Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto. And I get no benefit by publishing this fanfic, except for fun.

Genre : Romance / Drama

Pairing : SasuHina slight ItaIno and SaiSaku

This chapter will be dedicated to Itachi Milik Nitachi (gak rela nulisnya juga, Itachi milik saya! #plak!) yang udah berapa kali nagihin update ke saya. Terus sempat saya bohongin pula, pas dia nanya kapan saya lanjut Chain of Love, saya jawab nggak tahu (padahal lagi lanjut). Mwahahahahaha.

Okay then. Cukup dulu cuap-cuapnya. Enjoy!


Chain of Love

Chapter 4– New Life


New chapter has begun,

be prepared.

The choice has been taken, there's no time to

regret.

.

.

.

"Tadaima."

Suara serak yang terkesan dingin itu bergaung di kediaman Uchiha yang terbilang besar. Bukan suara yang asing. Sebagai akibatnya, dua kakak beradik yang tengah membaca di sofa empuk ruang keluarga itu langsung menggerakkan kepala mereka.

Lebih lanjut, Uchiha Itachi langsung menutup bukunya dan segera beranjak ke arah pintu depan. Si bungsu—Uchiha Sai kemudian mengekor di belakangnya. Penasaran menyergap pemuda berkulit pucat itu. Tentu saja, ia akan bisa melihat istri kakaknya sekarang.

"Okaeri…?" sambut Itachi dengan onyx yang mendadak terbelalak.

Berdiri mematung di belakangnya, Sai mengamati gadis yang tengah berdiri tegak dengan sebelah tangan tersangga nyaman di pinggang. Oke, sejak kapan 'istri' Sasuke berubah menjadi seorang berambut pirang dengan kepercayaan diri yang begitu terpancar?

Sai mengerjap beberapa kali sebagai reaksi dari benaknya yang mengirimkan pertanda bahwa ada sesuatu yang salah.

"Ne, Hinata, kenapa kau bersembunyi di belakangku?" tanya sang gadis berambut pirang tersebut.

"A-anoeto…."

Akhirnya, terlihat di pantulan dua pasang onyx itu, sosok seorang gadis muda lainnya—berambut indigo panjang dengan mata berwarna mutiara yang terbilang jernih. Ya, ya, tentu saja sosok itu awalnya sedikit luput dari pandangan Itachi maupun Sai. Dengan tubuh terbilang kecil yang berbalut seragam sekolah, ia bersembunyi di belakang sang gadis berambut pirang. Seolah, gadis mungil itu takut bahwa penghuni kediaman Uchiha adalah serigala buas yang siap menerkamnya kapan saja.

"Ah? Hyuuga Hinata? Maksudku … Uchiha Hinata?" ujar Sai sambil memperlihatkan senyum ramahnya. Ia kemudian melirik ke arah Sasuke yang masih bergeming di tempat.

"Ah, ehm," jawab Hinata sambil meletakkan sebelah tangannya di depan mulut.

Sai mengangguk—masih dengan senyum yang terpampang di wajahnya. "Begitu. Jadi rupanya kau, gadis dari keluarga Hyuuga yang jatuh bangkrut hingga akhirnya terpaksa menikahi Sasuke?"

Sasuke langsung mendelik mendengar ucapan Sai yang tidak disaring itu. Hinata awalnya terbelalak tapi selanjutnya gadis itu menunduk dengan wajah yang terlihat memerah. Ia pun mengeratkan pegangan tangannya di baju gadis berambut pirang panjang di hadapannya. Yamanaka Ino—demikian nama gadis di hadapan Hinata—langsung mengernyit sebal.

"Sambutan yang sangat baik, ehm … Tuan…?"

"Sai. Namaku Uchiha Sai. Dan seingatku, aku tidak berbicara padamu, Nona?"

Mata aquamarine itu terbelalak sekilas. Bukan, ia tidak sedang menghayati rasa tersinggungnya akibat ucapan tidak ramah yang benar-benar kontradiksi dengan senyum di wajah seorang Sai. Bergumam lirih, gadis itu nyaris berbisik, "Sai?"

"Ng?"

"Ah, tidak," jawab Ino spontan, "lupakan saja." Ino kemudian menggerakkan bola matanya, memandang Uchiha lain yang masih mematung di tempatnya. Benaknya bekerja cepat, menampilkan visualisasi dari pemuda yang mengikat rambut hitam panjangnya tersebut. "Lho? Anda kan…."

"Kau … pegawai di toko bunga itu, 'kan?"

Ino memberikan sebuah cengiran yang diikuti anggukan. "Yup. Ternyata ini rumahmu, ya?" ujar Ino lagi sambil memandang arsitektur kediaman Uchiha. Merasakan adanya tatapan menyelidik, Ino buru-buru mengeluarkan suara kembali, "Ah, maaf. Aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Yamanaka Ino. Lalu, kedatanganku ke sini…." Ino menarik tangan Hinata agar gadis itu maju selangkah, "Untuk menemani imouto-ku ini."

"Imouto?" Itachi menoleh ke arah Sasuke. "Aku baru tahu kalau Hinata punya seorang aneki."

Sasuke menghela napas. "Bukan. Bukan aneki dalam arti sebenarnya. Sudahlah, sampai kapan kalian mau menahan kami di sini?"

Itachi tampak terkejut sementara Sai hanya mengedikkan bahunya. Itachi pun bergeser ke samping, memberi akses masuk bagi adik serta kedua tamunya. Tanpa banyak bicara, Sasuke kemudian berjalan menapaki lantai rumahnya. Ino mengangguk sekilas pada Itachi—ya, dia mengabaikan Sai seutuhnya—dan ikut berjalan di belakang Sasuke, dengan Hinata yang masih terus menempel padanya, laksana anak ayam yang tidak ingin kehilangan induk.

Sekejap saja, sosok ketiganya sudah menghilang. Membiarkan Itachi dan Sai yang masih terpaku di tempatnya begitu saja. Bergeming selama beberapa saat waktu memutar detiknya.

"Gadis yang terlihat lemah, juga rapuh."

"Sebelumnya ia tampak lebih kuat," sanggah Itachi sambil menggelengkan kepala.

Sai tersenyum. "Mungkin, topeng kuatnya sudah luntur karena suatu hal?"

Itachi memandang Sai sekilas. Sang adik yang berambut hitam klimis tersebut tampak memasang wajah polos seperti biasanya. Memutuskan untuk tidak ambil pusing, Itachi hanya mengangkat bahunya sekilas sebelum ia mengikuti Sai yang mulai beranjak kembali ke ruang keluarga tempat mereka meninggalkan bacaan masing-masing.

o-o-o-o-o

"Ini kamarmu," ujar Sasuke datar. Pemuda itu kemudian membiarkan Hinata mengamati isi kamarnya. Di salah satu sudut ruangan, Hinata bisa melihat tumpukan tasnya yang sudah dibawa Sasuke terlebih dahulu—mungkin saat Hinata sedang berada di sekolah.

Selintas pandangan pertama, tidak ada yang aneh dari kamar dengan sebuah kamar mandi serta balkon kecil tersebut. Lantainya dilapisi karpet berbulu lembut dengan warna kebiruan dan dindingnya dilapisi wallpaper bermotif kayu. Yah, secara keseluruhan, kamar ini merupakan kamar yang nyaman dengan properti standar seperti lemari baju, meja belajar, sebuah televisi kecil, serta … sebuah single bed. Ya, single bed.

Dia tidak satu kamar dengan Sasuke?

Oh, bukannya Hinata mengharapkan hal semacam itu. Tapi … saat ini status mereka suami-istri, 'kan? Dan seingat Hinata, ayah dan ibunya pun tidur di satu kamar—bahkan berbagi ranjang. Apa ada alasan kenapa Sasuke memberikan kamar yang terpisah untuk Hinata? Demi kesopanankah? Atau…?

Hinata sungguh ingin tahu tapi ia terlalu malu untuk menanyakannya. Pada akhirnya, yang dapat keluar dari mulutnya hanyalah, "Ka-kamar yang bagus."

"Hn," jawab Sasuke lagi—masih saja datar. "Baiklah, kalau begitu aku akan meninggalkan kalian untuk beres-beres. Panggil saja pelayan kalau butuh sesuatu."

"Hei," ujar Ino yang langsung menghentikan pergerakan Sasuke, "kau tidak tidur bersama Hinata? Kalian suami-istri, 'kan, sekarang?"

Jantung Hinata terasa berdegup kencang tatkala Ino menanyakan pertanyaan yang memang mengganggu pikirannya tadi. Takut-takut, gadis berambut indigo tersebut memandang ke arah Sasuke. Saat itulah Hinata bisa melihat ekspresi Sasuke yang sedikit terkejut dengan alis yang nyaris bertautan. Tak lama, mata onyx milik Sasuke pun beradu pandang dengan Hinata. Namun, Hinata tetaplah Hinata. Dalam sekejap, gadis itu memutuskan kontak dan langsung menunduk sembari memainkan jari-jarinya.

"Itu," jawab Sasuke perlahan, "bukan urusanmu."

Segera setelah itu, Sasuke pun meninggalkan kamar Hinata dan menutup pintunya. Hinata tidak tahu bagaimana ia harus bersikap—menunjukkan kelegaan atau kekecewaan. Sungguh, ia tidak mengerti apa yang harus ia lakukan dalam kondisi ini. Semua terasa … begitu baru baginya.

Ino yang melihat kelakuan dingin pemuda itu hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela napas. Selanjutnya, gadis ber-ponytail itu pun melirik ke arah Hinata.

"Sudahlah, Hina-chan," hibur Ino dengan tangan yang sudah menepuk kepala Hinata, "lupakan dulu soal cowok dingin itu. Ayo kita bereskan barang-barangmu."

Hinata mengangguk sekilas. Tak lama, ia menyadari satu hal yang janggal dalam kata-kata Ino sehingga ia memutuskan untuk berkata, "A-Ano, Ino-nee. Aku tidak memikirkan Sasuke-kun, kok. Aku…."

Perkataan Hinata langsung terpotong oleh derai tawa Ino. Sambil mengacak rambut Hinata yang masih berada di bawah telapak tangannya, Ino pun kembali berujar, "Baik, baik. Kau tidak memikirkannya. Jadi, ayo kita bereskan barangmu sekarang."

Hinata hanya bisa menggigit bibir bawah sembari mengikuti langkah Ino untuk mendekat ke arah tas-tasnya.

Oh—sungguh. Hinata tidak memikirkan Sasuke.

Iya, 'kan?

o-o-o-o-o

"Lho? Kenapa kau malah ke sini, Sasuke?" tanya Itachi saat ia melihat adiknya itu menjatuhkan diri di sofa tepat di sampingnya. "Tidak menemani Hinata?"

"Hn," jawab Sasuke singkat. Pemuda itu kemudian merenggangkan tangannya ke atas sandaran sofa dan menengadahkan kepalanya ke atas dalam keadaan mata tertutup.

Itachi menghela napas mendengar respons adiknya. Mana ada orang yang mengerti hanya dengan kata 'hn' sebagai jawaban? Itachi yang sudah lama—dan akan selalu—menjadi kakak Sasuke pun tidak begitu mengerti dengan satu frasa kesukaan adiknya tersebut. Yah, bagaimanapun, mereka bukan orang super yang bisa melakukan telepati, 'kan?

Meskipun demikian, Itachi cukup paham kalau ada alasan mengapa Sasuke meninggalkan Hinata berdua dengan tamunya di kamar. Mungkin Hinata masih sedikit canggung dengan Sasuke dan tentunya gadis itu membutuhkan teman mengobrol untuk melimpahkan segala kegundahannya. Dari yang Itachi lihat, gadis berambut pirang tadi cukup kompeten untuk bisa menjadi gadis yang diandalkan oleh Hinata yang sedang tampak rapuh.

Ngomong-ngomong soal gadis berambut pirang itu, Itachi jadi teringat sesuatu.

"Apa Ino-chan akan menginap di sini untuk menemani Hinata?"

Sasuke pun spontan membuka matanya dan menoleh ke arah Itachi. "Tidak. Kurasa."

"Ah. Soal gadis itu," sambar Sai bahkan sebelum Itachi sempat menimpali, "apa cuma perasaanku? Tapi dia seperti mengenalku?"

"Entahlah?" jawab Sasuke tidak berminat.

"Apa kau pernah membeli bunga di tokonya?" tanya Itachi yang memang lebih perhatian dibandingkan Sasuke.

"Membeli bunga?" Sai menjawab sembari memberikan senyum tanpa artinya. "Kaupikir aku harus membeli bunga untuk siapa?"

"Yah, mungkin saja untuk Sa—"

"Dia tidak suka bunga," potong Sai cepat dengan wajah yang masih menampilkan cengiran. Tak lama kemudian, ia malah menutup bukunya secara mendadak. "Kau mengingatkanku, Niisan, aku ada janji dengannya hari ini."

"Yang benar saja?" dengus Sasuke. "Apa kalau tidak diingatkan, kau tidak akan memenuhi janji dengannya?"

Sai tertawa kecil sementara ia melemparkan buku yang baru saja dibacanya begitu saja ke atas meja. "Aku bukan Sasuke-kun yang selalu setia."

Sasuke langsung menyorot galak pada adiknya tersebut. "Itu bukan masalah kesetiaan, kau tahu?"

"Ya, ya," jawab Sai sambil mengangkat sebelah tangannya, "aku pergi dulu, ya? Seperti biasa, aku mohon bantuan kalian."

"Tsk."

"Hati-hati," imbuh Itachi dengan pandangan yang masih mengantarkan kepergian adik bungsunya sampai sosok pemuda berambut hitam pendek itu tidak lagi terlihat.

Setelah Sai hilang, Sasuke kembali memilih untuk memejamkan matanya dengan kepala yang mengarah ke langit-langit. Meskipun singkat, Itachi sempat mendengar bahwa pemuda berambut model raven itu menghela napas. Dari situlah, Itachi bisa mengetahui kalau ada sesuatu yang salah dengan adiknya. Biasanya, kalau Sasuke sudah menghela napas, pasti ada suatu masalah dalam pekerjaannya. Tapi, sekarang….

"Ada masalah dengan Hinata, Sasuke?"

"Hn."

Itachi tersenyum sesaat sebelum menggelengkan kepalanya. Sang sulung Uchiha itu kemudian menutup bukunya dan memukulkannya perlahan ke dahi Sasuke. "Jelaskan. Aku tidak mengerti."

Sasuke menyingkirkan buku Itachi dari wajahnya. Seketika itu juga, terlihat wajah Sasuke yang tampak sedikit … kusut.

"Sasuke?" tanya Itachi dengan mata yang sedikit terbelalak.

"Tadi dia … menangis."

o-o-o-o-o

"Hinata, ini aku taruh di sini, ya?" ujar Ino sembari meletakkan sebuah foto keluarga di atas meja belajar Hinata. Sebelumnya, Ino mengelap terlebih dahulu kaca dari pigura foto tersebut hingga semakin jelas memperlihatkan gambaran keluarga Hyuuga yang kala itu masih utuh. Hyuuga Hiashi, Hyuuga Mikoto, dan Hinata kecil yang berusia sekitar 5 tahun. Dalam foto itu, tampak sang Nyonya Hyuuga tengah mengandung. Ya—calon adik Hinata yang tidak sempat lahir ke dunia.

"Hai. Soko de ii yo," jawab Hinata sambil tersenyum. Gadis yang sudah menukar seragamnya menjadi sebuah loose-shirt sepanjang paha yang dipadu dengan legging hitam sepanjang lutut itu kembali melipat beberapa bajunya yang baru dikeluarkan dari koper dan kemudian mulai memasukkannya sedikit demi sedikit ke dalam lemari yang ada di dekat pintu menuju kamar mandi.

"Oke," jawab Ino. Selanjutnya, gadis itu mulai mengatur kembali beberapa barang yang dibawa Hinata.

Hinata sendiri tampak sudah selesai memasukkan semua bajunya ke dalam lemari. Baju yang dibawa Hinata memang cukup banyak, tapi tetap saja lemari yang ada di kamarnya tersebut terkesan lengang. Mungkin Sasuke mengira bahwa baju perempuan akan sangat banyak hingga ia memberikan satu lemari yang cukup besar ini untuk meletakkan semua baju Hinata. Tapi … apa iya Sasuke memikirkan hal itu? Atau memang semua lemari di kediaman Uchiha sebesar ini?

Hinata memilih untuk menepis pemikiran yang tidak berguna tadi. Ia masih harus melakukan banyak hal di kamar barunya. Karena itulah, ditutupnya kedua pintu lemari baju tersebut dan ia mulai beranjak untuk membantu Ino membereskan barangnya yang lain.

Kerja berdua memang jauh lebih cepat. Selain itu, dengan keberadaan Ino, entah mengapa Hinata jadi merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya, ia sudah menumpahkan sebagian unek-uneknya pada gadis yang selalu tampak ceria tersebut.

"A-ano ne…."

Ino menoleh.

"A-arigatou. Maksudku … Ino-nee sudah sangat membantuku." Mendadak, Hinata membungkuk sembilan puluh derajat. "Hontou ni arigatou."

"Wah?" Ino pun menghentikan gerakan tangannya. Sambil menelengkan kepalanya sedikit ke kiri, gadis itu melipat tangannya di depan dada. "Tidak usah sungkan seperti itu, Hina-chan. Kau seperti sedang berurusan dengan orang lain saja. Hahaha."

"Ta-tapi…."

Lembut, Ino kemudian menepuk pundak Hinata. Gadis itu kemudian sedikit membungkuk untuk menyamakan pandangan mata mereka. "Dengar, Hinata. Dulu, saat aku sedang kesulitan, aku juga pernah dibantu oleh keluarga Hyuuga. Bagiku, kalian benar-benar penyelamatku." Ino mengedip sekilas. "Bantuanku saat ini tidak bisa dibandingkan dengan bantuan yang diberikan keluarga Hyuuga dulu."

Hinata tersenyum kecil saat Ino sudah menarik tangan dari pundaknya.

"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kita segera selesaikan urusanmu dengan kamar ini," ujar Ino sambil kembali berkutat dengan benda serupa kamus tebal, "setidaknya, sebelum terlalu sore, kita harus membereskan semuanya."

"Eh? I-Ino-nee," panggil Hinata lagi, "a-apa Ino-nee tidak bisa menginap di sini?"

Ino mengerjap beberapa kali. Selanjutnya, sebuah tawa kembali terlepas ke udara. Bersamaan dengan itu, Ino pun melayangkan suatu lelucon yang sukses membuat wajah Hinata memerah. Sang gadis Hyuuga langsung memalingkan wajahnya dan kembali mengerjakan tugasnya membereskan kamar. Berharap dengan demikian, topik tadi tidak lagi terangkat ke permukaan.

o-o-o-o-o

Penanda waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, nyaris setengah enam. Segala urusan di kamar Hinata pun akhirnya selesai. Dengan itu, Ino mengutarakan niatnya untuk pamit dan pulang.

"Jadi, begitulah. Aku harus pulang dulu. Titip Hinata, ya? Jaga dia baik-baik, jangan kasar-kasar," ceramah Ino pada Sasuke yang saat itu juga ada di pintu depan.

"I-Ino-nee…," sergah Hinata dengan wajah yang kembali menunjukkan rona merah di wajahnya. Bukan apa-apa, perkataan terakhir Ino membuat Hinata mau tidak mau teringat lelucon nakal yang dilontarkan Ino sebagai jawaban untuk menolak ajakan Hinata menginap.

"Ini kan malam pertama pernikahan kalian, tidak seharusnya aku mengganggu. Sasuke juga pasti mengharapkan malam pertama yang tenang dan hanya berduaan denganmu. Ne?"

Begitu kilas balik perkataan Ino itu menyeruak di benak Hinata, wajah pualam itu semakin menunjukkan kepekatan ronanya. Sementara, Sasuke sendiri tampak tidak ambil pusing dengan kata-kata Ino. Baginya, nasihat Ino cukup wajar, mengingat gadis itu memang dekat dengan Hinata.

Berkebalikan dengan Sasuke yang tampak tidak peduli, Itachi malah memegang dagu dengan pose berpikir. Tak lama, ia pun mengeluarkan apa yang sedari tadi mengganggu benaknya. "Kau pulang sendirian?"

Seketika itu juga, Ino mengalihkan pandangannya dari Sasuke pada Itachi.

"Oh? Iya. Tenang saja, rumah ini tidak begitu jauh dari halte bus, kok. Aku sudah memerhatikan jalan saat akan datang ke sini tadi."

"Biar kuantar," tawar Itachi sambil beranjak kembali ke dalam—hendak mengambil kunci mobilnya.

"Lho? Tidak usah. Tidak usah repot-repot."

Tak lama, Itachi kembali dengan kunci mobil yang sudah ada di tangannya. "Tidak merepotkan, kok," jawab pemuda berambut hitam yang dikuncir tersebut sambil tersenyum ramah.

Ino melirik ke arah Hinata yang tampak takut-takut dan Sasuke yang tampak cuek. Bagai mendapat sebuah pencerahan, Ino langsung menjawab cepat, "Ah! Baiklah kalau Uchiha-san memaksa. Hahaha."

Itachi hanya tersenyum sembari mengangguk sedikit.

"Jadi … aku pulang dulu, ne, Hina-chan, Sasuke-san. Jaa, mata ne," ujar Ino riang sambil melambaikan sebelah tangannya.

Hinata pun membalas lambaian tangan Ino dengan ragu-ragu. Sempat terbersit dalam pikiran Hinata untuk ikut dengan Itachi—mengantarkan Ino. Tapi….

"Jangan. Biar Itachi saja yang mengantarnya," ujar Sasuke nyaris berbisik.

"Eh?"

"Ada yang ingin … kubicarakan denganmu."

Setelah itu, Hinata hanya bisa menelan ludah dan mengikuti langkah Sasuke yang menuntunnya ke ruang tengah.

o-o-o-o-o

"Ehm, Uchiha-san, mereka akan baik-baik saja, 'kan, ditinggal berdua?" tanya Ino sembari memasang seatbelt-nya.

"Ya, tenang saja. Sasuke tidak akan menyakiti Hinata-chan," jawab Itachi sambil memasang seatbelt-nya dan langsung menurunkan rem tangan mobilnya, "daripada itu, panggil saja aku Itachi."

"Heh? Tidak apa, nih?" ujar Ino sambil cekikikan.

"Ya, tidak apa," jawab Itachi sambil mulai menggerakkan mobilnya.

"Baiklah, Itachi-san," balas Ino riang. "Oh, ya, Itachi-san, boleh aku bertanya padamu?"

"Ya?"

"Sasuke-san itu … benar-benar menyukai Hina-chan, 'kan?"

Tanpa diduga oleh Ino, Itachi hanya menjawabnya dengan senyum. Sekali itu, senyuman Itachi yang tiba-tiba terlihat dari sudut matanya membuat jantung Ino berdegup hingga wajahnya terasa sedikit memanas. Dengan cepat, gadis itu langsung mengalihkan pandangannya ke jalan seraya berharap bahwa Itachi tidak sempat memergokinya tengah mencuri pandang.

"Soal itu, sih … gimana, ya?"

Jawaban Itachi yang tidak jelas itu tentu saja membuat Ino tidak puas. Tanpa sadar, sang gadis bahkan berceletuk, "Hah?"

"Yang jelas, Sasuke selalu memikirkan baik-baik langkah yang akan diambilnya. Baik itu dalam pekerjaan, ataupun…."

Tanpa menyelesaikan kalimatnya, Itachi membiarkan keadaan menjadi hening di dalam mobil. Dan entah mengapa, Ino pun akhirnya memilih bungkam. Sesuatu seakan melarangnya untuk berbicara lagi. Lebih lanjut, benaknya masih terlalu sibuk menganalisis penyebab keanehan pada jantungnya tadi.

Ya.

Mungkin kesunyian memang pilihan yang tepat bagi keduanya untuk saat ini.

o-o-o-o-o

Berbeda dengan keadaan di dalam mobil Itachi, kesunyian yang mendekam di ruang tengah keluarga Uchiha sama sekali membuat perasaan tidak nyaman. Hinata sendiri terlalu bingung hendak mengatakan apa. Yang bisa gadis itu lakukan hanya menunduk dengan kedua tangan terletak di atas masing-masing pahanya. Sesekali, ia memang melirik Sasuke. Namun, pemuda itu sendiri tampak sedang terhanyut dalam pemikirannya.

Jika saja Hinata tahu, Sasuke saat itu sedang mati-matian memikirkan kata-kata yang harus diucapkannya pada Hinata. Berulang pemuda itu mencoba membuka mulutnya dan berulang pula, usahanya batal—mulutnya kembali menutup, menelan kembali setiap kata-kata yang sudah ada di pangkal lidah.

Merasa sedikit kepayahan, Sasuke sampai mengacak rambutnya. Entah mengapa, sangat sulit menanyakan hal itu pada Hinata—kemampuan komunikasi Sasuke untuk masalah seperti ini memang sedikit di bawah rata-rata. Ia tidak bisa seperti Sai, yang dapat dengan bebas mengutarakan apa pun meskipun terkadang perkataannya menyakitkan. Ia juga tidak bisa berkata apa adanya dengan cara yang sopan seperti Itachi. Dan, yah … sesaat, tengah Uchiha tersebut merasa dia adalah sosok paling gagal.

"Ano—"

"Kau tadi menangis, eh?" potong Sasuke cepat—lebih bagaikan reaksi spontan karena ia terkejut dengan suara Hinata yang tiba-tiba terdengar.

"E-eh?"

Boleh dibilang, saat itu Sasuke merasa menyesal dengan pilihan kata-katanya. Belum lagi cara ia mengucapkannya—terkesan begitu buru-buru. Namun, apa mau dikata? Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur.

"Kubilang," ujar Sasuke yang diselingi sebentar dengan helaan napas, "tadi kau menangis? Maksudku, sebelum menginjak rumah ini."

Hinata terpana kala didengarnya pertanyaan Sasuke. Mata senada warna mutiaranya langsung mengerjap beberapa kali demi memastikan bahwa orang yang ada di hadapannya memang Sasuke. Begitu didapatinya keyakinan seratus persen bahwa memang Sasuke-lah yang baru menanyakan pertanyaan tadi, ketika itu pula wajah Hinata langsung bertransformasi warna layaknya kepiting rebus, atau tomat ranum, atau apa pun benda yang berwarna merah.

Sasuke-kun tahu? Di-dia tahu aku menangis? ujar batin Hinata. A-aduh. Bagaimana ini? Padahal sebelumnya aku sudah berkata bisa menerima pernikahan ini. Kalau dia tahu aku menangis, pasti dia berpikir aku—

"Hei?" panggil Sasuke lagi.

"H-hai!" jawab Hinata sambil mengangkat kepalanya. Begitu matanya kembali beradu dengan onyx Sasuke, rona di wajahnya semakin menjadi hingga ia memutuskan untuk menunduk. Sembari memainkan jemarinya, Hinata pun akhirnya menjawab, "A-aku … uhm … eto … aku … yah … maksudku…."

"Aku tahu, pernikahan ini menjadi beban untukmu, 'kan?"

"I-itu…." Hinata semakin bingung hendak menjawab apa. Bisakah ia menyangkal semua pernyataan Sasuke?

Tidak.

Karena jauh di lubuk hatinya, Hinata tahu bahwa yang dikatakan Sasuke itu benar. Ia saja yang berusaha tegar—jika tidak mau dikatakan sok kuat. Padahal, usia Hinata memang belum mencapai usia yang cukup untuk bisa menikah. Tapi, ini sudah menjadi keputusannya, 'kan? Mereka juga sudah menikah—tercatat di catatan sipil.

"Kenapa kau tidak menolak dari awal?"

"Ng…."

"Kenapa kau harus berusaha seakan kau bisa menerima pernikahan ini? Seakan kau kuat?"

Hinata menggigit bibir bawahnya.

Ia hanya ingin membantu ayahnya.

—salahkah ia?

"Ke-kenapa Sasuke memojokkanku seperti itu?" jawab Hinata dengan tatapan yang masih mengarah ke lantai. "A-aku sudah menerima pernikahan ini, apa … keberatanku patut dipertimbangkan lagi?"

Sasuke terbelalak mendengar jawaban Hinata. Sesaat, Sasuke bersumpah melihat Hinata tersenyum—meski ia yakin itu bukanlah senyum yang benar-benar tulus. Ada sedikit gurat kesedihan di sana.

"Aku tidak akan menyesal dan melarikan diri. Aku … aku bukan orang yang seperti itu."

"Bukan itu maksudku," jawab Sasuke sambil menggerakkan tangan untuk menyingkap poninya sedikit.

"Eh? Jadi?"

Sekali lagi, Sasuke bingung harus menjawab apa.

Aku tidak ingin kau menyesali pernikahan ini. Aku tidak ingin kau menyesali kenyataan bahwa suamimu adalah aku.

Hell! Sasuke tidak mungkin mengatakannya. Bagi sang pemuda Uchiha, perkataan semacam itu lebih menjurus pada pengakuan. Selamban-lambannya Hinata, jika ia mendengar ucapan tersebut meluncur dari mulut seorang Sasuke, tentu di benaknya akan terukir sesuatu yang lain.

Belum saatnya Sasuke mengakui perasaannya. Katakanlah itu sebagai gengsi atau harga diri atau apa pun—Sasuke tidak peduli. Yang ia inginkan sebenarnya hanyalah….

"Sudah, lupakan," ujar Sasuke sambil bangkit berdiri, "kalau kau memang tidak berniat menyesal dengan jalan ini, sebaiknya kau mulai melakukan tugasmu sebagai istri."

Seakan ada magnet, sesaat setelah Sasuke berdiri, Hinata pun ikut berdiri. "Ha-hai? Apa yang harus kulakukan?"

Sasuke menggaruk pipinya dengan ujung jari.

"Yah, bagaimana kalau kau mulai dengan uhm … menyiapkan makan malam?"

***つづく***


Mwahaha~ saya cut ampe di sini dulu. Gomen buat yang merasa kalau (lagi-lagi) interaksi SasuHina kurang bernuansa romens. Gomen juga kalau ada yang merasa chapter ini kebanyakan ini-itu gak penting. Tapi saya mau membuat alurnya senatural mungkin. Soal ItaIno dan SaiSaku, saya rasa porsi mereka gak kebanyakan, kan? Kalau memang ada yang gak suka dengan porsi mereka, saya minta maaf. Yang jelas, ItaIno n SaiSaku juga akan berperan dalam perkembangan hubungan SasuHina di sini.

Sebelum masuk ke review, ini diaaa … eng-ing-eng!

POJOK (SOK) GAHOEL!

Sasuke : Yah, bagaimana kalau kau mulai dengan uhm … menyiapkan makan malam?

Hinata : (Lu kate gue pelayan?) Ba-baik! Kau mau apa, Sasuke-kun?

Sasuke : Ayam pake saus tomat, sop ayam pake tomat, salada tomat, jus tomat, lalu penutupnya puding tomat (?) Dan oh! Jangan lupa! Nanti hiasi meja makannya dengan taplak bermotif tomat! Itu pengetahuan dasar jika kau mau jadi istri Uchiha.

Hinata : … Sasuke-kun…. *smile*

Sasuke : Hn?

Hinata : Kita cerai sekarang!

Dan Sasuke pun tahu kalau Hinata menyesal sudah menjadi istrinya.

THE END

Biasa, pikiran nista lagi kumat. Mungkin 'Pojok (Sok) Gahoel!'-nya masih akan berlanjut kalau ide nista saya mendadak muncul lagi.

Oke, deh! Seperti biasa, saya mau ucapin terima kasih sebesar-besarnya untuk reviewer di chapter kemaren :

keiKo-buu89: Hihihi, Sasuke udah suka Hinata atau belum … temukan jawabannya di setiap chapter fanfic ini, ya? XDD

Belibers: wah, kalau pakai umur yang itu, udah terlalu biasa, dong? Dan, mungkin patokan kamu itu 16 tahun umur anak Indonesia, ya? Coba diganti sedikit mindset-nya, ke anak-anak Jepang, ya? Yang kayak di komik-komik itu, lho? ;D

ulva-chan: Hahahay, iah, gakpapa kok panggil apa juga (telat yah, jawabnya? :P). Soal Ino, iah, di sini dia bakal cukup berperan jadi tempat bersandar Hinata. Soal keluarga Uchiha, emang, nih, dunia nggak adil. Satu keluarga diberkahi orang-orang keren semua? O.o

lonelyclover: pasti ada, dong. Tunggu aja tanggal mainnya, yak? XDD

Ai HinataLawliet: gak, deh, gak banyak-banyak. Cuma awal-awal aja. Hahaha. Soal perasaan Sasuke, sih, nanti pasti ada saatnya.

Rishawolminyu: sayang sekali, mereka ternyata belum satu kamar. Mwahahaha~ #PLAK! SHDL? Jiah, telat, ya, saya balesnya? SHDL kapan pula. Ahahaha~

Cactus. mo: maaf namanya di-spasi, kalau nggak jadi ilang ._.a maaf (lagi) gak bisa update kilat. Hehe. Makasih udah di-fave.

YamanakaemO: ah, masya? Sasu-nya lebih salting kalau di dekat Naruto, lho (?) #WTH! XDDD

Yamanaka Chika: Chika-chan ke mana aja? ;A; Sakura bentar lagi muncul, di chapter ini udah mulai terlihatkah siluet (?) Sakura? =))

Tana nO cherimoYa: Hihihi, gakpapa, yang penting ntar-ntar rajin ripiu (?) :P

Hyou Hyouichiffer: ma-maaf soal kealfaan romens, saya coba biar alurnya lebih cepet, deh? ._.a Btw, makasih udah mau nunggu. Belum ampe lumutan, kan? XDD

sabaku no ligaara ga log in: rigaa-hime, makasih buat masukannya, ya? *peyuk-peyuk* Maaf, sepertinya soal amnesia itu gak bisa diganggu gugat =))

Shuuta Hikaru: angst? Masa? Hahaha. Gara-gara Hinata nangis kali, ya? ItaIno? Noh, udah mulai terjalin rantai cinta mereka. Mwahahaha~

Ma Simba: seppo, Ima-chan. Ehm? Lama bikin mereka akrab? Moga-moga gak selama itu juga. Haha.

Himeka Kyousuke: SaiHina? ._.a (author bingung). Gak ada, kok. Ahahaha. Sai itu sama Sakura ^^v

Zoroutecchi: ahey! Makasih udah r&r, ya, zo-kun. Wkwkwkwk~ Iah, Sasuke gak bakal macem-macem, justru dia yang bakal dimacem-macemin (?) ._.a

Kiyo Ry: hehehe, makasih udah suka. Sasuke itu pangeran dengan kendaraan berupa ayam untuk menyelamatkan Hinata dari cengkeraman ular (?) #yang ada ayamnya yang kalah kalau kayak gitu ceritanya. Soal pernikahan orang Jepang, yup, that simple kalau gak pake resepsi. Itu juga setahu aku, dengan sumber: komik. Mwahahaha.

Mei Anna AiHina: scene romens itu … yang kayak gimana, nih? Yang ada pelukan, kissing, gitu-gitu, ya? Kalau ngobrol berduaan aja, termasuk gak? XDD

Miya-hime Nakashinki: beda, ya? Tahu, tuh, si author-nya mikir apa, sih? #gak mikir apa-apa kayaknya. Kalau sampe Sasuke tahu … niiiih, ada di chapter ini. Hahaha.

el Cierto: have you seen it? ItaIno have already met for the second time. XDDD

Amai Yuki: jyaaah, ternyata dari sini yah dirimu dah request birthday fic yang aku buatnya ampe mulur itu. Gomen~! DX Tapi tenang, sesuai janji, tanggal 5 Februari dipublish =))

Kuronekomaru: mwahahaha, tapi di sini juga tetep ada Ino-nya, sih XDD btw, thanks dah dibilang keren (?). #fic-nya, woy! :P

Aiwha Katsushika: Neji bakal muncul, gak, ya? #mikir Hahaha, lihat nanti deh? dia belum mikir :P

satria DK: hahaha. Sankyuu.

Uchiha 'Pytha' No Aka Suna: wkwkwk, segini masuk romens, gak, ya? #kabur~

chibi tsukiko chan: makasih udah setia menunggu *terharu ;A; MP mereka, sih, kayaknya masih lama. Ahahaha~

Lollytha-chan: sila~ ini udah (baru) update =))

Firah-chan: sila~ ini udah (baru) update =)) *tinggal copas, gak kreatif banget, ya? =w=a

Shizuka Meiko: hiatus, sih, nggak, tapi amnesia iya. Ahahaha.

uchihyuu nagisa: yang dipikirin Sasuke? Saya coba jawab sedikit: 'Rambut gue keren, gak, ya? Duit gue masih banyak, gak, ya? Makan malem hari ini apa, ya? Itachi belum punya cewek dan artinya gue menang! Gue dah punya istri, bo`! Mwahaha~' Sekian isi pikiran nista Sasuke #plak! ^^v

harunaru chan muach: seppo~ Ini baru dapet XDD Iah, si Sasuke kan canggung-canggung mau :P

El Lavender: iah, mereka malu-malu kucing. Mwahaha. Sep2 ^^b

Shyoul lavaen: hah? Saya emang bilang Shino itu adik Ino? Di line mana? *author amnesia. Shino bukan adik Ino, kok =w=a

kyu's neli-chan: sisi kelakian Sasuke? Di mana, ya? *nyari-nyari. Ah, cukup Hinata aja yang tahu (?) :P Iah, dong, Ino di sini perannya akan jadi 'kakak'. Bijak dikit gakpapa, pan? Tapi dia emang bijak, sih? Mwahhaha~

Handa Degkhaa: jiah, ganti namanya lagi. Ahahaha. Sila chapter 4-nya XDD

Animea Lover Ya-ha: yup, nanti pasti ada flashback-nya ^^b Btw, maafkan saya update siput, abis gunturnya kemaren pergi gak bilang-bilang, jadi saya terpaksa naik siput, udah gitu … #keasikan mengarang alibi #plak!

Yosh, selesai juga nulisin balas review. Hontou ni arigatou ya buat semua reviewer.

Terus, terima kasih juga saya ucapkan buat semua yang udah baca (silent reader sekalipun), yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu! Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan, juga maaf karena update-nya lama banget *bow* Next chapter-pun saya gak tahu kapan bakal terbit #plak!

Oke, langsung aja, silakan beritahukan kesan, pesan, saran, kritikan minna-san tentang fic ini. Arigatou sebelumnya~

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie

~Thanks for reading~