan kepalanya sedikit. "Walaupun kita sempat lose contact cukup lama, sih…," cerocos Ino yang diselingi dengan tawa renyah. Tapi kemudian, Ino menghentikan tawanya. Nada suaranya kembali serius, seolah tawa yang diperdengarkan sebelumnya hanyalah imajinasi belaka. "Bahkan kau boleh menangis di hadapanku kalau kau mau…."

Sudah.

Pertahanan diri terakhir Hinata pun runtuh sudah.

Kebohongan dalam wujud topeng 'baik-baik saja' yang disembunyikan di balik tekadnya kini luntur. Menyisakan sosok seorang gadis kecil yang rapuh namun harus berlagak kuat demi orang yang disayanginya.

Air mata itu tidak semanis kata-kata penguatan pada ayahnya.

Pahit.

Meskipun ada Ino yang mencoba merangkulnya dan mengurangi rasa pahit itu, Hinata sadar, rasa pahit itu tidak akan serta merta menghilang.

Ia tidak bisa mundur.

Dan setelah air mata ini lenyap, ia hanya bisa meneruskan kebohongan yang manis itu.

Seraya berharap bahwa ia akan diberi kekuatan untuk tidak menangis lagi—menanggung semua pahit yang harus dikecapnya seorang diri.

***つづく***


Yeah! Di fic ini muncul Sai dan peran Ino udah sedikit lebih banyak. Hahay! Nah, gimana menurut minna-san soal interaksi SasuHina? Saya pribadi sih demen kalau bikin si Saskay canggung-canggung gimana gitu~! Jadi mungkin masih bakal banyak scene yang memperlihatkan gimana canggungnya Saskay waktu harus ngomong sama Hinata. Hinatanya sendiri? Ya… gitu, dhe. Wkwkwk.

Di akhir, saya bikin Hinata nangis, biasa, kegalauan cewek yang mau (atau udah?) nikah. Nanti di chapter depan yang entah kapan bakal update, bakal lebih fokus ke hari-hari pertama Hinata sebagai seorang Uchiha.

Oke, seperti biasa, saya mau ucapin terima kasih sebesar-besarnya untuk reviewer di chapter kemaren : Rishawolminyu (wah… soal pertanyaan kamu, liat aja nanti. Hahay. Dan yap, di sini chara kesukaanku muncul lagi, nih? XD), el Cierto (gomen, di chapter ini belum ada interaksi itaino-nya :/ entah kapan mereka ketemu lagi, yang pasti, aku nggak mau bikin jadi keliatan rush. Gomen ne? DX), Park Hye Lin (a-author-sama? Just call me suu, for simple ^^b), hina-chan (gakpapa, arigatou r&r-nya. Hehe), Miya-hime Nakashinki (susah dicerna, ya? Gomen. Moga2 chapter ini nggak susah dicerna, ya? DX), kyu's neli-chan (nyahaha… cari tau jawabannya di toko obat terdekat (?) :P), lonelyclover (only time will tell ^^b *promosi fic saya yang judulnya itu *ditimpuk readers), Anna Just Reader (sayang di chapter ini saya nggak kebayang yang aneh-aneh lagi. =w=a), ulva-chan (arigatou! XD anyway, would you mind to tell me who you are? o.0a), uchihyuu nagisa (sayangnya nggak beneran, ya? XD), Hyou Hyouichiffer (soal itu… kasih tau nggak, ya? #Plak! Ahem! Nanti juga dijelasin, kok. Ehehe. Masih sabar nunggu, kan?), Persephone paboo (eh? Beneran dibikin? Tapi mungkin bukan di fic ini, ya? Fic ini sih nuansanya lebih ke romance serius =w=a), ImHm-Chan (salam kenal juga ^^v dan maaf gak bisa update kilat T^T), Yamanaka Chika (siap! =w=b), Lollytha-chan (Ok! =w=b), NaraUchiha'malfoy (wkwk, dasar kamu mah… tapi chapter ini belum bisa muncul itaino-nya. Kapan-kapan, yak?), YamanakaemO (gomen, itaino-nya belum muncul T^T), Himeka Kyousuke (betul, betul, betul ^^ btw, saya aja nggak diundang ama sasuhina =w=a), harunaru chan muach (sejak kappa, ya? Fufufu~… nanti pasti dijelasin, kok ^^), Yukina Kanzaki (tobi anak baik ^w^b), Sugar Princess71 (gomen gak bisa cepet-cepet, ya? DX), Haru3173 (eh? Sesuatu yang besar? Iya nggak, ya? *malah tanya balik*), Ai HinataLawliet (okay! ^^b), keiKo-buu89 (siap! :D), Aiwha Katsushika (hehe. Tunggu tanggal mainnya. Yosh, ganbatte ^^9), chibi tsukiko chan (a-arigatou gozaimasu *bow*), Kimidori hana (siip! ^^b), Fla Afa-chan (ganti pen-name?o.0a ah, soal pertanyaanmu… liat nanti aja, ya? Ohohoho!), MB Kise-chan (humor dong genre-nya? Tapi nanti dicoba sekali-sekali di fic lain XD), yuuaja (iyaaa… pegawai took bunga itu Ino ^^), Chikuma Gak Login (ehehe *garuk-garuk kepala, nyengir gaje* maafkan atas keleletan saya dalam mengupdate fic ini ^^a), Handa-chan (thanks buat masukannya yah, hanje *hug*), n (authornya aja nggak diundang. Kan nggak ada resepsi TwT), ageha-davis (dipanggil apa aja bole~h… asal jangan aneh-aneh :P), baka-lavender (kenal dong, green-chan ^^), Cendy Hoseki (gyaaa! Akhirnya kamu baca juga! *hug* karena dua kali review jadi *double hug* :P btw, always arigatou buat dukungan semangatnya yaaa T^T), the3pleA (itaino belum muncul karena emang belum sempet T^T), Lilith (sai-nya duluan yang nongol. Haha. Soal hina-chan yang lebih dewasa sebelum umurnya… well… tuntutan, dia kan dah nggak punya ibu juga, hehe. Anyway, soal yang humornya, kapan-kapan deh, di fic lain XD).

Yosh, selesai juga nulisin balas review. Hontou ni arigatou ya buat semua reviewer. Review kalian membuatku semangat deh ngelanjutin fic ini. Arigatou

Terus, terima kasih juga saya ucapkan buat semua yang udah baca (silent reader sekalipun), yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu!*bow*

Oh, dan ucapan special jatuh pada… eng-ing-eng… Afa-chan yang ultah tanggal 11 September 2011. Otanjoubi omedetou gozaimasu! Anggap aja fic ini kado ultahnya, ya? *ditimpuk kue ultah*

Oke, sekian cuap-cuap saya di chapter ini. Tapi tetap aja, saya butuh pendapat minna-san mengenai chapter kali ini. So… review, please?

I'll be waiting.

Regards,

Sukie'Suu' Foxie

~Thanks for reading~