Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

No commercial advantages is gained by making this fanfic. Fanfic is just for fun, guys! ;)

Genre : Romance/Drama

Pairing : SasuHina slight ItaIno and SaiSaku

Special chapter for SHDL; theme: SLEEP.

Saya memang nggak membuat fanfic khusus untuk event SHDL, tapi karena saya teringat bahwa chapter ini akan cukup sesuai dengan tema SHDL tahun ini, saya akhirnya memutuskan untuk ngebut ngetik chapter ini supaya bisa di-publish tepat pas event SHDL berlangsung. Saya usahakan chapter ini lebih full SasuHina. Moga-moga memuaskan ya? :")

Okay then. Cukup dulu cuap-cuapnya. Happy reading and happy SHDL, minna!


Chain of Love

Chapter 6 – Beautiful Nightmare


There's always a first time for everything.

That's when the feeling started to make noises...

will you accept it?

Or leave it unconscious?

.

.

.

Keheningan melanda kedua insan yang masih terduduk berhadap-hadapan di lantai beralaskan karpet berbulu pendek yang halus. Tatapan mata keduanya tidak saling beradu. Mulut keduanya masih terkatup.

Jelas sekali, masing-masing masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Kenapa mereka bisa ada dalam ruangan ini—kamar Uchiha Sasuke. Dalam keadaan terkunci.

Beberapa saat yang lalu, keduanya masih berada di luar kamar. Uchiha Hinata terbangun—ia belum benar-benar tidur sebetulnya—karena mendengar suara-suara di luar kamarnya. Sementara Uchiha Sasuke terbangun dari lelapnya karena sebuah ketukan di pintu.

Akhirnya, sel kelabu di kepala mereka mulai menunjuk pada satu nama.

Uchiha Sai.

Pergerakan Sai yang baru pulang tengah malamlah yang membuat Hinata terlonjak dari tempat tidurnya. Ketukan yang dilayangkan pada pintu kamarnyalah yang memaksa Sasuke untuk keluar dari alam mimpi.

Lalu, bungsu Uchiha itulah yang telah mengurung Sasuke dan Hinata dalam kamar Sasuke.

"Maaf." Suara Sasuke serta-merta menghancurkan keheningan.

Hinata mengangkat kepalanya. "Y-ya?" tanyanya ragu-ragu.

"Gara-gara Sai, tidurmu terganggu," tambah Sasuke sambil berdiri dari posisi duduknya. Ia kemudian beranjak ke arah meja belajar, mengambil ponselnya yang tergeletak di sana. "Sebentar, aku akan menyuruhnya untuk membukakan pintu."

Hinata mengangguk sebagai respons terhadap kata-kata Sasuke. Gadis itu kemudian ikut berdiri begitu Sasuke mulai memencet suatu tombol di ponselnya. Dengan tenang, gadis itu menunggu Sasuke menyelesaikan urusannya dengan Sai.

Sejujurnya, Hinata merasa bahwa jantungnya masih belum juga kembali berdetak dalam kecepatan normal. Kejadian tadi—saat ia didorong jatuh oleh Sai hingga menimpa tubuh Sasuke—masih begitu membekas dalam benaknya.

Saat itu, wangi tubuh Sasuke seolah menghipnotis sang dara berambut indigo. Ada saat di mana gadis itu merasa tidak ingin mengubah posisi. Suatu bagian dalam benaknya berbisik bahwa kondisi ini bukanlah kondisi yang buruk. Tidak ada yang perlu ia takutkan. Sasuke adalah suaminya.

Jika saja Hinata mendengar bisikan itu, mungkin ia akan lebih mendekatkan wajahnya ke arah wajah rupawan yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Jika saja Hinata telat mengabaikan dorongan yang entah bagaimana bisa menyusup ke dalam benaknya, mungkin saat itu, bibir keduanya telah bertemu.

Kesadaran yang sekonyong-konyong datanglah yang kemudian menepis pemikiran itu. Dengan wajah memerah, Hinata langsung bangkit dan melompat menjauhi Sasuke yang juga masih bergeming. Setelah Hinata berseru meminta maaf dan membungkuk berulang kali, barulah Sasuke ikut bangkit. Keduanya kemudian terduduk dalam posisi berhadapan selama beberapa saat sebelum ide menghubungi Sai itu dicetuskan oleh Sasuke.

"Sial! Sai no yaro!" umpat Sasuke sambil kembali memencet ulang tombol yang merujuk pada nomor ponsel Sai. "Cih!"

"M-mungkin Sai-kun sudah tidur?"

Sasuke mendengus. "Dia bukan tipe orang yang dapat tidur dengan cepat. Selain itu…."

Sasuke menekan tombol loudspeaker hingga Hinata juga bisa mendengar apa yang ia dengar.

'The number you are calling, cannot be reached. Please try again later….'

Hinata melongo.

Sasuke menambahkan dengan geram, "Dia sengaja mematikan handphone-nya!"

"A-ano…."

"Tsk! Kalau sudah begini lebih baik aku hubungi Itachi dan memintanya untuk menggedor kamar Sai dan—"

"Ti-tidak usah, Sasuke-kun," ujar Hinata sambil mengangkat sebelah tangannya. Sasuke pun menatap Hinata untuk mencari penjelasan mengapa Hinata menghentikannya. "Maksudku," imbuh Hinata, "ini sudah malam. Tidak enak jika harus mengganggu Itachi-nii."

Dengan alis yang terangkat, Sasuke kemudian melayangkan pertanyaan, "Lalu?"

"La-lalu…?" Hinata mengulang pertanyaan Sasuke dengan bingung.

"Apa yang mau kaulakukan?"

Mendengar pertanyaan Sasuke, Hinata masih tampak kebingungan. Sasuke pun menoleh ke arah ranjangnya sendiri.

"Ranjangku memang cukup luas untuk kita berdua, tapi…." Sasuke kembali menoleh menghadap Hinata. "Apa itu yang kauinginkan?"

Seketika itu, Hinata langsung menangkap maksud ucapan Sasuke yang cukup berbelit-belit. Wajahnya memerah—seakan Hinata merefleksikan dengan sempurna bagaimana keadaan Sasuke setelah pemuda itu menyelesaikan kalimatnya.

Mungkin bisa dikatakan suatu keberuntungan bahwa saat itu lampu kamar tidak dinyalakan. Hanya sorot muram rembulan, yang samar-samar masuk melalui jendela yang ditutupi tirai tipis, yang menjadi penerangan bagi keduanya. Rona merah yang tidak bersuara itu pun tersembunyi dalam kegelapan. Keduanya hanya bisa merasakan hangat yang mendera pipi masing-masing—tanpa bisa menyaksikan bagaimana ekspresi wajah lawan bicaranya saat ini.

"I-itu…." Hinata tergagap. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan sebagai jawaban. Meski benaknya berputar cukup cepat, tidak ada solusi yang benar-benar ia inginkan.

Jelas Hinata tidak mau mengganggu Itachi di tengah malam seperti ini. Ia tidak ingin membangunkan keluarga Uchiha yang lain—atau bahkan pelayan—hanya untuk menyelesaikan permasalahan sepele mereka. Tidur sekamar dengan suami tentu bukan hal yang aneh. Itu adalah suatu kewajaran.

Namun, entah mengapa sedikit keraguan masih tersisa dalam diri Hinata. Mereka memang sudah menikah, tapi usianya yang sangat muda ditambah pengalamannya yang masih terbilang minim dalam menghadapi laki-laki, kecuali dengan ayah dan sepupunya yang sedang bersekolah di luar negeri, Hinata merasa bahwa semua ini terlalu cepat. Salah-salah, ia akan tidak tidur semalaman dan akhirnya mengantuk selama pelajaran. Ia tidak mau.

Jika demikian, opsi yang tersisa adalah ia atau Sasuke tidur di lantai. Tidak perlu diragukan, lantai keluarga Uchiha tidak bisa dibilang buruk. Karpet berbulu lembut itu dapat menjadi alas yang cukup baik untuk tidur—meski mungkin tidak akan senyenyak saat kau berada di kasur. Pertanyaannya adalah, dia atau Sasuke yang harus tidur di lantai?

Di satu sisi, Sasuke adalah pemilik kamar. Dia yang lebih berhak menempati ranjang dengan kasur yang empuk. Tapi Hinata adalah seorang perempuan. Tentunya ia memiliki hak spesial itu untuk mendapatkan tempat yang lebih nyaman.

Pilihan-pilihan ini berputar cepat dalam benak Hinata. Meski sedikit keegoisan memprotesnya, tapi toh inilah sifat dasar Hinata. Ia lebih memilih opsi terakhir. Ia yang akan tidur di lantai.

"Bi-biar aku tidur di lantai. Sasuke-kun bisa tidur di ranjang."

Hinata sudah bersiap untuk merendahkan tubuhnya dan terduduk di lantai saat Sasuke mendadak menarik tangannya.

"Apa kaupikir aku akan mengatakan 'baiklah' untuk keputusanmu tadi?"

Hinata mengerjap. Pegangan tangan Sasuke di pergelangan tangannya seolah memicu detakan jantung yang lebih cepat.

Kami, apa yang terjadi padaku?! Hinata berseru dalam hati. Namun, bukan jawaban yang ia dapat, melainkan pertanyaan lain dari Sasuke.

"Kita ini … suami istri, 'kan?"

Hinata mengangguk secara spontan.

"Kalau begitu, kurasa tidak ada salahnya kita tidur di tempat yang sama…."

"Eh?"

"Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu, kalau itu yang kautakutkan." Sasuke melepas pergelangan tangan Hinata. Tanpa Hinata sadari, sebuah seringai tersungging di bibir Sasuke. "Kecuali kau menghendakinya."

Hinata tidak mampu menjawab. Ia malah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Pikiran yang melayang akibat dikendalikan oleh perkataan Sasuke membuatnya ingin menghilang dari situ.

Apa yang kupikirkan? Apa yang kupikirkan barusan? batin Hinata semakin panik.

Ia merasa kacau. Meski awalnya hubungan mereka memang diawali dengan suatu kekacauan, tapi Hinata tidak pernah merasa sekacau dirinya saat ini.

"Sudahlah, kaubutuh tidur, bukan? Kau harus sekolah besok."

Sasuke mendorong Hinata di bahunya, memaksa gadis itu untuk mengambil tempat di bagian dalam ranjang yang lebih dekat dengan dinding. Hinata menoleh sekali ke arah Sasuke dan Sasuke memberinya keyakinan dengan sebuah anggukan disertai senyum tipis yang samar.

Hinata pun membalas senyuman itu dengan ketulusan yang terpancar dari matanya. Dalam hati, ia semakin bersyukur bahwa Sasuke-lah suaminya. Sasuke memang terkesan dingin dan irit bicara, tapi selama ini, ia selalu bersikap baik pada Hinata. Jika mengingat semua hal yang sudah dilakukan Sasuke untuknya, Hinata merasa ia harus dan akan membalas kebaikan hati pemuda itu. Bagaimanapun caranya.

Perlahan, Hinata merangkak di atas ranjang dan bergerak ke bagian dalam. Sasuke mengikuti untuk naik ke atas ranjang. Ia kemudian menarik selimut tipis yang setidaknya bisa mencegah mereka masuk angin di malam musim semi yang tidak sehangat siang hari. Setelah melebarkan selimut, Sasuke pun langsung berbaring di sebelah Hinata yang masih duduk bersimpuh di atas ranjang.

"Tidurlah," ujar Sasuke lagi—terdengar jauh lebih lembut dibanding ucapan-ucapan Sasuke sebelumnya.

"Hai," jawab Hinata. "Oyasumi."

Hinata merebahkan dirinya di samping Sasuke. Sedikitnya, ketegangan itu masih terasa mengganggu Hinata. Jantungnya pun kembali berdebar. Apalagi saat lengannya bersentuhan dengan lengan Sasuke, Hinata seakan merasakan kejutan listrik yang aneh. Kupu-kupu terasa mulai menari-nari dalam perutnya—menimbulkan sensasi yang unik antara gelisah dan mengharapkan lebih.

Namun, takut Sasuke merasa terganggu, cepat-cepat Hinata menarik tangan dan langsung memutar posisi tubuhnya. Jika sebelumnya ia telentang, kini ia sudah dalam posisi menyamping—dengan wajah menghadap tembok yang dilapisi wallpaper yang kala itu warnanya tidak begitu jelas karena kurangnya penerangan.

Mati-matian, Hinata berusaha mengembalikan detak jantungnya agar kembali normal. Sulit—debaran jantung itu sama sekali tidak bisa diajak berkompromi. Padahal Hinata pikir ia akan bisa menguasainya, nyatanya ia benar-benar kalah.

Berusaha memejamkan mata pun, ia merasa bahwa ia tidak akan bisa langsung tertidur. Entah butuh berapa jam lagi sampai ia bisa melupakan bahwa di sebelahnya ada Sasuke dan kemudian terlelap. Tiba-tiba Hinata merasa bahwa malam itu akan menjadi malam yang sangat panjang baginya.

Bagaikan belum cukup puas mengerjai Hinata, kini takdir memperdengarkan suara Sasuke yang malah semakin memicu denyut jantungnya.

"Belum tidur?"

Tanpa berbalik, Hinata menjawab, "Be-belum."

"Hn." Hening sejenak. "Kau tegang karena ada aku di sebelahmu?"

Hinata terbelalak. Namun, kemudian ia tertawa kecil. Ia sendiri tidak tahu apa yang menyebabkan ia tertawa. Ia ingin tertawa—hanya itu alasan yang bisa terpikirkan olehnya. "Apa Sasuke-kun seorang peramal?"

"Hn," jawab Sasuke lagi. "Gerak-gerikmu mudah untuk kubaca."

Hinata menggerakkan kepalanya untuk melihat ke arah Sasuke dari atas pundaknya. Merasa tidak nyaman dengan posisi itu, Hinata kembali berputar. Siapa yang menyangka kalau Sasuke pun tengah menghadap ke arahnya. Terlambat jika Hinata ingin kembali berbalik menghadap tembok. Tindakannya itu bisa dianggap tidak sopan oleh Sasuke. Ia tidak mau menyinggung perasaan suaminya tersebut.

Karenanya, untuk menghindari tatapan Sasuke, Hinata hanya bisa menunduk dan kemudian menarik selimut agar lebih menutupi wajahnya. Dengan kembali terbata-bata, Hinata pun bersuara, "A-apa aku begitu mudah untuk dibaca?"

"Entah bagi orang lain," jawab Sasuke yang kini memilih untuk menghadap ke langit-langit, "tapi bagiku yang sudah lama mengamatimu, semua tingkahmu tampak cukup transparan di mataku."

Hinata tidak tuli. Ia mendengar dengan jelas apa yang baru Sasuke katakan.

sudah lama mengamati….

Hinata mengangkat kepala dan sedikit menyingkirkan selimut yang menghalangi pandangannya. Kini yang tampak olehnya adalah sosok samping wajah Sasuke. Dari jarak sedekat ini, ketampanan Sasuke semakin dapat terlihat oleh mata pearl Hinata. Bola matanya yang pekat dihiasi oleh bulu mata tipis dan alis yang cukup tebal. Hidungnya mancung dan bibirnya tipis. Poni yang berjatuhan di dahi dan rambut panjang di sekitar telinganya telah membungkus wajah pualam di sebelahnya dengan sempurna.

Mengamati—melihat dengan saksama. Hal yang tengah Hinata lakukan saat ini. Dan kata-kata itulah yang masih saja berputar tanpa kenal lelah dalam benak Hinata.

"Sudah lama … mengamati?" ujar Hinata nyaris berbisik.

"Hn." Sasuke menjawab sembari memejamkan matanya. Sekilas, ia tampak lelah dan ingin segera mengakhiri pembicaraan. Hinata sudah bersiap-siap mengunci mulutnya saat Sasuke—dalam keadaan mata terpejam—kembali berkata, "Sudah pasti kau tidak tahu."

Hinata mendorong selimutnya semakin jauh. Wajahnya kini terbuka sepenuhnya. "Ce-ceritakan padaku!" pinta Hinata yang entah mengapa menjadi sangat bersemangat. Tapi begitu Sasuke kembali membuka mata dan menolehkan wajah dengan alis yang terangkat, kepanikan itu kembali melanda Hinata. "Eh … maksudku … tentu saja jika Sasuke-kun tidak keberatan…."

Sasuke mengangkat tangannya. Sejenak ia terlihat ragu, tapi kemudian ia mengulurkannya ke kepala Hinata dan mengusapnya perlahan. "Kau akan menganggapku stalker jika aku menceritakannya padamu."

"Sampai … segitunya?"

Sasuke mengangkat bahu. Dan tanpa menjawab pertanyaan, pemuda "Apa kau tidak sebaiknya tidur?"

Hinata masih tidak bisa berhenti sampai sini. Dia sudah terlanjur penasaran. Apa Sasuke melakukan ini lebih dari sekadar untuk menolong Hinata dan keluarganya dari jeratan hutang? Lalu, kenapa Sasuke begitu menaruh perhatian padanya? Apa yang membuat Hinata begitu istimewa? Lebih dari itu … kapan mereka bertemu untuk pertama kalinya?

"Satu pertanyaan, Sasuke-kun," desak Hinata, "kapan … kau pertama mengenalku?"

Sasuke tidak langsung menjawab. Gantinya, mata onyx miliknya mendadak menerawang—melihat langit-langit seolah ada jawaban tertulis di sana. Tapi tentu saja yang ada di sana hanya tembok kokoh yang ditempeli sebuah lampu. Tidak ada tulisan apa pun, tidak ada petunjuk apa pun yang dapat memberikan bantuan pada Sasuke untuk menjawab pertanyaan Hinata.

Namun, pemuda berusia dua puluh satu tahun itu berhasil melihat seorang gadis cilik dalam balutan kimono berwarna ungu pucat. Tangan yang saling terkait di depan kimono membuat gadis cilik itu terlihat anggun—terlepas dari usianya yang masih sangat belia. Cara gadis itu membungkuk dan memberi salam terlihat sangat elegan….

.

.

Sebelas tahun yang lalu—ia masih berusia tepat sepuluh tahun. Sasuke diajak sang ayah untuk menghadiri acara ulang tahun anak salah satu koleganya. Keramaian bukanlah sesuatu yang Sasuke sukai. Penjilat di mana-mana. Dan sial baginya karena saat itu Itachi ada urusan yang membuat Sasuke harus menggantikan sang kakak, mau tidak mau.

Di saat kebosanan semakin melanda, matanya terpaku. Gadis cilik itu….

Perasaan suka bukanlah penjelasan yang tepat bagi anak seusianya. Tertarik. Sasuke hanya tertarik pada gadis berambut pendek yang tampak kaku dan berdiri di sebelah wanita berwajah mirip dengannya. Setiap kali seseorang mendekat ke arah mereka, sang wanita akan menepuk kepala gadis cilik itu perlahan sembari tersenyum penuh kebanggaan dan kemudian sang gadis cilik akan membungkuk penuh penghormatan.

Boneka yang sempurna—batin Sasuke kala itu.

Ia pun tidak ubahnya boneka yang akan mengikuti semua perkataan ayahnya. Setidaknya, itulah yang dipikirkan bocah sepuluh tahun yang belum begitu mengenal dunia tersebut.

Tapi, semakin ia melihat sang boneka berambut indigo, semakin ia merasa aneh. Gadis cilik itu sama sekali tidak terlihat tertekan. Ia tertawa setiap tidak ada orang yang melihat. Sesekali, ia menarik kimono wanita di sebelahnya dan meminta wanita itu sedikit membungkuk. Setelahnya, gadis itu akan berbicara bisik-bisik dan wanita berwajah sama dengannya akan ikut tertawa lembut.

Keduanya juga kerap berbagi tatapan sayang.

Apa itu hanya topeng? Jika memang demikian, topeng itu terlihat begitu melekat—seolah tidak akan pernah lepas. Ekspresi yang terpancar di wajah sang boneka terlihat sangat nyata.

Atau … itu hanya kepolosan dari seorang bocah yang baru berusia empat tahun?

Di saat berbagai pemikiran masih berkecamuk dalam benaknya, ia pun ditarik sang ayah untuk menghampiri sosok yang menjadi objek pemikirannya sedari tadi. Ayahnya kemudian menyuruh Sasuke mengucapkan selamat ulang tahun bagi gadis itu. Karena Sasuke masih terlalu sibuk dengan berbagai penilaian tentang sang gadis cilik, ayahnya pun berkata sekali lagi dengan suara yang lebih keras.

Bukan suara ayahnya yang pada akhirnya membuat Sasuke tersentak, melainkan suara tangisan yang tiba-tiba pecah dan seketika menyedot perhatian siapa pun yang hadir di sana.

Di depannya, Sasuke melihat si gadis cilik sudah berada di pelukan wanita yang sekarang Sasuke yakini sebagai ibunya. Gadis cilik itu kemudian berkata lirih dengan suara yang tersendat akibat air mata, "Niichan itu … dimarahi oleh Jichan yang … mengerikan…."

Boneka … tidak akan menangis bukan?

Kesimpulan itulah yang akhirnya mendesak masuk ke dalam semua kesadaran Sasuke—tidak menghiraukan suara sang ayah yang cukup panik dan meminta maaf pada sang gadis cilik karena telah membuatnya menangis.

Sasuke masih terus memandang dan memandangi si gadis cilik yang mulai tenang. Tapi, kesempatan yang tersedia baginya untuk tetap berada di dekat sang gadis cilik sudah habis. Suara sang ayah yang dapat tertangkap oleh indra pendengarannya, meminta Sasuke untuk cepat mengucapkan kata-kata yang menjadi kewajibannya agar mereka dapat segera beranjak.

"Otanjoubi omedetou."

Selesai.

Ia pun dipaksa menjauh dari sang gadis cilik yang perlahan sudah menghentikan tangisnya dan kembali menyunggingkan senyum sambil melambai riang ke arah Sasuke dan ayahnya. Sasuke ingin tetap di tempat itu, tapi tidak bisa.

Kini adalah waktu yang telah disiapkan baginya untuk menghadapi para … penjilat. Ia muak, tapi tidak bisa menghindar di bawah tekanan berupa tepukan pada pundaknya.

Begitu selesai dengan segala ramah-tamah—meski tidak bisa tepat dibilang demikian karena Sasuke sama sekali tidak memasang wajah ramah—ia segera mencari sosok yang begitu menarik perhatiannya tersebut. Tapi lenyap. Sosok itu sudah berpindah tepat. Dan Sasuke sekali lagi dipaksa untuk menjalankan kewajibannya sebagai anak keluarga Uchiha yang 'terpaksa' datang.

.

.

.

"Sasuke-kun?" panggil Hinata lembut.

Seketika, semua kenangan masa lalu itu menguap. Sasuke telah kembali pada masa kini. Di kamarnya yang cukup gelap; hanya berdua dengan Hinata—istrinya.

"Hn?" Sasuke kembali menoleh pada Hinata.

Hinata menatapnya ragu-ragu. "Apa kau … sudah tertidur barusan?"

"Kenapa?"

"Ku-kukira demikian. Soalnya … kau tidak menjawab pertanyaanku…."

"Kau benar-benar mau tahu?" Sasuke berbalik hingga kini ia kembali berhadapan dengan Hinata. Samar, Sasuke melihat wajah gadis itu memerah. Namun, gadis itu tampak menahan diri agar tidak menutup diri seperti sebelumnya. Ekspresi yang nyata.

"Hanya jika … kau tidak keberatan…."

Sasuke tertawa tertahan.

"Malam itu," jawab Sasuke sambil kemudian menarik Hinata ke dalam pelukannya, "malam saat aku menganggapmu sebagai boneka yang menyebalkan. Tapi dalam sekejap aku langsung tahu kalau aku salah."

Hinata yang saat itu sudah berada dalam pelukan Sasuke, tidak lagi bisa merespons. Ia kembali disibukkan oleh jantungnya. Perbuatan Sasuke yang di luar dugaan itu sungguh membuatnya tidak dapat berkonsentrasi terhadap apa pun yang baru saja diucapkan sang pemuda—meski itu adalah jawaban yang sangat ingin didengarnya.

"E-eh…."

"Kita akan membicarakannya lain kali. Sekarang … kurasa lebih baik kautidur." Sasuke mengelus lembut rambut Hinata yang sudah mencapai punggungnya.

Dengan itu, Hinata tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sasuke pun sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan segera terlelap. Tidak ada pergerakan lebih lanjut yang dilakukan Sasuke. Pemuda itu tetap tidak mengubah posisinya—mendekap Hinata.

Posisi mereka saat ini membuat Hinata tidak bisa melihat ekspresi Sasuke. Kalaupun bisa, ia harus menengadah dan itu akan semakin menghilangkan jarak di antara wajah mereka. Pelukan ini saja sudah membuat Hinata tidak bisa berpikir jernih. Bagaimana jika ia harus dihadapkan dengan wajah Sasuke dalam jarak yang mendekati nol sentimeter?

Pingsan? Seakan tidak ada pilihan yang jauh lebih bagus.

Hinata pun mencoba menerima keadaan itu dengan cara menundukkan kepalanya, walau hal itu justru semakin mendekatkannya dengan dada Sasuke yang bidang. Tidak dapat dipungkiri, kegugupan Hinata benar-benar mencapai titik maksimal yang dapat ia toleransi. Ia ingin sekali membuat jarak, tapi yang akhirnya bisa ia lakukan hanya memejamkan mata rapat-rapat. Itulah tindakan paling bijaksana yang bisa ia lakukan sekarang.

Embusan napas teratur Sasuke yang terasa menggelitik, debaran jantung Sasuke yang samar-samar ia dengar, serta harumnya tubuh pemuda itu kembali membuatnya terhipnotis.

Tubuh Hinata menghangat. Bahkan angin malam tidak berhasil membantunya menurunkan suhu tubuh.

Ini … mimpi buruk, batin Hinata bergumam. Aku tidak akan bisa tidur sampai pagi.

Hinata menggigit bibir bawahnya.

Tapi aku harus! tekadnya. Ini bukan apa-apa. Bukan….

Pada akhirnya, tekadnya berkata untuk membiarkan dirinya terbuai dalam pelukan Sasuke. Begitu ketenangan dan rasa nyaman itu ia peroleh, rasa kantuk yang sudah lama terpendam langsung mengambil alih.

Ini bukan mimpi buruk.

Pada kenyataannya, hari itu justru Hinata memimpikan sesuatu yang sama sekali tidak pernah diduganya.

Kenangan di masa lalu.

Tatapan kelam penuh minat memandangnya secara intens. Anehnya, tatapan itu tidak membuatnya ketakutan sama sekali. Ia malah menceritakan pada sang ibu bahwa tatapan milik bocah lelaki itu terlihat kesepian dan bahwa Hinata ingin menghampirinya. Namun, niat itu terhalang saat ayahnya datang dan memperkenalkannya dengan orang-orang yang kemudian mengucapkan selamat ulang tahun padanya.

Lalu Hinata menoleh kembali setelah ucapan formal itu selesai dilaksanakan.

Yang ia lihat kembali adalah tatapan kelam yang masih memandangnya secara intens—penuh pertanyaan.

Hanya saja, begitu Hinata menoleh ke sekelilingnya kali ini, yang ia lihat adalah kerumunan orang berbaju hitam. Tidak ada suasana pesta; tidak ada balon, tidak ada musik gembira, tidak ada ucapan selamat ulang tahun. Kemuraman dan sapaan penuh simpati membombardirnya.

Hinata tahu suasana ini. Ia tahu dan ia tidak menyukainya.

Mendadak saja, semua orang di sekelilingnya—termasuk sang ayah menghilang—meninggalkan Hinata berdua dengan sang pemilik mata kelam yang wajahnya tidak bisa Hinata lihat dengan jelas. Kegelapan perlahan menghampiri; semakin berusaha menelan sosok di hadapannya.

Diam dan mencekam. Hinata merasa cukup takut. Ia hanya berdua saja dengan sosok yang tidak ia kenal itu. Tangannya gemetar dan keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Mulai dari pelipis, dinginnya air itu mulai ia rasakan sampai ke tengkuknya. Hinata ingin berlari, tapi kakinya terasa kaku—menempel erat pada kegelapan di bawahnya.

Hinata pun kemudian terlonjak kaget. Kaget saat sosok itu mendadak bersuara.

"Kau tidak menangis?"

Hinata sadar bahwa ia tengah kembali ke masa kanak-kanak saat usianya berusia lima tahun.

"Kalau aku menangis, siapa yang akan menghibur tousan?"

"Menahan perasaan itu tidak ada gunanya. Kau bukan boneka, 'kan?"

Hinata ingin membalas, ia ingin membantah. Tapi seolah ia tidak mengerti apa yang diucapkan pemuda itu, Hinata hanya bisa bungkam. Lalu pemuda bermata kelam itu pun lenyap. Yang Hinata lihat kemudian adalah sosok sang ibu yang tidak lagi bergerak.

Tersentak, Hinata berusaha berlari ke tempat sang ibu 'tertidur'. Awalnya, kedua kaki itu terasa berat untuk hanya bisa berjalan satu langkah sekalipun. Namun, satu sentakan dan akhirnya Hinata berhasil mencapai tempat sang ibu. Tangan kecilnya menyentuh, mengguncang—tidak ada guna. Sang ibu tetap diam dengan wajah yang pucat dan tubuh yang kaku. Hinata kemudian mencoba berteriak, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.

"Kau tetap tidak mau menangis?" tanya suara itu entah dari mana.

Suara itu parau. Entah di mana Hinata pernah mendengar suara itu. Hinata yakin pernah mendengarnya. Suara yang terdengar sedikit memaksa tapi penuh kelembutan dan perhatian.

"Tidak akan ada yang menyalahkanmu jika kau menangis. Menangislah seperti waktu itu…."

Dan akhirnya, tetes demi tetes air mata mengalir dari mata Hinata. Ia menangis. Derasnya air mata itu seolah tidak akan ada yang bisa menghentikan.

Menangis.

Hinata terus menangis.

Mimpi itu telah membuka ingatan yang entah bagaimana telah tersimpan di sudut paling dalam dari benak pengatur memorinya. Mimpi berupa ingatan menyedihkan saat ibunya berpulang kepada-Nya memang tidak pernah menjadi mimpi yang Hinata sukai. Tapi di satu sisi, sosok yang menyuruhnya menangis itu ... menjadi sesuatu yang baru.

Hinata cukup yakin bahwa ia mengenal sosok itu. Walau wajahnya tidak jelas, entah mengapa Hinata yakin bahwa ia tahu. Hinata sendiri merasa janggal dengan keyakinannya tersebut. Tapi tetap saja, ia yakin.

Sayangnya, mimpi itu tidak serta-merta terbawa ke permukaan.

Begitu sinar mentari yang berhasil menerobos tirai menyentaknya agar terbangun, hanya dua hal yang kemudian bisa Hinata sadari—matanya yang terasa sembap serta …

… Sasuke yang sudah tidak ada di sampingnya.

***To Be Continued***


Maaf, ya, kalau chapter ini terasa lebih pendek dari sebelumnya. /bukan terasa, woy! Emang lebih pendek. Ehehehe~ Mana kontennya nggak jelas dan agak-agak nge-dark yah? Tapi saya pribadi demen deh nyeritain mimpi Hinata dan bayangan Sasuke. Itu bagian yang paling cepet saya ketiknya X"D

Oke, seperti yang sudah saya bilang di atas, ini untuk ikut meramaikan SHDL dengan tema 'sleep' untuk tahun ini, meskipun saya tahu ini nggak sah karena saya cuma ngelanjutin fanfic yang udah ada. Tapi nggak apa-apa deh, ya?

Nah, lanjut ke bagian yang mungkin paling ditunggu (?) minna-san XD

POJOK (SOK) GAHOEL!

Dengan itu, Hinata tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sasuke pun sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan segera terlelap. Tidak ada pergerakan lebih lanjut yang dilakukan Sasuke. Pemuda itu tetap tidak mengubah posisinya—mendekap Hinata.

Posisi mereka saat ini membuat Hinata tidak bisa melihat ekspresi Sasuke. Kalaupun bisa, ia harus menengadah dan itu akan semakin menghilangkan jarak di antara wajah mereka. Pelukan ini saja sudah membuat Hinata tidak bisa berpikir jernih.

Tapi Hinata nekat! Dia pun mengangkat wajahnya dan melihat … wajah Sasuke yang tidur dengan mulut terbuka dan iler yang sudah mulai menggenang di sudut bibir.

Hinata: Errrrr…!

Sasuke: GROOOKK! ZZZZGROOOOKK! Nyaeeeem…. Hina-chwaaaaan~ … chuuuu~! *monyongin bibir*

Hinata: GYAAAAA! MENYINGKIR DARIKUUU! DASAR SUAMI JOROOOOKK!

Hinata pun menendang Sasuke hingga cowok itu terguling dari kasurnya dan mencium bulu karpet yang lembut.

Sasuke: *masih nggak sadar* Nyaeem … Hina-chwaaaaaann *bibir makin monyong*

Dan Hinata semakin tahu bahwa ia sudah mengambil keputusan yang salah dengan tidur satu ranjang dengan Sasuke!

THE END

*Ngepak barang sebelum dimutilasi ama Sasuke FG. X""D

Okaay deh~ tinggalkan si Sasuke yang lagi ngelindur dan Hinata yang lagi stress gak bisa tidur karena ngoroknya Sasuke kekencengan. Saya balesin review yg non login dulu, yak? Yang review login saya langsung bales ke PM :D

Yuuaja: akan gimana ceritanya, ya? Mungkin akan penuh slow-tempo? X""Da Saya juga kadang bingung, ke mana cerita ini akan saya bawa. Hahaha.

Amai Yuki: hahaha, tapi sekarang udah baca semua dong? :3 Mama Mikoto, ada. Ntar yaaaa~ Hoho. Kayaknya si Mama cantik itu muncul next chapter, deh? Doain aja biar aku nggak amnesia. Yang soal pertanyaanmu, di sini udah kejawab, 'kan? Ufufufu. SasuHina masih canggung emang, tapi justru itulah diperlukan bantuan pihak luar~ ya, 'kan, 'Sai? Sai: aku memang sangat berjasa *fake smile*

Yamanaka Chika: yuppie~ pasti dilanjut kok. XD Nah, kalau 2 chapter sebelumnya ada ItaIno, chapter kemaren ada SaiSaku, chapter ini full SasuHina. Moga-moga Chika-chan tetep puas, yak? X""D

Pooh: ini udah termasuk kilat, 'kan? *kedip-kedip* Tenang, di sini udah keliatan mulai cair, 'kan, hubungan SH-nya? Hehehe. Dan sekali lagi, terima kasih pada … Powerpuff Sai (?)

Hanna uzumakki: eh? maksudnya fanfic baru gitukah? OwOa

suka snsd: okeh, suka-chan, aku suki-chan (?) /abaikan. Nyahaha, itu karena … Hinata cayang Cacuke celalu apa pun makanannya (?). X""D Nggak, ini masih rate-T, tenang. Lagi pula, Sasuke udah janji nggak bakal apa-apain Hina-chan yang masih sekolah kok :D

HARU: pojok (sok) gahoel-nya bagus? Kyaaa~ seneng deh ada yang suka ama session gaje satu itu. X"D Aduh, ngapain sih tutup-tutup mata segala? Ayo lihaaaat~ *narik tangan HARU ;))

LavenderOnyx: yahoo~! Ini update lagi~ moga-moga makin suka ama ceritanya, ya? Hehehe. :3

WidiwMin: je-jreng, Anda meminta, saya kabulkan *ngomong ala jin lampu* Apa scene di sini udah cukup sweet? :"")

Akira: tedaaaak~ pipiku yang sudah chubby makin chubby nanti~ ;_; Eh, kenapa ya di-cut di situ? Ehm … biar … ada persiapan buat bikin adegan SH-nya? /alasan macam apa ini? XD

n: hihihi~ yuuupiie~ di sini Sasu nggak mau kalah ama Sai tuh. Dan suara hati Hinata udah persis yang kayak kamu gambarin: gluduk gluduk gluduk gedebuk. XD

Mamoka: chapter ini nggak ada humor kecuali di pojok (sok) gahoel. Sejujurnya saya nggak nyangka kalau acara makan malam itu dianggep humor, lho? X""Da

Haru-chan: nyahaha, kali ini lumayan cepet, yak, apdetnya? Demi SHDL nih. X""Da

Okeeeh, done~!

Next, terima kasih juga saya ucapkan buat semua yang udah baca (silent reader sekalipun), yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu! Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan dan terutama agak pendek, ya? Hehehe. Jangan tanya kapan saya akan update next chapter, karena saya pun tidak tahu~ *kabur bareng Itachi* Ino: Gyaaaa! Jangan bawa Itachi gueee~! /slap!

Okay, langsung aja, silakan beri tahukan kesan, pesan, saran, kritikan minna-san tentang fic ini. Arigatou sebelumnya~

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie

~Thanks for reading~