Disclaimer: I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto

No commercial advantages is gained by making this fanfic. Fanfic is just for fun, guys! ;)

Genre : Romance/Drama

Pairing : SasuHina slight ItaIno and SaiSaku

A/N: di review chapter kemarin, udah banyak yang nebak soal honey moon SasuHina ya? *gagal bikin misteri n kejutan* reviewer fanfic ini banyak yang cenayaaang! X"""D

Tapi adegan 'resmi' honey moon SasuHina-nya baru nongol di chapter depan, ya? :""p /bocoran /spoiler

Then, for this chapter also, enjoy reading!


Chain of Love

Chapter 8 – Another Bride


White gown on imagination,

a bouquet of flowers in hand,

party and laughters….

Make it double!

.

.

.

Hari demi hari telah berlalu semenjak terakhir Mikoto memeriahkan suasana rumah Uchiha. Wanita nomor satu di keluarga Uchiha itu kini sudah kembali disibukkan dengan peran lainnya sebagai aktris ternama. Ia akan menghilang dari lingkup kediaman Uchiha dan kembali memampang wajahnya melalui sinema-sinema.

Di luar dugaan, justru Hinata-lah yang merasa paling kehilangan. Ada banyak alasan yang bisa ia sebutkan untuk membela perasaannya. Sebut saja salah satunya, tanpa Mikoto, Hinata merasa kehilangan salah satu pelindung yang paling membuatnya merasa aman. Ancaman di rumah Uchiha sudah jelas bagi Hinata: si bungsu Sai.

Sosok Sasuke yang diharapkan akan sering terlihat, kini semakin samar-samar. Entah apa yang suaminya itu lakukan—pagi-pagi sekali ia sudah pergi dan menjelang larut malam ia baru pulang. Ia semakin jarang—kalau tidak mau dibilang hampir tidak pernah lagi—mengantar jemput Hinata ke sekolahnya. Begitu sibuknya Sasuke hingga tatap mata dengan Hinata hanya bisa dilakukan sesekali.

Padahal, penanggalan sudah semakin menunjukkan kedekatan dengan hari yang dijanjikan Mikoto bagi mereka. Katanya, hadiah karena Hinata telah berhasil mengetahui rahasia Sasuke yang menyukai tomat. Hadiah untuk sesuatu yang nyaris tidak masuk akal. Lebih-lebih, bisa dikatakan konyol. Tapi bagi Hinata, itu tidak lebih dari sekadar alasan di permukaan. Mikoto hanya ingin semakin mendekatkan Hinata dengan Sasuke—itulah alasan dasarnya.

Semakin mendekati hari yang dijanjikan, Hinata semakin merasa gelisah. Ia bahkan belum tahu apa Sasuke akan mengikuti keinginan sang ibu atau memilih untuk membatalkannya. Di satu sisi, Hinata juga tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika memang janji itu benar-benar terlaksana.

"Lima hari lagi, ya?" ujar Sai saat suatu kesempatan mempertemukan mereka di ruang baca di lantai satu. "Pengganti malam pertama yang tidak berjalan mulus?"

"Ti-tidak akan terjadi hal-hal seperti yang kaubayangkan," ujar Hinata yang kini sudah lebih berani melawan godaan Sai padanya. Sepeninggal Mikoto dan menghilangnya Sasuke, Hinata sedikitnya sadar bahwa ia harus bisa melindungi dirinya sendiri dari kata-kata Sai yang sering bernada mengejek dan seakan hendak mempermalukannya.

Sai terkekeh. "Memangnya apa yang kubayangkan?"

Hinata menggelengkan kepalanya dan memilih tidak menanggapi kata-kata Sai yang penuh jebakan. Fokus Hinata ia pusatkan pada buku yang tengah ia pegang. Namun, rupanya Sai bukan pejuang yang mudah menyerah. Ia kini menyingkirkan buku Hinata dan membuat perhatian gadis itu kembali padanya.

"Kulihat kau sudah semakin dapat beradaptasi di sini. Bukan begitu?"

Untuk sepersekian detik, Hinata bungkam. Tapi dengan mata yang menatap balik ke arah Sai, Hinata pun menjawab, "Apa … aku harus terus merasa canggung di tempat yang sudah menjadi rumahku?"

Sai tersenyum hingga matanya semakin menyipit. Ia pun mengembalikan buku Hinata sebelum membalikkan badannya. Dengan tangan yang sedikit terentang dan bahu yang sedikit naik, Sai kemudian melontarkan kata-kata tajam.

"Hidupmu menyenangkan sekali, ya, Kakak Ipar. Meski keluargamu bangkrut, kaudapat dengan segera menyelesaikannya. Cukup dengan menjadi istri dari orang yang sudah tergila-gila denganmu. Dan sekarang, meski orang itu kerap mengabaikanmu, bagimu itu bukanlah persoalan penting. Toh kau tidak ada perasaan apa pun padanya."

Buku Hinata sudah tertutup saat Hinata kemudian membalas pernyataan Sai dengan sebuah pertanyaan, "Apa … maksudmu?"

Kepala Sai menoleh ke belakang. Keduanya menatap intens satu sama lain. Meski Hinata terlihat seolah ia hendak menangis, tapi di sisi lain, gadis itu terlihat begitu memantapkan hati.

Sai pun menarik sebelah ujung bibirnya—tersenyum sinis. "Pikir saja sendiri."

Segera setelah itu, Sai pun meninggalkan Hinata di ruang baca yang hening. Hari itu seharusnya adalah hari libur—Hari Minggu. Tapi kediaman Uchiha tidak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Dipenuhi kesunyian.

Bukan berarti Hinata tidak terbiasa. Ini sudah Minggu keduanya mengalami hal semacam ini. Yang Hinata tahu, Fugaku memang tidak ke mana-mana dan memilih beristirahat di kamarnya. Sementara Itachi, entah apa yang kakak iparnya itu lakukan akhir-akhir ini, tapi wajah pemuda itu kian hari makin terlihat lelah meski ia mencoba menutupinya dengan senyum—seolah ada beban pikiran yang begitu menggerogotinya. Dan di hari Minggu ini, pagi-pagi sekali ia sudah beranjak ke luar rumah.

Lalu suaminya, Sasuke, sekarang tidak diketahui di mana keberadaannya. Tidak mungkin ke kantor, bukan? Kantor mana yang tetap buka hari Minggu? Serupa dengan Itachi, akhir-akhir ini Sasuke seperti ada beban pikiran. Meskipun pemuda berambut raven itu tidak terang-terangan menunjukkan, entah mengapa Hinata lebih paham kondisinya dibanding kondisi Itachi.

Hinata menggigit bibir bawah dan bangkit dari sofa. Ia pun sedikit terburu untuk segera mencapai kamar tempat ia meninggalkan ponselnya. Buku yang semula ia pegang sudah tergeletak nyaman di atas meja sementara tangannya menyambar alat komunikasi elektronik tersebut. Dengan kedua tangan, Hinata memegang ponsel tersebut dan mulai mengetik huruf demi huruf.

'Sasuke-kun … kau ada di mana?'

Jari-jari itu berhenti menari di atas keypad ponsel. Hinata menggeleng dan kemudian mengetik ulang pesan yang hendak ia kirimkan.

'Sasuke-kun … apa kau sedang sibuk?'

Hinata membaca ulang pesan yang benar-benar singkat itu sebelum ia menambahkan beberapa kata. Setelah jemarinya berhenti mengetik, Hinata membaca pesannya untuk yang terakhir kali sebelum ia menekan opsi 'kirim'.

'Sasuke-kun, kau ada di mana? Apa kau sedang sibuk?'

Pemberitahuan bahwa mail terkirim tertangkap mata Hinata tidak lama kemudian. Tapi selanjutnya, ia mendadak panik sendiri. Bagaimana kalau Sasuke bertanya mengapa ia tiba-tiba mengirim mail seperti itu? Sungguh, Hinata tidak memikirkan alasan mengapa mendadak ia merasakan dorongan untuk mengirim mail seperti itu pada ucapan Sasuke.

Tidak, bukannya Hinata tidak tahu sama sekali. Ucapan Sai sebelumnyalah yang telah memicu Hinata untuk mengirimkan pesan tersebut pada Sasuke.

"Hidupmu menyenangkan sekali, ya, Kakak Ipar. Meski keluargamu bangkrut, kau dapat dengan segera menyelesaikannya. Cukup dengan menjadi istri dari orang yang sudah tergila-gila denganmu. Dan sekarang, meski orang itu kerap mengabaikanmu, bagimu itu bukanlah persoalan penting. Toh kau tidak ada perasaan apa pun padanya."

Mata Hinata melayu tatkala gema ucapan Sai terngiang dalam benaknya. Sorot sedih terpancar. Tangannya menggenggam ponsel semakin erat.

Sejujurnya, keadaan seperti ini sama sekali bukan keinginan Hinata. Tidak pernah terpikir bahwa ayahnya akan dikhianati orang kepercayaannya sendiri sampai jatuh bangkrut. Tidak pernah terpikir olehnya pula bahwa karena itulah ia harus menikah di usia yang sangat muda.

Meski Hinata mampu menutupi kegelisahannya dengan sikap tenang yang terasa luar biasa dewasa (ia memang lebih dewasa dibanding anak seumurannya karena sudah ditinggal ibunya sejak kecil), Hinata terkadang tetap tidak bisa membohongi perasaannya yang ingin mengutuk kondisinya sekarang. Dan meski Sasuke sangat baik padanya, tapi Hinata tetaplah gadis remaja yang ingin menjalani harinya dengan biasa—termasuk dalam masalah percintaan.

Hinata ingin jatuh cinta seperti teman-temannya yang lain. Berpacaran secara wajar—mungkin sesekali bertengkar—sebelum semakin menumbuhkembangkan perasaan indah tersebut. Wajar dan bukan karena keterpaksaan.

Tapi, bukan hanya ia yang merasa takdir ini tidak bergulir sebagaimana keinginannya. Tentu bagi Sasuke juga mungkin semua ini di luar rencananya. Mungkin … tapi …

Getaran di ponselnya membuat Hinata tersentak. Seketika, renungannya menguap, diganti kekagetan yang membuatnya sedikit terpekik.

"Hyaaa?" Hinata menenangkan debaran jantungnya sebelum matanya memelototi pesan baru yang masuk ke dalam ponselnya. Dari Sasuke, balasan atas pesannya.

'Aku sedang bersama rekan kerjaku. Ada apa?'

"Haaaahhhh…." Hinata menghela napas panjang bersamaan dengan gerakan kepalanya yang kembali menunduk. Sesuai dugaan, Sasuke menanyakan alasan mengapa Hinata mengirimkan pesan tersebut padanya. "Dan sampai sekarang aku belum tahu kenapa aku mengirimkan pesan itu padanya."

Masih memegangi ponselnya, Hinata kemudian beranjak ke kasur dan menjatuhkan dirinya di sana. Bunyi 'blugh' pelan terdengar sekilas. Bunyi itu seakan menjadi aba-aba bagi Hinata untuk kemudian memejamkan mata. Kedua tangan berada di sisi-sisi tubuhnya.

Lagi, kata-kata Sai tadi menusuk sanubarinya. Hinata seolah ditampar oleh kenyataan yang dilontarkan secara sarkas. Ucapan Sai itu tidak sepenuhnya salah. Tapi Hinata yang paling tahu—ucapan Sai itu juga tidak sepenuhnya benar.

Orang polos sekalipun akan segera sadar bahwa Sasuke benar-benar mencintai Hinata—tergila-gila—setelah mendengar ucapan Sai. Dan bagi Hinata, meski ini bukan kenyataan yang mengejutkan, mengingat Sasuke sendiri pernah berterus terang padanya, tapi ia merasa harus merenungkan semua ini kembali.

Pertama, perasaan Sasuke. Hinata tahu pemuda itu tulus terhadapnya. Namun mengapa, bagaimana, dan sejak kapan, semua masih samar bagi Hinata. Hinata hanya tahu, tanpa bermaksud bertanya lebih jauh. Bukan tanpa sebab bahwa Hinata berlaku tak acuh. Ia sendiri dalam kondisi yang tidak memungkinkannya untuk mempertanyakan apa-apa. Setidaknya, demikianlah pemikiran Hinata.

Kedua, perasaan Hinata. Sejak awal, pernikahan ini bukanlah dilandaskan ketulusan—atas dasar suka sama suka. Di pihak Hinata, ini adalah suatu kerelaan karena keterpaksaan. Ironi memang; rela karena terpaksa. Tepatnya, Hinata mencoba untuk merelakan kebebasannya demi menolong keluarganya yang di ambang kebangkrutan.

Samar-samar, Hinata pun tentu takut membayangkan kondisinya dan ayahnya yang hidup tidak layak setelah kebangkrutan. Hinata juga takut ia tidak bisa lagi bersekolah untuk melanjutkan usaha mengejar mimpinya. Takut—cemas. Ketidakjelasan memang kerap menjadi momok bagi semua orang, bukan?

Karena itulah, pernikahan ini menjadi salah satu jalan keluar yang diliputi cahaya. Ketakutan itu tetap ada, tapi mungkin tanpa sadar Hinata melihatnya sebagai kemungkinan yang lebih baik dibanding hidup tidak jelas. Dan tidak lebih buruk dari kemungkinan bahwa dia justru harus menjadi 'tawanan' dari sepasang orangtua-anak yang telah mengatur kejatuhan keluarganya.

Jaminan. Itulah yang dibutuhkan Hinata. Semula hanya itu yang Hinata perlukan. Namun, begitu hidupnya jauh lebih stabil, begitu jaminan itu sudah ia rasakan—sekarang—Hinata dapat mulai berpikir lebih dalam. Tidak, ia tidak bisa berpikir lebih jauh. Ia tidak bisa membayangkan ke mana cerita hidupnya akan dibawa. Ia hanya bisa berpikir lebih dalam.

Hinata sadar, meski ini tidak sepenuhnya kemauannya, ada sudut pandang di mana ia dapat dikatakan sebagai orang yang egois. Terutama setelah menghadapi kenyataan bahwa Sasuke mencintainya dan ia sama sekali tidak mempertimbangkan hal itu. Bahkan mungkin, mungkin, Hinata masih lebih memilih menganggap Sasuke sebagai penyelamatnya. Sekadar itu. Suami tidak lain hanyalah status belaka.

Jahat. Hinata merasa jahat sekarang. Bahkan untuk alasan yang masih dapat diterima—bahwa keluarga Uchiha-lah yang meminta pernikahan ini sebagai syarat membantu keluarga Hyuuga—Hinata tidak dapat menepis pemikiran bahwa Sasuke-lah yang sudah banyak berkorban untuk menyelesaikan masalah keluarganya.

Bulir-bulir bening itu berhasil mendesak keluar dari kedua bola mata Hinata. Mengalir perlahan—menorehkan jejak cairan di bawah matanya, melewati sedikit tulang pipinya, dan menghilang ditelan seprai yang melapisi kasur.

Tangan Hinata yang bebas langsung terangkat untuk menghapus air mata yang tidak ia kehendaki tersebut. Ia tidak boleh menangis. Tidak ada gunanya. Meskipun demikian … sesak itu mulai terasa menghimpit setiap ia memaksa untuk mengingat-ingat perihal Sasuke.

Uchiha Sasuke—orang yang telah membantunya. Uchiha Sasuke—pemuda yang katanya telah tergila-gila padanya. Uchiha Sasuke—suaminya.

Beberapa saat, Hinata masih terisak. Napasnya mulai tidak beraturan—sama tidak beraturannya dengan gerakan bahu yang bergerak naik-turun. Namun pengujungnya, logika telah berhasil menyuruh Hinata untuk menghentikan air mata.

Hinata pun mengembuskan napas lirih secara perlahan. Ia ingin menghentikan air matanya, ia ingin merebut kembali kelancaran aliran udara yang harus ia hirup untuk memenuhi rongga paru-parunya. Sekali lagi, sekali lagi embusan napas itu meluncur melalui mulutnya.

Air mata itu tidak langsung mengering memang. Tapi setidaknya, Hinata tidak lagi kesulitan bernapas. Pandangannya pun tidak lagi mengabur—langit-langit sudah tertangkap jelas oleh kedua matanya.

Hinata belum juga membalas pesan singkat Sasuke saat mendadak ponsel itu bergetar kembali seraya memutarkan lagu 'Hime Murasaki' dari Mizuki Nana sebagai nada deringnya. Mendengar panggilan masuk tersebut, Hinata mengernyitkan alis. Tapi begitu melihat nama yang tertera di display ponselnya, dengan segera Hinata menekan tombol 'terima' dan bangkit hingga ia tidak lagi dalam posisi berbaring.

"Mo-moshi-moshi? Sasuke-kun?" Sedikit gawat adalah saat suara Hinata berubah menjadi sedikit sengau. Ia tidak sakit. Tapi, air mata yang sebelumnya ia tumpahkan, sempat membuat jalur pernapasannya sedikit terganggu. Hanya sedikit. Karena belum dapat Sasuke bertanya lebih lanjut, Hinata sudah kembali memotong dengan suaranya yang biasa. "Maaf, aku belum sempat membalas mail-mu."

"Hn, tidak masalah," jawab Sasuke awalnya. "Kau … tidak apa-apa?"

Hinata tersenyum. Sasuke tidak mendahului pertanyaan dengan, 'Ada apa?' Alih-alih, pemuda itu malah menanyakan kondisinya.

"Ng!" jawab Hinata. "Aku baik-baik saja."

Hening sesaat dari sebelah sana. Tak lama, suara Sasuke kembali terdengar, "Apa Sai berkata macam-macam lagi padamu?"

Bingo.

Sasuke tidak salah. Awalnya, memang kata-kata Sai-lah yang memicu berbagai pemikiran mendekam di benak Hinata. Mungkin Sasuke sendiri sudah paham karakter adiknya yang memang sedikit usil. Selama ini, Sasuke sudah cukup sering mendengar dari Itachi atau pelayan atau siapa pun—jika ia tidak melihatnya langsung—bahwa Sai kerap kali mengatakan hal-hal yang sedikit menusuk pada Hinata. Yang Sasuke tidak mengerti adalah; mengapa Sai bersikap demikian?

Meskipun begitu, bagi Hinata, Sai bukannya berkata macam-macam kali ini. Pemuda itu justru menunjukkan suatu fakta yang cepat atau lambat harus Hinata akui. Pernyataan tersebut pada akhirnya akan bermuara pada satu kesimpulan: sampai kapan rumah tangga akibat pernikahan yang awalnya terpaksa ini dapat terus berjalan?

"Sai-kun … tidak berkata macam-macam," jawab Hinata setelah membiarkan keheningan membuat Sasuke bertanya-tanya di dalam hati. "Tidak, aku tidak apa-apa," imbuh Hinata untuk semakin meyakinkan.

"… Hn," jawab Sasuke akhirnya, "jadi … apa maksudmu mengirimiku mail tadi?"

"Ah." Mata Hinata membulat. Ini dia! "Ano … maaf…."

"Aku bukan meminta maafmu, Hinata."

"I-iya. Ano … aku tadi … ng…."

Apa yang harus Hinata katakan? Sungguh, ia mengirimi Sasuke pesan tidak lain adalah karena dorongan sesaat semata—dorongan yang bahkan tidak ia mengerti. Tidak ada alasan khusus. Ia juga tidak menghubungi Sasuke dengan tujuan melepaskan semua uneg-unegnya. Tidak, bukan itu alasan utama mengapa Hinata mengirimi Sasuke mail tadi.

Atau … memang alam bawah sadarnya tengah berusaha mencari pertolongan atas semua kekhawatiran yang mendadak membuncah? Apa ia harus mengakui kegundahannya pada Sasuke? Apa dia harus mengakui kegelisahannya mengenai masalah pernikahan ini? Jika tidak, apa ia lebih baik berbohong dan kemudian mengatakan bahwa ia hanya rindu pada Sasuke? Bahwa ia mengirimi pesan tanpa alasan. Ia hanya ingin menghubungi Sasuke. Hanya itu.

"Hinata?"

Suara Sasuke yang memanggil namanya kembali menarik Hinata dari alam transendental. Spontan, Hinata malah menjawab, "A-aku sebenarnya ingin bertanya soal rencana … lima hari lagi."

Oke, apa dengan jawaban ini Hinata jadi terkesan sangat mengharapkan datangnya hari itu? Hari yang disarankan Mikoto sebagai hari-hari untuk bulan madu mereka? Astaga! Apa yang akan Sasuke pikirkan jika mendengar jawabannya yang seperti itu?

Dengan wajah yang sedikit memerah, Hinata buru-buru menambahkan, "Ma-maksudku … apa sebaiknya kita batalkan saja acara itu? Ka-kau sedang sibuk, 'kan? Nanti biar aku yang menjelaskannya pada Okaasan."

"Maaf, Hinata," ujar Sasuke tanpa butuh waktu lama, "kita bicarakan lagi nanti."

"E-eh?"

"Rekanku sudah menunggu. Nanti di rumah saja kita diskusikan lagi."

"Ba-baik."

Selesai. Percakapan mereka selesai sampai di situ. Namun, hal ini berkebalikan dengan kegelisahan Hinata yang justru tidak kunjung berakhir. Kegelisahan tersebut tidak berhenti—malah semakin menjadi.

Dingin. Suara Sasuke di akhir pembicaraan mereka terkesan dingin. Apa Sasuke marah padanya? Apa Sasuke jengkel pada Hinata yang telah mengganggu—mengirimi pesan tidak penting hanya untuk membicarakan hal yang tidak penting?

Salah. Oh, Tuhan! Apa Hinata sudah melakukan kesalahan? Apa mengikuti dorongan tidak jelas itu adalah hal yang harusnya Hinata hindari? Namun semua sudah terlanjur—waktu tidak bisa bergulir mundur.

Hinata menggigit bibir bawahnya. Ia pun bangkit dari kasur dan mulai bergerak—berjalan berputar di dalam kamarnya dalam kondisi panik. Sebelah tangannya terangkat ke depan mulut, tatapannya sedikit menunduk. Berkali-kali dan seolah tanpa arah, Hinata hanya bisa melangkahkan kakinya mengelilingi kamar yang cukup besar.

"Apa … apa sebaiknya aku mengirimi mail lagi untuk meminta maaf?" Hinata berhenti sejenak bersamaan dengan datangnya kemungkinan mengenai hal yang dapat ia lakukan.

"Tidak, tidak," jawabnya pada diri sendiri dan mulai melangkahkan kakinya lagi. "Kalau aku mengiriminya pesan lagi, aku malah akan semakin mengganggunya," jelas Hinata kemudian. Ia menggeleng-geleng sesaat sementara kakinya tidak juga berhenti bergerak.

"Uhh … apa yang harus kulakukan? Menunggu sampai Sasuke pulang?"

Tidak ada jalan lain. Memang hanya opsi itu yang tertinggal: menunggu Sasuke pulang dan dia akan menyelesaikan pembicaraan tadi dengan Sasuke. Ah, padahal bukan itu maksudnya mengirimi pesan tadi.

Hinata berhenti berputar di dalam kamarnya dan kemudian menghela napas panjang. Ia tidak bisa terus menyesali yang sudah terjadi. Sama seperti kenyataan bahwa keluarganya bangkrut, tidak ada yang bisa berubah jika ia hanya bertanya-tanya mengapa keluarganya bangkrut dan terus menyesali kesalahan langkah sang ayah. Waktu terus berjalan.

Tidak ada gunanya berdiam di tempat seperti itu. Tidak akan ada hasilnya pula juga dia mencoba menelisik ke belakang. Hinata harus melangkah maju dengan kenyataan yang ada di depan mata.

Setelah meyakinkan diri dengan mengepalkan kedua tangannya di depan dada, Hinata pun siap kembali ke lantai bawah. Mungkin menonton TV—drama siang yang diperankan oleh Mikoto—akan membuat pikirannya lebih tenang? Hinata bisa mencoba.

Bersamaan dengan itu, ia dapat menunggu Sasuke sampai pemuda itu kembali dari pekerjaan entah-apa-di-hari-Minggu.

o-o-o-o-o

Suara mobil menderu yang masuk ke dalam bagasi menyentak Hinata. Ditambah dengan pelayan yang mulai bergerak ke arah depan untuk membuka pintu.

Sasuke?

Hinata bangkit dari tempat duduknya setelah mengambil remote untuk mematikan televisi. Ia pun berjalan agak tergesa ke pintu depan. Namun, melihat siapa yang pulang membuat Hinata sedikit kecewa sekaligus melontarkan tanda tanya.

"I-Itachi-nii?" panggil Hinata sambil mengerjap. Refleks, jari telunjuk Hinata menunjuk pada gadis di sebelah Itachi yang tampak berwajah marah. "Ino-nee … kenapa…?"

"Ah, ini," Itachi menjawab sambil tersenyum. Ia kemudian merangkulkan tangannya ke pundak Ino dan menambahkan, "Aku dan Ino sudah bertunangan hari ini. Kami akan segera menikah."

"JANGAN MIMPI!" bentak Ino kesal sambil menepis tangan Itachi.

Teriakan Ino membuat Hinata bergedik di tempatnya. Baru sekali ini ia melihat Ino begitu murka. Wajah gadis berambut pirang itu memerah. Namun, Hinata kini bisa melihat dengan jelas bercak-bercak air mata yang membayangi mata dan pipi Ino. Gadis itu baru saja menangis.

"I-Ino-nee…."

Ino mengalihkan pandangannya pada Hinata. "Laki-laki ini iblis!" desis Ino. Lalu ia kembali menggerakkan kepalanya menghadap ke arah Itachi dan membiarkan telunjuknya seakan menghakimi pemuda tersebut. "Dia telah mengusir Shino! Dia membuat Shino pergi setelah menipu Shino untuk menandatangani pernyataan yang menyatakan bahwa aku harus menikah dengan Uchiha brengsek ini sebagai tanda terima kasih karena dia sudah membayar semua biaya operasi mata Shino!"

Hinata tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Mulutnya menganga mendengar fakta yang meluncur dari mulut Ino. Namun, saat Hinata melihat ke arah Itachi untuk meminta penjelasan lain dari yang bersangkutan, gadis berambut indigo itu hanya bisa menemukan ketenangan dan senyum dari seorang Uchiha Itachi.

"Tidak selesai sampai di situ…," Ino menggertakkan gigi sesaat sebelum melanjutkan, "jika aku tidak mau menyetujui pernikahan ini … dia akan membebaniku utang dengan jumlah yang tidak akan mungkin bisa kubayarkan! Ia bahkan mengancam akan membuat hidup Shino—yang sekarang sudah entah di mana—tidak tenang!"

Bahu Ino bergerak naik-turun sementara gadis itu berusaha mengatur napasnya. Hinata tidak dapat berkata apa pun. Ia masih terlalu kaget akan pengakuan Ino yang sama sekali tidak disangkal oleh Itachi. Sekali lagi, Hinata berusaha mencari jawaban dengan memandangi Itachi. Sekali ini, Itachi menangkap pandangan bertanya yang dilontarkan oleh Hinata.

Namun, pemuda itu hanya tersenyum dingin sambil berkata, "Yah … aku memang mengatakan hal itu padanya…."

Spontan, Hinata langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bola matanya bergulir ke arah Ino yang tampak bergetar. Tanpa sempat melakukan apa pun, Hinata kemudian melihat Ino mengayunkan tangannya ke arah Itachi seraya berteriak,

"Kau iblis!"

Bukan Itachi namanya jika ia tidak bisa menangkap tangan yang siap menghantam pipinya itu dengan mudah. Itachi bahkan sedikit mengeratkan genggamannya pada pergelangan tangan Ino sebelum pemuda itu mendekatkan wajahnya sendiri pada sang gadis yang masih diliputi amarah.

"Bukankah tadi kau sendiri yang bilang bahwa kau akan mengikuti permainanku? Bahwa kau akan mengeruk semua kekayaanku sampai aku menyesal telah memasukkanmu ke dalam keluarga Uchiha?"

Ino tidak menjawab lewat kata-kata. Hanya matanya yang menyorot penuh kebencian pada sulung Uchiha di hadapannya.

"Buktikan kalau kau memang bisa setangguh itu, Ino-chan," ujar Itachi dengan nada suara mengejek. Setelah itu, ia melepas tangan Ino dan menepuk-nepuk kepala gadis itu sebelum berlalu. "Hinata-chan, tolong temani calon istriku ini, ya."

Seakan tidak dapat memberikan respons lain, Hinata hanya mengangguk. Ia masih melihat Itachi selama beberapa saat sebelum ia melihat Itachi menghilang entah ke mana—jika Hinata tidak salah lihat, pemuda itu bergerak ke arah kamar Fugaku.

"Nona, mari saya antarkan ke kamar." Suara pelayan yang ramah membuat Hinata kembali memusatkan perhatian pada Ino yang juga tidak beranjak dari teras depan.

Dan memang, Ino masih terdiam di sana—dengan tatapan yang mengarah ke bawah. Sementara itu, dua pelayan sudah berdiri di kiri dan kanannya—masing-masing membawa dua tas besar yang Hinata perkirakan sebagai tas milik Ino.

"Ino-nee…," panggil Hinata ragu-ragu. Namun, suara lembutnya sudah cukup untuk membuat Ino kembali ke kesadarannya. "A-ayo kita ke kamar dulu? La-lalu … kalau mau, Ino-nee bisa menceritakan semua yang terjadi…. Semua—yang sebenarnya…."

Ino tersenyum lemah. Lalu setelah menghela napas panjang, Ino akhirnya bisa berujar dengan suara yang terbilang cukup biasa, "Terima kasih, Hina-chan."

o-o-o-o-o

Setelah mengantarkan Ino ke kamar, ternyata Hinata tidak langsung bisa mendapatkan cerita yang ia inginkan. Ino merasa tidak siap jika harus mengulang semua cerita yang bisa menumpahkan air mata sekarang. Ia pun meminta pengertian Hinata agar membiarkannya sendiri terlebih dahulu selama beberapa saat. Hinata menyanggupi.

Tepat setelah Hinata meninggalkan kamar Ino dan hendak berbalik ke kamarnya, gadis itu pun melihat suaminya.

"Sasuke-kun…."

Wajah Sasuke terlihat sedikit masam kala itu. Ia bahkan terlihat enggan berbicara banyak. Ia hanya menggunakan isyarat seadanya agar Hinata ikut ke kamarnya. Dan itulah yang Hinata lakukan.

Setelah pintu kamar Sasuke tertutup, Hinata akhirnya berinisiatif memulai. Namun, bukan lagi soal 'lima hari lagi' yang ia angkat sebagai topik.

"Sasuke-kun … apa yang terjadi pada Itachi-nii dan Ino-nee? Sejak kapan mereka…."

"Aku tidak tahu," jawab Sasuke cepat sambil melepaskan kemejanya dan mengambil sebuah kaos dari lemari. Hinata sempat kaget karena itu dan wajahnya spontan memerah. Namun, ia tahu bahwa ia tidak harus memperpanjang dan meributkan hal sepele semacam ini. "Itu urusan Itachi."

Kembali merasa sedikit gugup, Hinata mulai memainkan jemarinya. "Ta-tapi … maksudku, kau sudah tahu apa yang terjadi, 'kan?"

Sasuke menoleh setelah ia berhasil mengenakan kaos berwarna biru dongker yang terkesan santai. Dengan alis yang mengernyit, ia berusaha menerka apa yang sebenarnya hendak ditanyakan Hinata. Akhirnya, Sasuke memutuskan untuk menjawab, "Tentu saja aku tahu…."

"Eh?"

"Soal dia yang akan menikahi Yamanaka, 'kan? Jika tidak, dia akan meminta kembali semua uang yang sudah dia pakai untuk biaya pengobatan teman cowok si Yamanaka itu ditambah bunganya yang terhitung cukup besar. Lalu ia akan menuntut cowok itu dengan tuduhan penipuan dan semacamnya…."

"Uso…."

Sasuke mengangkat bahunya sedikit. "Kenapa kau seolah tidak percaya bahwa kenyataannya itulah yang terjadi?"

"Karena Itachi-nii … tidak terlihat seperti orang yang akan melakukan hal semacam itu," ungkap Hinata sambil mengangkat wajahnya agar ia dapat memandang langsung ke mata onyx kelam Sasuke.

Selama beberapa saat, Sasuke tidak merespons ucapan terakhir sang istri. Wajah datarnya menyiratkan suatu ketidaksenangan yang sedikit tertangkap mata Hinata. Hinata terkejut. Dan bahkan, saat Sasuke memperlihatkan suatu seringai yang terkesan jahat, Hinata nyaris tidak dapat menutup-nutupi kalau ia merasa sedikit takut. Ia pun melangkah mundur hingga punggungnya bersentuhan dengan pintu yang sudah tertutup.

"Jadi menurutmu," ujar Sasuke sambil berjalan mendekat ke arah Hinata, "Itachi tidak mungkin melakukan hal jahat seperti itu, hm? Hanya aku atau Sai yang mungkin?" Jeda sesaat. "Sepertinya … bagimu Itachi adalah orang yang lebih baik, ya?"

"A-aku tidak berkata seperti itu," bantah Hinata cepat. "Aku hanya…."

Brak!

Sasuke memukulkan kedua tangannya ke pintu di belakang Hinata. Ia seakan membentuk sebuah kurungan yang menyebabkan Hinata tidak bisa lari ke mana pun.

"Kalau kau tidak menganggapku jahat, kenapa kau ketakutan seperti sekarang?" desis Sasuke dengan mata yang menyorot menuntut jawaban.

"Aku … aku tidak pernah menganggapmu jahat dan aku tidak sedang ketakutan," sangkal Hinata sambil melengos. Dari jarak sedekat ini, tatapan Sasuke yang intens membuat Hinata kembali sukar bernapas. Wajahnya pun terasa panas sementara debaran jantungnya nyaris menggila.

"Bicara sambil melihat mataku, Hinata," perintah Sasuke sementara tangannya bergerak menyentuh dagu Hinata agar gadis itu kembali menghadap ke arahnya. "Apa yang kaupikirkan … sebenarnya?"

"A-apa yang…." Hinata tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Rasanya semua kata-kata yang sudah terkumpul berhenti sampai di ujung tenggorokan. Pandangan menusuk Sasuke itu terasa menyeramkan. Mengintimidasi.

Ia tidak—belum—pernah melihat Sasuke yang seperti ini. Sasuke marah, bukan? Sasuke marah padanya? Kenapa? Apa salahnya?

"A-aku…." Tidak bisa, meski berapa kali pun mencoba, ketakutan yang kini menyelimuti Hinata membuat ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Sebagai gantinya, desakan untuk menangis kini kembali Hinata rasakan. Astaga, Hinata benar-benar tidak suka saat ia tidak dapat mengendalikan air matanya hingga air mata itu berhasil lolos dari pelupuk matanya dan membasahi pipi.

Namun, disadari Hinata atau tidak, air mata itu telah membantu Sasuke untuk mengembalikan ekspresi wajah yang sebelumnya keras. Kini tidak ada lagi pandangan menuntut yang mengintimidasi. Hanya perasaan bersalah yang tergambar melalui kedua bola hitam itu. Bersamaan dengan itulah, pegangannya pada dagu Hinata terlepas.

"Maaf," ujar Sasuke sambil memberikan jarak di antara mereka. Ia kemudian memunggungi Hinata dan tangannya mulai menggaruk kepala belakang. "Soal lima hari lagi … kau benar. Aku sibuk. Kita batalkan saja."

Hinata masih berusaha menghapus air matanya yang lolos. Tapi bukan berarti Hinata tidak bisa mendengar ucapan Sasuke sama sekali. Ia sadar—Sasuke baru saja membatalkan rencana mereka lima hari lagi. Rencana untuk berbulan madu ke suatu tempat yang sudah dipersiapkan oleh Mikoto.

Seharusnya, Hinata tidak akan merasakan keberatan. Toh sejak awal, rencana bulan madu ini bukan sesuatu yang direncanakannya sendiri. Dan … hei! Bukankah justru Hinata yang awalnya mengajukan pembatalan? Lalu kenapa sekarang ia seperti merasa … tidak rela?

Hinata masih mencari jawabannya saat mata senada mutiaranya tengah terpaku pada punggung Sasuke. Punggung yang sedikit membungkuk itu seakan menyiratkan kekecewaan dan luka mendalam. Hinata-kah yang sudah menorehkan luka tersebut? Hinata-kah yang telah menimbulkan kekecewaan tersebut?

Hinata-kah … yang sudah berbuat jahat? Berbuat jahat pada laki-laki yang mencintainya sepenuh hati?

Tidak suka. Hinata tidak suka melihat Sasuke bersedih seperti itu. Terlebih … jika itu adalah karena dirinya. Kenapa ia harus membalas semua kebaikan Sasuke dengan perlakuan tidak menyenangkan seperti ini?

Tidak. Tidak. Tidak.

Sekarang, bagaimanapun caranya, Hinata harus mengubah keputusan yang sudah terlontar dari mulut Sasuke. Rencana lima hari lagi harus tetap berjalan. Bagaimanapun caranya.

"Sasuke-kun!" panggil Hinata dengan mengumpulkan segenap keberanian yang ada. Begitu Sasuke berbalik untuk menghadapnya, Hinata langsung merentangkan tangan dan kemudian … memeluk Sasuke. "A-apa kau tidak bisa membatalkannya?"

Sasuke masih terdiam beberapa saat karena kejutan yang tidak disangka-sangkanya itu sejenak melumpuhkan semua indra. Lalu, begitu otaknya tidak lagi membeku, ia pun dapat bersuara kembali, "Apa maksudmu? Bukankah aku memang sudah membatalkannya? Rencana lima hari lagi?"

Hinata menggeleng dengan kepala yang masih tertunduk—sedikit menempel di dada Sasuke. "Ma-maksudku … semua pekerjaanmu…."

Sasuke bergeming. Otaknya pun dipaksa keras untuk mengolah data yang baru ia terima agar ia dapat menangkap apa maksud Hinata sebenarnya. 'Membatalkan semua pekerjaannya'? Apa maksud perkataan Hinata tersebut?

"Lima hari lagi…." Hinata menelan ludah. "Pe-pergi … pergilah denganku."

Jantung Sasuke nyaris berhenti berdetak saking terkejutnya dengan pernyataan Hinata tersebut. Apa ia sedang bermimpi? Tidak. Ini adalah kenyataan. Hinata baru saja memintanya—jika tidak boleh dikatakan memerintah akibat pemilihan kata-kata yang digunakan Hinata—untuk pergi bersama gadis itu.

Pergi. Lima hari lagi. Bulan madu.

Lidah Sasuke terasa kelu. Ia tidak dapat langsung menjawab. Hinata yang menyadari bahwa belum ada satu kata pun terucap dari mulut Sasuke akhirnya memilih menambahkan.

"Kumohon, pergilah denganku lima hari lagi."

Tidak sanggup berkata-kata, Sasuke malah mendorong lembut pundak Hinata agar gadis itu melepaskan pelukannya. Hinata tidak sanggup mengangkat wajah. Ia … ditolak?

Ah, mungkin wajar. Sasuke sudah terlalu muak padanya yang bersikap tidak konsisten seperti ini. Hinata sendiri yang ingin membatalkan, dan kini Hinata sendiri yang memaksakan agar rencana tetap berjalan. Mungkin Sasuke tidak bisa paham lagi—apa yang diinginkan Hinata sebenarnya.

Namun, Hinata harus menepis jauh-jauh segala pemikiran negatif tersebut saat dirasakannya tangan besar Sasuke menyingkirkan poni rata yang menutupi dahinya. Bahkan setelah itu, dirasakannya bibir lembut Sasuke mengecup ringan dahi tersebut.

Hinata yang terkejut langsung melangkah mundur sambil menutupi dahi dengan kedua tangan. Wajahnya memerah dengan sangat, bahkan mungkin mengalahkan merahnya tomat ranum yang digilai Sasuke. Tapi, dengan rasa penasaran yang sedikit menekan, Hinata dengan sengaja mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Sasuke.

Pemuda itu … tengah mati-matian menahan senyum. Sasuke tidak terang-terangan menghadap ke arahnya dan sebelah tangannya pun mengepal di depan mulut.

"Aaaa…."

Lalu, bagaikan telah mendengar aba-aba, Sasuke pun kembali menoleh ke arah Hinata. Bersama ekspresi lembut dan senyum kecil yang jarang terlihat.

"Baiklah kalau kau memaksa. Lima hari lagi." Sasuke kembali mendekat ke arah Hinata. Hinata sudah siap siaga kalau-kalau Sasuke akan melakukan sesuatu yang dapat menghentikan detak jantungnya dalam sesaat. Benar saja, pemuda itu kemudian kembali mendekatkan wajahnya ke arah Hinata. Ekspresinya kembali seperti semula—datar, nyaris dingin.

"Semoga saja kau tidak lagi berubah pikiran. Bahkan … lebih bagus kalau kau tetap agresif seperti sekarang," imbuh Sasuke dengan suara yang terbilang menggoda.

Hinata tidak dapat menyembunyikan rona merah di wajahnya. Bahkan, bisa dibilang ia bagaikan tengah melakukan handstand yang menyebabkan semua darahnya lari ke wajah.

"Sekarang—"

Oh, Tuhan! Sekarang apa lagi?

"—sebaiknya kau kembali ke kamarmu," perintah Sasuke sembari menarik Hinata menjauh dari pintu. Pemuda itu kemudian membuka pintu kamarnya sebelum mendorong—setengah memaksa—Hinata untuk keluar dari kamarnya. "Aku harus menyelesaikan tugas-tugasku agar bisa pergi lima hari lagi."

Dan setelah mengatakan itu, Sasuke pun menutup pintu kamar. Ia pun secara tak langsung membangun pembatas di antara dirinya dan Hinata yang masih termenung di depan kamar. Sasuke kemudian menutup mulutnya sementara ia membiarkan wajahnya tetap menghangat akibat peristiwa singkat yang baru saja terjadi.

Sementara Hinata? Dengan wajah yang masih tampak bingung, ia tidak bisa menepis pemikiran baru yang begitu saja terlintas di benaknya.

Ternyata, Itachi, Sasuke, dan Sai itu memang benar-benar bersaudara!

o-o-o-o-o

Lima hari terasa begitu lama saat seseorang menunggunya. Namun, kenyataannya, lima hari tidaklah selama itu. Dan jujur saja, begitu harinya datang, Hinata langsung merasa bahwa lima hari memang bukanlah jangka waktu yang terlalu lama.

Ketegangan sudah terlihat di wajahnya sejak bangun pagi. Ia pun terlihat lebih kikuk dan ceroboh lebih dari biasanya. Ia bahkan beberapa kali mengecek tasnya hanya untuk sesuatu yang memang sudah ada di dalamnya.

Sasuke sendiri bukan tidak paham. Jika mengikuti instingnya sebagai seorang laki-laki, tentu dia berharap akan ada sesuatu yang terjadi di saat bulan madu mereka ini. Faktanya, Sasuke tidak bisa melakukan hal tersebut. Hinata masih lima belas tahun—enam belas di akhir tahun nanti—dan gadis itu masih harus sekolah serta melakukan hal-hal lain sewajarnya anak-anak seusianya. Sasuke tidak mungkin memaksanya. Bahkan, ia harus menjaganya, melindunginya.

Pemikiran inilah yang kemudian menimbulkan kecemasan tersendiri bagi Sasuke. Mampukah ia menekan hasratnya? Ia harus, ia sadari itu. Tapi sekali lagi, bisakah? Terutama setelah nanti mereka hanya berdua, bisakah ia menahan diri demi melindungi Hinata?

Baik ketegangan maupun kecemasan itu kemudian berlanjut sebelum berakhir di … garasi—tepat sebelum keduanya menaiki kendaraan dengan seorang supir yang sudah siap siaga untuk mengantar mereka ke bandara. Saat melihat kejutan itu, seketika Hinata merasa sangat senang sementara Sasuke langsung menekuk muka. Yah, ketegangan dan kecemasan itu memang menghilang, tapi gantinya, perasaan lain yang bertentangan langsung mengisi rongga dada masing-masing.

Duduk di bagian tengah Fortuner adalah Hinata dan Ino yang sudah mulai tertawa-tawa—bertukar lelucon dan bisik-bisik yang manis. Ekspresi riang seketika menggantikan raut tegang Hinata. Berbeda dengan Sasuke yang kini terpaksa duduk di bagian belakang mobil SUV putih tersebut bersama Itachi dan beberapa tumpuk tas di dekatnya.

"Kenapa kalian ikut?" desis Sasuke dalam volume yang hanya bisa didengar oleh Itachi.

Itachi semula hanya menjawab dengan senyum sementara matanya melirik ke arah dua gadis di depannya. Menyadari tatapan Itachi, mendadak saja Ino berbalik—menghentikan sementara percakapannya dengan Hinata. Gadis berambut pirang dengan model kuncir kuda itu langsung menarik bagian bawah matanya dan menjulurkan lidah sebelum membuang muka dengan ketus. Itachi pun tertawa pelan melihatnya.

"Dia itu bisa kekanakan juga, bukan?"

"Tsk, kau tidak menjawab pertanyaan," gerutu Sasuke sambil menyandarkan tubuhnya. Pemuda itu pun membuat duduknya senyaman mungkin segera setelah mobil mulai bergerak.

"Ah, soal kenapa aku ikut?" tanya Itachi sambil tersenyum kecil. Ia pun memajukan tubuhnya dan dengan lembut ia menyentuh rambut Ino.

"Ap—" Ino sudah hendak protes tapi Itachi lebih dahulu memotong perkataannya.

"Ino, kenapa kita ikut mereka?"

Ino sudah berhasil melepaskan rambutnya dari tangan Itachi. Ia pun mengerjapkan mata beriris biru aquamarine-nya beberapa saat sebelum ia mendadak merangkul Hinata.

"Tentu saja untuk melindungi Hina-chan dari sifat buas Uchiha!"

"Tuh, 'kan?" Itachi menanggapi santai sambil tersenyum. Sebelah tangannya terletak nyaman di atas sandaran kursi yang diduduki Ino sementara tangan yang lain menunjukkan telapak tangannya ke arah Ino.

"I-Ino-nee…."

"Hei!" protes Sasuke tidak terima. "Jangan samakan aku dengan si Brengsek ini!" Sasuke mengimbuhkan dengan sebelah jempol yang menunjuk ke arah Itachi.

"Kalian, Uchiha, sama saja!" Ino mengernyitkan alisnya dan mengeraskan ekspresinya. "Yang jelas, aku akan menjaga Hinata agar kau tidak berbuat pelecehan padanya! —Aku tahu kalian suami istri," ungkap Ino segera setelah ia melihat Sasuke akan kembali membuka mulut, "tapi Hinata tetap anak di bawah umur. Jadi aku akan memastikan kalau kau tidak macam-macam terhadapnya, Uchiha!"

Oke, perubahan sikap Ino yang semula dapat dikatakan cukup mendukung hubungan Hinata dengan Sasuke menjadi menentangnya seperti ini sama sekali tidak menguntungkan Sasuke. Dan biang keroknya….

Sasuke melirik kesal ke arah Itachi yang hanya bisa tersenyum-senyum. Tidak sedikit pun penyesalan terlihat di wajah kakaknya tersebut. Inilah yang kemudian membuat Sasuke bertanya-tanya: Apa rencana Itachi sebenarnya? Ia sama sekali belum diberi tahu.

"Selain itu," kali ini Ino berpaling pada Itachi, "sudah kukatakan padamu, bukan? Akan kukeruk habis semua harta milik Uchiha!"

Itachi tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Ino sebelum berakhir dengan pukulan Ino di tangannya. Ino kemudian kembali membuang muka dan mengajak Hinata berbicara lagi.

Sebelum Hinata meladeni Ino, ia melayangkan sekilas pandang pada Sasuke yang ada di belakang. Sasuke tidak balas melihatnya karena pemuda itu tengah sibuk memelototi Itachi yang tampak santai. Hinata pun akhirnya hanya bisa tersenyum sebelum memusatkan perhatiannya kembali pada Ino.

Saat itulah, giliran Sasuke yang memandangi sosok belakang Hinata—rambut indigonya, gerakan kepala dan pundaknya akibat tertawa, gerakan tangannya saat menyangkal…. Ah, betapa Sasuke menyukai tiap-tiap hal yang ditunjukkan istrinya tersebut.

"Yah…," ujar Itachi sambil menyentil dahi Sasuke—yang sukses membuat Sasuke kembali mendelik ke arah kakaknya tersebut—, "semoga tiga hari ini bisa berjalan dengan lancar, ya?"

Sasuke menggerutu, "Akan lebih baik kalau kalian tidak ikut."

Sasuke sudah tidak memerhatikan Itachi kala itu, tapi kilatan di mata Itachi sudah cukup untuk menunjukkan bahwa masih akan ada hal besar yang menunggu Sasuke dan Hinata. Semua gangguan tidak selesai sampai di sini.

o-o-o-o-o

Selama perjalanan, di bandara, bahkan saat akan duduk di pesawat, Sasuke tidak mendapat kesempatan sedikit pun untuk berdekatan dengan Hinata. Ino benar-benar menyelinap di antara mereka. Bahkan dengan keras kepalanya, Ino menolak tawaran Itachi untuk duduk bersebelahan. Sasuke tahu, Ino membenci Itachi dengan segenap hatinya. Meskipun demikian, ia tetap tidak bisa tidak kesal.

Kenapa harus ia yang menjadi korbannya? Ini seharusnya menjadi hari yang spesial bagi dirinya dan Hinata! Namun, gangguan dari kakak dan calon kakak iparnya itu benar-benar menyentuh urat kesabarannya.

"Hei, Itachi," panggil Sasuke yang posisi duduknya—terpaksa—bersebelahan dengan Itachi. Sebelum Itachi menjawab, Sasuke pun melirik bangku di seberang—tempat Ino dan Hinata yang masih saja bertukar tawa dan canda.

"Hm?" tanya Itachi yang tengah memegang sebuah buku kecil. Tatapannya belum juga diarahkan pada Sasuke.

"Sebenarnya apa rencanamu, sih? Soal Yamanaka…."

"Yah," sebuah senyum terbentuk di wajah Itachi, "tidak ada rencana apa-apa. Semua sesuai dengan yang sudah kuceritakan padamu."

"Yang benar saja, aku—"

"Hei!"

Sebuah suara feminin langsung memotong ucapan Sasuke. Nyaris bersamaan, Sasuke dan Itachi menoleh ke asal suara. Seorang gadis berambut pirang tengah meletakkan tangannya di atas sandaran kursi tempat Sasuke duduk. Dengan agak angkuh, gadis itu menggerakkan kepalanya.

"Kuberi kau kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama Hina-chan," ujar Ino sambil menggerakkan jempolnya ke arah tempat duduk Hinata. Di balik tubuh Ino, Sasuke bisa melihat sosok Hinata yang tengah menatapnya sebelum gadis itu langsung menunduk dengan wajah yang memerah. "Setidaknya di dalam pesawat kalian tidak bisa berbuat apa-apa."

Sasuke hendak membalas dengan mengatakan bahwa di dalam mobil pun ia dan Hinata tidak dapat melakukan apa-apa dengan adanya pengawasan dari orang lain. Namun, akhirnya ia urung dan memilih untuk segera bangkit dari tempat duduknya.

Mungkin itu adalah tindakan bijaksana, dibanding ia menantang Ino yang mungkin membuat gadis itu berubah pikiran? Walau terkesan melarikan diri, setidaknya cara ini lebih cepat menghentikan masalah sekaligus membuat Sasuke berhasil mencapai apa yang paling ia inginkan hampir tanpa perlu bersusah payah.

Sebenarnya seorang Sasuke tidak seharusnya takluk begitu saja oleh seorang perempuan yang bahkan belum resmi menjadi seorang Uchiha—terlebih perempuan itu bahkan tidak memiliki kekuasaan sebagaimana keluarga Uchiha. Lalu, apa yang menyebabkan Sasuke seolah tunduk terhadap tiap ucapan Ino?

Sasuke sekilas melirik ke arah kursi yang sudah ditinggalkannya. Terlihat olehnya, Itachi yang mulai tersenyum riang sembari menepuk-nepuk kepala Ino yang sudah duduk di sebelahnya. Ino sendiri tidak tampak senang dan memilih membuang muka. Selanjutnya, Itachi tidak lagi menggoda gadis itu dan melanjutkan membaca buku sakunya.

Meski demikian, Sasuke bisa melihat, saat Ino memilih untuk mengedarkan pandang ke arah lain, Itachi mencuri pandang ke arah gadis itu dengan sorot mata yang menggambarkan … sayang. Tidak salah. Itachi serius pada gadis itu—entah bagaimana ceritanya, Sasuke sama sekali belum paham.

Sasuke meringis. Itulah sebabnya ia seakan tidak bisa membantah Ino, eh? Di belakang Ino berdiri seseorang yang Sasuke—walau Sasuke tidak akan mau mengakui—segani. Walau mungkin Ino sendiri tidak menyadari, gadis itu telah berada dalam perlindungan Itachi sepenuhnya.

"Tsk," decak Sasuke perlahan.

"Sasuke-kun?"

Dan suara Hinata segera membawa kesadaran pada Sasuke bahwa pemuda itu sudah mendapatkan hal sederhana yang paling diinginkannya sejak tadi—berada di samping Hinata. Ia pun menoleh hingga ekspresi kebingungan Hinata tertangkap kedua mata kelamnya.

Seketika, lidah Sasuke kelu. Ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Hinata tidak menjelaskan pertanyaannya, haruskah ia langsung menjawab, 'Tidak ada apa-apa' sebagai respons? Atau sebaiknya ia mulai dengan menanyakan, 'Ada apa?'

Beruntung bagi Sasuke karena Hinata-lah yang memberikan petunjuk mengenai apa yang harus ia katakan selanjutnya. Gadis itu bertanya, "Ada apa?"

"Hn," jawab Sasuke singkat pada awalnya. Lalu sesuai rencana semula, "Tidak ada apa-apa."

Hinata sedikit memajukan tubuhnya untuk melihat ke arah terakhir Sasuke memfokuskan perhatiannya. Kursi Itachi dan Ino—dengan Ino yang sudah memejamkan mata dan Itachi yang sesekali melirik sang gadis seolah memastikan bahwa tidak akan ada yang mengganggu gadis itu dan tidurnya.

"I-Itachi-nii…," mulai Hinata lagi, "apa dia sudah cerita sesuatu padamu?"

"Kenapa kau begitu penasaran mengenai urusan orang itu?"

Dengan cepat Hinata menggeleng. "Bu-bukan itu." Belajar dari pengalaman sebelumnya, saat Sasuke marah begitu Hinata mempertanyakan perihal Itachi dan Ino, Hinata pun berusaha melanjutkan topik ini dengan berhati-hati. "Soalnya, Ino-nee … dia juga belum mau menceritakan apa-apa."

Tanpa bisa dicegah, Sasuke melakukan hal yang sama dengan yang semula Itachi lakukan pada Ino—mengacak puncak kepala Hinata. Hinata memejamkan sebelah matanya dan mengangkat tangannya untuk kemudian merapikan rambutnya secara refleks.

Begitu kesadarannya kembali, Sasuke segera mengangkat tangannya dari kepala Hinata dan langsung membuang muka. Ia pun kemudian menyangga wajahnya dengan tangan kiri. "Tidak perlu khawatir," ujar Sasuke kemudian, "akan ada saatnya dia menceritakan itu padamu. Yang jelas kau tidak perlu khawatir, Itachi tidak akan berbuat macam-macam padanya."

Hinata tersenyum. Lalu, ia berbisik perlahan, "Aku tahu. Itachi adalah saudaramu bagaimanapun."

"Hn?" Sasuke melirik Hinata. "Apa kaubilang barusan?"

"Tidak," Hinata menggeleng perlahan, "aku tidak bilang apa-apa."

"Oh," respons Sasuke segera. Tidak ada kata lebih yang tampak akan keluar. Dan memang Hinata tidak mengharapkan akan mendengar kata-kata lanjutan dari Sasuke. Hinata sudah siap dengan ucapannya sendiri kala itu.

"Daripada itu," Hinata tersenyum lembut sembari memiringkan kepalanya sedikit, "semoga liburan kali ini akan menyenangkan, ya?"

Andai bisa, Sasuke ingin mencoret pengertian 'liburan' dari kepala Hinata dan menggantikannya dengan frasa 'bulan madu'. Namun, Sasuke sadar, kehadiran dua orang yang tidak pernah diduganya akan semakin mengikis situasi dan kondisi yang dipersyaratkan sebagai momen bulan madu. Sekarang ia hanya bisa pasrah dan menjadikan perjalanan kali ini sebagai liburan sebagaimana yang Hinata katakan.

"Sasuke-kun," panggil Hinata lagi. Sasuke dengan cepat menoleh. Gadis itu tersenyum lebar sembari mengatupkan kedua tangannya.

"Aku tidak sabar untuk dapat segera melihat pemandangan di Kirin-shima—Pulau Kirin [1]. Aku sempat mencari tahu lewat internet, Kirin-shima adalah salah satu pulau terbaik yang berada di Mizu no Kuni—Negara Mizu. Pemandangan laut yang mengelilinginya sangat indah dan masih alami! Lalu, lalu … Sasuke-kun sudah tahu? Kirin Mitsu—Madu Kirin [2] yang merupakan kekhasan pulau itu sangat terkenal! Berbagai panganan ringan maupun cuisine banyak yang menggunakannya. Aku ingin mencobanya."

Sasuke sedikit membelalakkan matanya saat melihat ekspresi berseri serta celotehan panjang yang baru saja ditunjukkan Hinata. Sasuke yakin—sangat—bahwa tadi sebelum berangkat, Hinata tampak tegang dan seolah enggan untuk meninggalkan Konoha untuk pergi bersamanya. Sekarang, asumsi itu menghilang—Hinata sesungguhnya cukup menantikan acara ini. Fakta ini entah kenapa membuat perasaan Sasuke menghangat.

"A-ah, maaf! Aku jadi terlalu bersemangat." Hinata segera menghentikan celotehan panjangnya mengenai deskripsi singkat mengenai Kirin-shima yang sempat ia baca melalui artikel-artikel di internet. Wajahnya sedikit merona. "Aku…." Hinata menelan ludah dan kemudian tidak sanggup melanjutkan perkataannya.

Bagi Sasuke, bisa melihat Hinata yang bersemangat adalah suatu keberuntungan yang tak pernah ia pikir akan dapat ia lihat secepat ini. Sungguh, ia sangat menyukai ekspresi Hinata barusan. Apa pun akan ia lakukan untuk senantiasa bisa melihat gadis itu tersenyum ceria. Bahkan jika suatu saat nanti ia harus mele—ah, tidak! Untuk kali ini saja, biarkan Sasuke menikmati saat-saat kebersamaannya dengan Hinata.

Lupakan sementara pikiran mengenai masa depan yang sebelumnya sudah terancang apik dalam benaknya. Ia akan menikmati saat ini—saat ia menghabiskan waktu bersama dengan sang terkasih. Ia akan menjadikan saat ini sebagai momen yang berharga bagi keduanya.

"Tidak masalah," ujar Sasuke kemudian sambil meraih tangan Hinata dan menggenggamnya. Hinata menoleh dengan pandangan bertanya. Tanpa memandang ke arah Hinata, Sasuke melanjutkan, "Aku juga tidak sabar untuk segera sampai dan mencicipi Kirin Mitsu yang terkenal itu. Kita akan mencobanya."

Hinata bahkan kehilangan minat untuk berontak dan menarik tangannya. Gadis itu justru malah tersenyum dan membiarkan tangannya terus berada dalam genggaman tangan suaminya. Perasaan senang menyergap gadis itu—entah Hinata menyadarinya atau tidak.

"Ya."

Perasaan keduanya kini satu; kehangatan menyelimuti—rasa senang yang menggebu seakan hendak melesak keluar. Pemikiran keduanya pun kini satu; beruntung bahwa perjalanan ini tetap terlaksana—meski ditambah dua orang yang sama sekali tidak masuk dalam awal rencana.

Lalu, sau permohonan bersemayam dalam diri keduanya: semoga tiga hari ini akan menjadi hari-hari menyenangkan yang tak akan pernah hilang dari ingatan—seberapa lama pun waktu berputar.

***To Be Continued***


[1] Nama 'Kirin-shima' atau 'Pulau Kirin' itu cuma karangan saja. Kirin-shima rasanya sih tidak pernah muncul dalam dunia animanga Naruto. Saya jadikan 'Kirin' sebagai nama untuk satu pulau tidak dikenal (unknown island) yang ada di Mizu no Kuni untuk canon-nya. Terinspirasi dari kekhasan Mizu no Kuni itu sendiri: Kirin Mitsu.

[2] Kirin Mitsu atau yang di serial animasinya bisa diterjemahkan sebagai Unicorn Nectar (Kirin = Unicorn) di samping sebagai Kirin Nectar, adalah salah satu hasil khas dari Mizu no Kuni (sumber: ). Namun, Kirin Mitsu yang saya gunakan mungkin agak sedikit saya geser maknanya jadi lebih ke 'Madu dari Pulau Kirin'. Jadi Kirin di sini lebih ke nama daerah penghasil madu dan bukan sebagai nama 'asli' dari si produk. /sebenarnya informasi nggak penting, sih X"D

Btw, ternyata jadinya chapter ini malah lebih panjang sedikit disbanding sebelumnya O_Oa semoga minna-san nggak mabok dan nggak bosen bacanya, ya? X"D

Yosh, sekarang masuk ke Pojok (Sok) Gahoel, ne? :"3


POJOK (SOK) GAHOEL!

Sasuke sekilas melirik ke arah kursi yang sudah ditinggalkannya. Terlihat olehnya, Itachi yang mulai tersenyum riang sembari menepuk-nepuk kepala Ino yang sudah duduk di sebelahnya.

Itachi: yosh, yosh~

Ino: grrrh! *gigit tangan Itachi*

GRAUKKK!

Itachi: ARRGH!

Ino: siapa suruh menganggapku sebagai anjing! Huh! *buang muka*

Sasuke tertawa terpingkal-pingkal—tampak senang dengan penderitaan sang kakak. Namun ia tidak tahu, saat itu Hinata juga melihat apa yang ia lihat.

Sasuke juga tidak tahu, saat ia melakukan hal yang sama dengan Itachi nanti, Hinata akan melakukan hal yang sama dengan Ino.

Hmmmm….

Ada yang mau berdoa demi keselamatan tangan Sasuke?

THE END


Sekian untuk chapter kali ini~ /dan akhirnya Itachi pun menjadi korban /elus-elus tangan Itachi.

Okay, saya balesin review yg non login dulu, yak? Yang review login saya langsung bales ke PM :D

chibi beary: kok tahu? Mikoto sampai ngumpet karena malu rencananya ketahuan kamu tuh XD

eL-Uchiha Himechan: masa, sih, si Sasuke keren? *lirik-lirik pojok (sok) gahoel* *dimutilasi Sasuke* X"D ini udah update. Hm, mungkin untuk fanfict ini, minimal 1 bulan sekali akan aku update, harap sabar ya :""D

Guest: nyahahaha, biar nggak serius mulu gitu bawaannya, jadi ada bagian gilanya sedikit *sebenernya author-nya agak stress kalau kebanyakan serius (?) X"D

Mamoka: kyaaa! Makasih udah suka chapter kemarin. Moga-moga chapter kali ini pun kamu suka :""D

Guest (lagi): iyaa, ini udah lanjut lagi~ X""D

Lily: ini udah dilanjutin lagi :""D masalah yang mau diselesaikan Sasuke, nanti yaa dijelaskan di chapter-chapter selanjutnya. XD

HyUchi Mai: ehehe, kalau di chapter ini udah nggak terlalu cuek, 'kan? Sasuke kan cuek ada alasannya. Kalau dia nggak cuek, ntar konfliknya nggak sedep dong kayak lagu dangdut Inul tanpa goyang ngebornya /eh? X"D

Yak, balasan review non login, done~!

Next, terima kasih juga saya ucapkan buat semua yang udah baca (silent reader sekalipun), yang udah nge-alert, bahkan nge-fave fic ini. Doumo arigatou gozaimasu! Maaf kalau chapter ini kurang memuaskan dan terutama agak pendek, ya? Hehehe. Jangan tanya kapan saya akan update next chapter, karena saya pun tidak tahu~ *kabur bareng Itachi* Ino: Gyaaaa! Jangan bawa Itachi gueee~! /slap!

Okay, langsung aja, silakan beri tahukan kesan, pesan, saran, kritikan minna-san tentang fic ini. Arigatou sebelumnya~

I'll be waiting.

Regards,

Sukie 'Suu' Foxie

~Thanks for reading~