Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

No commercial advantages is gained by making this fanfic. Fanfic is just for fun, guys! ;)

Genre : Romance/Drama

Pairing : SasuHina slight ItaIno and SaiSaku

This chapter will be specially dedicated to me, myself. Sebagai perayaan udah berhasil ngumpulin draft final assignment saya. Banzai~! Huwakakakaka! X"D

Okay then. Cukup dulu cuap-cuapnya. Happy reading!


Chain of Love

Chapter 5 – Two Stories


There're people who are bound againts their will.

On the contrary,

there're also they who are forced to broke up without even considering

their feelings.

Two disparate stories,

but the cause is no far different.

.

.

.

Keluarga Uchiha—keluarga yang diberkahi kemakmuran. Keluarga Uchiha—keluarga yang diberkahi bibit-bibit unggul secara fisik maupun kemampuan. Di atas segala kesempurnaan itu, keluarga Uchiha juga adalah keluarga yang terbilang … miskin kata-kata.

Setidaknya, itulah yang ada di pikiran Hyuuga Hinata yang sekarang sudah melepas nama Hyuuga-nya dan bergabung dengan keluarga yang entah bagaimana selalu sukses menciptakan keheningan. Sependiam-pendiamnya Hinata, baginya suasana di meja makan utama keluarga Uchiha itu sangatlah dingin dan mencekam.

Sebelumnya, ia sudah menghabiskan waktu beberapa saat dengan Itachi dan Sasuke—minus Sai yang sudah pergi bahkan sebelum Ino meninggalkan kediaman Uchiha. Menurut Hinata, suasana tidak akan sekaku ini apabila ia hanya bertiga dengan Sasuke dan Itachi. Pun, Itachi sangat ramah padanya.

Dan seketika itu juga, pikiran Hinata berujung pada satu kesimpulan.

Sang tuan besar—kepala keluarga di kediaman Uchiha.

Uchiha Fugaku.

Semenjak kedatangan Fugaku ke rumah itu sekitar satu jam yang lalu, udara yang ada di sekeliling Hinata menjadi terasa berat. Terutama saat Fugaku menatapnya tajam seolah menilai Hinata dari ujung puncak kepala hingga ke ujung kaki. Hinata sendiri saat itu hanya bisa memberikan senyum terbaiknya—yang dihiasi kegugupan—dan memberikan sapaan sebagaimana mulutnya bisa bergerak.

Respons Fugaku saat itu hanyalah sebuah anggukan. Dan selanjutnya, pria berumur sekitar 50 tahunan tersebut langsung melewati Hinata begitu saja dan beranjak ke kamarnya.

Sesaat Hinata merasa lega. Tapi tidak lama kemudian, Itachi mengatakan bahwa sudah saatnya makan malam dan dia akan memanggil Fugaku. Ucapan Itachi sekonyong-konyong membuat tubuh Hinata kembali menegang. Dan Hinata pun semakin yakin kalau ia memang takut, sangat takut, pada Fugaku.

Namun, Hinata tidak punya pilihan. Ia tidak mungkin menolak acara makan malam bersama ini. Apa yang akan dikatakan Fugaku jika ia kemudian tahu Hinata menolak makan bersamanya hanya karena rasa takut? Ah—menantu tidak tahu sopan santun.

Dengan demikian, di sinilah Hinata berada sekarang. Berusaha menelan makanan di mangkuknya sementara matanya mencuri pandang takut-takut pada sang ayah mertua. Entah apa rasa masakan dalam mangkuk Hinata, ia tidak bisa dengan jelas mengecapnya. Seharusnya semua sudah sempurna. Ya—masakan yang dibuatnya dengan bantuan para pelayan di rumah. Seharusnya tidak ada kesalahan.

Sampai Hinata melihat kernyitan di wajah Fugaku saat pria itu baru saja menelan sajian berupa tahu rebus yang merupakan masakan andalan Hinata—dengan resep khusus ala keluarga Hyuuga.

Ga-gagal? batin Hinata mulai panik.

Seketika itu juga, Hinata langsung bersuara dalam kegugupan yang nyaris mendekati maksimal. "A-ano … apa tahu rebusnya tidak sesuai dengan selera Anda? Ma-maaf, aku sudah dengan lancang menyajikannya. Aku…."

"Anda?" Kerutan di dahi Fugaku terlihat makin tajam.

"E-eh?"

Semakin menambah kebingungan Hinata, terdengar tawa tertahan dari arah kirinya.

Itachi.

Kakak sulung Sasuke itu tampak tersenyum geli. Hinata jelas kebingungan dan tanda tanya besar seakan terlukis di wajahnya begitu saja.

"Harusnya," ujar Sasuke yang kali ini membuka suara, "Tousan, 'kan?"

Hinata yang sudah memusatkan perhatian pada Sasuke kini tercengang selama beberapa saat. Wajah gadis itu masih dipenuhi pertanyaan. Hinata benar-benar tidak mengerti. Atau tepatnya, ia lupa.

"Apa?" tanya Sasuke sambil melihat ke arah Hinata. Samar, Hinata bisa melihat rona tipis di kedua pipi Sasuke. "Kurasa kau tidak lupa kalau kau sekarang sudah menjadi istriku?"

Bingo.

Hinata melupakan poin penting dalam pernikahannya dengan Sasuke. Pernikahannya dengan Sasuke tidak hanya membuatnya menyandang nama Uchiha dan berstatus istri Sasuke, ia juga sudah menjadi bagian dalam keluarga itu. Sebagai adik ipar dari Itachi, kakak ipar bagi Sai, dan juga … menantu Fugaku.

Sekejap kemudian, wajah Hinata pun memerah total.

"Go-gomenasai, T-T-Tousan!" ujar Hinata sembari menundukkan kepalanya. "A-aku…."

"Ah, tidak perlu minta maaf. Aku…."

Perkataan Fugaku tidak sempat terselesaikan karena seketika itu juga, Itachi memotongnya.

"Tousan, kau membuat menantumu ketakutan," jawab sang sulung masih dengan senyum lembutnya.

Fugaku menaikkan alis. "Aku tidak bermaksud."

"Hinata-chan, kau tidak perlu setakut itu pada Tousan. Wajahnya memang tampak mengerikan, tapi beliau ini hanya terlalu kaku. Beliau bukan mertua galak yang akan menyiksamu seperti di film-film. Yah, setidaknya … jika kau tidak mengusiknya…."

Hinata mengangkat wajahnya.

"Seperti Sasuke, 'kan?" imbuh Itachi sambil menunjuk Sasuke dengan tangannya yang masih memegang sumpit.

Hinata hanya bisa ternganga saat ia melihat Fugaku yang malah tampak canggung. Saat itu juga, Hinata merasa malu pada dirinya yang langsung ketakutan sendiri pada Fugaku tanpa berusaha untuk mengenal ayah mertuanya lebih dekat. Ah—padahal Hinata mempunyai contoh yang begitu dekat dalam kehidupannya. Hiashi—ayahnya—pun sepintas tidak terlihat sebagai pria yang ramah, bukan?

"Gomenasai!" ulang Hinata lagi. "Ho-hontou ni gomenasai. Aku tidak—"

"Ah, sudah. Sudahlah," jawab Fugaku sembari mengangkat sebelah tangannya. "Aku tidak heran kalau kau takut padaku, putri Hyuuga."

"Tapi…."

"Waktu itu aku malah membuatmu menangis karena melihat wajahku," tambah Fugaku kemudian sembari mengambil tahu rebusan yang menjadi awal permasalahan. Begitu sumpit Fugaku berhasil mencapit benda halus berbentuk segi empat tersebut, ia kemudian kembali berkata, "Dan soal tahu rebusan ini, aku sangat menyukainya. Tidak perlu merasa khawatir kalau masakan ini tidak sesuai seleraku."

Hinata yang awalnya tengah berusaha mencerna perkataan Fugaku, seakan tertarik kembali pada kenyataan. Fugaku menyukai tahu rebus buatannya. Berarti, kernyitan Fugaku di awal bukan karena rasa tahu rebus yang tidak sesuai di lidah sang kepala keluarga Uchiha. Apa pun alasannya, yang jelas, sedikit kelegaan mulai merayapi dada Hinata. Sebuah senyum akhirnya terkembang di wajah sang gadis.

"Yokatta," ujar Hinata sambil meletakkan tangan kirinya di depan dada.

Saat itulah, Hinata merasakan sebuah tepukan halus di puncak kepalanya. Hinata seketika menoleh ke arah kanan tepat di sampingnya—tempat Sasuke duduk untuk menyantap makan malamnya.

Pemuda itu tidak berkata apa-apa setelahnya. Tapi entah mengapa, sentuhan itu seolah hendak menyuarakan suatu pujian pada Hinata. Dan sekejap saja, kehangatan mulai menyelubungi diri Hinata. Rasanya … begitu menenangkan.

Setelah kejadian konyol yang singkat tersebut, keheningan memang kembali mendekam di ruang makan. Tapi setidaknya, Hinata tidak lagi merasa ketakutan. Dan ia pun mulai bisa mengecap rasa dari makan malamnya dengan lebih baik.

o-o-o-o-o

Makan malam pertama Hinata bersama keluarga Uchiha berjalan lebih lancar dari dugaan. Hanya sekilas Hinata merasa ketegangan sedikit meningkat.

Bukan—bukan saat Hinata salah menyebut Fugaku sebagai 'Anda'. Saat itu adalah saat Fugaku bertanya perihal sang bungsu yang tidak ikut makan malam bersama mereka. Dengan tenang, Itachi memang sudah menjelaskan bahwa adiknya tersebut sedang ke rumah temannya untuk mengerjakan tugas kuliah.

Entah bagaimana, Hinata bisa mengetahui bahwa yang terlontar dari mulut Itachi adalah kebohongan. Dan entah bagaimana pula, Hinata bisa yakin bahwa Fugaku pun menyadari kebohongan tersebut. Tapi Hinata cukup sadar diri untuk tidak berkomentar apa-apa. Ia tidak tahu ujung pangkal persoalan. Dan memang ia tidak dalam kapasitas untuk memberikan pendapatnya. Apalagi Sasuke juga tidak mengatakan apa pun.

Namun, persoalan ini sedikit menggelitik rasa ingin tahu Hinata. Karenanya, setelah acara makan malam usai dan Fugaku kembali ke kamarnya, Hinata mencoba memberanikan diri untuk mendekati Sasuke. Perlahan, gadis itu menarik lengan baju Sasuke—membuat pemuda yang baru saja akan beranjak ke kamarnya juga berhenti melangkah.

Awalnya, Hinata merasa bingung untuk mengutarakan pertanyaannya. Apalagi setelah dilihatnya mata Sasuke yang semakin menuntut.

"Uhm … Sai-kun…?"

Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Hinata semakin merasa salah tingkah. Oh—apa dia tidak punya hak untuk mengetahui masalah ini? Namun, ia pun sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Uchiha, 'kan? Apa yang sedang terjadi dengan adik iparnya, setidaknya ia boleh mendengar sedikit klu tentang itu, 'kan?

"Apa … apa ada sesuatu…?" tanya Hinata lagi—kali ini lebih berhati-hati.

"Ah—tidak. Tidak juga," jawab Sasuke sambil menyentuh tengkuknya. Sasuke kemudian melirik ke arah pintu kamar Fugaku yang tertutup. "Kujelaskan di atas saja."

Hinata mengangguk setuju. Langsung saja keduanya melangkahi anak tangga satu demi satu dan berjalan sedikit hingga mereka tiba di balkon. Pemandangan malam yang terlihat dari balkon itu sungguh memanjakan mata Hinata. Dan semilir angin yang mengibarkan rambut Hinata sekilas sungguh memukau penglihatan Sasuke.

Untuk mempertahankan sikap cool-nya, Sasuke memilih untuk membuang muka—tidak lagi memandang ke arah Hinata. Ia kemudian berusaha berkonsentrasi pada pemandangan city-lights yang ada di hadapannya. Setelah ia menemukan posisi yang nyaman—dengan meletakkan kedua tangannya di atas tembok pembatas balkon—akhirnya Sasuke bisa kembali menghilangkan kebisuan di antara keduanya.

"Jadi … soal Sai, ya?"

"Oh? Iya," jawab Hinata yang nyaris lupa pada pertanyaan awalnya karena terdistraksi oleh pemandangan malam yang tersaji di depan matanya.

Langit gelap dengan kerlip bintang yang tidak seberapa, dipadu dengan nyala lampu perumahan adalah pemandangan yang belum tentu bisa didapat apabila rumahmu tidak berada di lokasi yang cukup tinggi dan strategis. Beruntunglah Sasuke yang tinggal di rumah strategis ini. Dan Hinata pun yang mulai sekarang tinggal di sini, tiap hari akan bisa melihat pemandangan yang menentramkan hati ini.

Tapi kini Hinata sadar bahwa fokusnya bukanlah pemandangan malam yang tampak menakjubkan. Persoalan Sai, permasalahan yang dapat membuat ketegangan samar itulah yang akan menjadi topik pembicaraan mereka. Karenanya, Hinata sudah memasang telinga, bersiap-siap mendengar penjelasan yang akan muncul dari mulut Sasuke.

"Sai itu … dia sedang menjalin hubungan rahasia dengan putri keluarga Haruno."

o-o-o-o-o

"Waktunya pulang, Sakura?" tanya pemuda berambut hitam kelam sembari mengelus rambut merah muda milik kekasihnya dengan lembut. "Kau tidak dicari oleh Tousan-mu, eh?"

"Ah, yah...," jawab gadis bernama Sakura yang masih saja tidak beranjak dari tempatnya yang nyaman di pelukan kekasihnya. "Mungkin dia mencariku, meneleponku, mengirimiku dengan sejumlah pesan."

"Kau tidak mau memeriksa handphone-mu?"

Haruno Sakura tampak mengerucutkan bibir. Gadis yang hanya mengenakan setelan kemeja sepanjang paha dengan kancing yang terkait tidak beraturan itu pun langsung bangkit dari kasur dan berjalan mendekat ke arah sebuah kursi yang berada di dekat jendela. Sebelah tangannya kemudian menyelusup masuk ke dalam tas untuk mengambil benda elektronik berukuran kecil yang menjadi biang permasalahan.

"Baik kalau kau mau mengusirku, Sai."

Sai terkekeh kecil di tempatnya. Sebelah kakinya masih tertekuk dengan buku sketsa terletak nyaman di pangkuannya. Bagian atas tubuhnya yang mengenakan kemeja dengan kancing yang terbuka seluruhnya tampak merebah nyaman pada sandaran kasur di belakangnya. Tangan kanannya yang memegang pensil kini bergerak mendekat ke arah wajah hingga ujung tumpul dari pensil kini beradu dengan pelipisnya.

"Jujur, aku ingin menahanmu lebih lama."

Sakura melihat Sai dari ujung matanya sementara ibu jarinya masih sibuk berkutat dengan handphone.

"Aku belum puas menggambarmu."

Sakura pun tersenyum kecil. Sedetik kemudian ia sudah lupa dengan alasannya mengambil handphone. Sekali lagi, gadis itu beringsut naik ke atas ranjang yang juga dipenuhi oleh kertas-kertas sketsa milik Sai. Kertas sketsa itu didominasi gambar dirinya. Dan dari pandangan awam, tentu saja Sakura sangat memuja sketsa-sketsa buatan kekasihnya tersebut.

"Kalau begitu … tahan aku, Tuan Pelukis yang playboy," ujar Sakura santai sambil mengerling menggoda ke arah Sai. Dan sebelum kembali pada posisi nyamannya, Sakura memilih meletakkan handphone-nya pada meja kecil yang ada di sebelah ranjang.

"Tidak. Aku akan mengantarmu pulang."

Sakura mengerjap beberapa kali. Mati-matian Sai menahan diri agar dia tidak tertawa saat melihat ekspresi polos Sakura yang menatapnya tidak percaya. Dan pada awalnya, hanya senyum penuh makna itu yang menghiasi wajah pucat Sai.

"Oh, Saaaaii~!" seru Sakura kesal sembari mendorong Sai sedikit.

Tawa Sai pun meledak. Sakura memasang wajah tidak suka, mengerucutkan bibirnya kembali dan kemudian membuang muka, menolak untuk memandang Sai. Tapi bagi Sai, tingkah Sakura tidak bisa menghalanginya untuk melakukan hal yang ingin dilakukannya.

Sai merentangkan tangan dan meraih wajah Sakura dari arah belakang. Begitu tangannya berhasil menggerakkan wajah Sakura agar kembali melihat ke arahnya, Sai pun langsung melumat bibir ranum gadis itu.

Sakura tidak berusaha berkelit. Gantinya, ia membiarkan dirinya terhanyut oleh ciuman panas yang ditawarkan kekasihnya. Jemari Sakura tanpa sadar sudah menyentuh dada telanjang Sai. Dan tanpa kendali yang cukup, keduanya mungkin akan kembali hanyut dalam permainan mereka. Tentu itu akan membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Sang Uchiha-lah yang pertama memutus kontak. Ia kemudian mendorong Sakura pelan tepat di bahunya.

"Rapikan pakaianmu, Sakura. Kita pulang sekarang," perintah Sai sembari mengancingkan kembali kemejanya.

"Sai…."

Sai menyunggingkan senyumnya. "Jangan khawatir. Kita masih bisa bertemu lagi, bukan?"

Sakura tidak menjawab. Kepalanya hanya tertunduk. Melihat Sakura yang seakan enggan bergerak, Sai kemudian mendekat dan menepuk kepala gadis itu dengan sayang.

"Setidaknya … bertahanlah sebentar lagi.

Mata emerald Sakura kini beradu dengan kelamnya onyx milik Sai.

"Sampai aku selesai mengurus semuanya…."

"Aku lelah harus terus berpura-pura," lirih Sakura, "aku lelah harus terus bersandiwara seolah-olah aku tertarik pada pemuda lain." Sakura kemudian menatap tajam ke arah Sai. "Dan aku benci jika harus melihatmu berjalan di samping gadis lain."

Sai tersenyum. "Kau tahu aku, Sakura."

Sai pun mengulurkan tangannya untuk merangkum wajah Sakura. Ringan, pemuda itu pun mengecup dahi Sakura.

"Kau yang paling memahamiku."

Setelah itu, Sakura hanya bisa menghela napas panjang dan mengangguk sebelum ia mulai merapikan dirinya sebagaimana yang diperintahkan oleh Sai beberapa saat yang lalu.

o-o-o-o-o

Hinata sudah berbaring nyaman di atas tempat tidurnya dengan mengenakan baju piyama putih dengan gambar kelinci di ujung bawah bajunya dan celana sepanjang lutut yang bermotif wortel oranye. Malam sudah semakin larut—nyaris tengah malam sudah. Sudah menjadi kebiasaan Hinata untuk beranjak tidur setelah ia selesai membaca-baca buku pelajarannya. Walau ia sudah menjadi istri, berdasarkan kesepakatan, ia tetap harus sekolah. Dan sayangnya, besok bukanlah hari libur.

Mata Hinata sudah terpejam, tapi tidak demikian dengan otaknya. Tanpa bisa dicegah, kesadaran Hinata seakan tertarik kembali ke saat ia tengah berbicara dengan Sasuke.

Perihal Sai.

.

.

.

"Haruno?"

Sasuke menghela napas.

"Haruno Sakura. Anak dari kepala Rumah Sakit Haruno. Kau pasti pernah mendengarnya," jawab Sasuke.

Hinata berusaha mengingat sejenak. Dan setelah ia mendapatkan ingatan yang diharapkan, Hinata pun mengangguk.

"Keluarga Haruno dan Keluarga Uchiha itu bisa dikatakan … tidak akur," ujar Sasuke dengan sebelah tangan yang terletak di depan mulutnya. "Bagaimana bilangnya, ya?"

"Kalau aku tidak boleh tahu—"

"Tidak masalah. Bagaimanapun kau sudah menjadi bagian dari keluarga ini," potong Sasuke cepat sembari mengangkat bahunya.

Wajah Hinata seketika itu memanas.

Bagian dari keluarga ini.

Ucapan Sasuke bagaikan mantra yang sanggup menaikkan temperatur tubuhnya dalam sekejap. Hinata sendiri bingung kenapa tubuhnya bereaksi terhadap ucapan Sasuke tersebut. Itu bukan kata-kata yang istimewa. Lebih lanjut, Hinata pun tidak pernah berpikiran kalau menjadi bagian dari keluarga Uchiha adalah sesuatu yang harus ia syukuri. Ah—tentu saja pemikiran itu terlepas dari rasa terima kasihnya pada keluarga Uchiha yang sudah membantu mengatasi masalah keluarganya sendiri.

"Singkatnya, semacam … kesalahpahaman?"

Suara Sasuke yang kembali terdengar membuat Hinata sedikit tersentak.

"Eh?"

"Dokter Haruno saat itu memesan seperangkat alat kedokteran dari perusahaan Uchiha. Setelah barangnya sampai dan diuji coba, satu barang tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Tentu saja Tousan menyangkal telah memberikan produk gagal. Dan memang tidak ditemukan permasalahan di barang lain yang sejenis. Perkara berujung di pengadilan."

"Sa-sampai sejauh itu?"

Sasuke menghela napas. "Awalnya, keluarga Haruno dan Uchiha akan terikat pernikahan. Sai dan Sakura."

Hinata membelalakkan kedua matanya.

"Tapi mungkin ada pihak yang tidak suka dengan kenyataan ini dan berusaha mengadu domba. Apalagi Dokter Haruno terkenal dengan kekeraskepalaannya."

"La-lalu? Perkara itu?"

"Dimenangkan Uchiha," jawab Sasuke lagi sambil membalik tubuhnya hingga kini punggungnyalah yang bersandar pada tembok. "Kasus ditutup dengan kesimpulan bahwa terjadi kesalahan pengoperasian alat. Salah satu dokter dari Rumah Sakit Haruno menjadi tersangkanya."

Hinata mengangguk penuh pengertian. "Ka-kalau begitu kasus harusnya selesai, 'kan?"

Sasuke tersenyum simpul. Meski saat itu mereka tidak langsung bertatapan, Hinata bisa melihat senyum Sasuke. Tanpa sadar, gadis itu malah melihat ke arah Sasuke dengan lebih intens.

"Harusnya, ya…."

Hinata yang mendadak sadar kalau ia tengah memandangi Sasuke akhirnya kembali memalingkan wajah ke arah pemandangan di depannya. "Be-begitu. Dokter Haruno … tidak terima? Uhm … merasa dirugikan?"

Sasuke mengangguk. "Semua hubungan dihapuskan."

"Jadi … Sai-kun dan Haruno Sakura-san…."

"Mereka terpaksa menjalani hubungan ini secara diam-diam. Bahkan terkadang Sai memilih untuk berjalan dengan gadis lain bertingkah seolah-olah dia adalah player sebagai kamuflase, bahkan di hadapan kami yang juga sudah tahu kebenarannya." Sasuke menghela napas sejenak.

Sesaat kemudian, Sasuke tampak berpikir. Pandangannya bahkan masih terkesan menerawang saat ia mengatakan, "Walau dia tidak mau mengakui, tapi aku tahu, Itachi tahu … Sai juga mungkin merasa sedikit … putus asa…."

"Putus asa ya…?"

Didorong oleh suatu kehendak tak kasat mata, Sasuke pun menengok ke arah Hinata setelah mendengar kata-kata istrinya tersebut. Dan Hinata—bagaikan ada sebuah suara yang membisikinya—langsung menoleh ke arah Sasuke. Selama beberapa saat, keduanya tetap dalam posisi itu. Mengadu onyx dengan pearl dalam senyap. Membiarkan angin malam menggantikan peran mereka untuk saling bertukar sapa.

Dalam benak masing-masing, berputar sekelumit konklusi mengenai definisi yang rumit dari suatu hubungan. Romansa—benarkah hubungan semacam ini masih tunduk di bawah pengaruh uang dan kekuasaan? Secara tidak langsung, cerita ini bagaikan mengolok apa yang diagungkan sebagai cinta abadi tak mengenal persyaratan.

Di satu sisi, ia dan Sasuke adalah contoh nyata yang bisa disebut sebagai kenyataan tak terelakkan. Sasuke menolongnya dari kebangkrutan. Dan ia harus bisa menerima kalau kini ia telah berada dalam satu ikatan.

Di sisi lain, Sai dan Sakura juga adalah korban. Asmara mereka harus dihentikan hanya karena satu perseteruan. Perseteruan yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawab mereka sebagai pasangan.

Sepintas, dua kasus itu adalah kasus yang berbeda. Tapi satu dasar akan menjadi pertanyaan yang sama bagi keduanya.

Cinta yang terikat itu … apa ikatan yang ada harus selalu disertai persoalan materi?

Pertanyaan itu terabaikan sedemikian rupa dalam benak masing-masing. Tidak seorang pun yang berniat menyuarakan pendapatnya. Ini bukanlah persoalan yang menarik untuk dibahas di malam pertama mereka, bukan?

Dan Sasuke cukup bijaksana untuk kemudian membiarkan Hinata sendirian berkutat dalam pikirannya.

.

.

.

Hinata berguling dari posisinya tatkala ingatan itu selesai dicerna. Matanya kembali terbuka—enggan terpejam. Pemikiran tentang Sai dan hubungan pemuda itu dengan kekasihnya membuat Hinata merasa jengah.

Tidak berbeda jauh dengan kondisinya. Hanya berbeda kulit luarnya.

Pernikahannya dengan Sasuke bukanlah sesuatu yang pernah ada dalam pikirannya. Tidak sekali pun. Tapi kondisi memaksanya untuk kini menerima kenyataan bahwa ia sudah resmi bergabung dalam keluarga Uchiha. Memang, dalam hal ini Hinata-lah yang memutuskan. Seakan ia memiliki kebebasan, tapi … apa sebenarnya dia mempunyai pilihan?

Setitik air mata sudah hendak mengalir keluar dari kedua bola mata Hinata, seandainya ia tidak mendengar sesuatu yang langsung menarik perhatiannya.

Bahwa di kala malam menjelang pendengaran manusia berkali lipat lebih dapat diandalkan dibanding penglihatan ternyata benar adanya. Meski samar, Hinata seakan mendengar suara langkah kaki menaiki tangga. Seketika, Hinata bangkit dari posisi berbaringnya.

Berjalan perlahan ke arah pintu, Hinata berusaha keras untuk menenangkan debaran jantungnya yang sedikit tidak beraturan. Sambil meyakinkan diri kalau itu bukan pencuri, Hinata sejenak menempelkan telinganya di pintu—berusaha mendengarkan dengan lebih jelas situasi yang berada di balik pintunya tersebut.

Sedikit gemetar, gadis itu kemudian membuka pintu hanya untuk mendapati Sai yang terkejut dan langsung menghadap ke arahnya (pemuda itu sudah berada di depan kamarnya sendiri dengan tangan yang tengah memegang kenop pintu). Hinata pun tidak kalah terkejut melihat adik iparnya tersebut.

Refleks, Hinata kemudian bersuara—meski nyaris berbisik. "Sa-Sai-kun? Baru pulang?"

Sai mengerjap sesaat sebelum ia menghela napas dan tersenyum. Ia mengurungkan niat untuk masuk ke kamarnya segera. Ia pun berbalik dan kemudian menyandarkan punggungnya ke pintu.

"Seperti yang kaulihat, Hinata-chan." Seolah teringat sesuatu, Sai menyentuh dagunya. "Maksudku … Hinata-neechan." Dan senyum yang dipenuhi makna itu kembali diperlihatkan oleh Sai.

"Hi-Hinata saja juga tidak apa," jawab Hinata sambil memandang ragu-ragu ke arah Sai. Sai bergeming di tempatnya—masih dengan senyum yang tidak bisa Hinata pahami maksudnya. "A-apa kau baru saja bertemu Haruno Sakura-san?"

"Dari mana—" Sai memotong ucapannya sendiri. Matanya yang semula terbelalak langsung menyipit kembali. "Oh. Tentu. Dari Sasuke, bukan?"

Hinata menutup mulutnya dengan sebelah tangan. "Maaf. Apa itu … sesuatu yang rahasia?"

Sai melipat tangannya di depan dada. Kakinya disilangkan satu di depan kaki lainnya. Sekali itu, Sai memilih untuk melihat ke arah langit-langit rumahnya.

"Rahasia, ya?" ujarnya perlahan. "Mungkin sebaiknya memang dirahasiakan…."

"Aku … aku mengerti. Aku tidak akan memberitahukannya pada siapa pun." Hinata berkata dengan lebih yakin. "Aku janji."

Sai akhirnya kembali mengalihkan tatapannya pada Hinata. Begitu melihat kesungguhan yang dipancarkan kakak iparnya, mau tidak mau pemuda tersebut kembali menyunggingkan sebuah senyuman.

"Daripada itu, Hinata…." Sai sengaja menggantungkan kata-katanya. Ia kemudian beranjak dari tempatnya, menuju ke pintu lain yang berada tidak jauh dari tempat Hinata berdiri. "Kenapa kau berdiri di sana?"

"Ma-maksudmu?"

Sai tidak menjawab. Pemuda itu malah mengetuk sebuah pintu sembari berkata, "Sasuke, ini aku."

Hinata mengernyitkan alis pertanda tidak mengerti. Baru sedetik lalu Sai bertanya padanya, kini pemuda itu seakan tidak mengacuhkannya. Bahkan sekarang pemuda itu malah mengetuk pintu kamar Sasuke. Entah apa maunya.

Tak lama, pintu pun terbuka. Sasuke dengan kaos yang agak longgar setengah lengan berwarna hitam serta celana training panjang memasang wajah yang kusut. Rambutnya tampak lebih acak-acakan dari biasanya. Dan sungguh, Sasuke tidak segan-segan menunjukkan kekesalannya pada sang bungsu Uchiha di hadapannya.

"Kaupikir ini jam berapa?"

"Kau sudah tidur?"

Sasuke menggaruk kepalanya asal sebelum ia kembali menjawab, "Apa maumu?"

Sai hanya tersenyum. Selanjutnya, ia mendorong kakak laki-lakinya itu keluar secara paksa. Sasuke yang tidak siap hanya bisa berusaha agar ia tidak jatuh setelah sebelumnya ia terhuyung karena didorong mendadak oleh sang adik. Dan begitu ia sudah bisa kembali tegak di atas kedua kakinya, mata onyx-nya pun menangkap sosok Hinata yang masih berdiri di depan pintu sambil terbengong-bengong.

Setengah terkejut karena baru menyadari kehadiran Hinata, Sasuke langsung berkata, "Hinata?"

"Y-ya?" jawab Hinata sembari meremas-remas tangannya. Entah mengapa, ia mendadak gugup. Bahkan gadis itu memilih untuk tidak melihat ke arah Sasuke.

Sasuke pun seolah salah tingkah. Bagaikan reaksi spontan, pemuda itu kembali membuka suara. "Apa yang sedang kaulakukan di sini?"

"Tidak … aku … tadi aku mendengar suara langkah Sai … dan…."

"Dan kami berbicara sebentar, itu saja." Sai menggantikan Hinata menjawab. "Maaf mengganggu tidurmu, Niisan. Aku sudah selesai."

Sasuke mengerutkan alisnya. Namun, tanpa banyak bicara, kedua Uchiha itu pun berpindah tempat. Tentu saja, Sasuke tidak serta merta menutup pintunya. Meski Sasuke baru setengah sadar, ia masih bisa merasa curiga terhadap adiknya yang bertingkah cukup aneh.

"Ah, Hinata," panggil Sai kemudian tanpa mengindahkan tatapan Sasuke, "bisa kemari sebentar?"

Dengan patuh, Hinata pun mendekat. "A-ada apa, Sai-kun?"

"Begini…,"ujar Sai dengan tangan yan mengayun, seakan dia meminta Hinata agar lebih mendekat. Hinata pun selangkah mendekat ke arah Sai. Tanda tanya besar masih dirasakan oleh sang gadis.

Mendadak, Sai menarik tangan Hinata. Hinata yang tidak menduga gerakan itu tidak bisa melawan. Ah—seandainya ia tahu rencana Sai pun, sangat diragukan bahwa ia bisa memberikan perlawanan. Merasa bahwa rencananya akan berjalan mulus, dengan cepat, Sai kemudian mendorong Hinata ke arah Sasuke.

Sesuai harapan, Sasuke yang tidak siap langsung limbung dan terhatuh ke atas karpet lembut yang menutupi seluruh permukaan lantai kamar. Bersama Hinata yang jatuh menimpa tubuhnya. Dalam posisi yang sangat dekat—bahkan dapat dikatakan berpelukan.

"Sai! Apa yang kau—" Bentakan Sasuke pun terputus tatkala ia—dari posisinya yang masih terbaring di lantai sembari memeluk Hinata—melihat Sai tersenyum dengan wajah penuh kemenangan.

"Malam pertama…," ujar pemuda itu sembari perlahan menarik pintu kamar Sasuke, "harusnya dilewati bersama, bukan?"

Sasuke memucat. Hinata lebih-lebih. Keduanya masih terlalu terkejut hingga mereka bahkan tidak sadar kalau mereka sama sekali belum membenahi posisi.

"Ah, aku memang otouto yang baik hati."

Blam.

Bahkan sampai beberapa saat setelah sosok Sai menghilang ditelan pintu yang tertutup, keduanya hanya bisa mengerjap dalam bingung.

Lalu—

KLIK.

—suara kunci yang diputar pun terdengar.

***つづく***


Cut! Cut! Cut! Mwahahahaha~ *evil laugh*

Jadi … udah ada bayangan akan apa yang terjadi di chapter depan? Apa? Katakan bersama-sama~ *ala Dora The Explorer* Yah, pokoknya begitulah, ya? X""D

Lanjut, lanjut! Nah, karena ide nista saya lagi kumat … ini dia!

POJOK (SOK) GAHOEL!

Itachi: Tousan, kau membuat menantumu ketakutan.

Fugaku: *kicep-kicep* A-aku tidak bermaksud begitu…. *teary eyes* *mulut manyun*

Hinata: What the~?

Itachi: Hinata-chan, kau tidak perlu setakut itu pada Tousan. Wajahnya memang tampak mengerikan pada awalnya, tapi beliau ini sebenernya … errr….

Fugaku: Aku tidak mengerikan! Dasar Itachi anak durhaka! *lempar garpu ke arah Itachi* *gigit serbet*

Itachi: *ngakak dengan jidat ketancep garpu* Mirip Sasuke, 'kan? Hahaha.

Hinata: *pucet* *noleh ke arah Sasuke*

Sasuke: … *blushing* *tangan maenin ujung serbet*

GUBRAK!

Sasuke: Hi-Hina-taan~?

Fugaku: ohmigosh! Hinata-chwaaan…?

Dan Hinata bertekad untuk segera mengambil surat cerai di tengah-tengah kesadarannya yang makin menipis.

THE END

Kelewat nista? Maafkan saya yang tidak bisa menahan diri ;_; *dirajam ama fans Fugaku n Sasuke* *tewas* *Chain of Love tamat sampai di sini (?)* :P

Weleh, weleh, sebelum makin ngelindur, saya mau bales-balesin ripiu dulu aja, deh, ya? X""D

nitachi-chan loves itachi: Buahahahahha! X""D Amnesia kagak, tapi hiatus iya. Jadi tetep aja lama update-nya :P

syafria meily: kyaa, syafria-chaan. Halooo X") NOOO! Itachi punya sayaaa! *rebut kembali Itachi*Kalau Itachi tidak kembali, saya tidak bisa meng-update dengan cepat~ *alibi*

mari isozaki: Ehehehe. Gomen na, update-nya emang agak mulur karena saya kemaren sempet hiatus X""D

Aiwha Liu: Tau tuh, si Sasu. Mungkin gegara gak ada kasus pembantaian klan Uchiha, yak? Jadi sifat polosnya tetap bertahan :P Ups, di chapter ini malah gak ada ItaIno ._.a Pojok Sok Gahoel-nya silakan dinikmatiii~ XDD

Lollytha-chan: update sih pasti. Yang gak tau itu kapannya. *nyengir kuda*

Dae Uchiha: Wut? Sai cassava? Singkong? *disemprot obat mata ama Dae-chan* Hahaha. Jangan diambil dong, Sai-nya. Ntar Saku-chan ama siapa? ItaIno malah gak ada di chapter ini. Ufufu~ jangan histeris dulu. Chapter depan belum keluar. *evil laugh*

NaraUchiha'malfoy: *ikutan nari ala Shinchan* SaIno? Gak ada, deh, kayaknya. Ahahaha. Ino kenal Sai itu gara-gara … kasih tau gak, ya? XD Ups, di chapter ini malah nihil ItaIno. Gomen na? OwO

suks snsd: Salam kenal juga XD btw, dipanggilnya apa, nih? :"3 Aww~ ditunggu terus, lho, ripiu-nya *mata blink-blink* Soal Pojok Gahoel, iya … konsepnya emang yang serius jadi nista, sih. Tapi kemunculannya tergantung otak saya lagi kumat atau gak. Ehehe.

Tana no cherimoya: Seribu tahun? U-umur berapa kamu sekarang? Umur berapa saya sekarang? Saya siapa? Ini di mana? Saya ngap—*dibekep* Maaf, sepertinya WA author kembali kumat, jadi untuk sementara penpik terlantar. Sila menunggu chapter berikutnya 1000 tahun kemudian (?)

Freeya Lawliet: ciee … cieee … Itaino *ikutan* XD Iah, nih. Sasuke maennya kebanyakan ama Azis sih, jadi jah ngomongnya susah banget =="

Hyou Hyouichiffer: *sikat lumutnya* :p Ehe, soal kenapa si Ino kenal Sai ntar bakal dijelasin di chapter-chapter mendatang (kalau sayanya gak amnesia mendadak XD). I-iah. Saya kayaknya agak susah bikin romance yang langsung jadi kalau hubungan mereka dimulai dari nol. Tapi udah saya sempilin sedikit-sedikit kok di sini. Mungkin chapter depan lebih banyak lagi? Makanya jangan selingkuh, yak? Tetap setia aja ama fic ini *maksa* *digampar* XD

n: *terbang kebawa sapu terbangnya Harry* *penpik terlantar* XD Sasuke suka Hinata? Heeem … kasih tau gak, ya~? Tunggu aja di chapter-chapter mendatang, yak? ;)

uchihyuu nagisa: Tuh, chapter ini sebagai permintaan maaf Sai katanya. *ikutan smirk*Jadi Sai gak jadi dicekek, ne? Ne? Ne? XD

Miyacchime: Uhuuy! Saya juga suka ama Sai-nya *peluk-peluk Sai* *dibogem Sakura**penpik terlantar* ahem! Suasananya diam-diam mencekam? Bener juga. Mungkin gara-gara SasuHina dua-duanya pendiam, ya? XDD

Yamanaka Chika: Ihiiy~ makasih udah dibilang kiyut, Chika-chan~ *SasuHina-nya, woy!* Btw, Sakura udah muncul di chapter ini. Enjoy~ :3

Amai Yuki: Wkwkwk. Si Sai itu awalnya di plot yah emang cowok yang seenak jidatnya. Ngomongnya gak disaring. Dia tuh manis dengan caranya sendiri (?) XD Soal si Pojok Gahoel, nah doain aja biar otak saya kumat selalu (?) ;)

natsuki-riri: hai, hai~ nat-chan *bener gak panggilannya? *saya amnesia OAO" Gomen, ItaIno malah gak muncul di chapter ini. XD Soal Sai itu … bukan nggak setia, lho? Hahaha. Udah tau kan jawabannya kenapa? Orochi gimana? Nanti ada perannya lagi. Tenang~ XD

T: I-iya~ lanjut sih, pasti. Tapi kapannya itu yang gak tau. Hahaha. Yosh! Semangat amnesia! #salah

Ayuzawa Shia: Nut-chaaan … makasih udah nyempetin ripiu :* Hahaha. Si Sasu di Pojok Gahoel-nya unyu, gak? *mata blink-blink* Sai omongannya emang gitu. Suka seenak jidat. XD Maaf ya, update-nya lama, soalnya aku sempet hiatus dulu, sih ._.a

Mikky-sama: *mati**penpik terlantar* =))

blue night-chan: Ahahah. Maaf, maaf sebesar-besarnya. Kalau di multichapter, entah kenapa bawaannya jadi alur lambat. Kalau di one-shot, baru lebih rush. Soalnya saya mau biar hubungan mereka keliatan natural, gak instan. Harap bersabar yak :""D Soal orang ketiga, sampai saat ini gak kepikiran ke sana. Permasalahan mereka lebih ke diri mereka dan keluarga.

el Cierto: neechan, makasih buat masukan yang missing word. XD Gak, Sai nggak murni player, kok. Apa penjelasan di chapter ini udah cukup? Hehehe. Soal ItaIno, di chapter ini mereka malah absen, nee. ^^a

zoroutecchi: Hahahaha … gakpapa telat, yang penting tetep baca. Apalagi ripiu. Makasih zo-chan *hug*

Violetta Onyx: Better late than never, Dear. XD O-oh ya? Bagus? Makasih banyak buat apresiasinya :"D

harunaru chan muach non login: Mwahahaha~ itu kan baru sore pertama. Malam pertamanya…. Liat sendiri nanti, yaaaah? XDD

Yosh! Balesan ripiu selesai. Thanks buat semua reviewer sekalian~. Terima kasih juga saya ucapkan buat semua yang udah baca (silent reader sekalipun), yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu! Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan, juga maaf karena update-nya (lagi-lagi) cukup lama *ojigi* Next chapter-pun (lagi-lagi) saya gak tahu kapan bakal terbit #plak!

Okay, langsung aja, silakan beritahukan kesan, pesan, saran, kritikan minna-san tentang fic ini. Arigatou sebelumnya~

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie

Thanks for reading