Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
No commercial advantages is gained by making this fanfic. Fanfic is just for fun, guys! ;)
Genre : Romance/Drama
Pairing : SasuHina slight ItaIno and SaiSaku
A/N: chapter … terpanjang sejauh ini. Moga-moga pada nggak bosen , mungkin agak rush di sana-sini, tapi tetep moga-moga nggak keganggu ya pas bacanya…. :"")
Enjoy reading!
Chain of Love
Chapter 7 – Super Mom
They say, mother is a word for the most amazing role
in the whole world.
They say, mother is the most noisy and troublesome creature
in your whole life.
And they say, no one can beat a love from a woman called
mother.
Do you agree?
.
.
.
Hinata mengerjap. Tangan berjari ramping miliknya mengusap lembut matanya—berusaha menyesuaikan diri dengan bias mentari yang sudah melesak masuk. Begitu ia bisa melihat sekelilingnya dengan jelas, Hinata semakin yakin bahwa sosok Sasuke memang sudah tidak ada.
Gadis itu menggeser posisi tubuhnya hingga sampai di ujung tempat tidur. Masih sambil berusaha mengembalikan kesadarannya, Hinata duduk termenung. Pikirannya belum benar-benar dapat mencerna apa yang tengah terjadi.
Tidak ada Sasuke-kun, batinnya. Sampai di sini, hanya fakta itu yang terus terulang dalam benaknya. Tidak ada pengolahan lebih lanjut. Belum ada pertanyaan, 'Kenapa Sasuke-kun tidak ada di sini?' Lebih jauh, Hinata belum juga mempertanyakan, 'Pukul berapa sekarang?'
Saat pemikiran itu baru akan mampir ke dalam benaknya, secepat itu pula gagasan itu menghilang—digantikan keterkejutan begitu indra pendengaran Hinata menangkap suara pintu yang dibuka. Mata beriris kelabu-ungu miliknya membelalak dan tubuhnya sedikit menegang. Bahkan ketika sosok berambut gelap menyembulkan kepalanya dari balik pintu, ketegangan Hinata tidak semakin berkurang. Sebaliknya, bertambah.
"Ah, sudah bangun. Syukurlah!" Sosok feminin berambut panjang itu semakin mendorong lebar pintu kamar yang menghalangi tubuhnya. "Ohayou, Hinata-chan."
Selama beberapa saat, Hinata terdiam di tempatnya. Berbeda dengan sebelumnya, otaknya kali ini dipaksa berputar keras. Siapa wanita cantik di hadapannya? Wajahnya sama sekali tidak asing. Hinata yakin bahwa ia pernah melihat wanita itu entah di mana. Di mana?
Sementara benaknya bekerja mencari tahu siapa sosok wanita di hadapannya, sisi dirinya yang lain—yang juga terbiasa dengan sopan santun dan tata krama—langsung menamparnya. Hinata dengan terburu-buru bangkit dari posisi duduknya dan dengan wajah yang sedikit memerah, ia pun membalas sapaan wanita yang misterius tersebut.
"Ohayou!" ujar Hinata cepat. Gadis itu pun refleks menyeka daerah sekitar mulutnya dan membenahi bajunya yang sedikit kusut.
Wanita asing tersebut tertawa lembut sebelum berjalan menghampiri Hinata. Saat itulah, perlahan jawaban yang dinanti Hinata semakin jelas terlihat. Sekali lagi Hinata terbelalak. Kedua tangannya terangkat untuk menutupi mulut yang menjadi manifestasi keterkejutannya.
"Anda…," Hinata ragu-ragu memulai, "Miuchi Kotoha? Aktris veteran yang saat ini tengah tampil dalam drama Minggu siang tentang perjuangan seorang ibu yang mempunyai anak yang cacat?"
Lagi, wanita itu tertawa. Ia kemudian mengangguk sebelum mengoreksi sedikit, "Itu nama panggungku. Namaku yang sebenarnya adalah … Uchiha Mikoto."
Hinata menelan ludah.
"Aku ibunya Itachi, Sasuke, dan Sai. Istrinya Fugaku. Tapi karena akan agak merepotkan kalau ketahuan, aku tidak pernah menyebutkan nama asliku kepada publik. Jadi ini rahasia, ya?" Mikoto mengedipkan sebelah mata sebelum mengulurkan tangan kanannya. "Nah, yoroshiku na, Hinata-chan."
Keheningan sekonyong-konyong mengambil alih. Lalu, kembali diperintahkan oleh otaknya, Hinata segera menyambut tangan 'ibu mertuanya' tersebut.
"Yo-yoroshiku onegaishimasu!" ujar Hinata sambil menggenggam tangan Mikoto dan membungkuk-bungkukkan tubuhnya. "Maaf atas kelancangan saya yang tidak mengenali … Okaasan…." Sesaat, Hinata sempat ragu-ragu untuk memanggil 'ibu' pada wanita di hadapannya. Tapi, belajar dari pengalaman sebelumnya dengan Fugaku saat makan malam terdahulu, Hinata pun meyakinkan dirinya bahwa ia telah mengucapkan sebutan yang tepat.
Tangan Mikoto yang bebas langsung menepuk-nepuk kepala Hinata lembut. Begitu pegangan tangan mereka terlepas dan Hinata kembali mendongak ke arah sang Nyonya Uchiha, Mikoto berdeham. "Sebenarnya, banyaaaaaakkk sekali hal yang ingin kubicarakan dengan Hinata-chan."
Hinata menarik sudut-sudut bibirnya, melengkungkan sebuah senyum ragu-ragu yang sarat pertanyaan akan kalimat Mikoto yang terkesan belum selesai. Mikoto pun mengangguk-angguk dan kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku rok panjangnya. Ke depan mata Hinata, Mikoto menunjukkan display ponsel yang memperlihatkan penunjuk waktu.
"Tapi kamu harus sekolah dulu, 'kan?"
Hinata memucat. "Ha-haii!"
Memikirkan bahwa ia akan telat, Hinata sudah hendak bergegas ke kamar mandi. Tapi untunglah otak Hinata masih bisa cepat berpikir. Kamar ini bukan kamarnya. Hinata berbalik arah. Dan begitu matanya menangkap sosok Mikoto yang sudah sedikit merapat ke meja untuk memberikannya jalan, Hinata langsung teringat kembali akan sopan santun yang harus diterapkannya.
Gadis dengan rambut indigo panjang itu langsung membungkuk-bungkuk dua kali. "Maaf, saya harus meninggalkan Okaasan sebentar."
Tawa renyah Mikoto terdengar di sela-sela perkataannya yang menenangkan. "Tidak apa-apa. Santai saja."
Hinata masih sempat menyunggingkan senyum sebelum ia berlalu menuju kamarnya. Tanpa Hinata sadari, Mikoto tengah menilai semua gerak-gerik gadis tersebut. Pikirannya berputar cepat saat sebelah tangannya terdiam nyaman menyentuh dagu. Berbagai pertimbangan mendesak masuk dan akhirnya kesimpulan terbentuk bersamaan dengan sebuah senyum penuh arti.
o-o-o-o-o
Kala itu, Sasuke sudah dalam perjalanan menuju kantornya. Lampu merah membuatnya harus menghentikan laju mobil. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Sasuke. Dikeluarkannya sebuah ponsel, dipasangnya fasilitas handsfree dengan sebelah earphone yang ia pasang di telinga kanannya, dan dihubungkannya ponsel tersebut ke sebuah nomor.
Tanpa basa-basi, Sasuke langsung berkata pada lawan bicaranya tidak lama setelah nada tunggu menghilang. "Bagaimana hasil penyelidikanmu?"
Suara di seberang sana menjelaskan sesuai apa yang ditanyakan Sasuke. Raut wajah Sasuke serta-merta mengeras. Jelas sudah bahwa semua ini tidak sesuai dengan yang ia harap akan ia dengar.
"Mereka memang belum berhenti?" Sasuke mengerutkan alisnya. "Mencoba mendesak kita, katamu?"
Kali ini, lampu sudah akan berubah warna. Sambil menyentuhkan kembali kedua tangannya ke setir, Sasuke menyeringai.
"Menarik. Mungkin mereka mau membalas dendam pada keluarga Uchiha. Padaku." Sasuke memberi jeda sejenak saat ia menekan pedal gas untuk kembali melarikan mobilnya. "Tapi aku sudah tahu dan sudah memperhitungkan. Mereka akan segera kita gulingkan. Kalau perlu, cabut sampai ke akarnya."
Mata Sasuke tampak fokus pada jalan yang terbentang di balik kaca mobilnya. Meski demikian, dia tetap bisa mendengar apa yang disampaikan oleh lawan bicaranya. Sejenak mata kelam yang sebelumnya menunjukkan tatapan tajam itu melunak. Keheningan melanda sebelum Sasuke menjawab.
"Aku memang terburu-buru. Semua ini harus segera diselesaikan."
Ingatannya mendadak dipenuhi satu hal yang menjadi alasannya ingin bergegas. Malam yang seharusnya menjadi saat menyenangkan baginya berbalik melukainya. Tidak, tidak hanya dia yang terluka. Gadis itu juga. Sejak awal, semua ini bagaikan kesalahan. Dan kesalahan harus segera diperbaiki agar tidak menyebar dan mengembangbiakkan kesalahan yang lain.
"Sasuke?"
Suara lawan bicaranya sekilas membuat Sasuke tersentak. Ia mengumpulkan serpihan kesadaran yang sempat tercecer dan begitu ia sudah dapat mengendalikan keadaan, ia pun membuka mulut.
"Aku sudah akan sampai di kantor. Kaulakukan saja dulu tugasmu. Aku akan mengurus sisanya dengan Juugo."
Dengan itu, sambungan telepon pun dimatikan. Sasuke melanjutkan perjalanannya ke kantor tanpa banyak bicara. Hanya otaknya yang terus meraung: semua ini harus segera diselesaikan.
Semua ini harus segera dikembalikan ke jalur yang sebenarnya. Sebelum masing-masing dari mereka terluka semakin dalam.
Tak lama berselang, ponsel Sasuke kembali menyerukan nada panggil. Awalnya, ia hendak mengabaikan. Namun, satu nama yang tertera di display membuatnya berpikir ulang untuk mengabaikan panggilan tersebut.
Walau tujuan telepon kali itu bisa dikatakan sangat, sangat tidak penting, Uchiha Mikoto tidak akan segan-segan memberinya ceramah panjang lebar apabila Sasuke melewatkan panggilan masuk yang satu ini.
o-o-o-o-o
Di meja makan, menunggu yang lain, tampak Fugaku tengah membaca koran sambil sesekali bertukar kata dengan Itachi. Mikoto yang juga sudah duduk di sebelah Fugaku langsung memelototi suami dan anaknya itu—menyuruh keduanya untuk tidak membicarakan pekerjaan di meja makan. Fugaku masih tampak berkeras dan mengabaikan celotehan Mikoto saat mendadak Nyonya Uchiha itu merebut koran dari tangan Fugaku.
Lalu, kepada Itachi, Mikoto berkata, "Panggil Sai sana! Mana dia? Jam segini belum kelihatan juga batang hidungnya."
Itachi tersenyum takluk pada sang ibu. Dan saat ia sudah berdiri untuk memanggil Sai, matanya pun menangkap sosok Hinata dalam balutan seragam SMA. Gadis itu mengikat rendah rambut indigonya dan memosisikannya dengan nyaman di pundak sebelah kiri.
"Ohayou," sapa Hinata sambil menyentuh tali tas selempangnya yang tersandang di bahu kanan. Hinata kemudian mengambil tempat duduk di sebelah kanan Mikoto sebelum gadis itu menengok ke kanan dan kiri. "Ano … umm … Sasuke-kun…?"
Itachi melewati Hinata begitu saja setelah menepuk puncak kepala gadis itu. Lalu, bertugas menjawab pertanyaan Hinata, Mikoto-lah yang angkat suara.
"Anak itu sudah berangkat sekitar tiga puluh menit yang lalu." Mikoto mengukir sebuah senyum di wajahnya. "Karena itu, hari ini kau akan diantar oleh Itachi. Dan aku akan ikut bersama kalian."
"E-eh?"
Mikoto menelengkan kepalanya sedikit sementara Fugaku sudah ikut memfokuskan perhatian pada Hinata. Setelah yakin bahwa Hinata tidak akan mengatakan apa-apa, Mikoto pun mengutarakan pertanyaan yang bercokol di benaknya, "Ada apa? Hinata-chan tidak keberatan, 'kan, kalau Kaasan ikut?"
"Sama sekali tidak," jawab Hinata cepat sambil menggelengkan kepalanya, "tapi … apa tidak merepotkan?"
Lagi, Mikoto tertawa. "Tentu saja tidak. Di hari liburku ini, kalau aku tidak melakukan apa-apa dan hanya diam di rumah yang kosong," ujar Mikoto sambil melirik ke Fugaku yang langsung terbatuk-batuk, "tentu akan sangat membosankan."
Dalam benak Hinata, image seorang Miuchi Kotoha yang elegan dan terkesan dingin sedikit melebur dengan sosok seorang Mikoto yang mudah tertawa dan begitu keibuan. Pemikiran ini membuat Hinata menyunggingkan senyumnya tanpa sadar. Entah mengapa, kehangatan yang dipancarkan Mikoto membuat Hinata sedikit terharu. Dan juga sangat berterima kasih.
Selama beberapa detik, Fugaku dan Mikoto sambil mengatupkan mulut. Tidak ada tawa, tidak ada kata. Ketulusan dalam senyum Hinata seolah membekukan keduanya. Tapi, Mikoto tidak mau lama-lama membiarkan pertanyaan Hinata terabaikan tanpa terjawab.
Wanita di awal umur empat puluh tahun itu langsung mengulurkan kedua tangannya untuk menarik kedua belah pipi Hinata yang memang sedikit chubby. Hinata memancarkan sorot kebingungan dari kedua matanya, tapi ia tidak berani melakukan apa-apa dan hanya bisa mengeluarkan gumaman aneh dari sela mulutnya yang juga ikut terbuka akibat tarikan di kedua belah pipinya.
"Ano…."
"Kamu harus lebih sering tersenyum seperti tadi, Hinata-chan," ujar Mikoto akhirnya sambil melepaskan cubitannya, "sayang Sasuke tidak sempat melihat senyumanmu yang seperti tadi. Ah, atau dia sudah pernah melihatnya? Pasti karena senyummu itu ya, dia jadi terpikat~?"
Wajah Hinata spontan memerah. Ia tidak tahu harus menjawab apa atas kalimat bernada menggoda yang dilontarkan Mikoto. Kepala Hinata yang sedikit tertunduk membuat Hinata sekali lagi luput melihat senyum aneh yang disunggingkan Mikoto.
Situasi yang agak tidak menguntungkan bagi Hinata itu tidak banyak berubah begitu Itachi datang membawa Sai yang masih dalam balutan piama dan rambut yang sedikit acak-acakan. Sebaliknya, keadaan menjadi lebih buruk bagi Hinata yang cenderung kikuk.
Sambil sedikit membungkuk untuk menarik kursi, Sai tersenyum pada Hinata dan berkata, "Ohayou, Kakak Ipar. Bagaimana kemarin malam? Panas?" Sesaat, Hinata masih mengernyitkan alis bahkan setelah ia membalas sapaan selamat pagi dari Sai. Melihat Hinata yang tampak tidak mengerti, Sai pun melanjutkan dengan senyum yang terkesan licik, "Apa Sasuke mampu memuaskanmu?"
"E-eeeehh?" Hinata sampai berdiri dari kursinya saat ia menyadari apa yang dimaksud Sai dalam pertanyaannya. Rasanya seluruh wajahnya begitu panas. Malam itu Hinata memang tidak melakukan apa-apa, tapi perkataan Sai telah dengan sukses membantunya berimajinasi. Dan itu … memalukan!
"Ahem!" Fugaku berdeham. "Bagaimana kalau kita mulai saja sarapannya? Bukankah Hinata juga harus ke sekolah sebentar lagi?"
"Yaaa, masih ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum kelas dimulai ya, Hinata?" ujar Itachi yang sambil melirik arloji hitam yang melingkari pergelangan tangan kirinya. "Kurasa masih terkejar."
Sai menimpali, "Kalau sampai terlambat, nanti salahkan saja Sasuke yang membuatmu lelah di malam hari sampai tidak bisa bangun."
Hinata sedikit mendelik takut-takut ke arah Sai sebelum ia kembali mengambil tempat duduk. Kepala Hinata masih tertunduk—mencoba menghindari kontak mata dengan Sai yang sempat tertawa puas. Digigitnya bibir bawahnya dan pundaknya sedikit menegang oleh rasa canggung. Saat itulah, sentuhan lembut di pundak membuat Hinata menoleh.
Mikoto mengedipkan sebelah mata. "Kamu tidak perlu terlalu memikirkan kata-kata Sai. Sekarang, ayo makan. Aku sudah spesial bangun di pagi hari untuk membuatkan sarapan ini!"
Kata-kata Sai yang membuatnya canggung seolah menguap begitu saja. Kalimat demi kalimat yang diucapkan Mikoto selanjutnya bagaikan sihir yang mengangkat semua beban di pundak Hinata. Gadis itu pun mengangkat kepalanya dan dengan suara yang lebih yakin, ia menjawab, "Baik. Terima kasih, Okaasan."
o-o-o-o-o
Sebagaimana yang telah dijanjikan, Itachi kemudian mengantar Hinata ke sekolah dengan mobilnya. Tapi tidak hanya keduanya yang ada di dalam transportasi beroda empat tersebut. Uchiha Mikoto juga ikut bersama mereka.
"Jadi, Hinata-chan," Mikoto yang duduk di belakang seorang diri memulai, "sekolahmu selesai jam berapa nanti?"
"Etto … sekitar pukul lima. Ada kegiatan klub yang kuikuti."
"Wah? Kauikut kegiatan klub apa?" Mikoto terdengar begitu antusias.
"Memasak," jawab Hinata sambil tersenyum. "Aku … memang suka memasak."
Mendengar jawaban itu, Itachi yang dari tadi belum menyumbang suara pun ikut tersenyum. Dari kaca spion yang ada di tengah, Itachi pun bisa melihat senyum Mikoto yang merekah setelah mendengar jawaban Hinata.
"Ya, kurasa kau memang berbakat dalam hal memasak. Masakan yang kaubuat kemarin itu memang enak," puji Itachi akhirnya.
"Ini tidak adil. Aku belum pernah mencicipi masakan buatan Hinata-chan."
Mendadak, Hinata menengok ke belakang. "Ka-kalau Okaasan tidak keberatan, aku … akan membawakan hasil masakan di kegiatan klub nanti."
Mikoto menggelengkan kepalanya dan menggerakkan sebelah jarinya. "Tidak. Aku mau kau yang membuat makan malam lagi hari ini."
Hinata membulatkan matanya sebelum kelopaknya mengerjap cepat. "A-aku?"
"Yap. Ah, tapi tenang saja. Maksudku, aku akan menemanimu memasak makan malam. Banyak hal yang ingin kubicarakan dengan Hinata-chan. Dan obrolan wanita…," Mikoto semakin mengembangkan senyumnya, "akan semakin terasa menarik di dapur."
Perasaan senang menyelimuti diri gadis berusia lima belas tahun itu. Bagi Hinata yang sudah lama tidak merasakan kasih sayang seorang ibu, kehadiran Mikoto bagaikan angin segar. Mikoto seolah membangkitkan kembali semua asa Hinata untuk bisa bercengkrama dengan sosok seorang 'ibu'.
"Bagaimana kalau menu hari ini … salada tomat dan spaghetti? Menu barat tidak apa-apa, 'kan?" tawar Mikoto dengan nada yang terdengar riang.
Itachi terkekeh kecil seakan-akan pemuda ini mengetahui maksud dari sang ibu. Hinata yang tidak mengerti akan tawa Itachi spontan menoleh.
"Aku setuju. Salada tomat dan spaghetti pasti akan menyenangkan," ujar Itachi sambil membanting setir ke kanan, "apalagi jika tomatnya melimpah ruah." Selesai dengan kalimatnya, kini sekolah Hinata semakin terlihat jelas di kedua mata Itachi. Pagar kelabu yang menjadi pembatas berjajar panjang hingga satu tempat yang terbuka dan memperlihatkan murid-murid berseragam berjalan memasuki pelataran sekolah.
Itachi pun semakin melambatkan laju mobilnya bersamaan dengan dilontarkannya kata-kata tambahan, "Tapi seingatku, bahan makanan di kulkas sudah hampir habis, bukan, Kaasan?"
Mikoto menepuk tangannya. "Kupikir juga demikian. Tadi pun aku memasak dengan bahan seadanya yang ada di kulkas."
Hinata mencoba mengingat-ingat. Semalam, saat ia hendak memasak makan malam, isi kulkas memang tidak terlalu penuh. Dan jika mereka ingin memasak spagetthi hari ini, mereka memang perlu membeli beberapa bahan.
"Hinata-chan," panggil Mikoto tepat sesaat sebelum mobil benar-benar dihentikan Itachi, "pulang sekolah nanti bisa ke supermarket sebentar?"
Hinata melepaskan seat-belt yang ia kenakan sebelum mengangguk cepat, "Tentu. Uhmm, apa saja yang mau dibeli?"
"Nanti akan kucatatkan," ujar Mikoto lembut, "kautunggu saja di gerbang depan ya? Nanti akan ada yang menjemputmu."
Sekali lagi, Hinata mengangguk. Ia pun kemudian pamit pada Mikoto dan Itachi sebelum meninggalkan mobil. Beberapa saat Hinata hanya berdiam di tempatnya sampai BMW Itachi tidak terlihat sama sekali. Lalu, begitu ia sudah hendak memutar tubuhnya, langkah Hinata pun terhenti.
"Ohayou, Hinata!"
"S-Shion?"
Akuyami Shion melebarkan senyumnya. "Diantar siapa barusan?"
DEG!
Sejujurnya, Hinata benar-benar lupa membahas hal ini dengan Sasuke. Bagaimana ia harus mendeklarasikan hubungannya dengan keluarga Uchiha kalau-kalau suatu saat mereka tertangkap sedang bersama? Saudarakah? Untuk saat ini, tentu jawaban itulah yang paling mudah disuarakan sebagai dalih. Tapi jika memang demikian, apa Hinata telah berbuat lancang dengan menyebut keluarga penolongnya itu hanya sebatas 'saudara'?
Tidak, bukan saudara. Mereka tidak lagi sebatas saudara bagi Hinata. Itu bisa menjadi jawaban … yang jauh lebih baik.
"Keluargaku," jawab Hinata sambil tersenyum manis. "Aku diantar kakak dan … yah, orang yang kuanggap sebagai ibuku sendiri."
Mulut Shion sudah membentuk huruf 'o'. "Eh, tapi…."
Belum sempat Shion menyelesaikan perkataannya, Hinata sudah menarik tangan gadis itu. "Sebentar lagi bel bunyi. Ayo, masuk?" ajak Hinata lembut. Shion segera saja melupakan rasa ingin tahunya dan bersama Hinata, ia pun bergegas masuk ke lingkungan sekolah untuk mencapai kelas mereka.
o-o-o-o-o
Sasuke tengah bergelut dengan laptop yang menunjukkan kombinasi angka dan huruf yang harus dipecahkan saat mendadak ponsel yang ada di atas meja bergetar. Sasuke memijat celah di antara kedua matanya sebelum ia meraih ponsel yang menolak untuk diam sebelum ia sendiri yang mematikan.
Alis mata Sasuke terangkat sebelah saat ia berhasil menangkap pesan yang baru saja masuk.
'Tugasmu nanti….'
o-o-o-o-o
"Bagaimana, Kaasan?" tanya Itachi sesaat setelah Mikoto menutup ponsel flip-nya dan menyelipkannya ke tas tangan kecil yang memang ia bawa.
"Beres! Dia tidak mungkin menolak," jawab Mikoto yang sudah pindah posisi duduk di sebelah bangku pengemudi. Sebelah ibu jarinya terangkat menandakan bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan. "Nah, selanjutnya … aku ingin membeli majalah pariwisata. Kalau ada toko buku, tolong berhenti sebentar, ya, Itachi?"
Itachi mengangguk mendengarkan perintah ibunya tersebut. Dan tak lama, sulung keluarga Uchiha tersebut sudah membawa mobilnya memasuki wilayah pertokoan. Di daerah itu, terdapat toko buku, toko buah, serta toko bunga yang sudah tidak asing. Mendadak saja, pemikiran itu menyambangi benak Itachi.
"Biar aku yang belikan. Majalah seperti apa yang Kaasan inginkan?"
"Apa saja. Pokoknya majalah pariwisata yang lengkap dengan saran-saran untuk akomodasi dan fasilitas-fasilitas yang disediakan."
Itachi menggangguk dan semakin mendekatkan mobilnya ke tepi. Setelah ia mematikan mesin, Itachi pun segera turun dari mobil dan berjalan santai ke arah toko buku. Di dalam mobil, Mikoto sudah berencana menunggu putranya itu datang dan membawakannya barang yang ia inginkan. Namun, matanya yang tertumbuk pada suatu toko membuat Mikoto mengkhianati pemikiran awalnya.
Nyonya Uchiha itu pun menyambar kunci yang masih tergantung di dekat setir dan kemudian turun dari mobil. Setelah memastikan bahwa mobilnya terkunci sempurna, Mikoto melenggang dengan anggun ke arah toko bunga yang menarik perhatiannya.
Meski beberapa orang yang lewat di sana sempat mencuri pandang untuk memastikan bahwa penglihatan mereka mungkin salah—bahwa wanita yang sedang berjalan di depan mata mereka bukanlah Miuchi Kotoha—Mikoto tidak menunjukkan kepedulian sedikit pun. Ia bahkan sama sekali tidak menggunakan aksesoris-aksesoris penyamaran standar yang biasa ia kenakan.
Menurut Mikoto, penyamaran hanya akan membuat dirinya diketahui dan ia menghindari hal itu. Ia tidak ingin hari liburnya yang berharga ini dirusak oleh acara temu fans. Bukan karena Mikoto tidak menghargai fansnya, ia hanya ingin sedikit privasi dalam hidupnya.
Sudah cukup ia menyembunyikan fakta bahwa ia seorang Uchiha dari publik karena tidak ingin setiap hari hidupnya dan keluarganya semakin diramaikan oleh paparazi. Tanpa seorang artis 'Miuchi Kotoha', keluarga Uchiha kadang sudah cukup menjadi sorotan media dan tentu, keberadaan seorang artis terkenal dalam keluarga Uchiha hanya akan menambah kericuhan dalam keluarga yang lebih menyukai ketenangan tersebut. Jadi, apa pun taruhannya, Mikoto sebagai 'Miuchi Kotoha' tidak boleh diketahui sebagai anggota keluarga Uchiha—tidak untuk saat ini.
Dengan tetap membawa keyakinan tersebut, Mikoto langsung memasuki toko bunga yang menjadi tujuannya. Kepercayaan diri bahwa ia tidak akan dikenali sebagai Miuchi Kotoha membuatnya bersikap sangat wajar hingga orang-orang yang hanya sekilas melihatnya pun seketika langsung memalingkan wajah. Dia pasti bukan Miuchi Kotoha, demikian pemikiran orang-orang yang hanya melihatnya sekejap.
Klining~!
Suara bel seakan memutus pembicaraan yang samar-samar terdengar sebelumnya. Bahkan, sebelum mendapat sambutan, Mikoto seolah mendengar suara seorang gadis yang bergumam lirih: 'Nanti kita bicarakan lagi.'
Mikoto menggerakkan kepalanya ke kiri dan kanan sebelum ia mendapati seorang gadis yang tampak lincah berlari ke arahnya.
"Selamat dat—hah?" Napas sang gadis berambut pirang pun seolah tercekat. "M-Miuchi Kotoha?"
Mikoto sekonyong-konyong tertawa. Kemudian, dengan kemampuan akting natural yang sudah menjadi makanannya sehari-hari, ia pun mengibaskan tangannya—berperan layaknya ibu rumah tangga biasa yang periang. "Bukaaaan. Ah, tapi memang banyak yang sering salah mengenaliku sebagai Miuchi Kotoha. Semirip itukah?"
Sang gadis penjaga toko bunga masih menganga. Mata biru aquamarine-nya tampak meneliti setiap inchi muka Mikoto dengan teliti. Lalu, berhati-hati ia pun berkata, "Eh, yah … saya rasa Anda memang mirip sekali dengan Miuchi Kotoha. Anda cantik sekali."
"Wah. Terima kasih," ucap Mikoto sambil memiringkan kepalanya sedikit.
"Ah … ehm…. Ada bunga yang Anda inginkan?"
"Ya, begitulah," jawab Mikoto sambil mulai berjalan menelusuri toko bunga tersebut. Kepalanya bergerak ringan, memerhatikan bunga-bunga dalam pot yang berterbaran memenuhi isi toko. Sebagian yang digantung di langit-langit juga tampak memukau kedua mata Mikoto. "Bunga untuk menghias rumah, meja makan, ruang tamu…."
"Ah, akan saya buatkan segera! Ada bunga tertentu yang Anda inginkan?"
Mikoto tampak terdiam beberapa saat. Matanya masih sibuk mengawasi bebungaan yang ada. Tak dapat memutuskan, ia pun menoleh ke arah sang penjaga toko yang masih menanti.
"Ng … ada saran yang bagus?" tanya Mikoto pelan-pelan. "Bunga … yang tidak terlalu mencolok tapi tetap indah dengan caranya sendiri."
Penjaga toko itu tampak berpikir sebentar sebelum ia menepuk kedua tangannya. "Sebentar," ujarnya. Dengan gesit, gadis itu kemudian beranjak ke salah satu sudut yang menyimpan banyak pot. Ia kemudian menarik setangkai bunga dan memperlihatkannya pada Mikoto. "Hibiscus?" tanyanya sambil tersenyum. "Delicate beauty…."
"Setuju," ujar Mikoto tanpa pikir panjang lagi.
Ino pun segera menyambar beberapa hibiscus dan berkata, "Baiklah, akan segera saya buatkan buket bunga. Untuk meja makan, ruang tamu, ada lagi?"
"Ya…."
Dengan gerakan tangan yang luwes, Mikoto menjelaskan detail-detail rangkaian bunga yang ia inginkan, termasuk jumlahnya. Setelah menjelaskan pesanannya pada sang penjaga toko, Mikoto pun dipersilakan melihat-lihat ke sekeliling toko. Wanita itu pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan mulai mengitari toko saat mendadak matanya tertumpu pada sosok berkacamata hitam yang tampak duduk di pojokan.
"Ah, selamat siang," sapa Mikoto sopan.
Yang disapa pun sekilas mengedikkan bahu—seolah kaget dengan suara Mikoto yang tiba-tiba memecah keheningan di sekelilingnya. Namun, belum sempat sosok pemuda berkamata hitam itu merespons, suara lonceng memutuskan interaksi mereka. Mikoto menoleh ke arah pintu masuk dan menemukan putra sulungnya tersenyum pada sang gadis penjaga toko. Dari posisinya berada sekarang, Itachi tidak dapat segera memindai keberadaan Mikoto. Sebaliknya, dari celah di antara rak, Mikoto dapat dengan pasti mengetahui gerak-gerik putranya.
"Mau beli bunga lagi, Itachi-san?" tanya sang penjaga toko dengan riang.
Mikoto tidak sempat mendengar jawaban Itachi saat tiba-tiba suara di belakangnya membuatnya terkejut.
"Uchiha Itachi?" gumam sosok berkacamata hitam tersebut.
"Maaf?" tanya Mikoto perlahan.
Sekali lagi, jelas terlihat bahwa sosok berkacamata hitam itu terkejut. Tapi ia buru-buru menutupinya dengan gerakan tangan yang seakan hendak memperbaiki letak kacamatanya. Mikoto pun mengernyitkan alis.
"Kaukenal Uchiha Itachi?" tanya Mikoto lagi—ragu-ragu.
"… Tidak secara pribadi," pemuda itu menjawab lambat-lambat, "tapi, jika mendengar cerita dari Ino, bukankah dia orang yang baik?"
"Hah?"
"Aku mulai berpikir. Seandainya saja dia…." Pemuda itu sekonyong-konyong menghentikan ucapannya. Seakan ia baru tersadar bahwa ia tidak mempunyai kewajiban apa pun untuk menjelaskan lebih lanjut. Pemuda itu menggeleng. "Lupakan," imbuhnya cepat sambil beranjak dari kursinya.
Saat itulah, Mikoto menyadari suatu fakta dari pemuda itu. Gerakan tangan yang meraba-raba sebelum sang pemuda meraih gagang pintu dan menghilang di balik kayu berpelitur kecokelatan tersebut telah menjadi bukti bahwa pemuda yang baru saja berbicara dengannya … mempunyai gangguan dalam penglihatan. Buta—jika dideskripsikan dalam satu kata.
Tapi, Mikoto tidak bisa memusatkan perhatiannya pada pintu itu lama-lama saat indra pendengarannya menangkap suara yang tidak asing.
"Kaasan?"
Posisinya sudah diketahui secara jelas oleh Itachi.
o-o-o-o-o
Waktu bergulir cepat dan saatnya bagi Hinata untuk mendatangi ruang klub. Hinata tidak bersama dengan Shion yang lebih memilih klub basket. Shion memang sosok perempuan aktif yang lincah—sedikit berkebalikan dengan Hinata. Tapi itu tidak masalah, toh keduanya dapat menjadi teman yang baik sejak pertama Hinata menjejakkan kaki di SMA.
Pukul setengah tiga sore, kegiatan klub pun dimulai. Diawali dengan perkenalan singkat dari pengawas dan ketua klub. Selanjutnya, beberapa anggota reguler mendapat kesempatan memperkenalkan diri sebelum anggota baru.
Dari klub memasak itulah, Hinata kemudian mendapat teman baru lainnya yang bernama Tenten. Tenten adalah kakak kelasnya—terpaut satu tahun dengan Hinata. Sekilas, pembawaan Tenten terlihat tomboy, dan rasa ingin tahu Hinata tertangkap mata cokelat Tenten. Rona merah menjalari kedua pipi Tenten tak lama kemudian.
"Sampai kelas satu kemarin, aku dan dia selalu bersama di klub basket. Tapi kurasa, sudah saatnya aku membuat perubahan. Aku ingin menjadi lebih 'perempuan'." Tenten menarik napas panjang. "Aku ingin bisa memasakkan sesuatu untuknya. Sesuatu yang dia sukai."
"Dia itu … pacar Senpai?" tanya Hinata polos sambil mengikatkan semacam bandana ke kepalanya. Setelah itu, Hinata meletakkan sebungkus tepung terigu yang sudah dibagikan oleh ketua klub ke atas meja panjang tempat ia dan Tenten akan mengolah adonan mereka. Hari itu, mereka akan membuat kue kering sederhana.
Wajah Tenten semakin memerah mendengar pertanyaan Hinata. Dengan cepat, gadis berdarah campuran China tersebut menggeleng.
"Bukan. Eh … belum." Tenten mulai mengangkat sekeranjang telur dan membawanya ke samping baskom. "Hanya suka sepihak. Dia bahkan mungkin tidak sadar kalau aku menyukainya."
Senyum lembut menghiasi wajah Hinata. "Kalau begitu … ayo kita berjuang dan buatkan kue yang enak. Klub basket selesai sekitar pukul tujuh, bukan?"
Tenten mengangguk. Mereka pun mulai bekerja. Saat Hinata tengah berusaha memisahkan putih telur dengan kuning telur untuk mendapatkan hanya kuning telur, mendadak Tenten pun menumpahkan isi kepalanya.
"Hinata-chan sendiri? Ada seseorang yang ingin kauberikan kue ini?"
Terkejut, tangan Hinata berhenti bergerak. Gara-gara itu, beberapa tetes putih telur tercampur dalam kuning telur yang sudah berhasil dipisahkan Hinata. Hinata berjengit sejenak sebelum ia menoleh pada Tenten yang memandangnya dengan tatapan tidak mengerti apa-apa. Ya, bagi Tenten, ini adalah pengalaman pertamanya membuat kue dengan keinginan sendiri. Karena itu, mungkin ia bahkan tidak menyadari bahwa untuk membuat kue kering yang sedang mereka kerjakan, kuning telur sebaiknya dipisahkan dengan putih telur.
Hinata sendiri tidak lama-lama mempermasalahkan soal telur. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah pertanyaan Tenten.
"Ada seseorang yang ingin kauberikan kue ini? Dari klub basket mungkin?" ulang Tenten dengan menambahkan sedikit dugaan di akhir pertanyaannya.
"Ti-tidak juga. Aku…."
Sekelebat bayangan masuk ke dalam benak Hinata—sosok pemuda berambut raven dengan tatapan tajam dan ekspresi yang cenderung dingin. Meski demikian, tiap kata-kata yang terlontar dari pemuda tersebut padanya adalah suatu kehangatan. Dan meski kebersamaan mereka masih terbilang singkat, bagi Hinata, keberadaan pemuda yang telah banyak membantunya itu perlahan memiliki tempat tersendiri di hatinya. Tidak terukur dengan berapa banyaknya ucapan terima kasih, tidak setimpal dengan berbagai macam materi.
Bagi Hinata, Sasuke adalah penyelamat keluarganya. Pemuda itu adalah penyelamatnya. Dan sebagai ganti pertolongan tersebut, Hinata hanya perlu masuk ke dalam keluarga Uchiha sebagai istri dari seorang Uchiha Sasuke. Suatu syarat yang terkesan mudah. Ia pun menjadi istri Sasuke. Sasuke menjadi suaminya.
Suami….
Kata-kata itu sejujurnya terasa mengganggu Hinata. Ia baru saja menginjak SMA dan tahu-tahu, takdir mendesaknya untuk segera memiliki suami. Ya, jika boleh jujur, Hinata cukup takut dengan status barunya ini. Sayangnya, dari apa yang Hinata tangkap, Sasuke tidak merasakan hal yang sama.
Tentu saja. Untuk apa Sasuke takut? Pemuda itu sudah cukup umur untuk segera menikah. Tidak ada masalah dengan pernikahan dan hal-hal yang biasa mengikuti ikatan tersebut.
Untuk alasan yang tidak—belum—Hinata ketahui, Sasuke tampak sama sekali tidak keberatan dengan Hinata yang menjadi istrinya. Seolah memang Hinata-lah yang Sasuke harapkan untuk mendampingi. Meski Sasuke terkadang terkesan menjaga jarak, di sisi lain, Hinata merasa itulah bentuk perlindungan Sasuke terhadapnya. Sekali lagi, tiap-tiap hal yang Sasuke lakukan untuknya, Hinata bisa merasakan kehangatan di dalamnya.
"Hayoooo! Wajahmu memerah, lho? Memang ada yang kaupikirkan, 'kan?" desak Tenten sambil menyenggol lengan Hinata.
"Ah, ehm…." Hinata terkesiap. "Aku…."
"Ayolah … aku kan sudah bercerita padamu tentang alasanku masuk klub memasak. Apa salahnya cerita sedikit tentang dirimu?"
Hinata menggigit bibir bawah sambil mengedar pandang ke sekeliling. Teman-temannya yang lain sudah ada yang mulai menguleni adonan. Ada pula yang sudah mulai menyiapkan cetakan-cetakan yang lucu untuk kue kering mereka. Masing-masing fokus dengan pekerjaannya, tidak ada yang terlalu memerhatikan mereka.
"Yah … aku … mungkin aku memang ingin memberikan kue ini pada seseorang."
"Siapa? Siapa?" tanya Tenten antusias.
Hinata tersenyum getir. "Orang yang baik hati." Hinata memberikan jeda, Tenten tampak tidak puas. "Orang yang telah banyak membantuku dan keluargaku. Tapi tidak, dia sudah tidak bersekolah. Dia sudah bekerja."
"Oh? Kau suka cowok yang lebih tua?"
"Se-senpai, sebaiknya kita mulai segera membuat kue ini." Hinata kembali berpaling pada telur. Setelah menyingkirkan cangkang telur yang tidak lagi terpakai, Hinata mengambil bungkusan tepung terigu. Pembicaraan tentang siapa yang akan mereka beri kue pun terhenti di sana.
Tapi tidak demikian halnya dengan otak Hinata yang terus mengulang satu nama yang hendak diberikannya kue: Uchiha Sasuke.
o-o-o-o-o
Hinata sedikit terbelalak saat didapatinya Benz hitam terparkir tidak jauh dari sekolahnya. Bukan BMW yang dikendarai Itachi tadi pagi. Mercedez Benz ini adalah mobil yang membawa Hinata keluar dari kediaman Hyuuga. Mobil yang sama juga yang mengantarnya ke sekolah kemarin. Dan pemilik mobil ini jelas adalah orang yang sama persis dengan orang yang sedari tadi mengganggu benak Hinata.
Pintu mobil itu terbuka sekilas. Hinata menahan napas saat didapatinya Sasuke yang menunggunya untuk mendekat. Pemuda itu tampak sedikit berbeda dengan tambahan kacamata tanpa frame yang menghias wajahnya. Lebih lanjut, Hinata bisa melihat bahwa Sasuke sudah menukar pakaiannya. Ia tidak mengenakan kemeja ataupun celana panjang berbahan kain. Sebaliknya, baju bahan kaos dan celana jeans-lah yang dipilih Sasuke. Sebuah topi juga terletak nyaman di kepalanya. Mungkin itu adalah dandanan penyamaran Sasuke agar ia tidak terlalu dikenali.
"Apa yang kautunggu?" Suara rendah Sasuke pun langsung menyentak kesadaran Hinata. Dengan itu, Hinata langsung terburu-buru memasuki mobil.
Tanpa menunggu waktu lama, Sasuke langsung melajukan mobilnya—meninggalkan pelataran sekolah. Keheningan menjadi hal yang biasa di antara keduanya. Entah mengapa, Hinata menjadi lebih gugup dari yang ia pikirkan akan ia rasakan. Ia bahkan sejenak melupakan soal kue kering yang ingin ia berikan pada Sasuke.
"Ano, Sasuke-kun," Hinata mencoba membuka pembicaraan, "kita akan ke supermarket, ya?"
"Hn," jawab Sasuke singkat. Tapi bagi Hinata itu sudah menjawab. Tapi Hinata tidak berhenti sampai di sana.
"Apa Okaasan sudah menuliskan hal-hal yang perlu kita beli?"
"Ya, kau tidak perlu khawatir soal itu."
"Oh."
Hening kembali.
"Ano, Sasuke-kun," ulang Hinata, "kau sudah selesai bekerja?"
Jika dipikirkan baik-baik, pertanyaan Hinata terdengar cukup bodoh. Tapi Hinata tidak benar-benar dapat memikirkan hal yang ingin ia tanyakan hanya untuk sekadar membunuh kesunyian.
"Hn." Dan tampaknya, Sasuke pun tidak berniat memperpanjang percakapan mereka.
"Oh."
Seakan menangkap aura-tidak-ingin-diganggu yang dilontarkan Sasuke, Hinata pun mengunci mulutnya. Tapi hanya beberapa saat, sebelum ia menyentuh bungkusan berwarna biru muda yang dihias pita keunguan. Jemari masing-masing tangannya terdiam ragu—menempel di kiri-kanan bungkusan berisi kue kering tersebut. Desakan itu pun memaksa Hinata sekali lagi untuk bersuara—bahkan mengabaikan diam yang ingin dijaga Sasuke.
"Hari ini … aku membuat kue kering," ujar Hinata dengan suara yang nyaris berbisik, "ka-kalau tidak keberatan, aku ingin Sasuke-kun mencicipinya."
Tidak ada jawaban. Hinata sendiri masih menundukkan kepala dan tidak berani melirik sedikit pun ke arah Sasuke. Apa Sasuke tidak mendengar ucapannya? Atau pemuda itu sengaja mengabaikannya?
"Hinata." Suara Sasuke sontak membuat gadis itu menoleh. "Sudah sampai. Ayo turun."
Meski tidak disadari, tatapan Hinata melayu luruh. Ia tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya tadi. Lebih-lebih, ia merasa diabaikan—ditolak. Tapi, Hinata tidak bisa berbuat banyak selain tersenyum.
"Baik," ujarnya sambil menarik tas dan siap meninggalkan mobil.
"Tinggalkan saja tas dan barang bawaanmu yang lain," perintah Sasuke. "Itu akan menghambatmu memilih barang nanti."
Tanpa banyak bertanya lagi, Hinata pun meninggalkan tas dan kue keringnya. Ia meletakkannya dengan hati-hati di atas kursi penumpang. Hinata hanya membawa ponsel yang kemudian ia selipkan ke saku roknya. Ia kemudian turun dan menutup pintu.
Sasuke keluar tidak lama setelah Hinata. Andai saat itu Hinata sempat melirik ke dalam, tentu ia akan mendapati pemandangan di mana Sasuke sesaat menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Dan tatapan itu … ekspresi itu … menyiratkan suatu pesan yang sulit diuraikan dengan kata-kata.
o-o-o-o-o
Pada awalnya, Hinata berjalan sedikit lebih ke belakang dari posisi Sasuke begitu mereka mulai memasuki supermarket. Bahkan setelah gadis itu mengambil sebuah keranjang dan mulai melihat-lihat sekeliling, ia masih tampak ragu untuk menyejajarkan langkah dengan Sasuke. Menyadari hal itu, segera saja Sasuke mengulurkan tangannya untuk … menggenggam tangan Hinata.
"Sa-Sasuke-kun?"
"Jangan berjalan di belakangku seperti itu. Memangnya kau pembantuku?" Sampai di sana, Hinata masih terdiam. "Kau istriku, 'kan?"
Warna merah langsung mengekspansi kedua belah pipi Hinata. "Ah … uhm…."
"Ya. Setidaknya untuk saat ini…," gumam Sasuke.
"Y-ya?" tanya Hinata karena ia tidak begitu yakin akan pendengarannya. Apa yang baru saja Sasuke ucapkan?
"Jadi, apa yang harus kita beli?" tanya Sasuke. Namun, dibilang bertanya, ia seolah hanya berkata tanpa memerlukan jawaban. Toh ia langsung tahu apa yang harus ia lakukan—mengeluarkan ponsel dari sakunya dan membaca nama tiap-tiap item yang telah dikirimkan oleh Mikoto.
"Kata Okaasan, menu makan malam hari ini adalah spaghetti dan salada tomat," ujar Hinata sambil melirik ke arah ponsel Sasuke.
Sasuke mengangguk dan menyerahkan ponselnya pada Hinata. Hinata pun menerima ponsel itu dan segera saja gadis itu yang menunjukkan jalan. Tangan keduanya masih terkait satu sama lain sebelum kemudian Sasuke berinisiatif mengambil alih keranjang yang semula dipegang Hinata.
Satu demi satu bahan berpindah tempat dari rak ke keranjang. Daging cincang per gram, spaghetti kotak, bawang bombay, salada … bahan-bahan utama untuk menyukseskan menu makan malam mereka sudah mereka dapatkan. Lalu, yang tak kalah penting….
"Tomat," ujar Sasuke cepat sambil menunjuk ke satu arah dengan tangan yang juga memegang keranjang.
"Ng!" jawab Hinata sambil mulai bergerak ke arah rak pendingin yang berisi tomat. "Lima buah mungkin cukup, ya?" imbuh Hinata sambil melepaskan pegangan tangannya dengan Sasuke untuk mengambil plastik pembungkus. Diisinya plastik bening tersebut dengan lima buah tomat saat mendadak Sasuke menambahkan sekitar tiga tomat lagi secara berturut-turut.
Hinata menoleh ke arah Sasuke. Tanpa banyak bicara, Sasuke malah menambahkan lagi dua buah tomat hingga plastik bening tersebut tampak menggembung dengan banyaknya tomat yang mereka ambil.
"Apa?" tanya Sasuke sambil mengangkat alisnya.
"Ku-kurasa ini kebanyakan," ujar Hinata yang sudah siap mengeluarkan lima tomat tambahan yang dimasukkan Sasuke.
"Tidak," cegah Sasuke sambil menahan tangan Hinata, "kalaupun kebanyakan, ini bisa disimpan untuk nanti, 'kan?"
"Me-memang, sih…."
"Kalau perlu," ujar Sasuke ragu-ragu, "tambahkan satu plastik lagi, isi sepuluh."
"Eh?"
Sasuke membuang mukanya. "Sudah, jangan banyak tanya. Lakukan saja."
Tidak butuh waktu lama bagi Hinata untuk menduga bahwa Sasuke ternyata menyukai tomat. Jika memang demikian, mungkin inilah yang dimaksud Itachi tadi pagi. Bahkan Mikoto pun dengan sengaja memilih menu yang melibatkan tomat di dalamnya. Apa mungkin … Hinata sedang menerima pembelajaran mengenai hal-hal yang Sasuke sukai dan tidak?
Dugaan itu membuat Hinata tidak bisa tidak tersenyum. Sasuke yang melihatnya dari sudut mata kini memandang Hinata dengan penuh tanya. Kedua mata hitamnya seakan menyerukan apa-yang-kau-tertawakan-? pada Hinata.
Gelengan dilakukan Hinata hanya sekadar untuk menjawab pertanyaan tanpa lisan dari Sasuke. Gadis itu malah mengecek beberapa list benda yang harus mereka beli sebelum ia mengajak Sasuke ke kasir.
Saat itulah, Sasuke menangkap pandangan sedih yang mendadak ditunjukkan Hinata. Gadis itu bahkan sempat tersentak hingga menghentikan langkah kakinya secara tiba-tiba.
"Hinata?"
Hinata menghilangkan ekspresi sedihnya dalam satu kerjapan mata dan menunjukkan senyum ke hadapan Sasuke. "Ya? Ada apa, Sasuke-kun?"
"Ng…." Sasuke menyentuh tengkuknya—sekiranya ia refleks memanggil nama istrinya itu tanpa sempat memikirkan apa yang hendak ia katakan selanjutnya. "Aku hanya … tadi … wajahmu…." Sasuke berdeham sebelum ia memaksakan diri untuk mengutarakan apa yang sebelumnya ia pikirkan. "Wajahmu terlihat seperti mau menangis tadi. Jadi kupikir…."
"O-oh? Ma-maaf!" ujar Hinata cepat setelah dia sadar bahwa Sasuke sempat melihat wajah sendunya. "Aku tidak apa-apa. Sungguh."
Bohong. Itulah yang ingin Sasuke katakan. Tapi ia menahannya dan hanya membiarkannya lepas dalam hati. Jika boleh menduga, Hinata memasang wajah sedih seperti tadi karena ia teringat dengan ayahnya—keluarganya. Korelasinya adalah dengan usaha minimarket yang dijalankan oleh ayahnya. Mungkin gadis itu jadi teringat dengan cerita pailit yang baru saja dialami ayahnya.
Memang, kini setiap usaha minimarket yang dijalankan ayahnya tetap dapat beroperasi di bawah pengawasan Uchiha corp. Namun, tetap saja hal tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatunya tidak sama dengan dahulu. Lebih lanjut, mungkin Hinata diingatkan oleh posisinya sendiri—sebagai seorang istri dari Uchiha Sasuke. Pernikahan yang terjadi sebagai syarat untuk membantu mengembalikan usaha Hyuuga seperti sedia kala.
Sasuke sadar, situasi seperti ini sama sekali tidak menyenangkan. Ia tidak menyukainya. Kalau bisa, ia ingin menghindari Hinata hingga ia bisa benar-benar mengendalikan keadaan. Dengan demikian, ia bisa memulai segala sesuatunya dari awal—secara wajar. Dan dengan alasan itulah … ia sungguh ingin menyelesaikan semuanya. Segera.
Namun, Sasuke juga tahu, dengan keberadaan Mikoto, akan sulit baginya untuk terus-terusan menghindari Hinata. Di sisi lain, Sasuke sebetulnya tidak ingin bersikap dingin pada Hinata. Tidak, tidak pada Hinata.
Pelik. Semuanya seolah melebur menjadi satu—berputar dalam ruang yang seharusnya tak terbatas dalam sel kelabunya. Tapi pemikiran-pemikiran tersebut sedikitnya membuat Sasuke merasa terhimpit. Berujung pada dilema yang kerap ia rasakan, kerap muncul tiba-tiba, tanpa bisa ia cegah.
"Sasuke-kun?" Kali ini, Hinata-lah yang memergoki Sasuke yang tengah memasang ekspresi keras. "Ada apa? Sekarang giliran kita, lho?" Hinata mengingatkan. Dan Sasuke langsung tersadar bahwa ia tengah berada di antrian kasir untuk membayar belanjaan mereka.
Sasuke pun sejenak melupakan kebimbangan yang mendominasi benaknya. Segera saja ia mengeluarkan barang-barang yang ada di keranjang untuk segera dihitung oleh petugas kasir. Hinata tidak lagi bertanya-tanya dan ia hanya membantu Sasuke untuk mengeluarkan beberapa barang.
Usai menyelesaikan segala administrasi di kasir, Sasuke pun menenteng belanjaan mereka ke arah mobil. Hinata membantu Sasuke untuk membukakan pintu dan tak lama, keduanya sudah duduk di tempat masing-masing. Mobil pun meluncur kembali ke kediaman Uchiha.
Kepulangan mereka disambut Mikoto yang sudah mengenakan celemek dan mengikat tinggi rambutnya. Senyum riang terpaku di wajah Mikoto tatkala ia semakin dapat melihat sosok anak dan menantunya yang sudah turun dari mobil.
"Ayo, ayo. Kita harus segera masak sebelum Fugaku, Itachi, dan Sai pulang. Nah, Sasuke, bawakan tas Hinata-chan ke kamarnya, ya?"
"Kaasan, apa Hinata tidak dibiarkan bertukar pakaian terlebih dahulu?" ptotes Sasuke sambil mengeluarkan kantung plastik berisi barang belanjaan. Kantung-kantung tersebut langsung disambar Mikoto dan diberikan ke salah satu pelayan. Tanpa memedulikan protes Sasuke, Mikoto justru mengisi tangan Sasuke dengan tas Hinata dan bungkusan biru kecil sebagai ganti kantung-kantung yang sudah diambilnya. Mikoto kemudian menepuk pundak Hinata dan berlalu bersama seorang pelayan yang mengikuti dengan kantung-kantung berisi belanjaan.
Belum akan mengikuti langkah Mikoto, Hinata justru berdiam di tempatnya sembari memandang Sasuke.
"Ano … itu…."
Mata Sasuke masih meneliti bungkusan biru dengan pita ungu yang ada di tangannya dengan saksama. Hinata sesaat masih menunggu reaksi Sasuke. Namun, begitu dilihatnya Sasuke hanya bergeming, Hinata pun memutuskan untuk mengikuti panggilan Mikoto yang memintanya segera beranjak ke dapur.
"Hinata," panggil Sasuke tepat setelah Hinata berjalan satu langkah semakin memasuki rumah Uchiha. Hinata pun menoleh. "Terima kasih," ujar Sasuke sambil mengangkat bungkusan biru muda tersebut, "akan kumakan setelah makan malam nanti."
Mati-matian Hinata menahan senyum, tapi ia tidak bisa. Hinata tidak begitu mengerti, tapi ucapan Sasuke itu membuatnya senang—sangat senang. "Tapi … aku tidak menjamin rasanya, ya?" ucap Hinata memperingatkan dengan lembut.
Sasuke tidak berkata-kata lebih lanjut. Ia hanya menyentuh kepala Hinata dan kemudian meletakkan tangannya di bahu sang gadis—setengah mendorongnya untuk bergegas masuk. Jalan mereka pun kemudian terpisah; Hinata ke arah dapur dan Sasuke beranjak ke lantai dua.
o-o-o-o-o
"Jadi…," Mikoto memulai, "kau sudah memberikan kue buatanmu pada Sasuke?"
"E-eh? Kaasan tahu?" Hinata sedikit terkejut saat Mikoto menyambutnya dengan sebuah pertanyaan yang bagaikan pernyataan.
"Begitulah," jawab Mikoto sambil tertawa kecil. "Ah, tapi itu tidak penting," imbuh Nyonya Uchiha itu lagi sambil mengeluarkan bahan-bahan yang akan mereka masak untuk makan malam, "pertanyaanku sekarang adalah … apa yang kaudapat dari acara belanja tadi?"
Hinata mengerjap bingung. Meski tangannya tidak berhenti mengenakan celemek yang dilanjutkan dengan mengikat rambut yang berwarna senada dengan rambut Mikoto, tapi mulutnya masih terkatup selama beberapa saat. Kemudian, tanpa sempat memikirkan jawaban yang lain, Hinata pun berujar polos, "Sasuke-kun … suka tomat."
Seulas senyum mengembang di wajah Mikoto. "Memang pertanyaan yang mudah, ya? Tapi tidak semua orang tahu akan hal itu. Dan Sasuke tidak akan menunjukkannya terang-terangan pada orang yang tidak dianggap dekat dengannya."
"Eh?"
"Dan karena Hinata-chan berhasil menguak rahasia Sasuke," Mikoto tersenyum penuh arti, "aku akan memberikan hadiah pada kalian."
***To Be Continued***
Chapter terpanjang sepanjang sejarah (?) saya ngetik fanfic ini. Anggep aja sebagai permintaan maaf karena update-nya siput sangat. Hahaha. X""Da
Dan … kyaa! Review Chain of Love udah mencapai angka 200! Terima kasih, minna! *kecup reviewer satu-satu*
Di chapter kali ini, banyak yang muncul, ya? Mulai dari Mama Mikoto, Shino, Tenten … makanya jadi panjang, deh? Tapi, tapi, porsi SasuHina-nya udah cukup, 'kan, ya? Dan … yah, pelan-pelan Hinata mulai 'membangun' perasaannya ke Sasuke. Sementara Sasuke … apa yang dia pikirkan? Entahlah, author juga nggak tahu. Mungkin dia lagi mikirin tomat? *shrug* *author gak bertanggung jawab* *dilempar tomat*
Tadinya pojok yang satu ini nyaris saya hilangkan mengingat udah panjang chapter kali ini, tapi ternyata saya nggak rela. Jadi … eng-ing-eng!
POJOK (SOK) GAHOEL!
Mikoto: Pertanyaanku sekarang adalah … apa yang kaudapat dari acara belanja tadi?
Hinata: Sa…
Mikoto: Sa…?
Hinata: Satu bawang bombay harganya 50 yen! Tapi kalau beli tiga, dapat potongan jadi 100 yen!
Mikoto: *ngernyitin alis* Yang lain?
Hinata: *mikir* Sa…
Mikoto: Yaaaa…?
Hinata: Sayang sekali tadi lagi nggak ada sale, Kaasan.
Krik.
Mikoto: Bukan ituuu! Soal Sasuke, lho! Sasuke!
Hinata: Sasuke-kun? Oooooh!
Mikoto: A-apa?!
Hinata: Dia kayak bocah banget, Kaasan! Masa tadi karena aku nggak mau beliin tomat, dia nangis guling-guling di lantai! Bikin maluuuuu!
Mikoto: Oke! Kamu lulus! Tidak semua orang bisa bikin Sasuke tantrum~! Dan Sasuke juga tidak akan menunjukkannya terang-terangan pada orang yang tidak dianggap dekat dengannya. Jadi, selamat, ya, Hinataaa~!
Hinata: Kaasan~
Mikoto: Hinata~
Hinata, Mikoto: Berpelukaaaaannn~~
Sasuke: *ngintip* … pengen ikutan, dong~
Krik. Krik.
THE END
:iconlalalaplz: *kabur*
Sekian untuk chapter kali ini~ tetap tunggu kenistaan Sasuke lainnya di next chapter~! /salahfokus
Okay, saya balesin review yg non login dulu, yak? Yang review login saya langsung bales ke PM :D
ulva-chan: happy SHDL~! *dari kapan coba* X""D tapi, tapi, di pojok (sok) gahoel semua mungkin terjadi, termasuk Sasuke yang nista. Mwahahaha~. Eh, nggak apa-apa, kamu lagi sibuk, ya? :"")
Dae Uchiha: kyaaa~ makasih udah suka chapter kemarin. Moga-moga chapter ini juga memuaskan. X"D Soal kenapa Sasuke pergi, ya? Di sini baru ada 'gejala-gejala'-nya, belum bener-bener dijelasin kenapa dia pergi. Tapi udah bisa nebak, 'kan? :3
i'm Cloud: Happy SHDL too XD
Cherryl19 males log in: *ikutan gigit bantal* :"P
Mamoka: maaf yah bikin kamu kecewa. Tapi kalau mereka bikin yang lebih-lebih, entar pindah rate dong? X""D I-iya, diusahain scene merekanya banyak. Cuma ya … kadang saya bingung dengan interaksi mereka. Dan akhirnya malah ke mana-mana dulu deh~. Gomen ne? :""3
blue night-chan: Cuma tidur berdua lho, nggak ngapa-ngapain. Suer~ XDv
Diane ungu: iyaa, di pojok (sok) gahoel, Sasuke akan selalu OOC. Mwahahhaa. Na-nah, sekarang saya yang lupa nama FB kamu ;_; boleh tahu nama FB kamu? Uh, gomen, saya emang agak cenderung pelupa :""(
putri mentari: X"""D makasiiih mau nunggu ff ini. Ini udah update~ moga-moga kamu suka.
HyuUchi May: i-ini masih sedikit yah, SH-nya? ;_; *ngais tanah* tapi satu chapter-nya udah dipanjangin, lho~. Gi-gimana? :"")
Yak, balasan review non login, done~!
Next, terima kasih juga saya ucapkan buat semua yang udah baca (silent reader sekalipun), yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu! Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan dan terutama agak pendek, ya? Hehehe. Jangan tanya kapan saya akan update next chapter, karena saya pun tidak tahu~ *kabur bareng Itachi* Ino: Gyaaaa! Jangan bawa Itachi gueee~! /slap!
Okay, langsung aja, silakan beri tahukan kesan, pesan, saran, kritikan minna-san tentang fic ini. Arigatou sebelumnya~
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie
~Thanks for reading~
